Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 May 2008

Sambutan Besar

Nats : Siapa yang menang .... Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya (Wahyu 3:5)

Bacaan : Wahyu 3:1-6

Ketika tsunami menerpa Aceh, seorang siswa SD bernama Martunis sedang asyik bermain sepakbola bersama teman-temannya dengan kostum kebesaran tim sepakbola Portugal. Ia terseret ke laut lepas, namun selama beberapa hari ia bertahan hidup terapung-apung melawan ombak, sengatan matahari, serta dinginnya angin dan air laut. Ia bertahan dengan memungut sisa mi instan dan air kemasan dari hamparan sampah di tengah laut. Beruntung sebuah kapal menyelamatkannya. Dan segera berbagai stasiun televisi dan surat kabar Portugal, Eropa, dan Indonesia, berkali-kali memunculkan wajah dan kisahnya yang menggemparkan dunia sepakbola Eropa.

Martunis diundang ke pertandingan sepakbola antarklub di Spanyol untuk menyemangati kesebelasan Portugal yang dikaguminya. Di sana Martunis dipanggil ke tengah lapangan dan disambut bak pahlawan oleh para pemain sepakbola Portugal kaliber dunia. Semua yang hadir pun berdiri dan bertepuk tangan. Martunis diberi kaos kebesaran kesebelasan Portugal yang baru, dipeluk pelatih dan para pemain, dielu-elukan para penonton, serta dihujani banyak hadiah!

Serupa dengan itu, demikian pula suasana yang kelak akan dialami setiap orang yang menang, yang setia mengikut Kristus sampai akhir hidupnya (ayat 5). Saat sangkakala terakhir berbunyi, Kristus yang bagai pengantin laki-laki diiringi para malaikat yang tak henti memuji nama-Nya, akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menyambut kita. Dan kita akan mengenakan "kostum favorit" surga, yakni jubah putih kesucian dan kesempurnaan surgawi. Anda rindu mengalaminya? Setialah sampai akhir -SST

MENGIKUT KRISTUS TAK SELALU MUDAH
TETAPI ALLAH MENJANJIKAN AKHIR YANG INDAH


SABDA.org

Covenant of Peace

Today's Scripture

And I will make with them a covenant of peace…” (Ezekiel 34:25).

Today's Word from Joel and Victoria

Aren’t you glad we serve a God of peace? No matter what you may be facing in life, God is with you. You don’t ever have to feel anxious, worried, or upset because you have a covenant of peace with Almighty God. God is always faithful to His Word, and you can have confidence that His peace is always available to you. The Bible tells us that God’s peace passes understanding. That means you can have peace when it doesn’t make sense to have peace. When the rest of the world seems to be upset or fretting, you don’t have to be upset. When gas prices go up, you can be at peace knowing that God has promised to supply all your needs according to His riches in glory. When the housing market seems unstable, you can trust that God is your refuge, and He will cause you to dwell in safety. He’ll make a way where there seems to be no way. Begin to thank God for His peace and faithfulness in your life. Declare that the peace of God rules in your heart and mind. As you dwell on God’s promises, your heart will be at rest, and you’ll experience the blessing of His peace all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your covenant of peace. I receive it by faith today. I choose to keep my heart and mind fixed on You. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

30 May 2008

Indah Pada WaktuNya

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan,dan tangan kasihNya membimbingku
Ditengah badai topan menghanyutkan,'ku kuat sebab Tuhan dekat
Tiap langkahku ku tahu ya Tuhan pimpin,ketempat tinggi ku diangkatnya
hingga sekali nanti aku tiba,dirumah bapa surga yang baka

Mungkin anda sudah sering mendengar lagu ini.Lagu ini yang selalu memotivasi saya untuk dapat tetap kuat berjalan bersama Tuhan.Mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak pernah mangalami masalah dan kesulitan.Semua itu pasti akan kita hadapi dan temui dalam kehidupan ini.

Namun,jika kita dapat menghadapinya dengan iman yang teguh kepadaNya apapun halangan yang ada didepan kita dapat kita tempuh diluar dari kesadaran akan kekuatan dan kemampuan kita.Sebagai manusia,kita semua pasti pernah mengalami kekecewaan dalam menjalani hidup.Namun dengan belajar menjalani hidup dengan rendah hati,penuh KASIH dan penuh pengampunan akan membawa kita kepada hidup yang tenang dan damai dan itulah yang sesungguhnya dalam menjalani hidup ini.

Dulu sebelum saya bertemu dengan calon suami saya, saya adalah orang yang sombong dan angkuh ( dan sepertinya benih-benih itu belum semua hilang dari diri saya).Namun dengan penuh kerendahan hatinya,dia selalu mengajarkan saya akan kerendahan hati dalam menjalani hidup.Saya adalah orang yang sangat beruntung karna telah Allah pertemukan dengan calon suami saya.Dengan tidak bosan-bosan selalu mengingatkan saya akan semua itu.

Semua yang terjadi dalam hidup ini adalah rencana Allah dalam setiap pribadi manusia.Jodoh,rezeki,kematian,kehidupan,umur panjang dan yang lainnya sudah Tuhan atur dalam setiap pribadi kita.Namun,satu hal yang pasti jangan pernah tinggalkan Tuhan dalam setiap langkahmu karna DIA TIDAK PERNAH MENINGGALKANMU.

Cinta Marlin

Mazmur 139

Marlin dan Coral, sepasang ikan badut, sedang menanti telur-telur mereka menetas. Mereka asyik membicarakan nama anak-anak mereka nanti. Mereka juga mengenang masa indah pertemuan mereka dulu. Namun, rupanya bahaya mengintai mereka. Seekor barakuda berkelebat dan menerjang sarang mereka! Akibatnya, Marlin kehilangan Coral dan seluruh telur mereka. Seluruhnya? Oh, ternyata masih tertinggal satu butir! Dengan penuh sayang Marlin melindungi telur itu, dan bertekad untuk selalu melindunginya. Nemo, nama ikan dari telur yang tersisa itu, sudah dicintai ayahnya, bahkan sebelum ia menetas.

Cinta Marlin dalam film Finding Nemo mengingatkan kita akan kasih ilahi. Namun kasih-Nya jauh lebih besar! Mari kita perhatikan. Manusia baru bisa menyambut bahagia seorang anak saat mereka tahu ada janin yang hadir dalam kandungan seorang wanita. Namun sungguh luar biasa Allah. Dia telah mencintai kita bahkan sebelum kita hadir di rahim ibu kita (ayat 13)!

Selanjutnya, orang mungkin menyukai kita karena berwajah cantik atau tampan, berdompet tebal, berbakat mengagumkan, berkedudukan tinggi, atau berjasa baik. Dengan kata lain, kita dicintai karena kinerja atau kebaikan kita. Namun, Allah mengasihi kita jauh sebelum kita mampu melakukan sesuatu bagi Dia (ayat 16). Allah bahkan tetap mengasihi sekalipun kita kerap memberontak kepada-Nya, karena Dia telah memutuskan untuk mengasihi kita.

Hari ini, sejak kita bangun di pagi hari, kasih Allah sudah menyambut kita. Mari kita menghambur ke dalam pelukan-Nya dan mengucap syukur

29 May 2008

Dua Lautan

Di Palestina ada dua lautan. Yang satu mengandung air yang menyegarkan. Oleh karenanya, terdapat banyak ikan di dalamnya. Pohon-pohon merentangkan dahan-dahannya di atasnya dan akar-akarnya yang senantiasa haus, mencicipi air yang menyembuh-kannya. Sepanjang pantainya anak-anak bermain ketika Ia berada di sana. Ia menyayanginya. Ia dapat memandang jauh atas permukaan air yang berwarna perak ketika Ia berbicara melalui perumpamaan-perumpamaan. Dan di atas sebuah lereng bukit yang terletak tidak jauh, Ia telah memberi makan kepada lima ribu orang.

Sungai Yordan membuat lautan ini dipenuhi dengan air yang jernih yang datang dari bukit bukit. Oleh karena itu, Ia merasa gembira dalam cerahnya matahari. Dan manusiapun membangun rumah-rumahnya dekat lautan itu, dan burung-burungpun membangun sarangnya; dan semua makhluk di sekitarnya dipenuhi oleh rasa sukacita yang besar karena lautan itu.

Sungai Yordan mengalir terus ke arah Selatan ke dalam suatu lautan yang lain. Di sini tidak terdapat suara ceburan dari ikan, tidak ada suara daun-daun yang berkibar, tidak ada nyanyian anak-anak. Para pelancong memilih jalan lain, kecuali jika memang terpaksa. Udara menggantung dengan berat di atas air, dan tidak ada manusia atau binatang yang mau meminum airnya.

Apa toh yang membedakan kedua lautan itu? Bukan sungai Yordan. Bukankah ia mengalirkan airnya ke dalam dua lautan itu? Bukan pula karena tanahnya di atas mana mereka terletak.

Inilah perbedaannya. Lautan Galilea menerima air dari Yordan namun tidak mengambil airnya untuk diri sendiri. Untuk setiap tetes air yang ia terima, maka setiap tetes itu pula mengalir keluar. Penerimaan dan pemberian berlanjut dalam jumlah yang sama.

Lautan yang lain agaknya lebih licik. Dipenuhi dengan rasa iri hati, ia menimbun airnya untuk diri sendiri. Ia tidak dapat tergoda untuk tergerak oleh rasa murah hati yang spontan. Untuk setiap tetes air yang ia terima, ia menimbunnya sendiri.

Lautan Galilea menerima dan memberi. Tapi lautan yang lain sama sekali tidak memberi. Karenanya, ia dinamakan Lautan Mati. Di dalam dunia ada dua jenis manusia seperti juga ada dua lautan di Palestina.

Nail Scarred Hands

It’s one more time to remember the Nail Scarred Hands that has saved me from my sins and from eternal damnation into eternal life. The hands of a carpenter that was nailed to the cross… because of me. Sinless He might have been, He chose to bear the weight of a lost world on the cross, so that they might not perish. For He so loved the world, that He came to save those that was lost so that they might have eternal life. Look at the lives of the disciples, look at the life of one Zacchaeus, once a sinner but a sinner no more by the love of Christ.

Your love has captured me oh Lord. Your love has captivated me and compelled me to come to know You. Here I come once again oh Lord to renew my faith and my commitment in You. I’m sorry Lord if I have been deceived and led astray these last few weeks. Now I want to come home, come back to where You are. To where your Nail Scarred Hands will hug me and embrace me. To where your love will never end. I love You, Jesus.

This post is dedicated to Jesus Christ, my Lord and my Savior, on the day of rememberance that He died 2,000 years ago to save me from my sins. Thank you for your unending love, Jesus. Thank you for saving me from my sins.

Here I am, Lord, and I’m drowning in your sea of forgetfulness
The chains of yesterday surround me
I yearn for peace and rest
I don’t want to end up where You found me
And it echoes in my mind, keeps me awake tonight

I know You’ve cast my sin as far as the east is from the west
And I stand before You now as though I’ve never sinned
But today I feel like I’m just one mistake away from You leaving me this way

Jesus, can You show me just how far the east is from the west
‘cause I can’t bear to see the man I’ve been come rising up in me again
In the arms of Your mercy I find rest
‘cause You know just how far the east is from the west
From one scarred hand to the other

I start the day, the war begins, endless reminding of my sin
Time and time again Your truth is drowned out by the storm I’m in
Today I feel like I’m just one mistake away from You leaving me this way

I know You’ve washed me white, turned my darkness into light
I need Your peace to get me through, to get me through this night
I can’t live by what I feel, but by the truth Your word reveals
I’m not holding on to You, but You’re holding on to me
You’re holding on to me

Jesus, You know just how far the east is from the west
I don’t have to see the man I’ve been come rising up in me again
In the arms of Your mercy I find rest
‘cause You know just how far the east is from the west
From one scarred hand to the other

Lyrics from East To West by Casting Crowns

Lowongan Pekerjaan Di Sekolah Mahanaim

Kami dari Yayasan Mahanaim, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dengan fokus di bidang pendidikan. (www.love-mahanaim.or.id). Salah satu divisi yang bernaung di bawah Yayasan ini adalah divisi sekolah. Sekolah ini sedang membutuhkan sejumlah guru yang terbeban untuk melayani sebagai:

Guru SD - SMA semua bidang studi

Syarat:
- Berpendidikan S1 ditutamakan yang SPd.
- pengalaman 2 th

Adapun bagi guru English Program, dengan syarat tambahan:
- TOEFL score min. 600

Bagi yang tertarik dapat mengirimkan
- Surat lamaran
- fotokopi Izajah
- Biodata
- Kesaksian pengalaman pribadi bersama Tuhan

ke :
Yayasan Mahanaim
PO Box 155
Bekasi, 17015
Indonesia

atau melalui email ke
daniel.ferry.73@gmail.com (max 200KB).


Lamaran ditunggu sampai bulan Agustus 2008

Ganggulah Aku

Nats : ... sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem ... (2Samuel 11:1)

Bacaan : 2Samuel 11:1-27

Biasanya orang lebih suka berada di tempat yang aman daripada harus berpetualang dan meninggalkan kenyamanan. Begitu juga banyak orang kristiani sudah cukup puas dengan keadaan rohaninya yang "aman-aman" saja. Daripada memulai petualangan rohani yang seru bersama Tuhan, mereka lebih suka memiliki keadaan rohani yang monoton dan datar saja. Sedapat mungkin mereka berharap situasi akan terus stabil, tidak ada gangguan, masalah, ataupun hambatan.

Seorang yang luar biasa bernama Sir Francis Drake, merindukan petualangan rohani bersama Tuhan, sehingga saat keadaan "aman", ia berdoa demikian: "Ganggulah kami Tuhan, ketika kami berpuas diri karena mimpi-mimpi kecil kami menjadi nyata. Ketika kelimpahan harta benda membuat kami kehilangan rasa haus terhadap air kehidupan. Ketika kecintaan pada hidup ini membuat kami berhenti memimpikan kekekalan. Ketika keinginan kami membangun bumi baru meredupkan visi kami akan surga. Ganggulah kami agar berani berpetualang di lautan yang lebih luas, di mana badai akan memperlihatkan kuasa-Mu yang dahsyat!"

Doa di atas sebenarnya ingin menunjukkan betapa bahayanya sebuah tempat di mana kita merasa nyaman di situ. Lihatlah kehidupan Daud ketika jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba. Ia jatuh bukan saat ia ada dalam pelarian atau peperangan yang menegangkan, tetapi justru saat ia santai di istananya yang nyaman.

Hati-hati jika kita sudah cukup puas dengan kekristenan kita selama ini. Daripada puas dengan kehidupan rohani yang biasa-biasa, sebaiknya kita berdoa meminta keberanian untuk mengalami perkara yang lebih besar -PK

KETIKA KITA BERPUAS DIRI DENGAN KEADAAN ROHANI KITA
ITU SAATNYA MEMINTA TUHAN AGAR IA MENGGANGGU KITA


SABDA.org

He Prepares Your Path

Today's Scripture

I will go before you and make the crooked places straight…” (Isaiah 45:2 NKJV)

Today's Word from Joel and Victoria

Do you ever feel like every time you try to move forward in something, you hit a roadblock? Something happens that throws you off course. Be encouraged today because right now in your life, God is going before you. He’s preparing a way. He’s making your crooked places straight. He’s making your rough places smooth. You may be going through a difficult time right now, but it’s not the end. It’s only the beginning. God has equipped you for this journey. You may feel like you’re in a dry season, but don’t look at your circumstances. Look at the promise of God today! If you’ll keep speaking words of faith, God promises that He’ll anoint your head with oil and your cup will run over. That means you’ll be refreshed and anointed to do what He’s called you to do. God is preparing your path and equipping you for the journey. What do you need today to keep moving forward? Start by checking your attitude. Don’t go around complaining and focused on the negative side of things. Put on an attitude of praise and thanksgiving. Thank Him for making your crooked places straight! As you do, you’ll move forward in joy and gladness in the blessed future He has prepared for you!

A Prayer for Today

Lord in heaven, thank You for Your goodness in my life. Thank You for preparing the path for my life and making my crooked places straight. Thank You for restoring my soul and life and for guiding me in everything I do. I submit every area of my life to You today. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

28 May 2008

Menghadapi Kehilangan

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN ?

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The HealingStories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran.

Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.

Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.


Renungan :
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Siapakah Yesus Kristus?

Salah satu perdebatan sengit di dalam bidang theologia adalah yang berkaitan dengan topik Kristologi. Sejak abad permulaan hingga kini, memasuki millenium ketiga, para ahli terus bertanya tentang siapakah Yesus Kristus. Di dalam sejarah hidup manusia, disadari atau tidak, diakui atau tidak, pribadi Yesus Kristus telah menjadi tokoh sentral sepanjang segala abad dan tempat. Seluruh kehidupan Yesus, mulai dari kelahiran, hidup dan karya hingga kematianNya menjadi topik yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Para ahli atau yang merasa dirinya ahli seolah-olah tidak kehabisan energi atau stamina untuk terus menerus mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh Allah, atau sekedar nabi atau manusia biasa yang luar biasa. Itulah sebabnya, banyak diskusi dan seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah diterbitkan. Dalam hal ini kita dapat mengamati dua kelompok besar: ada yang melakukan hal tersebut di atas dengan motivasi dan maksud baik, tetapi tidak sedikit dengan motivasi jelek dan jahat! Sebagai contoh, ada yang disebut dengan gerakan menggali ulang Yesus sejarah atau The quest of the historical Jesus (First quest, second quest, third quest...?). Demikian juga dengan gerakan “The Jesus Seminar” oleh John Dominic Crossan serta Robert Funk dkk yang mencoba menggugat keabsahan pernyataan-pernyata an Yesus di dalam keempat Injil.

Sesungguhnya, jikalau kita jeli dan dengan hati terbuka memperhatikan ke dalam seluruh Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita tidak dapat menyangkali bahwa tokoh Yesus, yaitu Mesias yang dijanjikan itu adalah tokoh yang sangat menonjol. Di dalam Kitab Taurat Musa, Dialah pribadi yang disebut akan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15), yaitu ular yang kemudian disebut sebagai simbol iblis atau setan di dalam kitab Wahyu 20:2; di dalam kitab Mazmur, Dialah pribadi yang disebut raja Daud sebagai Tuhannya yang menderita dan mati, akan tetapi tidak akan selamanya berada di dalam maut tsb (Mzm. 16:8-11). Ayat-ayat tsb telah menjadi dasar yang kuat bagi Rasul Petrus ketika dia memberitakan di hadapan lebih dari 3000 orang tentang Yesus Kristus yang telah bangkit. Di dalam kitab nabi Yesaya, Dia lah hamba Allah yang menderita yang membuat tercengang banyak bangsa-bangsa, dan yang oleh kematianNya, hati Allah dipuaskan dan manusia berdosa beroleh penebusan dan pembenaran (Yes. 52:13-53:12). Jika kita beralih ke Perjanjian Baru, maka kita akan melihat semakin jelas bagaimana keempat penulis Injil menjadikan Yesus sebagai tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka. Markus misalnya dengan jelas dan tegas memulai Injil tsb dengan kalimat: “Inilah permulaan Injil TENTANG YESUS KRISTUS¨. (Markus 1:1). Dokter Lukas juga memberi tahukan bahwa apa yang dia tulis di dalam Injil Lukas, yang disebutnya sebagai bukuku yang pertama¨ adalah tentang segala sesuatu yang DIKERJAKAN DAN DIAJARKAN YESUS SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT (Kis.1:1-2a). Sementara itu, Injil Yohanes dengan sangat tegas dan jelas tanpa memberi sedikit peluang untuk kompromi telah menuliskan bahwa YESUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN di mana di luar Dia hanya ada kebinasaan (Yoh. 14:6). Kita tidak punya cukup ruang untuk menjelaskan bagaimana Yesus Kristus sedemikian dipuji dan disembah di dalam seluruh surat-surat para rasul, baik oleh Rasul Paulus, Petrus, Yohanes, dll. Tetapi ada satu pernyataan Rasul Paulus yang sangat jelas berkaitan dengan sentralitas Yesus tsb. Hal itu kita baca di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose: Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasehati... untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol.1:29).

Pengajaran Alkitab yang sedemikian jelas dan tegas membuat manusia pada zaman ini pun mau tidak mau harus mengambil sikap terhadap Yesus, karena Yesus tetap sebagai tokoh sentral, bukan hanya dulu di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi juga hingga sekarang, bahkan pada “dunia” yang akan datang. Barangkali ada yang bertanya: “Dari mana kita mengetahui hal itu padahal kita belum tiba pada masa yang akan dating”? Sebenarnya, hal itu kita ketahui bukan karena kita telah melihat “dunia” yang akan datang, akan tetapi itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab Wahyu, di mana dia melihat seluruh penghuni surga bersembah sujud kepadaNya. Penulis kitab Wahyu menulis tentang Dia: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” (Wahyu 5:13) Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah, apa pun latar belakang suku, budaya, agama dan kebangsaannya, tidak boleh bersikap netral dan acuh tak acuh kepada Tuhan Yesus. Dialah yang disebut di dalam kitab Wahyu sebagai Sang Anak Domba Allah yang telah menyerahkan nyawaNya untuk menebus mereka “dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Wahyu 5:9b). Selanjutnya kita membaca bahwa atas pengorbanan Yesus yang sedemikian besar, maka seluruh umat yang percaya dari segala abad dan tempat, baik yang di bumi dan di surga menyerukan dengan segenap hatinya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya (Wahyu 5:9a). Menarik sekali mengamati penglihatan surgawi yang digambarkan oleh Yohanes tsb. Terlihat dengan sangat jelas bahwa hanya Yesus yang layak membuka kitab termeterai tsb. Tidak ada pribadi lain, baik yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi yang dapat membuka gulungan kitab itu (Wahyu 5:3).

Ada hal lain lagi yang penting dituliskan di sini. Kita mengamati suatu kenyataan yang barangkali tidak mengenakkan untuk dikemukakan, yaitu bahwa dari sejak kitab pertama, Kejadian 1 sampai dengan kitab terakhir, Wahyu, nampak dengan jelas bahwa kehadiran Mesias (Perjanjian Lama) atau Yesus (Perjanjian Baru) juga telah mengakibatkan manusia terpecah ke dalam dua kutub. Pengkutuban itu sedemikian rupa, sehingga kelihatannya kedua kelompok tsb tidak mungkin bersatu secara sungguh-sungguh, kecuali dengan jalan kompromi. Ketika Yesus hidup di dunia ini, manusia pada zaman itu, tidak bisa tidak, ditantang untuk menentukan sikap terhadap diri dan FirmanNya. Ada orang yang percaya dan menerimaNya, karena itu memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Ada juga yang tetap tidak percaya dan menolakNya, karena itu mengalami kebinasaan kekal (Yoh.3:18; Yoh.8:24; baca juga I Kor.1:18 dan I Ptr. 2:6-7).

Jadi, sekali lagi, semua manusia harus mengambil sikap yang tegas kepada Yesus. Beragama saja tidak cukup. Mengaku pengikut Yesus pun tidak cukup. Semua umat ciptaan Allah harus secara penuh kesadaran mengevaluasi relasi hidupnya dengan Yesus. Hal itu sungguh penting, karenana hal itu berkait dengan hidup kekalnya. Artinya, sikap kepada Yesus tidak sekedar mempengaruhi kehidupan kita kini dan di sini. Beriman kepada Yesus bukan sekedar mempengaruhi kehidupan kita agar semakin layak dalam arti jasmani karena doa-doa kita terjawab, atau karena relasi kita dengan sesama seiman menjadi semakin baik yang mengakibatkan taraf kehidupan kita semakin meningkat. Orang percaya kepadaNya mengalami hal yang jauh lebih besar dari semua itu. Alkitab membicarakan konsekuensi yang bersifat kekal. HIDUP KEKAL BAGI YANG PERCAYA DAN MENERIMANYA ATAU KEBINASAAN KEKAL BAGI YANG MENOLAKNYA.

Suatu kali, Prof. Ravi Zacharia apologet Kristen yang sangat terkenal itu pernah bersaksi: "Saya dulu bukan orang Kristen, juga tidak belajar Alkitab. Saya lama menekuni ajaran agama lama saya dan mengajarkan filsafat. Tetapi di dalam anugerahNya Dia menyelamatkan saya. Saya bertobat menjadi pengikut Yesus. Apa yang saya alami? Apakah saya lebih kaya? Tidak! Apakah itu akan membuat saya lebih bermoral dan berpendidikan? Lebih dari situ. Pengalaman yang jauh lebih penting dan tak ternilai adalah karena saya berpindah dari maut kepada hidup, dari kebinasaan kekal kepada kehidupan yang kekal bersamaNya" (ICIE di Amsterdam, 10 Juli 1988). Itulah penegasan Alkitab yang diimani oleh Ravi. Itulah juga yang harus kita imani dan amini dengan segenap hati. Semoga iman dan pemahaman seperti ini membawa kita kepada sikap hormat dan penyembahan yang lebih baik kepadaNya. Dengan demikian kita senantiasa hidup dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.

Sumber : www.reformata. com (Tabloid Reformata bulan Juni 2005)


Oleh : Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.

Untukmu

Dahaga

Nats : "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air" (Yohanes 4:15)

Bacaan : Yohanes 4:13-19

Ketika Glynn Wolfe meninggal di usia ke-88, tak seorang pun mencarinya. Setelah ditunggu sekian minggu, akhirnya pemerintah mengubur jenazahnya di kuburan tanpa nama. Ironisnya, Glynn pernah tercatat di Guinness Book of Records sebagai pemegang rekor pria yang paling banyak menikah. Ia telah 29 kali menikah dan 29 kali bercerai juga, karena tidak puas dengan pernikahannya. Ia meninggalkan banyak istri yang masih hidup, banyak anak, cucu, bahkan buyut. Namun, tak seorang pun sudi menemaninya sampai ia meninggal.

Seperti Glynn, banyak orang haus akan cinta kasih lalu berusaha mencarinya di tempat yang salah. Mereka mengira bahwa dengan menemukan "orang yang tepat", hidup akan terpuaskan. Padahal, tidak ada orang yang tepat. Itu juga yang dialami oleh perempuan Samaria yang sudah punyai lima suami (ayat 18). Ia masih mencari pria lain, karena haus cinta. Tak seorang pun dapat mengisi kesepian hidupnya. Tak ada pria sempurna yang dapat menyenangkan dirinya dalam segala hal. Ia ibarat orang yang kehausan lalu berusaha meminum air laut. Dahaganya bukan hilang, ia malah makin haus! Yesus menyatakan bahwa yang dibutuhkan perempuan itu adalah "air hidup" (ayat 14,15). Hanya kehadiran Allah yang dapat mengusir kesepiannya. Hanya kasih Allah yang bisa mengisi ruang kosong dalam hatinya.

Jika kasih Allah telah memenuhi hati, kita akan mengalami kepuasan hidup. Akibatnya, kita tidak lagi sibuk mencari orang yang tepat. Sebaliknya, kita akan berusaha menjadi orang yang tepat bagi orang lain. Tak lagi menjadi seorang pengemis kasih, tetapi menjadi penyalur kasih -JTI

KASIH SEJATI TIDAK MENCARI ORANG YANG TEPAT
TETAPI BELAJAR MENJADI ORANG YANG TEPAT


SABDA.org

Give Generously

Today's Scripture

“…the righteous give generously” (Psalm 37:21).

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know that when you give to others in need, the Bible says it’s like giving directly to God Himself? When you step out and bless other people, you are honoring and blessing the Lord. The scripture tells us to give our best, to give generously. In other words, stretch yourself. Go out of your way. It may be uncomfortable to walk over and pay for someone’s gas, but that’s being generous. I encourage you today, look for ways to give generously and meet the needs of others. Remember, people have many different types of needs. There may be someone who needs some encouragement. Give generously when you give that encouragement. There may be someone in your life who just needs a friend. They need some quality time. Give generously of your time and pour into that person. As you give generously to others, God will multiply the seeds you’ve sown, and you’ll live in blessing all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, I come to You today, giving all that I have to You. Open my eyes to the needs around me and show me how to be a blessing to others. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

27 May 2008

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan. Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia."

Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranyapun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.

Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapat kan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar anak-Nya dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita.


Berpikirlah sederhana!

When We Have to Choice

Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan, karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu.

Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.

Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.

Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.

Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.

Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka.

Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya, "Apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?", jawab orang itu "tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu", lalu tanya prajurit itu lagi, "seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya?, sedangkan waktumu sangat terbatas", jawab orang itu lagi "tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis".

Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya

"Hai orang kaya apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?" ,jawab orang kaya itu "bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah keuntunganku".

Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu

"Mengapa engkau diam disini?, tidakkah engkau memilih emas-emas itu? atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?", mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi "atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?", orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi, "Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?", sambil menatap prajurit, orang itu menjawab, "Tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu, berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu",


"lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu" tanya prajutit itu lagi.

"Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting" jawabnya lugu.

Prajurit ini semakin penasaran "mengapa bisa begitu?", "bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya,karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas tuan" prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya "lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah saya ambil", "tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?" tanya prajurit lagi, "Saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini dengan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yang murni", tak lama lagi lonceng istana berbunyi,tanda berakhir sudah kegiatan mereka.

Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata, "Wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja", kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya.

Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal "Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya.

Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya".

Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya, dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.


Dikutip dari : Kumpulan Sharing dan Cerpen Judul Asli : When We Have to Choice

Kenali Yang Benar

Nats : Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:31,32)

Bacaan : Yohanes 8:30-36

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus menyiratkan bahwa ada dua macam murid; yang benar-benar murid dan yang semu. Dalam era informatika global seperti sekarang ini, kita pasti akan dibanjiri oleh berbagai informasi dan pengajaran. Repotnya, jika tidak memiliki penyaring yang baik, kita dapat menjadi tong sampah. Padahal seharusnya setiap murid Tuhan mengutamakan air susu yang murni dan yang rohani, yang akan menjamin pertumbuhan iman dan membentenginya dari pengajaran-pengajaran yang menyesatkan (1 Petrus 2:2,3).

Kita belajar bahwa murid-murid di Galatia terlalu cepat berpaling dari Injil yang benar kepada "injil yang lain" (Galatia 1:6-10). Jadi, mari kita memerhatikan peringatan Paulus tersebut dengan saksama. Terlebih Rasul Paulus juga mengingatkan kita bahwa akan muncul pengajar-pengajar palsu, "serigala berbulu domba" yang menyusup ke dalam persekutuan orang-orang percaya. Parahnya, pengajar-pengajar palsu semacam itu bisa muncul dari antara kita sendiri (Kisah Para Rasul 20:29,30).

Betapa pentingnya bagi kita untuk mengadakan waktu khusus secara tetap dan teratur -- sebagaimana halnya kita harus makan setiap hari -- agar kita tetap sehat dan bertumbuh secara rohani. Hanya dengan semakin mengenal firman Tuhan secara benar, kita akan mudah membedakan yang palsu dari yang benar. Kita juga akan dimerdekakan sehingga kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam angin pengajaran yang merupakan permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Efesus 4:14,15) -CC

KENALILAH YANG BENAR MAKA KITA AKAN MUDAH MENGHINDARI
YANG KELIRU DAN MENYESATKAN


SABDA.org

God’s Representative

Today's Scripture

We are Christ’s Ambassadors…” (II Corinthians 5:20).

Today's Word from Joel and Victoria

As believers in Jesus, we are His ambassadors or representatives in the earth. In the natural, an ambassador is privileged. They are a diplomat with the highest rank. They walk in the authority of the name of the one who sent them. The ambassador makes decisions and solves problems, but their primary role is to promote diplomatic relationships. As God’s ambassadors in the earth, we walk in His power and authority. We are to promote relationship with Him. The Bible also calls us “ministers of reconciliation” in the earth. That means that we are to share the message of the gospel—that man’s relationship to God has been reconciled through Jesus Christ. When you see yourself as God’s ambassador, it will change the way you think and act. It will change the way you approach people. Remember, you are a representative of Almighty God. Look for ways to promote relationship with Him. Show kindness because His kindness leads people to change. Speak words of healing that will draw people to Him. As you fulfill your role as an ambassador of God, He will honor your faithfulness and pour out His blessing upon you all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me as Your ambassador. Help me to fully understand the authority You’ve given. Show me ways to promote relationship with You and build Your kingdom in the earth. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

26 May 2008

Humor : Dokter Minta Tolong

Setelah selesai memeriksa seorang pasiennya, seorang dokter gigi meminta sedikit bantuan dari pasiennya tersebut.

"Bisa tolong saya, Pak?" si dokter gigi memohon.

"Saya ingin Anda berteriak sehisteris dan sekencang mungkin, seperti orang yang sedang sangat kesakitan dan mengeluarkan banyak darah."

"Lho, kenapa?" tanya si pasien. "Saat ini saya merasa baik-baik saja dan tidak perlu untuk berteriak-teriak, saya masih bisa menahan rasa sakitnya, Dok!"

"Begini lho, Pak, di ruang tunggu saat ini masih ada 10 orang pasien," si dokter memberi penjelasan, "dan saya tidak mau ketinggalan menonton siaran langsung sepak bola sepuluh menit lagi!"

Perkara Yang Sungguh Bernilai & Berarti

Waktu Teduh

Nats : Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Markus 6:32)

Bacaan : Markus 6:30-32

Seorang pemuda sedang memotong kayu dengan kampak. Dari pagi hingga siang ia terus bekerja. Tidak ada waktu untuk berhenti. Ia harus mengejar target. Itu sebabnya, ia terus-menerus mengayunkan kampaknya. Suatu kali seorang bapak tua datang menghampirinya. "Nak, kampakmu sudah tumpul. Berhentilah sejenak untuk mengasahnya," kata si bapak tua. "Wah, tidak ada waktu, Kek. Saya harus mengejar target," sahut si pemuda.

Kehidupan di dunia ini semakin hiruk pikuk; tuntutan dan tantangan zaman semakin besar. Kita tidak terhindarkan dari kesibukan dan belenggu rutinitas. Padahal, ibarat sebuah mesin, kita tentu membutuhkan istirahat. Hidup dalam rutinitas tanpa sejenak pun "beristirahat" sama dengan pemuda dalam cerita di atas, yang terus memotong kayu tanpa sedikit pun waktu untuk mengasah kampaknya, sehingga kampaknya pun menjadi tumpul. Inilah makna pentingnya waktu teduh: keluar sejenak dari kesibukan rutin untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan.

Waktu teduh lebih merupakan kebutuhan, daripada kewajiban. Karena itu, kita perlu meresponsnya dengan sukacita. Dalam rutinitas sehari-hari, perlu selalu ada waktu untuk sejenak berdiam diri. Menutup mata dan telinga dari segala hiruk pikuk kegiatan rutin sehari-hari. Menyediakan diri dan membuka hati untuk Tuhan, membiarkan Dia menyapa dengan cara-Nya. Tuhan Yesus telah mencontohkannya. Di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa -- mengajar dan menolong orang -- Dia selalu menyempatkan diri untuk sejenak menyepi, untuk menenangkan diri dalam waktu teduh (ayat 31,32) -AYA

WAKTU TEDUH BERSAMA TUHAN BUKAN SAJA MENYEGARKAN
MELAINKAN JUGA MENYEHATKAN JIWA


SABDA.org

Sealed By God

Today's Scripture

“…I will make you like my signet ring, for I have chosen you,' declares the LORD Almighty” (Haggai 2:23).

Today's Word from Joel and Victoria

We don’t often hear about signet rings anymore; but in Bible times, they were very significant. The signet ring was used to identify the message or messenger and the authority they had. In other words, you knew something was from the king because it was marked by His signet ring. It was representative of power and authority. This verse is saying that you are the mark of authority of Almighty God. You have been chosen and set apart to be identified with Him. When you have someone’s power and authority, you have access to everything they have. It’s like having power of attorney; you have the authority to act on behalf of that individual. As a believer in Jesus, marked with His seal, think of all you have access to today. Think about the authority you have. Everything He has is available to you—healing, provision, strength, peace, joy. You have been given authority to “sign His name” in order to receive His blessings. You are God’s seal, and you are marked to live the abundant life He has in store for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me and calling me Your own. Help me to fully understand the authority You’ve given by Your Son Jesus. I receive all You have for me. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

24 May 2008

Kesaksian Rahib Budha Dari Myanmar

Kesaksian yang luar biasa dari seorang Rahib Budha di Myanmar (Burma) yang hidup kembali menjadi seorang yang diubahkan.

Tahun - tahun awalku
Halo, nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu. Saya dari negara Myanmar. Saya ingin berbagi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit latar belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang tua saya penganut agama Budha yang beriman (taat) seperti kebanyakan orang di Myanmar, memanggil saya si Thitphin (yg artinya pohon).

Kehidupan di mana saya bertumbuh sangat sederhana. Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan juga udang di beberapa sungai besar dan kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 saya jadi pemimpin perahu. Saat itu saya tinggal di utara pulau Mainmahlagyon (Mainmahlagyon artinya pulau wanita cantik), di bagian utara Bogale dimana saya dilahirkan. Tempat ini kira kira 100 mil barat daya Yangoon (Rangoon) ibu kota negara kami.

Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan mencoba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak ada yang mati dalam kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon).

Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat ini ratusan tahun.


Seorang murid yang bersemangat
Pada saat saya mencapai umur 19 tahun 3 bulan (thn 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara saya.

Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing. Nama Rahib kepala ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia. Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu karena pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha jadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan bermeditasi secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Budha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin.

Saya cari penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi. Di kuburan saya tidak takut setan, saya berusaha untuk mencapai kedamaian batin dan sadar diri sampai sampai bila ada nyamuk hinggap ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.

Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Budha suci ini seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Dokter melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya terjangkit penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah sebulan di rumah sakit saya malah makin gawat.

Dokter memberi tahu saya bahwa tak ada harapan sembuh untuk saya dan mengeluarkan saya dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian. Inilah penjelasan singkat masa lalu saya. Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya.


Penglihatan Yang Mengubah Hidup Saya Selamanya
Sesudah saya dikeluarkan dari rumah sakit saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya. Saya makin hari makin lemah dan makin susut karena badan busuk dan bau kematian, dan akhirnya jantung saya berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara pemurnian agama Budha.

Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sadar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat danau api yang sangat sangat besar. Dalam agama Budha kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu bahwa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya seperti singa, tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan.

Dengan gemetar, saya tanya namanya. Dia jawab, "Saya adalah raja neraka, si Perusak!"


Danau Api Yang Sangat Mengerikan
Raja neraka memberi tahu saya untuk melihat ke danau api itu. Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala gundul seorang laki-laki. Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan mobil tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyiksaan ini.

Saya tanya, "Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru yang baik. Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang berjudul 'Apakah anda manusia atau anjing?'. Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang".

Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya dia ada di neraka."

Saya diberi tahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan jubah.

Saya tanya raja neraka, "Siapa orang itu?"

Dia menjawab, "Inilah yang kau sembah, Gautama(Budha)".

Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka.

Saya protes, "Gautama orang baik, mempunyai karakter moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?"

Raja neraka menjawab saya, "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena dia tidak percaya pada Allah yang kekal"

Saya kemudian melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dada-nya.

Saya tanya, "Siapa dia?"

Raja neraka berkata, "Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar".

Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus."

Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus.

Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah, "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya.."

Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Dia enam kali panjang jarak siku sampai ujung jarinya waktu dia luruskan kedua lengannya, ditambah satu jengkal waktu dia rentangkan tangannya. Raja neraka itu berkata orang ini namanya Goliath. Dia di neraka karena dia menghina Allah yang kekal dan hambanya Daud.

Saya bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud.

Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen...

Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia."

Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka.

Saya tanya, "Siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?"

Raja itu menjawab, "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka."

Ketika makanan sudah tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan.

Segera setelah mereka mulai makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak pingsan.

Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka harus makan cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka.

Uang mereka adalah tuhan mereka.

Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar tetap panas.

Mahluk ini bertanya pada saya, "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini?"

Saya jawab, "Tidak! Saya di sini untuk hanya mengamati!"

Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada ujungnya ada 7 pisau tajam.

Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati. Saya tak temukan namamu disini".

Katanya, "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi"

Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini.


Keputusan Untuk Memilih Jalan
Saya jalan cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang percaya Yesus.

Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya. Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan saya.

Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya saya coba tak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang jalan tadi. Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat kesakitan. Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka Saya sadar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang menjalaninya.


Melihat Surga
Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya. Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni. Sungguh murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna.

Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya.Dia memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu.

Oh, alangkah indah dan murninya! Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya.

Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya. Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang kunci ke Surga. Surga tempat yang sangat sangat indah. Kamu tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi".

Orang itu bernama Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke utara dan lihatlah Allah menciptakan manusia".

Saya melihat Allah kekal di kejauhan. Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia."

Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, "Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau")

Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Budha tidak percaya penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya pada rahib itu).


Dikembalikan Dengan Nama Baru
Kemudian Petrus berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangun kuil/kelenteng dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus Kris tus akan ke neraka."

Petrus memberi tahu saya untuk kembali ke bumi dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat.

Dia juga berkata, "Kamu harus bicara dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup)."

Saya tidak mau kembali. Saya ingin tinggal di Surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya), tapi juga tidak tertulis disitu. Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha."

Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara surga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara.

Pada saat di tangga saya lihat banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka sangat sibuk.

Saya tanya Petrus, "Siapakah mereka?".

Petrus menjawab, "Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke Surga nama-nama mereka yang percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya."

Petrus kemudian memberi tahu saya, sudah waktunya untuk kembali.


Hantu!
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis, "Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?"

Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sadar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak Ibu dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!"

Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari secepat kaki mereka membawanya. Mereka yang tertinggal, diam dan bergemetaran.

Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap baunya, cairan tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari perut dan bagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati.

Inilah sebabnya orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cairan yang keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cairan seperti yang saya alami. Saya diberi tahu kemudian bahwa hanya beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan kedalam peti mati, tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya akan dikremasikan. Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran.

Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beri tahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan. Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!


Penutup
Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada Yesus. Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke Surga, Yesus Kristus.

Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia tak pernah ragu maupun bimbang. Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya..

Dalam mengambarkan pesannya sebanyak mungkin pada orang-orang.

Lazarus modern ini mulai membagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya.

Kesaksian yang baru saja Anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu.
Kami diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya dipenjara, di mana yang berwenang telah gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar.

Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara sumber di Burma mengatakan bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya.


Tuhan Berkati