Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

24 November 2011

Pengemis Suruhan Tuhan

James Glaymor, seorang misionaris di Mongolia, pada satu saat diminta untuk menangani beberapa prajurit yang terluka. Meskipun ia bukan seorang dokter, ia memiliki cukup pengetahuan medis dasar, sehingga ia tidak dapat menolak permohonan itu. Ia membalut luka-luka dari dua orang, namun orang yang ketika menderita patah tulang pinggul yang parah, Misionaris itu tidak tahu apa yang ia harus lakukan terhadap luka yang demikian itu.

Dengan berlutut di samping orang itu, ia berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menjawab doanya itu, namun ia yakin bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhannya. Ia tidak bisa menemukan buku-buku tentang phisiologi di rumah sakit yang sahaja itu dan tidak ada seorang dokter yang datang untuk membantunya. Keadaannya lebih parah lagi dengan kehadiran serombongan pengemis yang tiba untuk meminta sedekah. Ia sangat prihatin terhadap pasien itu, sedangkan hatinya pun disentuh oleh kehadiran orang-orang itu. Dengan terburu-buru ia memberikan kepada mereka hadiah-hadiah kecil ditambah dengan beberapa ucapan ramah untuk menghibur mereka.

Sesaat kemudian dengan rasa tak percaya ia memandang kepada seorang pengemis yang agak ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Orang sial itu yang sedang kelaparan tidak lebih dari pada sebuah kerangka hidup dibungkus kulit.

Misionaris itu sesaat sadar, bahwa Tuhan telah mengirim kepadanya sebuah pelajaran anatomi hidup! Ia bertanya kepada orang tua itu apakah ia diperkenankan untuk memeriksanya. Setelah ia dengan hati-hati mengikuti bentuk tulang paha dengan jari-jarinya untuk belajar bagaimana menangani patah tulang itu.

Beberapa tahun kemudian, Gilmour seringkali mengisahkan bagaimana Tuhan telah menjawab yang aneh namun sunguh efisien dan praktis doa-doanya yang tulus itu.
Bila kita mengajukan permohonan kita, kitapun mendapat kepastian bahwa Tuhan akan menolong kita – sekalipun jawaban-Nya kadang-kadang melalui mereka yang “tidak punya kekuatan”

“Our Daily Bread”

Konsekuensi Sebuah Keputusan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 1-3
Nats : Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya (Matius 8:20)

Bacaan : Matius 8:18-22

Aktivitas paling menyenangkan di keluarga kami adalah perbincangan sebelum tidur malam. Suatu kali si bungsu menceritakan keinginannya menjelajah dunia mencari beasiswa untuk sekolah di banyak tempat dan berkarier di banyak negara. Saya memang bangga dengan prestasinya. Namun, saya mengingatkannya pada konsekuensi cita-cita itu: ia harus belajar dan bekerja lebih keras supaya dapat meraih beasiswa dan mampu bersaing dengan tenaga kerja terdidik lainnya.

Tampilnya Yesus dengan pengajaran yang berkharisma, dengan kuasa ilahi untuk menyembuhkan, serta kepribadian-Nya yang hangat, memesona begitu banyak orang. Lalu sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang ahli Taurat kaum yang "biasanya" memusuhi dan mencari kesalahan Yesus dengan penuh kekaguman menyapa Yesus sebagai "rabi" (guru besar). Bahkan, ia menyatakan kerinduan untuk ikut Yesus ke mana pun. Saat menanggapinya, Yesus seolah-olah berkata: "Sebelum mengikut Aku, sadarilah keputusanmu, sebab ada harga yang harus kaubayar."

Yesus tak ingin menggalang pengikut yang hanya terseret emosi sesaat. Semangatnya mudah berkobar, tetapi sebentar kemudian surut dan lenyap. Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib (Matius 10:38), lebih mengutamakan Dia di atas kepentingan sendiri dan keluarga (Lukas 14:26), dan membagikan harta bagi orang miskin (Matius 19:21). Sanggupkah Anda memikul konsekuensi dari keputusan mengikut Dia? Jangan ambil keputusan karena emosi atau ambisi. Ambillah keputusan karena Anda menyadari bahwa Dia yang memanggil maka Dia akan memampukan Anda untuk setia mengiring dan melayani-Nya --SST

IKUTLAH YESUS BUKAN UNTUK MENCARI BERKAT
TETAPI UNTUK MENJADI BERKAT

Sabda.org