Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 October 2009

Mikroskop Atau Teleskop

I Korintus 13:7 - "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 36-37

Apakah Anda mengingat masa di waktu sekolah ketika pertama melihat menggunakan sebuah mikroskop? Benda-benda yang sangat kecil seperti mikroorganisme atau biji tanaman pasti akan Anda lihat besar ketika menggunakan benda tersebut.

Nah, mari bandingkan mikroskop dengan alat yang biasa manusia gunakan untuk melihat bintang atau benda-benda di angkasa, yakni teleskop. Sistem kerja benda ini sangat berbeda dengan mikroskop. Bila dengan mikroskop seseorang dapat melihat sesuatu yang sangat kecil terlihat besar, teleskop membuat sesuatu yang tampaknya jauh menjadi lebih dekat.

Apakah Anda menyadari bahwa setiap hari dalam kehidupan ini orang-orang sedang menggunakan kedua benda ini, yakni sebuah mikroskop dan sebuah teleskop, tergantung keadaan. Dan mungkin salah satu diantaranya adalah kita sendiri.

Kita dapat begitu cepat memakai sebuah mikroskop untuk melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, sedangkan di sisi lain ketika kita melakukan kesalahan, kita menggunakan sebuah teleskop yang menyebabkan kesalahan kita sepertinya begitu kecil.

Dalam Lukas 6:41-42, Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya dengan kata-kata seperti ini, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" dengan bahasa yang lebih sederhana, "Bagaimana seseorang bisa menasihati orang lain akan kesalahannya bila orang tersebut tidak bisa melihat kesalahan yang dalam dirinya sendiri?" jawabannya pastilah tidak bisa.

Oleh karena itu, Allah meminta kita menjadi orang seperti di Mikha 6:8, yakni "untuk bertindak adil dan mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Jika kita melihat ini secara serius, kita akan berhenti menggunakan mikroskop untuk memeriksa kehidupan orang lain dan malah memperluas rahmat serta kasih kepada mereka dengan melihat mereka melalui teleskop. Dengan teleskop, kita akan memandang orang lain dengan adil, penuh belas kasihan dan rendah hati seperti yang Yesus lakukan.

Jadi, apakah yang Anda pilih saat ini untuk melihat lingkungan sekitar, sebuah mikroskop ataukah sebuah teleskop?

Hati yang penuh dengan kasih adalah bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sejati.

Sumber: Saduran Artikel Devotional ‘Microscope or Telescope’ oleh Leah Adams

Jawaban.com

A Piece of My Heart

One day a young man was standing in the middle of the town proclaiming that he had the mostbeautiful heart in the whole valley. A large crowd gathered and they all admired his heart for it wasperfect. There was not a mark or a flaw in it. Yes, they all agreed it truly was the most beautiful heart they had ever seen. The young man was very proud and boasted more loudly about hisbeautiful heart.

Suddenly, an old man appeared at the front of the crowd and said "Why, your heart is not nearly as beautiful as mine." The crowd and the young man looked at the old man's heart. It was beating strongly, but it was full of scars. It had places where pieces had been removed and other pieces put in, but they didn't fit quite right and there were several jagged edges. In fact, in some places there were deep gouges where whole pieces were missing. The people stared -- how can he say his heart is more beautiful, they thought? The young manlooked at the old man's heart and saw its state and laughed.

"You must be joking," he said.

"Compare your heart with mine. Mine is perfect and yours is a mess of scars and tears."

"Yes," said the old man, "yours is perfect looking but I would never trade with you. You see, every scar represents a person to whom I have given my love - I tear out a piece of my heart and give it to them, and often they give me a piece of their heart which fits into the empty place in my heart, but because the pieces aren't exact, I have some rough edges, which I cherish, because they remind me of the love we shared."

"Sometimes I have given pieces of my heart away, and the other person hasn't returned a piece of his heart to me. These are the empty gouges -- giving love, is taking a chance. Although these gouges are painful, they stay open, reminding me of the love I have for these people too, and I hope someday they may return and fill the space I have waiting. So now do you see what true beauty is?"

The young man stood silently with tears running down his cheeks. He walked up to the old man, reached into his perfect young and beautiful heart and ripped a piece out. He offered it to the old man with trembling hands. The old man took his offering, placed it in his heart and then took a piece from his old scarred heart and placed it in the wound in the young man's heart. It fit, but not perfectly, as there were some jagged edges. The young man looked at his heart, not perfectanymore but more beautiful than ever, since love from the old man's heart flowed into his.