Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 September 2008

Karena Kecewa

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" - Maleakhi 3:10

Saya benar-benar tertunduk malu dengan teguran lembut dari Roh Kudus saat pompa air kami rusak. Dia mengingatkanku atas kelalaian karena menahan sebagain persepuluhan yang harusnya saya berikan. Kisahnya seperti ini, "Saat itu saya benar-benar kecewa karena uang harianku tidak dibayarkan oleh kantor karena saya tidak tanda tangan. Padahal saya ada di kantor, kadangkala saya harus bekerja hingga larut malam. Namun karena saya tidak tanda tangan - saya tidak mendapatkan uang makan. Saya benar-benar kecewa kala itu. Karena saya benar-benar tidak tahu informasi tersebut. Yang lebih konyol adalah : saya memotong uang persepuluhan karena gaji saya dipotong! Ini benar-benar fatal. Akhirnya dengan kelembutan Roh Kudus menyadarkan saya; akhirnya bulan berikutnya saya mengembalikan persepuluhan itu; saya tidak mau merampok milik Tuhan."

Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa salah satu prasyarat diberkati melimpah-limpah dan dibukanya tingkap-tingkap langit oleh Tuhan adalah memberikan persepuluhan. Alasan Tuhan memberkati kita adalah menemukan diri kita mengembalikan persepuluhan sehingga ada persediaan makanan di rumah-Nya. Bahkan syarat untuk Tuhan menghardik semua belalang adalah kesetiaan kita mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan.

Tuhan rindu menemukan setiap kita setia dalam persepuluhan karena Dia mau melihat kita sebagai anak-anak-Nya diberkati melimpah-limpah. Percayalah, melalui kekayaan Allah meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada Abraham. So, tunggu apa lagi; ayo persepuluhanlah. (bud)

MENGEMBALIKAN PERSEPULUHAN ADALAH ALASAN TUHAN UNTUK MEMBERKATI KITA

Renungan Pagi

Saling Bergandengan

Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk memegang dan menggenggam tangan kita. Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya. Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, "Putramu disini."

Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka sebentar, lalu menutup kembali, ibarat nyala lilin yang padam. Pemuda itu menaruh tangan pria tua itu kedalam tangannya sendiri, dan duduk disamping tempat tidurnya. Sepanjang malam ia duduk disana, menggenggam tangan orang tua itu dan membisikkan kata-kata penghibur.

Pagi-pagi sekali esok harinya, pasien itu ternyata meninggal. Dalam sekejab saja para staf rumah sakit berlarian memenuhi ruangan itu, mematikan mesin-mesin serta mencabut segala macam jarum2 suntik. Seorang perawat melangkah mendekati pemuda itu dan mulai menghiburnya, ikut berbagi duka cita, tapi ia menyelanya.

"Siapakah bapak itu?" tanyanya.

Perawat yang terperangah dan kaget itu menjawab, "Lhooh, saya tadinya pikir ia ayahmu!"

" Bukan.., oh.. ia bukan ayahku," jawabnya balik.

"Seumur hidupku, ini pertama kali aku melihatnya."

"Lantas., lha anda kok diam saja waktu kutuntun kau kepadanya kemarin?"

"Saya sadar ia memerlukan dan mendambakan anaknya dan putranya tidak ada disini", orang itu menerangkan.

"Dan karena aku tahu ia sebegitu parah sakitnya sehingga tak mengenali aku bukan anaknya, aku tahu ia memerlukan aku."

Ibu Teresa terbiasa mengingatkan kita kembali bahwa tak seorangpun layak dan harus mati sendirian. Makanya, tidak seorangpun pantas harus berduka cita maupun menangis sendiri juga. Ataupun tertawa sendiri, atau merayakan sendiri. Kita diciptakan untuk mengarungi perjalanan hidup ini bergandengan tangan. Ada seseorang yang hari ini siap sedia untuk menggandeng dan menjabat tanganmu. Dan seseorang yang berharap kau akan menggenggam tangan-tangannya. Ingatlah untuk selalu saling bergantung dan saling bantu membantu satu sama lainnya!

04 September 2008

Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!" Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Gagak lah ayah.......".

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

"Ayah!!! saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? "Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu ditangannya. Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu", pinta si ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut..........

"Hari ini aku di halaman melayan karena anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apa itu?". Dan aku menjawab, "burung gagak". Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah."

"Jagalah Hati Kedua Orang Tuamu, Hormatilah Mereka. Sayangilah Mereka Sebagaimana Mereka Menyayangimu Diwaktu Kecil"

Cinta Tidak Menunggu

Ada seorang pria yang menyimpan perasaan pada teman gadisnya. Hingga kemudian pada saat pernikahannya, ia memutuskan untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya pada gadis itu. Namun gadis itu akhirnya hanya menganggap itu hanyalah sebuah canda. Dan ada seorang pria yang ingin mengatakan pada istrinya betapa ia mencintainya, namun ia tidak pernah mengatakannya, hingga istrinya itu meninggal dunia.

Pria itu hingga sekarang terus meletakkan bunga diatas batu nisannya. Dengan ciuman dan kata-kata "AKU CINTA KAMU".Entah Apakah istrinya mengetahui hal itu? Saat ini ada seorang gadis yang selalu ingin merasakan hangatnya pelukan kasih sayang ayahnya, tapi ia malu untuk mengatakannya. Hingga pada suatu hari ayahnya tak mungkin memeluknya lagi...

Banyak kisah yang terjadi setiap harinya, dan kita mungkin menyadari semua itu. Apa yang telah terjadi kemarin, tak mungkin kembali... tapi apakah kita bisa memastikan apa yang akan terjadi besok? Pikirkanlah tentang sesuatu yang ingin kita katakan dan jangahlah kita selalu menunggu saat yang tepat? Katakanlah cinta dan kasih sayang itu. Jika kau meninggalkan pesta yang ramai dan berjalan bersama, hanya berdua dengan seseorang... itulah cinta. Ketika kau bersama seseorang, dan kau seringkali mendiamkannya. Tapi ketika ia tak bersamamu dan kau mencarinya... saat itulah kau merasakan cinta. Jika ada seseorang yang selalu membuatmu tertawa, menatapmu penuh perhatian dan ingin selalu pergi bersamanya. Kau sedang jatuh cinta.

Ketika kau melihat sebuah foto bersama, dan kau mencari seseorang yang special...(untuk mengetahui siapa yang berada disampingya difoto itu)lalu kau membayangkan dirimu yang ada disana... yakinlah kau sedang jatuh cinta. Ketika kau tidak menerima telepon saat kau sibuk belajar, tapi tak mampu menahan diri saat seseorang menelponmu... saat itulah kau sedang jatuh cinta. Jika kau lebih tertarik menerima sebuah surat pendek dari seseorang daripada surat-surat lain yang panjang... kau sedang jatuh cinta. Ketika kau mendapat tiket gratis untuk berdua, dan kau tak ragu-ragu mengajak seseorang, kau sedang jatuh cinta.
-
Kau terus mengatakan kami hanyalah teman biasa, tapi kau sadar kau tak bisa melepaskan diri darinya... saat itulah kau merasakan cinta. Cinta bukanlah sesuatu yang buruk dan semua bergantung pada kita bagaimana menginginkannya. Berbagilah, dan katakanlah kepada orang-orang yang berarti bagimu....

Mengakui Kesalahan

"Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu." - Matius 7:2

Karena kesalahan, Perdana Meteri Lithuania, Gediminas Kirkilas, harus membayar denda sebesar 290 euro, atau sekitar 4 juta rupiah. Ia tertangkap basah merokok di sebuah bar di Klaipedia. Pemerintah Lithuania memang memberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum sejak tahun 2006. Lucunya, orang yang mengusulkan larang ini justru Kirkilas sendiri. Kirkilas tidak memungkiri kesalahannya, ia langsung membayar denda tersebut.

Ungkapan "hukum itu buta" harus dimaknai secara proporsional. Maksudnya, hukum berlaku bagi setiap individu yang berada di wilayah hukum tersebut, tanpa terkecuali. Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan pentingnya ketaatan terhadap hukum. Baik itu di lingkungan keluarga, agama, sosial, budaya, maupun kerja. Siapapun yang bersalah harus di hakimi untuk ditunjukkan kesalahannya, dan menerima hukumannya dengan adil. Termasuk sang hakim itu sendiri. Hukum yang dijalankan dengan jujur akan menciptakan ketenangan dan keteraturan hidup. Harus diakui, setiap orang dapat berbuat kesalahan. Namun, bila kita melakukannya, akuilah hal itu dan bayarlah konsekuensinya. Tuhan dan orang-orang yang ada di sekitar kita akan menilai, sejauh mana kita konsisten dengan hukum yang ada. Alkitab mengajar kita untuk mengakui kesalahan,  bukan memungkirinya (Imamat 5:5; 1 Yohanes 1:9)

Mari belajar untuk menghormati setiap hukum yang ada di sekitar kita. Jangan membuat batu sandungan bagi orang lain. Karena setiap orang yang taat kepada hukum akan hidup dalam ketenangan. (gth)

HUKUM TIDAK BERMANFAAT TANPA KOMITMEN UNTUK MELAKUKANNYA DENGAN JUJUR

Renungan Pagi

Humor : Jalan ke Surga

Seorang pendeta baru saja tiba di kota kecil. Ia meminta bantuan seorang pelajar sekolah dasar untuk menunjukkan jalan ke gereja tempatnya melakukan pelayanan nanti malam.

Setelah anak kecil itu menunjukkan arah jalan yang diminta, sang pendeta dengan penuh wibawa berkata,

"Adik harus datang ke gereja nanti malam ya. Ajaklah semua teman-temanmu ke sana."

"Lho, buat apa Pak Pendeta?"

"Saya mau menunjukkan jalan ke surga buat kalian semua."

"Ah, pendeta jangan bercanda. Sedangkan jalan ke gereja saja Pak pendeta nggak tahu apalagi ke surga!!"

:)

03 September 2008

Kathy & Pattrick DeZeeuw

Oleh Kathy DeZeeuw (Ibu)

Saya dibesarkan dalam keluarga yang membaca Alkitab setiap hendak makan dan pergi ke gereja tiga kali seminggu. Kami adalah keluarga yang sangat rohani, tetapi sebenarnya kami tidak mempunyai hubungan yang sesungguhnya dengan Tuhan. Sebagai seorang gadis muda, saya cukup terlindung, dan mempunyai impian khusus untuk berjumpa dengan pemuda ideal dan memiliki perkawinan yang sempurna. Namun impian saya telah berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Saya tidak diperbolehkan berkencan atau nonton bioskop. Tetapi pada suatu malam saat saya berusia 16 tahun, saya membolos dari gereja dan pergi membeli pizza bersama dengan teman wanita. Ditempat restoran pizza, saya menerima sebuah undangan drive-in movie (Menonton bioskop dari dalam mobil) bersama seorang pria yang baru saja keluar dari dalam penjara. Saat ia semakin mabuk, kemarahan dalam dirinya menjadi jelas. Film berakhir, tetapi ia tidak membawa saya kembali ke mobil saya, sebaliknya ia membawa saya pergi kesebuah danau terpencil, lalu memperkosa saya.

Saat saya mengkuatkan diri saya untuk bangun dan berjalan pulang, saya tidak bisa berhenti meratap. Saya merasa mati di dalam. Segalanya didalam diri saya hancur - ia telah mencuri dari saya sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan kembali. Dan yang lebih buruk dari itu adalah ketidaktaatan saya mengakibatkan saya diperkosa. Karena saya tidak "Dikerjain dijalanan", saya menganggap itu mungkin bukan benar2 perkosaan-itu pasti kesalahan saya. Sebab itu saya menyembunyikan perasaan bersalah dan malu. Entah bagaimana akhirnya saya tahu bahwa saya hamil. Satu bulan berlalu berganti dengan bulan berikutnya. Pada saat menunggu datang bulan, saya menjadi suka menyendiri dan putus asa. Dalam keputus-asaan saya menjerit kepada Tuhan dan membuat segala janji, tetapi Tuhan tidak mengambil anak pria pemerkosa itu. Saat itu aborsi masih belum disahkan, maka saya berusaha membunuh sendiri anak saya, saya minum racun semut, menjatuhkan diri dari timbunan rumput kering yang tinggi, dan meninju perut saya sekeras mungkin, tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Saya membenci bayi tersebut, saya benci pria itu, dan terutama saya benci diri saya sendiri.

Saat perut saya bertambah besar, saya menjadi semakin takut. Saya mengenakan korset untuk menutupi perut saya yang menonjol. Bila saya tiba dirumah sepulang sekolah saya sudah hampir pingsan karena kesakitan. Dalam keputus-asaan saya yang dalam, saya berusaha untuk menyembunyikan apa yang terjadi, saya berusaha untuk meletakkan kesalahan tersebut pada orang lain. Saya mulai berkencan dengan seorang pemuda. Saya pikir andai saya bisa memperdayainya, saya bisa mengatakan bahwa ini adalah bayinya - mungkin ia akan mengawini saya.

Akhirnya, suatu hari disekolah, saya pingsan, suster memenggil ibu saya untuk datang dan membawa saya pulang. Sesampainya dirumah, saya lari menaiki tangga untuk ganti baju memakai baju kaos tebal berlengan panjang dan celana panjang abang saya yang besar. Ibu mengikuti dan dalam keheranannya ia menjerit, "Kamu tampak hamil". Saya tahu saya tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Maka saya menjawab, "Ya, ibu."

Ayah mengatakan bahwa kami perlu memanggil keluarga pacar saya untuk menikah secepat mungkin. Saya tahu bahwa bayi tersebut bukan dari pria kedua ini, tetapi saya diam saja. Saya tak akan pernah lupa malam disaat pria itu bersama kedua orang tuanya datang, saya dipermalukan saat in menerangkan bahwa tidaklah mungkin itu adalah bayinya. Saat cerita ini menyebar tentang betapa brengseknya saya, orang2 di gereja mengatakan bahwa saya "bukan gadis baik-baik" dan perlu diusir. Banyak rumor menyebar tetapi saya tetap tidak menceritakan pada siapapun tentang pemerkosaan tersebut. Orang tua saya mengirim saya ke rumah penampungan untuk para ibu diluar perkawinan yang jaraknya bermil-mil dari rumah saya, dan memberitahu saya untuk menyerahkan bayi saya untuk diadopsi.

Saya begitu kesepian. Satu2nya orang yang tersisa dalam hidup saya adalah bayi ini yang telah menjauhkan diri saya dari semua orang. Sementara minggu berganti minggu, ikatan batin bertumbuh semakin kuat. Simungil yang menendang-nendang dalam diri saya itu sekarang adalah anak saya. Dia bukan lagi milik pria menakutkan yang telah memperkosa saya. Akhirnya saya masuk persalinan. Tiap kali kontraksi mulai, satu-satunya hal yang bisa saya pikirkan adalah berdoa dengan satu-satunya doa yang saya ketahui, "Bapa kami yang ada
disurga, dipermuliakanlah namaMu....." Setelah 27 jam bayi saya lahir, lalu diambil cepat-cepat dari saya. Saya pikir tidak akan pernah bertemu dia lagi. Saya diminta untuk tinggal sepuluh hari lagi, dan selama itu saya selalu berdiri disamping jendela kamar anak-anak, dan memendangi putra saya. Saya hanya ingin menggendongnya, memegangnya sebelum mereka membawanya pergi.

Tetapi mereka tidak memperbolehkan, maka mereka menyeret saya dari jendela. Saat orang tua saya tiba, hal pertama yang saya katakan adalah, "Papa, apa papa ingin melihat cucu papa?" Ia berkata "Tidak, saya tidak ingin melihatnya atau berhubungan dengan hal apapun mengenai dia." Papa takut kalau sudah melihatnya, dia akan punya keinginan untuk membawanya pulang. Tetapi saya salah mengartikan reaksinya, lalu menjadi sangat marah, dan menyuruh mereka pergi. Malam itu saya bermimpi sangat jelas-mimpi tentang merawat putra saya. Saya duduk diranjang dan berkata, "Ya Tuhan, apapun yang terjadi, saya akan membawanya pulang." Saat saya berbaring kembali, hati saya terasa damai dan saya tidur nyenyak sekali untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Besoknya orang tua saya kembali dan saat ayah berjalan di dekat pintu, ia berkata, "Sayang, kita akan membawanya pulang. Saya tidak perduli apa yang akan orang katakan, kami akan mendukungmu." Saya sudah memilih sebuah nama, maka saya letakkan Pattrick kecil dibagian mobil dan kami pulang. Akan tetapi sesampainya dirumah, anggota keluarga yang lain sangat menentang saya untuk merawat Pattrick, dan mereka mengungkapkan perasaan mereka terang2an didepan saya. Saya tinggal selama sembilan bulan, dan kepahitan yang dalam melanda saya. Saya menyimpan perasaan tak dapat mengampuni yang sedemikian besar terhadap orang yang telah memperkosa saya, dan terhadap orang2 yang mengucapkan dusta mengenai diri saya. Kata-kata mereka yang merusak masuk kedalam roh saya. Saya tidak tahan hidup dengan mendengar kebohongan-kebohongan yang mereka ceritakan, maka saya pindah ke California, dan tenggelam dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol. Tiba-tiba, semua yang mereka katakan tentang diri saya menjadi kenyataan. Saat Pattrick berumur dua tahun setengah, saya bertemu Harris, dialah jawaban atas doa saya. Waktu saya meninggalkan rumah penampungan bagi para ibu diluar perkawinan, saya pernah memandang kelangit dan berdoa, "Tuhan, jika memang Engkau ada, tolong, bila saya menikah, biarlah pria itu mencintai bayi ini lebih daripada ia mencintai saya." Dan tepat seperti itulah yang terjadi. Harris jatuh cinta kepada Pattrick, dan mereka melakukan hal-hal yang biasa dilakukan semua ayah dan anak. Saat Harris akhirnya meminta saya kepada ayah saya, yang pertama dia minta adalah Pattrick, baru kemudian diri saya.

Namun perkawinan kami sangat sulit. Sejujurnya, saya benci kepada laki-laki. Saya malah semakin tenggelam dalam obat-obatan dan minum-minum, dan apa yang tersisa dari kehidupan saya hancur berantakan begitu cepatnya. Akhirnya, setelah over dosis untuk ketiga atau untuk keempat kalinya, Tuhan melawat diri saya. Saya sadar saya perlu menyerahkan hidup saya kepada Tuhan, maka sayapun menjerit kepada Tuhan. Kemurahan Tuhan dinyatakan lebih lagi kepada saya dengan cara yang paling indah. Hidup saya diubahkan sepenuhnya. Pada satu hari saya adalah seorang pecandu obat-obatan yang gila, tetapi pada hari berikutnya saya begitu mengasihi Tuhan Yesus dan begitu lapar akan FirmanNya. Kurang lebih setahun kemudian, Harris menyerahkan hidupnya juga kepada Tuhan, dan seluruh keluarga saya mengalami kesembuhan yang dasyat. Kami dikaruniai dua putra lagi, dan mereka semua tahu akan Tuhan dan mengasihiNya. Sebenarnya ada saat-saat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, tetapi melalui semua itu Tuhan telah menunjukkan kepada saya kasihNya yang lembut dan pengampunanNya.

Sekarang Pattrick berumur 22 tahun, dan saya bersyukur kepada Tuhan bahwa aborsi dilarang saat ia saya kandung. Jika saat itu aborsi diperbolehkan. Saya tidak tahu pasti apa yang akan saya pilih, tetapi saya bahagia karena saya tidak memiliki pilihan. Saya berdoa supaya suatu hari nanti aborsi dilarang lagi. Saya kira baik Pattrick maupun saya adalah contoh terbaik akan belas kasih dan anugerah Tuhan, terhadap korban pemerkosaan. Tiap kehidupan sangatlah penting dan tak terukur nilainya, tak peduli bagaimana keadaannya. Allah memberi pada setiap orang sesuatu yang unik untuk disumbangkan, dan disaat satu kehidupan hilang, kita semua kehilangan sesuatu. Bila Pattrick tidak ada, akan ada banyak orang yang kehidupannya bakal menderita, terutama saya. Pattricklah yang telah menantang saya dan menolong saya untuk sungguh2 mengampuni ayahnya. Sekarang saya bekerja sebagai konselor disebuah pusat krisis kehamilan, dan seringkali seorang gadis muda bertanya, "Tetapi kamu tidak mengerti! Bagaimana kamu bisa memahami keadaan saya?" Dan saya diberi kemampuan untuk memberi kesaksian tentang hidup saya, bagaimana Tuhan sanggup mengubah sekalipun hasil pemerkosaan untuk kemuliaan namaNya. Jika Dia dapat melakukannya untuk saya, Dia pasti juga dapat melakukannya untuk orang lain! Benar itu tidak mudah, tetapi saya sangat bersyukur atas bagaimana Tuhan sudah memulihkan kehidupan saya.
=======================

Oleh Pattrick DeZeeuw (Anak)

Saya berusia 19 tahun saat saya tahu bahwa saya dikandung akibat pemerkosaan. Saya sangat terkejut. Sebagai seorang pemuda saya merasakan kebencian yang tidak kentara terhadap ayah kandung saya, yaitu sejak meninggalkan saya dan ibu saya. Saya merasa terluka dan ditolak olehnya. Setiap kali mengingat kenyataan tersebut, saya segera mengobarkan kembali kebencian itu, dan hati saya terbakar oleh kepahitan terhadap dirinya. Hanya setelah menyerahkan hidup saya kepada Tuhan maka saya temukan kedamaian dengan diri saya, siapa saya dan bagaimana saya dilahirkan.

Kedamaian itu datang saat saya mengampuni ayah saya, sama seperti Yesus sudah mengampuni diri saya. Sebagai anak hasil pemerkosaan, saya mempunyai pandangan yang khusus mengenai aborsi. Jika saja aborsi sudah diperbolehkan pada saat saya dikandung, saya pasti tidak akan hidup. Saya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengasihi dan memberi diri saya untuk orang lain. Saya juga telah memiliki kesempatan yang indah untuk membagi kesaksian saya. Kapanpun orang berkata, "Ya, tetapi bagaimana kalau akibat pemerkosaan?" Saya memiliki jawaban yang sempurna!. Tuhan telah memberkati saya dengan istri yang luar biasa dan kami merasakan panggilan-Nya dalam ladang penginjilan. Tuhan telah menolong saya untuk bertindak jauh lebih dari hanya sekedar mengampuni ayah saya-saya sungguh-sungguh mengasihinya. Saya berharap dengan segenap hati saya untuk dapat bertemu dengannya. Mungkin kesaksian ini dapat sampai ketangannya, dan akan menemui saya. Doa saya adalah bahwa dia juga akan datang untuk mengenal kuasa kasih Tuhan Yesus yang memulihkan hati yang hancur.

Gubuk Yang Terbakar

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelematkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?"

Dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. "Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?", tanya pria itu kepada penyelamatnya.

"Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

Humor : Hidup Berkeluarga

Seorang pemuda bernama Murphy melamar untuk posisi sebagai teknisi pada sebuah perusahaan Irlandia di Dublin.

Seorang pemuda Amerika juga melamar pekerjaan yang sama. Mereka berdua dites bersama.

Setelah tes selesai, keduanya sama-sama tidak bisa menjawab satu pertanyaan.

Si manajer mendatangi Murphy dan berkata, "Terima kasih atas kedatangan Anda, tapi kami memutuskan untuk menerima pemuda Amerika."

Murphy berkata, "Kok bisa begitu? Pertanyaan kita berdua kan sama-sama betul sembilan.

Lagian aku orang Irlandia, harusnya aku yang dapat pekerjaan ini."

"Kami memutuskan bukan berdasar jawaban yang benar, tapi jawaban yang salah," kata manajer.

"Bagaimana bisa jawaban yang salah dinilai?"

Manajer berkata, "Mudah. Pemuda Amerika menjawab `Aku tidak tahu` dan kamu menjawabnya dengan `Aku juga tidak tahu`."

Harga Sebuah Baptisan

Nats : Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:16)

Bacaan : Kisah Para Rasul 8:1-17

Panggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya. Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut di depan altar untuk menerima baptisan. "Kini saya milik Yesus!" serunya.

Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan, orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas dianiaya (ayat 1-3). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak orang yang tetap mau dibaptis (ayat 12). Mereka percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.

Baptisan itu berharga. Jangan disepelekan! Jika Anda belum dibaptis, usahakan untuk menerimanya! Iman Anda harus dinyatakan dengan berani di depan Allah dan manusia. Jika Anda sudah dibaptis, hadapilah konsekuensinya. Baptisan adalah langkah awal untuk hidup berpusatkan pada Yesus -JTI

KITA DISELAMATKAN KARENA IMAN, BUKAN KARENA BAPTISAN
NAMUN ORANG BERIMAN MEMBUTUHKAN BAPTISAN

SABDA.org

02 September 2008

Harapan

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan." - I Petrus 1: 3

Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. 

Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata. "Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa". Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar.

Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi. Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya. "Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."

Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu. Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas. Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal. Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya. Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki-Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus! Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu, adalah Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada terang. Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak berdaya. Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap. Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat, gairah dan kesegaran baru. Dan .. Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu tersipu-sipu! Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan. Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai. Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang percaya. Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita karena pencobaan (ay. 6). Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?". Ambillah selangkah lagi, lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.