Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 September 2009

Tangan Hampa

Seseorang dinyatakan oleh dokter ahli bahwa usianya tidak akan lama lagi. Penyakit yang dideritanya telah menggerogoti hidupnya. Mendengar vonis yang menyedihkan itu, dia meminta Pendeta untuk datang dan mendoakannya. Ketika Pendeta mengetahui kondisinya yang demikian parah dia pun berkeinginan untuk menanyakan sesuatu kepadanya.

"Jika Tuhan menghendaki engkau menghadap kepada-Nya, apakah engkau rela dalam menghadapi kenyataan ini? Apakah engkau meyakini kepastian keselamatan berada dipihakmu?"

"Ya, saya meyakini semuanya itu."

Ketika mengucapkan kalimat yang terakhir ini, dia langsung menangis. Pendeta yang ada di tempat itupun menjadi bingung. Sebab sebelumnya dia meyakini kepastian keselamatan menjadi miliknya, tetapi mengapa tiba-tiba menangis.  Tanda tanya besarpun memenuhi hati Pendeta ini. Oleh sebab itu, dia memberanikan diri dan menanyakan sesuatu kepadanya.

"Tadi engkau berkata bahwa, keselamatan telah menjadi milikmu. Surga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupanmu, sekarang mengapa harus menangis?"

Akhirnya dia menjelaskan penyebab utama mengapa dia menangis. Dengan tersedu-sedu dia mengaku bahwa waktunya telah habis, telah banyak anugerah Tuhan yang diterimanya. Namun, tidak ada sesuatupun yang dipersembahkannya kepada Tuhan - ketika menghadap Tuhan.

Terlarut dalam kesedihan itu, akhirnya Pendeta pun memintanya untuk menuangkan dalam tulisan, perasaan yang dialaminya saat itu. Dengan linangan air mata, dia menuliskan kalimat-kalimat berikut ini :

Dapatkah aku menghadap Tuhan dengan tangan hampa? Jiwaku sudah diselamatkan, tetapi aku belum mengerjakan apa-apa bagi Tuhan Bagaimana aku berjumpa dengan dia?

Selesai menuliskan kalimat-kalimat di atas, akhirnya orang ini meninggal. Kemudian Pendeta tersebut mencarikan komponis Kristen yang mencintai Tuhan. Pendeta tersebut meminta kepadanya agar kalimat di atas dijadikan lagu.  Lalu, di tangan komponis ini kalimat lagu tersebut digubah dan akhirnya menjadi lagu abadi yang dinyanyikan oleh gereja Tuhan hingga sekarang ini.

Waktu yang kita miliki sangat singkat. Setiap detik yang kita lewati tidak akan terulang lagi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin besok atau hari ini engkau dipanggil kepangkuan-Nya. Apakah engkau sudah siap ketika menghadap Tuhan dengan hidup yang berbuah bagi Injil-Nya? Ataukah sebaliknya engkau menghadap Tuhan dengan tangan hampa. Tidak ada yang engkau kerjakan bagi-Nya?

Jawablah dengan jujur. Kalau belum, mulailah pikirkan dan kerjakan sekarang juga. Begitu banyak anugerah Allah yang engkau nikmati. Tidakkah engkau rindu anugerah yang sama dinikmati juga oleh orang lain?

Te Deum laudamus, te Dominum confitemur
Kami memujiMu Allah, kami memuliakanMu Tuhan

06 September 2009

Humor : Cari Saja Di Tong Sampah!

Rudy seorang pemuda desa baru saja membeli seperangkat komputer. Tanpa basa-basi, Ia pun langsung menyuruh penjual merangkaikan komputer tersebut di rumahnya.

Sambil melihat penjual komputer merangkai Rudy pun dengan seksama mendengarkan kata-kata penjual tentang cara mengoperasikan komputer.

Usai merangkai komputer, si penjual pun pamit meminta izin dan meninggalkan komputer tetap menyala. Kebetulan program yang sedang dinyalakan adalah program pemutar musik Winamp.

Rudy yang dikenal sok tahu itu pun langsung mengklak-klik mouse tersebut. Tanpa sadar ia pun menekan Rem all (Remove all) pada tampilan winamp. Seketika itupula ia langsung kaget melihat daftar lagu yang ada di layar winamp hilang.

Merasa lagu-lagunya hilang, ia pun segera mengambil motornya dan bergegas ke tempat ia membeli komputer.

"Mas, gimana masa lagunya hilang semua," ujar Rudy kepada penjual komputer.

Penjual komputer yang sedang sibuk melayani pelanggan, pun menjawab seperlunya.

"Nggak mungkin hilang, coba aja cari di tong sampah dulu," kata penjual itu.

Rudy yang merasa tak diperhatikan pun langsung pulang ke rumahnya dan mengikuti anjuran penjual tersebut dan mencari  ke tong sampah di sekitar rumahnya. Satu jam tak menemukan lagu-lagu itu, ia pun kembali ke toko komputer dengan emosi yang membara.

"Mas, kalau ngasih tahu yang benar dong masa lagu saya hilang suruh nyari di tong sampah, sebodoh-bodohnya saya, tapi saya tahu nggak ada hubungan komputer sama tong sampah," kata Rudy

Mendengar kata-kata Rudy, bukannya kaget si penjual komputer pun malah tertawa keras.

"Mas Rudy, maksud saya cari di tong sampah itu, tong sampah di komputer, recycle bin, lagipula lagu itu tidak hilang cuma terhapus dari playlist di winamp," kata si penjual.

Rudy pun langsung tertegun malu, sekaligus bingung.

"Lha kalau playlist itu carinya di mana? di tong sampah juga ya? kata Rudy.

05 September 2009

Prophetic Journey Bengkulu Hari Ke 2

Hari Kedua
Jumat, 28 Agustus 2009

Matahari mulai terbit atas kota Bengkulu, hari kemarin hujan menyambut kami sampai pagi hari. Kami memulai pagi dengan doa dan perjamuan kudus. Kami menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Menurut rencana kami akan menemui Bapak Hutabarat ketua sinode PGPIW dan Bapak Panca ketua sinode PGLIIW.

Setelah semuanya beres, kami kemudian check out dari Hotel Samudera Dwinka. Kami kemudian mencari makan pagi, mengingat masih dalam bulan puasa maka kami makan di sebuah restaurant chinese food, kami makan kwetiauw siram, ternyata kwetiauw yang kami makan berbeda dengan kwetiauw yang biasa kami makan di jawa, kwetiauw di sini tebal sekali dan rasanya berbeda dengan kwetiauw yang ada di jawa. Selesai makan pagi kami menjemput Bapak Anthoni di sekretariat gereja.

Sebelum kami berangkat ke rumah Bapak Hutabarat, kami menelpon Bapak Hutabarat dan Bapak Panca, ternyata bapak Panca ada di Jawa sehingga kami menghubungi Bapak Simamora sekretaris PGLIIW. Kami mengadakan janjian untuk ketemu di rumah Bapak Hutabarat. Kami diterima dengan baik dan Puji Tuhan mereka menerima kami dan memberikan respon dengan baik. Sebelum kami pulang dari rumah Bapak Hutabarat kami mendoakan gedung gereja yang digembalakan oleh Bapak Hutabarat. Kemudian kami berpamitan.

Setelah dari rumah Bapak Hutabarat kami melanjutkan perjalanan kami untuk Doa Keliling namun sebelumnya kami makan siang dulu. Kami doa keliling di Pantai Panjang, disitu kami melakukan pentahiran dengan menggunakan garam dan anggur. Dari pantai panjang kami lanjutkan ke daerah sumur meleleh, tapak paderi, pagar dewa, pintu besi, disepanjang perjalanan kami melakukan deklarasi dan pengakuan iman dan menyatakan bahwa Bengkulu berada dalam tangan Tuhan Yesus Kristus.

Baca selengkapnya..

Sumber : Generasi Yoel

Bersambung…

Prophetic Journey Bengkulu

Prophetic Journey Bengkulu
Disusun oleh : Sugiarto Wijaya (Ko Agie) Pemimpin
Hendra Darmawan Pendoa
Ivan Sudrajat S Pendoa
Hari Pertama

Kamis, 27 Agustus 2009

Kami berangkat dari Cirebon naik kereta api Argo Jati pada pukul 05.45 ke Jakarta, kurang lebih 3,5 jam kami tiba di Stasiun Kereta Api Gambir. Setibanya di Stasiun Gambir kami segera naik Bus Damri ke Bandara Soekarno Hatta.

Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar jam sepuluh pagi, kami memasuki terminal 1B. Sambil menunggu check in atau reservasi, kami makan pagi di Food Court Bandara Soekarno Hatta. Setelah selesai makan pagi, kami reservasi untuk terbang ke Bengkulu. Selama kira-kira satu setengah jam kami menunggu di ruang tunggu Batavia Air karena kami akan terbang dengan pesawat Batavia Air.

Sekitar jam 12 an kami terbang ke Bengkulu dengan menggunakan pesawat Batavia Air, selama 45 menit kami berada di udara. Puji Tuhan semua berjalan lancar dan penerbangan kami tidak mengalami hambatan. Setibanya kami di Bandara Fatmawati Bengkulu, kami menunggu sampai koper-koper kami tiba di tangan kami.

Setelah koper ada pada kami, kami berangkat menuju kota Bengkulu karena dari Bandara Fatmawati kita menempuh jarak sekitar 17 km. Kami tiba di Bengkulu sekitar jam 14.00, kami menuju Hotel Samudera Dwinka untuk check in, setelah urusan hotel selesai kami bertiga mencari makan siang.

Selama perjalanan mencari makan siang, kami melihat banyak rumah makan padang yang buka, namun ketika kami tiba di salah satu rumah makan tersebut kami ditolak untuk makan di tempat karena mengingat bulan itu sedang bulan puasa, kami hanya diperbolehkan di bungkus. Demikian juga dengan rumah makan ke dua dan ke tiga, barulah kami membeli makan siang kami di rumah makan ke tiga, kami makan di hotel.

Selesai makan, kita menuju ke GBI Bengkulu, karena sebelumnya Ko Agie sudah menghubungi Bapak Pdt. Petrus Honggo, Pak Petrus menunggu kami sampai setengah lima sore, kami tiba di sekretariat GBI Bengkulu sekitar jam 16.00. Disitu kami berbincang-bincang dengan Bapak Petrus Honggo. Kami banyak sekali mendapat masukan mengenai keadaan masyarakat Bengkulu, keadaan Gereja Tuhan di Bengkulu dan hamba-hamba Tuhan. Puji Tuhan, Pak Petrus menyambut baik dengan maksud dan tujuan kami untuk kami datang ke Bengkulu. Ko Agie menjelaskan kedatangan kami ke Bengkulu adalah untuk membangun pasukan doa di Bengkulu. Bapak Petrus Honggu menyambut baik maksud kedatangan kami, kemudian dia menunjuk Bapak Wakil Gembala (Anthoni) untuk mengantar kami ke Hamba Tuhan yang lainnya dari PGPIW dan PGLIIW. Bapak Gembala GBI Bengkulu (Petrus Honggo) kemudian menawarkan malam itu untuk ikut dalam Doa Malam GBI Bengkulu, pada acara Doa Malam itu kita ditawarkan untuk membagikan visi dan misi kedatangan kami. Selama dua jam kami berbincang-bincang dengan Bapak Petrus Honggo, kami pamit untuk kembali ke Hotel.

Jam 17.00 kami pulang ke Hotel dan istirahat selama dua jam, kemudian kita kembali ke GBI Bengkulu untuk ikut Doa Malam. Pada acara Doa Malam GBI Bengkulu, Ko Agie yang menyampaikan visi misi dari Buku karangan Bapak Pdt. Petrus Agung Purnama yaitu Suluh di Tengah Kegelapan. Respon jemaat sangat luar biasa, ada seorang ibu tua, dia adalah seorang pendoa syafaat mengatakan : memang suatu peneguhan dari Tuhan dengan kedatangan hamba-hamba Tuhan dari Cirebon. Sebelumnya Tuhan ingatkan untuk kami bangkit kembali dalam kegerakan doa buat kota Bengkulu. Hari Sabtu, kami diajak untuk ikut Doa Puasa bersama mereka. Mereka akan mendampingi kita dalam doa keliling kota, sekitar 13 orang pendoa yang akan menemani Doa keliling.

Baca selengkapnya..

Sumber : Generasi Yoel

Bersambung…

Jangan Ragu-Ragu

Yakobus 1:6-8 : "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 67; Ibrani 1; Mikha 1-2

Apakah yang terjadi bila Anda ragu-ragu melakukan sesuatu yang disuruh Tuhan kepada Anda? Musuh Anda akan mengambil langkah pertama. Iblis akan mendapat lompatan ke arah Anda.

Jika Anda mau hidup dengan iman, keraguan ialah salah satu kebiasaan paling berbahaya yang dapat Anda miliki. Keraguan berasal dari sikap tidak tegas. Alkitab menyatakan orang seperti itu "tidak mantap dan tidak dapat dipercaya dan tidak pasti mengenai segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan, diputuskannya" (The Amplified Bible).

Jika Anda mendua hati, keputusan-keputusan yang Anda ambil terbagi. Anda berusaha hidup dengan iman dan melindungi ketakutan Anda sekaligus pada saat yang bersamaan. Anda membuat pernyataan iman seperti "Aku percaya Tuhan akan menyembuhkanku." Kemudian ketakutan Anda berbisik, "Tetapi aku tidak mau mengatakan bahwa aku sudah sembuh." Anda sangat sibuk mondar-mandir antara iman dan ketakutan sehingga Anda tidak dapat mengalami kemajuan sama sekali.

Buanglah jauh-jauh kebiasaan ragu-ragu mulai hari ini. Ambillah keputusan yang tegas untuk mempercayai dan bertindak berdasarkan firman Tuhan. Tuntaskan itu selama-lamanya. Bertekadlah untuk tidak menjadi bimbang lagi. Bila kebimbangan mendatangi pikiran Anda, buanglah itu secepatnya.

Bila Tuhan berbicara, jangan membuang waktu sesaat pun. Melangkahlah dalam iman. Dengan cara begitu, Anda dapat selalu mendahului iblis dan meninggalkannya di belakang Anda!

Ketika keraguan Anda mulai muncul, gunakan iman untuk mengalahkannya

Jawaban.com

Weekly Scripture – Amsal 13:11

"Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya." - Amsal 13:11

Humor : Membual Tentang Orang Tua

Seorang anak anggota Pasukan Darat membual tentang ayahnya kepada seorang anak anggota Angkatan Laut.

“Ayahku adalah seorang insinyur. Dia dapat membangun segala sesuatu. Apakah kamu tahu tentang pegunungan Alpen?”

“Ya”, jawab anak marinir itu.

“Nah, ayahku yang membangunnya!”

Kemudian anak marinir itu ganti membual, “Dan apakah kamu tahu tentang Laut Mati?”

“Ya”

“Ayahkulah yang membunuhnya!”

04 September 2009

Tunduk Pada Otoritas Pemberian Allah

Roma 13:1-2 "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya."

Paulus bertindak praktis dalam cara memakai kepercayaan dalam kehidupan kita sehari-hari dan menantang kita untuk tunduk pada otoritas yang diberikan Allah. Bagi anak, ini berarti orang tua; bagi orang dewasa, ini berarti para pemimpin dalam pemerintahan, tempat kerja, dan gereja.

Mengapa kita harus begitu tunduk? Karena para pemimpin ini adalah individu-individu paling pandai dan dapat diandalkan di bumi? Tidak. Allah hanya memberikan kepada kita suatu ujian otoritas.

Sebelum kita menjadi pemimpin yang berintegritas, kita harus belajar mengikuti pemimpin-pemimpin lain, tanpa mempedulikan perbedaan. Nyatanya, ujian karakter yang sukar muncul saat kita tidak sepaham dengan otoritas yang sah.

Saat Anda menolak untuk menuntut cara Anda sendiri dan sebaliknya tunduk kepada orang lain, hati Anda lurus. Itulah saatnya Allah dapat mempercayai Anda untuk memimpin orang lain.

Bagi seorang pemimpin sejati, penundukkan diri terhadap otoritas adalah ujian baginya sebelum memimpin di kemudian hari

Jawaban.com

Orang Percaya Sejati

Beberapa hari yang lalu, aku membaca tentang seorang pemuda yang sedang melamar suatu pekerjaan. Ia memberikan kepada calon atasannya sebuah rekomendasi dari pendetanya.

Usahawan itu mengembalikan surat rekomendasi kepada calon pegawai dengan permintaan, “Apakah Anda tidak mempunyai sesuatu dari seseorang yang mengenal anda pada hari kerja?”

Pasalnya, banyak sekali orang-orang yang melihat agama sebagai sesuatu untuk “dikenakan” satu kali seminggu atau kalau diperlukan pada saat-saat tertentu saja untuk selanjutnya “ditanggalkan” serta kemudian diletakkan di dalam almari selama sisa waktunya.

Dengan demikian, seringkali pendeta sama sekali tidak dapat mengenali kita, bila ia menyaksikan perbuatan, tingkah laku atau mendengar jenis bahasa kita selama satu minggu.

Merek yang asli dan murni dari orang percaya adalah mereka yang perbuatan, tingkah laku dan jenis bahasa yang keluar dari mulutnya sama, baik di gereja di hari Minggu, maupun di luar gereja, di rumah, di pekerjaan dan di tengah masyarakat.

Bila kita bukan seorang percaya di rumah, maka sesungguhnya kita sama sekali bukan orang percaya.

03 September 2009

Doa Yang Membangkitkan

"Tante.. pegangin minuman Axel ya, soalnya Axel mau berdoa untuk mama supaya mama cepat sembuh dan boleh pulang sama Axel", begitulah tutur seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun. Setelah dirawat satu malam di rumah sakit Husada di Jakarta karena pendarahan yang dialami mamanya Axel yang sedang mengandung 5 bulan, diperbolehkan untuk beristirahat di rumah.

Beberapa hari kemudian, mama Axel merasa sakit di perutnya, seketika itu juga dilarikan ke rumah sakit tempat dia dirawat kemarin. Beberapa kali terjadi kontraksi dan sesaat kemudian lahirlah seorang bayi berumur lima bulan dalam kandungan yang sangat mungil sebesar botol Aqua ukuran sedang pada tanggal 7 Juli 2004.

"Pak, 99,9 persen tidak ada harapan lagi, bagaimana nih? Apa masih mau diteruskan?", kata salah satu suster yang menangani.

"Biar hanya tinggal 1 persen sekalipun, anak saya harus terus hidup", jawab papanya Axel.

Cukup menggemparkan memang berita ini sehingga kerabat dari papa dan mamanya Axel langsung datang menjenguk. Banyak air mata yang mengalir pada setiap orang yang datang menjenguk, terlihat hati yang hancur, kesedihan yang terlalu dalam dan perasaan pasrah pada Tuhan dikedua raut muka orangtua Axel.

"Mama.. Axel udah lihat dede, kok dia kecil sekali ya ma? Tapi Axel sayang dede. Mama.. kita pulang bawa dede yuk", ajak si Axel.

Mama Axel menatap sedih dengan linangan air mata dan mencoba menjelaskan keadaan, "Axel.. dede Axel masih lemah, dia terlalu lembut untuk digendong pulang dan dia harus tetap dirawat di sini, Axel berdoa saja ya sama Tuhan Yesus, minta Tuhan Yesus beri kekuatan untuk dede, supaya dede bisa pulang ke rumah."

Keesokan harinya, Axel yang di rumah minta omanya ajak dia ke rumah sakit untuk menengok dede barunya. Sesampainya dia di ruang incubator yang terpisahkan oleh kaca yang lebar, di situ dia berdoa, "Tuhan Yesus yang baik, terima kasih sekarang Axel udah punya dede baru, Tuhan lihatkan, tangannya terlalu kecil gak seperti tangan Axel, kepalanya juga dan kata mama dede sangat lemah, Axel percaya sama kekuatan Tuhan, Tuhan maukan pegang tangan dede supaya dede bisa menjadi besar kayak Axel, Amin."

Setelah berdoa, Axel masih mau lihat dedenya sebentar lagi, sambil digendong omanya, Axel menyanyikan lagu Ku mau cinta Yesus selamanya. Setelah berulang-ulang menyanyikan lagu itu, lalu dia berkata, "Dede udah denger kan kokoh Axel nyanyi untuk dede? Besok kokoh Axel nyanyi lagi untuk dede ya.."

Oma Axel menangis terharu melihat apa yang dilakukan cucunya. Kami semua kerabat papa mamanya Axel berdoa untuk mereka khususnya untuk bayi mereka. Sekarang dede Axel sudah bisa bernafas secara teratur, semuanya berjalan lancar dan hari makin hari dia beroleh kekuatan untuk berkembang. Semuanya karena nyanyian dan doa dari seorang anak laki-laki sederhana yang berumur 4-5 tahun yang mengatakan betapa dia menyayangi dedenya.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam cerita ini adalah dimanapun kita, seberat apapun pergumulan masalah kita sehingga terlintas di benak bahwa tidak ada lagi harapan, Tuhan Yesus bekerja pada saat itu, Dia yang tidak pernah meninggalkan kita akan selalu menolong kita, asalkan kita datang merendahkan diri kepadanya sama seperti doa polos Axel kepada Tuhan Yesus dan mengandalkan kekuatanNya.

Lelah Melayani

Yesaya 40 : 29 - “Dia memberi kekuatan kepada yang ellah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

Pernahkah kamu merasa lelah di gerejamu? Lelah di dalam pelayanan? Sepertinya apa yang kamu lakukan selalu salah. Pemimpinmu tidak menghargaimu. Orang-orang disekitarmu tidak merasakan dampak pelayananmu. Orang tuamu sering komplain karena kamu pulang malam dan tidak cukup istirahat.

Berbagai hal sudah kamu usahakan, kamu sudah merenungkan dan mencari hal-hal yang sepertinya menjadi ganjalannya. Tetapi sepertinya tidak ada dosa. Tidak ada sesuatu yang salah dalam melakukan pelayanan ini. Tetapi mengapa buahnya tidak bisa menjadi berkat, walaupun dari luar tampak sepertinya buahnya banyak dan enak. Maksudnya ada buah-buah seperti penambahan kelompok sel, pertambahan jiwa baru, yang muncul dari hasil kerja kerasmu.

Sebentar. Sepertinya ada yang terlewat. Apakah tulisan yang barusan terbaca seperti, “… hasil kerja kerasmu?”

Apakah selama ini kamu melakukannya dengan usaha kerasmu? Jika ya, maka kamu akan mempersoalkan jika pemimpinmu tidak menghargaimu. Kamu akan selalu merasa benar dan berusaha memperlihatkan sesuatu kepada pemimpinmu. Apa saja yang kamu lakukan akan selalu berpusat pada dirimu sendiri, karena kamu ingin membuktikan kepada pemimpinmu bahwa kamu yang berada di lapangan lebih tahu segala hal daripada pemimpinmu, yang menurutmu hanya bisa memerintah saja tanpa melakukan tindakan apa-apa.

Apakah selama ini kamu melakukannya dengan usaha kerasmu? Jika ya, maka kamu akan berusaha terlihat baik diantara orang-orang di sekelilingmu. Kamu akan mulai menyalahkan mereka jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginanmu. Apapun yang mereka buat selalu saja kamu bisa menemukan kesalahannya dan tentu saja, kamu akan mempersoalkannya sehingga mereka merasa bahwa kamu selalu benar.

Selama ini kita melakukannya dengan kekuatan sendiri, maka ada orang-orang di sekitar kita yang akan dilukai, pemimpin kita yang selalu menjadi bahan omongan dan kelelahan demi kelelahan dalam pelayanan kita.

Berhentilah jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Jika selama ini kamu melakukan pelayanan dengan kekuatanmu sendiri, kali ini lakukanlah dengan rohmu. Libatkan Tuhan dalam setiap langkahmu. Melayani sebagai seorang hamba.