Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 June 2008

Humor : Pendeta

Pendeta Abdul sedang mengajar Sekolah Minggu.

"Anak-anak, kalo saya menjual mobil dan rumah saya yang garasinya gede, lalu memberikan semua hasil penjualan itu ke gereja, apakah saya bisa masuk surga?" tanya Pendeta Abdul.

"Tidak!!" jawab anak-anak serempak.

"Nah, kalo saya membersihkan gereja tiap hari, memotongi rumputnya, dan memastikan segala sesuatu yang ada di gereja selalu rapi dan bersih, bisa nggak saya masuk surga?" tanya Pendeta Abdul lagi.

Anak-anak menjawab lagi, "Nggak bisa!"

"Baiklah. Kalo sekarang saya seorang penyayang binatang dan suka memberi permen ke anak-anak, dan mencintai istri saya dengan sepenuh hati, sudah bisakah saya masuk surga?" Pendeta Abdul bertanya lagi.

Sekali lagi jawaban anak-anak, "Nggak bisa!"

"Ok, Ok," lalu ia meneruskan, "Jadi gimana donk caranya masuk surga?"

Seorang bocah berusia 5 tahun berteriak keras, "Bapak Pendeta harus mati dulu!"

Setelah Kau Menikahiku Bag. I

Puspita tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Idan untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.

"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah," gerutuku.

Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"

Aku mengangguk cemberut. "Apa jawabanmu kali ini?" godanya.

"Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke
kamar."

Idan terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.

"Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror."

Idan tersenyum . "Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga."

"Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya," komentarku.

Alis Idan terangkat. "Kenapa?"

"Pernikahan hanya memperumit hidup perempuan. Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih sulit."

"Persis!" potongku.

"Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanya kesulitan?"

"Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"

"Sok tahu," cibirku.

"Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah."

<span id="fullpost">"Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."

"Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?"

Idan tersenyum. "Ya, memang."

"Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!"

"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."

Dan aku menghela nafas panjang. "Ah, ya. Calon."

"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?"

"Ya, " gumamku enggan.

"Bukan karena kau sama sekali antimenikah."

Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta."

"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?"

"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku pahit.

"Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku
pergi."

"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."

"Idan!" kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.

"Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.

"Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja," aku terdiam.

"Apa?"

"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat."

"Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali."

Aku menggeleng. "Semua laki-laki binatang."

"Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki."

"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."

Idan terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.

"Idan!" desisku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"

"Pit, kau sadar kalau aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.

"Idan, Idan," desahku.

"Kalau kau memang mau menikah, berobatlah." Ia tergelak.

"Dan kau. Kalau kau memang mau menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki."

"Aku tidak bisa, Dan."

"Berarti kau memang tidak bisa menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan?"

"Idan!" walaupun nada suaraku keras, aku tak bisa menahan senyum mendengar
pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.

"Apa kau pernah berpikir tentang ibumu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. "Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu."

"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali manyun.

"Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu."

"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku salah," Idan membungkuk dalam-dalam.

"Jadi, dengan asumsi kau tidak sama sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan itu?"

Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alasan bagiku untuk menikah."

"Bagaimana dengan keturunan?"

"Anak? Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa, Dan? Untuk apa?"

Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta mungkin?"

"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku.

"Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?"

"Berapa lama?"

"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi."

"Imajinasi?"

"Kalau kau terjebak di dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi gila."


Bersambung ke Bagian II

Weekend Scripture 21/06/2008

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak" (Mazmur 37:3-5)

Bukan Pihak Penting

Nats : Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan segala jalanmu (Amsal 3:6)

Bacaan : Hosea 8:1-6

Beberapa waktu yang lalu, seorang kolega marah terhadap saya. Usut punya usut ternyata ia kecewa karena saya lupa tidak memberitahukan suatu berita penting kepadanya. Kelalaian saya ternyata menyebabkan dia merasa bahwa saya tidak menghargainya, tidak menganggapnya penting. Sikap saya telah menyakiti hatinya.

Di masa Nabi Hosea hidup, bangsa Israel juga pernah menyakiti Tuhan dengan cara yang serupa. Walaupun Allah telah menyatakan diri secara jelas dalam memimpin kehidupan mereka dari waktu ke waktu, namun mereka malah beribadah kepada dewa-dewa asing. Lebih dari itu, mereka juga mulai "menyingkirkan" Tuhan dari kehidupan mereka. Mereka tidak lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan dalam mengambil keputusan penting; seperti mengangkat raja maupun pemuka umat (ayat 4). Mereka tidak lagi merasa perlu meminta persetujuan Tuhan dalam melakukan sesuatu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang nomor satu dalam hidup kita? Apakah Tuhan adalah Pihak yang begitu penting bagi kita, sehingga kita selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya sebelum bertindak? Atau kita merasa dapat membuat keputusan kita sendiri tanpa persetujuan-Nya? Amsal 3:6 mengingatkan bahwa kita harus mengakui Dia, sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Dari situ kita akan selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya dalam mengambil suatu langkah. Dengan demikian, Dia akan meluruskan langkah kita. Tiap-tiap hari, selalu ada banyak hal perlu kita pertimbangkan. Apakah Anda rindu mengakui Dia sebagai Pemimpin Hidup kita? —GS

BILA DIA YANG MEMIMPIN LANGKAH
MAKA HIDUP ANDA AKAN TERTATA. YAKINLAH!

SABDA.org