Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 February 2008

Dikira Suara Bom

Ketika bom meledak di beberapa tempat di tanah air juga di beberapa gereja-gereja Tuhan. Ada sebuah gereja yang jemaatnya selalu was-was bila beribadah di gereja. Pada suatu hari Minggu, ketika ibadah sedang berlangsung, pengkhotbah tanpa sengaja menyinggung mig di depannya. Kontan terdengar suara keras sekali: ”Buuuuummm” Dan ketika mig dibetulkan, maka terdengar lagi suara yang lebih seru : ”Daaaaaagggg……..Duuuuuuummm”

Anggota Paduan suara yang duduk dekat mimbar pengkhotbah dan sebagian besar jemaat yang hadir, langsung tiarap. Sementara yang lain ada yang berteriak histeris dan sebagian lagi berdoa dengan mata terpejam kuat-kuat.

Pengkhotbah menghentikan khotbahnya dan tampak bingung karena melihat pemandangan yang tidak biasa. Jemaat beribadah dalam posisi tiarap. Setelah “suasana aman” satu persatu jemaat itu bangun dan bertanya-tanya : ”Mana bomnya. Berapa yang terluka? Puji Tuhan, gedung gereja ini tidak hancur. Tuhan memang luar biasa”

Diatas mimbar, pengkhotbah mulai menenangkan jemaatnya dengan satu pujian : ”Aku memuji kebesaran-Mu” Pengkhotbah itu meminta maaf kepada jemaatnya karena terlalu bersemangat sehingga menyinggung mig tanpa sengaja.


Sumber : Reflecta edisi Okt 2006

0 comments:

Post a Comment