Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

15 February 2012

Apa Itu Agama?

Yang disebut agama itu sebenarnya apa, Kiai?

Begitulah pertanyaan seorang santri kepada KH Ahmad Dahlan. Mendapat pertanyaan itu beliau justru mengambil biola dan memainkan tembang “Asmaradhana”.

Lalu beliau bertanya, "Apa yang kalian rasakan setelah mendengar musik tadi?"

"Aku rasakan keindahan, Kiai" jawab si santri.

"Semua persoalan seperti mendadak hilang. Tentram" tambah Jazuli (santri).

"Damai sekali," tukas Hisyam (santri).

"Nah, itulah agama" Jawab KH Ahmad Dahlan, "Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, rasa tenteram, damai karena hakikat agama itu sendiri seperti musik. Mengayomi dan menyelimuti."

Setelah itu salah seorang santri (Hisyam) mencoba memainkan biola tersebut dan menghasilkan suara “menderit”.

"Wah, suaranya berantakan ya Kiai?" tanya Hisyam malu.

"Nah, begitu juga agama. Jika kita tidak mempelajarinya dengan baik, maka agama hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu" jawab beliau.

"Oooo begitu…. Jadi untuk bisa beragama dengan baik itu, kita tidak boleh ikut-ikutan, tapi harus mengerti ilmunya juga. Seperti tadi, hanya karena melihat Kiai bermain biola, jangan langsung berpikir bahwa kita juga pasti bisa main biola" tambah Jazuli.

"Dalam beragama, kita tidak bisa hanya mengandalkan keinginan hanya karena merasa bahwa keinginan itu baik.

Misalnya, tadi saya merasa punya keinginan baik untuk bermain biola, tapi ternyata keinginan saya malah mengganggu saya dan teman-teman yang lain," ulas Hisyam si santri yang tadi mencoba biola.

"Kesimpulan yang jeli! Terima kasih" puji KH Ahmad Dahlan....

0 comments:

Post a Comment