22 October 2008
Keajaiban Selalu Ada
Tiga bulan yang lalu, mama terkena kanker tulang stadium 4b, yang artinya sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar ambang batas.
Scan berhasil menunjukkan 5 tempat hitam (yang menunjukkan bahwa sudah terkena kanker) yaitu di pinggul, lutut kanan, tulang punggung, bahu-tangan kanan, dan tulang tengkorak. Serta beberapa bagian lain yang mulai tampak abu-abu ke hitam. Sedangkan bagian lain yang belum menyebar, berwarna putih bersih.
Keluarga sudah membawa dia ke beberapa dokter ahli tulang, ahli patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama, mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga di chemotherapy (karena akan terlalu menyakitkan untuk dia) maka keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah sakit, begitu mereka bilang.
Perkiraan mereka 1-3 bulan saja usianya (kalau dia bisa makan dengan normal) sisanya, tinggal menunggu koma.
Sedangkan, beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai menjerit2 kesakitan di tempat2 yang memang tampak hitam dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga. Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak heran kata dokter, mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak? Dokter hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya tidak tertahankan.
Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat di Singapore, tanpa hasil malah semakin parah. Teman yang lain pun menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya diberikan morfin sebagai pain killer. Keluarga semakin bingung, sedangkan melihat penderitaanya pun rekan-rekan yang menengok pasti menangis. Apalagi kita, anak-anaknya?
Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta ijin pada satu kakak saya yang kebetulan sama beragama Kong HuChu dengan mama. (Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik). Mama minta cepat-cepat di baptis karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak ada lagi. Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui.
Memang, beberapa waktu sebelumnya, mama pernah bilang ingin minta dibaptis secara katolik. Diakon datang, untuk menyakan, apakah ini keinginan sendiri atau terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan.. Ia memang ingin dibaptis sendiri. Akhirnya besok paginya ia dibaptis (kira2 2,5 bulan dari sekarang). Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam setelah dibaptis, ia bisa tiba-tiba bangun sendiri dan berteriak memanggil anak-anaknya. Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan kondisinya semakin memburuk. (bergeser/bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!)
Keanehan lain, dua hari berturut2 setelah baptis, ia minta komuni. Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuan nya untuk bergerak dan makan. Beliau juga sudah tidak lagi menjerit-menjerit kesakitan. Kami merasa heran, bahkan dokter yang memeriksanya pun berdecak kagum. Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai. Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama sebelumnya sudah mulai sulit bernafas.
Kami heran, semua tak percaya. Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini. Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-november ini (karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan) untuk mengetahui apa yang terjadi. Dua minggu yang lalu, seorang kerabat yang melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak percayaannya. Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami yang kristen/katolik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya mujizat! Mujizat itu tidak ada, yang ada hanyalah mungkin, kesalahan diagnosa.
Koko saya yang beragama KongHuchu pun malah mendukung kita, bahwa tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban. Sampai mid november kemarin, kami tidak bisa berkata apa-apa. Karena sejak semula, anak-anaknya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit-menjerit kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan lagi, bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi, amazing!!
Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan bertanya, obat apa yang kita berikan kepada mama. Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan secepat ini, mengingat usianya. Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaan-Nya. Saat kami bilang mama tidak diobati. Dokter tersebut (yang kebetulan beragama Muslim) berkata bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunujukkan, hitam di 5 tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di tulang panggul!
Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang harus kita lakukan untuk beliau? Dokter cuma menjawab, “Ya tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa, kan? Jangan berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!”
Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil kepada dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan kagum. “Ini mujizat!” katanya. (rupanya ia katolik/kristen)
Baru koko saya pun percaya. This is miracle. Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau menjerit-menjerit kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami semua, anak-anaknya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela, menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu yang muluk-muluk, tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti, mama sudah digunakan Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia.
Tak ada obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri. Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini untuk keluarga sendiri saja. Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal. Ada ucapan Rm Yohanes di bukunya yang amat saya sukai : Kesembuhan fisik hanyalah sarana, untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya setiap orang harus meninggal..
God Bless u all,
Ina
Humor : Nangka
Seorang pria menenteng keranjang sambil melangkah ke pintu masuk bandara di Dekai, Yahukimo, lalu terdengar bentakan dari seorang sekuriti.
Sekuriti : Hey, berhenti, tidak boleh membawa binatang ke dalam pesawat! Apa itu yang kamu bawa?
Penumpang : Nangka, Pak ....
Sekuriti : Tapi kok gerak-gerak?
Penumpang : Ini benar Nangka Pak ....
Sekuriti : Kalo begitu silakan masuk. Tapi ingat! Kalau kamu menipu, saya hajar kamu!!
Saat masuk ke bandara, tiba-tiba ada suara gonggongan kecil dari dalam karung itu.
Sekuriti : Nah, kamu bohong kan ..., itu tadi bunyi apa? Sekarang buka keranjangnya!!!
Penumpang : Ini memang anak anjing, Pak, tapi namanya Nangka!
Sediakan Waktu
Nats : Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15)
Bacaan : Efesus 5:14-21
Saya mendapat puisi ini dari sebuah e-mail yang dikirim seorang teman di Jakarta:
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kejernihan.
Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa Anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu Anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia Anda sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik bagi jiwa.
Sediakan waktu bersama keluarga, itulah mutiara paling indah.
Sediakan waktu pribadi untuk di bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.
Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun. Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya, tetapi ada juga orang yang "nol besar" alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.
Rasul Paulus membedakan orang arif dengan orang bebal dari cara hidupnya. Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Tergolong yang manakah kita? Orang arif atau orang bebal? -AYA
WAKTU TIDAK AKAN TERULANG, SEKALI BERLALU SELAMANYA BERLALU PERGUNAKAN WAKTU SEBAIK-BAIKNYA DAN SEBENAR-BENARNYA
Yayasan Gloria






