
Lady : Why do you like me..? Why do you love me?
Man : I can't tell the reason.. but I really like you..
Lady : You can't even tell me the reason... how can you say you like me? How can you say you love me?
Man : I really don't know the reason, but I can prove that I love you.
Lady : Proof? No! I want you to tell me the reason. My friend's boyfriend can tell her why he loves her but not you!
Man : Ok..ok!!! Erm... because you are beautiful, because your voice is sweet, because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, because of your every movements.
The lady felt very satisfied with the man's answer. Unfortunately, a few days later, the Lady met with an accident and became comma. The Guy then placed a letter by her side, and here is the content:
Darling,
Because of your sweet voice that I love you... Now can you talk? No! Therefore I cannot love you.
Because of your care and concern that I like you.. Now that you cannot show them, therefore I cannot love you.
Because of your smile, because of your every movements that I love you.. Now can you smile? Now can you move? No, therefore I cannot love you...
If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore.
Do love need a reason? NO!
Therefore, I still love you... And love doesn't need a reason.
" Sometimes the best and the most beautiful things in the world cannot be seen, cannot be touched, but can be felt in the heart "
YESUS Berfirman : "Aku tahu engkau sedang gelisah, Aku tahu permasalahanmu sangat berat, Aku tahu bahwa hanya datang padaku ketika engkau merasa keluh, tetapi ingatlah, Aku tidak pernah melupakanmu & apa yang telah engkau lakukan pada-Ku tidaklah sia2"
"Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya" (Mazmur 94:14)
Bahan Renungan : Kejadian 26:1–6, 12–16
Saat ini seluruh dunia sedang mengalami masa–masa yang sulit, dalam sejarah tidak pernah Harga Minyak Mentah mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Harga Minyak Mentah bisa menembus angka 140 dolar perbarrellnya. Bahkan saat ini harga minyak mentah dunia diprediksikan akan terus naik
Seluruh umat manusia mengalami kesulitan, harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Masyarakat didunia ini banyak mengalami kesulitan, banyak orang mengalami frustasi dan makin banyak pula orang melakukan bunuh diri. Saat ini fenomena bunuh diri yang dilakukan di Indonesia adalah naik ke menara yang tinggi.
Walaupun bangsa Indonesia mengalami kesulitan kita harus tahu bahwa Tuhan sudah menjanjikan bahwa umatNya akan diberkati, namun kita harus tahu apa yang harus kita lakukan. Janji Tuhan itu bersyarat tetapi kasih Tuhan itu tidak bersyarat. Kita melihat kehidupan Ishak, Ishak juga mengalami masa yang sulit yaitu mengalami bencana kelaparan. Namun Ishak menang dalam menghadapi masa sulit tersebut. Bagaimana rahasia Ishak menang menghadapi masa sulit, ada 3 point yang bisa kita pelajari :
1. Ishak Tidak Mendikte Cara Tuhan (Kejadian 26:1–2)
Ishak mengikuti teladan ayahnya Abraham, Ia mengandalkan Tuhan sebagaimana ia melihat Bapaknya mengandalkan Tuhan. Ishak tahu cara Tuhan memberikan jalan keluar yang berbeda–beda sehingga ia tidak mengejar cara–cara manusia. Ishak mencari Tuhan disaat masa sulit. Ia tidak pergi ke Mesir melainkan ia pergi ke daerah Gerar Filistin.
Kesaksian Bapak Suyono : Ia mempunyai seorang anak rohani, anak rohaninya ini mempunyai toko Batik didaerah Malioboro. Tokonya ini terletak di pertokoan biasa bukan di Mall, ketika ia menerima surat dari pemilik ruko tersebut, ia kaget karena ia melihat harga yang ditawarkan naik 500 persen, ia bingung dan tidak bisa tidur karena ia memikirkan bagaimana ia harus membayar uang sewa tersebut. Kemudian anak rohani pak Suyono ini sadar bahwa ia tidak bisa mencari jalan keluar sendiri, maka ia berdoa dan mendapatkan jalan keluar dari Tuhan. Tuhan menyuruh ia membuat surat penawaran harga kontrak ruko yang telah dinaikkan sebesar 10-15 persen. Kemudian ia menelpon si pemilik ruko dan ia berkata : jika ibu tidak bisa menurunkan harga sewa maka ia siap untuk keluar dari ruko tersebut kapanpun, kemudian si ibu ini mengabulkan permintaan harga sewa dari si anak rohani pak suyono. Ia tahu bahwa semuanya itu Tuhan yang memberikan ide dan jalan keluar di masa sulitnya.
2. Hidup Sebagai Orang Asing
Ciri utama orang asing adalah hak–haknya di batasi. Ketika Ishak hidup di Gerar, ia hidup sebagai orang Asing. Ishak tidak sembrono dalam menjalankan hidupnya di Gerar, demikian juga kita, kita tidak boleh hidup sembrono. Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, kita gunakan secara hati–hati karena kita bukan pemilik.
Kesaksian seorang Konglomerat, ia tidak pernah mempergunakan fasilitas yang ada didalam hidupnya, karena ia tahu segala yang ia punya adalah milik Tuhan dan ia juga mengajarkan kepada bawahannya, ketika ada perjalanan bisnis yang kurang dari 5 jam, maka mereka harus naik pesawat kelas ekonomi bukan bisnis. Konglomerat ini akan menanyakan kepada Tuhan ketika ia harus memberi pada seseorang.
3. Menabur pada Masa Yang Sulit
Ishak menabur di Gerar pada saat ia tidak punya apa–apa. Tuhan akan memperhatikan benih yang kita tabur pada masa sulit. Benih yang kita tabur pada masa sulit adalah benih yang terbaik di mata Tuhan.
Kesaksian : Seorang Pengusaha Permen yang mengalami kesusahan dan hutang yang begitu banyak. Disaat ia mengalami kesulitan, ia mulai mengenal Tuhan, ketika ia pertama kali ke gereja ia mendengar kotbah tentang menabur. Pengusaha permen ini belajar memberikan perpuluhan dan ia mengambil beberapa ribu rupiah di dompetnya untuk membeli gula dan membuat permen. Permen itu ia jadikan bingkisan untuk kado natal anak–anak sekolah minggu. Ia melakukan dengan setia, tiba–tiba ia mendapat telepon dari agen gula, ia pikir ia akan ditagih untuk membayar hutang tapi ia ditawari untuk mengambil gula, untuk memulai kembali usahanya. Ketika ia bertanya bagaimana ia membayarnya, si agen gula berkata : ia boleh bayar saat sudah ada uang. Ketika ia belajar memberi di masa yang sulit, Tuhan melihat benih itu dan Tuhan memulihkan usahanya. Saat ini pengusaha permen ini masih setia memberi bingkisan natal untuk anak–anak.
Sumber : Stefanus Suyono
Ditulis oleh : Joshua Ivan Sudrajat S
Cirebon, 1 Juli 2008
"Ibu."
Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku.
"Bagaimana? Sudah enakan?"
"Idan mana?" bisikku.
Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya dimana aku sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus tentang Idan? kutukku pada diri sendiri.
"Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang."
Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan.
"Ibu sudah berapa lama di sini?"
"Dari pagi. Kau tidak ingat ibu datang pagi tadi?"
Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu. Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya.
"Bagaimana, Bu?" tanyanya, suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.
"Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu."
Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.
"Kalau Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok."
Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Upit. Apa kau tidak capai?"
"Saya pakai baterai Energizer, Bu."
Ibu tertawa lagi, "Idan, Idan. Kau mesti istirahat juga. Kalau kau sakit, Ibu tidak yakin Upit bisa mengurusmu sesabar kau merawat dia."
Ibu! Idan itu hanya menantu Ibu! Cuma simulasi pula!
"Sudah tanggung jawab saya, Bu."
Alangkah klisenya! Sunyi. "Kau betul-betul tidak butuh bantuan Ibu?"
"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Ibu lagi."
"Baik kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan lupa obatnya. Kalau ia mau, ibu sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri saja apa yang dia mau."
"Ya, Bu."
"Dan jangan tidak tidur lagi nanti malam. Upit sudah baikan."
"Baik, Bu."
Dan saat itu juga aku bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya. Aku ingin menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti bayi. Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Idan malam itu. Aku memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan obat. Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum, merebuskan mi instan yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang kelantai, mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan omelet yang hanya kucuil sedikit. Pijatannya dikakiku terlalu keras, terlalu lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap. Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari kelembutan dalam suaranya? Yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan kelelahan di matanya? Yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan. Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan. Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama dua puluh tahun persahabatanku dengan Idan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?
Aku tahu permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Idan menemaniku ke mana pun. Dan ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja ia lebih berbesar hati untuk menyingkirkan pertengkaran itu sementara aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?
Ketika aku terbangun esok paginya, Idan menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku merasa jauh lebih segar dan hidup. Ketika aku kembali ke kamar, aku melihat spreiku telah diganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas di dekat tempat tidurku telah diganti dengan yang baru. Ketika Idan duduk di pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.
"Kau tidak ke kantor?", tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan padanya setelah pertengkaran kami.
"Ini hari Minggu, Pit."
"Aku sudah sakit selama seminggu?", bisikku tak percaya.
"Ya, Idan tersenyum."
Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor memikirkanmu."
"Ibuku kan di sini."
"Ya. Aku terpaksa memintanya datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu. Maaf."
Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam di atas mejaku. Pukul setengah delapan pagi.
"Tidak main bola?"
Ia menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nenas.
"Aku mau memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku cadangan."
Aku tersenyum.
"Dia kurang berani menyerang. Tidak segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan tersenyum.
"Kau mau pergi memancing nanti sore?", Ia menggeleng lagi.
"Kenapa?"
"Aku harus memberi ke sempatan ikan-ikan itu berkembang biak, Pit. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah."
"Kalau kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka, ya."
"Terima kasih untuk apa?"
Untuk menunjukkan sisi lain dari Idan yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."
Senyum Idan serta merta surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku.
"Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?"
Aku mengangguk dengan leher tersumbat.
"Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi," katanya kemudian.
"Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan menangis, Pit. Nanti air jerukmu asin."
Bersambung ke Bagian VII