Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

16 February 2008

Walk in the Ways of Your Heart

Today's Scripture

“…Follow the ways of your heart…” (Ecclesiastes 11:9).

Today's Word from Joel and Victoria

When you become born again, you receive a new spirit—God’s Spirit on the inside of you. The Bible often calls this your heart. If you look at the word “heart”, you’ll see the word “ear” in the middle. The ear that you hear with is in the center of your heart. Your heart is where the Lord speaks to you. It’s easy for the cares of this world to become like loud noise that drowns out the still, small inner voice. But if you’ll set aside time every day to be with the Lord and acknowledge Him in everything you do, you will hear Him more clearly, and you will have confidence to walk in the ways of your heart. God wants to give you the desires of your heart, but it’s only when you submit your heart fully to Him. Is there anything that you are holding back from the Lord today? Release it to Him. You can trust Him to lead your heart down a good path. You can trust Him to lead you down a path of victory in every area of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, help me to hear Your voice clearly. I surrender every area of my heart to You today and ask that You remove anything that displeases You. Thank You for leading me on a good path for my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

15 February 2008

Persahabatan

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata, ”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar".

Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.

Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu.

Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka. Kirim surat ini kepada mereka yang kau anggap teman, walaupun berarti kau mengembalikannya kepada yang mengirimnya kepadamu. Bila pesan ini kembali padamu, itu berarti bahwa kau mempunyai lingkaran teman.

Untuk mengakhiri: ”Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.” (Alessandro Manzoni)

Renungan :
Jika kau menerima pesan ini, ketahuilah bahwa ada orang yang bermaksud baik padamu dan bahwa dari dirimu ada juga orang yang kau kasihi. Jika kau terlalu sibuk untuk menyisihkan beberapa menit untuk meneruskan ini kepada orang lain dan berpikir, ”Saya akan melakukannya beberapa hari yang akan datang", lupakan saja, karena mungkin kau tidak akan pernah melakukannya.

Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan, dan lakukan secara bijaksana.

Yakinlah pada dirimu ketika berkata: ”Aku mencintaimu."

Jika kau berkata: “Aku menyesal,”
tataplah mata lawan bicaramu.

Jangan permainkan harapan orang lain. Mungkin kau bisa tersinggung, tetapi itulah satu-satunya cara untuk menjalani hidupmu.

Jangan adili orang lain, tetapi adili dirimu secara kritis.

Bicaralah pelan, tetapi cepat dalam berpikir. Jika kau ditanya sesuatu yang tak ingin kau jawab, senyumlah, dan tanya: ”Mengapa kamu mau tahu?"

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak risiko.

Jika kau kalah, jangan lupakan pelajaran dibalik kekalahan itu.

Hargai dirimu.

Hargai orang lain.

Bertanggung jawablah atas tindakanmu. Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan. Tersenyumlah ketika menjawab tilpon, orang yang menilponmu akan mendengarnya dari suaramu. Baca yang tersirat. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.

Hallo, Tuhan!

Seperti biasa, sebelum tidur malam, aku selalu mengontak Tuhan dengan telepon sambungan khusus yang bisa bercakap-cakap dengan Tuhan secara langsung. Seperti malam ini juga, aku yang telah bersiap-siap untuk pergi tidur, tidak lupa terlebih dahulu memencet nomor telepon yang telah kuhafal.

Kring….. kring …….

Tuhan : Hallo?
Aku : Hallo, Tuhan!
Tuhan : Oh , hallo, anak-Ku. Ada kabar apakah hari ini?
Aku : Tuhan, tadi aku ikut ayah ke acara malam amal guna menghimpun dana bagi pembangunan gereja. Banyak sekali yang datang. Sepertinya mereka bukan orang biasa-biasa saja, Tuhan. Dan ternyata memang benar, Tuhan. Itu kuketahui saat acara penyerahan sumbangan. Mereka beramai-ramai menuliskan sejumlah uang dan maju untuk diserahkan. Dimulai oleh Pengusaha E dari PT. Maju Mundur menyumbang 35 juta. Manager B dari PT. Angin Ribut sebesar 50 juta. Bapak K dari Pabrik Suka Ramai memberikan 72 juta. Lalu Bapak C, Dirut PT. Kocok-Kocok menyerahkan 90 juta. Yang paling menghebohkan adalah ketika Mr. Y dari Inggris memberikan sumbangan sebesar $ US 25.000,- atau senilai 250 juta rupiah! Wah, tepuk tangan sontak membahana dalam ruangan itu, Tuhan. Dan sebagai rasa terima kasih, Mr. Y-lah yang diberi penghormatan untuk meletakkan batu pertama pembangunan gereja itu
Tuhan : Berarti cukup banyak juga dana yang terkumpul?
Aku : Iya, Tuhan.
Tuhan : Lalu bagaimana?
Aku : Ya setelah tepuk tangan itu berhenti, tiba-tiba ada seorang bapak tua yang maju. Pakaiannya biasa-biasa saja dan tampak lusuh. Banyak orang berbisik-bisik dan saling pandang kira-kira berapa yang akan diserahkannya. Apakah bisa melampaui yang diserahkan oleh Mr. Y.
Tuhan : Berapa yang dia berikan?
Aku : Ternyata bapak itu hanya memberi sumbangan sebesar 1 juta, Tuhan.
Tuhan : Lalu?
Aku : Ya… bisa ditebak Tuhan, seluruh ruangan terdiam bahkan pembawa acaranya pun seolah kehilangan kata-kata dan tertegun selama beberapa saat hingga akhirnya dia tersadar setelah bapak itu berbalik kembali ke kursinya. Kemudian pembawa acara itu mengucapkan terima kasih serta memohon hadirin untuk memberi tepuk tangan. Tapi sungguh ironis, Tuhan, sambutan mereka tidak sehebat saat Mr. Y. yang maju. Bahkan terkesan mengejek. Orang-orang di sebelahku pun saling berbisik, kalau hanya segitu saja aku juga bisa.
Tuhan : Tapi apakah mereka juga berani maju seperti bapak itu
Aku : Kelihatannya tidak, Tuhan. Bahkan sampai akhir acara mereka tidak terlihat berdiri dari tempat duduknya.
Tuhan : Lalu apa yang bisa kau petik dari kejadian itu, anak-Ku?
Aku : Ternyata untuk membangun rumah-Mu pun sekarang sudah dibisniskan, ya Tuhan, bahkan mereka berlomba-lomba untuk mencari nama dengan jor-joran menyumbang. Mereka sepertinya meminta pamrih atas apa yang telah dikeluarkannya, padahal belum tentu itu dari uang mereka sendiri, bisa jadi dari uang perusahaan. Bahkan ukuran yang mereka pakai sekarang adalah uang, Tuhan. Nyatanya saat bapak tua itu yang maju, mereka mencemoohnya.
Tuhan : Engkau benar, anak-Ku. Padahal dari semua yang telah mereka berikan, sesungguhnya persembahan bapak itulah yang paling berkenan kepada-Ku. Jika yang lain memberi dari kelebihan mereka, bapak ini memberi dari kesederhanaannya. Andai kau tahu, anak-Ku bapak itu adalah seorang pedagang sayur keliling yang telah menyisihkan sebagian labanya yang tidak seberapa itu selama bertahun-tahun untuk diserahkannya bagi pembangunan rumah-Ku. Aku lebih menyayangi dan memberkatinya sehingga walaupun hidupnya dalam kesederhanaan namun dia selalu bersukacita.
Aku : Lalu apa upah bagi mereka yang lain, Tuhan?
Tuhan : Sesungguhnya mereka telah mendapatkan upah sesuai perbuatan mereka. Namun tidak ada damai sejahtera bagi mereka karena lebih menyayangi harta duniawi dan tidak mencari harta surgawi. Nah, anak-Ku, kau telah belajar banyak hari ini. Dan kini kau tahu apa yang lebih menyenangkan hati-Ku. Berlakulah seperti yang telah Kukatakan. Aku akan selalu menyertaimu. Selamat malam dan selamat tidur.
Aku : Selamat malam, Tuhan.

Ceklek!!! Telepon ditutup.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Markus 12: 43-44)


From : Indah Susanti, Semarang

Sebuah DOA!

Aku meminta Allah mengangkat kesombonganku. Dan Allah menjawab, "Tidak".
Ia berkata bukan bagian-Nya mengangkat hal itu, tetapi bagianku untuk menyerahkannya.

Aku meminta agar Allah menyembuhkan anakku yang cacat, tetapi Ia berkata, "Tidak".
Ia berkata rohnya utuh dan sempurna, tubuh hanya sementara.

Aku meminta Allah untuk memberikanku kesabaran, dan Allah berkata, "Tidak".
Ia berkata kesabaran adalah hasil dari tantangan dan pencobaan. Hal itu tidak diberikan, tetapi diperoleh dengan usaha.

Aku meminta Allah untuk memberikanku kebahagiaan, dan Allah berkata, "Tidak".
Ia katakan Ia memberikan berkat, tetapi kebahagiaan tergantung pada diriku sendiri.


Aku meminta agar Allah menghindarkan aku dari kepedihan dan Allah berkata ”Tidak.”
Ia katakan, penderitaan menjauhkanku dari kesenangan dunia
dan mendekatkanku pada-Nya

Aku meminta pada Allah untuk menumbuhkan rohku
dan Allah berkata ”Tidak.”
Ia katakan, aku harus belajar bertumbuh sendiri
, tetapi Ia akan membersihkan rantingku dan membuatku berbuah.

Aku bertanya pada Allah apakah Ia mengasihiku dan Allah berkata “Ya.”
Ia berikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagiku
dan aku akan berada di surga suatu hari nanti.

Karena... aku percaya Aku meminta agar Allah menolongku mengasihi orang lain Seperti Ia mengasihiku
Dan Allah berkata, ”Ah, akhirnya engkau mengerti..."

Tuhan Yesus Memberkatimu... Sekarang dan senantiansa AMIN

Give Thought to Your Ways

Today's Scripture

“A simple man believes anything, but a prudent man gives thought to his steps” (Proverbs 14:15).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you consider yourself to be prudent or wise? The Bible says that one of the characteristics of a prudent person is to give thought to their ways. So many people today just act, or re-act, based on their emotions or circumstances. They let the world around them determine how they should feel or what they should do. They believe everything they hear in the news. When the economy is up, they are up. When the economy is down, they are down. Don’t let that be you today! Give thought to your ways. Submit every decision to the Lord in prayer and allow Him to direct you from inside your heart. Don’t believe everything you hear. Let the Lord guide your steps. As you take time to meditate before the Lord and submit your plans to Him, Proverbs says that your ways will be established. You will find supernatural peace that passes understanding, and you will live in success all the days of your life!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your faithfulness to me. Thank You for guiding and directing my steps. Help me each day to give thought to my ways and follow the good plan You have for me. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

14 February 2008

Tahun 2000 - 2040 Pulau Tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan. "Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi.
Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan.

Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya. Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for Int erna tional Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di pet erna kan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :
1. Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. Hindari penggunaan lampu berwarna kuning karena lebih panas. Yang berwarna putih lebih baik.)
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC, Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
13. Gunakan selalu barang-barang yang dapat didaur ulang (hindari penggunaan sumpit bambu).

Jika kita tetap tidak peduli kita hanya tinggal menunggu waktu saja

Save Our Earth.....Please Act Yourself.... ..NOW..... NOW….. NOW ….. !!!!

Suatu Pemberian Kasih

“Dapatkah aku melihat bayiku?”, kata ibu dengan sukacita.

Ketika jabang bayi diletakkan dalam pelukannya, ibunya menying-kapkan kain pembungkusnya untuk memandang wajahnya yang mungil dan langsung menahan napasnya. Dokter yang men-dampinginya dengan cepat memandang keluar melalui jendela. Bayinya ternyata dilahirkan tanpa sepasang daun telinga.

Untungnya, pendengaran bayi itu sempurna. Hanya penampilan wajahnya yang “mengacaukan.”

Ketika pada suatu hari anak itu lari pulang dari sekolah, ia menubrukkan dirinya ke dalam pelukan ibunya seraya menarik napas panjang untuk mengeluarkan keluh-kesahnya. Ia sadar, bahwa hidupnya akan dipenuhi dengan saat-saat kesedihan.

Dengan disertai tangis, ia mengeluh, “Seorang anak yang besar… menamakan aku anak aneh!”

Ia bertumbuh besar, cakap dalam kesialannya. Ia merupakan anak yang disukai di antara teman-teman sekolahnya dan ia sebenarnya dapat dipilih sebagai ketua kelas karena popularitasnya. Ia memiliki kharisma, suatu talenta dalam bidang sastra dan musik. “Kamu toh dapat bercampur dan bergaul dengan murid-murid lainnya,” hibur ibunya dengan hati yang penuh empati.

Ayahnya, berkonsultasi dengan dokter keluarga. “Apa tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan?” Dokternya menjawab, “Aku bisa memasang sepasang daun telinga, asalkan kita bisa memperoleh sepasang daun telinga dari orang lain.”

Kemudian menyusul pencarian akan seseorang yang bersedia mengorbankan daun telinganya untuk anak ini. Demikianlah berjalan dua tahun.

Kemudian, pada suatu hari, ayahnya berkata, “Nak, hari ini kamu akan ke rumah sakit. Ibu dan aku telah mendapatkan seseorang yang bersedia mengorbankan daun telinganya dan menyumbang-kannya kepadamu. Namun hal ini merupakan sebuah rahasia,” kata ayahnya.

Operasinya merupakan suatu sukses dan sesosok orang baru tampil. Talentanya berkembang menjadi seorang yang amat cerdas, dan pendidikannya di sekolah maupun di universitas merupakan sukses demi sukses. Kemudian ia menikah dan masuk ke dalam pelayanan diplomatik.

Ia bertanya kepada ayahnya. “Kini aku ingin mengetahui, siapakah yang begitu baik, sehingga bersedia menyumbangkan sepasang daun telinganya kepadaku? Aku tak akan dapat membalasnya untuk selama-lamanya.”

“Kamu memang tak dapat”, kata ayahnya, “Namun sesuai dengan perjanjiannya, kamu tak boleh tahu siapa orangnya.”

Tahun lepas tahun lewat dan rahasia itu tetap dijaga dengan baik, namun hari yang dinanti akhirnya datang… salah satu hari yang tergelap yang harus ditanggung oleh anak lelaki itu. Ia mendam-pingi ayahnya di samping jenasah ibunya.

Dengan pelan dan lembut, ayah menaikkan rambut tebal berwarna coklat-kemerah-merahan dari isterinya yang terkasih untuk memperlihatkan bahwa ibunya tidak memiliki daun telinga.

Dengan penuh haru, ia berbisik, “Ibu mengatakan bahwa ia senang tidak pernah memotong rambutnya. Dan nyatanya, tidak seorangpun menganggap Ibu kurang cantik, bukan?”

Kecantikan sejati tidak terdapat dalam penampilan fisik, melainkan dalam hati. Kekayaan yang sejati tidak terdapat di suatu tempat yang dapat ditampakkan oleh manusia, melainkan yang tak dapat dilihat oleh manusia. Demikian pula, kasih yang sejati tidak terdapat dalam apa yang telah dilakukan dan diketahui, melainkan dalam apa yang telah dilakukan dan tidak diketahui oleh orang lain.


Marge M.
Hearthwarning Christian Stories

New Creation

Today's Scripture

“Therefore, if anyone is in Christ, he is a new creation; the old has gone, the new has come” (II Corinthians 5:17).

Today's Word from Joel and Victoria

Everyone loves to get something new. But as a believer in Jesus, you’re not only getting something new, you are something new. You are a brand new creation! Your eternal being, or the spirit on the inside of you, is re-created in Christ. The old is gone, the new has come. The Bible says that we are to work out our salvation. That means you have to retrain your body and mind to act, think, speak and live according to the new spirit within you—instead of the old habits you used to have. Don’t ever get stuck in a rut thinking, “I’ll never change…that’s just the way I am.” No, the Bible says that the Spirit of God aids us in our weakness. He gives us strength to overcome. He empowers us to live as more than conquerors. Is there something you want to change in your life today? Remember, you are a new creation in Christ. You are empowered to overcome. You are equipped to walk in the new, abundant life the Lord has in store for you!

A Prayer for Today

Father in Heaven, thank You for making me a new creation. Thank You for empowering me to live as an overcomer. I give this day to You and ask You to help me fully understand the plan You have for me. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Cinta Kasih di Hati Manusia

(Erabaru.or.id) - Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH
KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa
mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?"

Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.. dengar dulu
penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".

"Bohong!! Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar
ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"

"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"

Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.

"Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum
untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."

"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup
menggajimu", demikian Simon menjawab.

Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan
kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."

"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".


Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan.
Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki
sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya
Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi
besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba
tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum.

Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak
menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku
sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya
Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku
sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".

"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada
Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali
pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah
satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.

Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah
satu dari si kembar ini kakinya pincang?"

Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga
kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail,
tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah
satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?

KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'

"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan
dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:
"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"

"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua: "MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"

"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga: "MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup." Mikhail kembali ke surga. (Kristamedia)

11 February 2008

Jika Menikah Adalah Prioritas

Jika menikah adalah salah satu prioritas yang ingin dicapai, maka penting untuk mengetahui, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum masuk ke dalamnya. Selain itu, kita perlu juga memperhatikan keseimbangan antara aktivitas-aktivitas persiapan yang dilakukan untuk mencapai rencana tersebut.

Berdasarkan survei, mayoritas orang menghabiskan waktu dan energi untuk mempersiapkan pernikahan sebatas urusan finansial. Karena itu, banyak yang bekerja rodi siang dan malam supaya bisa mengkredit rumah, mobil, dan segala kebutuhan pernikahan lainnya. Pergi dari rumah jam 7 pagi, baru pulang lagi jam 9 malam. Sabtu juga kerja, dari siang sampai sore. Bisa sampai malam kalau tiba-tiba ada klien penting yang berkunjung.

Minggu pagi menjadi waktu terbaik untuk "tewas" dengan tenang di tempat tidur. Minggu siang bertemu dengan pasangan untuk makan siang bersama, jalan-jalan di mall, atau ke pameran furniture untuk mulai mencari perlengkapan rumah tangga. Mingu sore ke gereja lalu mencari cafe untuk makan malam bersama. Di situlah, selama kurang lebih 1 jam, akhirnya ada waktu untuk bicara dari hati ke hati. Tapi hanya itu. Satu jam seminggu untuk bicara dengannya. Dan beberapa bulan kemudian, atas desakan orang tua dan calon mertua yang selalu berkata, "Cepat menikah, sudah umur berapa sekarang?" lonceng pernikahan pun segera dibunyikan.

Demikian intisari dari survei sederhana yang dilakukan oleh Young Life Indonesia (YLI), sebuah ministry yang bergerak di kajian kepemimpinan kaum muda dan profesional Indonesia. Analogi dari situasi ini adalah orang yang hendak membangun rumah. Dia bekerja mati-matian supaya bisa membeli semen, batu, pasir, cat, dan sebagainya. Tapi, di saat-saat terakhir, dia tidak tahu apakah tanah tempat dia akan membangun rumah itu cukup kuat untuk dijadikan fondasi. Dan dia juga sebenarnya tidak yakin, rumah dengan gaya seperti apakah yang akan dibangunnya. Pokoknya rumah, bentuknya seperti apa, bagaimana nanti! Bukankah Tuhan akan menolong?

Ada 4 aspek aktivitas yang digunakan untuk melihat apakah aktivitas seseorang sudah seimbang atau belum :

1. Pekerjaan
2. Pengaturan hidup atau disiplin diri
3. Pengembangan diri atau pembelajaran
4. Hubungan dengan orang lain

Sementara itu, definisi "seimbang" di sini dilihat dari 2 dimensi :

Keseimbangan aktivitas-aktivitas yang dijalankan dan Kesesuaian antara rencana dengan aktivitas-aktivitas tersebut.

Hasil surveinya, 67% dari 31 orang yang di-riset menunjukkan ketidakseimbangan dalam beraktivitas. Sedang dalam dimensi kedua, 9% lebih melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak terkait sama sekali dengan apa yang direncanakan, dan sekitar 45% melakukan aktivitas-aktivitas yang kurang terkait dengan rencana. Riset sederhana ini memang tidak membahas apa dampak dari ketidakseimbangan itu. Tapi tingginya tingkat kesibukan para konselor pernikahan di gereja-gereja, dan maraknya perceraian di antara pasangan-pasangan muda, merupakan indikasi nyata dari banyaknya orang yang dibutakan oleh cinta dan segera menikah lalu membangun rumah tangga, tanpa memiliki fondasi yang kuat secara seimbang.


Beberapa persiapan yang perlu dilakukan selain finansial antara
lain :

*Mengenal Diri Pasangan Yang Asli*
Persiapan yang seringkali tidak dilakukan calon suami istri adalah mengekplorasi "the real him/her" selama berpacaran. Umumnya pasangan hanya melakukan berbagai aktivitas bersama, tapi jarang punya keberanian melakukan dialog mendalam untuk menemukan dirinya yang asli. Jadi intinya harus dialog-sentris, bukan sekedar aktivitas-sentris. Apalagi karena selama masa pacaran toleransi masih tinggi sehingga asumsi tentang siapa dia diwarnai oleh persepsi yang tidak realistis. Begitu pernikahan terjadi, langsung terkaget-kaget karena ada banyak "hidden package" yang menjadi bonus, yang baru muncul ketika situasinya kondusif. Ternyata waktu lapar atau sakit misalnya, dia menjadi begitu emosional dan sangat tidak sabar.

Perkataannya pun bisa sangat agresif. Atau ketika masuk ke soal seks, ternyata dia punya pikiran yang tidak pernah dibahas selama berpacaran. Sekedar saran, mungkin waktu berpacaran yang ideal adalah sekitar 2-3 tahun supaya kita bisa melihatnya dalam berbagai situasi.

*Siap Mental*
Untuk seorang wanita, perlu sekali menyiapkan mental untuk menjadi penolong bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Seringkali wanita tidak siap untuk hal itu. Apalagi karena wanita harus melahirkan anak dan mengatur rumah tangga. Karena itu wanita perlu mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku tentang kewanitaan, anak, dan keluarga sebelum menikah. Juga perlu belajar tentang manajemen waktu dan manajemen keuangan.

*Siap-siap Menjadi PhD (Perfect Husband and Daddy)*
Setelah menikah, seorang wanita secara intuitif biasanya akan berubah. Walaupun dia masih bekerja, tapi dia merasa bahwa rumah tangga adalah prioritas yang harus diutamakan. Tapi seringkali pria tidak mengalami perubahan intuitif ini. Karena itu secara khusus pria harus mempersiapkan perubahan mental ini, sebab kalau tidak akan terjadi benturan, yang jika tidak dibereskan akan menjadi jurang pemisah. Lambat laun, kalau masing-masing punya aktivitas sendiri-sendiri, celah terhadap perselingkuhan akan mudah terbuka.

*Rencanakan Kehamilan*
Kalau pasangan sudah menikah, otomatis orang-orang akan bertanya, "Sudah hamil belum?". Walaupun begitu, sebaiknya kita benar-benar mengerti makna kehadiran seorang anak. Bukan cuma 'pelengkap' kehidupan berumah tangga saja. Terutama mengerti segi finansial dan pembelajaran tentang anak. Harus dipikirkan, jika punya anak nanti apakah istri akan tetap bekerja? Kalau ya, anak akan tinggal dengan siapa? Kalau dengan suster, otomatis nilai-nilai dari suster-lah yang akan diturunkan ke anak. Tapi kalau istri yang mengasuh anak sehingga tidak bekerja, apakah secara finansial sudah mencukupi?

*Seimbangkan Perubahan Aktivitas*
Apakah kita sudah punya komunitas yang tepat, yang bisa mendukung pertumbuhan rohani kita dan anak-anak kita? Kadang ada komunitas yang sangat menekankan jemaat untuk terlibat dalam pelayanan. Kalau mengurangi pelayanan berarti sudah mundur. Ini akan membuat kita merasa bersalah. Karena itu aktivitas yang dijalani ketika masih single dan setelah berkeluarga harus ditimbang ulang supaya terjadi keseimbangan.

*Rumah dan Mertua*
Kita harus membina hubungan yang sehat dengan keluarga besar calon pasangan kita. Jika hubungan tidak harmonis, dikuatirkan nantinya akan terjadi intervensi dari mertua atau anggota keluarga lain. Tapi selain itu, tiap pasangan memang seharusnya tinggal sendiri (tidak tinggal di pondok mertua indah). Karena perbedaan-perbedaan yang ada dapat memicu perselisihan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tidak harus membeli rumah, minimal awalnya menyewa atau mengontrak.

Hidup bisa dibuat menjadi lebih seimbang, sederhana, dan berkualitas, jika kita mengetahui gambaran besar dari apa yang akan dihadapi dan fondasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan gambaran tersebut.(fis)

Sumber: getlife

Dikira Suara Bom

Ketika bom meledak di beberapa tempat di tanah air juga di beberapa gereja-gereja Tuhan. Ada sebuah gereja yang jemaatnya selalu was-was bila beribadah di gereja. Pada suatu hari Minggu, ketika ibadah sedang berlangsung, pengkhotbah tanpa sengaja menyinggung mig di depannya. Kontan terdengar suara keras sekali: ”Buuuuummm” Dan ketika mig dibetulkan, maka terdengar lagi suara yang lebih seru : ”Daaaaaagggg……..Duuuuuuummm”

Anggota Paduan suara yang duduk dekat mimbar pengkhotbah dan sebagian besar jemaat yang hadir, langsung tiarap. Sementara yang lain ada yang berteriak histeris dan sebagian lagi berdoa dengan mata terpejam kuat-kuat.

Pengkhotbah menghentikan khotbahnya dan tampak bingung karena melihat pemandangan yang tidak biasa. Jemaat beribadah dalam posisi tiarap. Setelah “suasana aman” satu persatu jemaat itu bangun dan bertanya-tanya : ”Mana bomnya. Berapa yang terluka? Puji Tuhan, gedung gereja ini tidak hancur. Tuhan memang luar biasa”

Diatas mimbar, pengkhotbah mulai menenangkan jemaatnya dengan satu pujian : ”Aku memuji kebesaran-Mu” Pengkhotbah itu meminta maaf kepada jemaatnya karena terlalu bersemangat sehingga menyinggung mig tanpa sengaja.


Sumber : Reflecta edisi Okt 2006