Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 September 2009

Kembangkan Kepemimpinan

Amsal 31:4-5 : "Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras. jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 71; Ibrani 5; 2 Tawarikh 33-34

Mulai akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an orang berbicara tentang "menemukan diri sendiri", dimana mereka berlomba-lomba mencari tahu suatu cara untuk merasa puas atas diri sendiri. Seperti menjadikan "kebahagiaan" sebagai tujuannya, kepuasan diri diidentikkan dengan hal-hal yang membuat hati senang.

Tetapi, pengembangan pribadi berbeda. Tentu, pada sebagian waktu, pengembangan pribadi akan membuat Anda merasa senang, tetapi itu adalah hasil sampingan, bukan tujuannya. Pengembangan pribadi adalah sebuah panggilan yang lebih tinggi; itu merupakan pengembangan potensi kita sehingga kita dapat menggenapi maksud kita diciptakan.

Ada saatnya pengembangan pribadi memang memuaskan, tetapi pada saat-saat lain tidak demikian. Tetapi, tidak peduli bagaimana itu membangkitkan perasaan kita, pengembangan pribadi selalu mempunyai suatu pengaruh: menarik pada tujuan hidup kita. Seperti yang dikatakan Rabbi Samuel M. Silver, "Mukjizat terbesar adalah bahwa kita tidak perlu mewujudkan masa depan sekarang, tetapi kita dapat memperbaiki diri jika kita menggunakan potensi yang dinamakan Allah dalam diri kita."

Kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang memfokuskan pada peningkatan diri orang itu, bukan keberhasilan yang telah dicapainya

Jawaban.com

Allah Bapa

Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? 

"Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tersebut.

Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada.

"Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter.

"Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!"

"Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain.

"Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar."

"Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."

"Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!", ujar seorang anak tidak mau kalah.

"Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.

Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain.

"Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?", ujar ibu guru dengan lembut.

Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.

Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, "Ayah saya seorang pemulung... jadi  saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung."

Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan.

"Eddy," ujar ibu guru lagi.

"Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"

Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."

Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.

Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."