Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 September 2008

Kisah di Musim Dingin

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan. Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar. Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca.

"Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun."

-------------------

**Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

27 September 2008

Impian Seorang Mahasiswi 87 Tahun

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?"

Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.

"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.

"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!", katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya.

Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya."

"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."

"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

* * * * *

Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat & kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan. 
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.

Agen Rahasia

"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya" - Efesus 2:10

Ada seorang anak kecil yang bernama James, direkrut untuk masuk dalam pelatihan dinas rahasia negara. James dilatih untuk menjadi kuat dalam segala medan, menaati komandannya dalam segala keadaan. Dia belajar disiplin dan apa itu arti kesetiaan. Jwa nasionalis dan patriot untuk rela mati bagi negaranya sudah tertanam kuat di dalam jiwanya.

Setelah lulus, tiba saatnya untuk James mulai bertugas unutk menjadi duta di sebuah negara musuh. Misinya jelas, menjadi duta bagi negaranya untuk mendapatkan berbagai informasi demi kepentingan negaranya. Maka di mulailah sebuah babak baru dalam hidupnya yang sangat berbeda dengan yang selama ini kita alami.

Setibanya di negara yang dituju, James diharapkan bisa terhubung dengan banyak orag disana, belajar bahasanya dan hidup mirip dengan orang-orang disana. Namun, jika seharusnya dia hanya hidup seperti orang-orang di negara itu tapi tidak terpengaruh olehnya, justru yang terjadi sebaliknya. James jatuh cinta dengan seorang polwan. Hal ini membuat dia lupa dengan misi utamanya. Tidak hanya itu, James juga sangat menyukai makanan khas negara itu, musiknya, pantainya dan terlebih pekerjaan barunya sebagai pelatih olah raga.

Hati James mulai berubah, dia lebih memilih negara musuh, daripada negara yang mengutusnya. James lupa kalau dia bukan berasal dari negara barunya. Dia adalah agen negara yang mengutusnya dan hidupnya hanya sementara di negara musuh. Sewaktu-waktu dia bisa ditarik kembali. And mission not accomplished!

Kita bukan warga negara dunia ini. We don't belong here. Kita adalah warga negara surga yang datang ke dunia dalam waktu yang singkat. Tugas kita jelas, Merepresentasikan Tuhan yang mengutus kita, dengan spesifikasi pekerjaan tertentu. Tapi kita mudah untuk berbalik menjadi musuh Tuhan. Maksudnya bagaimana? Kita menjadi musuh Tuhan dengan mencintai dunia ini. Kita berinvestasi untuk hal-hal yang sementara di dunia ini. Hidup kita dihabiskan unutk memuaskan hal-hal di dunia ini. Misi kita tidak sukses.

Ingat, hidupmu cuma sementara di dunia ini dan kita bukan berasal dari dunia ini. Jika kamu mau hidupmu berhasil, jangan memandang keberhasilan itu seperti dunia memandanginya. Keberhasilanmu hanya bisa ditentukan oleh Tuhan. Tetap terkoneksi dengan-Nya untuk selalu update dan synchronize misimu.

Sumber : Devoted

Humor : Kumpulan

BINATANG PALING ANEH

Kita hendak tidur malam, seorang badut ditanya oleh anaknya.

"Pak, binatang apa yang paling aneh di dunia?"

"Belalang kupu-kupu, Nak!", sahut sang ayah.

"Soalnya kalau siang makan nasi, kalau malam minum susu. Aneh kan?"

 

WARNA GUNUNG

Amir dan Tuti sedang berlibur. Suami istri itu sedang duduk santai di sebuah villa menghadap gunung. Sambil menatapi pemandangan indah yang dilatari gunung membitu itu mereka bercakap akrab.

"Kenapa gunung itu berwarna biru?", tanya Amir.

"Karena kalau warnanya putih nanti takut disangka tumpeng!", sahut Tuti sambil senyum.

 

HARI KIAMAT

Seorang pelukis reklame bertanya kepada seorang nabi pemberita hari kiamat. Katanya, "Anda ingin memesan poster yang bertuliskan, 'Dunia akan berakhir besok', lalu, kapan Anda akan mengambil pesanan poster Anda?"

Arsip Weekend's Scripture - Yeremia 29:11

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." - Yeremia 29:11

26 September 2008

Air Mata Ibu

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.

“Ibu, mengapa Ibu menangis?”

Ibunya menjawab, “Sebab, aku wanita.”

“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.

“Nak, kamu memang tak akan mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya.

“Ayah, mengapa Ibu menangis?. Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"

Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.“ Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa. Wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankan tulang rusuk-lah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi. Dan, akhirnya, kuberikan ia airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan.”

Mengasihi Tuhan Yesus

Kalau mendengar kata pelayanan anak jalanan/kampung kumuh, banyak teman yang langsung berasumsi bahwa dalam pelayanan tersebut kita akan berinteraksi dengan anak-anak yang kasar, yang tidak tahu aturan, yang dekil, kumuh, dan sebagainya dan harga yang harus dibayar "sangatlah besar" sehingga sampai saat ini, sepertinya anak-anak muda dan orang-orang yang terbeban terjun langsung dalam pelayanan ini tidak bisa terbilang banyak apabila dibandingkan pelayanan MC/WL (Worship Leader) di gereja, pelayanan sebagai pemusik, sebagai pengurus, majelis, dan lain-lain. Apakah pendapat tersebut benar? Menurut pengalaman saya pribadi, sejujurnya jawabannya tidak. Bahkan apabila disebut pelayanan, seringkali saya pribadi merasa malu, karena setelah sekian waktu lewat, saya pribadi lebih merasa 'dilayani' daripada saya yang 'melayani' jadi sebenarnya siapa yang melayani siapa?

Karena sebagai contoh, apakah saudara pernah merasakan ketika sedang penat oleh masalah kerjaan, penat oleh berbagai macam hal, dan ketika saudara datang dengan segala beban itu, tahu-tahu dari berbagai arah berlarian banyak anak-anak sambil berteriak-teriak "kakak datang, kakak datang!" Kemudian mereka langsung berlarian mendekati saudara untuk memeluk maupun untuk menggandeng tangan saudara. Dan sungguh saya katakan, segenap beban yang saya alami dalam sekejap langsung hilang dan digantikan dengan sukacita!

Jujur saudara, selama pelayanan ini ada banyak hal yang sangatlah amat berkesan dalam hidup saya, bagaimana Tuhan mengajar saya melalui mereka, dan berikut ini saya mau membagikan salah satunya.

Dwi (anak jalanan di grogol)

Dwi adalah salah satu anak bimbingan belajar saya ketika saya masih pelayanan di kolong grogol setiap hari minggu. Nah, pada satu waktu, ketika setelah waktu belajar selesai, saya melihat dia sedang duduk, di tangannya terdapat sepotong timun sayur (timun yang biasa dijadikan lalap) dan dia sedang asik makan timun tersebut (Saudara pernah makan timun sayur mentah dengan kulit2nya? =p)

Kemudian dengan bercanda saya memanggil dia, "Dwi, sedang makan apa? Wah, sombong ya, makan sendiri nih ceritanya, kakak-kakaknya tidak ditawarin.." Si Dwi cuma cengengesan saja, lalu saya kembali sibuk membantu mengajar anak-anak yang belum menyelesaikan pelajarannya.

Tetapi selang beberapa waktu kemudian, tahu-tahu saya dicolek dari belakang, dan ternyata kali ini di tangannya si Dwi membawa 2 buah timun sayur, kemudian sambil menyerahkan salah satunya dia berkata "Ini buat kakak". Saya sedikit kaget, dan saya tanya, "Dwi, kamu beli timun ini di mana?"

Dengan santainya dia menjawab, "Di tukang sayur belakang terminal grogol kak."

Saat itu saya cukup shock karena ternyata demi membelikan saya sebuah timun sayur, anak kecil tersebut berjalan kurang lebih 2 km bolak balik dr kolong grogol ke tukang sayur di belakang terminal, hanya untuk memberikan saya sebuah timun!

Lalu saya tanya kembali, "Dwi, kamu belum makan siang ya?"

Jawabnya, "Belum kak"

Lalu saya katakan, "Dwi, kita ke Citraland aja yuk, kita makan di sana, Dwi mau kan makan Mc Donald?"

Dia menggelengkan kepalanya, "Gak mau kak"

Saya tetap bersikeras mengajak dia makan, dan sejujurnya saya sudah bertekad apapun yang dia mau makan, mau Mc Donald sampai Sizzler saya rela tukar sama timun sayur tersebut, tetapi dia tetap tidak mau dan dia berkata, "Udah kak, Dwi pokoknya gak mau makan di Citraland, Dwi maunya duduk di sini saja sambil ngobrol sama kakak".

Saat itu saya pribadi merasa sangat tersanjung dan terharu saudara, karena anak ini tidak melihat saya sebagai, "Kakak berduit yang bisa memberikan Mc Donald", tetapi dia tidak perduli dengan Mc Donald maupun segala macam makanan mahal yang bisa saya belikan, tetapi dia tukar semua hal tersebut dengan duduk-duduk di kolong sambil ngobrol bersama saya.

Entah kenapa sepertinya saya merasa Tuhan sedang mengajar saya suatu hal, Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, dan dia adalah Tuhan yang sanggup memberikan apa saja kepada kita, dan dalam kejadian tersebut seakan-akan Tuhan menunjukkan, "Carlo, begini lho perasaan kalau seseorang mengasihi engkau BUKAN karena apa yang engkau bisa berikan padanya, BUKAN karena apa yang kau miliki, tetapi sungguh2 mengasihi engkau sebagai satu pribadi"

Karena kejadian tersebut, si Dwi menjadi salah satu anak kesayangan saya di grogol, bahkan sampai sekarang =). Dan dalam kejadian tadi saya menjadi mengerti tentang arti sebuah persembahan, karena walau hanya dengan sebuah timun yang seharga lima ratus rupiah, apabila diberikan dengan hati yang tulus, timun itu lebih berharga daripada Mc Donalds, Sizzler maupun makanan2 yang teramat sangat mahal!

Saudara ingin menjadi anak kesayangannya Tuhan? Persembahkanlah apapun dari yang engkau miliki dengan tulus, bukan karena Kristus adalah Tuhan yang sanggup memberkati engkau berlipat-lipat kali dari persembahanmu, Tuhan yang sanggup mengangkat sakit penyakitmu dan memulihkan keluargamu, tapi cukup berikan persembahanmu dengan tulus kepada Tuhan karena engkau mengasihi Dia, walau persembahanmu itu tidak akan pernah kembali seumur hidupmu, walau sakit penyakitmu tidak kunjung sembuh, walau keluargamu tidak kunjung dipulihkan.

Saat itu tanpa ia sadari, Dwi telah mengajar saya tentang hubungan dengan Tuhan, tentang bagaimana kita harus mengasihi Tuhan bukan karena Ia adalah Tuhan yang kaya, Tuhan yang bisa melakukan hal-hal yang mustahil, dan seterusnya, tetapi kita harus mengasihi Tuhan karena Ia adalah Tuhan! Titik.

Regards, Carlo

Sumber : Cerita Kristen

Ternyata Tuhan Suka Bercanda

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris.

Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan"

Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk. Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, " Kamu ini anak laki-laki apaan sih?  Kok menarinya seperti perempuan?". Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, " Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari . Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya keYogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api. Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, " Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda." 

Siapa Yang Tahu?

".. betapa karyanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.." - Efesus 1:18-19

Waktu kita berpacaran, kita belum mengenal pasangan kita sepenuhnya. Baik itu karakternya, kesukaannya, kelemahan dan kelebihannya. Bahkan juga isi dompetnya. Kadang kita bisa tertipu oleh penampilan seseorang. Ada yang penampilannya keren, baju dan sepatunya bagus, rumah dan mobilnya juga bagus. Tapi siapa yang tahu sebenarnya kalau orang tersebut lagi 'garing' alias banyak hutangnya. Namun juga jangan salah menilai orang. Ada yang kelihatannya sederhana, penampilan apa adanya, tapi dompetnya 'tebal'. Siapa yang tahu?

Jika kita sudah menikah, baru kita tahu keadaan yang sebenarnya. Rumah tangga yang benar ada keterbukaan tentang keuangan antara suami dan isteri. Sehingga tidak akan ada penyelewengan atau masalah dalam rumah tangga tersebut. Betapa senangnya kalau kita punya pasangan hidup yang kaya-raya dan punya kedudukan semuanya beres.

Dalam Efesus 1:15-23, kita bisa melihat bagaimana rasul Paulus mengenal mempelainya dengan pasti, yaitu Kristus. Mata hatinya sudah dibukakan dengan begitu jelas tentang pengharapan yang benar kepada Kristus. Ia memiliki pengertian hikmat dan wahyu tentang mempelainya. Bahkan dikatakan Paulus, betapa hebat kuasa-Nya, yang jauh lebih tinggi dari segala pemerintah atau penguasa dan kerajaan yang ada di dunia ini. Tidak ada yang kaya dan hebat seperti Dia. Itulah mempelai Paulus dan juga kita Gereja-Nya.

Rasul Paulus berdoa untuk jemaat Efesus supaya bisa mengenal dan tahu dengan pasti siapa Kristus. Demikian juga kita, mari kita terus berdoa dan merenungkan perkataan-Nya supata kita bisa semakin mengenal Dia, mempelai kita. Dengen mengenal Dia pastikan hidup kita tidak akan mengalami kekuatiran, karena kita tahu siapa Dia yang sebenarnya. (AT)

SERAHKANLAH KUATIRMU KEPADA TUHAN, MAKA IA AKAN MEMELIHARA ENGKAU! - MAZMUR 55:23

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2008

25 September 2008

Tombol Merah

Cina adalah salah satu negara dimana di sana Tuhan sering memberi hak penganiayaan, namun tentunya juga keajaiban luar biasa sebagai pernyataan dari kuasa-Nya. Walaupun kekristenan di Barat telah menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan salah satu dari hal itu tanpa harus mengalami pengalaman lainnya, namun hal tersebut sebenarnya merupakan kombinasi antara salib dengan kebangkita, penderitaan dengan kemuliaan Tuhan yang akan memiliki dampak paling lama di negara itu.

Paul dan Joy Hattaway dari Asia Harvest menceritakan pengalaman ini :

Ketika gelombang penganiayaan melanda seluruh Cina pada tahun 1950-an, pastor Li juga ditangkap di daerah selatan propinsi Guangdong. Dia dituduh melakukan "kegiatan-kegiatan kontra revolusioner" dan dihukum dengan menjalani kerja paksa di sebuah pertambangan biji besi yang terletak di daerah ujung timur laut Cina. Istri Li dan 5 anaknya, termasuk si bungsu yang masih bayi, tidak punya lagi penopang keluarga. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan pastor Li dengan menempuh perjalanan sejauh 2000 mil ke Heilongjiang demi memungkinkan mereka dapat lebih dekat seandainya suatu saat terjadi keajaiban, yaitu pastor Li dibebaskan.

Keluarga itupun menjual semua yang mereka miliki dan membeli tiket untuk perjalanan naik kereta api selama seminggu. Ketika telah sampai, mereka menggunakan papan kayu tua dan selembar kain terpal untuk membuat sebuah gubuk reot di jalan dekat kamp pekerja itu.

Pastor Li menjalani kerja paksa itu selama 14 jam setiap harinya, dengan makanan yang tak layak, dalam temperatur udara yang mendekati titik beku. Beliau pun meninggal 3 bulan kemudian. Ketika keluarganya mendengar berita duka itu, mereka pun merasa sangat terpukul dan putus asa. Istri Li tak mampu lagi melihat adanya masa depan bagi mereka, dan ingin mengakhiri hidupnya. Anak-anaknya menjadi terabaikan.

Akhirnya, ia berkata pada anak-anak itu bahwa ia akan pergi untuk mencari kerja. Si sulung berkata, "Jangan, bu, ibu tidak boleh pergi bekerja. Adik yang masih bayi membutuhkan ibu. Dia selalu menangis mencari ibu sepanjang hari. Saya saja yang bekerja." Gadis berusia 12 tahun itu pun pergi menghadap kepala kamp pekerja itu dan berkata kepadanya, "Ayah saya telah dikirim ke tempat yang tidak mengenal Tuhan ini karena dia mengasihi Yesus Kristus. Itulah satu-satunya pelanggaran yang dia lakukan. Ayah adalah orang baik, yang mengasihi orang lain dan membantu mereka. Sekarang ayah telah tiada, dan kami disini tidak mempunyai makanan, uang dan tempat tinggal. Kami bahkan tak bisa kembali lagi ke selatan. Saya ingin tahu kalau saja ada pekerjaan yang dapat saya lakukan di kamp ini."

Kepala kamp itu masih ingat dengan pastor Li, dan tahu bahwa gadis kecil itu adalah putrinya Li. Di dalam hatinya terbersit rasa kasihan, dan ia pun berkata, "Aku punya pekerjaan untukmu, tapi membosankan, dan bayarannya rendah."

Gadis itu tanpa ragu-ragu segera mengambil pekerjaan itu. KEpala kamp membawanya ke lokasi dimana 3000 pekerja paksa itu menambang biji besi. Ia berkata padanya, "Kamu lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekat tombol itu sepanjang hari, dan jika ada yang menyuruhmu memencetnya, kamu harus segera melakukannya. Itu adalah tombol alarm untuk membunyikan tanda peringatan berbunyi, para pekerja harus segera keluar secepatnya. Kamu tidak boleh memencet tombol itu sembarangan, harus hanya ketika ada yang menyuruhmu."

Dan si sulung kecil dari keluarga Li itu pun berdiri di sebelah pohon tombol itu sepanjang hari demi hari, minggu demi minggu. Ketika menerima upah pertamanya, kegembiraan luar biasa segera meliputi dirinya dan seluruh keluarganya meski besarnya hanya beberapa dolar saja.

Di suatu siang, mendadak dia mendengar suara, "Pencet tombolnya!". Dia melihat dan berputar ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu suara siapakah itu, namun tak seorangpun kelihatan. Tak lama kemudian, terdengar sekali lagi suara, "Cepat! Pencet tombolnya sekarang!". Masih tak ada seorang pun yang kelihatan, dan dia mulai tombol peringatan ketika ada sesuatu yang gawat, dan saat ini, semuanya kelihatan baik-baik saja.

Beberapa detik kemudian, kembali sebuah suara terdengar, kali ini dengan nada yang sangat mendesak, "Li kecil, pencet tombolnya sekarang!" Kali ini dia segera menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan-nya yang berkata padanya. Dia tidak mengerti alasan kenapa dia harus memencet tombol itu, tapi dia tahu bahwa dia harus menuruti-Nya.

Alarm pun dibunyikan, dan 3000 orang segera naik ke permukaan secepatnya, dengan bingung dan penasaran apa yang telah terjadi. Kepada kamp juga berlari keluar dari kantornya, ingin tahu kenapa gadis kecil itu memencet tombol merah. Hanya berselang beberapa saat setelah pekerja terakhir meninggalkan lokasi pertambangan, sebuah gempa bumi hebat mengguncang tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak ada seorang pun yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini.

Suatu keheningan yang mencekam segera meliputi tempat itu saat guncangan gempa bumi itu berakhir, semua orang memandangi sosok kecil dan ringkih yang telah menekan tombol merah itu. Akhirnya, suara kepala kamp segera memecah keheningan, "Kawan Li, bagaimana Anda tahu kalau harus menekan tombol merah itu?"

Li kecil menjawab sekeras-kerasnya, "Tuhan Yesus Kristus-lah yang menyuruh saya untuk memencet tombol merah itu. Ia menyuruh saya tiga kali sebelum saya melakukannya. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mengenal Allah yang hidup dan yang sejati. Dia mencintai kalian semua dan Dia baru saja menunjukkan kasih-Nya dengan menyelamatkan kalian semua. Kalian harus berbalik dari dosa-dosa kalian dan memberikan hidup kalian pada-Nya!"

Sekitar 3000 pekerja dan kepala kamp segera berlutut dan berdoa supaya Yesus mengampuni mereka dan mau hidup dalam hati mereka semua.

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya  epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas. Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi
dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing. Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran :

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Iman Abraham

"Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya.." - Roma 4:11-12

Mengacu pada pembacaan ayat hari ini, rasul Paulus memasukkan nama Abraham sebagai contoh nyata kepada jemaat di kota Roma. Bukan suatu kebetulan nama ini disampaikan oleh rasul Paulus. Memang Abraham bukanlah seorang yang berasal dari keturunan Roma, namun bukan berarti ia tidak dapat dijadikan contoh dan teladan bagi mereka yang ada di kota Roma. Apa yang menjadi daya tarik dari seorang yang bernama Abraham ini? Bukankah ia manusia biasa yang bisa juga mengalami kegagalan? Bukankah ia juga ada kelemahan?

Abraham, nama ini diberikan sendiri oleh Tuhan kepadanya. Nama ini diberikan Tuhan sebagai sebuah 'penghargaan' terhadap seorang manusia yang mau menderngar suara Tuhan dengan tanpa kompromi sedikit pun (Kejadian 17:5). Melalui nama ini, Tuhan telah menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Penetapan ini diterima Abraham karena dia telah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap panggilan Tuhan. Bahkan komitmen yang tinggi ini juga dia berikan waktu Tuhan memintanya untuk disunat saat usianya sudah 99 tahun.

Paulus mengisahkan peristiwa itu sebagai langkah yang 'berani' untuk seorang pria seperti Abraham. Itulah sebabnya, rasul Paulus mengambil contoh tentang diri Abraham untuk menunjukkan bahwa Abraham adalah seorang yang perlu dijadikan teladan bagi semua orang percaya baik mereka yang telah menynatkan diri maupun yang belum menyunatkan dirinya.

Buat kita yang sekarang ini sedang mengalami pergumulan apa pun juga, renungan hari ini mengajak kita untuk mengambil tindakan iman seperti yang pernah dikerjakan oleh Abraham. Suatu tindakan iman yang 'berani' atas dasar pengenalan yang benar tentang Tuhan. Oleh sebab itu, mari kenali Tuhan dengan benar dan lebih baik lagi agar kita dapat mengikuti jejak iman Abraham. Tuhan memberkati. (FW)

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2009

24 September 2008

Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri!

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!! "

Humor : Pengorbanan

Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita.

Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanita mengatakan sesuatu yang menyentuh.

Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuk suami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan.

Tetap Ada Waktu Buat Yesus

"Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka : "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan  manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." - Markus 9:30-31

Di tengah kesibukan-Nya melayani banyak orang, Yesus ada saat-Nya tidak mau ada orang banyak mendekat kepada-Nya. Itulah saat dimana Dia memberi waktu-Nya untuk mengajar para murid-Nya. Lihat betapa pentingnya saat sendiri untuk mengajar, mengalirkan hati-Nya kepada para murid. Kita semua adalah murid-Nya. Seringkali kita sudah begitu sibuk dengan tugas, pekerjaan dan pelayanan kita. Betapa sibuknya, sehingga bahkan kita yang tidak ada waktu lagi buat Yesus.

Saudara yang kekasih, kapan terakhir saudara merasakan Yesus mengajar secara pribadi? Mungkin sudah cukup lama kita tidak duduk berdiam diri sendiri dengan Yesus. Bagaimana, sediakanlah waktu buat Dia mengajar kita secara pribadi. Tetap ada waktu buat Yesus. Itu yang terbaik.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

23 September 2008

Jendral yang Mengorbankan Dirinya

Sama seperti Anak Manusia datang, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” - Mat. 20:28

Keputusan telah diambil. Prajurit telah dikerahkan dan kapal-kapal perang telah di tengah perjalanan. Hampir tiga juta tentara sudah siap untuk menghantam dinding Atlantik dari Adolf Hitler di negara Prancis. D-Day telah mulai digerakan. Tanggung jawab untuk invasi ini terletak di pundak Jendral berbintang empat Dwight D. Eisenhower.

Semalam sebelum invasi dimulai, jendral ini menghabiskan waktunya dengan pasukan dari 101st Airborne. Mereka menamakan diri “Pekikan Burung Rajawali”. Ketika pasukan sedang mempersiapkan pesawat-pesawat terbang mereka dan mengecek perlengkapan mereka, Ike mendekati prajurit demi prajurit untuk menyampaikan kata-kata yang membesarkan hati mereka. Banyak di antara mereka yang cukup muda untuk menjadi anaknya. Ia memperlakukan mereka seperti itu. Seorang koresponden menulis, tatkala Eisenhower mengamati pesawat-pesawat terbang tinggal landas dan menghilang dalam kegelapan di malam buta, kedua tangannya dimasukan dalam saku sedalam-dalamnya sedangkan kedua matanya penuh dengan air-mata.

Kemudian, jendral itu pergi ke baraknya dan duduk di belakang meja tulisnya. Ia mengambil sehelai kertas dan setangkai pena lalu menulis sebuah pesan yang akan di kirim ke White House bila invasi besar-besaran itu akan menemui kegagalan. Pesan itu merupakan sesuatu yang singkat dan amat berani. “Pendaratan kita telah menemui kegagalan, tentara kita, angkatan udara dan laut telah melakukan tugasnya dengan penuh keberanian dan ketaatan yang luar biasa dan melakukan kewajibannya sedapat-dapatnya. Maka segala tanggung jawab akan kegagalan ini, terletak padaku seorang diri.”

Aku kira, bahwa tindakan yang paling berani pada hari itu bukanlah yang berada di kokpit sebuah pesawat terbang atau lubang perlindungan prajurit, melainkan di sebuah meja tulis, ketika sesosok yang berada di puncak pimpinan mengambil alih semua tanggung jawab dari bawahannya. Bila yang berada di puncak komando bersedia untuk memikul kesalahannya bahkan sebelum kesalahan itu benar-benar terjadi.

Sungguh seorang pemimpin yang amat langka, jenderal ini. Sesuatu yang tidak lazim, bukti keberanian ini. Ia merupakan contoh dari suatu sifat yang jarang ditemui di masyarakat yang dipenuhi dengan perkara-perkara hukum, pemecatan dan perceraian. Kebanyakan dari kita ingin mendapatkan keuntungan dari kebenaran yang kita lakukan. Sementara, beberapa di antara kita bersedia menerima hukuman dari kesalahan kita. Namun sedikit sekali yang bersedia memikul tanggung jawab akan kesalahan orang lain. Lebih langka lagi yang bersedia memikul kesalahan dari sesuatu perbuatan yang belum dilakukan.

Eisenhower telah melakukannya, dan oleh karena itu, ia menjadi seorang pahlawan.

Demikian pula, Yesus Kristus. Akibatnya adalah ia menjadi Juru Selamat kita. Sebelum pertempuran dimulai, Ia telah mengampuni. Sebelum suatu kesalahan dapat diperbuat, Ia telah menawarkan pengampunan dan kemurahan. Ia yang berada di puncak mengambil alih tanggung jawab dari mereka yang berada di bawah. Bacalah bagaimana Yesus menjelaskan untuk apa Ia datang.

“Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”

Kalimat “Anak Manusia” membangkitan suatu gambaran yang sama bagi orang Yahudi di jamannya Yesus, seperti pengertian pangkat “jenderal” bagi kita. Hal itu merupakan suatu pernyataan akan otoritas dan kekuasaan.

Perhatikanlah semua gelar yang Yesus dapat gunakan untuk memberi definisi akan diri-Nya di dunia : Raja di atas segala raja, AKU ADA yang maha kuasa, Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Tuhan atas segala tuhan, Yehova, Yang maha Tinggi dan Maha Kudus. Semua gelar itu pantas dan layak untuk dikenakan kepada-Nya. Namun, Yesus tidak menggunakannya. Sebaliknya Ia menamakan diri-Nya Anak Manusia. Gelar ini muncul delapan puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Delapan puluh satu kali dalam ke Empat Injil. Delapan puluh kali keluar dari mulut-Nya Yesus sendiri.

Untuk dapat mengerti Yesus, kita perlu untuk mengerti apa arti gelar ini. Bila Yesus berpendapat hal itu cukup penting sehingga sampai mengulang sebanyak delapan puluh kali, hal ini pasti cukup penting untuk kita selidiki bersama.

Sedikit sekali orang yang menyangsikan bahwa hal itu berakar di kitab Daniel 7, sebuah teks yang seakan-akan merupakan suatu pembuatan film yang menakjubkan. Peramal di persilahkan duduk dalam suatu gedung bioskop yang sedang memainkan sebuah adegan akan kekuatan-kekuatan dunia di masa depan. Kerajaan-kerajaan itu digambarkan sebagai binatang-binatang : fanatik, selalu lapar dan rakus serta jahat. Singa dengan sayap burung rajawali mengambarkan Babilon, kemudian beruang dengan tiga iga dalam mulutnya mewakili Medo Persia. Iskandar Agung digambarkan sebagai seekor leopard dengan empat sayap dan empat kepala dan binatang yang keempat dengan gigi besi mewakili kerajaan Rumawi. Namun ketika adegan-adegan berlanjut, kerajaan-kerajaan itu memudar. Satu demi satu kekuatan dunia itu runtuh. Dan pada akhirnya, Allah yang menang dan menguasai segala sesuatu, Yang Lanjut Usianya itu, berkenan untuk menerima dalam hadirat-Nya Anak Manusia. Kepada-Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kuasa seorang raja. Dia digambarkan sebagai sesuatu yang berkobar-kobar putih. Duduk di atas seekor kuda yang perkasa dan sebuah pedang di tangannya.

Bagi orang Yahudi, Anak Manusia merupakan simbol dari kemenangan. Si penakluk. Saudara Besar, Tangan Kanan dari yang Maha Tinggi dan yang Maha Kudus. Raja, yang datang dari atas awan-awan di langit di atas kereta tempur yang berapi-api, penuh dengan rasa dendam dan murka terhadap mereka yang telah menindas orang-orang suci dari Allah.

Anak Manusia adalah seorang jendral berbintang empat yang memanggil tentaranya untuk menyerbu dan memimpin mereka menyongsong kemenangan.

Oleh karena itu, apabila Yesus berbicara tentang Anak manusia dalam pengertian kekuasaan, orang-orang bersorak. Apabila tentang suatu dunia yang baru di dalam mana Anak manusia di atas singgasana yang mulia, orang-orang mengerti. Bilamana Ia berbicara tentang Anak Manusia akan datang dari awan-awan di langit disertai oleh kuasa besar dan kewibawaan, orang-orang dapat membayangkan pemandangan itu. Apabila Ia berbicara tentang Anak Manusia duduk di sebelah kanan Bapa di surga, setiap orang dapat membayangkan gambarnya.

Namun, bila ia mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, orang-orang berhening. Ini tidak cocok dengan gambaran mereka, itulah bukan yang mereka nantikan.

Seandainya Anda di tempat mereka. Anda telah ditindas oleh pemerintah Romawi selama bertahun-tahun. Selama itu Anda diajar bahwa Anak Manusia akan membebaskan Anda. Kini, Ia di sini. Yesus menamakan diri-Nya Anak Manusia. Ia membuktikan bahwa Ia adalah Anak Manusia. Ia mampu untuk membangkitan kembali orang yang telah mati dan dapat meredahkan angin ribut. Pengikut-Nya makin lama makin banyak. Anda bersemangat. Akhirnya, keturunan Abraham akan dibebaskan.

Namun, apa yang dikatakanNya? “Anak Manusia tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani orang lain.” Sebelumnya, Ia mengatakan, ”Anak Manusia akan diserahkan kepada rakyat, dan mereka akan membunuh-Nya. Setelah tiga hari, Ia akan bangkit kembali dari kematian.”

Tunggu sebentar! Hal itu tidak mungkin, tidak masuk akal, sesuatu kontradiksi yang tak dapat dipertahankan. Tidak mengherankan bahwa “pengikut-pengikut-Nya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sementara mereka tidak berani menanyakan kepada-Nya.” Seorang raja yang akan melayani mereka? Anak Manusia dikhianati? Penakluk dibunuh? Wakil dari Yang Lanjut Usia diperolok-olokkan? Diludahi? Namun itulah ironi dari Yesus yang menyandang gelar “Anak Manusia” Inilah juga ironi dari salib.

Yesus mengenakan mahkota kerajaan, namun menyimpan sebuah hati seorang Bapa. Ia adalah seorang jendral yang bertanggung jawab akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Namun Yesus tidak menulis, melainkan Ia telah membayar biayanya. Ia menjadi uang tebusan. Ia adalah jendral yang mati sebagai ganti prajurit-Nya, Raja yang menderita untuk petani, seorang Majikan yang mengorbankan diri-Nya bagi pelayan-Nya.

Ketika aku masih seorang bocah, aku pernah membaca sebuah cerita Rusia tentang seorang majikan dan pelayannya yang sedang mengadakan perjalanan ke sebuah kota. Sebelum mereka tiba di kota itu, mereka tertangkap oleh sebuah badai salju yang dahsyat. Mereka kehilangan arah mereka dan tak dapat tiba di kota itu sebelum malam.

Esok harinya, beberapa kawan yang amat perihatin akan keselamatan mereka, mencari kedua orang yang tersesat itu. Akhirnya, kawan-kawannya berhasil menemukan majikannya yang telah mati beku kedinginan dengan wajah terkubur dalam es. Tatkala mereka mengangkat mayatnya, mereka menemukan pelayannya- amat kedinginan, namun masih hidup. Ia berhasil diselamatkan jiwanya dan kemudian bercerita bagaimana majikannya secara suka-rela meletakkan dirinya di atas tubuh pelayannya, sehingga yang belakangan ini selamat.

Aku bertahun-tahun tidak ingat lagi kisah itu. Namun, ketika aku membaca apa yang Yesus akan lakukan untuk kita, cerita itu timbul kembali karena Yesus adalah majikan itu yang telah mati untuk menyelamakan pelayan-pelayannya.

Ia adalah jenderal yang menanggung akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Ialah Anak Manusia yang datang untuk melayani dan yang memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk Anda.

“And The Angels were silent” - by Max Lucado

Humor : Jawaban Sebuah Doa

Seorang nenek mengajak cucu laki-lakinya ke sebuah pantai. Mereka bersenang-senang di tempat itu sampai sebuah gelombang raksasa datang dengan mendadak dan menyapu bersih segala sesuatu termasuk cucunya ke dalam samudera. Nenek itu menjatuhkan dirinya di atas lututnya dan berdoa kepada Tuhan, “Tolong Tuhan, kembalikanlah cucuku- itulah satu-satunya yang kuminta! TOLONG!!!”

Sesaat kemudian, sebuah gelombang raksasa lainnya datang dan melemparkan anak kecil itu kembali ke pantai tepat di bawah kaki nenek itu. Anaknya, walaupun basah dan takut, tidak mengalami cedera sedikitpun.

Neneknya memeriksa tubuh cucunya dengan seksama dan mendapatkan bahwa cucunya OK. Namun toh, dengan marah ia menengadah ke langit dan berkata, “Ketika kami datang di sini, ia mengenakan topi!”

Bertanya Kepada Tuhan

"Mereka tidak mengerti kerkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya." - Markus 9:32

Banyak hal dalam hidup kita ini yang tidak kita mengerti. Sebagian berupa kenyataan-kenyataan yang begitu membingungkan sebagian lagi berupa pernyataan-pernyataan orang tertentu yang sulit kita pahami. Di saat seperti itulah sebenarnya kita harus bertanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya kita segan bertanya. Mengapa orang percaya segan bertanya kepada Tuhan? Ada beberapa kemungkinana yang saya lihat :

  1. Gengsi atau merasa malu
    Malu kalau dikira tidak tahu apa-apa. Padahal bukankah kita memang tidak terlalu banyak tahu?
  2. Tidak yakin bisa mendengar jawaban Tuhan
    Bukankah banyak yang berkata, "Saya tidak bisa mendengar suara Tuhan" Kita adalah domba-Nya, pasti kita mendengar suara-Nya
  3. Tidak peduli
    Tentu ini yang paling parah. Tidak tahu dan tidak peduli

Saudara yang terkasih, daripada mendengar dari orang lain yang separuh benar, jangan segan bertanya kepada Tuhan.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

22 September 2008

Mama Mengasihimu, Jennifer

Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik!

Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya. Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.

Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter sebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk, bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya.

Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain. Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa."

Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya. Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak, terutama untuk menyenangkan orang tua saya, sehingga akhirnya saya mengalah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit. Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari, tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik, saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya. Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong. Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang.

Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging. Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang. Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan.

Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut. Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi, bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki. Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah mempengaruhi kehidupan saya. Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya.

Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan. Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut. Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian.

Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan.

Lima tahun kemudian, sesuai janji Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi. Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya, hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu, harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya. Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan.

Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya. Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terrenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati.

Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut. Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu.

Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan
membiarkan diri Mama merataap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah. Bagian dalam diri Mama mati bersamamu.

Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri. Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

Oleh: Jackie Bakker

Kisah di atas (Jackie Bakker) diambil dan diterjemahkan dari majalah American Against Abortion. Oleh Pelayanan Traktat Nafiri Allah Terakhir. PO BOX 1380 Surabaya 60013.

A Different Kind of Prayer

Heavenly Father, Help us remember that the jerk who cut us off in traffic last night is a single mother who worked nine hours that day and was rushing home to cook dinner, help with homework, do the laundry and spend a few precious moments with her children.

Help us to remember that the pierced, tattooed, disinterested young man who can't make change correctly is a worried 19-year-old college student, balancing his apprehension over final exams with his fear of not getting his student loans for next semester.

Remind us, Lord, that the scary looking bum, begging for money in the same spot every day (who really ought to get a job)! is a slave to addictions that we can only imagine in our worst nightmares.

Help us to remember that the old couple walking annoyingly slow through the store aisles and blocking our shopping progress are savoring this moment, knowing that, based on the biopsy report she got back last week, this will be the last year that they go shopping together.

Heavenly Father, remind us each day that, of all the gifts you give us, the greatest gift is love. It is not enough to share that love with those we hold dear. Open our hearts not just to those who are close to us but to all humanity. Let us be slow to judgment and quick to forgiveness and patience and empathy and love.

AMEN

Author Unknown

Ketenangan Sejati

Nats : Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur 62:2-3)

Bacaan : Mazmur 62:1-13

Pada tahun 80-an ada sebuah film berjudul Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston. Film ini bercerita tentang Houston sebagai artis yang hidupnya dikelilingi oleh para penggemar fanatik yang ingin mencelakai dirinya. Untuk melindungi diri, ia lalu menggunakan jasa pengawal pribadi, seorang veteran angkatan perang. Dalam film itu ditunjukkan bagaimana peralatan canggih digunakan di seluruh rumah Houston untuk membuatnya bisa tidur tenang.

Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Sebab apalah artinya kita memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, galau, dan selalu dikejar ketakutan? Sayang orang kerap salah mencari sumber ketenangan. Misalnya, dengan menggantungkan hidup pada bodyguard, senjata, uang, atau jabatan.

Ketenangan yang sejati tidak terletak pada semua itu, tetapi pada kedekatan dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Pemilik sesungguhnya dari kehidupan ini. Tuhan adalah adalah sumber pengharapan dan perlindungan. Seperti yang disaksikan oleh Daud dalam Mazmur bacaan kita. Daud pernah hidup terlunta-lunta sebagai pelarian ketika dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, dan ia merasakan betul bagaimana kasih dan kuasa Tuhan melindunginya.

Anda mendambakan ketenangan? Kuncinya: jangan jauh-jauh dari Tuhan. Tidak berarti hidup kita kemudian menjadi lurus dan mulus, juga tidak lantas kita bebas lepas dari segala masalah. Tidak. Masalah dan rintangan bisa tetap ada, tetapi seberapa pun besarnya masalah yang mendera dan rintangan yang menghadang, itu tidak akan merenggut ketenangan kita -AYA

DEKAT DENGAN TUHAN
ITU KUNCI KETENANGAN HIDUP

Yayasan Gloria

Humor : Jutawan

Di dalam suatu pertemuan di gereja, seorang kaya berdiri dan memberi kesaksian kepada hadirin tentang imannya.

“Aku adalah seorang jutawan”, katanya, “Aku yakin bahwa hal itu karena berkat Tuhan yang berlimpah yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Aku masih ingat titik balik itu dalam imanku. Aku baru saja menerima $ 1.00 sebagai hasil pekerjaanku dan kemudian aku pergi ke sebuah kebaktian gereja pada malam itu.

Pembicaranya adalah misionaris yang bercerita tentang pekerjaan pelayanannya. Aku sadar bahwa aku hanya memiliki $ 1.00 dan harus memberikan semuanya itu untuk pekerjaan Tuhan atau sama sekali tidak. Pada saat itu aku mengambil keputusan untuk mempersembahkan seluruh milikku kepada Tuan. Aku percaya bahwa Tuhan memberkati keputusanku itu, dan oleh karenanya, kini aku menjadi seorang kaya.”

Setelah ia selesai, terdapat suatu keheningan yang cukup lama di dalam gereja. Ketika ia balik ke tempat duduknya, seorang wanita kecil yang sudah tua berbisik kepadanya, “Aku menantangmu untuk mengulangi perbuatanmu lagi!”

Penny Rahm

Saved by Same Grace

Seorang pencuri tertangkap basah ketika hendak mencuri sekotak emas milik kaisar. Awalnya ketika dihadapkan kepada kaisar, ia akan dihukum beserta istri dan anak-anaknya. Tetapi pencuri itu memohon ampun kepada kaisar, karena ia satu-satunya penopang dalam keluarganya. Ia harus menghidupi ibu mertuanya, istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Akhirnya kaisar menjadi iba kepada pencuri itu. Bukan saja tidak jadi dihukum, Koji, pencuri itu malah diberi makanan untuk keluarganya. Karena begitu banyaknya makanan yang diberikan, sampai-sampai ia harus di antar oleh dua orang pengawal untuk membawa gerobak yang penuh berisi makanan.

Di tengah perjalanan, ada seorang temannya yang menjadi pengemis, meminta-minta kepada Koji. Dengan sikap acuh, ia pura-pura tidak mendengar suara pengemis itu. Tiba-tiba gerobak pengangkut makanan Koji menjadi oleh karena menginjak sebuah batu. Dua buah bakpao terjatuh dari gerobak ke jalanan yang kotor. Dengan segera, pengemis itu mengambilnya dan memakannya.

Ketika Koji melihatnya, ia segera naik pitam. Dipukulnya pengemis itu dan dipaksa untuk mengeluarkan bakpao kotor yang sedang dikuyahnya. Setelah bakpao itu dimuntahkan, Koji menginjak-injaknya. Ia lalu merebut bakpao yang masih utuh di tangan kiri pengemis itu, lalu melemparnya ke sungai, sambil berkata, "Enak aja, sudah tidak diberi, masih merebut makanan orang lain."

Kedua orang pengawal itu kembali menangkap Koji dan melaporkan kejadian itu kepada Kaisar. Kaisar bertanya, "Milik siapa makana yang ada di atas gerobak itu?"

Koji menjawab, "Milikku, eh, bukan. Maksudku milik Kaisar."

Lalu kaisar kembali berkata, "Kalau begitu kenapa kamu tidak membaginya kepada temanmu, pengemis itu? Bukankah ia juga sama seperti kamu? Seharusnya tidak layak menerima makanan itu!"

Pelajaran yang dapat diambil :

Sebenarnya kita semua sama di hadapan Tuhan. Di selamatkan oleh kasih Tuhan yang sama, tapi seringkali kita saling menghakimi saudara kita sendiri. Menganggap diri kita sendiri lebih layak dari mereka. Kita mendapat pengampunan yang besar dari Tuhan, tetapi malah tidak mengampuni kesalahan orang lain. Bertobatlah!

21 September 2008

Injil di Balik Kue Bulan

Nats : Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (1Korintus 9:19)

Bacaan : 1Korintus 9:19-23

Kue bulan atau tong jiu pia adalah makanan khas orang Cina, yang biasanya ada untuk merayakan festival bulan purnama. Saya memiliki suatu kenangan mengesankan dengan kue ini ketika sedang belajar di Cina. Menjelang festival bulan purnama, sepasang suami istri dari gereja lokal tempat saya beribadah mengundang kami, para mahasiswa asing, untuk datang ke rumah mereka dan makan kue bulan bersama. Beberapa rekan yang memiliki keyakinan berbeda pun ikut datang. Ternyata suami istri tersebut memakai kesempatan festival bulan purnama untuk menceritakan betapa besar kasih Tuhan dalam hidup mereka. Mereka menjadikan kue bulan sebagai sarana untuk menceritakan Injil.

Tak semua tradisi warisan budaya nenek moyang itu buruk. Memang ada tradisi yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan bisa menghambat pertumbuhan rohani kita, karenanya harus kita tolak. Akan tetapi ada juga tradisi yang bersifat "netral", yang bahkan bisa kita gunakan untuk menjadi sarana pemberitaan Injil yang efektif. Paulus, dalam pelayanannya, tidak mengabaikan tradisi yang dimiliki seseorang. Dikatakan dalam surat Korintus, ia "menjadi seperti orang yang dilayaninya" supaya bisa memenangkan sebanyak mungkin orang (ayat 19).

Saya belajar dari suami istri yang mengundang kami untuk makan kue bulan itu. Mereka begitu rindu mewartakan kabar baik tentang kasih Kristus, dan mereka menggunakan tradisi warisan budaya yang mereka miliki untuk dipakai menjadi sarana penginjilan. Dan itu sangat efektif. Walau tentu kue bulan itu hanya menjadi sarana, bukan yang utama. Akhirnya yang menyentuh hati kami bukanlah kue bulan, melainkan kasih Kristus dalam hati mereka -GS

PERNAK-PERNIK TRADISI BISA MENGUNDANG ORANG MASUK TETAPI HANYA KASIH KRISTUS YANG MEMBUAT MEREKA BERTOBAT

Yayasan Gloria

Selamat Karena Hal KECIL

Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat, sedangkan sebagian besar meninggal saat terjadinya serangan atas WTC - untuk menceritakan pengalamannya.

Pada pertemuan pagi itu, pimpinan keamanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai : HAL-HAL YANG KECIL :

Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK.

Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya.

Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu.

Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas.

Seorang karyawan ketinggalan bus.

Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian.

Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan.

Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering.

Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama.

Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.

Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah: sebuah sepatu baru.

Saya memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini.

Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon dan semua HAL KECIL yang mengganggu - sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini

Jika suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda!

Kiranya Tuhan selalu memberkati saudara dengan semua hal-hal kecil yang tampaknya mengganggu dan semoga saudara mengingat akan maksud dari semua peristiwa kecil itu terjadi.

Humor : Tongkatnya Terbalik

Seorang pendeta mengambil cuti dan memutuskan untuk pergi ke salah satu lapangan golf yang besar tempat Arnold Palmer (pe-golf terkenal) sering bermain. Ketika pendeta itu sampai pada lubang yang paling sulit di lapangan itu, kadi yang membantunya berkata, "Ketika Arnold Palmer sampai di lubang ini, ia memakai tongkat nomor tiga dan berdoa."

"Wah, saya juga mau mencoba", jawab pendeta itu. Tetapi ketika bolanya masuk ke air, ia berkata, "Mungkin Tuhan tidak mendengar doa saya."

"Mungkin Ia mendengar Anda, Pak", kata kadi itu, "Tetapi Arnold Palmer tidak pernah menggunakan tongkatnya terbalik."

20 September 2008

Bapa Kami yang di Sorga

*Bapa kami yang di surga aku mencintai MU.*

Semua kutukan nenek moyangku, papa mamaku, keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU. Sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan.

Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman2ku. Jadikanlah kami kepanjangan hati dan tanganMU. Dalam nama TUHAN YESUS kami berdoa.

AMIN...

Humor : Salah Diet

Seorang wanita menderita obesitas yang parah, sehingga si dokter menyuruh dia untuk melakukan diet. Dokter itu berkata, "Makanlah secara teratur dengan porsi kecil selama 2 hari, tanpa daging dan gorengan, lalu hentikanlah itu selama 1 hari. Kemudian makanlah lagi secara teratur, dengan porsi kecil selama 2 hari, kemudian berhentilah lagi selama 1 hari, begitu seterusnya. Ulangi terus prosedur ini selama 2 minggu. Jika Anda datang lagi kemari, berat badan Anda harus sudah turun sebanyak 2 kg!"

Dua minggu kemudian si wanita tersebut datang kembali, dan dia membuat sang dokter terkejut karena dia ternyata selama 2 minggu berat badannya turun sebanyak 10 kg.

"Wow, sungguh luar biasa!" kata si Dokter, "Anda mengikuti instruksi saya bukan?"

Wanita tersebut mengangguk dan berkata, "Aku mau jujur, Dok! Selama aku menjalankan diet menurut cara Anda, setiap hari ketiga aku pasti merasa akan mati karena tidak makan sama sekali!"

Setengah berteriak dokter itu berkata, "Apa?? Maksud Anda setiap hari ketiga Anda berhenti makan sama sekali? Oh tidak! Maksud saya, setiap hari yang ketiga, Anda bebas makan apa saja!"

Sudut Pandang Yang Benar

Bacaan : Filipi 4:6-7

"Sebab Tuhan adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah" - Mazmur 95:3

Kerohanian seseorang tidak akan melebihi pandangannya tentang Tuhan. Sering kita mendengar orang berkata, "Mengapa aku kurang diberkati, padahal Tuhannya sama?" Memang benar bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Kristus Yesus. Namun, yang menjadi perbedaan utamanya adalah pandangan kita tentang Dia mungkin sangat berbeda dengan orang lain.

Pandangan kita tentang Tuhan dapat menjadikan kita seorang yang lebih dari pemenang. Makin kita dapat melihat bahwa Tuhan kita besar, maka masalah yang terlihat makin kecil. Makin kita dapat melihat Kasih Tuhan yang luar biasa, maka makin kita mudah mengampuni dan mengasihi orang lain.

Makin kita dapat melihat bahwa tuhan selalu menyertai kita kapan saja dan dimana pun kita berada, maka kita makin tidak khawatir akan hidup ini.

Kita tidak akan terpengaruh pada keadaan asing sama sekali tak pernah berhubungan dengannya. Demikian pula dengan keadaan bising yang seolah membuat kita tidak mampu mengenali situasi dan menilai kemampuan diri.

Mari kita minta kepada Tuhan untuk membuka mata rohani kita sehingga kita dapat melihat dan lebih mengenal-Nya. Dapat berada di sudut pandang yang benar di segala situasi.

CARA PANDANG YANG BENAR TENTANG TUHAN MEMBUAT KITA MAKIN MENGENAL-NYA DENGAN BENAR PULA

Renungan Malam

Arsip Weekend's Scripture - Mazmur 133

"Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." - Mazmur 133

19 September 2008

Mother Teresa

Berlari Dalam Hujan

Anak kecil itu telah berbelanja dengan ibunya di Wal-Mart, sebuah Toserba yang terkenal di Amerika. Anak itu baru berumur 6 ahun, dengan rambutnya yang kemerah-merahan dan wajah yang masih tulus dan kekanak-kanakan.

Di luar hujan cukup deras. Kami semua sedang berkumpul di bawah kanopi pada pintu masuk Wal-Mart. Kami semua menunggu, sebagian dengan hati yang sabar, sebagian merasa kesal bahwa hujan mengacaukan rencana hari mereka.

Aku selalu terpesona oleh hujan yang turun. Aku terbawa akan suara dan pandangan langit yang sedang membersihkan semua kotoran dan debu dari dunia. Aku terkenang sewaktu masih anak-anak ketika berlari dan mencebur di tengah turunnya hujan dengan kebebasan seorang anak. Kenangan itu datang mengguyur pergi semua kekhawatiran dan keresahan dari kehidupan sehari-hari.

Suaranya yang manis memecahkan keheningan kita semua yang seakan-akan terpukau oleh turunnya hujan yang deras itu.

“Mam, ayolah kita berlari dalam hujan,” katanya dengan lugu.

“Apa?” jawab ibunya dengan kaget.

“Marilah kita berlari dalam hujan,” ulang anaknya.

“Tidak, sayang, Kita menanti sebentar sampai hujan agak mereda sedikit,” jawab ibunya. Anak kecil itu menunggu beberapa menit untuk kemudian mengulangi lagi, ”Mam, ayolah, kita berlari dalam hujan.”

“Kita akan basah-kuyup bila kita melakukannya,” jawab ibunya.

“Tidak Mam, seperti yang ibu katakan pagi hari ini,” seraya menarik-narik lengan ibunya.

“Pagi hari ini? Kapan saya mengatakan bahwa kita dapat berlari di dalam hujan dan tidak menjadi basah?”

“Apakah ibu tidak ingat? Ketika ibu berkata kepada ayah tentang penyakit kankernya, dan kemudian ibu mengatakan, bila Tuhan dapat menolong kita untuk dapat mengatasi masalah ini, maka Allahpun dapat menolong kita mengatasi hal-hal yang lain.!”

Orang-orang di sekitarnya hening dan yang terdengar hanyalah turunnya hujan melulu. Tidak ada seorangpun yang meninggalkan tempatnya pada saat-saat itu. Mam berdiam sejenak untuk memikirkan apa yang hendak ia katakan.

Mungkin ada sebagian orang yang akan menertawakannya, dan mungkin ada yang menganggap ia sebagai orang yang tolol. Mungkin ada orang-orang yang tidak peduli apa yang ia katakan. Namun, baginya, ini merupakan saat yang maha penting di dalam kehidupan spiritual seorang anak kecil, di mana kepercayaan seorang anak kecil yang lugu dan tulus dapat berkembang dan kelak menjadi iman yang penuh kuasa.

“Sayang, kamu benar. Marilah kita berlari dalam hujan. Bila TUHAN menghendaki kita menjadi basah, mungkin karena kita memang perlu dibersihkan,” kata ibunya. Kemudian merekapun berlari dalam hujan.

Yang lain melihat, tersenyum dan tertawa bagaimana mereka berlarian di antara mobil-mobil yang diparkir, dan melalui kubangan air dan lumpur. Mereka berdua menutupi kepala mereka dari hujan dengan kantong belanja. Mereka basah-kuyup. Namun mereka diikuti oleh beberapa orang lain yang berteriak-teriak dan tertawa seperti anak-anak kecil dalam perjalanan mereka ke mobilnya masing-masing.

Dan, ya, akupun ikut berlarian dan ikut basah kuyup. Aku kira, aku pun perlu dibersihkan.

--000--

Keadaan dan orang lain dapat mengambil barang-barang yang kau miliki, mereka dapat saja mengambil harta kekayaanmu dan merekapun dapat mengambil kesehatanmu. Namun, tidak seorangpun yang dapat mengambil kenangan-kenanganmu yang tak ternilai. Oleh karenanya, janganlah lupa mengambil waktu dan mengambil kesempatan untuk membuat kenangan setiap hari. Aku berharap, agar Anda pun mengambil waktu untuk berlari dalam hujan!

Stres? Bunuh Diri?

Bacaan : 2 Korintus 5: 11-21

Bulan April 2007 yang lalu kita dikejutkan dengan sebuah berita yang mendunia. Seorang mahasiswa dari Korea Selatan yang sedang studi di AS telah menembak mati tiga puluh tiga temannya di kampus Perguruan Tinggi tersebut dan setelah itu ia bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Salah seorang korbannya adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S3 di sana.

Stres dan bunuh diri ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak tahun 1998. Stres dan bunuh diri sudah menjadi “epidemi” dunia. Di sekitar kita banyak orang stres atau mungkin termasuk diri kita sendiri.

Ketika Nabi Elia stres karena diancam akan dibunuh Izebel, isteri raja Ahab, sang Nabi ini tidak mau makan dan mengurung diri di sebuah gua. Bahkan minta Tuhan agar mencabut nyawanya daripada tidak berguna. (ay.4). Tetapi Tuhan menolong dengan mengutus malaikat-Nya.

Stres dan niat untuk bunuh diri bisa terjadi pada siapa saja termasuk orang-orang percaya.

    - Nabi Elia disentuh oleh malaikat yang mendekatinya. Sentuhan hati dan jiwa menjadi obat bagi setiap orang yang sedang dalam pergumulan. Serahkan hatimu kepada Tuhan agar mengalami sentuhan-Nya.

    - Nabi Elia dkuatkan dengan makanan yang disediakan oleh malaikat. Sebuah gambaran bahwa dalam keadaan stress kita tidak boleh sama sekali “kosong” hidup kita. Beri kesempatan Tuhan Yesus tinggal di dalam hati kita

    - Nabi Elia akhirnya bisa bangun dan berjalan kembali untuk perjalanan yang jauh. Jangan sampai perjalanan kehidupan kita kehilangan visi dan mimpi-mimpi yang baik yang menjadi cita-cita kita.

ORANG YANG MEMBIARKAN TUBUHNYA DIKUASAI STRES SAMA DENGAN TIDAK MENGHARGAI DIRINYA ADALAH BAIT ROH KUDUS. BUNUH DIRI BUKAN CARA UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH BAHKAN TIDAK MEMULIAKAN ALLAH.

Pdt. Andreas Gunawan Pr, STh.

Saya Benci Orang Kristen

Saya benci orang Kristen, padahal sejak TK , SD , SMP, SMA, saya sekolah di sekolah Khatolik dan Kristen. Jadi saya sangat familiar dengan nama Yesus, Alkitab, Natal, Paskah, dan hal-hal berbau Kristen Khatolik. Latar belakang keluarga saya adalah penganut aliran Buddhis, atau Kong Hu Chu, pokoknya tradisi cina. Buat keluarga saya, nama Yesus itu nggak ada arti apa-apanya. Bahkan cenderung mengganggu. Satu-satunya alasan ortu saya sekolahin saya di situ adalah karena mutu sekolah Kristen Khatolik lebih bagus (katanya). Well, ini relatif. Yang pasti sih uang sekolah lebih mahal.

Waktu SMP, saya ingat teman akrab saya mulai mengajak saya sekolah minggu di sebuah gereja di ketapang. Saya tidak menolak karena:

1. Dia teman baik saya
2. Saya berpikir ke gereja menyenangkan karena bisa belajar nyanyi dan dapat banyak teman. Bagaimanapun saya sendirian di rumah (adik masih kecil) dan tidak ada teman.

Jadilah setiap hari minggu pagi, teman baik saya itu (dengan papa dan mama dan adiknya) menjemput saya dan mengantar saya pulang. Luar biasa bukan? Tapi pada kenyataannya saya jadi membenci gereja dan isinya karena : Anak sekolah minggu tidak ada ramah-ramahnya sama sekali sama saya. Mereka sudah "nge-gank" sendiri dan tidak peduli ada satu "new-comer" yang kebingungan. Saya lebih dikenal sebagai "buntut" nya temen saya. Sungguh tidak menyenangkan! Menurut mereka adalah hal yang "tabu" mendengar ortu saya masih buddha, dan saya merasa terhakimi dengan pandangan mata mereka. (Seolah-olah memiliki ortu bukan kristen itu suatu dosa besar dan memalukan. Hmmm....)

Saya bingung melihat anak sekolah minggu yang katanya belajar firman Tuhan tapi kok malah ngecengin cewek, berisik saat guru sekolah minggu nerangin sesuatu, cuek, berantakan.. .. (image saya tentang gereja cukup tinggi saat itu. Bukankah justru orang di luar gereja punya image lebih tinggi dari penghuninya? ). Jadi saya berpikir untuk apa ke gereja kalau bukan jadi makin baik malah jadi kayak mereka! No way! Mereka tidak lebih baik daripada saya! Ada hak apa mereka berbicara tentang bagaimana seharusnya kita hidup kalau hidup mereka sendiri lebih tidak karuan dibanding saya? (Saya selalu juara kelas dan anak teladan di sekolah. Jadi bisa dimengerti kan standar hidup saya saat itu?)

Pada suatu hari teman saya berkata: "Mengapa ortu mu menyembah patung? Itu kan perbuatan bodoh!" dan untuk suatu alasan yang tidak jelas, saya sangat-sangat tersinggung mendengar ortu saya dikatakan bodoh. Padahal biasanya juga saya tidak perduli dengan patung-patung mereka. Hehehe...

Semenjak itu saya berhenti sekolah minggu dan saya benci orang kristen. Oh, saya tetap bersahabat dengan teman saya itu, tapi saya tidak pernah lagi mau menginjakkan kaki saya di gereja! Gereja menjadi tempat yang paling menyebalkan buat saya!

SMA Yang Penuh Dengan Orang Kristen
Kalau semenjak TK sampai SMP saya ikut sekolah Khatolik, maka SMA saya memutuskan untuk berganti suasana dengan Protestan. Paling tidak saya tidak harus berdoa rosario, begitu pikir saya. Meskipun banyak orang kristen (80%), tetapi herannya tidak ada satu orangpun yang pernah mengabarkan injil kepada saya. Hebat yah? Hehehe... semua penuh toleransi terhadap agama lain, dan paling-paling ada sedikit perdebatan (yang tidak pernah ada konklusi) tentang Kristen dan Khatolik kalau sedang pelajaran agama. Tapi di luar itu, aman. Tidak ada yang pernah memberi tahu saya bahwa hidup adalah bukan hidup tanpa Tuhan Yesus.

Benar-benar tiga tahun saya sekolah, sungguh tidak ada satu orangpun yang mengabari saya injil! Dan saya tidak pernah ke gereja lagi kecuali acara sekolah mengharuskan saya ke gereja. Saya punya alkitab hasil dari dulu sekolah minggu. Itupun saya beli yang paling kecil. Dan penuh dengan coretan bukan karena saya rajin baca allkitab, karena ada ulangan agama! Hahaha...

Saya benci masa SMA saya. Banyak masalah di sini. Persahabatan yang retak karena cowok, tidak ada teman karena untuk mereka saya terlalu "kolot" dan "aneh" dan "kuper" (thanks untuk didikan keluarga Cina yang lumayan tertutup), hidup yang penuh rutinitas. Aduh, nggak ada enak-enaknya deh. Mana ortu saya sangat menjunjung tinggi pendidikan (seperti orang tua chinese pada umumnya) dan menaruh harapan tinggi pada saya. Saya sangat sayang ortu, saya tahu hidup mereka dulu sangat susah, dan mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anak. Akibatnya saya jadi stress dan berusaha tidak mengecewakan mereka dengan belajar segiat-giatnya. Saya selalu ranking satu, tapi somehow itu tidak pernah cukup untuk orangtua saya atau saya sendiri. Somehow, saya sungguh tidak tahu untuk apa saya hidup.

"Saulus" Muda
Waktu kuliah, sikap ekstrim saya mulai keluar. Pokoknya setiap ada orang kristen yang cukup "aktif" ngomongin Tuhan, langsung saya babat habis dengan pertanyaan-pertanya an aneh bin ajaib yang mereka tidak bisa jawab. Bahkan terkadang mereka sampai-sampai ikutan bingung dan jadi meragukan kepercayaan mereka. Hehehe... atau saya akan super kritis sama tindakan mereka sehari-hari. Karena menurut saya kalau kamu berani ngomongin kasih, kejujuran, dll itu, kamu juga harus bisa donk hidup seperti yang kamu omongin. Munafik namanya kalo nggak.

Orang Kristen Takut Sama Saya.
Belakangan saya baru tahu pertanyaan-pertanya an ekstrim tersebut muncul dari kerinduan hati saya yang ingin tahu: Tuhan yang mana sih yang bener? Kalo Tuhan-nya orang Kristen yang paling bener (seperti yang mereka bilang), kenapa mereka ditanyain gitu aja nggak bisa jawab? Atau kenapa sikap dan tingkah laku mereka malah lebih bobrok dari kita-kita yang nggak Kristen? Sama aja bohong donk? Ortu saya juga nyembah Buddha, tapi ditanyain apa-apa nggak pernah ngerti! Hahahaha.... Malah mereka lebih punya kasih dan jujur daripada mereka yang ngakunya Kristen (banyak pedagang kristen yang suka nipu ortu saya). Apa bedanya jadi Buddha sama jadi Kristen kalo gitu?

Malah ada satu teman saya yang Kristen dari lahir dan aktif di gereja tapi malah ikut-ikutan nanya-nanya tentang kekristenan dengan nada menuduh dan menghakimi bareng-bareng saya! Hahaha... kocak banget deh. Image saya tentang kristen jadi makin jelek aja. Well, teman-teman sepermainan saya kebanyakan Kristen dan Khatolik. Tapi mereka juga cukup cinta damai. Yah, ada beberapa Kristen KTP di situ, jadi tidak heranlah. Yang bikin saya protes di kemudian hari adalah keberadaan temen saya yang lahir baru tapi tidak pernah menginjili saya! Wah, saya marah-marah sama dia belakangan," Tega lo ya tahu gue mau ke neraka tapi nggak pernah ngomongin Yesus?" (padahal kalo diomongin marah-marah waktu itu. Hehehe....)

Tapi Jalan Tuhan Memang Unik.
Ada satu cowok naksir saya dan dia Kristen. Dia tahu saya bukan Kristen jadi demi boleh berpacaran dengan saya, dia jadi rajin ngasih traktat, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang ekstrim-ekstrim dengan sabar dan kalaupun dia tidak bisa menjawab, saya sangat jengkel dengan ucapannya, "Aku nggak bisa ngejelasin, tapi yang penting aku percayanya seperti itu." Benar-benar menyebalkan. Ego saya membuat saya pingin dia menyerah atas pertanyaan saya, tapi dia nggak tuh! Tapi paling tidak traktat-traktat yang dia kasih saya bacain semuanya. Sampai sekarang masih saya simpan meskipun banyak yang sudah saya kasih orang. Bukan untuk mengingat cowok itu, tapi mengingat jalan Tuhan yang unik dan lucu.

Saat saya kuliah tingkat pertama, ada pelajaran agama. Dan saya memilih Kristen karena orang-orang berkata itu mata pelajaran paling gampang lulus, dan dosen-dosennya murah nilai. Guess what, tugas pertama adalah kami harus mencatat khotbah pak pendeta dari gereja anda masing-masing selama sebulan dan menyerahkannya kepada dosen kami sebagai tugas kulikuler. Tentu saja saya kalang kabut karena saya adalah "penyeludup" dan boro-boro punya gereja! Saya benci gereja! Untunglah teman dekat saya yang kristen mau mengajak saya ke gereja bersama dia. Jadi setiap minggu, papa saya harus saya paksa bangun pagi (karena saya tidak bisa nyetir) untuk mengantar saya ke rumah teman saya itu, dan dari sana kami ke gereja dan harus, tidak bisa tidak, mendengarkan dengan teliti karena kita harus mencatat khotbah! Hah! Take that! Apakah menurut teman-teman Tuhan kita itu tidak iseng?

Tapi Ini Hanya Berlangsung Sebulan.
Suatu kali ada dosen yang dengan ramahnya minta sogokan, kalau tidak sekelas tidak lulus! Jadilah kami mengumpulkan uang untuk dosen itu kecuali beberapa orang kristen "fanatik" dari teman sepermainan saya yaitu cowok yang naksir saya, koko angkat saya, dan satu cewek yang lahir baru (tapi nggak pernah nginjilin saya)! Wah, saya jengkel sekali sama mereka waktu itu! Padahal orang kristen di kelas bukan cuman mereka, kenapa harus mereka yang cari perkara sih? Karena mereka temen sepermainan kami, teman-teman sekelas yang lain juga banyak curhat dan protes sama kita! Apa susahnya bayar Rp 35.000,- doank? Tapi yang jelas mereka tidak mau nyogok meskipun diancam tidak lulus, diancam mencelakakan teman sekelas, meskipun dikucilkan semua orang termasuk orang kristen lainnya. Pendek kata mereka tidak mau nyogok! Dan saya menemukan mereka berdoa bersama di suatu sudut ruangan, dan saat itu entah kenapa saya benci melihat sikap mereka, plus iri karena ada orang kok yang bisa begitu kepala batu akan sesuatu. Saat itu saya mulai berpikir, apakah sungguh-sungguh ada sesuatu yang istimewa dari Yesus ini, ataukah mereka hanya sok jadi pahlawan? Tapi jujur saya tidak suka dikucilkan satu kelas dan dicemooh dikatakan munafik dst. Saya tidak yakin saya bisa berpegang pada moral saya dan tidak ikutan nyogok. Mengapa mereka bisa? (Dan pada akhirnya dosen yang minta sogokan itu dipecat sebelum dia sempat memberikan nilai pada kelas kami. Dosen lain ditugaskan memeriksa ulang ulangan kami, dan bukan saja mereka lulus, tapi nilai mereka malah lebih tinggi dari kami semua yang menyogok!)

Mama saya terkena tumor payudara. Meskipun tidak berat, saya waktu itu cukup ketakutan dan entah karena sudah terbiasa berdoa ala Kristen Khatolik atau karena alasan lain, yang jelas saya berdoa pada Tuhan Yesus sepanjang malam dan operasinya berhasil. Tetapi seperti kebanyakan orang, saya dengan cepat melupakan "jasa" Tuhan dan kembali pada jalan saya semula.

Adik saya yang cewek mulai les fisika, kimia, dsb. Dan berhubung cicinya adalah anak sos yang meskipun dapat 9 untuk biologi tapi sangat benci fisika dan hampir meledakkan lab kimia karena salah mencampur cairan, maka dia mulai les. Dan guru les nya adalah orang kristen yang sangat-sangat-sangat gemar bersaksi tentang Tuhan Yesus. Bisa dibayangkan? Setiap pulang les, dia dengan semangat bercerita tentang keajaiban yang Tuhan buat dalam hidup guru les-nya, yang Tuhan begini lah Tuhan begitulah, anak ABG sangat mudah terpengaruh orang yang dikaguminya, dan nampak jelas dia mengagumi guru les nya itu. Mulailah telinga saya gatal mendengar cerita "kebesaran Tuhan" setiap kali dia pulang les. Anehnya, meskipun saya selalu mencibir dan membantah dan balas mencuci otak adik saya dengan filsafat dunia, diam-diam saya menyimpan dalam hati semua cerita tentang Yesus. Saya mulai tertarik. Sungguh.

Saya Benci Natal
Karena saya selalu kesepian di rumah. Semua teman saya pergi dengan keluarga ke gereja, paling tidak setahun sekali lah bagi mereka yang tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan. Termasuk pacar saya. (Oh, bukan dia yang dengan gencar menginjili saya. Saya tidak suka kristen fanatik, yang berusaha mengubah saya jadi kristen sebelum bisa pacaran dengan saya. Jadi saya memilih jadian dengan kristen yang biasa-biasa saja, yang ke gereja setahun sekali, yang tidak punya masalah untuk pacaran dengan orang yang tidak seiman). Dan saya harus tinggal sendiri di rumah. Menyebalkan! Saya selalu merasa terkucil dari lingkungan orang-orang kristen. Terutama hari Natal. Sepertinya ada spanduk besar-besar tertulis, "Khusus untuk orang Kristen! Non Kristen dilarang mendekat!" Saya benci sekali Natal.

Is There Really God Up There?
Sebenarnya sejak SMA saya diam-diam suka menangis di ranjang saya tiap tengah malam. Ada satu rasa kosong di hati saya yang sudah tidak bisa saya tahan lagi. Saya tidak tahu siapa saya, saya tidak tahu bagaimana cara menyenangkan hati ortu saya karena nampaknya tidak peduli sekuat apapun usaha saya, mereka tidak pernah puas. Saya tidak tahu mengapa meskipun saya mengasihi adik-adik saya tapi seringkali kata makian lah yang keluar dari mulut saya.

Apakah benar ada reinkarnasi, apakah benar orang baik pergi ke surga dan orang jahat pergi ke neraka. Saya seharusnya termasuk orang baik. Saya tidak mencuri, tidak membunuh, yah paling bohong kecil-kecilan tapi itu kan wajar? Bohong putih toh tidak melukai orang. Tapi mengapa saya merasa tersiksa dan kesepian?

Tiap malam saya menjerit dan bertanya, Mana sih Tuhan yang bener?? Jawab kek! Berdoa pada Kwan Im, Buddha, bahkan kecil pernah belajar ngaji sama pembantu saya (yang langsung dipecat saat itu juga.. hehehe...), doa rosario, Bapa Kami, berusaha baca Alkitab. Semua saya kerjakan demi mencari "sesuatu" yang hilang dari hati saya itu, tapi tetap dan tetap hati ini kosong. Dan saya putus asa! Dan perasaan putus asa ini keluar menjadi sikap yang skeptis dan menolak kebenaran. Saya membenci apa yang sebenarnya paling saya butuhkan saat itu: Tuhan Yesus.

TUHAN Mulai Menebar Jaringnya!
"Ci, kalau kita bisa mengerti semua pikiran Tuhan, ya kita aja yang jadi Tuhan! Ivon rasa ada beberapa hal yang memang nggak bisa dijelasin pake kata-kata deh...." Perkataan adik saya itu sungguh menusuk dan membuat saya berpikir. Hmmm.. masuk akal. Logika saya termasuk kuat untuk seorang cewek. Hehehe.. saya tidak akan menerima sesuatu yang tidak masuk di akal saya. (Meskipun di sekolah saya terkenal sebagai "Asisten Dukun" karena kemampuan saya meramal dengan kartu, astrologi, dll.) Sekali lihat orang, saya bisa tahu zodiak dia apa, saya bisa tahu cowok atau cewek yang cocok sama dia yang gimana.

Oh, saya tidak punya ilmu. Hanya sedikit memakai akal dan banyak membaca buku untuk "menipu" dan "mempermainkan" temen-teman yang girang sekali kalau saya mulai "menggelar acara meramal"! Dengan begitu saya bisa sedikit populer. Dan ajaibnya banyak orang kristen datang minta diramal sama saya! (Saya waktu itu mencibir dalam hati. Kalian bilang percaya Tuhan tapi percaya juga pada omong kosong saya?) Dan TUHAN tahu masalah logika saya ini. Dan Dia membuktikan bahwa diriNya bukan sekedar ilusi, mistis, atau kepercayaan. God does exist. Dan Dia mulai berbicara.

Sesuatu Tentang Alkitab Yang Tidak Pernah Saya Tahu
Suatu hari adik membawa pulang sebuah buku dengan judul: "Nubuatan Akhir Jaman". Sudah jelas guru les nya yang meminjamkan. Dan beberapa buku lain, tetapi buku itu paling menarik perhatian saya.

Seperti layaknya manusia, kita tertarik dengan hal-hal penuh sensasi. Dan meskipun adik saya belum kristen waktu itu, dia suka mendengar cerita tentang kiamat, akhir jaman, mukjizat, dll. Saya tentu saja pernah mendengar tentang kiamat. Tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengerti karena kalo kiamat bagaimana ada reinkarnasi dan sebangsanya? Pada akhirnya adik saya tidak pernah membaca buku itu. Dia terlalu malas untuk membacanya. Sayalah yang membacanya. Atau lebih tepatnya mengupasnya dan menyelidikinya. Dan saya mulai takjub.

Tidak pernah saya lihat satu buku yang bisa menjelaskan fenomena di dunia ini kecuali buku yang saya baca itu, dengan sumbernya: Alkitab. Segala tentang perang, penyakit, bencana alam, pecahnya negara-negara, terbentuknya PBB, rencana terbentuknya MEE (oh, saya langsung teringat guru ekonomi SMA saya, orang Batak, pernah berkata bahwa akan tiba saatnya dunia bersatu dan antikris akan muncul, tentu saja waktu itu saya mendengarnya sambil setengah tidur karena saya tidak perduli dengan semua itu!), dst dst.

Sore itu juga saya pergi ke toko buku kristen dan membeli alkitab yang paling besar, dan mulai menyelidiki buku tersebut dengan seksama. Buku itu ekstrim. Sungguh. Bagi para pecinta damai, tidak akan suka membaca buku ini. Dengan terang-terangan dan tidak sopannya si pengarang membeberkan perbedaan kristen dengan agama lain. Dia menunjukkan persamaan yang terdapat dalam seluruh agama di dunia, kecuali satu yang tampil beda: Kristen. Sombong sekali bukan?

Anehnya saat itu saya tidak lagi tersinggung. Saya tidak lagi peduli. Saya terlalu haus akan kebenaran untuk tersinggung. Saya terlalu takjub melihat nubuatan dalam Alkitab yang satu demi satu tidak pernah gagal terpenuhi... saya mulai melihat kalau Alkitab pun penuh dengan logika, fakta... Alkitab ternyata berhubungan dengan dunia yang sekarang saya tinggali! Mulai saat itu, pandangan saya tentang kristen berubah.

Tindakan Yang Saya Tidak Pernah Pikir Akan Saya Lakukan
Saya memborong buku renungan! Mulai dari Renungan Harian, Dian Kampus, Imamat Rajani, Rajawali, hampir semua renungan yang ada di toko buku kristen itu saya beli! Dan satu hari saya bisa melahap berlembar-lembar renungan. Saya harus tahu lebih tentang Yesus! Dan saya mulai melahap Alkitab. (Peduli saya mengerti atau tidak, saya hanya merasa dorongan bahwa saya harus membacanya!). Empat pasal sehari. Itu wajib. Ditambah buku renungan yang seabrek-abrek.

Dan sungguh, untuk pertama kalinya, saat saya membaca Alkitab dan firman Tuhan di dalamnya, itu bukan lagi tulisan-tulisan mati yang tidak ada arti untuk saya. Pertama kali saya merasakan ditegur, dinasihati, dihibur, dikuatkan (meskipun saya tidak begitu yakin itu Tuhan atau hanya imajinasi saya) dan terlebih tidak pernah seumur hidup saya, saya menjadi begitu mengerti karakter saya, kejelekan saya, rasa malu saya. Saya mulai mengenal diri sendiri. Saya mulai merasa Tuhan itu benar-benar ada. Dan saya mulai ingin lebih.

Percaya atau tidak, setelah bertahun-tahun, saya akhirnya dengan keinginan sendiri menginjakkan kaki saya ke sebuah gereja di daerah senen. Tidak ada alasan khusus saya memilih gereja itu. Hanya karena "kebetulan" itulah satu-satunya gereja yang saya tahu karena secara "kebetulan" juga selama sebulan saya pergi ke sana untuk mencatat khotbah. TUHAN dahsyat bukan?

Dan demi bisa ke gereja itu, (karena papa saya terlalu malas untuk bangun pagi), saya memberanikan diri untuk menyetir kembali! Dulu saya pernah tabrakan dan sempat trauma sehingga tidak pernah lagi semenjak kecelakaan itu saya pegang setir mobil. Kali ini, demi sesuatu yang pernah saya benci sedemikian rupa, saya duduk di belakang setir mobil dan sepanjang jalan berkomat-kamit meminta perlindungan untuk sampai tujuan dengan selamat! (Adik perempuan saya masih bisa tidur dengan santainya di mobil, sampai mama saya dengan terkejut berseru: "Kamu bisa tidur dalam mobil yang disetir cicimu?" Wah, thanks mam untuk kepercayaanmu! Hahaha....) Oh, tidak pernah saya menyetir sampai daerah senen. Hanya sampai rumah teman saya di sunter, dan dari sana kami naik mobilnya ke senen.

Saya bahkan mulai memaksa teman saya yang suka terlambat itu untuk tidak lagi terlambat. Bahkan kalau dia mulai malas ke gereja, saya yang ngeyel supaya dia pergi, masalahnya dia tumpangan saya. Hehehe.... Teman-teman sekelas bingung karena saya yang dulu suka mengkritik Yesus, mulai dengan semangat (dan dengan pengetahuan ala kadarnya) bercerita tentang Yesus. Paling tidak bercerita tentang apa yang saya dapatkan dari buku renungan yang saya baca. Dan koko angkat saya yang cukup kristen dan cinta Tuhan meskipun juga cinta damai menjadi teman sharing saya.

Adik cowok saya ikut heran, mengapa cicinya jadi sibuk mengurusi Yesus? (Tidak yang cewek. Yang cewek ikut saya ke gereja. Seharusnya sih dia menjadi ko-pilot saya selama menyetir, tetapi seperti yang sudah kita lihat, dia tidur dengan pulasnya. Hmmmm...). Dia nampaknya mewarisi "ilmu antikris dan anti Tuhan" hasil cuci-otak dari saya. Hmmm.. hal yang cukup saya sesalkan kemudian. (Pada akhirnya, setelah 6 bulan penuh doa tangis dan puasa, dia bertobat. Puji Tuhan! Mulai sejak itu saya berhati-hati kalau sharing sama orang, terutama hal yang saya sendiri kurang jelas dan kurang mengerti.)

Orang tua mulai cemas karena nampaknya anak sulungnya ini serius dengan gerejanya. Wah, bagaimana kalau nanti kita mati dan tidak ada yang sembahyangin kita? Tapi merekapun tidak bisa mencegah saya ke gereja! Saya masih belum percaya saya melakukan semua itu untuk Yesus!

TUHAN Mengguncang : Mei 1998
Semua masih ingat tentunya bulan tragis ini. Saya tidak akan pernah lupa. 12 Mei 1998, saya terkurung di kampus Untar, dan menyaksikan dengan mata sendiri tentara kita baku hantam dengan mahasiswa Trisakti. Bahkan banyak mahasiswa Trisakti yang berilndung di kampus Untar. Saya melihat seseorang yang nampaknya tertembak dan dibawa masuk klinik Untar. Saya merasakan pedihnya gas air mata (padahal itu asli hanya sisa-sisa gas air mata) dan tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya kalau itu bukan sisa-sisa! Untuk pertama kalinya saya, di lantai 8 kampus saya, berdoa dengan orang-orang kristen yang lain. Tentu saja saya paling bodoh sendiri karena tidak tahu apa yang harus saya doakan di sana. Yang saya tahu saya tidak terlalu takut karena pikir saya: mati toh barengan. Hehehe...

Waktu itu koko angkat saya memberi saya Mazmur 91. "Kalau kamu takut, baca saja pasal ini." Pacar saya tidak banyak berbicara. Dan dia juga nampaknya tidak terlalu tahu bagaimana harus berdoa. (belakangan saya tahu meskipun dia kristen sejak lahir tapi tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Tuhan). Dan pada akhirnya, tgl 15 Mei, kekacauan massal. Toko orang tua saya di daerah mangga dua dibakar massa. Tidak ada yang tersisa. Dan untuk pertama kalinya saya melihat orangtua saya menangis di depan anak-anak. Saat itu, baru saya mulai takut.

Terlebih dengan adanya berita-berita pemerkosaan, pembunuhan, perampokan. Orangtua saya dan kakek nenek saya nampaknya punya trauma yang lebih lagi karena mereka melewati cukup banyak waktu di mana peristiwa seperti ini bahkan mereka alami secara pribadi. Karena itu mereka mulai bersiap-siap mengungsi. Kami tidur satu kamar bertumpuk-tumpuk, saya tidur membawa gunting (yang saya pikir-pikir lagi agak-agak bodoh karena apa gunanya gunting kecil dibanding massa kalau mereka menyerbu masuk rumah coba?)

Keluarga kami mengungsi dari Kelapa Gading ke Pulo Mas (sementara orang-orang Pulo Mas mengungsi ke Kelapa Gading! Hahaha....). Untuk pertama kalinya saya sadar: tidak ada tempat yang aman. Yang bikin saya sangat stress adalah saat mama saya setengah menangis menjejalkan segepok uang ke dalam kantung baju saya dan memerintahkan saya membawa kedua adik saya mengungsi ke Singapore besok, dengan pesan, "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan papi dan mami, kamu jaga adik-adik kamu yah?"

Betapa saya benci jadi anak sulung! Bagaimana mungkin saya bisa menjaga kedua adik saya? Saya belum lulus kuliah! Apa yang bisa saya lakukan untuk menjaga mereka? Tapi saya tidak ingin menambah stress mama saya sehingga saya hanya mengangguk. Mereka menolak pergi ke Singapore. Mereka menyuruh kakek nenek saya yang menemani kami. Saat itu dunia benar-benar gelap dan error. Saya dan kedua adik saya membaca Mazmur 91 setiap malam dan meskipun itu menenangkan tapi tetap saya cukup stress dengan tanggung jawab yang tiba-tiba saja harus saya emban. Dan saya tidak suka menerima kenyataan bahwa ortu saya tidak akan pergi bersama saya! Sampai satu hari sebelum ke Singapore, entah bagaimana kakek saya nyolong-nyolong keluar dengan mobilnya dan melihat-lihat daerah kelapa gading. Dan pulang-pulang dia membawa sepucuk surat untuk saya.

Saya lupa itu kartu ucapan apa, tapi yang saya ingat, teman yang mengirimkannya menyelipkan satu pembatas buku dengan ayat Alkitab yang menjadi salah satu favorit saya sampai sekarang: "I can do all things through Him who strengthen me." (Phil 4:13) Dan saat itu untuk pertama kalinya saya mendengar suara Tuhan (bukan audible) dalam hati, "Pergilah ke Singapure. Aku menyertaimu. Jangan takut." Dan segera perasaan tenang menguasai saya. Saya masih cemas, tapi saya tidak lagi stress. Dan tidak pernah lagi saya meragukan bahwa Tuhan itu hidup!

Dikurung di Singapure
Kami berangkat. Bawaan saya yang terpenting adalah Alkitab, dan sebuah buku renungan inggris dengan judul: Everyday with Jesus 365 days. Dan di flat yang disewakan dengan murah oleh teman papa kami di Singapore , saya setiap hari mulai belajar berdoa dan membaca renungan tsb. Saat itu pikiran saya kacau. Saya tidak mengerti bagaimana Tuhan yang mulai saya percayai adalah Tuhan yang baik, yang adil, dst bisa-bisanya membiarkan perkara ini terjadi. Saya punya banyak pertanyaan yang bahkan saya sendiri tidak tahu bagaimana harus menanyakannya! Dan TUHAN berbicara lewat buku renungan itu.

Buku renungan yang saya beli hanya karena gambar depannya bagus dan terhitung murah untuk buku import, dan tidak pernah saya baca sebelumnya. Dan saya, entah bagaimana, mulai melihat kasih dan keadilan TUHAN, bahkan lewat peristiwa yang mengerikan itu. Saya mulai mengenal Tuhan dengan lebih dalam. Dan saat itu saya sepenuhnya yakin, tidak ada jalan di luar Yesus. Tidak ada hidup di luar Yesus. Tidak ada pengharapan di luar Yesus. Tidak ada sukacita di luar Yesus. Tidak ada damai di luar Yesus. Di luar Yesus, tidak ada apapun. Di sana, di singapure, di sebuah kamar flat yang sempit, saat kedua adik saya tertidur dengan pulas, saya menemukan Kekasih Jiwa saya. Jaring TUHAN mendapatkan ikanNya.

Iman Coba-Coba
Tiba saatnya untuk pulang! Tapi masalahnya sekarang, bukan hanya kami berlima yang ingin pulang. Begitu banyak orang indo yang ngungsi yang juga ingin pulang! Dan kami harus menunggu. Dan adik-adik mulai ribut karena mereka akan ketinggalan ujian kalau tidak pulang! Hari itu, kakek saya menolak untuk ke airport. Toh kita juga waiting list. Tidak akan dapat tiket lah! Saya dengan sebal memandang dia karena dia naik pesawat lain dengan kita, dan tiket dia sudah konfirm. Akhirnya kami berhasil memaksa dia untuk mengantar kami ke airport. Dan 60 orang lebih menunggu di waiting list untuk mendapatkan kursi.

Kami telah berdoa dengan iman ala kadarnya supaya Tuhan memberi kami tiket. Hei, bagaimanapun Alkitab mengatakan iman sebiji sesawi sudah cukup! (Saat di ruang tunggu itu saya mulai ragu apakah iman saya lebih kecil dari biji sesawi! Hahhaa...) Saat pengurus loket memanggil nama-nama yang berhasil mendapatkan tiket, dengan kecewa kami harus mendapati kenyataan bahwa kami tidak pulang hari itu. Kakek nenek saya dengan segera memberesi koper-koper dan bersiap pulang. Adik cowok saya mencibir dan meskipun dia cukup sopan untuk tidak menghina terang-terangan, saya tahu dia merasa bodoh telah berdoa beberapa hari ini. (Dia ikut berdoa juga. Belakangan setelah bertobat saya baru tahu bahwa saat dia mencibir itu dia menguji Tuhan: "Kalau Engkau beneran ada, kalau kita dapet tiket, aku bakal jadi kristen!" Tentu saja, dia segera lupa akan "jasa" Tuhan itu.)

Tinggal saya dan adik perempuan saya, yang tidak rela meninggalkan lapangan. Saat itu adik saya menggenggam tangan saya erat-erat dan berkata:"Berdoa lagi ci!" Oh? Oke. Toh tidak ada ruginya. Dan dengan takjub saya mendengar petugas loket memanggil nama nenek saya! (yang pada saat itu sudah mencapai pintu keluar) "Maaf, ada kekeliruan. Empat tiket terakhir ini untuk kalian." Can you believe that? Adik saya melompat dan berseru memanggil nenek saya yang dengan tergopoh-gopoh kembali dengan kopornya. Empat tiket terakhir.... Dan entah kekeliruan apa yang dia maksud, tapi yang jelas nama kami tadinya tidak tercantum di sana . Kami semua pulang hari itu!

"Saulus" Itu Telah Menjadi Paulus
Oh, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mencoba membandingkan diri saya dengan Paulus. Tapi beberapa teman saya terkadang bergurau dengan mengatakan," Dulu lu kayak Saulus, kok sekarang jadi Paulus sih?" dan Puji Tuhan, mereka benar. Saya melihat hidup saya diubahkan Tuhan. Sama seperti Ia mengubah hidup Saulus menjadi Paulus.

Kekosongan di hati saya telah lenyap. Ada Tuhan Yesus di sana. Tidak ada keraguan bahwa Ia lah Tuhan. Dan semenjak dari Singapore, tidak ada satu hari saya tidak bercerita tentang Yesus pada teman-teman saya di kampus dan bahkan dengan berani sedikit memaksa mereka yang beragama lain untuk percaya pada Tuhan saya! Saya mulai mengerti meskipun orang kristen tidak sempurna, mengecewakan, terkadang lebih parah daripada orang yang tidak kenal Tuhan, tetapi TUHAN nya orang Kristen itu sempurna. Tuhan Yesus sempurna.

Dan orang-orang kristen tidak lebih dari para pembunuh, pemerkosa, pencuri, anak bandel, broken home, dan bandit-bandit dan pendosa-pendosa lain yang menerima kasih karunia TUHAN. Saya belajar butuh waktu bagi seseorang untuk berubah, termasuk saya. Saya belajar untuk mengasihi dan mengampuni. Saya mulai mengerti kerinduan yang membakar orang-orang kristen "fanatik" yang dulu mencekoki saya dengan injil meskipun sudah saya usir-usir, dan saya lebih berterimakasih pada mereka sekarang. Bahkan saya telah menjadi jenis orang yang dulu paling saya benci! Hahahaa... Pacar saya protes karena pembicaraan saya sangat-sangat "tidak duniawi" dan dia berkata dia lebih suka saya yang dulu. Dia tidak bisa mengerti mengapa dia kristen dan saya kristen tapi dia tidak se"fanatik" saya? Well, saya juga tidak mengerti. Singkat cerita saja, kita bubar.

Saya percaya manusia lama saya sudah berlalu, dan yang baru di dalam Yesus telah datang. Kalau dia lebih menyukai manusia lama saya, sayang sekali. Manusia lama saya tidak akan bangkit lagi! Jadi sebaiknya dia mencari cewek lain saja. Bubarnya tidak setega dan semudah kalimat saya di sini. Tapi kita akan bersaksi masalah "pacar VS pasangan hidup" di lain kesempatan.

Saat ini saya hanya hendak mengakhiri kesaksian saya dengan mengucap syukur, bahwa Tuhan tidak pernah berhenti membentuk saya semenjak saya lahir baru. Saya dan adik saya yang perempuan dibabtis selam berbarengan. Dan meskipun saat saya melihat kolam pembabtisan yang terpikirkan hanyalah jangan sampai menelan air (dan sama sekali bukan hal-hal rohani seperti rasa terharu diselamatkan, dst), tapi saya tidak akan lupa hari itu. Saya bersyukur bahwa sejelek apapun saya, kasih Tuhan sanggup menerima saya. Saya, yang ditolak manusia, diterima oleh TUHAN!! Saya, yang sering minder dan berpikir diri tidak ada harganya, dihargai seharga nyawa Tuhan sendiri! What an amazing grace, huh?

Saya bisa melihat diri saya 2 tahun lalu dan berkata, "Oh Tuhan! Bagaimana Kau bisa sabar menghadapi karakter saya?" Bahkan jika dibandingkan dengan saya 2 bulan lalu, saya tetap akan mengatakan hal yang sama. TUHAN terus berkarya dalam hidup saya. Dia sungguh tidak pernah melepaskan mataNya dari kita. Bahkan saat saya ke gereja, tanganNya lah yang menuntut dan memilihkan untuk saya. Juga kepergian saya ke Taiwan. Dan banyak hal lainnya. Saya akan menghabiskan lebih banyak waktu kalian kalau saya menceritakan bukti kasihNya dalam hidup saya! (tapi saya yakin kalian punya pengalaman berharga sendiri dengan Tuhan kita)

Saya ada sekarang ini, dan saya hidup, karena Yesus hidup.

And hallelujah to that.

I just love you so much I just can't get enough Lord, I want more of You in my life al the time Your love touches my heart And I knew from the start That I want more of You in my life al the time. And Jesus, every tick of time Is the time to be with You There is nothing else, nothing else I'd rather do Every single day, ever since that I met You I have found a love that is always be true (Hillsongs)

I love you, Jesus. Thank You for loving me first (and still does!).

Idawati.