Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 February 2012

Apa Itu Agama?

Yang disebut agama itu sebenarnya apa, Kiai?

Begitulah pertanyaan seorang santri kepada KH Ahmad Dahlan. Mendapat pertanyaan itu beliau justru mengambil biola dan memainkan tembang “Asmaradhana”.

Lalu beliau bertanya, "Apa yang kalian rasakan setelah mendengar musik tadi?"

"Aku rasakan keindahan, Kiai" jawab si santri.

"Semua persoalan seperti mendadak hilang. Tentram" tambah Jazuli (santri).

"Damai sekali," tukas Hisyam (santri).

"Nah, itulah agama" Jawab KH Ahmad Dahlan, "Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tenteram, damai karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Mengayomi dan menyelimuti."

Setelah itu salah seorang santri (Hisyam) mencoba memainkan biola tersebut dan menghasilkan suara “menderit”.

"Wah, suaranya berantakan ya Kiai?" tanya Hisyam malu.

"Nah, begitu juga agama. Jika kita tidak mempelajarinya dengan baik, maka agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu" jawab beliau.

"Oooo begitu…. Jadi untuk bisa beragama dengan baik itu, kita tidak boleh ikut-ikutan, tapi harus mengerti ilmunya juga. Seperti tadi, hanya karena melihat Kiai bermain biola, jangan langsung berpikir bahwa kita juga pasti bisa main biola" tambah Jazuli.

"Dalam beragama, kita tidak bisa hanya mengandalkan keinginan hanya karena merasa bahwa keinginan itu baik.

Misalnya, tadi saya merasa punya keinginan baik untuk bermain biola, tapi ternyata keinginan saya malah mengganggu saya dan teman-teman yang lain," ulas Hisyam si santri yang tadi mencoba biola.

"Kesimpulan yang jeli! Terima kasih" puji KH Ahmad Dahlan....

Dipenuhi Roh Kudus

Bacaan Setahun : Imamat 8-10
Nats : Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh ... (Efesus 5:18)

Bacaan : Efesus 5:15-21

Perkelahian dan keributan di pertunjukan musik menjadi berita yang sangat sering diliput media massa. Penyebabnya biasanya sangat sepele, yaitu saling senggol atau saling ejek. Namun, pemicu utamanya adalah karena mereka disinyalir berada di ba- wah pengaruh minuman keras. Minuman itu membuat mereka tidak mampu menguasai diri dan mudah melakukan tindakan di luar kendali.

Memang terasa agak aneh ketika perintah jangan mabuk oleh anggur dikontraskan dengan dipenuhi Roh Kudus (ayat 18). Namun, keduanya memang memiliki pokok pikiran yang mirip, yaitu: sama-sama dikuasai oleh sesuatu. Orang yang berada dibawah kuasa atau pengaruh anggur biasanya tidak dapat menguasai dirinya. Perkataan dan tindakannya akan kacau dan menimbulkan kekacauan. Sedangkan orang yang dikuasai atau dipenuhi Roh Kudus akan makin dapat menguasai diri. Ia akan mampu mengelola hidupnya dengan baik; perkataan maupun perbuatannya akan makin selaras dengan kepribadian Allah. Ungkapan: "Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus" dalam tatabahasa aslinya menggunakan kata kerja berbentuk imperatif plural pasif. Artinya, kita tak bisa menghindar, berlaku untuk semua orang, dan tak perlu mantra atau rumus khusus untuk mengalaminya. Ini adalah suatu kesediaan untuk tunduk pada pimpinan Roh Kudus.

Pikiran, perkataan, dan perbuatan seperti apa yang kita tampakkan dari hidup kita selama ini? Apakah hal-hal tersebut mencerminkan kepemilikan dan kepemimpinan Allah dalam hidup kita? Dia ingin mengarahkan hidup kita untuk mengenali rencana-Nya. Izinkan Dia memimpin hidup kita dengan leluasa. --PBS

DARI BUAH HIDUP KITA, DAPAT DITEBAK SIAPA PENGUASANYA

Sabda.org

14 February 2012

Merayakan Kasih

Nats : Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yohanes 4:7)

Bacaan : 1 Yohanes 4:7-21

Asosiasi kartu ucapan AS memperkirakan satu miliar kartu Valentine dikirim tiap tahun di seluruh dunia. Hanya Natal yang menandingi-nya. Tahukah Anda bahwa 14 Februari sebenarnya sudah dihapus dari kalender gerejawi? Ini karena latar belakang sejarahnya sangat diragukan. Kemungkinan perayaan ini berkaitan dengan Lupercalia, festival kesuburan dengan ritual penghormatan dewa-dewi dan lotere pasangan lawan jenis. Identitas St. Valentinus yang nama nya dipakai untuk perayaan ini juga ku rang jelas. Pastur dari Roma, uskup dari Terni, atau martir di Afrika? 14 Februari adalah tanggal kematian mereka sebagai martir. Jauh dari konotasi cinta romantis.

Hiruk pikuk perayaan bisa jadi justru membuat kasih makin dangkal dimaknai. Padahal, kasih adalah hal yang esensial dalam iman kristiani. Firman Tuhan menyatakannya dengan ringkas dan gamblang: Allah adalah kasih; kasih berasal dari Allah (ayat 7-8). Jadi, bagi anak-anak Allah, kasih semestinya merupakan identitas keluarga. Dari bacaan Alkitab hari ini kita mendapati bahwa kasih diperintahkan, diteladankan, disempurnakan oleh Allah bagi kita (ayat 11, 17). Kasih dimungkinkan melalui pengalaman kita menerima kasih Allah (ayat 10, 19) dan ditumbuhkan melalui pengenalan kita akan Dia (ayat 16-18).

Kekristenan tanpa kasih adalah sebuah omong kosong. Hari ini, mintalah Tuhan menyelidiki hati kita: Bagaimana kasih saya kepada Allah? Kepada sesama? Dunia membutuhkan dan menanti kan anak-anak Allah mencerminkan dan menceritakan tentang kasih-Nya yang mulia. Pertumbuhan kita dalam kasih merupakan tanda bahwa kita tinggal di dalam Allah. --JOO

SEBAB INILAH KASIH KEPADA ALLAH, YAITU BAHWA

KITA MENURUTI PERINTAH-PERINTAH-NYA (1 YOHANES 5:3)

Sabda.org

13 February 2012

ALLELON

Dietrich Bonhoeffer memberi peringatan yang perlu kita dengar: "Orang yang tidak bisa sendiri, berhati-hatilah pada komunitas .... Orang yang tidak berkomunitas, berhati-hatilah dengan kesendirian." Dalam tarikan ke dua arah ini, banyak orang memandang waktu sendiri bersama Tuhan sebagai hal esensial, sedangkan berkomunitas sebagai hal opsional. Benarkah Alkitab mengajarkan demikian?

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menunjukkan betapa pentingnya hidup berkomunitas ba gi orang percaya. Orang yang sudah memiliki hidup baru dalam Kristus, tidak boleh mencari kesenangan sendiri (ayat 1-3), namun harus saling rukun (ayat 5), saling menerima (ayat 7), dan saling menasihati (14). Hal ini memuliakan Tuhan (ayat 7). Kata saling atau satu sama lain, adalah terjemahan kata Yunani: allelon. Allelon menyatakan pengakuan akan keterbatasan kita untuk bisa bertumbuh sendiri, dan kesadaran akan peran yang perlu kita penuhi dalam pertumbuhan saudara seiman. Allelon mengandung makna memberi dan menerima dalam komunitas sebagai bagian esensial dari perjalanan hidup rohani pribadi kita.

Manakah kecenderungan Anda: bersendiri atau berkomunitas? Bagaimana Anda memandang komunitas: esensial atau opsional? Ketika seseorang mulai meninggalkan persekutuan orang percaya, biasanya ia juga mulai meninggalkan disiplin-disiplin rohani lainnya. Mari taati firman Tuhan dengan memberi diri untuk saling mendukung dan membangun dalam komunitas keluarga Tuhan. --JOO

MARILAH KITA SALING MEMPERHATIKAN SUPAYA KITA
SALING MENDORONG DALAM KASIH DAN DALAM PERBUATAN BAIK (IBRANI 10:24)

Sabda.org

Siapakah Tuhan?

Sadar tidak sadar kita sering menjadikan Tuhan sebagai "Tukang ACC" permintaan kita.

"Tuhan, aku mau ini, tolong ya Tuhan kabulkan, please, aku mohon, please."

"Tuhan, aku suka dia, tolong satukan kami, jauhkan dia dari si pengganggu itu."

"Tuhan aku mau kuliah di sini, tolong Tuhan buat supaya aku bisa diterima."

Bahkan kadang kita suka "mendikte" Tuhan...

"Tuhan, kalau memang ini kehendak-Mu, biarlah terjadi ini dan ini..."

Pertanyaannya, who is the God anyway?

Kalau ditanya begitu jawaban kita jelas dan langsung, "Dia." (sambil menunjuk ke atas). Tapi kenapa sikap kita sering kali bertentangan dengan jawaban kita.

Tidak ada yang salah dengan meminta sesuatu kepada Tuhan. Itu sesuatu yang normal. Tapi kita harus ingat bahwa Dia adalah Allah Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, penguasa alam semesta. Kita sudah diberi kesempatan untuk meminta apa saja dari Dia, itu sudah luar biasa. Jangan sampai kita memaksa Dia mengabulkan apa yang kita minta. Tetapi berhati-hatilah dengan cara kita meminta.

Mintalah dengan kesadaran bahwa Dia adalah Allah yang berkuasa. Artinya: berhak mengabulkan atau menolak permintaan kita.

Ikutilah teladan Yesus waktu Dia berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)

1. Dia tahu kepada siapa Dia harus meminta, kepada Bapa-Nya, Bapa kita juga.

2. Dia meminta sesuatu kepada Bapa-Nya. Sesuatu yang jadi keinginan-Nya.

3. Tapi Dia mengakhiri doa-Nya dengan menyerahkan keputusan akhirnya pada Bapa.

Kita bisa selalu minta apa saja kepada Tuhan, tetapi akhirilah selalu dengan: "tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

02 February 2012

Menginginkan-Mu

Bacaan Setahun : Keluaran 10-12
Nats : Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. (Mazmur 73:25)

Bacaan : Mazmur 73

Salah satu lagu favorit saya ialah God is The Strength of My Heart karya Don Moen, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Allah Sumber Kuatku. Lirik lagu ini digubah dari Mazmur 73:25-26. Saya senang menyanyikan refreinnya: "Allah sumber kuatku (3x) dan bagianku s'lama nya", tetapi sering kesulitan menyanyikan dua kalimat pertama: "Hanya Kau milikku di surga/Tiada yang kuingini di bumi, hanya Kau ... " Saya tak bisa bohong di hadapan Tuhan. Kerap kali Tuhan saja tidak cukup. Hati saya punya banyak keinginan yang lain. Seperti Asaf.

Asaf tak bisa bohong di hadapan Tuhan. Ia ingin banyak hal yang dimiliki orang lain (ayat 3-5). Akibatnya, ia mulai merasa hidup yang dipersembahkannya bagi Tuhan itu menyusahkan, bodoh, dan sia-sia (ayat 13-14, 21-22). Ia tahu bahwa tidak patut ia bersikap demikian, tetapi sungguh sulit memahami mengapa Tuhan tidak mengizinkan segala keinginannya terpenuhi, atau setidaknya menutup berkat bagi orang fasik (ayat 15-16).

Menginginkan sesuatu selain Tuhan sungguh mengerikan. Celakanya, jika kita memeriksa diri, justru itulah kecenderungan hati kita. Asaf akhirnya menyadari kebaikan Tuhan yang mencegah nya "berzina meninggalkan Tuhan" (ayat 27), dengan tidak memberikan kepadanya kemujuran orang lain yang sempat ia cemburui. Adakah se su atu atau seseorang yang kita ingini lebih dari Tuhan dalam hi dup kita? Doa saya, Tuhan mencondongkan hati saya sedemikian rupa, sehingga tidak ada hal lain yang lebih menarik dan memuaskan hati saya lebih dari kehadiran-Nya. Biarlah ini menjadi doa Anda juga. --ELS

Tuhan, tolong saya untuk menginginkan-Mu
lebih dari apa pun, lebih dari siapa pun

Sabda.org

25 January 2012

Tumbuh Lewat Persekutuan

Bacaan Setahun : Kejadian 38-40
Nats : "...Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran" (Kolose 3:12)

Bacaan : Kolose 3:5-17

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. "Bertapalah. Itucara terampuh, " nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. "Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?" Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang "sulit" jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! --JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI
TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Sabda.org

20 January 2012

Panggilan

Pada abad ke-11, Raja Henry III dari Bavaria, merasa bosan dengan kehidupan istana dan tekanan-tekanan hidup sebagai seorang raja. Ia mengajukan permohonan kepada kepala biara Richard dari sebuah biara lokal untuk dapat diterima sebagai seorang pertapa untuk selanjutnya menghabiskan sisa hidupnya dalam biara itu.

“Baginda”, kata kepala biara itu, “apakah baginda mengerti bahwa ikrar para biarawan di sini adalah mengenai ketaatan? Dan akan menjadi amat berat bagi baginda untuk mematuhinya karena baginda pernah menjadi seorang penguasa tertinggi.”

“Aku sangat paham”, kata Henry. “Selama sisa hidupku aku akan selalu patuh kepadamu, karen Kristus memimpinmu.”

“Kalau begitu, aku akan memberitahukan apa yang baginda harus lakukan”, kata kepala biara itu. “Kembalilah ke singgasanamu dan layanilah dengan setia di tempat Tuhan telah menunjukmu.”

Ketika raja Henry wafat, terdapat suatu pernyataan yang mengatakan, “Raja telah belajar untuk memerintah dengan taat.”

Bila kita merasa capai akan tugas-tugas dan tanggung jawab kita, ingatlah bahwa Tuhan telah menempatkan kita di satu tempat tertentu dan memerintahkan kepada kita untuk menjadi seorang akuntan, seorang guru dan seorang ibu atau ayah yang baik. Kristus mengharapkan diri kita bahwa kita harus setia di tempat Kristus telah menentukan untuk kita dan bila Ia kembali, kita akan memerintah bersama dengan-Nya.

Steve Brown

Membalas Kejahatan

Bacaan Setahun : Kejadian 25-26
Nats : Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang (Roma 12:17)

Bacaan : Roma 12:17-21

Toni jengkel. Sejak berdiri, pabriknya sering ditimpuki anak jalanan. Puluhan kali alarm pencuri berbunyi. Suatu hari dipergokinya 3 anak mencuri mangga di halaman. Mereka terpojok ketakutan. Toni naik darah, tetapi tiba-tiba teringat firman Tuhan: "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Diberinya tiap anak satu mangga sambil dinasihati: "Lain kali minta saja, jangan mencuri." Dua hari kemudian, 5 anak datang minta mangga! Toni sabar melayani. Rela diganggu. Lama-lama, mereka datang tiap sore. Bukan lagi untuk minta mangga, melainkan untuk berteman. Mereka diajari baca tulis. Pabriknya jadi aman. Lebih lagi, anak-anak jalanan bisa belajar mengenal kasih Tuhan.

Saat orang berbuat jahat, biasanya kita ingin membalas. Mengapa? Sebab kita merasa terganggu. Terluka. Jika membalas, ada rasa puas. Namun, pembalasan membuahkan pembalasan;melahirkan lingkaran dendam tak berkesudahan. Rasul Paulus memberi saran radikal: berbuat baiklah pada musuhmu! (ayat 17, 20). Tindakan kasih tanpa pamrih berkuasa menghancurkan hati lawan, mengubah dendam menjadi pengampunan (ayat 21). Kita bertanya, "Lantas bagaimana dengan kejahatan mereka? Tidakkah mereka harus menerima hukuman setimpal?" Soal pembalasan, kata Paulus, serahkan saja pada Tuhan (ayat 19). Bagian kita adalah menunjukkan kebaikan.

Untuk bisa berbuat baik saat disakiti, kita harus bersabar menghadapi orang-orang yang sulit dan berhati bengkok. Untuk itu dibutuhkan penyangkalan diri. Ingat janji firman Tuhan. Memang tak mudah, namun hasilnya indah. Cobalah! --JTI

HANYA ORANG YANG RELA DIGANGGU
DAPAT TUHAN PAKAI MENYENTUH HIDUP SESAMA

Sabda.org

19 January 2012

Antara Karsa Dan Karya

Bacaan Setahun : Kejadian 22-24
Nats : Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu keh (Galatia 5:17)

Bacaan : Galatia 5:16-26

Menteri Rekonstruksi Jepang, Ryu Matsumoto, mengundurkan diri karena telah bersikap kasar ketika berkunjung ke tempat korban tsunami beberapa waktu yang lalu. Menarik untuk menyimak apa yang ia jelaskan mengenai perilakunya: "Golongan darah saya B. Artinya saya bisa meledak sewaktu-waktu dan maksud saya tidak selalu sama dengan tindakan saya, " ujarnya. Apakah pernyataannya itu mengandung kebenaran atau hanya untuk membela diri?

Sebenarnya, masalah ketidakserasian antara "keinginan melakukan" (karsa) dengan "apa yang dilakukan" (karya) adalah masalah klasik sejak dulu. Paulus menjelaskan penyebabnya: "keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." Kita bisa mengetahui karsa mana yang lebih kuat dalam diri seseorang dengan melihat karyanya. Perbuatan daging adalah segala tindakan dosa (19-21) sedangkan buah Roh adalah kasih, damai sejahtera dan segala hal baik lainnya (22-23). Sebagai milik Kristus, seharusnya karsa Roh Kudus menguasai hidup kita dan mengendalikan setiap karya kita (24-25).

Tidak mudah memang membuat serasi antara karsa dan karya sebagai seorang anak Tuhan. Itu sebabnya kita tidak dapat melakukannya sendiri. Kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk menolong kita. Mari terus memberi diri dan mohon kepekaan mengikuti pimpinan-Nya. Tindakan kita tidak tergantung pada golongan darah kita, tetapi tergantung siapa yang memimpinnya. Apakah kita dipimpin oleh Roh atau dikendalikan oleh kedagingan kita. Selamat dipimpin Roh! --ENO

BERILAH DIRI DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS
ATAU KEDAGINGAN YANG AKAN MENGENDALIKAN KITA TERUS

Sabda.org

18 January 2012

Hidup Dan “Kata Orang”

Suatu hari, seorang bapak dan seorang anaknya sedang berjalan dari desa mereka mau ke pasar. Mereka berdua berjalan menuntun seekor keledai. Di tengah perjalanan, mereka berjumpa salah seorang teman mereka.

“Mau kemana kalian?” kata si teman.

“Oh, kita mau ke pasar,” jawab si ayah.

“Ooo..mau ke pasar ya… tapi kok keledainya gak ditunggangin saja, kan pasar masih jauh, kok bodoh keledai ada tapi gak ditunggangin,” kata si teman.

si Ayah mendengar ucapan tadi, lantas berpikir.. iya yah, kenapa kita gak tunggangin saja keledainya, apa gunanya keledai kalo cuma dituntun saja.  akhirnya si ayah berkata pada anaknya.

“Anakku, kamu saja yang tunggangin keledainya, biar ayah yang jalan, keledainya sepertinya cuma bisa ditunggangin satu orang,”kata si ayah.

Si anak pun akhirnya menunggangi keledai, sedangkan si ayah menuntun sambil jalan. Mereka berdua berjalan terus, namun tak lama kemudian, mereka berjumpa salah satu tetangga mereka.

“Loh, kok kamu tega-teganya membiarkan bapakmu yang menuntun keledai, kamu malah asyik-asyik nunggang keledai, sementara ayahmu berjalan kaki,”kata tetangga mereka pada si anak.

“Iya yah, “gumam si anak. kok saya teganya membiarkan ayah saya berjalan, sementara saya enak-enak duduk di atas keledai. Akhirnya si anak turun dan meminta ayahnya saja yang naik ke atas punggung keledai. Dan mereka pun jalan lagi. Tak lama mereka berjalan, mereka menjumpai salah seorang teman si ayah mereka.

“Loh loh… gimana kamu ini? kok anakmu dibiarin berjalan kaki, sementara kamu duduk-duduk enak di atas keledai, apa kamu gak sayang sama anakmu? kan keledai itu sepertinya bisa ditunggangin dua orang,” ungkap si teman pada si ayah.

Si ayah yang mendengar ucapan tadi, akhirnya menarik anaknya naik juga di atas keledai. Mereka berdua pun berjalan lega, tanpa cape karena menunggangi keledai, namun memang keledai mereka berjalan lebih lamban dari semula karena sekarang ditunggangi dua orang.

“Waduh, waduh…. kalian ini keterlaluan sekali,” tiba-tiba terdengar ucapan seseorang.

Si ayah dan anak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sumber suara itu berasal dari dua orang yang mereka tidak kenal.

“Kasihan sekali keledai ini, ditunggangin dua orang, padahal dari jalannya saja keledai ini kelihatannya letih sekali. Pasti keledai ini sudah menempuh perjalanan jauh, dan memikul beban yang berat karena ditunggangin dua orang yang tidak kasihan terhadap keledai mereka. Betul-betul tidak berperikemanusiaan (red: berperikehewanan :) ) ,” ucap dua orang ini.

Si ayah dan anak melihat keledai mereka. Dan mereka memang melihat keledai ini bernafas kecapean, nampak lelah sekali. Betul juga yah omongan orang tadi, keledai kita sepertinya kecapean, kok kita tega membiarkan keledai yang sudah lama jadi peliharaan kita ini kecapean seperti ini. Akhirnya si ayah dan anak mengambil keputusan. Mereka tetap jalan ke pasar.

Sesampai mereka berdua di pasar, semua orang memandang kepada pasangan ayah dan anak ini. Semua orang tersenyum, bahkan malah ada yang tertawa.

“Hahaha…ini pasangan ayah dan anak yang lucu sekali… Baru kali ini saya melihat dua orang ayah dan anak menggendong keledai… hahaha… Keledai kok digendong, bukannya ditunggangin…” ucap beberapa orang di pasar.

Nah, dari cerita ini, pertama kali saya dapat dari kenalan saya seorang pengusaha. Beliau bercerita banyak bahwa terkadang orang hidup berdasarkan perkataan orang lain. Dia menjalankan suatu bisnis, namun mendapat cemoohan, ejekan, perkataan yang tidak enak dari teman-teman, saudara, yang perkataan tadi kurang atau tidak mendukung bisnis yang dia lakukan. Sehingga akhirnya orang ini berhenti menjalankan bisnisnya karena banyak mendengarkan perkataan orang-orang laen. Padahal di saat dia susah, orang-orang yang mencemooh tadi belum tentu juga membantu, malah terkadang kadang masih juga mencemooh.

Nah, sama seperti ketika seseorang mengadakan resepsi pernikahan. Kalo mau mengadakan resepsi pernikahan yang kecil-kecilan saja karena masalah biaya, ada orang-orang yang berkomentar,” masak pernikahan dirayakan segini aja, gak ada pesta besarnya, pernikahan itu kan sekali seumur hidup, kok tidak dirayakan.” Namun ketika mengadakan resepsi pernikahan secara besar-besaran pun, ada juga orang yang akan berkomentar,”Wah, zaman lagi susah cari duit, kok boros-borosnya ngadain pesta besar seperti ini. Padahal keuangan lagi susah, apa gak mikir.”

Jadi buat anda yang sedang menjalani suatu kehidupan, suatu bisnis, suatu pekerjaan, dan anda menemui orang-orang yang kurang atau tidak setuju dengan apa yang anda lakukan, padahal anda tau bahwa bisnis atau pekerjaan yang sedang anda jalankan akan membawa suatu perubahan/kemajuan dalam hidup, mudah-mudahan cerita di atas bisa membantu anda untuk mengambil suatu keteguhan hati dalam menjalankan bisnis anda. Saya pernah membaca sebuah buku yang mengatakan seperti ini : Apapun yang kita lakukan, selalu ada 1/3 bagian orang yang menolak apa yang kita lakukan/katakan, 1/3 bagian orang yang mendukung dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral. Ini sudah hukum alamnya. Begitu kata buku itu. Bagi anda yang sudah mengalami banyak penolakan, banyak ejekan, banyak cemoohan, banyak yang tidak mendukung apa yang anda lakukan, bisnis anda, padahal anda merasakan bisnis itu bagus sekali buat anda, anda tidak perlu merasakan kecewa, karena anda juga mempunyai 1/3 bagian yang akan mendukung usaha anda, dan 1/3 bagian lagi yang pada posisi netral pada awalnya, namun kalau anda terus berjuang, 1/3 bagian netral ini bisa jadi akan mendukung anda. Tinggal masalah waktu dan konsistensi anda untuk menyampaikan informasi yang benar tentang usaha anda, pekerjaan anda pada mereka. Terus bertindak, berusaha, membuktikan bahwa anda bisa!!