Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

18 October 2011

Cinta Perkawinan

Di kota kecil Siroki Brijeg daerah Herzegovina, kurang lebih 20 mil dari Medjugorje, dikisahkan bahwa dalam catatan paroki sekitar 13 ribu umat tidak ada perceraian. Sepanjang ingatan orang, di sana tidak ada keluarga yang berantakan. Apakah orang-orang di sini mendapat siraman rahmat istimewa atau
previlese khusus dari surga untuk mengalami perkawinan yg kokoh kuat seperti ini? Padahal orang-orang ini selama berabad-abad menderita penindasan dan penganiayaan karena iman yang teguh ada Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan
bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Dari pengalaman mereka sangat yakin bahwa sumber keselamatan satu-satunya datang dari Salib Kristus.

Orang-orang Kroasi mempunyai suatu tradisi perkawinan yang indah, yang menjadi inspirasi bagi peziarah dari manca negara. Bila pasangan muda-mudi akan menikah, orang-orang tidak akan menyatakan bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal yang mereka impikan, melainkan imam akan mengatakan kepada mereka, "Kamu telah menemukan salibmu! Istri adalah salib untuk suami dan suami adalah salib untuk istri. Dan sebuah salib harus dicintai dan untuk dipanggul. Sebuah salib tidak untuk dibuang melainkan untuk disandang (panggul) dan disayangi."

Selanjutnya pada waktu pemberkatan pernikahan, pengantin wanita meletakkan tangan kanannya di atas salib dan mempelai pria menumpangkan tangannya di atasnya, dengan demikian kedua tangan mereka terikat bersama-sama satu di atas yang lain di atas salib Kristus. Kemudian imam menumpangkan stola ke atas tangan-tangan mereka. Pasangan itu lalu mengucapkan janji setianya, berdasarkan rumusan Liturgis Gereja. Setelah janji setia diucapkan keduanya tidak saling berciuman melainkan mencium salib! Mereka sadar bahwa yang mereka cium itu adalah sumber kasih! Pasangan itu dan semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tahu bahwa bila sang suami melepaskan istrinya, berarti ia melepaskan salib demikian juga jika sang istri melepaskan suaminya maka ia pun melepaskan salib! Dengan begitu mereka kehilangan segala-galanya karena mereka melepaskan Kristus. Buah dari cinta kasih mereka, adalah buah dari salib mereka yaitu anak. Berbicara mengenai kesatuan keluarga berarti berbicara mengenai kesatuan suami-istri- anak. Perekatnya adalah salib.

Hampir setiap hari di seluruh dunia, media massa tidak pernah sepi menyajikan berita menyedihkan mengenai perceraian, kekerasan dalam keluarga, aborsi, penjualan anak, dan lain-lain. Dalam situasi seperti ini yang paling menderita akibatnya adalah anak-anak, makhluk yang tidak berdaya. Kisah hidup keluarga seperti itu di kota kecil Siroki Brijeg, Herzegovina di atas hendaknya membawa kesejukan dan inspirasi di tengah gemuruh badai berita mengenai perpecahan dan kehancuran ikatan keluarga / rumah tangga.

Belenggu Bukan Masalah

Bacaan Setahun : Matius 8-10

Nats : Dari Paulus, seorang tahanan karena Kristus Yesus .... Kepada Filemon yang terkasih, teman sekerja kami (Filemon 1:1)

Bacaan : Filemon

Lie Tjiu Kie berusia 94 tahun. Meski sudah berusia lanjut dan harus duduk di kursi roda, ia terus melayani Tuhan dan menjadi berkat. Setiap hari ia berdoa bagi keluarga dan saudara-saudaranya yang belum percaya. Bahkan ketika ia sakit dan banyak dikunjungi, ia memakai kesempatan itu untuk mengajak saudara-saudaranya yang belum percaya untuk beriman kepada Kristus. Salah satunya, beberapa tahun lalu beliau meminta orangtua saya datang beribadah ke gereja. Hasilnya, orangtua saya sungguh-sungguh mau datang ke gereja untuk kali pertama, tepat ketika saya bernyanyi di paduan suara pada perayaan Natal.

Keadaan lemah dan terpenjara tak membuat Paulus berhenti mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Justru dalam keadaan demikian ia bisa banyak menulis, salah satunya menulis kitab Filemon. Dan melakukan pelayanan yang berarti, khususnya bagi Onesimus. Ya, di kitab ini kita membaca tentang Onesimus budak Filemon yang melarikan diri. Ketika Onesimus bertemu Paulus kemungkinan besar di penjara ia mendengar Injil dari Paulus dan menjadi orang percaya. Dari situ, Paulus menulis surat kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman.

Saat ini mungkin kita merasa terbelenggu dengan keadaan: kelemahan tubuh; usia senja yang membuat kita tak lagi leluasa bergerak; atau kesibukan pekerjaan. Apakah keterbatasan-keterbatasan ini menghalangi kita untuk melayani Tuhan? Atau justru memacu kita untuk bangkit dan kreatif mencari cara, sehingga di tengah kelemahan pun kita tetap dapat bersaksi tentang Tuhan? --VT

SELAGI HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN
MASIH ADA KESEMPATAN MELAYANI TUHAN

Sabda.org