Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 August 2009

Kebebasan Yang Berbahaya

Galatia 5:13 "Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 48; Titus 2; Yesaya 49-50

Kebebasan. Siapa yang tidak ingin mengalami kebebasan, siapa pun dia baik itu orang kaya atau pun orang miskin, orang pintar atau orang bodoh, tidak ada yang mau hidup dalam kekangan atau keterikatan, semuanya ingin bebas merdeka. Namun, demikian kebebasan akan menjadi berbahaya apabila berada di tangan orang-orang yang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Itulah sebabnya kawat duri, jeruji baja, dan tembok beton digunakan untuk mengurung para pelaku kriminal. Atau coba kamu bayangkan bila api unggun dibiarkan menyala di hutan kering, maka segera saja hutan itu akan menjadi lautan api. Kebebasan yang tidak diawasi dapat menimbulkan kekacauan.

Tidak ada orang yang lebih nyata dalam kehidupan Kristen. Orang-orang percaya dilepaskan dari kutukan yang mendatangkan maut, mereka semua juga bebas dari hukuman dan tekanan rasa bersalah. Ketakutan, kecemasan dan rasa bersalah yang selama ini mereka alami telah digantikan oleh kedamaian, pengampunan, dan kemerdekaan. Siapakah yang lebih bebas daripada orang yang jiwanya telah dibebaskan? Namun harus kita akui dengan jujur, bahwa justru disinilah kita seringkali gagal. Kita menikmati kebebasan untuk hidup seenaknya atau menganggap apa yang Allah percayakan sebagai milik pribadi. Kita terjebak dalam hidup yang hanya menyenangkan diri sendiri, khususnya dalam masyarakat yang makmur.

Cara yang tepat untuk menggunakan kebebasan adalah melayani sesama dengan "iman yang bekerja oleh kasih" (Galatia 5:6, 13). Ketika kita bersandar pada Roh Kudus dan mencurahkan tenaga dalam mengasihi Allah dan menolong orang lain, perbuatan daging yang menghancurkan akan dikendalikan Allah (ayat 16-21). Karena itu, marilah selalu menggunakan kebebasan untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan.

Seperti halnya api yang menyala-nyala yang dapat membakar apa saja yang didekatnya, maka kebebasan tanpa batas sangatlah berbahaya. Tetapi jika Anda mampu mengontrol kebebasan tersebut, maka akan jadi berkat bagi banyak orang.

Kebebasan tidak memberi hak untuk melakukan apa yang menyenangkan Anda, melainkan melakukan yang menyenangkan Allah

Jawaban.com

Hidup

Kita hidup bukan untuk mencari kebahagiaan, tapi untuk membuat orang bahagia. Membuat orang lain bahagia itu diminta kesediaan untuk mendengarkan, memahami, merasakan, dan mengakui dirinya sebagai pribadi yang bernilai dan berarti bagi hidupmu!

Hidup tidak untuk mencari kenyamanan, melainkan jadikanlah kehadiranmu itu membuat orang lain nyaman! Orang merasa nyaman bukan karena diberi uang saja tetapi karena ia merasa tidak dihakimi dan dinilai menurut kacamata kita. Ia nyaman karena ia diberi kesempatan untuk meminjam telingamu agar curahan hatinya terungkapkan pada dirimu!

Hidup tidak untuk mencari kepastian, melainkan berikanlah selalu kepastian saat orang membutuhkan pelayananmu. Orang yang membutuhkan pelayanan itu biasanya bingung dan gelisah, karena ia berada dalam situasi krisis. Karena itu janganlah ragu-ragu untuk bertanya, “Apakah yang bisa kubantu agar engkau bisa lega lagi?”

Hidup tidak untuk mencari sekedar kehangatan yang menghibur pada saat kesepian. Namun jadikanlah dirimu orang yang hangat dengan lebih suka menyapa orang lain  daripada disapa, juga kalau orang yang engkau sapa adalah orang orang yang paling tidak menyenangkan sekalipun!

Hidup itu tidak usah kembali ke masa lalu, dan ingin mengulang kisah kasih yang pernah terajut di masa lalu, namun hidup itu kenangan akan cinta Tuhan, agar kita tidak ragu-ragu menatap dan melangkah di masa depan meski ada banyak ketidakpastian.

Hidup itu tidak usah mencari kekayaan sebanyak mungkin, melainkan jadikanlah orang lain menjadi sejahtera, dan engkau sungguh menjadi orang yang hidupnya “kaya”!

Hidup itu tidak usah mencari pujian, penghormatan, penghargaan, atau ucapan terima kasih sekalipun. Akan tetapi janganlah engkau lupa menghargai jerih payah orang yang bekerja demi kepentinganmu, juga kalau pekerjaan mereka sangat sepele sekalipun. Hidup itu tidak usah menyelesaikan masalah sampai tuntas, karena masalah itu ibarat kita masuk sebuah pintu rumah, tetapi kita akan mendapatkan 3 pintu yang mesti kita buka lagi. Karena itu masalah adalah tanda tanda yang jelas yang menunjukkan titik tolak kita untuk menemukan peluang berkembang.

Hidup itu tidak usah kuatir akan ketidakpastian masa depanmu, tetapi lihat dan rasakanlah dalam ketidakpastian engkau diberi kesempatan untuk “bersyukur” kepada Tuhan, yakni mengakui keterbatasanmu sebagai manusia yang tidak mampu menguasai hidupmu sendiri, di sisi lain ditantang untuk mengakui betapa Tuhan itu mau hadir dan terlibat dalam diri kita. Soalnya apakah kita mau mengundang Tuhan terlibat?

Hidup orang percaya itu tidak bertujuan mencari kepuasan dan kenikmatan rohani, seperti orang mendaki puncak gunung, janganlah memetik bunga sekuntumpun sebelum engkau sampai di puncak. Demikianlah juga, janganlah mencari kepuasan rohani, yang sebenarnya bukan iman itu sendiri, melainkan carilah Tuhan, dengan mencintai-Nya dan mencintai sesama, sehingga sampailah kita suatu saat nanti “bersatu” dengan Tuhan.