Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 December 2007

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia
selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Tulang Iga Yang Hilang

Seorang gadis yang jatuh cinta bertanya kepada teman lelakinya: "Katakanlah, siapakah yang engkau paling kasihi di dunia ini?" "Kamu, tentu."

"Dalam hatimu, siapa aku ini bagimu?"

Pemuda itu berpikir sejenak dan memandang dengan dalam-dalam mata gadisnya serta mengatakan, "Kamu adalah tulang igaku. Di dalam alkitab, dikatakan bahwa mengamati Adam kesepian, maka ketika Adam tidur, Tuhan mengambil salah sebuah tulang iga dan menciptakan Hawa. Sejak itu, setiap laki-laki mencari tulang iganya yang hilang. Hanya bila ia telah menemukan perempuan untuk menjadi teman hidupnya, ia tidak lagi merasakan rasa sakit di dalam hatinya yang tidak hilang-hilang."

Setelah mereka menikah, pasangan ini untuk beberapa waktu mengalami hidup yang manis dan bahagia. Namun, kemudian pasangan yang muda ini mulai merenggang hubungannya. Ini disebabkan oleh kesibukan pekerjaan mereka dan permasalahan hidup sehari-hari yang tidak ada habisnya. Hidup mereka sebagai suami isteri menjadi tawar dan membosankan. Semua tantangan hidup berupa realitas kehidupan yang keras dan berat, mulai menggerogoti cita-cita dan impian serta mengganggu kasih sayang mereka satu dengan yang lain.

Pasangan suami isteri itu mulai cekcok dan setiap percekcokan menjadi semakin panas.

Pada suatu hari setelah mereka bertengkar, si perempuan lari keluar rumah. Dari seberang jalan perempuan itu berteriak, "Kamu tidak mengasihi aku lagi!". Si pemuda membenci sifat kekanak-kanakannya dan secara impulsive ia melontarkan, "Mungkin kita melakukan kesalahan untuk hidup bersama! Kamu ternyata bukan tulang igaku yang hilang!"

Tiba-tiba perempuan itu membisu dan berdiri di tempat itu nutuk waktu yang lama. Lelaki itu menyesal melontarkan apa yang telah terlanjur diucapkan, namun, kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya adalah seperti membuang air ia tidak mungkin utnuk ditarik kembali.

Dengan menangis, perempuan itu pulang untuk mengemasi barang-barangnya dan mengambil keputusan untuk berpisah.

Sebelum ia meninggalkan rumah, wanita itu berkata, "Bila aku memang bukan tulang igamu yang hilang, maka biarlah aku pergi." Ia melanjutkan, "Dengan cara begini, aku akan merasakannya tidak begitu berat. Biarlah kita menempuh perjalanan kita secara terpisah dan biarlah kita masing-masing mencari teman hidup kita."

Lima tahun telah lewat. Lelaki itu tidak mau menikah lagi namun diam-diam dengan tidak langsung ia mencoba untuk mengetahui akan jalan hidup bekas isterinya itu. Si perempuan sementara telah meninggalkan negerinya dan telah kembali. Ia telah menikah dengan seorang asing namun kemudian bercerai. Ia merasa amat sedih bahwa bekas kekasihnya itu tidak mau menunggu akan dia. Di dalam kegelapan dan keheningan malam hari dia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Ia tidak pernah mengaku bahwa sebenarnya ia amat kehilangan bekas isterinya itu.

Pada suatu hari mereka akhirnya bertemu di bandara udara di sebuah tempat dimana terdapat banyak pertemuan kembali maupun perpisahan antarmanusia.

Ia sedang akan pergi untuk keperluan bisnis. Wanita berdiri seorang diri di sana dengan hanya dipisahkan oleh sebuah pintu keamanan.

L : "Bagaimana keadaanmu?"
W : "Aku baik-baik saja. Apakah kamu sudah mendapatkan tulang igamu yang hilang?"
L : "Tidak."
W : "Aku akan terbang ke New York dengan pesawat berikutnya"
L : "Aku sudah kembali 2 minggu lalu."
W : "Teleponlah aku bila aku kembali. Kamu kan tau nomor teleponku. Tidak ada sesuatu yang berubah!"

Dengan disertai sebuah senyuman, ia berpaling dan melambaikan tangannya untuk berpisah.

Seminggu kemudian, terdengar kabar bahwa perempuan itu telah mati. Ia telah menjadi salah satu korban di dalam peristiwa yang menggemparkan seluruh dunia.

Tengah malam, lagi-lagi, laki-laki itu menyulut rokoknya. Dan seperti sebelumnya, ia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Akhirnya ia menjadi sadar, bahwa bekas isterinyalah yang merupakan tulang iganya yang hilang yang ia telah patahkan di dalam kecerobohannya.

NB :
Kadang2, manusia mengatakan sesuatu dalam saat2 yang dipenuhi dengan kemarahan dan emosi. Seringkali akibatnya justru mendatangkan malapetaka dan merusak. Kita melampiaskan kebingungan dan kejengkelan kita kebanyakan kali kepada mereka yang justru kita kasihi. Dan kendatipun kita tahu untuk "memikir 2 kali dan bertindak bijak" hal ini sering lebih mudah untuk dikatakan dari pada diperbuat.