Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 September 2011

Lilin Vs Bintang

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin. Lilin itu berkata, " Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun  sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan,"

Seperti lilin, Kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, " Andai saja aku bisa memilih... "

Jangan pernah mengeluh,  Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam Rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang." - Ibrani 6 : 10

Tuhan Yesus Memberkati..

Suara Hati

Bacaan Setahun : Amos 1-4
Nats : Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12)

Bacaan : Amsal 14:10-16

Arl Weisman mewawancarai 1.036 orang yang telah bercerai untuk meneliti penyebabnya. Ternyata 80% menyatakan bahwa sebelum menikah, sudah muncul keraguan dalam hati mereka untuk bisa bertahan hidup bersama pasangannya. Ada yang terasa mengganjal di hati. Namun, perasaan itu ditutupi rasa optimis bahwa sesudah menikah semuanya akan berubah. Atau, sudah telanjur memastikan tanggal pernikahan. Weisman, dalam bukunya, Serious Doubts (Keraguan Serius) berkata: "Jika Anda sangat ragu menikahi seseorang, jangan nekat! Dengarkan suara hati agar jangan salah jalan."

Hati adalah pusat kehidupan batin. Tempat diolahnya perasaan dan pikiran terdalam. Dari hati muncul penilaian jujur pada diri sendiri. Suara hati membisikkannya kepada kita, terutama jika ada yang tak beres. Kita bisa saja mengabaikannya dan lebih menuruti apa kata orang. Namun, hati akan merana (ayat 10, 13). Orang bijak tak akan bertindak berdasarkan apa kata orang (ayat 15). Ia akan berhati-hati melangkah; peka mendengar suara hati. Ia tak akan ceroboh mengambil jalan yang disangka lurus. Ia tidak akan menjalaninya sebelum yakin bahwa jalan itu benar-benar lurus.

Salah jalan memang bukan akhir. Tuhan bisa membuat keputusan-keputusan keliru yang kita buat menjadi sesuatu yang berakhir baik. Anda, dengan pertolongan Tuhan, bisa kembali menempuh jalan yang benar. Namun, prosesnya menghabiskan waktu dan tenaga. Menguras pikiran dan perasaan. Anda akan mengalami kesusahan yang tak perlu terjadi. Jadi, sebelum mengambil keputusan penting, datanglah kepada Tuhan. Mintalah kepekaan untuk mendengar pimpinan-Nya, bahkan lewat suara hati Anda --JTI

SUARA HATI ADALAH SOBAT YANG PALING BERANI BICARA
IA BERANI BERKATA "TIDAk" SAAT SEMUANYA BERKATA "YA"

Sabda.org

29 September 2011

Kepanjangan 7 Hari Dalam Seminggu

Semua orang punya tujuh hari dalam seminggu. Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Apa arti hari-hari tersebut untuk kita? Mari kita coba lihat.

  1. Senin adalah singkatan dari “Semangat Nan Indah”.
    Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali.
    Sebagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali. Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main Play Station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah. Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lamaaaa…..
    Apapun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak. Sikap mana yang akan kita pilih? Memulai hari Senin dengan menggerutu atau memulai hari Senin dengan Semangat Nan Indah?
  2. Selasa adalah singkatan dari “Selalu Luar Biasa”
    Ada orang yang berpendapat bahwa Selasa adalah hari yang biasa saja. tidak ada yang luar biasa. Mengapa begitu? Mengapa kita tidak membuatnya menjadi hari yang luar biasa? Luar biasa atau tidak, bukan tergantung dari nama hari atau pekerjaan kita. Tapi tergantung dari sikap hati kita. Tiap pagi saya bermain skipping (main tali) sebanyak 300 kali. Saya merasakan bedanya, ketika hati sedang malas, ya main tali jadi terasa berat. Tapi bila hati gembira, maka main tali menjadi ringan. Bahkan tanpa terasa bisa sampai 400 kali. Jadi saya selalu main tali sambil bernyanyi dan tersenyum. Hehehe…… ….
  3. Rabu adalah singkatan dari “Rasakan bahagia dalam kalbu”
    Apakah kita bersyukur hanya kalau kita mendapatkan sesuatu? Kalau sedang senang dan kita bersyukur, itu sih biasa. Tapi bagaimana kalau kita sedang ada masalah? Apakah kita menggerutu dan marah-marah? Apakah kita bisa mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita? Waktu anak saya masih kecil, dia sering menangis di malam hari. Padahal tiap hari saya harus bekerja. Tapi saya bersyukur bisa bangun di malam hari dan memberikan ASI kepada anak saya. Saya senang ketika di malam hari dia terjaga dan memanggil “Mama. Mama”. Malah saya sengaja melarang baby sitter untuk bangun di malam hari dan mengurus anak saya. Saya pikir, toh tidak lama dia begitu. Nanti kalau dia sudah besar, dia tidak akan lagi memanggil “Mama. Mama” ketika terjaga di malam hari. Jadi saya nikmati keadaan itu. Saya syukuri saat-saat tiap malam saya bangun dan menggendong anak saya. Biarlah hati kita selalu dipenuhi rasa syukur. Biarlah kalbu berseri. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.
  4. Kamis adalah “Kami Sukses”
    Apakah hari Kamis juga hari biasa? Bagaimana kalau kita membuatnya sebagai hari dimana kita sudah lebih sukses? Rasanya kita perlu mengingat kembali pentingnya “Berpikir Positif”. Bagaimana kalau tiap minggu kita mendapatkan sukses? Bagaimana kalau tiap hari? Apakah mungkin? Tentu saja. Yang perlu dilakukan adalah selalu berpikir positif. Kapan saja, dimana saja, dan siapa saja……
    Bila seseorang berkata kepada kita, ”Wah, enak ya kerja disana?” Daripada berkata, ”Enak apanya? Biasa saja kok.”, mengapa kita tidak berkata, ”Amin?” Bila seseorang berkata, ”Pasti kamu banyak uang.” Daripada berkata, ”Ga kok. Siapa bilang banyak uang?” Lebih baik kita berkata, ”Amin“. Kalau nanti benar benar banyak uang, siapa yang menikmati? Kita sendiri kan? Asyiikkk…. ..
  5. Jumat berarti “Juga Amat Hebat”
    Seringkali Jumat menjadi hari yang kurang produktif karena sudah mendekati Sabtu, sehingga pikiran sudah ke hari libur. Mengapa menyia-nyiakan satu hari dalam hidup kita? Bagaimana kalau kita menjadikannya hari Jumat yang Juga Amat Hebat? Bagaimana kalau kita menggunakan hari ini untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda? Memeriksa surat masuk? Mengevaluasi hari-hari kemarin? Mengatakan hal-hal indah yang belum sempat dikatakan?
  6. Sabtu berarti “Saatnya Bersatu”
    Hari Sabtu bisa menjadi hari yang produktif atau tidak produktif. Semuanya tergantung diri sendiri. Seorang Pengusaha justeru paling produktif di hari Sabtu karena dia bisa memeriksa semua pekerjaan, memantau hasil kerja karyawan, mencari ide baru, dan puluhan kegiatan lain yang sangat bermanfaat. Bahkan dia membuat hari Sabtu sebagai hari dimana dia mendengarkan semua masalah yang dihadapi ank buahnya.
    Orang tua yang libur dan ingin membina kedekatan dengan anak-anaknya bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk bermain bersama, berenang, makan bareng, membersihkan rumah bersama atau jalan-jalan. Daripada hanya duduk dan masing-masing nonton acara tv kesukaannya tanpa adanya komunikasi. Pasangan yang saling mencinta bisa menggunakan hari ini untuk saling mengerti bukan hari untuk bertengkar. Hayoo……
  7. Minggu berarti “Mari ingat berkah seminggu”
    Hari Minggu bisa dijadikan hari bermalas-malas atau bisa juga menjadi hari untuk mengevaluasi diri kita. Untuk mengevaluasi sikap kita. Apa yang telah dilakukan dalam seminggu? Apa yangsalah? Apa yang benar? Apa yang dapat kita lakukan lebih baik minggu depan? Apa rencana baru yang perlu dibuat? Bagaimana supaya minggu depan lebih sukses? Bagaimana caranya bekerja lebih baik? Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kerja? Dan seribu satu kegiatan lain.
    Dengan demikian hari Senin akan kita nantikan dengan semangat karena kita telah punya rencana yang akan diterapkan. Hari Senin menjadi awal minggu depan yang lebih sukses.

Semua baik... Semua baik.... Tidak ada hari yang buruk atau sial hanya tergantung bagaimana kita menyikapi hari yang kita lewati saja.

Jesus Bless You today…

Wujud Iman

Bacaan Setahun : Yoel 1-3
Nats : Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya ... Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran (Kejadian 12:4)

Bacaan : Kejadian 12:4-9

Sebuah pepatah mengatakan, "life begins at forty" (hidup dimulai pada usia 40). Salah satu artinya ialah: sebelum umur 40, seseorang masih boleh bereksperimen; berganti-ganti karier dan profesi. Namun setelah umur 40, ia harus sudah mantap di satu tempat, menekuni kariernya. Sebab, jika di usia itu ia masih berpindah tempat tinggal dan berganti profesi, ia akan cenderung tak meraih apa-apa.

Namun, lihatlah keberanian Abram menjawab panggilan Tuhan. Yakni ketika Tuhan memintanya meninggalkan tanah kelahiran, sanak keluarga, dan hidup yang sudah mapan di Haran. Waktu itu Abram berusia 75 tahun. Sudah usia senja. Tapi inilah responsnya: "pergilah Abram seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya". Walau ia belum tahu negeri mana yang dijanjikan Tuhan! Bagaimana ia dapat bersikap demikian? Pertama, Abram sadar benar siapa Tuan atas hidupnya. Kedua, Abram sadar hidupnya milik Tuhan dan ia menghidupi kesadaran ini secara nyata. Ketiga, bila hidupnya milik Tuhan, Abram percaya bahwa masa depan dan hidup matinya ada di tangan Tuhan. Itu sebabnya Abram diberi gelar bapak orang beriman (Galatia 3:7). Iman bukan dogma indah dengan dukungan argumen filsafat yang sulit. Iman itu sederhana dan nyata, yaitu ketaatan melakukan kehendak dan panggilan Bapa.

Dalam hidup kita pribadi; benarkah Yesus menjadi Tuan atas hidup kita? Adakah kita menaati dan meyakini bahwa Dia sanggup menuntun dan memelihara? Beranilah melangkah untuk menjawab panggilan-Nya. Ambillah bagian dalam pelayanan-Nya. Arahkan hidup kepada tanah perjanjian di surga, dan jangan melekat pada harta duniawi. Mari beriman! --SST

BERIMAN ADALAH MENANGGALKAN KEYAKINAN PADA KEMAMPUAN SENDIRI
DAN MENYANDARKANNYA KEPADA TUHAN YANG KASIH-NYA TERBUKTI

Sabda.org

28 September 2011

Kesaksian Mr Welyar Kauntu

Good Morning,
Kesaksian Mr Welyar Kauntu
(composer ‘Walau Seribu Rebah’, and many more)

Beliau bercerita dalam satu kunjungan ke panti asuhan, saat pujian penyembahan dinaikkan, beliau memainkan gitar dan menaikkan satu pujian bersama-sama anak panti asuhan tsb. Siapa dong yang tidak kenal the golden voice nya beliau.

Tapi Tuhan menyuruh beliau untuk memperhatikan seorang anak di pojokan yang sedang berusaha ikut menyembah Tuhan. Anak ini gagu, bicaranya tidak jelas, mungkin penderita bisu tuli. Kalimatnya hanya terdengar seperti kumpulan huruf vokal saja tanpa konsonan

“aaa…uuua …iiiiaaa…aauu.” dengan nada yg fals habis.

Tapi dia menyanyi dengan segenap hati, bahkan airmata pun menetes membasahi wajahnya. Saat itu Tuhan berbicara kepada Mr Welyar Kauntu, “Di telingaKu apa yang anak ini nyanyikan sangat merdu sekali, jauh lebih merdu dari apa yang engkau nyanyikan”.

Bagi manusia, perkataan anak itu tidak dapat dimengerti. Tapi Tuhan sangat mengerti every single word. Di telinga manusia anak ini jelek sekali menyanyinya dan tidak ada merdu-merdunya sama sekali. Di telinga Tuhan suara anak ini merdu sekali. Karena ia menyanyi dengan hatinya.

Mungkin kalau ada kontes “Heaven Idol” dan Tuhan menjadi jurinya, anak ini akan menjadi pemenangnya. For the Lord sees not as man sees…

Mari kita belajar memandang seperti Tuhan memandang. Bagi Tuhan, 'hati' itu adalah segalanya. Bukan kemasannya. Jadi, pastikan hati kita beres di mata Tuhan dan sesama saat kita menyembah dan melayani Dia. Oleh sebab itu mari kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23).

Have a Peacefully day.
G0D Blessed you Abundantly

Kiriman : Simon Rivian

Gembala Yang Baik

Tak seoranpun yang pernah punya cita-cita terlahir dari rahim seorang wanita panggilan! Tapi itulah yang Umi harus dihadapi sebagai realita hidup. Dengan bantuan dukun kampung, proses kelahiranpun dilakukan, saat itu ibunya masih belum mampu membayar uang kontrakan, maka Umi terpaksa lahir di rumah bordil. Ibunya hanya gadis desa yang tertipu oleh bujuk rayu seorang pemuda, dan saat tahu wanita desa itu hamil, lelaki itu pergi begitu saja.

Umi bertemu Tuhan Yesus secara pribadi, di saat Umi nekat bunuh diri karena tidak mampu lagi menahan hinaan dari teman-teman sekolah dan para tetangganya. Predikat sebagai anak seorang pelacur, membuatnya sulit diterima di masyarakat, bahkan ketika dia pergi ke gerejapun orang memandang dengan rasa jijik. Ada keinginan Umi untuk lari, tapi ke mana? Dia tidak punya saudara dan belum mempunyai ijasah yang cukup untuk bekerja. Kalau dia pergi, artinya dia harus berhenti sekolah, padahal tiga bulan lagi dia akan mengikuti ujian akhir SMU. Dan, jika pergi, bagaimana dengan Ibunya? Dulu sebelum kenal Tuhan Yesus, Umi tidak tahu kemana harus mengadu! Tapi kini Umi tahu, meskipun tak ada orang yang peduli padanya tapi dia punya Yesus. Dia mencoba bertahan, dan berharap suatu saat ibunya siap untuk meninggalkan pekerjaannya serta memulai hidup yang baru. Umi tahu, Tuhan Yesus tidak akan mengecewakan kerinduannya itu… Tuhan ijinkan kita hidup di antara serigala yang jahat dan kelaparan. Bagaimana mungkin seekor domba mampu melawan serigala, jika hanya bermodalkan kekuatannya sendiri? Di saat dalam bahaya, siap diterkam serigala jahat, maka yang dilakukan oleh domba adalah “mengembek”, dengan harapan suaranya terdengar oleh sang Gembala; atau jika masih ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, maka si domba akan berlari sekencang-kencangnya! Tapi INGAT! Domba tidak akan pernah berlari menuju orang yang BUKAN GEMBALA-nya, berlari ke seseorang yang tidak dia kenal. Domba mengenal suara Gembalanya. Saat melihat dombanya dalam bahaya, maka si Gembala akan turun tangan untuk menyelematkan si domba dan mengusir serigala yang jahat itu. Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemiik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu.(Yoh 10:12). Kitalah domba itu, dan Yesus adalah Gembalanya. Tuhan Yesus mengijinkan kita berada dalam pergumulan, dalam kesesakan untuk membuat kita berharap domba yang mengembek saat serigala datang, dan berlari mencari Gembalanya. Nasib kita mungkin lebih baik dari Umi, mempunyai keluarga, punya pendidikan yang baik, punya pekerjaan yang baik, bahkan punya kehidupan materi dan sosial yang lebih dari cukup. Tapi hidup kita seperti domba di tengah-tengah serigala.Kita menjadi domba yang tidak mengenal siapa Gembalanya. Kita mengembek ke sana-kemari, kita berlari ke sana kemari, TABRAK SANA-TABRAK SINI, dan karena lelah dan PUTUS ASA, kita STOP pada Gembala yang salah. Sahabat, mari kita sama-sama belajar untuk mengenal Gembala kita yang Agung! Jangan sampai, ketika masalah datang, kita lari ke Gembala yang salah, yang membawa kita semakin jatuh dalam jurang yang dalam. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku (Yoh 10:14). Akulah gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. (Yoh 10:11)

Kau bukan Tuhan, yang melihat rupa. Kau bukan Tuhan, yang memandang harta. Hati hamba yang slalu Kau cari, biar Kau temukan di dalamku. Slama kuhidup, kumau menyembah-Mu. Sbab Engkau sangat berarti bagiku. Yang terbaik, yang ada padaku, kupersembahkan kepada-Mu…Yesusku.

Buyung Air Ribka

Bacaan Setahun : Hosea 12-14
Nats : Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga (Pengkhotbah 9:10)

Bacaan : Kejadian 24:10-21

Gadis cantik itu memberi minum seorang asing dari buyung airnya. Tidak berhenti di situ, ia juga memberi minum unta orang itu. Tampaknya tidak terlalu istimewa, ya? Tetapi, marilah kita berhitung. Untuk memuaskan seekor unta yang haus diperlukan air hampir empat buyung. Nah, unta orang itu bukan hanya seekor tetapi sepuluh! Jadi, berapa kali gadis itu harus bolak-balik menimba air? Ah, Anda tentu mulai melihat sesuatu yang istimewa di sini.

Anda tentu tahu, gadis cantik itu bernama Ribka. Tampaknya ia menerapkan hikmat yang dituliskan Pengkhotbah sekian abad kemudian. Apakah ia melakukannya karena membayangkan hendak dipersunting seorang pangeran tampan idaman? Apakah ia melakukannya hanya untuk pamer, hendak memikat hati orang asing itu, siapa tahu ia dapat memperoleh keuntungan dari kebaikannya? Jelas tidak. Ia sama sekali belum mengenal hamba Abraham itu. Justru kemungkinan besar Ribka sudah terbiasa melakukannya, memberi minum orang-orang asing lain. Ia melakukannya karena memang ia pekerja keras dan murah hati. Dan, pada petang yang tak terduga itu, sikap tersebut membuatnya terhisab dalam kisah penebusan agung yang tengah ditenun Tuhan.

Apa pun tugas yang ada di tangan kita, marilah kita menerapkan hikmat Salomo serta meneladani sikap Ribka. Mungkin hasilnya tidak sedramatis yang dialami oleh Ribka. Akan tetapi, sepanjang kita melakukannya dalam penyertaan Tuhan dan bagi kemuliaan-Nya, kita dapat mengambil bagian dalam kreativitas Sang Pencipta dan turut memelihara serta memperindah ciptaan-Nya --ARS

TIDAK TERLALU PENTING TUGAS ATAU PEKERJAAN APA YANG KITA LAKUKAN
YANG TERUTAMA ADALAH SIKAP HATI KITA DALAM MELAKUKANNYA

Sabda.org

27 September 2011

Truk Sampah

Pada suatu hari, aku naik taksi untuk pergi ke airport. Kami melaju di jalur kanan, ketika tiba-tiba sebuah sedan berwarna hitam keluar dengan mendadak dari sebuah tempat parkir tepat di depan kita. Sopir taksiku menginjak rem dengan sekuat tenaga, mobilnya kemudian selip dan nyaris menabrak sebuah mobil lainnya dengan selisih beberapa inci saja. Pengendara mobil itu memalingkan kepalanya kepada kita dan mulai berteriak dengan amat marah. Sopir taksiku hanya tersenyum dan melambai kepada orang yang sedang marah itu. Kelihatannya ia memang seorang yang ramah.

Kemudian aku bertanya, “Mengapa kamu melakukan itu? Orang itu nyaris menghancurkan mobilmu dan membawa kita berdua ke rumah sakit!”

Pada saat itulah sopir taksiku mengajarku yang aku namakan “Hukum Truk Sampah”

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka mengendarai truk dengan muatan penuh sampah, penuh dengan kekecewaan, penuh amarah dan penuh dengan penyesalan. Dan kalau muatan sampah mereka sudah amat penuh, mereka membutuhkan suatu tempat untuk membuang muatan sampah itu, sehingga kadang-kadang mereka membuangnya di dirimu. Karena itu, janganlah menganggap semua itu secara pribadi. Melainkan hanya tersenyumlah, berharaplah semoga mereka baik-baik saja dan lanjutkanlah perjalananmu. Janganlah sekali-kali mengambil sampah mereka untuk dibuang kepada orang lain di pekerjaan, di rumah atau di jalanan.

Yang hakiki adalah, bahwa orang-orang yang berhasil, tidak membiarkan truk sampah itu menguasai dirinya. Hidup ini terlalu singkat untuk bangun dari tidur dengan rasa menyesal, maka “kasihilah orang lain yang membenarkan kamu, dan berdoalah bagi mereka yang tidak.”

Wes Moore

Bacaan Setahun : Hosea 8-11
Nats : Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya (Ulangan 30:19-20)

Bacaan : Ulangan 30:15-20

Pada Desember 2000, surat kabar Baltimore Sun memuat berita tentang Wes Moore, siswa teladan penerima beasiswa Rhodes. Uniknya, dalam koran yang sama, termuat pula berita lain tentang anak-anak muda yang menjadi buronan karena membunuh polisi. Dan, salah satu pemuda pembunuh itu juga bernama Wes Moore sama namanya, tetapi beda orangnya. Kini Wes Moore yang pertama terus berprestasi di masyarakat dan menjadi pemimpin bisnis yang berhasil. Tragisnya, Wes Moore yang kedua kini menjalani hukuman seumur hidup karena kejahatannya. Nama dua orang ini persis sama; mereka berasal dari kota yang sama, lingkungan yang sama kerasnya, dan sama-sama kehilangan ayah sejak kecil.

Dua kehidupan yang sangat mirip ketika muda, tetapi bisa sangat berbeda di masa depan. Ini karena keluarga Wes Moore yang pertama berusaha memilihkan "jalan kehidupan" baginya. Kakek-neneknya merelakan rumah mereka dijual agar Moore dapat disekolahkan di sekolah militer yang mengasah karakter dan kepribadiannya.

Tragedi dalam kehidupan bisa terjadi ketika orang mengabaikan hikmat dari Tuhan tentang bagaimana menjalani hidup. Ketika orang "berpaling dan tidak mau mendengar" Tuhan, bahkan "mau disesatkan" untuk mengikut jalan yang di luar kehendak Tuhan (ayat 17). Sebab di hidup ini ada dua pilihan besar yang harus diputuskan: kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan (ayat 15). Orang yang memilih untuk mengasihi Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya, sudah jelas masa depannya: "supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (ayat 19). Mari memilih jalan kehidupan! --AW

HIDUP MANUSIA BUKAN BERGANTUNG PADA NASIB
TETAPI PADA PILIHANNYA UNTUK BERPAUT KEPADA TUHAN ATAU TIDAK

Sabda.org

26 September 2011

Di Seberang Sana

Seorang penderita sakit berpaling kepada dokternya, saat ia meninggalkan ruang prakteknya dan mengatakan, “Dokter, saya takut dengan kematian. Katakanlah apa yang terdapat di seberang kematian itu?”

Dokternya menjawab, “Anda tidak mengetahui? Anda sebagai orang percaya tidak mengetahui apa yang terdapat di seberang kematian?”

Dokternya sedang memegang gagang pintu sedangkan di sisi lain terdengar suara seperti ada sesuatu yang sedang mencakar-cakar pintu disertai suara mendengking. Ketika ia membuka pintunya, seekor anjing meloncat ke dalam kamar dan melompat kepada dokter itu sambil menunjukkan bahwa ia sedang senang.

Berpaling kepada pasiennya, dokter itu berkata, “Apakah Anda memperhatikan anjingku? Ia tidak pernah masuk ke dalam kamar ini. Ia pun tidak mengetahui apa yang terdapat dalam ruangan ini. Ia tidak tahu apa-apa, kecuali bahwa pemiliknya berada di dalam ruang ini, sehingga ketika pintunya terbuka, ia langsung melompat masuk tanpa takut. Aku sendiri tidak tahu banyak tentang apa yang terdapat di sisi lain dari kematian, namun aku tahu satu hal: bahwa Tuhan berada di sana, dan itu sudah cukup. Dan bila pintunya terbuka, aku akan masuk tanpa takut sedikitpun, melainkan dengan rasa bahagia.”

Benteng Iman

Bacaan Setahun : Hosea 5-7
Nats : Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7)

Bacaan : Kejadian 39:8-10

Sebuah kartun melukiskan dengan menarik adegan Yusuf sedang digoda oleh istri Potifar. Mereka hanya berdialog berdua di sebuah kamar. Di kamar itu tegak berdiri patung dewa sesembahan keluarga Potifar. Sambil melempar busananya ke arah patung itu sehingga menutupi "kepala" si dewa, istri Potifar berkata kepada Yusuf, "Marilah tidur dengan aku. Tak ada seorang pun di sini yang melihat kita, bahkan dewa pun tidak." Namun Yusuf menjawab, "Janganlah Nyonya berbuat begitu! Walau dewamu tidak melihat, tetapi Allahku hidup dan tetap melihat."

Pencobaan terberat bisa terjadi ketika seseorang sedang berada dalam situasi sepi, tersembunyi, tak ada orang yang melihat. Nafsu jahat akan merayu minta dipenuhi. Niat berbuat baik pun diserbu suara yang berkata, "Percuma, tak usah jadi pahlawan. Tak ada yang melihat dan mengganjarmu". Di saat seperti itu, yang tersisa hanya benteng iman.

Syukurlah, Yusuf memiliki benteng itu. Yakni kesadaran dan penghayatan bahwa Tuhan hidup, selalu hadir dan melihat segala sesuatu. Meski tak ada orang di situ selain Nyonya Potifar sendiri Yusuf tetap berkata, "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ayat 9b).

"Mata Tuhan melihat, apa yang kita perbuat, buat yang baik, buat yang jahat", begitu sebagian lirik nyanyian anak-anak di Sekolah Minggu. Sederhana, tetapi sampai kapan pun kebenarannya tidak berubah. Berlaku baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Jika kita tergoda untuk berbuat jahat atau terhalang untuk berbuat baik karena ada pikiran bahwa tak ada yang melihat mari segera kuatkan benteng iman kita --PAD

DI MANA PUN DAN KAPAN PUN, SATU HAL YANG HARUS SELALU KITA INGAT:
ATAS SEGALA SESUATU, TUHAN MELIHAT

Sabda.org

24 September 2011

Ada Kekuatan Dalam Hidup

Ada kekuatan di dalam cinta,
Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Untuk mementingkan diri sendiri.
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri
Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,.
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk permasalahan dalam hidup ini?
Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.
Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita.

“TUHAN AKAN MEMBERIKAN JALAN KELUARNYA!!”

Berkeluh Kesah

Bacaan Setahun : Hosea 1-4
Nats : Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku (Ayub 7:11)

Bacaan : Ayub 7:1-21

Setiap kali Pendeta Matt selesai berkhotbah, David selalu menambahkan hal yang dianggapnya kurang atau tidak tepat. Mula-mula Matt bisa menerima. Namun, setelah 2 tahun dikritik terus, ia pun marah. "Apa maksudmu selalu mengkritik khotbahku?" tanya Matt. David kaget. Ia berkata, "Maaf, Pak Matt, saya tak bermaksud apa-apa. Saya orang Yahudi. Kami biasa memperdebatkan Alkitab. Setiap kali saya berharap Bapak menyanggah kritikan saya, supaya terjadi dialog yang menarik. Dari situ kita bisa makin akrab!"

Sejak dulu, orang Yahudi biasa berdialog terbuka kepada Tuhan maupun sesama. Saat berdoa, mereka berani membahas segala topik, termasuk yang tidak menyenangkan: kekecewaan, keluh-kesah bahkan kemarahan. Ini tampak dari syair-syair Mazmur, Ratapan, juga dari doa Ayub. Ia mengeluh karena hari-hari hidupnya terasa hampa dan sia-sia (ayat 1-7). Ia ingin segera mati (ayat 8-10). Ia menuduh Tuhan memberinya mimpi buruk waktu tidur (ayat 12-15). Ia kecewa Tuhan membuatnya menderita, padahal ia hidup baik-baik (ayat 20-21). Tidak semua perkataan Ayub benar. Belakangan Tuhan menegur kata-katanya yang "tidak berpengetahuan" (Ayub 38:2). Namun, keluh kesahnya didengar! Dengan jujur mencurahkan isi hati, Ayub dapat menghadapi kekecewaan dengan cara sehat. Ia tidak membenci Tuhan atau melukai diri sendiri.

Apakah Anda kecewa terhadap Tuhan, gereja, atau sesama? Daripada bersungut-sungut di depan orang, lebih baik curahkan isi hati Anda kepada-Nya. Bapa di surga tahu kegundahan hati Anda. Dia akan menghibur sekaligus menegur cara pandang Anda yang keliru. Damai pun akan kembali hadir di hati --JTI

BERKELUH-KESAH TIDAKLAH SALAH
ASAL DISAMPAIKAN KEPADA ALLAH

Sabda.org

Kata - Kata Bijak di Pagi Hari

Tuhan yang Maha baik memberi kita ikan, Namun kita harus mengail untuk mendapatkannya.

Demikian pula, bila kita terus menunggu akan waktu yang tepat, mungkin kita tidak akan pernah mulai. Mulailah sekarang… mulailah dimana kita berada dengan apa adanya.

Janganlah pikirkan mengapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tetapi sadarlah bahwa cintalah yang memilih kita untuk
mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan.

Bukalah matamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarlah matamu setengah terpejam sesudahnya.

Menikahi pria atau wanita karena ketampanannya atau kecantikannya, sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.

Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu di dalam hatimu dan akan menyanyikan kembali ketika kamu lupa akan bait-baitnya.

Sahabat adalah Tangan Tuhan untuk menjaga kita. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai di waktu kamu susah.

Kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.

Manusia itu baik jika kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan bila kamu bisa melihat keunikannya.
Tetapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan bila kamu tidak bisa melihat keduanya.

Orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh seringkali berhasil dengan melakukan tindakan cepat.

Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita. Kamu tidak bisa mengubah masa yang lalu… tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.

Bila kamu mengisi hatimu dengan penyesalan akan masa lalu,
kekhawatiran akan masa depan, kamu tidak mengenal hari untuk kamu syukuri.

Sebaliknya, bila kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, sebenarnya kamu sudah berada di jalan yang benar menuju sukses.

23 September 2011

Hidup = Mengalami Masalah

Dalam hidup ini, sering kita mengalami yang namanya masalah. Tak jarang kita bertanya-tanya sendiri kok rasanya tidak putus-putusnya kita dirundung masalah. Lepas masalah yang satu, ehhh masalah yang lain datang. Entah masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah cinta, masalah dengan teman, masalah dengan rekan kerja, dst.

Hal yang sering tragis adalah makin kita berusaha untuk dekat dengan Tuhan, semakin banyak permasalahan datang. Lalu kemudian kita akan bertanya:

"Tuhan kok begini? Saya sudah mengikuti Engkau, tetapi mengapa masalah tidak habis-habis? Orang yang hidupnya seenaknya malah bisa nyaman, enak, tenang, kok saya yang sudah all out melakukan yang terbaik untuk Tuhan kok malah seperti ini?"

Anda tahu, inilah hal-hal yang perlu kita renungkan. Hidup esensinya adalah untuk mengalami. Sebenarnya apakah segala sesuatu itu masalah atau cara pandang kita yang keliru? Mengapa Tuhan mengizinkan adanya masalah dalam kehidupan kita? Mari kita tinjau satu persatu.

1. Masalah bukanlah masalah sampai Anda menyatakan hal tersebut sebagai masalah.

Ini adalah masalah cara pandang dalam hidup. Masalah bisa ditinjau sebagai masalah atau justru dipandang sebagai kesempatan. Kesempatan untuk apa? Untuk lebih maju, dalam segala hal.

Ingat kasus Rasul Paulus. Ia yang tadinya adalah penganiaya umat Tuhan, menjadi berbalik 180 derajat karena dijamah Tuhan. Kalau Paulus terus-menerus menganggap bahwa masa lalunya adalah masalah, ia tidak akan bisa maju. Bagaimana bisa maju?

Saya yakin sangat tidak mudah baginya untuk berkarya. Mengapa? Coba Anda pikirkan, seorang pembunuh umat Tuhan yang sangat bersemangat tiba-tiba secara ekstrim malah mendukung Tuhan dan berkarya bagi Tuhan.

Kasih Yang Berani

Bacaan Setahun : Daniel 7-9
Nats : ... tidak boleh engkau mengambil Herodias!" Walaupun Herodes ingin membunuhnya ... (Matius 14:4-5)

Bacaan : Matius 14:3-12

Yohanes Pembaptis adalah nabi yang unik. Umur dan masa pelayanannya sangat pendek. Khotbahnya juga pendek, tetapi "menyambar" semua golongan tanpa kecuali membuat telinga panas, muka merah, hati gelisah. Orang dunia menganggapnya bodoh karena membuat kesalahan besar yang menyebabkan usia dan pelayanannya pendek. Mengapa? Ia berani menegur Herodes karena merebut Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Ah, siapakah ia sehingga berani menegur raja?

Namun benarkah Yohanes mencemarkan nama raja karena telah menegur langsung? Atau, ia mengasihi rajanya dan tak ingin sang raja hidup dalam dosa yang membinasakan? Memang dari sudut pandang duniawi, Yohanes melanggar tata krama. Namun dari sudut pandang kebenaran, keberanian Yohanes patut diacungi jempol, sebab ia mengasihi raja dan rakyatnya. Bukankah dosa raja berdampak buruk bagi bangsanya? Sayangnya, kejujuran dan kebenaran tak dihargai di dunia ini. Suara kenabian dan kejujuran biasanya dijauhkan dari raja. Yang ada di sekitar raja hanya para penjilat dan penggembira hati yang memabukkan. Kalaupun ada orang yang baik dan jujur di sekitar raja, biasanya ia cenderung memilih diam agar selamat.

Saudara, apabila Anda adalah "raja" baik di rumah, di tempat kerja, di gereja, di lembaga pelayanan, atau di masyarakat, waspadalah! Jagalah hati. Peliharalah persekutuan dengan Tuhan. Bukalah pintu hati bagi teguran, sekalipun itu membuat wajah merah dan hati gerah. Jangan tergesa mematikan suara itu. Siapa tahu itu adalah suara Tuhan yang berseru-seru di padang gersang kehidupan, agar jalan Anda yang bengkok diluruskan (Matius 3:3) --SST

SEORANG PENJILAT MEMBUNUH DENGAN PUJIAN
TETAPI SAHABAT SEJATI MENYELAMATKAN DENGAN TEGURAN

Sabda.org

22 September 2011

3 x 8 = 23

Bukannya dimana-mana 3 x8 =24 ya..... Ho, ho, ho, jangan keburu protes dulu.

Disimak dulu. Nih, ane mau sharing cerita yang oke banget buat jadi bahan renungan....

Selamat Membaca…

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3 × 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3 × 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusus. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”

Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”

Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu.
Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sungai Yordan

Bacaan Setahun : Daniel 4-6
Nats : ... tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah (1 Petrus 3:4)

Bacaan : 2 Raja-raja 5:9-14

Jaringan televisi E! menayangkan reality show berjudul Bridalplasty, di mana 12 wanita calon pengantin memperebutkan hadiah utama berupa multiple plastic surgery (layanan bedah plastik) untuk hari pernikahan mereka. Bridalplasty ialah pengembangan dari acara make over (mendandani seseorang begitu rupa hingga menjadi sangat berbeda dari sebelumnya) yang sejak lama sangat populer; baik di majalah mingguan remaja, tabloid wanita, hingga program televisi. Peminat program ini ternyata tak pernah surut.

Dalam bacaan hari ini, Tuhan pun melakukan "make over" kepada Naaman yang penampilan fisiknya rusak karena kusta. Melalui perantaraan Nabi Elisa, Tuhan meminta Naaman mandi di Sungai Yordan untuk kesembuhannya. Lalu kenapa Naaman mulanya enggan untuk menjalankannya? Yordan adalah lembah yang paling rendah di dunia. Bahkan kata "Yordan" sendiri bermakna "turun ke bawah". Sungainya kotor dan sangat tidak diperhitungkan. Berkebalikan dengan para peserta make over yang biasanya dibawa ke salon para selebriti dan butik paling mewah; Naaman malah diminta Tuhan untuk "turun ke bawah".

Ketika Naaman taat dengan bersedia "turun ke bawah", maka ia menjadi manusia yang lebih baik. Setelah berendam di sungai Yordan, Naaman sembuh dari kustanya, karakternya pun berubah. Terhadap setiap pribadi, Tuhan juga rindu mengadakan "make over" kehidupan, sehingga membuat iman dan karakternya sangat berbeda dari yang dulu. Adakah program make over di dunia yang dapat melakukannya? Hanya Tuhan kita yang dapat. Bersediakah Anda merendahkan diri dan taat agar diubahkan oleh-Nya? --OLV

TUHAN DAPAT MENGUBAH DIRI KITA SAMA SEKALI
LUAR DALAM MENJADI LEBIH BAIK!

Sabda.org

21 September 2011

Brian Moore : “Renungan”

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. "Aku membuat mereka terperangah, " kata Brian kepada ayahnya, Bruce.

"Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis." Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.  Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County , Ohio .

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. "Anda merasa seperti ada di sana," kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. "Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya," kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. "Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya."

Inilah esai Brian yang berjudul "Ruangan".

Gegabah

Bacaan Setahun : Daniel 1-3
Nats : Lalu kata Yonatan: "Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini" (1 Samuel 14:29)

Bacaan : 1 Samuel 14:24-35

Pada tahun 1930-an, untuk mengatasi wabah kumbang perusak tanaman tebu di Australia, pemerintah setempat dengan gegabah mengimpor sejenis katak khas Amerika Latin tanpa memikirkan dampak lingkungannya. Keputusan ini ternyata bukan hanya gagal menyelesaikan masalah yang dihadapi, malah kemudian menjadi masalah besar bagi Australia hingga saat ini. Sebab, katak-katak ini berkembang biak tanpa bisa dikontrol dan mengganggu keseimbangan ekosistem di sana.

Keputusan yang gegabah cenderung menimbulkan masalah yang tidak perlu. Hal serupa juga pernah terjadi pada bangsa Israel dalam masa pemerintahan Raja Saul, seperti yang tercatat dalam perikop Alkitab kita hari ini. Saat itu bangsa Israel sedang berperang melawan orang Filistin. Dalam keadaan terdesak, Saul memaksa semua orang berpuasa (ayat 24). Ini tentu keputusan yang ganjil, sebab bagaimana bangsa itu bisa berperang dengan tangguh jika mereka lapar dan haus (ayat 29-30)? Selanjutnya, meski Tuhan memberi kemenangan, akibat rasa lapar yang diderita orang Israel karena titah Saul, mereka merayakan kemenangan dengan cara yang tidak pantas (ayat 32). Tindakan gegabah ini akhirnya menjadi salah satu catatan buruk dalam sejarah pemerintahan Raja Saul.

Setiap kali kita hendak berkata-kata, bertindak, apalagi mengambil keputusan, ambillah waktu untuk memikirkan dan mempertimbangkan dengan matang. Pikirkan tujuan dan akibat tindakan tersebut, dampaknya bagi diri kita sendiri, orang lain, masyarakat, khususnya bagi Tuhan. Dengan demikian, akan ada banyak masalah, kesulitan, dan tragedi yang bisa kita hindarkan --ALS

BERPIKIRLAH SEBELUM BERTINDAK
SEBAB GEGABAH HANYA MENDATANGKAN MUSIBAH

Sabda.org

20 September 2011

Hangatkan Hatinya

Bacaan Setahun : Yehezkiel 46-48
Nats : "Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya (Kejadian 50:21)

Bacaan : Kejadian 50:15-21

Orang yang merasa bersalah, biasanya juga takut. Pernahkah Anda dikejar-kejar oleh dua perasaan yang saling terkait ini? Sebuah tindakan jahat di masa lalu bisa terus tersimpan di ingatan pelakunya, kecuali si pelaku sudah berhati batu. Jika hati Anda lembut, rasa bersalah itu akan terus menghantui dan membuat hidup tidak tenang. Itulah yang terjadi pada saudara-saudara Yusuf.

Mereka sangat menyadari kesalahan mereka di masa lalu. Maka, ketika Yakub meninggal, mereka kembali dihinggapi ketakutan, bahwa Yusuf akan membalas kejahatan mereka dan tidak lagi bersikap baik kepada mereka. Maka, setelah tujuh belas tahun hidup bersama di Mesir, mereka kembali memohon pengampunan Yusuf atas kesalahan mereka di masa lalu.

Bahkan mereka menyatakan bersedia menjadi budak Yusuf. Bagaimana sikap Yusuf? Yusuf menunjukkan bahwa sikapnya tetap sama; baik semasa Yakub masih hidup maupun setelah Yakub tiada. Yusuf memang tak lupa pada kejahatan mereka dulu. Namun, Yusuf telah menemukan makna peristiwa masa lalu itu; yakni agar ia dapat memelihara hidup suatu bangsa yang besar (ayat 20). Jadi, ia melegakan hati saudara-saudaranya dengan berkata: "Jangan takut". Sikap, kata, refleksi, dan tindakan Yusuf menenangkan dan menghibur hati mereka.

Bagi Anda yang dirundung ketakutan karena rasa bersalah, sungguh menenangkan hati jika Anda segera menuntaskannya. Bagi Anda yang berada di posisi seperti Yusuf, janganlah menunda untuk melegakan hati orang yang datang kepada Anda dengan rasa takut dan sesal. Segera hangatkan hatinya dengan pengampunan dan harapan baru --DKL

CINTA DAN PENGAMPUNAN YANG SEJATI
SANGGUP MENGHANGATKAN KEBEKUAN HATI

Sabda.org

Empat Skenario

Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih”, kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita. Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang. Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,

"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita). Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta. Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita. Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.

"Halo, selamat siang, Pak.

Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone
itu kembali kepada kita. Orang yang menemukan handphone kita berkata,

19 September 2011

Mengutamakan Keluarga

Nats : Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)

Bacaan : Efesus 5:22-33

Chris Spielman adalah pemain bola kenamaan di Liga Nasional Amerika. Publik selalu menantikan penampilannya. Suatu hari, menjelang dimulainya musim kompetisi, datang berita bahwa istrinya mengidap kanker. Spielman memutuskan untuk berhenti bermain demi bisa merawat istrinya. Banyak pihak kecewa. Namun, kepada wartawan ia berkata: "Aku berjanji pada Stephanie untuk menemaninya selama berobat. Berada di sisinya waktu kesakitan, dan merawat keempat anak kami." Ketika menjalani kemoterapi, rambut istrinya rontok. Lalu Spielman mencukur habis rambutnya sebagai tanda solidaritas. Setahun kemudian istrinya meninggal. Spielman bersyukur, bisa mendampingi istrinya sampai maut memisahkan mereka berdua.

Betapa indah kesaksian hidup pasangan yang bisa menjalankan perannya dengan baik. Dalam Efesus 5 dijelaskan apa peran suami maupun istri. Suami diminta merawat istri "seperti merawat tubuhnya sendiri". Ini tidak mudah. Butuh pengorbanan. Bagi Spielman, merawat istri berarti mengorbankan kariernya; mengorbankan peluang untuk memperoleh lebih banyak uang dan popularitas. Begitu pula, seorang istri perlu "tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan". Menundukkan diri butuh pengorbanan harga diri. Tunduk bukan berarti rela ditindas, melainkan belajar menghargai kepemimpinan suami.

Kapan suami istri bisa berkorban? Saat masing-masing mementingkan pasangannya lebih dari diri sendiri. Lebih dari yang lain. Relasi antara orangtua dan anak pun demikian. Saling berkorban hanya mungkin terjadi jika keluarga diutamakan. Diprioritaskan. Sudahkah Anda mengutamakan keluarga? --JTI

JIKA BANYAK HAL LAIN DIJADIKAN YANG UTAMA
ANDA TAK AKAN RELA BERKORBAN BAGI KELUARGA

Sabda.org

14 September 2011

Baru Jadi Sebagai Pengantin Baru Sudah Bertengkar

Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja: kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi: sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, "Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya."

Tetapi istrinya menjawab, "Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun."

"Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!" balas si suami dengan suara tinggi.

09 September 2011

Apakah Engkau Siap Dipakai-NYA?

Ini ada sharing yang luar biasa dari salah satu sahabatku.. Semoga ini bisa jadi inspirasi yang lainnya ya.. :)

Ingat ga friend waktu kamu kecil. Ketika kamu masih ga berdaya dan apa yang kamu lakukan hanya bergantung dan bergantung sama orang tua kita? Apakah benar kita mengandalkan orang tua kita bukan?

Saya jadi teringat, kadang orang tua kita memberikan kita kesempatan untuk belajar ya?

Contohnya nih, ketika org tua kita tau kita ga bisa diatur, kita bersikeras memainkan sesuatu yg sebenarnya bisa sedikit membahayakan kita. Pernah dengar gak? Ada yang berkata gini, "Biarkan aja nanti pas dia jatuh, dia jadi tau sendiri, pasti kapok!" Ternyata ada benarnya juga ya..

Hal ini terjadi dalam keluarga saya, dimana anak saya yang berumur 2 tahun dengan seringnya memainkan dispenser, dan seringkali lantai rumah kami banyak genangan karena ulahnya. Untuk  Air panas bisa dilock, tetapi kami khawatir dengan akibat yang terjadi, bisa saja orang yang lewat kepeleset atau anak kami sendiri yang bisa terkena air panas ketika dia tidak sengaja membuka locknya.

Ada saat kami tidak mengunci lock air panas, dan seketika itu juga ketika anak saya memainkan dispenser tanpa pengawasan siapapun, air panas keluar dan itu mengenai tangan anak saya dan membuatnya menangis. Tetapi dengan kejadian ini, anak saya tidak pernah lagi menyentuh dispenser itu untuk dimainkan.

Pengalaman memberikan anak saya untuk belajar sesuatu dan menghindari yang membahayakan dirinya. Hal ini berlaku bagi kita yang lebih dewasa. Tuhan kita adalah "Bapa yang baik". Dia bahkan mengerti apa yang diinginkan hati kita bahkan yang terdalam. Bahkan ketika saya sedang berpikir, “Hmmm, saya ini pelayanan, pasti anak Tuhan donk? Tapi apakah saya berkenan bagi Tuhan?”

08 September 2011

Sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus

Sebenarnya sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus

Yesus SEDIKIT tidur Kita SEDIKIT-SEDIKIT tidur

Yesus SEDIKIT makan Kita SEDIKIT-SEDIKIT makan

Yesus SEDIKIT marah Kita SEDIKIT-SEDIKIT marah

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT memberi & menolong Kita SEDIKIT memberi & menolong

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT berkorban Kita SEDIKIT berkorban

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT berdoa Kita SEDIKIT berdoa

Nah, bener kan kalo sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus?
v (^o^) v

07 September 2011

Keep Driving

A lady was driving along with her father.
They came upon a storm, and the young lady asked her father, What should I do?"

image001
He said "keep driving"..  Cars began to pull over to the side, the storm was getting worse. 

"What should I do." The young lady asked?

"Keep driving," her father replied.

On up a few feet, she noticed that eighteen wheelers were also pulling over.  She told her dad, "I must pull over, I can barely see ahead.  It is terrible, and everyone is pulling over!"

image002
Her father told her, "Don't give up, just keep driving!"
Now the storm was terrible, but she never stopped driving, and soon she could see a little more clearly. After a couple of miles she was again on dry land, and the sun came out.

image003
Her father said, "Now you can pull over and get out."

She said "But why now?" 

He said "When you get out, look back at all the people that gave up and are still in the storm, because you never gave up your storm is  now over. This is a testimony for anyone who is going through "hard times". Just because everyone else, even the strongest, gives up.

You don't have to...if you keep going, soon your storm will be over and the sun will shine upon your face again.

Feel free to pass it on to some people you know.
Tell them never give up, because GOD will never give up on them!

"I can do all things through Christ, who strengthens me!"

05 September 2011

Bekerja Dengan Semangat

Liburan telah selesai, kita kembali bekerja mulai hari ini dengan semangat untuk sukses :

  1. WAKE UP (bangun)  Tdk peduli berapa kali qta gagal, tp jika qta lbh banyak bangun & memulai lagi, qta akan sukses.
  2. DRESS UP (berhias) Kecantikan dr dlm jauh lebih penting drpd sekedar hiasan luar yg sementara. Miliki mentalitas berkelimpahan, hasil dr suatu harga diri & rasa aman yg dalam. Ini akan menghasilkan kesediaan utk berbagi pernghormatan, keuntungan, dan tanggung jawab.
  3. SHUT UP (berhenti bicara) Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu, sdh saatnya fokus'kan diri utk kesuksesan masa depan.
  4. STAND UP (berdiri) Berdirilah teguh pd keyakinan awal bahwa qta pasti berhasil.
  5. REACH UP (Capailah) Capailah sesuatu yg lebih tinggi dr prestasi sebelumnya krn itu menandakan bahwa qta memang bertumbuh.
  6. LIFT UP (Naik'kan) Naik'kan semua impian qta dlm bentuk doa ucapan syukur seakan2 semua telah terjadi... hari ini qta bisa sama2 belajar menanamkan semangat yang akan membantu qta mencapai sukses...

Selamat beraktivitas dgn smangat yg luar biasa.... !!!