Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 November 2008

Piano Merah Mahogany

Bertahun-tahun lalu, ketika saya masih seorang pemuda berusia dua puluhan saya bekerja sebagai sales perusahaan piano St. Louis. Kami menjual piano seluruh negara bagian melalui iklan-iklan kecil di surat kabar. Jika ada tanggapan yang cukup serius, barulah kami mengangkut piano itu ke atas mobil-mobil pick up kami, pergi ke alamat yang dituju, dan menjual piano-piano kami kepada orang-orang yang sudah memesan.

Setiap kali kami mengiklankan barang dagangan kami di daerah kapas Southeast Missouri, kami selalu berulang2 menerima pesanan dari seorang nenek lewat sebuah kartu post mengatakan, "Tolong kirimkan sebuah piano baru untuk cucu kecil saya. Warnanya harus merah mahogany. Saya sanggup membayarnya sepuluh dollar sebulan dari hasil menjual telur."

Tulisan wanita tua itu memenuhi seluruh halaman belakang kartu posnya, sampai terisi semua. Lalu dia melanjutkan tulisannya ke bagian depan kartu postnya, bahkan sampai ke pinggirannya, sehingga hanya menyisakan sedikit sekali ruang untuk menulis alamat. Kami tidak mungkin menjual piano dengan cicilan sepuluh dollar sebulan. Tidak akan ada satupun lembaga keuangan yang mau menyetujui kontrak pembayaran sekecil itu. Jadi, kami abaikan saja kartu postnya.

Tetapi, pada suatu hari, kebetulan saya sedang berada di wilayah itu, melayani tanggapan-tanggapan dari pelanggan lain, dan hanya iseng-iseng saya mencari alamat wanita tua itu. Saya menemukan suatu tempat yang hampir sama dengan yang ada dalam bayangan saya. Dia tinggal di sebuah gubuk kecil satu ruang, di tengah hamparan ladang pohon kapas. Lantai kotor, dan ayam berkeliaran di dalam rumah.

Jelas, wanita ini tidak memenuhi syarat untuk membeli barang dengan kredit. Dia tidak punya mobil, tidak punya telepon, tidak punya pekerjaan. Yang dia punya hanyalah atap yang menaungi kepalanya, dan sama sekali bukan tipe yang bagus Bahkan saya bisa melihat sinar matahari lewat celah-celahnya. Cucu kecilnya berumur kira-kira sepuluh tahun, telanjang kaki, dan mengenakan baju dari karung goni.

Saya menjelaskan kepada wanita itu bahwa kami tidak bisa menjual sebuah piano baru dengan bayaran sepuluh dollar sebulan, dan bahwa dia tidak perlu lagi menulis surat kepada kami setiap kali dia melihat iklan kami disurat kabar lokalnya. Saya beranjak dari tempat itu dengan perasaan pedih, tetapi ternyata saran saya sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia tetap saja mengirimkan kartu post dgn bunyi yang sama, setiap enam minggu. Meminta piano baru dengan warna merah mahogany, dan berjanji tidak menunggak cicilan sepuluh dollar sebulan itu.

Hati saya berkecamuk. Beberapa tahun kemudian, saya memiliki perusahaan piano sendiri, dan ketika saya mengiklankan barang dagangan saya ke wilayah itu, kartu postnya mulai datang ke kantor saya. Berbulan-bulan lamanya, saya mengabaikannya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa? Lalu, suatu hari, saya kembali berada di wilayah itu, sesuatu terlintas dalam hati saya. Kebetulan saya membawa piano merah mahogany di pickup kecil saya. Meski saya tahu, bahwa saat itu saya akan membuat suatu keputusan bisnis yang edan, saya memutuskan untuk datang lagi ke gubuknya, dan memberitahunya bahwa saya bisa menerima kontrak itu secara pribadi. Saya katakan, dia boleh membayar sepuluh dollar sebulan tanpa bunga, dan berarti harus membayar sebanyak lama puluh dua kali cicilan. Saya bawakan piano baru itu ke dalam rumahnya dan menempatkannya di suatu sudut yang kira-kira tidak akan kena air hujan. Saya menasehati wanita itu dan cucu kecilnya untuk menjaga agar ayam jangan sampai menyentuh pianonya, lalu saya pergi dengan pikiran bahwa saya baru saja membuang sebuah piano baru. Tetapi cicilan ternyata benar-benar datang, lunas sampai lima puluh dua kali, seperti yang telah disepakati - kadang ada uang receh di dalam amplop yang berukuran tiga kali lima inci itu. Luar biasa!

Dua puluh tahun lamanya, saya melupakan kejadian itu begitu saja. Lalu, pada suatu hari di Memphis, ketika sedang melakukan perjalanan bisnis lain, dan setelah makan di hotel Holiday Inn, saya masuk ke lobbynya. Saya mendengar alunan musik piano yang begitu indah dari arah belakang saya. Saya menoleh dan melihat seorang wanita muda yang cantik, sedang memainkan sebuah grand-piano mewah. Karena saya sendiri juga bisa bermain piano, saya merasa kagum pada kepiawaiannya memainkan alat musik itu. Saya mengangkat gelas minuman saya dan berpindah ke meja di sebelah sang pianis, supaya saya bisa mendengarkan dan memperhatikan permainannya dengan lebih jelas. Dia tersenyum pada saya, menanyakan apa lagu yang saya minta, dan ketika beristirahat sejenak, dia duduk didepan meja saya.

"Bukankah Anda orang yang dulu menjual piano kepada nenek saya?" tanyanya. Saya sama sekali tidak ingat, maka saya minta dia menjelaskan. Mulailah dia bercerita, dan mendadak saya ingat. Ya Tuhan, ternyata dia adalah gadis kecil telanjang kaki berbaju karung goni itu! Dia memberitahu bahwa namanya Elise. Karena neneknya tidak bisa membiayainya les piano, maka dia belajar memainkan pianonya dengan mendengarkan radio. Lalu dia mulai bermain piano di gereja, yang harus ditempuh oleh dia bersama neneknya dengan jarak dua mil dari rumah mereka. Dia juga bermain piano di sekolah, dan telah meraih banyak penghargaan dan akhirnya beasiswa sekolah musik. Lalu dia menikah dengan seorang pengacara di Memphis, dan dia membelikannya sebuah grand-piano yang sekarang dimainkannya itu.

Sesuatu terlintas di kepala saya. "Elise," sapa saya, "Ruangan ini agak gelap. Apa warna piano itu?" 

"Merah mahogany," katanya. "Kenapa?"

Saya membisu. Mengertikah dia arti kata merah mahogany itu? Sadarkah dia akan kegigihan neneknya yang tidak masuk akal itu, yang memaksa harus piano merah mahogany, padahal tidak seorang waraspun saat itu yang mau menjual piano apapun padanya? Saya rasa tidak.

Kalau begitu apakah dia menyadari kesuksesan hebat yang telah berhasil diraih seorang gadis kecil hina berpakaian bahan karung goni itu? Tidak, saya yakin dia juga tidak mengerti hal itu. Tetapi saya sangat mengerti, dan kerongkongan saya terasa tersumbat. Akhirnya, saya berhasil menemukan lagi suara saya. "Saya hanya ingin tahu apa warna piano itu," kata saya. "Saya bangga pada Anda. Maaf, saya harus kembali ke kamar saya."

Saat itu saya benar-benar harus segera masuk ke kamar saya, sebab saya sadar bahwa laki-laki tidak pantas menangis di muka umum.

JOE EDWARDS
Joe Edwards menghabiskan hampir seluruh usia produktifnya sebagai seorang pianis jazz di klub-klub malam Kansas City. Sekarang dia telah pensiun, tetapi masih sering bermain piano pada acara-acara resepsi pernikahan di sekitar Springfield, Missouri

Dari buku Heartwarmers
Karisma press

Anjing Pandai

anjingBaru-baru ini,seekor anjing dari Pingtong, Taiwan yang bernama Hallo menjadi top di internet, dipuji-puji sebagai anjing paling cerdas di muka bumi. Ternyata, ia bisa ke supermarket untuk membeli hotdog, bisa membantu penjual pinang membuka lemari es mengamnbil barang dan memberikannya pada tamu, bahkan juga bisa berdiri dengan ke empat kakinya di atas gelas kaca.

Menurut laporan China Post Taiwan, pemilik anjing ini mengelola toko pinang, banyak pembeli yang menunjuk anjing ini untuk membeli pinang, melihatnya membuka pintu lemari es, menggigit bungkusan pinang dan ketangkasannya meletakkan bungkusan pinang di atas meja, sehingga para tamu dibuatnya senang oleh tingkah lakunya.

Dulu, anjing ini bisa mengantar pinang, melewati jalan sambil menggigit kantong berisi buah pinang, kemudian pembeli menaruh uang ke dalam kantong. Suatu ketika, hampir saja ia ditabrak sepeda motor, karena pemilikknya merasa terlalu bahaya, maka baru menghentikan tugas si anjing mengantar pinang.

Anjing bernama “Hallo” ini menggigit kantong plastik berisi uang, pergi ke supermarket sebelah membeli barang. Menurut pelayan supemarket, bahwa melihat uang dikantongnya, ia sudah tahu apa yang mau dibelinya, uang koin senilai 10 dollar Taiwan untuk membeli peppermint, 22 dollar uang koin untuk membeli Hotdog. Jika sang pemilik hendak membeli daging kalengan, maka pemiliknya akan melampirkan sehelai catatan di dalam kantong dengan keterangan rasa daging sapi, sebab “Hallo” tidak suka makan daging kalengan rasa ayam.

Petugas supermarket menuturkan, “Hallo” adalah anjing pelanggan yang baik, bahkan bisa ikut antri saat lagi ramai, dan ketika tiba gilirannya,ia meletakkan kaki depannya ke atas meja kasir, menunggu petugas menghitung uang pembayaran baru kemudian memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam kantong; terkadang ia akan mondar mandir di supermarket yang ber-AC karena ingin merasakan sejuknya tiupan Air Conditioner, sang pemilik juga berpesan padanya untuk “segera kembali, jangan bersejuk-sejukan dengan AC”.

Humor : Potong Rambut

Berikut adalah perbedaan wanita dan pria ketika mereka akan memotong rambut di salon.

Versi wanita:

Wanita 1 : "Oh! Kamu potong rambut ya!? Cantik sekali!"

Wanita 2 : "Apa iya? Aku ngga begitu yakin potongan rambutku ini cocok. Maksudku, apa model seperti ini ngga konyol?"

Wanita 1 : "Ngga! Potongan rambutmu sempurna. Aku juga ingin dipotong seperti itu, tapi aku rasa wajahku terlalu lebar. Aku rasa aku sudah terlalu lama menggunakan model potongan rambut seperti ini terus."

Wanita 2 : "Serius kamu?! Aku rasa wajahmu cantik. Dan kamu bisa dengan mudah potong dengan model seperti ini -- dan model potongan rambut itu kan pas sekali. Aku juga ingin potong seperti itu sebenarnya, tapi aku takut nanti leherku terkesan panjang."

Wanita1 : "Ngga juga! Aku aja ingin punya leher sepertimu loh! Punya leher sepertimu pasti akan membuat orang tidak melihat bahuku yang jelek ini."

Wanita 2 : "Kamu ngga bercanda itu! Banyak wanita yang ingin punya bahu sepertimu. Semuanya sempurna. Maksudku, lihatlah lenganku, lihatlah betapa pendeknya lenganku. Jika aku punya bahumu, aku pasti bisa cari baju yang pas buatku dengan lebih mudah."


Versi pria:

Pria 1 : "Potong rambut?

Pria 2 : "Iya!"