Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 September 2008

The Power of Prayer

A man's daughter had asked the local minister to come and pray with her father. When the minister arrived, he found the man lying in bed with his head propped up on two pillows. An empty chair sat beside his bed. The minister assumed that the old fellow had been informed of his visit.

"I guess you were expecting me," he said.

"No, who are you?" said the father.

"I'm the new minister at your church," he replied. "When I saw the empty chair, I figured you knew I was going to show up."

"Oh yeah, the chair," said the bedridden man. "Would you mind closing the door?"

Puzzled, the minister shut the door. "I have never told anyone this, not even my daughter," said the man. "But all of my life, I have never known how to pray. At church I used to hear the pastor talk about prayer, but it went right over my head."

"I abandoned any attempt at prayer," the old man continued, "until one day about four years ago, my best friend said to me, 'Johnny, prayer is just a simple matter of having a conversation with Jesus. Here is what I suggest. Sit down in a chair; place an empty chair in front of you, and in faith see Jesus on the chair. It's not spooky because he promised, "I'll be with you always." Then just speak to him in the same way you're doing with me right now."

So, I tried it and I'veliked it so much that I do it a couple of hours every day. I'm careful though. If my daughter saw me talking to an empty chair, she'd either have a nervous breakdown or send me off to the funny farm."

The minister was deeply moved by the story and encouraged the old man to continue on the journey. Then he prayed with him, anointed him with oil, and returned to the church. Two nights later the daughter called to tell the minister that her Dad had died that afternoon.

"Did he die in peace?" he asked.

"Yes, when I left the house about two o' clock, he called me over to his bedside, told me he loved me and kissed me on the cheek. When I got back from the store an hour later, I found him dead. But there was something strange about his death. Apparently, just before Daddy died, he leaned over and rested his head on the chair beside the bed. What do you make of that?"

The minister wiped a tear from his eye and said, "I wish we could all go like that."

From 2 Corinthians 5:6-8 -- "So we are always confident, even though we know that as long as we live in these bodies we are not at home with the Lord. That is why we live by believing and not by seeing. We live by faith, not by sight."

Author Unknown

Sindrom Mesias

Nats : Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga (Matius 18:4)

Bacaan : Matius 18:1-5

Milton Rokeach, seorang psikolog, merasa kewalahan menyembuhkan tiga pasiennya yang menderita "sindrom Mesias". Mereka menganggap dirinya sebagai penyelamat dunia. Sulit sekali menyadarkan ketiganya tentang siapa mereka sebenarnya. Suatu kali, mereka bertiga diajak berdiskusi dalam suatu terapi kelompok. Orang pertama berkata, "Akulah Mesias, anak Allah yang diutus menyelamatkan dunia."

"Bohong! Dari mana kamu tahu?" bantah orang kedua.

"Tuhan berbicara kepadaku," jawab orang pertama.

Tiba-tiba orang ketiga berseru: "Siapa bilang? Aku tak pernah berkata begitu kepadamu!"

Para murid Yesus pun pernah mengalami sindrom Mesias saat mereka mempersoalkan siapa di antara mereka yang terbesar. Tiap-tiap orang merasa paling unggul, paling layak, paling berjasa, atau paling rohani. Yang diincar bukan lagi pelayanan, tetapi keuntungan. Itu sebabnya Yesus meminta mereka agar bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Seorang anak tidak memedulikan status atau gengsi. Ia mengakui dirinya tak berdaya dan bergantung sepenuhnya pada orang lain. Inilah kerendahan hati sejati. Jika ingin masuk ke dalam kerajaan surga, seseorang tak boleh merasa dirinya berjasa.

Sindrom Mesias bisa juga terjadi di gereja. Banyak konflik terjadi karena orang saling bersaing, berebut kuasa, atau merasa dirinya hadir sebagai "penyelamat". Yang senior berkata, "Karena sayalah, gereja ini berdiri!" Yang yunior berkata, "Kamilah pembaru gereja. Tanpa kami, gereja ini sudah mati ditelan tradisi!" Berhati-hatilah! Ketika kita membangun kerajaan kita sendiri, bisa-bisa kita semakin jauh dari kerajaan-Nya -JTI

TIADA TEMPAT DI KERAJAAN SURGA
BAGI MEREKA YANG MERASA DIRI SEGALA-GALANYA

Yayasan Gloria

Pohon Bambu

Alkisah disuatu desa yang begitu rindang, yang dipenuhi dengan perpohonan disekitarnya, tumbuhlah sebuah pohon mahoni yang begitu besar, menjulang tinggi seolah-olah ingin memberitahukan dunia betapa kuatnya dia, yang terlihat gagah.

Tampak dia begitu memancarkan pesona wibawa bagi siapapun yang melihatnya. Tak jauh dari tempat pohon mahoni itu berada, tumbuhlah sebatang bambu yang mendampingi pohon mahoni tersebut. Namun apabila dilihat dari kasat mata, sungguh suatu pemandangan yang begitu kontras, bagaikan langit dan bumi, pohon mahoni yang begitu gagahnya dengan ranting-ranting besar yang menghiasinya, dan sebatang bambu yang begitu ramping, dengan dahan yang melengkung ke bawah.

Walaupun mereka berbeda, namun mereka selalu hidup berdampingan, sang bambu yang rendah hati selalu menyapa pohon mahoni setiap harinya, mereka berbincang dan berbincang. Pohon mahoni selalu suka menyombongkan dirinya, betapa besar dan hebatnya dia, sang bambu tidak pernah jemuh untuk mendengarkan kesombongan si pohon mahoni sambil tersenyum dia selalu membalasnya dengan pujian dalam ketulushatiannya.

Suatu malam hujan deras menguyur desa tersebut disertai angin yang berhembus dengan kencangnya. Suara gemuruh guntur turut membuat suasana cekam malam hari itu, banyak pohon-pohon bertumbangan, karena tidak kuat menghadapi hembusan angin kencang. Si pohon mahoni dan bambu pun turut terkena terpaan angin kencang, mereka mencoba bertahan dan berusaha untuk tidak tumbang.

Sang pohon mahoni yang panik, berusaha menahan angin kencang tersebut dengan badan nya yang besar. Namun badannya tidak cukup besar untuk menahan laju angin yang begitu kencang, dan akhirnya tumbanglah pohon mahoni tersebut.

Sang bambu yang berada disampingnya pun terkena tiupan angin kencang, namun dia tidak menahan deruan angin kencang, dia hanya mengikuti kemana pun arah tiupan anginnya, dengan fleksibelnya dia bergemulai dengan hembusan angin, dan akhirnya angin kencang telah berlalu, sebatang bambu tetap tumbuh dengan indahnya, disamping pohon mahoni yang tumbang akibat terpaan angin kencang.

Dalam pencapaian sukses, manusia selalu dihadapi oleh realitas masalah yang selalu datang silih berganti. Namun menjadi insan yang sukses harus mampu menghadapi masalah tersebut dengan kefleksibelan diri kita mengikuti dan mengetahui sebenarnya masalah yang sedang kita hadapi dan melakukan penyelesaian dengan fleksibel.

Seperti sebatang bambu yang mengikuti terpaan angin dengan fleksibel, begitu juga kita harus menyikapi masalah dan tidak kaku akan satu penyelesaian saja. Karena apabila kita hanya monoton, dan menggangap kita hebat tanpa berusaha fleksibel, dengan memberikan solusi yang sama pada suatu masalah, niscaya kita akan tumbang seperti pohon mahoni yang besar.