Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 May 2009

Bersyukur

Sebagian orang terbiasa bersyukur. Sebagian orang hanya bersyukur untuk hal-hal besar. Sebagian lagi merasa tidak biasa untuk bersyukur. Termasuk dalam kategori manakah diri kita?

Ketika segala sesuatunya berjalan baik, tidak sulit untuk bersyukur. Ketika badai menghadang dan angin menerjang dalam kehidupan, mulai terasa sulit untuk tetap bisa bersyukur. Jadi, kapan kita bisa bersyukur? Tak ada hal yang tak mungkin, jika kita mau belajar dan berusaha. Mulailah membangun kebiasaan untuk mengucap syukur untuk setiap detil yang terjadi dalam hidup kita. Mulailah dengan hal-hal paling kecil dan sederhana. Satu hari pasti, kita akan menyadari kalau kita telah terbiasa untuk bersyukur.

God bless.

in Christ,
Jessica

------------------------------------------------------------------------------------

GUNAKAN RASA SYUKUR UNTUK MENERIMA LEBIH BANYAK BERKAT

Oma comel Gladys adalah wanita tua paling pemarah di kota. Suatu hari, ia mengumumkan pada seluruh keluarganya, “Saya ingin seekor piaraan.  Piaraan itu harus sempurna!”

Ampun, keluarganya pasti mengalami kesulitan mencarikan seekor piaraan baginya. Seorang keponakan laki-laki memberinya seekor kucing.

“Terlalu manja,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang keponakan perempuan memberinya seekor kura-kura.

“Terlalu lamban,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang cucu perempuan memberinya seekor kakaktua. Setelah beberapa hari, ia mengembalikannya dan berkata, “Ia selalu mengeluh!”

Akhirnya, mereka kegirangan ketika mereka menemukan seekor anjing istimewa yang sangat pintar.  Pemilik toko bahkan mengatakan pada mereka, “Saya bahkan tidak tahu seberapa pintarnya anjing ini!  Ia selalu memberi kejutan pada saya setiap hari.”  Seluruh keluarga begitu gembira, mereka memberkan anjing itu pada Oma Gladys, berharap anjing itu dapat memberi kesenangan dalam kehidupan wanita tua itu. Hari berikutnya, keluarganya melihat Oma Gladys bermain catur bersama anjingnya!

Mereka begitu terkejut, dan berkata, “Bibi Gladys!  Itu pastilah anjing terpintar di seluruh dunia!”

Dia menyeringai, “Nah..., saya akan mengembalikannya juga pada kalian.  Ia sudah kalah tiga kali dalam lima permainan terakhir.”

Apapun yang kamu lakukan, Oma ini tidak pernah merasa senang. Pilihan ada di tangan kita: Bersyukur atau terus mengeluh. Saya percaya pilihan ini bahkan mempengaruhi kekayaan Anda…

PERTANYAAN: APAKAH ANDA KAYA?

Kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Saya akan ceritakan sebuah kisah nyata sekarang. Wanita ini adalah seorang multi-jutawan. Namun sangat dan sama sekali miskin. Jika Anda bingung, teruslah membaca. Wanita kaya ini mempunyai 5 pembantu, 1 tukang kebun, dan 2 supir.

“Pembantu #1 adalah asisten pribadi saya,” jelasnya pada saya suatu hari.

“Saya tidak dapat hidup tanpanya.  Ia memegang handphone saya. Ia menyusun anggaran untuk rumah.  Yang lebih penting, ia memijit kaki saya setiap malam. Pembantu #2 membersihkan rumah.  Pembantu #3 bertugas cuci gosok. Pembantu #4 memasak.  Dan pembantu #5 adalah asisten pembantu #1.”

Kebetulan, saya bertemu dengannya suatu pagi dan ia menyerocos, “Saudara Bo, saya merasa sangat stres!  Hidup ini begitu sulit! Mengapa Tuhan melakukan ini pada saya?”

“Mengapa? Apa yang terjadi?”, saya bertanya. Saya membayangkan yang  terburuk.

“Salah satu pembantu saya sedang libur,” jeritnya, “dan ia sudah pergi selama seminggu hingga hari ini.  Jadi dari lima pembantu, sekarang saya hanya punya empat.  Ya Tuhan, saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan!  Hidup saya jadi berantakan.”

Wow.  Wanita malang.  Maksud saya, mempunyai empat pembantu adalah sebuah tragedi, bukan? Semestinya tak seorang pun melewati pencobaan seperti ini.  Membuat Anda ingin menghiburnya. Dengan beberapa tamparan di kepala. Saya berharap saya dapat mengatakan bahwa saya melebih-lebihkan kisah ini untuk membuat Anda tertawa.

Maaf.  Ini sebuah kisah nyata.

DENGAN APA KEKAYAAN DIUKUR?

Sekarang saya sangat yakin. Kekayaan bukanlah uang. Kekayaan bukanlah mobil-mobil yang Anda kendarai atau rumah-rumah yang Anda miliki. Kekayaan bukanlah perhiasan Anda, saham, atau simpanan Anda di bank. Sekarang saya percaya kalau kekayaan adalah suatu emosi. Kekayaan adalah suatu perasaan di dalam hati. Lebih tepatnya, kekayaan adalah suatu pandangan, suatu sikap, suatu kepercayaan.

Dan ukuran kekayaan yang paling nyata adalah rasa syukur. Teman saya di atas, meskipun seorang multi-jutawan, tapi sangat miskin karena ia memiliki rasa syukur yang sangat sedikit. Tiadanya rasa syukur berfokus pada apa yang ia tidak miliki; Rasa syukur berfokus pada apa yang Anda miliki. Saya sudah mengerti hal ini sejak dulu…

POINT-POINT MILIK ALING DORING

Ada satu masa dalam hidup saya dimana saya hanya memiliki sedikit uang. Pada hari-hari dalam masa itu, saya tidak mampu untuk makan di Jollibee. Karena itu setiap hari, saya pergi ke toko kecil di sudut ini yang disebut Point-Point.

Dalam kamus kita, seperti rumah makan cepat saji dimana kita tinggal menunjuk menu yang kita inginkan yang sudah terpajang di lemari kaca. Sebagai ganti kursi, di sini tersedia bangku kayu panjang yang kasar. Sebagai ganti meja, di sini tersedia tripleks yang dilapisi plastik. Sebagai ganti AC, di sini ada wanita berbadan besar bernama Aling Doring yang, dengan sebuah kipas tradisional di tangannya, mengipasi saya dan menepuk pasukan lalat di sekeliling saya. Ia juga
menyediakan hiburan luar biasa bagi kami – menceritakan pada kami tentang gosip selebritis dari tabloid tertentu. (Oke, sekarang Anda tahu di belahan dunia mana letak tempat ini.)

Point-Point memberi saya semangkuk penuh sup, semangkuk nasi, beberapa potong sayur pare, dan 3 potong daging babi – semua hanya seharga 10 Peso (= Rp 2500,-).  Itu sudah lama sekali. Ketika saya masih muda dan tampan. (Sekarang, saya hanya tampan). Namun setiap kali saya makan di sana, saya merasa gembira. Saya merasa seperti seorang raja. Saya merasa sangat kaya! Bayangkan, saya bisa makan!  Begitu banyak orang – 30% dari penduduk dunia – sedang kelaparan.

Karena itu saya menikmati makanan lezat tersebut.  Saya menikmati gurauan Aling Doring.  Saya menikmati para pengemudi jeepney (transportasi umum seperti mikrolet di Jakarta) yang makan bersama saya – bau mereka, sendawa mereka, dan tawa mereka.  Sangat indah. Dan saya selalu bersyukur pada Tuhan untuk semuanya. Sekarang, saya punya sedikit lebih banyak uang.  Kebanyakan makan siang bisnis saya sekarang dilakukan di hotel dan restoran bintang lima. Saya telah mengalami peningkatan.

Namun jauh dalam lubuk hati, tak ada yang berubah. Saya tetap merasa seperti seorang raja. Saya tetap merasa kaya. Oh ya, dibandingkan dengan para pembimbing finansial saya yang jutawan, saya hanya memiliki remah-remah. Tapi dalam hati saya, saya telah menjadi seorang jutawan. (Saya harap Anda juga)

Ingatlah kebenaran yang menguatkan ini: Kekayaan Anda sama dengan Rasa Syukur Anda. Dan Rasa Syukur Anda sama dengan Kekayaan Anda. Tapi rasa syukur macam apa yang Anda miliki? Mari kita cari tahu…

3 MACAM RASA SYUKUR

Ada tiga tingkatan rasa syukur:
-  Rasa syukur yang dangkal
-  Rasa syukur yang sederhana
-  Rasa syukur yang kudus

1.  Rasa Syukur Yang Dangkal

Ini terjadi ketika Anda bersyukur untuk hal-hal yang besar saja. Anda menang lotere. Anda mendapat sebuah mobil baru. Anda berhasil lulus ujian setelah 9 kali mengulang. Puteri Anda akhirnya menikah pada usia 45. Visa Anda disetujui setelah menunggu selama 16 tahun. Suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya berubah. Atau suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya meninggal. Apapun yang terjadi lebih dulu. Maksud saya, bagaimana mungkin Anda tidak mengucap syukur? Setiap orang mulai dengan Rasa Syukur yang Dangkal. Saya menyebutnya dangkal karena perasaan syukur ini akan lebih cepat berlalu. Rasa Syukur yang Dangkal baik. Namun jika Anda ingin sungguh-sungguh bahagia, Anda perlu naik tingkat ke bentuk rasa syukur yang lebih dalam…

2.  Rasa Syukur Yang Sederhana

Dalam Rasa Syukur yang Sederahana, Anda bersyukur bahkan untuk hal-hal kecil dalam hidup. Untuk atap yang melindungi kepala Anda, untuk makanan yang bersisa di meja Anda, untuk keluarga yang agak memusingkan di sekeliling Anda.  Hal-hal biasa yang Anda terima. Ingat kalimat terkenal ini? “Saya pernah merasa sedih karena tidak punya sepatu, hingga saya bertemu dengan seorang pria yang tidak mempunyai kaki.”  -  NN.

Suatu hari, seorang teman mengeluh tentang kerontokan rambut yang dialaminya. Saya mengatakan padanya untuk berpikir positif: rambutnya bukan rontok, tapi dahinya yang bertambah lebar.  Ia tidak percaya pada saya dan menjadi semakin depresi. Karena itu saya mengirimkan sms padanya kalimat di atas dengan versi yang sedikit berbeda : Saya pernah merasa sedih karena tidak punya rambut hingga saya bertemu seorang pria yang tidak mempunyai kepala. Saya rasa itu menyadarkannya. Jika Anda harus memilih antara kebotakan dan dipenggal, mana yang akan Anda pilih? Sekarang, ia membuat kepalanya mengkilap dan memanggil dirinya sendiri Bruce Willis. Saya membaca doa ibu ini di suatu tempat dan memutuskan untuk menuliskannya di sini bagi semua ibu luar biasa yang membaca blog saya. Terima kasih Tuhan untuk tempat cuci piring yang kotor ini; yang menandakan kami punya banyak makanan untuk dimakan. Terima kasih untuk cucian yang kotor dan bau ini; kami punya banyak pakaian bagus untuk dipakai. Terima kasih untuk kulkas yang mengotori tangan ini yang sangat perlu dicairkan; ia telah melayani kami dengan setia selama bertahun-tahun. Ia dipenuhi dengan minuman dingin dan makanan sisa yang cukup untuk dua atau tiga kali makan. Terima kasih, Tuhan, untuk oven ini yang betul-betul harus dibersihkan hari ini. Ia telah memanggang begitu banyak makanan selama bertahun-tahun. Terima kasih, Tuhan, bahkan untuk pintu yang harus dibanting itu. Anak-anak saya sehat dan bisa berlarian dan bermain. Tuhan, kehadiran semua tugas ini menanti saya mengatakan Engkau telah memberkati keluarga saya dengan berlimpah. Saya harus melakukan semua tugas ini dengan riang dan saya harus melakukannya dengan penuh syukur. Tapi tahukah Anda bahwa ada sesuatu yang lebih luar biasa daripada Rasa Syukur yang Sederhana?

3.  Rasa Syukur Yang Kudus

Dalam Rasa Syukur yang Kudus, Anda bersyukur untuk hidup itu sendiri. Anda bersyukur bahwa Anda hidup. Anda bersyukur bahwa Anda ada. Anda bersyukur bahwa Anda bernafas! Anda bersyukur untuk setiap petualangan dalam hidup sehari-hari, dengan semua naik-turunnya, tinggi-rendahnya, dan lika-likunya. Rasa syukur macam ini tidak lagi tergantung pada situasi. Dan ada sebuah perbedaan besar antara tahu Anda perlu bersyukur, dan kenyataan memiliki setiap sel dalam tubuh Anda yang berseru, “Terima kasih!”

Ini Rasa Syukur yang Kudus. Hal ini merupakan salah satu hal termanis di dunia. Tak satupun dapat menyentuh Anda. Anda merasa damai. Ketika Anda memiliki Rasa Syukur yang Sederhana – dan khususnya Rasa Syukur yang Kudus – Anda menerima begitu banyak berkat. Mengapa? Karena ketika Anda menjadi seorang yang bersyukur, Anda juga menjadi seorang……INVERSE PARANOID! Saya membaca ini dari Jack Canfiled dalam bukunya, Success Principles, dan dikutip oleh banyak penulis lain – dan saya pikir ini luar biasa. Apa arti seorang Inverse Paranoid? Anda tahu arti Paranoid adalah: seorang yang takut atau cemas. Ia pikir kalau dunia ada di luar sana untuk menangkapnya. Untuk mencuri darinya. Untuk menyakitinya. Untuk menjatuhkannya. Dan, seorang Inverse Paranoid adalah seorang yang bahagia yang percaya bahwa dunia berkonspirasi untuk memberkatinya. Untuk melayaninya. Untuk mencintainya!

Seorang Inverse Paranoid mengharapkan yang terbaik dari hidup. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan hal-hal besar akan terjadi. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan bahwa ia akan berjalan di ladang berkat setiap hari. Seorang Inverse Paranoid percaya bahwa dunia sedang berencana untuk memenuhi impian-impiannya!

Seorang Inverse Paranoid memandang hal-hal buruk hanya sebagai berkat yang tersamar. Seorang Inverse Paranoid terbangun setiap pagi dan berkata, “Saya berharap diberkati hari ini!  Yipiiieee…!”

APAKAH ANDA SEORANG AHLI BERKAT ATAU SEORANG AHLI MASALAH?

Mengapa orang-orang yang bersyukur menjadi Inverse Paranoid? Alasan pertama : Rasa syukur adalah salah satu bentuk cinta yang paling kuat. Dan Anda tahu bahwa cinta mengalahkan semua ketakutan. Paranoia adalah ketakutan. Karena itu rasa syukur mengusir ketakutan dalam hidup Anda. Ini adalah alasan kedua: Karena orang-orang yang bersyukur berfokus pada berkat-berkat dalam hidup mereka, mereka menjadi Ahli-ahli Berkat.  Apa maksudnya?  Mereka tahu bagaimana bentuk, suara, bau, dan rasa sebuah berkat.  Karena itu, ketika mereka membuka mata mereka dan melihat sekeliling hidup mereka, mereka akan mencium sebuah berkat yang satu mil jauhnya!  Mereka akan menghampiri dan meraihnya. Orang-orang yang tidak bersyukur adalah Ahli-ahli Masalah. Ketika mereka melihat sekeliling hidup mereka, mereka tidak dapat melihat berkat di depan mata mereka karena mereka tidak tahu bagaimana rupanya. Saya harap Anda menjadi seorang Inverse Paranoid, seorang Ahli Berkat sesegera mungkin. Percayalah, ini sangat mengasikkan! Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

Bo Sanchez

07 May 2009

Pekerjaanmu Berharga

2 Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 119:1-88; 1 Korintus 7; 1 Samuel 1-2

Sampai era 80-an, kita masih bisa melihat ada profesi pemungut puntung rokok. Sambil membawa semacam sumpit mereka menyusuri jalan sambil terus menunduk mencari-cari puntung rokok di jalan. Setelah terkumpul, sisa sedikit tembakau pada puntung itu mereka kumpulkan untuk dijual dan dijadikan rokok baru lagi.

Mereka bukan pengemis. Justru mereka adalah orang yang memiliki harga diri. Mereka pantang menadahkan tangan memohon belas kasihan orang walaupun berat dan hasilnya sangat kecil. Daya juang mereka patut kita hargai.

Sayang, lambat laun profesi itu punah. Zaman telah berubah. Sejak krisis ekonomi mendera kita Juli 1997, etos kerja telah hancur. Sekarang daripada menjadi pemungut puntung rokok, orang lebih suka mengemis.

Firman Tuhan sangat keras menyoroti hal ini: yang tidak bekerja, jangan makan. Mungkin pekerjaan kita dipandang rendah, tempat kerjanya kotor, sangat berat dan melelahkan, atau bahkan beresiko tinggi. Lagi pula, imbalannya pun relatif kecil. Mungkin kita kecil hati melihat keberhasilan teman kita. Tapi, jangan putus asa! Tak ada pekerjaan yang hina asalkan halal dan tidak merugikan orang lain. Yang membuatnya berharga adalah bagaimana kita melakukannya. Apakah dengan sepenuh hati, seolah-olah untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia, atau asal-asalan. Tuhan menghargainya.

Jika kita tak bisa mencintai apa yang kita kerjakan, kemungkinan besar orang lain pun akan demikian.

06 May 2009

Email

Sepasang suami istri setengah baya yang sama-sama sibuk dengan bisnisnya merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali. Mereka berencana akan menemptati kembali kamar hotel yang sama dengan saat mereka berhoneymoon 30 tahun yang lalu. Karena kesibukannya, si suami harus terbang lebih dahulu dan istrinya baru menyusul keesokkan harinya.

Setelah check in di hotel di Bali, ia segera mengirimkan email melalui komputer dengan jaringan internet yang tersedia di kamarnya. Dengan gembira ia menulis email mesra kepada istrinya yang sedang di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Celakanya, ia salah mengetik alamat email istrinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan email tersebut.

Di lain tempat, di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah, ia langsung memeriksa email untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa. Baru saja selesai membaca email yang pertama, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca email tersebut kemudian tak lama kemudian jatuh pingsan juga. Email itu berbunyi :

To : Istriku tercinta
Subject : Papah sudah sampai Mah!!
Date : 20 Agustus 2007

Aku tahu pasti kamu kaget tapi senang dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta dirumah. Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh rasanya nungguin kamu. Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.

Love you mom, Papah

PS : Disini lagi panas-panasnya. Kalau pada mau, anak-anak diajak aja ya.

27 April 2009

Pengakuan Iman

Kami percaya bangsa Indonesia adalah bangsa yang :

1. Takut akan Tuhan dan hanya kepada-Nya kami menyembah. – Filipi 2:10-11

2. Penuh belas kasihan dan mengalami lawatan Tuhan di akhir jaman. – Yudas 1:22 “dan beberapa orang mempunyai belas kasihan, sehingga membuat perbedaan [KJV]” & Lukas 1:78

3. Bersatu dalam ketulusan dan saling mengasihi. Membuang semua dendam dan sakit hati. Semua perbedaan jadi kekuatan dan bukan penyebab kehancuran. – Yohanes 17:21 & Kolose 3:12-13

4. Bebas dari hutang, kutuk, luka masa lalu dan putus hubungan dengan semua kuasa iblis / okultisme. – 1 Korintus 7:23 & Kolose 1:13

5. Semua kutuk diubah jadi berkat dan semua rancangan si jahat digagalkan. Hanya rancangan Tuhan yang jadi. – Kejadian 50:20

6. Memiliki kemampuan untuk mewarisi, mengelola dan mengembangkan semua potensi dan kekayaan yang Tuhan berikan. – 1 Tawarikh 4:10

7. Diberkati dan berkelimpahan roh, jiwa, tubuh dan jadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. – Yohanes 10:10B & Ulangan 28:2-8, 10

24 April 2009

Rahasia yang Aneh Sekali

George Bernard Shaw pernah berkata, “Manusia selalu mempersalahkan keadaan, bila mereka mengalami kegagalan. Orang-orang yang berhasil di dalam dunia ini, adalah mereka yang berusaha mencari keadaan yang sesuai dengan keinginan mereka, dan bila mereka tidak menemukannya, mereka akan membuatnya”

Nah, kukira hal itu cukup jelas. Dan setiap insan yang menemukan kebenaran ini, percaya bahwa ia orang pertama yang menerapkannya dalam hidupnya. Kita menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Sebaliknya, seseorang yang tidak mempunyai cita-cita dan tujuan hidup, yang tidak mengetahui ke mana ia hendak pergi dan yang pikirannya dipenuhi oleh kebingungan, ketakutan dan keprihatinan- maka hidupnya pun menjadi sesuatu yang dipenuhi oleh ketakutan, kekhawatiran dan keprihatinan. Dan bila pemikirannya kosong, maka ia juga menjadi seseorang yang tak berarti.

Bagaimana penjelasannya? Mengapa kita menjadi seperti yang kita inginkan dalam benak kita? Nah, aku akan menjelaskan akan suatu keadaan yang paralel dengan pikiran manusia.

Andaikan seorang petani memiliki sebidang tanah yang subur. Tanah akan memberikan kepada pak tani suatu pilihan; ia boleh menanam apa yang ia kehendaki. Tanah tidak peduli. Hanya tergantung kepada pak tani untuk mengambil keputusan.

Kita membandingkan pikiran manusia dengan tanah. Sebabnya adalah bahwa pikiran kita, seperti juga tanah itu, tidak peduli apa yang kita ingin tanam. Ia hanya akan mengembalikan apa yang Anda tanam, namun ia tidak peduli apa yang Anda tanam.

Sekarang, katakanlah pak tani mempunyai dua butir biji dalam tangannya- yang satu adalah biji jagung dan yang lain adalah biji tanaman yang mengandung racun yang mematikan. Ia menggali dua buah lubang di tanah dan selanjutnya menanam dua butir biji itu, yang satu biji jagung dan yang lain biji tanaman beracun itu. Ia menimbun dua lubang itu dengan tanah, kemudian dengan setia mengairi dan memeliharanya dengan seksama….apa yang kemudian terjadi? Yang pasti, tanah akan mengembalikan apa yang telah ditanam atasnya. Seperti juga dalam Alkitab tertulis:

”Karena apa yang ditabur orang, itu yang akan dituainya.” (Gal.6:7)

Ingat, tanah tidak peduli. Ia akan mengembalikan tanaman yang beracun dengan kelimpahan seperti juga ia mengembalikan tanaman jagung dengan berlimpah-limpah pula. Dengan demikian, tumbuhlah dan menjadi besar. Dua tanaman: Satu jagung, dan yang lain tanaman beracun.

Pikiran manusia jauh lebih subur dan jauh lebih luar biasa dan lebih misterius daripada tanah, namun kerjanya sama. Ia tidak peduli apa yang kita tanamkan…sukses…atau kegagalan. Suatu cita-cita yang mulia dan bernilai… atau kebingungan, ketakutan, kekhawatiran dan salah pengertian. Yang pasti, apa yang kita tanam, akan kita tuai.

Anda tahu, pikiran manusia merupakan rombongan terakhir di bumi ini yang belum pernah dijelajahi dan diselidiki. Di dalamnya terdapat kekayaan yang demikian besarnya melampaui imaginasi kita yang tergila sekalipun! Ia akan mengembalikan apa yang Anda tanam.

23 April 2009

Seandainya Mereka Tahu

1 Yohanes 3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 114; 1 Korintus 2; Hakim-Hakim 15-17

Seorang nenek tua renta dengan langkah tertatih berjalan meminta sebungkus nasi untuk cucunya yang seharian belum makan kepada orang-orang yang ia temui di jalan. Yang ia minta hanyalah sebungkus nasi tanpa lauk pauk. Memang orang-orang yang ia mintai tolong pun bukan orang kaya, tapi orang susah sama seperti dirinya. Walaupun jika diukur dari keadaan nenek tua renta itu, mungkin keadaan mereka sedikit lebih baik dari sang nenek.

Tapi tanggapan yang diterima nenek ini luar biasa. Ada yang marah, ada yang mengusirnya, ada yang merasa terganggu dengan kehadiran dan permintaan sepele sang nenek. Bahkan sampai 9 jam sang nenek terus berjalan tertatih, belum ada seorang pun yang mau menolongnya. Memang ada yang memperlihatkan simpati mereka, tapi tidak ada yang menunjukkan empati kepada kebutuhan sang nenek dengan membelikannya sebungkus nasi. Bila kita mengikuti perjalanan dan perjuangan sang nenek untuk mendapatkan sebungkus nasi, bisa saja kita berteriak, "Kemana hati nurani itu? Kenapa tidak ada orang yang cukup berbelas kasihan menolong sang nenek dan membelikannya sebungkus nasi?"

Itulah yang digambarkan oleh sebuah acara reality show "Tolong" di sebuah stasiun televisi swasta. Saat menyaksikan segment ini, saya benar-benar tergugah. Betapa krisis kasih benar-benar tengah melanda bangsa ini. Orang-orang yang dimintai pertolongan oleh sang nenek hanya memperdulikan kesusahannya sendiri, repot dengan kesibukannya sendiri dan menutup mata terhadap kebutuhan orang yang meminta tolong terhadap mereka. Seandainya mereka tahu berkat besar apa yang akan mereka terima jika mereka membelikan sang nenek sebungkus nasi, pasti mereka akan memberikan pertolongan dengan sukarela. Tapi mereka tidak tahu, dan sang nenek harus berjalan selama 9 jam tanpa ada seorang pun yang mau menolongnya. Ironis bukan?

Demikian juga dengan Allah kita. Ia adalah Allah yang penuh kasih. Ketika Ia memerintahkan kepada kita untuk saling mengasihi, ada berkat besar yang sedang Ia persiapkan bagi hidup kita. Sama halnya seperti berkat yang tersimpan di balik pintu yang tertutup, ketaatan kita untuk melakukan perintah kasih itu adalah kunci untuk membuka pintu yang tertutup. Tapi seringkali kita lebih memilih untuk melihat masalah kita, kesusahan-kesusahan kita, sibuk dengan kehidupan kita sendiri dan kita lalai melakukan apa yang menjadi kerinduan hati Allah agar kita lakukan. Berkat itu pun akhirnya hanya menjadi impian yang tidak pernah kita raih.

Sama seperti orang-orang tadi, kita pun tidak pernah tahu apa yang ada di balik pintu itu sampai kita bertindak dan pintu itu terbuka. Jadilah orang yang menjawab kebutuhan orang lain. Jadilah pribadi yang mengutamakan kepentingan orang lain, dan nikmatilah pintu-pintu yang akan terbuka bagi Anda.

Ketidakpedulian Anda akan kebutuhan orang lain seringkali menutup pintu berkat bagi Anda sendiri.

Jika Tidak Ada Hari Esok

Pada suatu daerah hiduplah seorang anak, dia hidup dalam keluarga bahagia dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja.

Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa".

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia, tetapi dia anggap itu wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.

Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk meminta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa".

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu tapi itu bukanlah masalah karena dia masih punya banyak teman baik yang lainnya. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-teman yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia bertemu dengan seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya karena dia ingin di promosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mingkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku menghubungi mereka". Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi waktupun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelpon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dapat membahagiakan keluarganya, Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya ataupun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya karena istrinya selalu mengerti dia dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya". Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal dan dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut, dia belum sempat berkata, "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia.

Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya tapi dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.

Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktu untuk mereka.

Saat mulai renta, dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60 dan 70.

Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand dan negara-negara lainnya bersama istrinya tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah ompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.

Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saar dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu......" Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, dia meninggal dunia dengan air mata dipipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika anda pernah bertengkar, segera berbaikanlah dan jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir... tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa masih ada hari esok untuk memberitahu akan tetapi hari tersebut tidak akan datang. Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah  meninggalkanmu.

22 April 2009

Jose Rivera

Seorang bandit bernama Jose Rivera yang tidak disukai di beberapa kota di Texas karena merampok bank dan bisnis mereka. Akhirnya penduduk kota yang kuatir dengan kekacauan ini membayar seorang ranger untuk menangkap Jose Rivera di tempat persembunyiannya di Mexico dan mengembalikan uang mereka.

Akhirnya ranger itu mendatangi sebuah bar yang terpencil. Disana ia melihat seorang anak muda sedang meramu minuman. Di salah satu meja, seorang pria sedang tertidur dengan muka ditutupi oleh topinya. Dengan berani, ranger itu mendekati anak muda di bar dan memperkenalkan diri dan maksud kedatangannya untuk membawa Jose Rivera, hidup atau mati. “Bisakah kamu menolongku menemukannya?” Anak muda itu tersenyum, sambil menunjuk ke arah sebuah meja, ia berkata, “Itu Jose Rivera.”

Ranger itu berbalikke arah bandit yang sedang tidur itu dan menepuk bahunya. “Apakah kamu Jose Rivera?”, tanyanya. Orang itu menjawab, “no speak English”. Ranger itu menoleh ke belakang dan memanggil anak muda itu untuk membantunya berkomunikasi.

Pembicaraan selanjutnya menjadi sedikit membosankan. Pertama ranger itu berbicara dalam bahasa Inggris, lalu anak muda itu menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol. Jose Rivera akan menjawab dalam bahasa Spanyol dan anak muda itu mengulangi jawabannya ke dalam bahasa Inggris kepada ranger itu.

Akhirnya ranger itu memberikan dua pilihan untuk Jose Rivera. Pertama, memberitahukan tempat dimana ia menyembunyikan harta yang telah ia curi, maka ia akan dibebaskan. Yang kedua, jika ia tak mau memberitahukannya, ia akan ditembak di tempat. Lalu anak muda itu menerjemahkan peringatan itu.

Jose Rivera berpikir sejenak lalu berkata kepada anak muda itu, “Katakan padanya untuk keluar dari bak, belok ke kanan. Satu mil dari sini ada sebuah sumur. Di dekat sumur itu ada sebuah pohon besar. Di bawahnya terdapat sebuah kotak dimana kusembunyikan semua perhiasan dan uang yang kurampok”.

Anak muda itu menoleh ke ranger itu, membuka mulutnya, lalu menelan ludah, berhenti sebentar, lalu mengatakan, “Jose Rivera bilang, Em, dia bilang coba tembak aku!” Mungkinkah kamu akan melakukan hal yang sama seperti anak muda itu kepada temanmu? Mungkin tidak. Tetapi bagaimana kalau temanmu yang melakukan hal itu kepadamu?

Keteguhan Hati dan Iman

Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 113; 1 Korintus 1; Hakim-Hakim 13-14

Keteguhan hati timbul dari mempercayai Tuhan. Keteguhan itu tidak dapat dihidupkan hanya dari jiwa Anda. Keteguhan itu timbul dari mempercayai firman Tuhan betapa pun keadaannya dan keteguhan hati itu timbul dari iman.

Dari manakah timbul tawar hati? Dari ketakutan dan ketidakpercayaan. Tawar hati timbul bila Anda mendengarkan kebohongan iblis tentang hal yang tidak akan dilakukan Tuhan bagi Anda. Padahal itu sama sekali tidak benar. Jangan pernah dengarkan dusta itu.

Sebagai umat Tuhan, Anda dan saya harus melepaskan tawar hati dan bangkit dengan keteguhan hati! Kita harus berhenti melihat kemampuan, kegagalan dan keterbatasan kita sendiri dan mulai memandang kepada Tuhan. Kita harus bangkit dalam nama Yesus dan kuasa Roh-Nya dan menetapkan kerajaan surga di bumi.

Jika belum lama ini Anda tawar hati, berhentilah mendengarkan dusta iblis. Berhentilah mendengarkan laporan penuh kebohongan akan ketidaksanggupan Allah dalam hidup Anda. Saat seseorang memberitahu Anda bahwa Tuhan takkan membebaskan Anda, katakanlah kepada mereka, "Dia telah membebaskan saya dalam nama Yesus."

Begitu Anda menyadari jati diri Anda dan pemberian yang telah Anda terima oleh kuasa Tuhan, Anda akan berhenti membiarkan iblis menindas Anda. Tuhan tidak menyarankan agar Anda menjadi kuat dan teguh, itu adalah perintah-Nya!

Menguatkan dan meneguhkan hati adalah perintah Tuhan bukan pilihan. Dan hal itu hanya dapat timbul oleh iman.

21 April 2009

Tak Bercela

Daniel 6:5 : Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 111; Lukas 23; Hakim-Hakim 9-10

Konspirasi yang diceritakan pada ayat di atas bermula dari keinginan Raja Persia untuk mengangkat Daniel sebagai penguasa seluruh pejabat di Persia. Tentu saja hal ini mengundang iri hati di kalangan pejabat yang lain. Apalagi Daniel bukanlah orang Media asli. Ia orang Yahudi, etnis kelas dua pada waktu itu. Akhirnya, para pejabat yang iri pada Daniel berusaha mencari-cari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan akan memberitahukannya pada raja supaya raja membatalkan pengangkatan Daniel menjadi penguasa atas mereka. Malahan kalau bisa Daniel dienyahkan.

Namun, mereka tidak bisa menemukan cacat cela Daniel. Tiada kesalahan, tiada pengkhianatan, tiada kelalaian, tiada pernah mencuri waktu dalam bekerja, tiada pernah menerima suap, dan pekerjaannya tak diragukan kualitasnya. Akhirnya komplotan ini mendapati "kesalahan" Daniel, yaitu ketaatannya beribadah kepada Tuhan dan itu dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkannya. Rencana itu berhasil dan raja pun mau tidak mau memerintahkan Daniel agar dimasukkan ke dalam gua singa. Tapi cerita Daniel di gua singa berakhir dengan pertobatan Raja Persia yang percaya kepada Tuhan. Integritas Daniel di hadapan Tuhan sanggup mengubahkan suatu bangsa.

Bangsa kita sangat membutuhkan orang-orang yang berintegritas tinggi untuk menyelamatkan bangsa ini. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda unggul dalam pekerjaan, jujur, tak bercela, dan setia? Kalau belum, maukah Anda berkomitmen untuk melakukannya sebagai bagian ibadah kepada Tuhan? Kita tidak bisa mengharapkan integritas dari orang lain. Mulailah dari diri kita sendiri dan lihatlah bagaimana integritas hidup kita akan berdampak terhadap orang-orang yang ada di sekeliling kita. Karena pembelaan Allah tidak pernah berakhir bagi orang yang mempertahankan integritasnya untuk melakukan kebenaran.

Walaupun setiap orang melakukan ketidakbenaran, tetap persembahkanlah diri Anda kepada kebenaran sesulit apa pun jalan ke arah itu.

Jawaban.com

20 April 2009

Weekly Scripture – Amsal 10:22

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. - Amsal 10:22