8:15:00 AM
Peak
Ada tiga anak sekolah: A, B dan C. Suatu hari ibu guru memberikan dua soal yang harus dikerjakan dalam waktu 1 1/2 jam.
Soal 1: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Tuhan Yesus!
Soal 2: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Iblis!
Maka si A menulis segala sesuatu yang ia ketahui. Seperti Tuhan Yesus itu baik, Dia adalah gembalaku, Dia adalah Juruselamat, dll. Ia pun melakukan hal serupa untuk soal no2, iblis itu jahat, licik, dll.
Si B pun melakukan hal yang sama, bahkan jawaban soal no 2 begitupanjang. Iblis itu penghancur keluargaku, iblis itu yang membuat orang tuaku ribut, iblis itu penghancur masa depanku, dll.
Si C, ia menghabiskan waktu 1 1/2 jam hanya untuk menulis segala sesuatu yang ia tahu tentang Tuhan Yesus. Pada saat waktunya habis, temannya bertanya kepada C, mengapa ia tidak mengerjakan soal no2, maka si C dengan terburu-buru segera menulis sebuah kalimat untuk menjawab soal no 2.
Satu kalimat yang membuat ia terpilih menjadi murid terbaik untuk tugas tersebut, satu kalimat yang membuat kita belajar banyak hal dan satu hal yang membuat mata kita terbuka. Dan kita harus belajar dari dia.
Satu kalimat yang dia tulis untuk soal no 2 sebelum ia mengumpulkantugasnya adalah.. "Saya tidak punya waktu untuk iblis"
Tuhan Memberkati
7:53:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Ayub 21-23
Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)
Bacaan : Matius 5:1-12
Kahlil Gibran menulis, "Hal yang membuatmu tertawa suatu saat akan membuatmu menangis, dan apa yang kini membuatmu menangis adalah hal yang akan membuatmu tertawa." Menurut pengalaman saya, Gibran membidik dengan tepat kehidupan manusia. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada memang beberapa orang yang saking sering mengalami kegetiran hidup berkata bahwa "air mata mereka sudah kering". Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.
Menarik bahwa dalam khotbah-Nya, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia. Dukacita disebut pentheo dalam bahasa Yunani, yang berarti "bersedih" atau "meratap". Objek kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam konteks pendengar saat itu, sangat mungkin kesedihan dan ratapan mereka berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan.
Kapan kali terakhir Anda membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah Anda merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah! --DKL
DALAM DUKACITA YANG TUHAN BERIKAN
TERSEDIA PENGHIBURAN-NYA YANG MENEGUHKAN
Sabda.org