Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 November 2009

Kutu Dalam Botol

Pernahkah anda menonton sirkus kutu? Kutu-kutu yang kecil itupun dapat dilatih untuk melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang dapat dilakukan oleh binatang-binatang besar dalam suatu sirkus. Mereka pun dapat melakukan hal-hal yang lucu yang membuat penonton tertawa.

Namun, ada sesuatu yang menarik tentang cara bagaimana kutu-kutu itu dilatih. Bila anda memasukkan beberapa kutu di dalam satu botol dan kemudian menutup rapat botol itu, maka kutu-kutu itu berusaha untuk lari. Mereka akan meloncat-loncat beberapa kali sehingga sering mereka membentur ke tutup botol. Di dalam waktu yang amat cepat, mereka dapat mengukur jarak ketinggian dari tutup botol itu dengan tepat. Dalam usaha selanjutnya untuk keluar dari botol itu, mereka akan meloncat mendekati tutup botolnya, namun tidak pernah membenturkan dirinya ke tutup botol itu.

Nah, setelah itu, sesuatu yang amat menarik dapat kita lakukan. Kita dapat melepaskan penutup botol itu sehingga botol tetap terbuka, namun anehnya, kutu-kutu itu tetap terus meloncat-loncat hanya tetap tidak melebihi dari ketinggian tutup botol yang sudah tidak ada lagi itu.

Mereka yakin, setelah mereka beberapa kali membentur ke penutup itu, mereka tidak berani lagi meloncat lebih tinggi lagi karena khawatir membentur tutup botol yang sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Kejadian yang luar biasa ini sesungguhnya sama dengan manusia yang pernah mengalami kegagalan beberapa kali dalam hidup mereka dan setelah itu mengira bahkan yakin bahwa mereka tidak mampu untuk mencapai ketinggian puncak sukses yang pernah mereka capai sebelumnya.

Seperti juga kutu-kutu itu, mereka pun mengurangi ketinggian cita-cita mereka sampai kepada suatu tingkat yang “aman”, namun seperti juga kutu-kutu itu, mereka tetap terperangkap di dalam botol itu tanpa dapat keluar.

Lebih baik kalau kita menjadi seperti seorang tikus. Bila seekor tikus membentur kepada suatu penghalang, ia berbelok dan dengan segera menuju ke arah yang lain, sehingga pada akhirnya berhasil mencapai cita-citanya yang tertinggi.

Kita pun dapat melakukannya bila kita tetap mengarahkan visi kita terhadap tujuan kita yang utama.

02 November 2009

Jika Anda Marah

Menteri pertahanan, Edwin Stanton, dari presiden Amerika, Abraham Lincoln pada suatu ketika menjadi marah terhadap seorang opsir yang menuduhnya bahwa ia pilih kasih. Stanton mengeluh kepada Lincoln yang menyarankan agar ia menulis sepucuk surat kepada opsir itu.

Stanton melakukannya dan setelah suratnya selesai, ia menunjukkan isi suratnya yang keras dan tajam itu kepada Lincoln. Setelah membacanya, Lincoln bertanya,” Apa yang anda ingin lakukan dengan surat ini?” Dengan rasa heran, Stanton menjawab,” Disampaikan kepadanya, tentunya” Lincoln menggelengkan kepalanya. “Janganlah mengirim surat ini, melainkan buanglah ke dalam keranjang sampah. Itulah yang kulakukan bila aku menulis sepucuk surat dengan disertai dengan perasaan marah. Isi suratmu itu baik dan aku yakin bahwa anda merasa lega dan lebih tenang setelah menulisnya. Kini, buanglah surat itu dan menulislah untuk kedua kalinya.”

Today in the Word, February 1991

01 November 2009

Humor : Tembok Ratapan

Seorang wartawan diberi tugas untuk pergi ke Yerusalem. Ia mendapatkan sebuah apartemen yang mempunyai pemandangan ke arah Tembok Ratapan. Setelah berdiam kurang lebih beberapa minggu, ia baru sadar, bahwa setiap kali ia memandang ke arah Tembok Ratapan, ia melihat seorang Yahudi tua sedang berdoa secara bersemangat.

Wartawan itu bertanya-tanya, apakah mungkin ia bisa mendapatkan suatu cerita yang layak dimuat dalam korannya. Ia turun dan menuju ke Tembok Ratapan itu, memperkenalkan diri kepada orang tua itu dan berkata, “Anda setiap pagi datang ke sini untuk berdoa. Apa yang anda doakan?”

Orang tua itu menjawab, “Apa yang kudoakan? Pada pagi hari aku berdoa untuk perdamaian dunia, kemudian aku berdoa untuk persaudaraan manusia. Lalu aku pulang untuk minum teh, dan kembali ke sini untuk berdoa bagi pemusnahan akan segala penyakit dari bumi.”

Wartawan itu amat terkesan akan kegigihan orang tua tadi. “Maksud anda, anda datang ke tempat ini setiap hari untuk mendoakan hal-hal itu?”

Orang tua itu mengangguk kepalanya.

“Sudah berapa lama anda datang ke tempat ini berdoa untuk hal-hal itu?”

Orang tua itu termenung sejenak kemudian menjawab, “Berapa lama? Mungkin dua puluh, dua puluh lima tahun.”

Wartawan dengan heran akhirnya bertanya, “Bagaimana perasaan anda untuk datang berdoa selama 20 tahun akan hal-hal itu?”

“Bagaimana rasanya?”, jawab orang tua itu. “Rasanya seperti berbicara terhadap sebuah tembok!”

31 October 2009

Weekly Scripture – 2 Timotius 1:7

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." - 2 Timotius 1:7

Humor : Lupa

Ibu Yonas sedang membaca sepucuk surat dari ibunya. Tiba-tiba ia memandang suaminya dengan curiga.

“Henri”, katanya,” Aku baru saja menerima surat dari Ibu. Ibu mengatakan bahwa beliau tidak dapat menerima tawaran kita untuk datang dan tinggal bersama kita, karena kita dikira tidak senang menerimanya. Apa maksud beliau? Bukankah aku menyuruhmu untuk menulisnya dan mengatakan bahwa ia dapat datang terserah waktunya yang enak?”

“Oh, ya..”, jawab suaminya. “Namun aku lupa bagian terakhir dari perintahmu, sehingga aku hanya menulis,’kalau Ibu mau datang, itu menjadi tanggungan Ibu sendiri.’”

30 October 2009

Ketakutan Yang Positif

Amsal 15:33 "Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 121; 2 Yohanes 1; Yehezkiel 42, 25

Pada saat terjadi badai guntur yang hebat, seorang ibu sedang menidurkan anaknya dan kemudia mematikan lampu kamarnya. Namun karena takut pada badai tersebut, sang anak kemudian bertanya, "Mama, maukah Mama menemani aku tidur malam ini?" Sambil memeluknya, sang ibu menjawab, "Tidak bisa, Sayang. Mama harus tidur dengan Papa." Ketika keluar dari kamar anaknya, sang ibu mendengar, "Dasar Papa pengecut!"

Kisah diatas tentunya hanya sebuah lelucon saja, namun ketakutan adalah hal yang nyata. Bagi sebagian orang, ketakutan pasti selalu berkonotasi negatif. Tetapi benarkah begitu? Di Alkitab yang Anda dan saya baca, terdapat ayat-ayat Firman Tuhan yang menyatakan bahwa ketakutan bisa mengarah kepada hal yang positif. Salah satu ayat yang saya maksudkan adalah ada di dalam II Tawarikh 17:10, yang berbunyi,"ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat".

Bila Anda membaca II Tawarikh 17 mulai dari ayat 3 sampai dengan ayat 10, Anda akan menemukan bahwa Raja Yosafat sangat ingin rakyatnya memiliki rasa hormat dan Takut akan Tuhan. Maka janganlah bingung bila pada akhirnya ia membuat ketentuan utama bahwa semua rakyat yang dipimpinnya harus belajar Taurat Allah. Ia tahu bahwa jika rakyatnya hormat kepada Allah, mereka akan merendahkan hati dan menaati Allah. Melakukan apa yang benar akan membawa kemakmuran bagi Yehuda dan penghormatan dari kerajaan-kerajaan lain.

Kitab Amsal 15:33 menyatakan, "Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat." Orang yang memiliki rasa takut akan Dia akan bertindak dengan penuh hikmat; mereka berjalan dengan setia di hadapan Dia sambil menaati perintah-perintahNya.

Rasa takut yang benar akan menjaga kita untuk tidak melakukan kesalahan.

Sumber: Kingdom Magazine September 2009

Jawaban.com

Penyelamatan Diri Saat Gempa

29 October 2009

Kenangan

Mereka mengatakan bahwa kenangan adalah emas
Mungkin itu tidak keliru
Namun kami tidak pernah menginginkan kenangan.
Kami hanya menginginkanmu.

Sejuta kali kami memerlukanmu
Sejuta kali kami telah meneteskan air mata
Bila seandainya Kasih dapat menyelamatkanmu
Engkau tidak pernah mati untuk dunia.

Dalam hidup kami mengasihimu,
Bahkan dalam kematian pun kami masih menyayangimu
Dalam hati kami, engkau mendapatkan tempat yang istimewa
Yang tak dapat diisi oleh siapapun.

Bila air mata dapat membangun sebuah tangga
Dan kepedihan hati dapat membangun jalan,
Kami dapat berjalan ke sorga
Dan membawamu kembali.

Kini rantai keluarga kami telah putus
Dan segala sesuatu sudah berbeda.
Namun bila kelak Tuhan memanggil kami satu demi satu
Rantai itu akan tersambung kembali.

28 October 2009

Anggaplah Sebagai Kebahagiaan

Yakobus 1:12 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 119:89-150; 1 Yohanes 4; Yehezkiel 46-47

Seorang pendeta memasang tanda di pintunya: Jika Anda bermasalah, masuklah dan ceritakanlah kepada saya masalah itu. Jika Anda tidak bermasalah, masuk dan ceritakanlah kepada saya bagaimana Anda menghindarinya.

Apa yang kita lakukan saat masalah besar datang tanpa pemberitahuan? Yokobus mengatakan agar kita menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian tidak terjadi tanpa sebab. Ia berkata, "sebab kamu tahu, ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:3,4). Dengan adanya pemahaman ini, doa-doa kita kepada Allah akan berubah dari bertanya mengapa menjadi bersyukur atas semua yang telah Dia lakukan dalam hidup kita.

Suatu hari seorang penulis renungan harian Joanne Yoder yang sedang bergumul dengan penyakit kanker dalam tubuhnnya menuliskan pemikirannya dalam surat: Saya telah menyerahkan masa depan saya pada kehendak Allah. Puji Tuhan, tidak ada satu pun, bahkan kanker, dapat menghalangi kehendak-Nya. Saya mungkin memiliki kanker, namun kanker tidak memiliki saya. Hanya Allah yang memiliki saya. Karena itu, saya menghargai doa-doa Anda agar Kristus dimuliakan dalam tubuh saya, entah hidup atau mati.

Seringkali ujian datang dalam hidup ini tanpa diduga. Kita juga tidak bisa menghindari agar tidak mengalaminya. Namun, dengan menyadari bahwa Allah menyertai kita dan ujian-ujian itu hanyalah sebuah media untuk mendewasakan kita, maka kita dapat menganggapnya kebahagiaan.

Anda tidak dapat bertahan bahkan melewati ujian hidup bila Tuhan Yesus tidak tinggal dalam diri Anda.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Hidup Oleh Anugerah

Nama saya Herman Tjahja, berusia 56 tahun. Kalau hingga hari ini saya masih hidup, saya tahu bahwa ini adalah anugerah Tuhan semata-mata, karena menurut dokter sebenarnya saya sudah meninggal pada bulan Agustus 2000, saat koma ketika dioperasi. Pada kesempatan ini saya ingin meyakinkan mujizat Allah yang saya alami, yang saya harap dapat menguatkan iman saudara sekalian.

Pada tahun 1991, diketahui bahwa saya mengidap penyakit jantung (coroner). Saya tidak terlalu merasakan penyakit tersebut dan aktivitas saya berjalan seperti biasa. Pada bulan Juli 2000, dilakukan kateterisasi di RS. Husada. Dari hasil pemeriksaan itu disimpulkan bahwa saya harus dioperasi, sebab bila tidak, kemungkinan hidup saya tinggal 6 bulan saja. Tetapi bila dioperasi, mengingat kondisi jantung saya yang sudah bengkak, kemungkinan berhasil hanya 50%. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi di Auckland.

Hal ini saya ceritakan kepada salah seorang sahabat saya (yang sekarang saya tahu berjamaat di GBI Rehobot). Ketika ia tahu bahwa saya akan berangkat ke Auckland untuk dioperasi by-pass jantung ia datang berkunjung ke rumah saya pada hari Kamis tanggal 20 Juli 2000. Kami berbincang mengenai firman Tuhan selama + 2 jam, kemudian berdoa bersama.

Melalui pertemuan itu, saya dingatkan beberapa hal antar lain :
1. Bagaimanapun, pada akhirnya, ujung dari kehidupan ini adalah kematian. Masalahnya adalah apakah kita sudah mempersiapkan diri menghadapi kematian itu atau belum.
2. Tuhan Yesus berkata : "I am the way ....."

Berdasarkan ucapan ini, saya percaya Ia adalah jalan bagi saya untuk menuju kematian tubuh, memasuki kehidupan kekal dan sekaligus Ia pun adalah jalan bagi saya untuk menyelesaikan persoalan yang saya hadapi.

Iman saya dikuatkan, hati saya dipenuhi damai sejahtera dan dengan penyerahan penuh kepada Tuhan, keesokan harinya (21 Juli) saya berangkat ke Auckland. Tiba saatnya pada hari yang telah ditentukan Jum'at tanggal 25 Agustus 2000, saya dioperasi di RS. Greenlane - Auckland. Operasi tersebut diperkirakan akan tuntas dalam waktu 6 jam. Tetapi apa yang terjadi kemudian, tidaklah seperti perkiraan sebelumnya.

Berikut ini saya ceritakan apa yang saya alami dan informasi yang saya peroleh kemudian :
- Jum'at, 25 Agustus 2000
Saya mulai dioperasi pada sore hari, dan selanjutnya saya tidak sadarkan diri (koma).
- Selasa, 29 Agustus 2000
Saya merasa bahwa saya sudah mati. Saya melihat istri bagaikan siluet yang tidak dapat dipegang. Saya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Lalu saya berpikir : "Oh........ memang orang mati tidak bisa berhubungan dengan orang yang masih hidup".

Pada saat saya dalam keadaan koma, ternyata grafik monitor otak saya sudah hampir rata. Melalui Manager Rest Home tempat dimana istri saya bekerja, tim dokter melaporkan bahwa saya tidak mempunyai harapan untuk hidup dan sekiranya hidup, daya pemikiran saya sudah rusak dan tidak akan ingat apa-apa lagi. Selanjutnya Manager tersebut menanyakan dimana saya akan dimakamkan dan kapan anak-anak saya yang di Indonesia akan tiba di Auckland. Beberapa staff dari Rest Home tersebut mendatangi istri saya dan menyampaikan ucapan bela sungkawa atas kematian saya.

Dengan kenyataan bahwa saya tidak ada harapan hidup, tim dokter menyatakan akan mencabut alat stimulasi jantung. Istri saya kemudian meminta dengan sangat untuk diperpanjang 1 hari. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, akhirnya tim dokter mengabulkan permintaan istri saya. Sementara saya terbaring koma tanpa harapan hidup, istri saya bersama saudara-saudara seiman lain dan para sahabat berdoa buat saya.

- Rabu, 30 Agustus 2000
Menjelang dicabutnya alat stimulasi jantung yang terpasang pada tubuh saya, terjadi sesuatu kejutan karena pada monitor terlihat adanya aktivitas pada otak lagi. Saat itu memang saya sempat sadar sesaat, tetapi kemudian tak sadarkan diri lagi. Melihat adanya perubahan grafik pada monitor tersebut, kemudian tim dokter menangguhkan pencopotan alat stimulasi jantung tersebut.

Pada Grafik pada monitor otak saya menunjukkan kondisi yang semakin baik dan secara perlahan akhirnya saya sadarkan diri. Pada sore harinya saya sadar penuh dengan pemikiran yang baik, daya ingatan yang jernih seperti sebelum dioperasi . Praise the Lord!!

Melalui pengalaman saya yang luar biasa ini, tim dokter, Manager Rest Home dan beberapa staff yang sebelumnya menganggap bahwa agama dan doa itu hanya "rubbish" menyatakan dan percaya bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah "MIRACLE" yang bisa terjadi oleh kuasa DOA.

Demikian kesaksian saya, kiranya bisa menguatkan dan menambah iman saudara sekalian. Terima kasih dan syukur kepada Tuhan yang telah mengerjakan mujizat ini dalam hidup saya dan terima kasih kepada saudara serta sahabat yang telah mendoakan saya. Semua biarlah terjadi hanya untuk kemuliaan Tuhan saja.

Syalom,
Herman Tjahja

27 October 2009

Apa Yang Tuhan Kehendaki

Apakah anda ingin mendapatkan apa yang anda kehendaki, bila anda merindukannya?
Apakah anda berdoa dan menanti dengan segera suatu jawaban?
Dan bila tidak memperoleh suatu jawaban secara langsung,
Apakah anda merasa dilupakan oleh Tuhan?

+++

Nah, doa yang dilakukan dengan cara ini
Sebenarnya sama sekali bukan doa,
Karena anda tak dapat datang kepada Tuhan dengan tergesa-gesa
Dan kemudian berharap mendapat jawaban akan doa anda dengan segera

+++

Doa bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh
Keinginan kita yang bersifat egois,
Karena Tuhan dalam kearifan-Nya menolak
Hal-hal yang kita inginkan secara salah

+++

Dan janganlah berdoa untuk bebas dari masalah
Atau berdoa agar kiranya pencobaan dalam hidup kita dapat kita lewati,
Sebaliknya berdoalah untuk mendapatkan kekuatan dan keberanian
Dalam menghadapi saat-saat yang tergelap dan tidak menangis…
Bila Tuhan tidak ada di sana, ketika anda memanggilNya,
Dan seakan-akan menutup telinga menghadapi doa anda
Dan justru saat anda benar-benar memerlukan-Nya
Ia seakan-akan meninggalkan anda dalam keputus asaan

+++

Sadarlah! Anda sama sekali tak mengerti akan
Alasan dan tujuan dari doa.
Yang benar adalah agar kita tetap bahagia bahwa
Tuhan senantiasa mendekap kita dengan aman

+++

Dan Tuhan hanya menjawab permohonan kita
Bila Ia tahu, bahwa apa yang kita inginkan adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan,
Dan bila selalu kehendakku menjadi kehendakNya
Maka tidak ada doa yang Tuhan tidak pedulikan.