Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 September 2009

Orang Percaya Sejati

Beberapa hari yang lalu, aku membaca tentang seorang pemuda yang sedang melamar suatu pekerjaan. Ia memberikan kepada calon atasannya sebuah rekomendasi dari pendetanya.

Usahawan itu mengembalikan surat rekomendasi kepada calon pegawai dengan permintaan, “Apakah Anda tidak mempunyai sesuatu dari seseorang yang mengenal anda pada hari kerja?”

Pasalnya, banyak sekali orang-orang yang melihat agama sebagai sesuatu untuk “dikenakan” satu kali seminggu atau kalau diperlukan pada saat-saat tertentu saja untuk selanjutnya “ditanggalkan” serta kemudian diletakkan di dalam almari selama sisa waktunya.

Dengan demikian, seringkali pendeta sama sekali tidak dapat mengenali kita, bila ia menyaksikan perbuatan, tingkah laku atau mendengar jenis bahasa kita selama satu minggu.

Merek yang asli dan murni dari orang percaya adalah mereka yang perbuatan, tingkah laku dan jenis bahasa yang keluar dari mulutnya sama, baik di gereja di hari Minggu, maupun di luar gereja, di rumah, di pekerjaan dan di tengah masyarakat.

Bila kita bukan seorang percaya di rumah, maka sesungguhnya kita sama sekali bukan orang percaya.

0 comments:

Post a Comment