Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 September 2008

Saling Bergandengan

Terlalu sering kita merasa kesepian. Tapi selalu ada seseorang yang siap untuk memegang dan menggenggam tangan kita. Ada sebuah kisah cantik sekali mengenai seorang perawat yang kelewat lelah, yang menghantarkan seorang pria muda kesisi ranjang salah satu pasiennya. Ia miringkan dirinya sambil berkata keras pada pasien itu, katanya, "Putramu disini."

Dengan susah payah, matanya yang sudah kabur membuka sebentar, lalu menutup kembali, ibarat nyala lilin yang padam. Pemuda itu menaruh tangan pria tua itu kedalam tangannya sendiri, dan duduk disamping tempat tidurnya. Sepanjang malam ia duduk disana, menggenggam tangan orang tua itu dan membisikkan kata-kata penghibur.

Pagi-pagi sekali esok harinya, pasien itu ternyata meninggal. Dalam sekejab saja para staf rumah sakit berlarian memenuhi ruangan itu, mematikan mesin-mesin serta mencabut segala macam jarum2 suntik. Seorang perawat melangkah mendekati pemuda itu dan mulai menghiburnya, ikut berbagi duka cita, tapi ia menyelanya.

"Siapakah bapak itu?" tanyanya.

Perawat yang terperangah dan kaget itu menjawab, "Lhooh, saya tadinya pikir ia ayahmu!"

" Bukan.., oh.. ia bukan ayahku," jawabnya balik.

"Seumur hidupku, ini pertama kali aku melihatnya."

"Lantas., lha anda kok diam saja waktu kutuntun kau kepadanya kemarin?"

"Saya sadar ia memerlukan dan mendambakan anaknya dan putranya tidak ada disini", orang itu menerangkan.

"Dan karena aku tahu ia sebegitu parah sakitnya sehingga tak mengenali aku bukan anaknya, aku tahu ia memerlukan aku."

Ibu Teresa terbiasa mengingatkan kita kembali bahwa tak seorangpun layak dan harus mati sendirian. Makanya, tidak seorangpun pantas harus berduka cita maupun menangis sendiri juga. Ataupun tertawa sendiri, atau merayakan sendiri. Kita diciptakan untuk mengarungi perjalanan hidup ini bergandengan tangan. Ada seseorang yang hari ini siap sedia untuk menggandeng dan menjabat tanganmu. Dan seseorang yang berharap kau akan menggenggam tangan-tangannya. Ingatlah untuk selalu saling bergantung dan saling bantu membantu satu sama lainnya!

0 comments:

Post a Comment