Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 February 2008

Si Kaya & Si Miskin

Suatu hari seorang ayah dari keluarga yang makmur mengajak anak lelakinya pada suatu daerah untuk memperlihatkan padanya bagaimana kehidupan masyrakat miskin. Mereka menghabiskan beberapa waktu dan malam dipertenakaan untuk merasakan kehidupan keluaraga miskin.

Dalam perjalanan pulang, sang ayah bertanya pada anak lelakinya, "Bagaimana perjalanannya?"

"Ini menyenangkan, Ayah".

"Apakah akmu bisa melihat kehidupan orang miskin?", tanya sang Ayah.

"Oh Ya, jawab anak lelaki".

"Jadi, katakan padaku, apa yang kamu pelajari dari perjalanan ini?", tanya sang Ayah.

Jawab sang anak, "Aku melihat bahwa kita punya 1 ekor anjing dan mereka punya 4 ekor anjing. Kita punya kolam renang yang menjangkau taman kita dan mereka punya teluk yang tak berujung. Kita punya lampu taman buatan luar negeri dan mereka punya bintang dilangit malam. Teras belakang kita menjangkau pekarangan dan mereka punya seluruh alam semesta. Kita punya sejengkal tanah untuk hidup dan mereka punya ladang luas untuk hidup selamanya. Kita punya banyak pembantu yang melayani kita, tapi mereka saling melayani. Kita selalu membeli makan, tapi mereka meyediakan sendiri. Kita punya dinding-dinding untuk melindungi harta benda kita; Mereka punya teman untuk melindungi mereka.

Sang Ayah hanya terdiam terpaku. Lalu sang anak menambahkan, "Terimakasih Ayah untuk menunjukkan seberapa miskinnya kita".

Bukankah ini hal yang indah untuk direnungkan?

Membuat kamu menyadari apa yang akan terjadi jika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, dibanding hanya mengkhawatirkan apa yang tidak kita miliki.

Bersyukurlah atas segala sesuatu yang kamu miliki!

Tuhan Yesus Memberkati

0 comments:

Post a Comment