2:23:00 PM
Peak
One day I decided to quit. I quit my job, my relationship, my spirituality. I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God, "God, I asked, 'Can you give me one good reason not to quit?". His answer surprised me.
"Look around", He said. "Do you see the fern and the bamboo?"
"Yes", I replied.
"When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water. The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful. And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.
"In year three there was still nothing from the bamboo seed. But I would not quit. In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit", He said.
"Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant. But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive. I would not give any of my creations a challenge it could not handle."
He asked me, "Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots".
"I would not quit on the bamboo. I will never quit on you."
"Don't compare yourself to others", He said.
"The bamboo had a different Purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful".
"Your time will come", God said to me.
"You will rise high"
"How high should I rise?", I asked.
"How high will the bamboo rise?", He asked in return.
"As high as it can?", I questioned.
"Yes", He said, "Give me glory by rising as high as you can".
I left the forest and brought back this story. I hope these words can help you see that God will never give up on you. Never, Never, Never Give up.
Reflection :
For the Christian Prayer is not an option but an opportunity. Don't tell the Lord how big the problem is, tell the problem how Great the Lord is!
Heavens door open this morning, God asked me, "My CHILD, what can I do for you?"
And I said, "FATHER, please protect and bless the one reading this message". God smiled and answered, "Request granted".
This message is now in your hands. What will YOU do with it?
9:46:00 AM
Peak
Ketika keluarga Hadi pindah ke rumah baru, seorang kerabat yang berkunjung bertanya pada Semi yang berusia lima tahun, "Apa kamu suka rumah barunya."
"Bagus sekali rumah ini!" katanya.
"Aku punya kamar sendiri, Miki punya kamar sendiri, dan Jimi punya kamar sendiri. Tapi kasihan Ibu, ia masih sekamar dengan Ayah!"
9:44:00 AM
Peak
Today's Scripture
“When they walk through the Valley of Weeping, it will become a place of refreshing springs. The autumn rains will clothe it with blessings” (Psalm 84:6).
Today's Word from Joel and Victoria
Do you feel like you are walking through a tough place in your life today? When you walk through the “valley of weeping”, God is walking with you. He wants to strengthen and empower you to keep moving forward. He is leading you to a place of blessing and refreshing! Be encouraged today, it’s not over until God says it’s over, and He always causes us to triumph! The Bible says that weeping may endure for the night, but joy comes in the morning! It also says that the path of the righteous is like the light of dawn shining brighter until the full day. No matter how dark your circumstance may seem, you are on a path that is shining brighter and brighter. Know today that there is a place of victory on the other side of your challenge. Keep believing and keep expecting. As you continue to meditate on the goodness of God and declare His favor in your life, you will be strengthened and refreshed in your inner man. You will rise higher and higher, and you will live the life of victory the Lord has in store for you!
A Prayer for Today
Father in heaven, thank You for leading me to my place of blessing. I trust that You are faithful and believe that You have a good plan for my life. Help me to always hear Your voice so I can follow You all the days of my life. In Jesus’ Name. Amen.
From : Joel Osteen Ministries
8:51:00 AM
Peak
Waktu sebuah angin topan menimpa sebuah kota kecil dekat-dekat sini, banyak keluarga mengalami musibah. Sesudah itu, semua surat kabar lokal memuat banyak berita kemanusiaan yang menarik dengan liputan keluarga-keluarga yang paling menderita.
Di edisi Minggu, sebuah gambar khusus begitu menyentuh hatiku. Ada seorang ibu muda berdiri di depan sebuah rumah-mobil yang hancur, raut wajahnya mencerminkan kesedihan yang begitu memelas. Seorang bocah laki-laki, sekitar 7 atau 8 tahun, berdiri di sampingnya, matanya memandang ke bawah. Seorang gadis kecil sedang memegang erat-erat gaun ibunya, matanya memandang ke lensa kamera, lebar terbelalak penuh kebingungan dan rasa takut. Berita yang menyertai gambar itu memberikan nomor-nomor ukuran pakaian tiap anggota keluarga itu. Perhatianku makin bertambah, aku mengamati ukuran-ukurannya hampir menyamai punya kami. Ini sebuah kesempatan bagus untuk mendidik anak-anakku membantu mereka-mereka yang kurang beruntung dari anak-anakku. Gambar keluarga muda itu aku tempelkan pada lemari es, kuterangkan bencana mereka itu pada putra-putra kembarku, Brad dan Brett, yang berumur 7 tahun, dan pada putriku Meghan yang baru berumur 3 tahun. Aku berkata, "Kita ini punya begini banyak, mereka itu sekarang hampir-hampir tak memiliki apapun. Ayo, mari kita membagikan milik kita dengan mereka." Aku bawa turun 3 kotak besar dari gudang bawah-atap yang lalu kutaruh di ruang keluarga. Meghan diam-diam mengamati kedua kakaknya dan aku yang sedang mengisi salah satu kotak itu dengan makanan kaleng dan lain-lainnya yang tahan lama, juga sabun dan kebutuhan kebersihan lainnya. Waktu aku memilah pakaian-pakaian, aku menyemangati putra-putraku untuk melihat-lihat mainan mereka dan menyumbangkan apa yang kiranya sudah kurang digemari. Si Meghan terus memandang, diam saja, saat mereka itu mulai menumpuk mainan maupun 'game' yang mau dibuang. "Nanti habis ini akan ibu bantu carikan sesuatu untuk gadis kecil itu," kataku.
Bocah-bocah laki-laki itu mengisikan mainan-mainan yang mereka pilih untuk disumbangkan ke dalam salah satu kotak sedangkan aku mengisi kotak ketiga dengan pakaian-pakaian. Meghan datang berjalan sambil mendekap erat-erat di dadanya, Lucy, boneka kainnya yang selain sudah luntur, kucel bocel dan lusuh kumal namun begitu ia sayangi. Ia berhenti sejenak di depan kotak yang memuat mainan-mainan itu, menempelkan wajahnya yang bulat kecil mungil pada muka lukisan Lucy yang datar ceper, memberinya sebuah ciuman selamat tinggal, lalu menaruhnya dengan lembut di atas lain-lainnya. "Lho, Sayang," aku berkata, "Lucy tidak perlu kau berikan. Itu kan kesayanganmu?" Meghan mengangguk dengan hikmat, matanya agak berkilau membasah dengan air mata yang tertahan. "Lucy membuatku begitu bahagia, Bu. Mungkin nanti dia juga akan membuat gadis kecil itu bahagia sekali." Aku, yang semula maunya mengajar, malah mendapat pelajaran. Anak-anak laki-laki itu telah melihat dan melongo, mulut terbuka, saat adik perempuannya meletakkan boneka kesayangannya ke dalam kotak. Tanpa sepatah kata, Brad berdiri dan menghilang ke kamarnya. Ia muncul kembali dan membawa salah satu mainan tokoh aksi-aksian yang paling ia kagumi. Terlihat ia agak ragu-ragu, maju-mundur sambil menggenggam mainan itu, lalu ia melirik Meghan dan kemudian diletakkannya di kotak, di samping Lucy. Sebuah senyum pelan-pelan melebar di muka Brett, lalu ia lompat berdiri, matanya bersinar-sinar saat ia lari pergi mengambil beberapa buah mobil-mobilan dari kumpulan Matchbox yang ia begitu sayangi. Begitu terkagum, aku menyadari bahwa merekapun juga menangkap isi makna sikap dan tindakan Meghan. Dengan menahan air mata, aku merangkul ketiga anak-anakku dalam pelukanku. Dengan rasa menelan yang berat, aku memandangi Meghan agak lama, termenung sebentar memikirkan bagaimana caranya aku bisa mengajar putra-putraku pelajaran yang Meghan baru ajarkan kepadaku, karena tiba-tiba saja aku sadar bahwa setiap orang bisa memberikan apa saja yang memang mau dibuang.
Kemurahan hati yang sejati ialah bila memberikan apa yang justru paling kau sayang dan hargai. Kebajikan murni sejati dan jujur ialah di saat gadis umur tiga tahun mengorbankan boneka tersayangnya, meskipun sudah kumal, kepada seorang gadis kecil lainnya yang tak ia kenal, dengan harapan bahwa itu akan membawa kadar kebahagiaan yang sama seperti yang ia terima. Dengan mengambil contoh dari si kecilku, aku mengambil kembali jaket coklatku berjumbai-jumbai yang lama dari kotak pakaian. Aku ganti itu dengan jaket baru berwarna hijau-pemburu yang baru kutemukan minggu lalu waktu ada obral. Aku harap wanita muda di gambar itu akan menyukainya sama seperti aku.
("True Generosity" by Elizabeth Cobb)