kemudian.
ALLAH MAHA KUDUS
* Setiap satu minggu sekali, dengan menggunakan tongkat penyangga, Tek Tan Nio berkeliling Pasar Bogor untuk menjual keripik dan makanan ringan lainnya untuk membiayai hidup ia dan mamanya.
”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja..”
Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat.
Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun.
Lembaran Kisah Hidupku
Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat -red) di sampingnya.
Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin.
Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku.
Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali.
Ket:
- Cobaan datang silih berganti dalam kehidupan Tek Tan Nio, namun tidak membuat dia merasa putus asa. Sebaliknya, dia menjadi semakin bersemangat untuk terus melanjutkan kehidupannya. (atas)
- Tek Tan Nio tidak ingin dirinya dikasihani. Walaupun kakinya mengalami pengeroposan tulang, namun ia tetap semangat berjuang untuk bisa membahagiakan Tek Cui Nio (85), mamanya. (bawah)
Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku.
Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank.
Darimana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang.
Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah.
Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu -red) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris...
Ket:
- Untuk mengurangi rasa nyeri dilututnya, Tek Tan Nio memberikan perban di lututnya sebelum pergi keluar rumah. (atas)
- Setiap bulannya, Tek Tan Nio mendapatkan penghasilan sebesar lebih kurang 500..000 rupiah yang hanya cukup untuk makan sehari-hari ia dan mamanya. (bawah)
Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan. Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku. Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku.
Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat (kurang lebih lima kali berganti baju setiap harinya, karena basah -red). Sebenarnya dokter sudah melarang untuk terlalu sering berjalan, tapi kalau aku tidak berjualan siapa yang akan memberi makan mama? Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk berbakti sama mama.
Ket:
- Tidak hanya pengeroposan tulang, Tek Tan Nio juga mengalami pembengkakkan jantung yang membuat ia selalu berkeringat. Dalam satu hari, dia bisa berganti baju hingga lima kali karena keringatnya yang berlebih. (kiri)
- Betapa besar bakti seorang anak kepada ibunya dapat kita contoh dari sikap Tek Tan Nio yang sangat mencintai ibunya yang berumur 85 tahun, dan tengah sakit-sakitan. (kanan)
Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari kata cukup.
Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung.
Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan Tzu Chi. Karena ada Tzu Chi yang mendukung, rasanya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Thanks
Djun
Save a Tree. Don't Print this email unless It's necessary.
Kakek yang besoknya mau berangkat ke Kalimantan, sebelum tidur pesan ke cucunya.
Kakek : “Cucu, besok jam 5 pagi bangunin kakek ya... karena kapal masuk jam 6 pagi."
Cucu : "Baik kek"
Karena terlalu malam tidur, kakek terbangun sudah jam 7 pagi. Tanpa cuci muka atau sikat gigi, kakek ambil tas ransel & sepatu langsung ke Pelabuhan naik ojek dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di pelabuhan, kakek lari kiri kanan. Begitu sampai dermaga, jarak kapal dengan dermaga 5 meter, Kakek langsung ikat tali sepatu, ikat ransel siap lompat salto ke kapal, orang-orang pada teriak.
Penumpang : “We.... kakek mau cari mati ya..????
Kakek : “Emang gw pikirin??? yang penting gw bisa tetap berangkat !!!”
(langsung dengan sisa tenaga kakek lari mundur trus maju dan salto ke kapal).
berhasil tapi hampir jatuh ke laut...
“HUP !!”, kakek bergelantung di pagar kapal, dengan sekuat tenaga sang kakek berusaha naik ke dalam kapal. Begitu mau naik, ada seorang Satpam yang membantunya naik :
Satpam : “Saya ga sangka kakek sehebat ini......memangnya kakek mau kemana? santai aja kek..kapal baru mau bersandar kok!!”
Kakek : :(
Sewaktu kita duduk di taman kanak-kanak, kita berpikir kalau seorang teman yang baik adalah teman yang meminjamkan krayon warna merah ketika yang ada hanyalah krayon warna hitam.
Di sekolah dasar, kita lalu menemukan bahwa seorang teman yang baik adalah teman yang mau menemani kita ke toilet, menggandeng tangan kita sepanjang koridor menuju kelas, membagi makan siangnya dengan kita ketika kita lupa membawanya.
Di sekolah lanjutan pertama, kita punya ide kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mau menyontekkan PR-nya pada kita, pergi bersama ke pesta dan menemani kita makan siang.
Di SMA, kita merasa kalau seorang teman yang baik adalah teman yang mengajak kita mengendarai mobil barunya, meyakinkan orang tua kita kalau kita boleh pulang malam sedikit, mau mendengar kisah sedih saat kita putus dari pacar.
Di masa berikutnya, kita melihat kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu ada terutama di saat-saat sulit kita, membuat kita merasa aman melalui masa-masa seperti apapun, meyakinkan kita kalau kita akan lulus dalam ujian sidang sarjana kita.
Dan seiring berjalannya waktu kehidupan, kita menemukan kalau seorang teman yang baik adalah teman yang selalu memberi kita dua pilihan yang baik, merangkul kita ketika kita menghadapi masalah yang menakutkan, membantu kita bertahan menghadapi orang-orang yang hanya mau mengambil keuntungan dari kita, menegur ketika kita melalaikan sesuatu, mengingatkan ketika kita lupa, membantu meningkatkan percaya diri kita, menolong kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik, dan terlebih lagi... menerima diri kita apa adanya...
Thanks for being my friend...
Shalom,
Sobat... kadang kita mengalami hari dimana semuanya seperti kelam karena ada begitu banyak masalah yang kita hadapi. Pernahkan mengalaminya?
Hari ini saya mau bagi satu kisah yang menarik... met membaca ya.
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu diatas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang aku lihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut. “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, engkau akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”
Aku heran mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ibu memanggil, “Anakku, mari kesini dan duduklah di pangkuan ibu”.
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.
Kemudian ibu berkata, “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas engkau dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan”.
Sobat… Sering selama bertahun-tahun, kita melihat ke atas dan bertanya kepada Tuhan, “Bapa, apa yang Engkau lakukan?”.
Ia menjawab, “Aku sedang menyulam kehidupanmu”.
Dan aku membantah, “Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah”.
Kemudian Tuhan menjawab, “Kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu, satu saat nanti aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlahFirman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.
Amin…
Rumah adalah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia (sandang, pangan, papan). Bagi orang berada, rumahnya bisa bernilai milyaran rupiah, namun bagi mereka yang sederhana, yang disebut rumah hanyalah sekedar tempat bernaung dari teriknya panas matahari dan derasnya terpaan air hujan. Berbicara tentang rumah, Firman Tuhan mengungkapkan tentang tiga rumah yang harus kita perhatikan baik-baik dalam hidup ini.
1. Rumah Tangga Pribadi
Rumah yang pertama yang harus kita perhatikan ialah rumah tangga kita pribadi lepas pribadi. Apakah dengan menjadi orang Kristen maka secara otomatis rumah tangga mencerminkan kasih dan terang Kristus? Tidak secara otomatis. Harus ada kerja keras dari tiap anggota keluarga!
Hari ini, marilah kita adakan spiritual check up atas tiap-tiap rumah tangga kita dengan memakai prinsip Alkitab yang terdapat dalam kitab Amsal :
Bagaimana hasil check up Anda? Dalam kitab Yosua 24:15 kita mendapati sebuah contoh yang indah mengenai rumah tangga Yosua, pemimpin besar umat Israel waktu itu. Dengan tegas Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Rumah tangga yang demikian inilah yang berkenan di hadapan-Nya.
2. Tubuh Kita
Rasul Paulus dalam 1 Korintus 6:19 menyatakan sebagai berikut “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”
Sejak hari Pentakosta dimana Roh Kudus dicurahkan di kamar loteng Yerusalem, Roh Kudus “dwell in” (diam di dalam) diri orang-orang percaya sehingga dengan demikian tubuh believers menjadi Bait (rumah) Roh Kudus.
Sebagaimana rumah tiap hari disapu dan dipel sampai bersih dan semua sampah dibuang atau dibakar, demikian juga tubuh kita yang adalah Rumah Roh Kudus harus dijaga dan dibersihkan dari segala macam kotoran dan sampah yang bisa membawa penyakit berbahaya. Sayangnya, ada begitu banyak orang yang menamakan dirinya sebagai orang percaya merusak tubuhnya sendiri dengan pelbagai cara yang negatif :
Yang harus kita lakukan ialah mentaati nasihat rasul Paulus sebagai berikut : Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, sehingga dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah (II Korintus 7:1)
3. Rumah Tuhan
Dalam Mazmur 92, Firman Tuhan berbicara tentang satu ciri khas seorang yang benar di mata Tuhan. Ciri khas itu dinyatakan dalam ayat 14 – Mereka ditanami di Bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah, bahkan sampai masa tuapun masih tetap mengeluarkan buah. Luar biasa sekali, bukan? Kita semua tentunya mau banget sampai masa tua tetap menghasilkan buah yang segar. Tapi perhatikanlah dulu syaratnya : Ditanam di dalam rumah Tuhan.
Rumah Tuhan pada di akhir zaman ini ialah gereja dimana Anda berjemaat dengan tekun dan setia tiap-tiap minggu. Untuk bisa menghasilkan buah pada hari tua, Anda harus ditanam dalam rumah Tuhan! Apa arti dari istilah “ditanam dalam rumah Tuhan” ini?
Ditanam artinya ada satu tanah yang tetap. Ini berarti harus menghargai rumah Tuhan dalam arti mau menetap dalam hal berjemaat, bukan menjadi warga Gereja Kristen Keliling Keliling (GKKK). Bayangkan : Tanaman yang hari ini ditanam ditanah A, minggu depan dicabut lalu ditanam di tanah B, bulan depan pindah ke tanah C. Bukannya segar dan berbuah, tanaman ini akan merana dan mati.
Ditanam di satu tempat artinya berakar dalam. Akar dari tanaman itu masuk ke tanah dan menyerap zat-zat makanan yang diperlukan untuk bertumbuh dan menghasilkan buah. Dengan demikian tanaman ini makin kuat akarnya, makin tinggi batangnya dan makin rindang carangnya. Pada saatnya pohon itu akan menghasilkan buah yang segar. Makanan yang sehat adalah Firman Tuhan yang diberitakan secara Alkitabiah di dalam jemaat gereja. Makanan rohani inilah yang mempertumbuhkan jemaat secara rohani sehingga dapat menghasilkan buah.
Ditanam dalam rumah Tuhan artinya ada komitmen. Jemaat yang bertumbuh dengan benar tidak hanya pasif saja menonton, tapi aktif berpartisipasi mendukung kelangsungan jemaat dengan doa, tenaga, talenta, dan dana. Prinsip Alkitab yang dahsyat. Siapa membangun memperhatikan Rumah Tuhan, Tuhan akan membangun rumahnya!
Amin.
Diambil dari Warta Gereja Aletheia, Minggu, 2 Mei 2010
Wahai Kekasihku...
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku
Wahai kekasih hatiku...
Jadikan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah tiba
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva
Wahai mutiara kalbu ku....
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu
Wahai bidadariku....
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo
mungkin cinta kita harus dijurnal balik.
Untuk … tersayang
Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5
Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1
Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua
Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang
Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90o < x < 270o)
Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya
Berikut adalah kebohongan yang sering dilontarkan para karyawan.
1. “Beres, Pak!”
Dalam pekerjaan, tak mungkin kita tak menemui kendala. Pasti ada suatu waktu kita tak bisa menemukan jalan keluar. Amat bisa dipahami ketika atasan yang seakan memiliki moto, “Datang pada saya dengan solusi, jangan dengan masalah!” membuat karyawannya ketakutan sebelum memasuki kantornya. Karena itu, untuk memuaskan atasan, karyawan seringkali berbohong ketika menghadapi masalah. Mereka bisa mengatakan bahwa segalanya beres, padahal keadaan sedang karut-marut. Jalan keluarnya, usahakan untuk berterus terang. Jika tak bisa terus terang dengan atasan, katakan pada rekan kerja, yang mungkin bisa membantu Anda. Jelaskan penyebab munculnya keadaan tersebut, dan Anda butuh bantuan untuk menemukan solusi keluar dari keadaan ini.
Ketika Anda terus berbohong, dan bertingkah seakan tak ada yang salah, segalanya mungkin terlihat lancar. Namun begitu tiba tenggat waktu, terlihat bahwa segalanya tidak berjalan semestinya. Lalu seperti apa reputasi Anda saat itu?
2. “Dengan senang hati.”
Tak semua pekerjaan itu menyenangkan. Ini adalah pelajaran yang kita semua pahami sejak kecil. Mungkin Anda terbiasa tersenyum dan terus melaksanakan tugas-tugas yang dilimpahkan. Anda harus bisa menyeimbangkan antusiasme dan keinginan untuk membuat bos senang, dengan kejujuran. Jika bos Anda memberikan tugas yang akan menyiksa, Anda mungkin tak bisa melarikan diri. Tetapi jika Anda terus mengatakan, “Dengan senang hati, Pak,” maka bos Anda akan berpikir tugas yang dilimpahkan kepada Anda adalah pekerjaan yang Anda sukai.
3. “Maaf, kena macet.”
Ya, semua juga tahu, Jakarta bukan hanya ibu kota Indonesia, tapi juga ibu kota negara kemacetan. Namun, bukan berarti Anda bisa terus berbohong soal itu dan menjadikannya kebiasaan. Jika Anda akan terlambat, hadapi! Anda mungkin berpikir bahwa mengakui Anda telat karena kesiangan sama saja bunuh diri. Kecuali Anda punya bos segalak naga, sesekali terlambat karena kesiangan akibat semalaman menyiapkan presentasi pasti dimaklumi. Semua orang pernah mengalaminya.
Jika Anda harus berbohong karena Anda selalu terlambat ke kantor, maka tak akan ada yang percaya lagi. Entah macet, alarm tidak bunyi, ada wanita melahirkan di kereta, atau segudang alasan lainnya, jika terlalu sering terucap dari Anda, tak akan ada yang peduli.
4. “Saya juga berpikir begitu.”
Tak ada yang suka penjilat. Bahkan bos pun tak suka. Jadi, jangan coba mendapatkan simpati orang dengan menyetujui segala yang ia katakan. Bisa jadi Anda tak akan memiliki ide tersebut, karena jika ya, Anda pasti sudah mengatakannya. Begitu pula dengan ide dari rekan sekerja. Sependapat dengan mereka, sekaligus mendukung ide mereka adalah hal yang mengagumkan. Namun jika berpura-pura menciptakan ide tersebut bersama, dan ingin kecipratan pujian atas ide tersebut, itu hal yang tercela. Ketika Anda berada di posisi pemberi ide, tiba-tiba ada orang yang ikut-ikutan menyatakan bahwa itu adalah idenya juga, Anda pasti tak mau, kan?
5. “Nanti kita ketemuan, ya!”
“Kapan-kapan kita ketemuan, makan siang bareng, ya?” Di dalam bisnis, bertemu dengan orang-orang yang sebenarnya tak ingin Anda temui adalah hal yang wajar. Anda tak mungkin mengatakan kepada mereka bahwa Anda tak ingin makan bersama mereka, atau mengutarakan bahwa Anda tak ingin bertemu dengannya. Jadi, untuk "kebohongan" ini bisa dimaafkan demi menjaga hubungan baik.
Namun, tak ada salahnya mempertimbangkan benar-benar saat mengucapkan janji ini. Anda tak pernah tahu kapan seseorang memiliki ide atau kontak yang bisa menguntungkan untuk Anda. Terburuknya, Anda akan mendengarkan cerita membosankan sambil makan siang. Sisi baiknya, Anda akan punya hubungan yang lebih dalam dan bisa membantu bisnis. Siapa tahu ternyata orang itu sebenarnya menyenangkan untuk dijadikan teman.
Di masa sekarang ini, ketika perputaran pegawai terjadi begitu cepat, kita harus menjaga diri agar posisi kita tidak tergeser karena sikap dan tindakan kita. Untuk menjaga karier Anda berada dalam jalur yang tepat, berikut adalah perkataan yang sebaiknya tak terlontar dari mulut Anda saat berada di kantor:
1. “Itu bukan pekerjaan saya.”
Ketika seseorang meminta bantuan pada Anda, anggaplah hal tersebut sebagai pujian. Orang yang meminta bantuan tersebut pastinya menghargai pendapat ataupun kemampuan Anda untuk mengerjakan tugas tadi. Namun sebaiknya Anda tidak mengerjakannya setengah-setengah. Percayalah, tak ada atasan yang mau mendengar kalimat seperti, ”Itu bukan pekerjaan saya.”
2. Dengan muka palsu berkata, “Saya akan bantu Anda dengan tugas itu.”
Rasanya amat menyebalkan ketika seseorang menawarkan bantuan, namun mengeluh soal pekerjaan tersebut di belakang. Jika Anda bersedia mengerjakan suatu tugas tetapi tidak sungguh-sungguh, bantuan Anda sama sekali tak berguna. Ketika seseorang bekerja tanpa antusias, ia tak akan memberikan totalitas. Plus, jangan katakan Anda akan mengerjakan suatu tugas jika Anda tak sungguh-sungguh dalam menyelesaikannya. Anda hanya akan dianggap sebagai orang yang tak dapat diandalkan.
3. “Jangan bilang siapa-siapa.…”
Tiap kali Anda memulai percakapan dengan frase tersebut, Anda berarti meminta satu hal, yakni si pendengar untuk menyebarkan gosip itu ke orang lain. Jika Anda memang memegang suatu rahasia, simpanlah untuk Anda sendiri. Apapun isi beritanya, ketika Anda memutuskan menyampaikannya kepada orang lain, Anda lah yang akan menjadi penyebar beritanya. Plus, jika ada rekan kerja yang bergosip dengan Anda, kemungkinan terbesar dia pun akan bergosip tentang Anda.
4. “Gaji saya enggak pernah naik!”
Kebanyakan perusahaan menaikkan gaji karyawannya berdasarkan produktivitas mereka, bukan berdasarkan lamanya waktu kerja. Meminta kenaikan gaji pada atasan berdasarkan lamanya Anda bergabung dengan perusahaan tanpa menilai produktivitas kerja Anda hanya akan membunyikan alarm si atasan bahwa Anda hanya mengejar uang, bukan karena Anda memang patut mendapatkan kenaikan tersebut. Anda harus benar-benar membuktikan kepada perusahaan bahwa Anda memang patut mendapatkan kenaikan gaji.
5. “Saya benar-benar stres dan muak bekerja di sini.”
Keluhan yang terus-menerus tentang padatnya pekerjaan Anda, atau betapa memuakkannya suasana di kantor, secara perlahan tapi pasti akan membuat Anda dijauhi teman-teman kantor. Jika Anda tak setuju dengan kebijaksanaan atau aturan kantor, laporkan lewat saluran yang tepat, misalnya lewat HRD atau sekalian berhenti bekerja di sana, cari tempat baru. Siapa yang senang mendengarkan orang mengeluh terus-menerus?
6. “Ada yang aneh pada tubuh saya, ada jamur di … saya.”
Jika Anda bukan termasuk orang yang populer, tak akan ada yang mau mendengarkan keluhan penyakit Anda. Entah itu masalah sakit kram saat menstruasi, atau banyaknya gas di dalam perut Anda. AtasanAnda akan menilai Anda sebagai pegawai yang memiliki masalah kesehatan konstan, yang artinya biaya tambahan tiap bulan, dan merupakan pegawai yang risikonya tinggi. Bagi rekan kerja, Anda akan terlihat seperti orang yang sedang mencari perhatian, semacam hypochondriac, orang yang terlalu banyak khawatir akan kondisi kesehatan.
7. “Di pemilu nanti, kamu pilih siapa?” atau “Agamamu apa?”
Pemilu yang berasaskan luber jurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, dan jujur, adil) masih dianggap berlaku. Jadi, masyarakat memiliki nilai-nilai dan kepercayaan mereka masing-masing yang bebas dan rahasia. Tak perlu mengucilkan rekan kerja karena perbedaan cara pandang. Presiden Amerika Serikatsaja mengimbau masyarakatnya untuk bisa mencontoh kedamaian di antara perbedaan yang ada di Indonesia, mengapa kita harus mengkotak-kotakkan orang berdasarkan pilihan politik atau agamanya?
8. “Tadi malam saya pulang mabuk.”
Ujar-ujar work hard play hard memang banyak diterapkan masyarakat urban jaman sekarang. Tetapi, perlu diingat, jangan mengungkit-ungkit kegiatan semalam kepada bos Anda. Membicarakan hal tersebut akan membuat Anda terlihat menghitung jam untuk segera pergi dari kantor. Belum lagi Anda akan terlihat tidak profesional dan tak dapat dipercaya.
9. “Saya tak punya waktu untuk itu.”
Cobalah untuk membuka mata. Semua orang pun sibuk, bukan Anda saja. Jika Anda memprioritaskan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu, jujurlah dan katakan pada atasan Anda perkiraan waktu selesainya. Katakan pada bos apa saja yang belum dan sudah Anda kerjakan, termasuk sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Tanyakan, yang mana sebaiknya yang diprioritaskan. Hal ini akan menunjukkan Anda mengerjakan setiap tugas dengan serius dan hanya ingin menyelesaikan tugas sebaik mungkin.
10. “Saya baru membelikan bos jam tangan Guess yang harganya XX juta rupiah.”
Segala yang berkaitan dengan uang itu sensitif. Jika Anda menyebutkan angka yang besar, dan memberikan ukuran bahwa suatu angka rupiah adalah mahal atau murah, Anda akan dicap orang kaya yang pelit, atau orang yang selalu mengeluh soal uang. Hal itu tak hanya membuat Anda terlihat sedang menyombongkan diri, tetapi juga membuat orang berspekulasi tentang gaya hidup Anda.
Tadinya aku mengira...
Cinta adalah saat aku menangis dan seseorang memelukku dan menghapus air mataku.
Cinta adalah saat aku berbuat salah dan seseorang memberitahuku apa yang benar.
Cinta adalah saat aku jatuh dan seseorang membantuku berdiri serta mengeringkan lukaku.
Cinta adalah saat aku minta maaf dan seseorang memaafkan dengan tulus tanpa sindiran.
Namun ternyata cinta tidak demikian...
Cinta ternyata adalah saat aku menangis dan seseorang jadi merasa kesal sambil menunggu tangisku reda sendiri.
Kesal melihatku menangis karena dia tidak pernah suka melihatku bersedih. Yang dia inginkan hanyalah membuatku merasa bahagia.
Cinta ternyata adalah saat aku berbuat salah dan seseorang marah-marah lalu membiarkan aku mencari tau sendiri apa yang benar.
Marah-marah karena dia merasa telah gagal menjagaku untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama, dan akhirnya dia membiarkanku mencari tau sendiri apa yang benar karena mungkin dengan cara demikian barulah aku menyadari kesalahanku dan tidak lagi mengulangi kebodohan yang sama.
Cinta ternyata adalah saat aku jatuh dan seseorang menertawakan aku serta membiarkan lukaku kering sendiri.
Membiarkan lukaku kering sendiri karena dia ingin agar tubuhku terlatih lebih kuat dan sistem pertahanan tubuhku meningkat sehingga tidak lagi mudah jatuh dan luka berikutnya akan lebih cepat kering.
Cinta ternyata adalah saat aku minta maaf serta butuh dukungan dan seseorang terus menyindir kekeliruanku.
Mengingatkan, lebih tepatnya,bukan menyindir. Karena dia ingin mengingatkan aku bahwa aku sudah pernah salah langkah dan agar aku tidak lagi mengulangi kesalahan itu. Sebab kadang aku memang lupa bahwa aku pernah terjatuh.
Aku mungkin tidak paham mengapa kadang cinta itu menyakitkan, namun aku mengerti bahwa setiap hal pasti memiliki dua sisi pandang yang berbeda.
Dan tugasku kini adalah mencoba melihat dari sisi yang satunya lagi tanpa lebih dulu menghakimi.
Dan memang, nyatanya apa yang terlihat menyakitkan, rupanya menyimpan makna yang lebih besar di baliknya.
Aku hanya belajar untuk mengerti dan memahami, sekali lagi, tanpa lebih dulu menghakimi.
Love is not only about trust, but also about being trusted.