Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 August 2008

Sashimi

Orang Jepang paling suka makan ikan yang masih segar. Biasanya dikemas engan khas Jepang dengan sebutan sashimi. Mereka makan ikan segar sehingga perusahaan ikan di Jepang terus mengupayakan agar orang Jepang dapat menikmati ikan-ikan segar setiap harinya.

Namun masalahnya, negara Jepang merupakan suatu kepulauan dimana perairan sekitar tidak banyak menghasilkan ikan. Perusahaan ikan di Jepang berpikir sedemikian rupa agar mereka dapat menghasilkan ikan dalam jumlah yang banyak dan terjaga kesegarannya.

Cara pertama dilakukan, mereka membuat sebuah kapal yang besar sehingga mereka dapat memancing ikan yang banyak di tengah lautan. Karena jarak yang cukup jauh harus ditempuh, kepal itu kembali ke darat dalam waktu yang cukup lama. Ikan-ikan yang tadinya segar menjadi kurang kesegarannya bahkan tidak sedikit yang mati ketika sampai ke daratan. Cara pertama gagal.

Cara kedua pun ditemukan, mereka kembali menggunakan kapal yang besar, tapi kali ini mereka membuat lemari pembeku yang begitu besar juga, untuk menampung ikan yang banyak, dengan harapan ketika sampai di darat, ikan itu akan tetap segar. Namun tetap saja konsumen dapat membedakan rasa yang berbeda dari ikan yang benar-benar segar dengan ikan yang sudah dibekukan. Pemecahan kedua gagal.

Akhirnya ditemukan ide baru, mereka tetap menggunakan kapal yang sama, tapi kali ini mereka membawa tangki air besar yang diisi air laut. Ikan yang ditangkap langsung dimasukkan ke dalam tangki itu. Namun, karena jarak yang cukup jauh dan waktu yang lama, maka ikan di tangki itu ada yang mati dan ada yang "stress" karena berada di ruangan yang sempit, sehingga ide ini pun gagal.

Akhirnya mereka menemukan ide baru. Dengan kapal yang sama dan tangki yang sama juga, tapi kali ini tangki itu ditambah seekor hiu kecil di dalamnya. Tujuannya agar ikan-ikan yang dimasukkan akan terua aktif dan tidak berpikir kalau ia berada di ruangan yang sempit, karena fokusnya melarikan diri dan akan terus segar karena terus bergerak. Sampai di darat, walaupun ada beberapa ikan yang termakan oleh hiu, namun ikan yang "benar-benar" segar berhasil di dapatkan. Kegagalan membuat mereka menemukan ide yang lebih baik, bukannya menghentikan mereka atau menghambat mereka untuk maju.

Yakobus 5:11 - Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan Maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Watch and Pray

"Watch and pray, that ye enter not into temptation: the spirit indeed is willing, but the flesh is weak."Matthew 26:41

Have you ever been frustrated with the weaknesses of your flesh? Have you ever resolved never more to yield to a particular sin, yet when the temptation came, you fell right back into it?

It's happened to all of us. Even the disciple Peter. He swore he would never deny Jesus...but he did it anyway, time and time and time again.

There is, however, something we can do to keep from falling prey to temptations like that. We can "watch and pray." That's what Jesus told Peter and the other disciples to do in the Garden of Gethsemane. He knew they were about to be tempted, and He knew that the weakness of their flesh would overcome them if they didn't strengthen their spirits through prayer.

That's true for you and me too. That's why in Jude 20 and 21, God tells us much the same thing that Jesus told the disciples that night. He says, "But you, beloved, build yourselves up [founded] on your most holy faith... praying in the Holy Spirit: Guard and keep yourselves in the love of God" (The Amplified Bible). God knows even better than we do that our flesh has been trained to flow with the world's stream. He knows that even though our born again spirits are reaching for God, our untrained flesh will always have a tendency to fall into sin.

So, He's given us the ability to pray in other tongues, to strengthen our spirit and build it up until it takes ascendancy over our flesh. As we pray in the Spirit, Romans 8:26 tells us, the "(Holy) Spirit comes to our aid and bears us up in our weakness; for we do not know what prayer to offer nor how to offer it worthily as we ought, but the Spirit Himself goes to meet our supplication and pleads in our behalf" (The Amplified Bible).

Is it any wonder the Apostle Paul said, "I thank my God, I speak with tongues more than ye all!" (1 Cor. 14:18). It is one of the most powerful tools God has given us.

So don't neglect to use it. Follow the instruction in Ephesians 6:18 and pray "always with all prayer and supplication in the Spirit...watching thereunto with all perseverance."

Don't make the mistake that Peter made. When temptation comes to your door, don't let it catch you sleeping. Be prepared. Make sure your spirit is strong enough to rise above it.

Scripture Reading: Matthew 26:30-44

Kenneth Copeland Ministries

Senjata Rohani

Nats : Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan (Lukas 22:46)

Bacaan : Keluaran 17:8-16

Dengan garang, si banteng menyerudukkain merah di tangan matador. Setelah berulang kali ia pun kelelahan, sebab tiap kali mendekati kain merah, si matador mengibaskannya. Ia tak sadar kain merah itu bukan lawan yang sebenarnya.

Peperangan Israel melawan Amalek bukan sekadar perang fisik antara dua kekuatan militer. Amalek hanya alat-semacam "kain merah" yang dikibaskan oleh kekuatan yang ingin menghambat rencana Allah bagi masa depan Israel. Itu sebabnya Musa sebagai pemimpin Israel perlu memimpin bangsanya menghadapi perang tersebut secara tepat. Caranya? Dengan "mengangkat tangan", yakni terus berdoa, seperti lazimnya umat Israel berdoa dengan menadahkan tangan (Ezra 9:5; 1 Timotius 2:8) sampai kemenangan mereka raih. Doa yang tak henti, karena tidak dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama-sebagaimana Musa berdoa bersama Harun dan Hur-besar sekali kuasanya. Sebab Tuhan-lah yang berperang melawan "si musuh sejati".

Hidup kita serupa pertempuran. Banyak musuh menyerbu; desakan nafsu, situasi pelik, orang sulit di pekerjaan, pengusik ketenangan rumah tangga, penjegal karier, pesaing yang curang, pengacau, dan pemfitnah di gereja. Menghadapi hal-hal ini dengan kekuatan fisik hanya akan membuat kita lelah dan kalah. Apalagi jika kita pun terkecoh untuk membalas dengan cara serupa. Kita mesti sadar bahwa mereka hanya "kain merah", bukan "si matador" yang mengibarkannya. Jadi, hadapilah dengan doa. Angkatlah tangan, tetaplah berdoa! Jika Anda menjadi lelah, mintalah saudara seiman untuk turut menopang dan berdoa bersama kita. Andalkan kekuatan Allah dalam melawan "sang matador", si penguasa kegelapan -PAD

PEPERANGAN ROHANI HARUS DIHADAPI
DENGAN SENJATA ROHANI PULA

SABDA.org