Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 October 2008

The Onion

I was an onion before Christ set me free.
Layers upon layers of iniquity.
An ugly old onion whose fragrance was strong;
That my Jesus bought and loved all along.

Unknown to me what He was going to do.
Of what He was planning, I had not a clue.
Pulling each layer off one by one.
In order to make me more like Jesus the Son.

The first layer wasn't so bad.
I saw all the sins that I knew I had.
They were easy to fix, just change the way I talk.
And learn more of how He wanted me to walk.

Reading His Word, and learning again;
How to put aside my life of sin.
But the next layer was pulled which hurt more.
He was getting closer to the core.

Unknown what He would find there.
I simply gave it to Him in prayer.
As another layer was removed, He started to cry;
Pulling this layer brought pain to my Father on High.

And I was crying over the sadness I felt;
The brokenness and all of the guilt.
Past memories that I thought were gone;
They were buried under layers disguised in a fragrance so strong.

As onions peel more and more;
And they put tears in our eyes as we get close to the core;
So my Father wept over my pain;
Giving me a balm of comfort and strength to sustain.

"No More Layers." I would scream.
As He continued to peel them off of me.
"I'll have nothing left my Lord, what will I do?
I'll be nothing but a worthless core to you. "

But He just said "Trust me," and continued to peel
I was sure He was blinded to my pain that was so real.
Year after year I shrunk more and more;
Until all that was left of this onion was a core.

It was then that I began to understand;
As the Lord embraced me in His loving hand.
He said, now and only now can you be;
The creation that will minister before me.

Clothed with the righteousness only from above;
Gone are your layers of self so you can be filled with my love.
He took my layers of sin, hurt and pain;
And clothed me with love, truth and mercy in His name.

Yes, we are all onions, learning with each day;
How to overcome as each layer is taken away.
Some layers tear and pull at our heart;
While others grieve us to our innermost part.

But we are nothing but an ugly onion without Christ.
Layers upon layers of pride, sin and strife.
Only God can take those layers away.
And clothe us with His righteousness in that final day.

by Unknown

Sikap Dalam Berdoa

Sikap kita dalam berdoa adalah penting. Yang harus diingat, Tuhan lebih melihat sikap hati ketimbang apa yang tampak dari luar. Apalagi saat berdoa, yaitu saat kita berkomunikasi dan mengimani bahwa kita menghadap kehadirat Allah.

1. Penerimaan
Kita harus berdoa dengan menerima fakta bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita perlukan ketimbang diri kita. Bahwa Ia sudah mengetahui apa kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. (Matius 6:8)

2. Iman
Berkat dari berdoa adalah nyata, seperti firman-Nya dalam Alkitab (Yakobus 1:5-7). Maka dari itu, dalam berdoa kitapun harus percaya, mengamininya, dan berdoa tanpa keraguan akan janji-Nya itu.

3. Tidak henti-henti
Yesus sendiri memberikan tips ini dalam perumpamaan-Nya di Lukas 18:1-8. Jika saat ini doa Anda belum juga mendapat jawab, tetaplah berdoa, berseru dan mengetuk pintu berkat kerajaan Sorga.

4. Motivasi yang benar
Dalam Yakobus 4:1-3 kita dapat melihat ada juga orang yang berdoa tanpa jemu, bahkan mungkin juga dengan percaya, tapi doanya tidak pernah dikabulkan karena permohonan doanya dilandasi oleh motivasi yang salah. Meminta kepada Tuhan tidak salah, tapi motivasi kita juga harus benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Contoh motivasi yang salah seperti permintaan Yohanes dan Yakobus (Markus 10:35-37), sedangkan motivasi yang benar misalnya permintaan Raja Salomo muda (1 Raja-raja 3:3-15).

5. Seturut kehendak Allah
Yohanes menegaskan janji ini, "Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." (1 Yohanes 5:14). Doa kita pasti akan dikabulkan jika seturut dengan kehendak Tuhan yang jelas dinyatakan dalam Alkitab. Contoh : Tuhan pasti mengabulkan doa kita yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya (1 Yohanes 1:9). Namun, jika apa yang kita minta tidak langsung diungkapkan dalam Alkitab, kita harus berserah supaya hanya kehendak-Nya saja, dan bukan kehendak kita yang jadi.

6. Dengan kepatuhan
Yakobus menyatakan "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yakobus 5:16). Tuhan akan mengabulkan permohonan doa dari orang benar, yaitu yang terbukti patuh dan mau menuruti setiap kehendak-Nya. Surat Yohanes menegaskan janji ini "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (1 Yohanes 3:22).

7. Mengucap syukur
"Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Setiap dan permohonan kita kepada Tuhan hendaknya kita sampaikan dengan ucapan syukur. Ketimbang mengeluh dan marah kepada Tuhan, kita harus lebih dulu ingat segala kebaikan Tuhan atas berkat, kehidupan, janji dan pelajaran yang sangat baik yang telah kita terima sepanjang hidup ini. Tuhan menyukai dan akan mengabulkan doa dari hati yang penuh syukur dan memuliakan nama-Nya ketimbang yang bersungut-sungut.

Meminta Pendapat

Nats : Semoga TUHAN, Allahmu, memberitahukan kepada kami jalan yang harus kami tempuh dan apa yang harus kami lakukan (Yeremia 42:3)

Bacaan : Yeremia 42:1-22, 43:1-7

Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita.

Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua pendapat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.

Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (41:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.

Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti -ALS

BILA KITA MEMINTA PETUNJUK DARI TUHAN
BERSIAPLAH UNTUK MENAATINYA

Yayasan Gloria

30 October 2008

Menanti Tuhan

"Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku" - Mazmur 62:2

Dalam terjemahan lain dipakai kalimat : Sungguh, jiwaku menantikan Tuhan dengandiam dan tenang. Rupanya banyak yang menantikan Tuhan dengan gaduh, resah, gelisah, ribut, panik, dan bahkan histeris. Ketenangan di hadapan Tuhan adalah ekspresi iman, keyakinan dan keteguhan hati kita terhadap Dia dan pertolongan-Nya. Sebaliknya jika jiwa kita begitu gundah, kacau, onar, dan meledak-ledak, itu tanda kita belum bisa menyerah. Karena itu bertanyalah dalam hati kita masing-masing : tenangkanlah aku dalam menantikan Tuhan dan pertolongan-Nya? Jika engkau dapati ketenangan dan sejahtera, itulah sikap yang memberi jaminan kemenangan dan keabadian yang ajaib.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

Sebuah Kisah di Balik Tragedi 911

Seorang laki-laki dari Norfolk, Virginia menelpon sebuah radio lokal untuk menceritakan pengalamannya berkaitan dengan peristiwa 11 Septermber (Menara WTC ditabrak oleh pesawat yang dibajak teroris). Namanya Robert Matthew, dan ini ceritanya :

Beberapa minggu sebelum peristiwa 11 September, saat sebelum kelahiran anak pertama kami, istri saya berencana untuk pergi ke California mengunjungi saudaranya. Dalam perjalanan saat mengantarkan istri ke bandara, kami berdoa supaya perjalanan istri diberi keselamatan dan perjalanannya diberkati Tuhan.

Tak lama setelah saya berkata, 'Amin', kami mendengar suara letusan dan mobil berguncang keras. Ternyata roda ban mobil kami pecah. Saya berusaha mengganti ban yang pecah secepat mungkin, tetapi ternyata kami tetap ketinggalan pesawat. Kami sangat kesal, dan memutuskan untuk pulang.

Di rumah saya menerima telpon dari ayah saya, seorang pensiunan NYFD (Dinas Pemadam Kebaran New York). Dia bertanya berapa nomer pesawat istri saya, tapi saya saya katakan kami ketinggalan pesawat. Sambil dalam keadaan terguncang, ayah berkata bahwa pesawat yang sedianya dinaiki istri saya adalah pesawat yang dibajak oleh teroris untuk menabrak menara sebelah selatan dari WTC. Ayah juga memberitahukan informasi yang lain. Dia akan mejadi relawan membantu NYFD untuk menolong korban yang ada. Dia berkata, 'Saya tidak bisa diam saja melihat musibah ini. Saya harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka.'

Saya mengkuatirkan keadaan ayah, tetapi sebetulnya saya lebih prihatin karena ayah belum menyerahkan hidupnya pada Kristus. Setelah melewati perdebatan singkat, saya mengetahui bahwa tekad ayah sudah bulat. Sebelum menutup telpon ayah berkata, 'Jaga baik-baik cucu ayah.' Itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengar, karena ayah juga termasuk korban yang jatuh pada saat NYFD melakukan penyelamatan di menara WTC.

Sukacita saya karena Tuhan sudah menjawab doa saya dengan menyelamatkan istri saya, berubah menjadi kamarahan. Saya marah kepada Tuhan, marah kepada ayah saya dan marah kepada diri saya sendiri. Hampir dua tahun saya menyalahkan Tuhan karena sudah merenggut ayah dari keluarga kami. Anak saya tidak akan pernah bertemu kakeknya, ayah saya tidak menerima Kristus, dan saya tidak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan.

Kemudian sesuatu terjadi. Sekitar dua bulan lalu, saat saya sedang duduk di ruang keluarga bersama istri dan anak saya, ada suara ketukan di pintu. Saya bertanya kepada istri, tetapi dia menjawab tidak ada temannya yang berencana datang. Akhirnya saya membuka pintu, dan di depan saya berdiri sepasang suami istri dengan anak kecil yang digendong. Suaminya bertanya apakah nama ayah saya Jake Matthew. Saya menjawab ya. Segera dia menjabat erat-erat tangan saya dan berkata, 'Saya tidak pernah punya kesempatan bertemu dengan ayah anda, tetapi ini suatu kehormatan bertemu dengan anaknya?

Dia kemudian menjelaskan bahwa istrinya bekerja di World Trade Center (WTC) dan terjebak di dalamnya saat terjadi musibah. Dia dalam keadaan hamil dan tertimpa reruntuhan bangunan. Kemudian dia menjelaskan bahwa ayah saya berhasil menemukan istrinya dan menolongnya. Mata saya sembab dan penuh air mata saat saya membayangkan bahwa ayah telah mengorbankan nyawanya untuk menolong orang-orang seperti yang datang saat ini. Kemudian dia melanjutkan, 'Ada hal lain yang anda harus ketahui.'

Istrinya kemudian menyambung penjelasan, bahwa saat menyelematkan dirinya, dia sempat bercakap-cakap dengan ayah saya - dan menuntunnya untuk menerima Kristus. Saya mulai sesenggukan saat mendengar cerita itu. Sekarang saya tahu bahwa ayah sudah berada di surga. Dia akan berdiri disamping Yesus untu k menyambut saya di surga - dan keluarga ini nantinya dapat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya.

Ketika anaknya lahir, mereka menamainya Jacob Mattew sebagai penghormatan kepada orang yang sudah mengorbankan nyawanya sehingga anak itu beserta ibunya bisa hidup.

Kisah nyata ini membantu kita untuk memahami dua hal.

Pertama : Tuhanlah yang memegang peranan untuk mengatur hidup kita dengan ajaib. Kita mungkin tidak bisa memahami apa yang ada dibalik semua peristiwa yang terjadi, dan kita tidak tahu setiap kejadian menurut sudut pandang surgawi. Tetapi Tuhan sendirilah yang campur tangan dan merencanakan setiap peristiwa yang terjadi. Dan yang kedua :setelah lewat dua tahun peristiwa penyerangan tragis terhadap WTC, kami tidak boleh membiarkan hal itu tetap menjadi sebuah ingatan yang pahit.

Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang yang sempurna, tetapi DIA akan menyempurnakan panggilanNya.

GOD Himself

Mark was a multi-millionaire. He was a CEO of 20+ companies (He never told me the exact number). I met him when I was a 14-year old kid who loved sharing God to others.

So Mark invited me to preach in his huge mansion. So there I was, standing in front of Mark and six of his friends---businessm en of equal wealth and stature. Can you imagine how I looked like at 14? I was a small, thin, ugly, peepsqueaky kid---dressed in a faded shirt and a pair of old brown sandals---nervously holding my Bible--- speaking in front of these millionaires. It was almost hilarious! Why would these bigwigs listen to a nobody?

But when I started telling them about God's love for them---simple stories that any grade schooler could understand-- -the fascinating thing happened: I saw these grown-up men listening intently. I realized they were desperately hungry for God. After my short talk, I led them in a prayer and a song, and I recall how Mark shed tears in front of his friends---and soon after, the others followed.

I can never forget that experience. It made me realize that no matter how old you are, or what state of life you're in---you've got a soul that needs to be fed daily. At the end of the day, your deepest and greatest need is God Himself.

By Bo Sanchez

29 October 2008

Serba Salah

Nats : Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu" (Keluaran 14:13)

Bacaan : Keluaran 14:9-14

Ada saat kita mengalami situasi "maju kena mundur kena". Jalan yang ada di depan seolah buntu, tetapi untuk mundur juga tidak bisa. Jadinya serbasalah. Misalnya, bertetangga dengan orang sulit dan terus mencari-cari masalah. Capek hati rasanya. Namun, mau pindah rumah juga tidak gampang. Atau, teman-teman di kantor yang menjengkelkan. Kita merasa sangat tertekan. Sudah mencoba mencari tempat kerja baru, tetapi tidak kunjung dapat.

Umat Israel dalam bacaan kita juga mengalami hal yang serupa. Mereka baru keluar dari perbudakan di negeri Mesir. Akan tetapi, rupanya Firaun tidak rela melepas mereka (Keluaran 14:5). Lalu mengejar dengan bala tentaranya. Keadaan umat Israel terjepit. Di depan Laut Teberau, sedangkan di belakang tentara Mesir. Mereka ketakutan (ayat 11). Musa mengingatkan mereka agar jangan takut, berdiri tetap, dan berfokus pada penyertaan Tuhan (ayat 13). Akhirnya mereka selamat sampai di seberang (Keluaran 14:30).

Langkah pertama menghadapi keadaan sulit adalah: jangan takut. Sebab bukan saja tidak akan menolong, rasa takut juga malah bisa melumpuhkan; membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, berdiri tetap dalam iman. Biasanya dalam keadaan tertekan orang mudah sekali tergoda mengambil jalan pintas; asal segera keluar dari masalah, lalu menghalalkan segala cara. Padahal sikap demikian biasanya malah semakin menjerumuskan. Ketiga, berfokus pada kasih dan penyertaan Tuhan. Jalani hidup ini seberat apa pun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Tuhan akan bertindak -AYA

TUHAN AKAN BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN
KUNCINYA TETAP BERFOKUS KEPADA-NYA DAN TEGUH DALAM IMAN

Yayasan Gloria

Barn Swallow

Burung betina ini terluka parah
Here his mate is injured and the condition is appalling

image001

Pasangannya membawakan makanan dan mencoba menyuapi si betina
Here he brings her food and attend her with love and compassion

image002

Namun si betina akhirnya mati. Si jantan masih mencoba menggerakkan tubuh tak bernyawa itu
Brings her food but shocked with her death and try to move her

image003 

Si jantan mulai sadar kalau si betina sudah mati. Si burung jantan ini pun menjerit penuh duka
He is aware that his sweetheart is dead and will not come to him again he cries with adoring love

image004

Si jantan tak mau menerima begitu saja kematian pasangannya. Ia terus menjerit pilu di sisi jasad si betina
Stand beside her and scream saddened of her death

image005

Sadar bahwa si betina tak mungkin hidup lagi, si burung jantan tetap bertahan di sisi jasad beku itu dengan segala kesedihan
Finally aware that she would not return to him and she has departed, stands beside her body, sad and sorrow

image006

(Foto ini dilaporkan diambil di wilayah Ukraina, negeri yang dulu pernah menjadi bagian Uni Sovyet).
Photos of two birds are said to have been taken in the Republic of Ukraine Where the bird is trying to save his mate. Millions of people cry after watching this picture in America and Europe

Hambatan Dalam Berdoa

Meski doa seringkali juga disebut sebagai nafas hidup orang Kristen, tapi banyak orang Kristen sekalipun yang mengalami hambatan dalam berdoa. Hambatan itu bisa jadi karena :

1. Kekristenan yang pura-pura.
Kita berdoa, tapi tak lagi percaya pada Yesus, Alkitab, dan kekristenan. Kita mungkin masih mendua hati, kita masih menggantungkan harapa pada sesuatu selain Kristus, kita masih sombong dan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak akan mendengarkan doa orang yang belum percaya. Tapi, doa yang ingin Tuhan dengan dari bibri orang yang belum percaya adalah doa pertobatan. Kita mungkin juga tidak berdoa dalam nama Yesus. Ini bukan berarti setiap doa yang memuat kalimat "dalam nama Yesus" pasti dikabulkan. Betapapun indah dan meyakinkannya kata-kata doa, tidak akan berarti apa-apa jika tak ada iman. Berdoa dalam nama Yesus berarti kita memanjatkan doa kita dengan iman bahwa hanya kepada Yesus saja kita berdoa, dan bahwa hanya Dia saja yang bisa menjawab doa kita seturut dengan kehendak-Nya.

2. Doa duniawi; doa yang hanya mementingkan diri.
Yakobus 4:3-4 mendeskripsikan doa sejenis ini sebagai permohonan doa untuk hal-hal yang "hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu". Kita memperlakukan Tuhan sebagai mesin pemberi berkat, akibatnya kita hanya berdoa untuk hal-hal duniawi, hal-hal yang hanya menuruti keinginan daging kita. Lebih parah, ada juga yang bahkan merasa menerima 'nubuat' akan hal-hal yang indah bagi daging, padahal itu palsu. Hal ini sangat berbahaya karena nubuat palsu itu bisa jadi malah membuat kita memberontak pada Allah. Pastikan doa kita adalah menurut kehendak-Nya dan belajarlah mengenali suara Sang Gembala.

3. Tidak adanya pertobatan dan pengampunan.
Dalam Doa Bapa Kami, ada kalimat "ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" - Matius 6:12. Ini masih berhubungan dengan hukum tabur tuai (lihat Mat 6:14-15). Akar pahit, sikap tidak mau berdamai dengan sesama atau dengan dirinya sendiri, dan sikap menghakimi juga dapat menjadi penghambat doa kita didengar Tuhan. Jika semua hal itu masih ada dalam diri Anda, yang Tuhan ingin dengar dari doa Anda saat ini adalah doa pertobatan dan melepaskan pengampunan. Anda juga dapat meminta bantuan doa dari saudara seiman untuk sama-sama berdoa mengenai ini.

4. Menyakiti orang lain
Hambatan yang lain dapat membuat doa Anda tidak dijawab adalah karena Anda masih menyakiti orang lain. Barangkali Anda masih marah setelah bertengkar dengan pasangan atau keluarga, dsb. Alkitab menyatakan bahwa jika kita datang ke hadirat Allah dengan hati masih menyimpan dendam atau kebencian terhadap sesama, kita harus membereskannya lebih dulu (Mat 5:23-24). Jadi, jika ingin doa kita didengar, sekali lagi kita harus lebih dulu bertobat, mengadakan pemberesan atau mengusahakan ganti rugi terhadap orang yang kita sakiti. Waspadai pikiran-pikiran yang berusaha merasionalkan pelanggaran dan dosa kita dengan berbagai macam dalih. PIkkiran itupun dapat menghambat doa kita didengar Tuhan karena Dia mengetahui isi hati manusia. Demikian pula jika memang benar bahwa Anda yang menjadi korban dari pelanggaran atau kejahatan orang lain, sikapilah itu dengan cara yang menyenangkan dan memuliakan Tuhan.

28 October 2008

Bersama Tuhan Lebih Enak

Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.

Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.

Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.

Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.

Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.

Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.

Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa. Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.

Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi.

Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa. Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."

Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami. Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa, "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama, "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."

Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: 'Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.' Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.

Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata! Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, 'Waktu-Ku tidak lama.' Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.

Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya. Setelah itu aku berkata, 'Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!' Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang. Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.

Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak. Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.

Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi 20

Penyertaan-Nya

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" - Matius 28:20

Bacaan : Mazmur 23:1-6

Buku Tortured For Christ menceritakan dengan detail pengalaman misionaris Richard Wurmbrand di kamp penjara Soviet yang notabene negara komunis pada saat itu. Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya di dalam Kristus, Wurmbrand mengalami aniaya yang luar biasa. Dia dipukuli hampir tiap hari, ia hampir mati beku selama musim dingin, ia menghabiskan hari-harinya di tempat pengasingan yang sunyi dan gelap, dan diperlakukan dengan semena-mena. Berapa lama Wurmbrand mengalami aniaya yang tidak terkatakan itu? Sepuluh tahun lamanya!

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bertahan dalam aniaya selama itu? Tentu saja kekuatan dalam menanggung aniaya tersebut bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan kekuatan dari Tuhan. Namun satu hal yang pasti, Wurmbrand selalu merasakan keharidan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya saat-saat ia mengalami penganiayaan.

Tuhan telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, bahkan Dia akan selalu menyertai kita sampai kesudahan jaman. Jika hari-hari ini kita sedang berada di dalam lembah kelam, mengalami kehidupan yang berat dan mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup kita, yakinlah bahwa Dia selalu menyertai kita. Ingatlah bahwa kalanya Dia tidak membuat kita terhindar dari masa-masa sulit tersebut, namun yang pasti Dia akan selalu memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk bertahan dan mengatasi masa-masa sulit tersebut hingga menjadi orang yang berkemenangan.

Jika hari-hari ini terasa begitu berat bagi Anda untuk dijalani, ingatlah akan penyertaan-Nya dalam hidup Anda. Saya pernah mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup saya, namun di saat itu juga saya justru merasakan kasih karunia, kekuatan yang baru dan keintiman yang luar biasa dengan Tuhan. Kita tidak pernah menjalani hari-hari berat ini sendirian, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kwik

Sumber : Renungan Harian Spirit

Terima Kasih TUHAN

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil....

Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..., sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku.

Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”Mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu? Sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya."

Tiba-tiba mobil berhenti, aku kaget, apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes, ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia? Aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka”.

Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda, ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu?? Hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab ”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu”.

Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya sebuah mobil jenazah lewat aku bergumam, ”Ya, inilah hidup, TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN”. Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau. Untuk kesekian kalinya aku terkagum ”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini”.

Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang. Hatiku tersentak, ”Ya, inilah hidup yang harus diperjuangkan”.

Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan. Aku tak kuasa membendung air mataku yang sejak tadi terus menggenangi mataku. ”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku”. Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor. Apa yang terjadi?? Ooh, aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku. Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan, aku pun bergumam, ”Hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya”.

Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya. Kuraih sebuah lembaran kertas, aku kaget, ”benarkah ini lembaran terakhir? Seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat, "Oh, Thanks GOD ini benar-benar lembar yang terakhir" Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya. ”Sudah selesai?” seseorang mengagetkanku. ”Iya Pak, ini hasilnya” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi. ”Terima kasih”, ujarnya kembali.

Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku. Kekesalanku di pagi hari, kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari. Aku tersenyum. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini, terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan, tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan, tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas, ampuni aku TUHAN, tak seharusnya aku tidak bersyukur, aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat, aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita, aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku, aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.

”Terima kasih TUHAN”. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai. Aku pulang dengan sukacita, ”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU, sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”

Kiriman : Slow Art

Humor : Mobil

Mobil Ratri sudah sering mengalami kerusakan dan setiap mengalami masalah dia selalu menelepon Dono untuk menolongnya. Suatu hari Dono menerima telepon dari Ratri.

"Sekarang ada apa lagi dengan mobilmu itu?" tanya Dono.

"Remnya blong," kata Ratri. "Bisa nggak kamu datang kemari?"

"Sekarang kamu ada di mana?" tanya Dono.

"Aku ada di dalam apotik," kata Ratri.

"Lalu mobilnya dimana?" tanya Dono.

"Ada di dalam apotik juga!"

27 October 2008

Kartu Kredit

"Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi" - Amsal 22:7

Bacaan : Amsal 22:7, 26

Hari ini masih belum punya kartu kredit? Hari ini punya kartu kredit cuma satu? Memang saat sekarang ini kartu kredit bukan lagi untuk orang kelas premium saja, lapisan masyarakat kelas menengah bawah pun sudah akrab dengan kartu plastik ini. Apalagi sekarang ini banyak bank berlomba untuk menggaet nasabah untuk memiliki kartu kredit dengan persyaratan yang super mudah. Tak heran kalau teman saya punya 13 kartu kredit, bahkan ada orang yang punya 42 kartu kredit. Luar biasa bukan?

Memiliki sejumlah kartu kredit tentu sah-sah saja. Persoalannya, kalau kita tidak hati-hati kartu-kartu plastik itu bisa menjadi jerat bagi kita. Dari luar kelihatan keren, tapi ternyata kondisi keuangan kita sangat memprihatinkan.

Larry Burkett, pakar keuangan yang sangat brilian, memberika tiga cara paling mudah untuk menjauhkan diri dari hutang kartu kredit.

  1. Jangan Pernah mengenakan biaya apapun atas kartu kredit Anda jika Anda tidak mempunyai uang untuk membayarnya. Dengan kata lain, gunakan kartu kredit sebagai charged card, bukan hutang dulu bayar belakangan.
  2. Lunasilah hutang kartu kredit Anda tiap bulannya, dan jangan pernah terlambat
  3. Jika Anda tidak bisa melunasi kartu kredit Anda pada akhir bulan, taruhlah kartu kredit Anda di atas kertas roti, panaskan oven hingga 350 derajat, dan masukkanlah kartu-kartu itu selama 30 menit hingga jadi enak dan lembek.

Jika kita melakukan tiga fase cara tersebut, tentu kita tidak perlu stress lagi soal kartu kredit. Sekali lagi, bukan saya anti kartu kredit, tapi penggunaan kartu kredit dengan cara yang salahlah yang harus di waspadai. Jika Anda memutuskan untuk memiliki satu atau beberapa kartu kredit, pastikan diri Anda sudah memiliki pengelolaan uang secara bijak, memiliki disiplin saat mengatur keuangan dan sudah benar-benar siap. Jika tidak, keuangan Anda bakal diobrak-abrik oelh kartu plastik ini. Kwik

Sumber : Renungan Harian Spirit

Misionaris Bagi Suku Sawi-Irian

"Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk." Jim Yost.

Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasihNya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencanaNya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi : Irian !

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun. Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California.

Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim. Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk.

Ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris."

Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya.

"Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim. Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini. Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost.

Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sedangkan pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan "membakar" semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim yang wajahnya mirip McGyver ini.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang. "Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup!", katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana. "Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami." Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu.

Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu. Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan. Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun.

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami.

Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan kotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan.

Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan." tambahnya. Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi! Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi. Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana. Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang.

"Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik. Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya." kata Jim.

"Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amereika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri," tambah Jim.

Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan caraNya sendiri. Terpujilah Allah!

Cara Kerja Otak Manusia

image002

Petunjuk "melihat" gambar terlampir :

Kalau pandangan mata Anda mengikuti gerakan putaran bulatan warna PINK, maka hanya akan terlihat bulatan satu warna yaitu PINK .

Tapi kalau pandangan mata Anda ke tanda " +" hitam di tengah, maka bulatan yang berputar akan berubah warnanya menjadi HIJAU. Kemudian jika pandangan mata Anda konsentrasi penuh ke tanda "+ " hitam di tengah-tengah gambar, maka perlahan-lahan bulatan warna PINK akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu saja bulatan yang berputar yaitu warna HIJAU.

Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada bulatan warna hijau, dan bulatan warna pink juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir, dengan kata lain kita melihat sesuatu "bukan apa adanya" tapi "sebagaimana kita melihatnya" .

Kadang kita menghadapi suatu masalah merasa "sangat sulit" atau "sangat berat", baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan masyarakat maupun masalah pribadi diri sendiri, bahkan kadang terlintas pertanyaan di benak kita, kenapa demikian berat beban masalah atau cobaan yang kita terima? Padahal kalau kita menerima anugrah, hadiah, kenikmatan yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakannya, kenapa kok saya yang menerima. Dan kadang kita lupa dengan DOA : berilah beban yang aku sanggup memikulnya.

Berat atau ringan, kecil atau besar, masalah atau bukan masalah, sedih atau gembira, hukuman atau pahala, derita atau bahagia, dst. Hanyalah "cara pandang" kita terhadap sesuatu?

Suatu peristiwa ataupun kejadian yang sama, namun jika melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda serta me-makna-i nya dengan berbeda kemudian menyikapinya dengan cara yang berbeda pula, maka hasil nya juga akan berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri! Karena otak kita lah yang membuatnya berbeda! Jika suatu peristiwa yang negatif namun kalau kita memandang/memaknai nya sebagai hal yang positif dan kita menyikapi dengan cara yang positif maka hasilnya pun akan positif pula. Dan begitu sebaliknya..

Tuhan Memberkati

26 October 2008

Burned-Out On Religion?

Then Jesus said, “Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest. Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” Matthew 11:28-30 (NLT)

Jesus might have asked: “Aren’t you tired and burned-out on all that religious stuff? Look, come walk with me, and I’ll help you recover your life – your real purpose – and even though it will require some hard, very hard work, you’ll be energized by it because you’ll be living life to its fullest. You’ll be doing exactly what my Father created you to do, and more importantly, you’ll be exactly who I want you to be.”

In taking on the Jesus-yoke, he is asking us to join the school of Christ. In ancient times, when a student studied under a specific teacher, it would be said that the student took on the teacher’s yoke; the student was yoked to the master.

Within that context, consider these words from Jesus: “Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” (Matthew 11:29-30, NLT)

Jesus says, by walking with him, we’ll learn how to walk with God. We don’t learn from afar; we learn from a caring and committed teacher-student relationship – caring and committed on both sides.

The Christian walk is not a lesson in how to run off doing things for Jesus while we ignore him. Our Christ-walk is a journey with Jesus, where he is very personal and specific about our growth and spiritual maturity.

What does this mean?

· Are you tired? – Jesus will teach you how to find rest in God, not a rest absent of stress, but the rest that results from believing in God’s faithfulness. Ask God to show you what blocks you from believing fully in his faithfulness, and then ask him to break those blockages down.

· Are you confused? – Join Jesus at his school of Christ, and watch him, listen to him, ask him to renew your purpose.

· Ask to be teachable – Tell Jesus you want to be yoked to him, and that you want to learn from him. Ask him to keep your heart teachable.

by Jon Walker

© 2008 Purpose Driven Life. All rights reserved.

Menjaga Tubuh Tetap Bugar

"Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga". Ya, kursi goyang identik dengan kemalasan.

Sama halnya dengan menu makanan berkualitas, olahraga tak dapat digantikan oleh aktivitas apapun. Berolahraga secara rutin membuat tubuh menjadi bugar. Tubuh bugar mengantar kita hidup lebih panjang.

Kita tidak harus memilih olahraga khusus apapun menggunakan alat tertentu. Berjalan kaki adalah pilihan paling murah, tetapi bukan sekedar berjalan kaki. Kita mesti berjalan dengan penuh semangat (brisk walking), yaitu jenis jalan kaki yang menghasilkan degup jantung optimal. Ketika jantung berdegup optimal. Ketika jantung berdegup optimal, tingkat aerobik akan tercapai. Aerobik terjadi ketika enam puluh persen degup jantung maksimal tercapai, yaitu enam puluh persen dari (220-umur). Yang berumur lima puluh tahun degup jantungnya mencapai 102 per menit. Pertahankan degup jantung tersebut selama 40-45 menit.

Berolahraga tidak identik dengan mencari keringat. Apa pun olahraga yang Anda pilih, targetnya adalah aerobik. Namun, seiring dengan usia yang terus bertambah dan persendian yang tidak utuh lagi, tidak semua olahraga aman bagi Anda. Joging, lari, atau lompat, tak cocok lagi dilakukan saat usia baya. Tulang rawan dan minyak sendi sudah menipis. Karena itu, olahraga berat membuat sendi lutut, pinggul, dan pinggang "rontok". Padahal, berjalan kaki saja sudah bisa meraih aerobik tanpa perlu merusak sendi.

Dan, supaya persendian aman, kita mesti menggunakan alas kaki saat berolahraga. Bukan sembarang sepatu, kita perlu memilih yang empuk dan konstruksinya sesuai dengan anatomi kaki. Kualitas sepatu yang kita pakai menentukan nasib sendi yang memikul tubuh. Jika sepatu tak berkualitas, bobot tubuh akan dipikul lebih berat oleh lutut, pinggul dan pinggang.

Sepatu empuk menjadi semacam pegas (shock absorbent) bagi bobot tubuh. Karena itu, tanpa pegas, sendi harus memikul bobot lebih berat; akibatnya bisa mencederai sendi. Sendi yang cedera inilah yang memunculkan keluhan encok.

Bernapaslah Setiap Kali Anda Ingat
Selain berolahraga, kesegaran tubuh dapat kita capai saat sel tubuh mendapatkan asupan makanan yang cukup. Dan, sel tubuh mendapatkan makanan dari oksigen yang kita hela. Namun, porsi oksigen yang masuk ke dalam tubuh belum tentu mencukupi; tergantung seberapa dalam napas dihela dan seberapa tebal kandungan oksigen yang tersedia di udara.

Sehari-hari, kita jarang mengambil napas dalam, terlebih jika kita kurang melakukan aktifitas fisik. Hasilnya, paru-paru kita kurang mengembang dan laju napas pun melamban karena kurangnya asupan oksigen.

Kekurangan oksigen membuat sel-sel menjadi layu, kurang gizi, dan lekas mati. Fungsi organ tubuhpun akan menurun jika sel kekurangan makanan. Organ akan terganggu jika pasokan oksigen tak mencukupi. Dan pada titik tertentu akan membuat organ tak berfungsi lagi. Serangan jantung koroner dan stroke merupakan akibat kurangnya oksigen yang diserap jantung dan otak. Sementara itu, bagi pengidap jantung koroner, pascastroke, atau anemia, udara pengap akan membuat penyakit menjadi semakin berat. Jika sebagian pembuluh darah koroner dan otak sudah tersumbat, akhirnya darah mesti mengangkut oksigen lebih pekat.

Selain jarang menghirup napas dalam, kondisi oksigen di udara yang semakin menipis juga mempengaruhi sel-sel kita. Sel tak dapat bertahan hidup lebih lama karena tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup.

Menghela napas dalam dapat kita lakukan saat kita tengah berolahraga. Atau, kita mesti menyempatkan menghela napas dalam selama kurang lebih 10-20 menit setiap hari. Lakukanlah setiap saat dan dimana pun Anda mengingatnya : ketika di ruang tunggu, menonton televisi, membaca dan sebagainya.

Jika kita berada di ruang yang berpendingin udara, hendaknya masih ada ventilasi supaya sirkulasi udara tetap terjaga. Ruang pengap berpendingin udara sesungguhnya menambah tipis oksigen yang kita hirup.

Oleh sebab itu, kita perlu menarik napas dalam dan memilih tempat yang menyediakan udara yang lebih segar.

Oleh : Hendrawan Nadesul

25 October 2008

Humor : Jack & Diane

Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman.  Diane menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri. TAKUT!

Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak merasakan hal yang sama, takut kalau Jack tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Diane.

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar.  Jack dan Diane pergi ke arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Jack bagaimana perasaan cintanya, jika Jack kembali.

Dan tiba-tiba, surat dari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan lalu doanya terkabul. Dia menerima surat dari Jack, mengatakan...!

"Diane, aku punya kejutan untukmu! Temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack"

Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu. Ketika harinya telah tiba, Diane menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.

Dia begitu perhatian melihat Diane, "Hai! Aku Jacelyn, temannya Jack. Kamu Diane?" tanyanya. Diane menganggukkan kepala.

"Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi," kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Diane. Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!!

Apa yang telah terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. "Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku..." Diane memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane dan mengatakan "ALAMAK DIANE... INI IKE BO...APAKAH E'IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH....AIH......YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH??? IHHH...SEBEL DEH.....!!!"

...dan kemudian Diane langsung pingsan..... :D

Ketegangan Keluarga

Nats : Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Bacaan : Efesus 6:1-4

Banyak konflik orangtua dan anak dibingkai oleh kata-kata: "Bapak Ibu itu kuno!" Atau, "Anak zaman sekarang tidak tahu menghormati orangtua, beda dengan zaman kami dahulu". Begitulah yang kerap terjadi dalam banyak rumah tangga. Lalu bagaimana ketegangan seperti ini mesti dikelola?

Paulus berpesan agar orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan serta bertindak sedemikian rupa agar anak paham yang mereka terima merupakan ekspresi kasih semata. Bisa jadi ajaran dan nasihat mengambil bentuk yang tegas, tetapi tak pernah ketegasan itu keluar dari hati yang membenci.

Sebaliknya, anak diminta menghormati orangtuanya, bukan hanya agar si anak beruntung ("supaya lanjut umurmu", ayat 3). Anak perlu taat kepada orangtua yang hidup dalam Tuhan karena ini merupakan sebuah perintah; suatu keharusan! Namun, ingat juga pesan Paulus, "taatilah orangtuamu di dalam Tuhan". Artinya, perspektif ketaatan pada orangtua mesti berpusatkan kepada Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan itulah yang menjadi dasar ketaatan anak terhadap ayah dan ibunya.

Bisa saja orangtua berbuat salah, bahkan jahat. Terhadap kasus seperti ini, anak tentu harus lebih memegang kebenaran sebagai ekspresi imannya kepada Tuhan sebagai sumber segala kebenaran. Sekalipun demikian, janganlah orangtua diabaikan. Mereka tetap layak menerima hormat. Semoga sebagai anak, kita selalu menghargai orangtua dengan hati yang hormat, bukan dengan hati yang merasa "lebih" lalu meremehkan bahkan menihilkan orangtua sendiri -DKL

JIKA DAMAI YANG ANDA INGINKAN
MULAILAH dari KELUARGA ANDA-BUNDA TERESA

Yayasan Gloria

Kingdom Assignment

Ini adalah pembuktian perumpamaan tentang talenta. Sepuluh ribu dolar dibagikan kepada seratus jemaat gereja. Dalam tiga bulan, 10.000 dolar telah berkembang menjadi lebih dari 100.000 dolar. Salah seorang yang mengemban tugas ini adalah Mike. Dulu, kekecewaan dan keputusasaan pernah hampir membuatnya bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Namun, pistol itu tidak meletus, padahal ia telah mengisinya dengan peluru. Waktumu belum tiba, Mike. Ia mendengar Allah berbicara. Bukan hari ini, bukan dengan cara seperti ini.

Begitulah awal pemulihannya. Mike datang ke gereja kami, dan ia didampingi seorang anggota jemaat yang berperan sebagai mentornya. "Anda telah menyelamatkan nyawa saya", katanya kepada sang mentor yang menjadi sahabatnya itu. "Jika saya diberi kesempatan, saya ingin membantu orang lain, seperti yang Anda lakukan untuk saya".

Ucapan itu berbalik kepadanya ketika ia menerima tugas seratus dolar itu. Esok paginya, Mike mulai mencari-cari dan menemukan sebuah organisasi bernama "Mentor Me", yang bertanggung jawab memasangkan anggota masyarakat dengan anak perempuan maupun laki-laki yang bermasalah. Program tersebut di bilang sukses besar dan Mike meyakini ke sanalah Allah menghendakinya melakukan investasi.

Mike menelepon organisasi itu dan menawarkan dua hal : uang seratus dolar dan waktunya sebagai sukarelawan untuk menjadi mentor bagi anak-anak muda yang memiliki pengalaman traumatik masa kanak-kanak yang sama dengan dirinya.

"Allah telah mengembalikan hidup daya", kata Mike. "Jika saya dapat menggunakan Kingdom Assignment untuk membantu seseorang menemukan kembali hidupnya, maka saya ini terus menerus diberkati".

Jadi, apa yang akan terjadi jika Anda menerima tugas ini? Tuhas ini akan mengubah hidup Anda selamanya, juga kehidupan orang lain yang begitu banyak di sekitar Anda, hari ini, esok, dan selamanya.

Sumber : Kingdom Assignment, Gloria Gaffa, 2008

24 October 2008

Tetap Berdoa

“Setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” - Lukas 11:10

Kami berdoa. Terkadang dalam suasana hening. Terkadang dengan bersuara. Kami berdoa selama lebih dari 17 tahun. Kami berdoa memohon kesehatan dan bimbingan bagi putri kami, Melissa, untuk keselamatannya, dan kerap kali supaya ia selalu dilindungi. Saat mendoakan anak-anak kami yang lain, kami meminta Allah memelihara Melissa.

Ketika Melissa beranjak remaja, kami bahkan lebih tekun berdoa agar Dia melindunginya dari segala yang jahat, agar Dia mengawasi tatkala Melissa dan teman-temannya pergi mengendarai mobil. Kami berdoa, “Ya Allah, lindungilah Melissa”.

Lalu apa yang terjadi? Tidaklah Allah memahami betapa menyakitkan kehilangan gadis cantik yang memiliki banyak potensi untuk melayani Dia dan sesama? Tidaklah Allah melihat mobil lain yang melintas pada malam musim semi yang hangat itu?

Kami telah berdoa, tetapi Melissa tetap meninggal dunia.

Bagaimana sekarang? Apakah kami berhenti berdoa? Apakah kami marah kepada Allah? Apakah kami berusaha dengan kekuatan kami sendiri?

Tentu tidak! Saat ini justru doa menjadi lebih penting bagi kami. Allah, Tuhan Yang Mahakuasa dan yang melampaui pemahaman kami, masih memegang kendali. Perintah-Nya supaya kami berdoa masih berlaku. Kerinduan-Nya untuk mendengarkan kami masih nyata. Iman bukanlah menuntut apa yang kami inginkan; melainkan mempercayai kebaikan Allah di balik tragedi hidup.

Kami berduka. Kami berdoa. Kami tetap berdoa.

ALLAH DAPAT MENGABAIKAN PERMINTAAN KITA TETAPI DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN KEYAKINAN KITA

Sumber : Renungan Harian

Sepuluh Anjuran

1. Bencilah dosamu, tapi jangan pernah membenci dirimu.

2. Cepatlah untuk menyesali kesalahan.

3. Apabila Tuhan memberimu terang, berjalanlah di dalam terang-Nya itu.

4. Berhentilah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirimu sendiri. Tuhan mencintaimu dan tidaklah benar jika kamu membenci sesuatu yang Dia cintai. Dia mempunyai rancangan-rancangan yang indah bagimu, jadi kamu melawan-Nya jika kamu berbicara secara negatif mengenai masa depanmu sendiri.

5. Janganlah takut untuk mengaku bahwa kamu telah berbuat kesalahan, tapi janganlah selalu berprasangka bahwa kamulah yang salah setiap saat ada yang tidak benar.

6. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kamu lakukan baik yang benar maupun yang salah; itu sama dengan memikirkan terus diri sendiri! Pusatkanlah pikiranmu kepadaNya!

7. Jagalah dirimu sendiri secara fisik. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya apa yang Tuhan telah berikan padamu demi tugasmu, tapi janganlah menjadi terobsesi dengan penampilanmu.

8. Janganlah berhenti untuk belajar tapi jangan sampai ilmu itu membuat kamu sombong. Tuhan memakai kamu bukan karena apa yang ada di dalam kepalamu melainkan karena apa yang ada di dalam hatimu.

9. Sadarilah bahwa setiap talentamu adalah anugerah, bukanlah sesuatu yang kamu ciptakan sendiri; jangan pernah merendahkan orang lain yang tidak sanggup melakukan apa yang kamu dapat lakukan.

10. Janganlah meremehkan kelemahan-kelemahan dirimu, merekalah yang membuat kamu tetap tergantung pada Tuhan.

Kiriman : Domi Dominika

Jika Tuhan Menarik Perhatian Kita

Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang  bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.

Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.

Pelajaran yang bisa di ambil
Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Tuhan seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan. Tuhan seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingatNya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas, mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan Yesus untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Dia. Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yesus, dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Tuhan senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Tuhan menjatuhkan "batu" kepada kita?

Tuhan Memberkati!

Arsip Weekend Scripture - Matius 6:14-15

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." - Matius 6:14-15

23 October 2008

Dimana Saya Dapat Menemukan Kasih?

Jika pertanyaan yang ada dalam hati Anda adalah, “Dimana saya dapat menemukan kasih sejati ini?” maka saya akan berbagi beberapa kabar baik ini untuk Anda. Anda sebenarnya sudah dikasihi. Dalam ayat yang paling populer dalam Alkitab, dikatakan kepada kita bahwa, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” - Yohanes 3:16

Yesus menjelaskan cakupan kasih Allah bagi orang percaya. Kepada murid-murid-Nya Yesus berkata, “... janganlah kamu kuatir dan berkata : Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” - Matius 6:31-33. Hanya jika kita percaya bahwa kita dikasihi dengan sedemikian rupa, maka kita mendapatkan rasa aman untuk mengambil resiko dalam mengasihi orang lain.

Sudahkan Anda berinisiatif untuk menemukan kasih dalam Pribadi dan perbuatan Kristus? Sudahkah Anda memercayakan diri Anda kepada-Nya? Sudahkan Anda percaya ketika Alkitab mengatakan bahwa Kristus wafat untuk dosa-dosa Anda?

Berikut ini adalah cara memulainya. "Akuilah dosa Anda dan kebutuhan Anda kan Kristus, yang telah datang “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilag” (Lukas 19:10). Di dalam Kristus, kita dapat menemukan kasih Allah, dan di dalam Dia kita melihat apa artinya hidup dalam kasih seperti yang dijelaskan Paulus. Dialah Allah yang tidak hanya memanggil kita untuk berbuat baik, tetapi juga untuk mengizinkan Dia menyatakan kehidupannya melalui kita.

Sumber : Seri Dinamika Iman, Apakah Kasih Sejati itu? Yayasan Gloria, 2004, Bill Crowder

Satu Syarat Saja

Nats : Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6)

Bacaan : Yohanes 14:1-11

Seorang anak miskin dari desa sangat ingin pergi ke istana dan menjumpai raja negeri itu. Ibu dan tetangga-tetangga mengatakan bahwa niatnya itu tak masuk akal. Namun, si anak tetap nekat. Ia pun berangkat. Sayang, penjaga istana tak mengizinkannya masuk begitu saja. Berbagai pertanyaan dan syarat diajukan, sehingga si anak gelagapan. Akibatnya, ia tak boleh masuk. Sambil berjalan pulang, ia menangis tersedu-sedu. Di tengah jalan, ia bertemu seorang anak laki-laki yang bertanya mengapa ia menangis. Setelah mendengar ceritanya, anak laki-laki itu menggandeng tangannya dan berkata, "Ayo ikut aku."

Maka berjalanlah mereka beriringan. Ternyata mereka kembali ke istana. Sampai di gerbang, si anak desa sudah khawatir. Namun, ia mendapati situasi yang berbeda. Para pengawal menunduk. Tanpa berkata apa-apa mereka membukakan pintu, memberikan penyambutan, lalu mempersilakan keduanya masuk. Sampai akhirnya mereka bertemu sang raja. Di depan raja, si anak laki-laki berkata, "Ayah, perkenalkan, ini temanku. Ia sangat ingin bertemu Ayah. Ayah mau kan berbincang dengannya?"

Gerbang surgawi, barangkali juga serupa pintu berpalang yang dijaga banyak pengawal. Dan, di hadapan mereka, kita adalah warga biasa, yang tak bisa masuk begitu saja. Namun, kondisinya akan berbeda saat kita tak datang sendiri ke sana. Apabila Yesus yang menggandeng tangan kita, tak ada syarat diajukan (ayat 3). Sebaliknya, penyambutan diberikan. Dan kita boleh menikmati keberadaan kita di sana. Ya, tak ada syarat lain untuk masuk ke sana. Satu saja syaratnya: masuk bersama Yesus! -AW

KUNCI GERBANG SURGA ADA DI TANGAN SANG ANAK KITA TAK BISA KE SANA TANPA GANDENGAN TANGAN-NYA

Yayasan Gloria

Buah Itu Penting

22 October 2008

Semarang Berbagi Bahagia 2008

Semarang Berbagi Bahagia 2008
Klik gambar di atas untuk memperbesar gambar.

Keajaiban Selalu Ada

Tiga bulan yang lalu, mama terkena kanker tulang stadium 4b, yang artinya sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar ambang batas.

Scan berhasil menunjukkan 5 tempat hitam (yang menunjukkan bahwa sudah terkena kanker) yaitu di pinggul, lutut kanan, tulang punggung, bahu-tangan kanan, dan tulang tengkorak. Serta beberapa bagian lain yang mulai tampak abu-abu ke hitam. Sedangkan bagian lain yang belum menyebar, berwarna putih bersih.

Keluarga sudah membawa dia ke beberapa dokter ahli tulang, ahli patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama, mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga di chemotherapy (karena akan terlalu menyakitkan untuk dia) maka keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah sakit, begitu mereka bilang.

Perkiraan mereka 1-3 bulan saja usianya (kalau dia bisa makan dengan normal) sisanya, tinggal menunggu koma.

Sedangkan, beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai menjerit2 kesakitan di tempat2 yang memang tampak hitam dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga. Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak heran kata dokter, mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak? Dokter hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya tidak tertahankan.

Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat di Singapore, tanpa hasil malah semakin parah. Teman yang lain pun menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya diberikan morfin sebagai pain killer. Keluarga semakin bingung, sedangkan melihat penderitaanya pun rekan-rekan yang menengok pasti menangis. Apalagi kita, anak-anaknya?

Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta ijin pada satu kakak saya yang kebetulan sama beragama Kong HuChu dengan mama. (Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik). Mama minta cepat-cepat di baptis karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak ada lagi. Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui.

Memang, beberapa waktu sebelumnya, mama pernah bilang ingin minta dibaptis secara katolik. Diakon datang, untuk menyakan, apakah ini keinginan sendiri atau terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan.. Ia memang ingin dibaptis sendiri. Akhirnya besok paginya ia dibaptis (kira2 2,5 bulan dari sekarang). Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam setelah dibaptis, ia bisa tiba-tiba bangun sendiri dan berteriak memanggil anak-anaknya. Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan kondisinya semakin memburuk. (bergeser/bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!)

Keanehan lain, dua hari berturut2 setelah baptis, ia minta komuni. Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuan nya untuk bergerak dan makan. Beliau juga sudah tidak lagi menjerit-menjerit kesakitan. Kami merasa heran, bahkan dokter yang memeriksanya pun berdecak kagum. Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai. Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama sebelumnya sudah mulai sulit bernafas.

Kami heran, semua tak percaya. Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini. Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-november ini (karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan) untuk mengetahui apa yang terjadi. Dua minggu yang lalu, seorang kerabat yang melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak percayaannya. Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami yang kristen/katolik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya mujizat! Mujizat itu tidak ada, yang ada hanyalah mungkin, kesalahan diagnosa.

Koko saya yang beragama KongHuchu pun malah mendukung kita, bahwa tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban. Sampai mid november kemarin, kami tidak bisa berkata apa-apa. Karena sejak semula, anak-anaknya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit-menjerit kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan lagi, bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi, amazing!!

Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan bertanya, obat apa yang kita berikan kepada mama. Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan secepat ini, mengingat usianya. Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaan-Nya. Saat kami bilang mama tidak diobati. Dokter tersebut (yang kebetulan beragama Muslim) berkata bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunujukkan, hitam di 5 tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di tulang panggul!

Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang harus kita lakukan untuk beliau? Dokter cuma menjawab, “Ya tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa, kan? Jangan berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!”

Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil kepada dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan kagum. “Ini mujizat!” katanya. (rupanya ia katolik/kristen)

Baru koko saya pun percaya. This is miracle. Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau menjerit-menjerit kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami semua, anak-anaknya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela, menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu yang muluk-muluk, tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti, mama sudah digunakan Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia.

Tak ada obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri. Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini untuk keluarga sendiri saja. Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal. Ada ucapan Rm Yohanes di bukunya yang amat saya sukai : Kesembuhan fisik hanyalah sarana, untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya setiap orang harus meninggal..

God Bless u all,

Ina

Humor : Nangka

Seorang pria menenteng keranjang sambil melangkah ke pintu masuk bandara di Dekai, Yahukimo, lalu terdengar bentakan dari seorang sekuriti.

Sekuriti : Hey, berhenti, tidak boleh membawa binatang ke dalam pesawat! Apa itu yang kamu bawa?

Penumpang : Nangka, Pak ....

Sekuriti : Tapi kok gerak-gerak?

Penumpang : Ini benar Nangka Pak ....

Sekuriti : Kalo begitu silakan masuk. Tapi ingat! Kalau kamu menipu, saya hajar kamu!!

Saat masuk ke bandara, tiba-tiba ada suara gonggongan kecil dari dalam karung itu.

Sekuriti : Nah, kamu bohong kan ..., itu tadi bunyi apa? Sekarang buka keranjangnya!!!

Penumpang : Ini memang anak anjing, Pak, tapi namanya Nangka!

Sediakan Waktu

Nats : Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15)

Bacaan : Efesus 5:14-21

Saya mendapat puisi ini dari sebuah e-mail yang dikirim seorang teman di Jakarta:

Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kejernihan.

Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda.

Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.

Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna.

Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa Anda ke bintang.

Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan.

Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu Anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia Anda sendiri.

Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik bagi jiwa.

Sediakan waktu bersama keluarga, itulah mutiara paling indah.

Sediakan waktu pribadi untuk di bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.

Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun. Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya, tetapi ada juga orang yang "nol besar" alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.

Rasul Paulus membedakan orang arif dengan orang bebal dari cara hidupnya. Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Tergolong yang manakah kita? Orang arif atau orang bebal? -AYA

WAKTU TIDAK AKAN TERULANG, SEKALI BERLALU SELAMANYA BERLALU PERGUNAKAN WAKTU SEBAIK-BAIKNYA DAN SEBENAR-BENARNYA

Yayasan Gloria