7:28:00 AM
Peak
Dua orang sedang duduk sambil memancing di tepi danau sepanjang hari di musim dingin yang membeku. Yang seorang tidak beruntung sama sekali dan yang lainnya sedang menangkap ikan sebesar kepalan tangan. Orang yang tidak beruntung tadi bertanya kepada orang yang satunya tentang bagaimana rahasianya memancing selalu sukses.
“Mmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm... mm,” jawab orang di sebelahnya.
“Maaf, tapi kamu berkata apa?”
“Mmmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm.. mm”, jawab pemancing yang sukses itu sekali lagi.
“Aku betul-betul minta maaf, tapi aku tetap tidak mengerti ucapanmu.” Orang tadi kemudian memuntahkan sesuatu ke telapak tangannya sendiri dan berkata perlahan-lahan, “Kamu harus menjaga cacing umpanmu tetap hangat.”
7:42:00 AM
Peak
"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3
7:15:00 AM
Peak
Seorang penumpang naik pesawat terbang dari Jakarta-Surabaya. Ia berpesan kepada salah seorang pramugari agar membangunkannya bila pesawat sudah mendarat di Surabaya. Tetapi penumpang itu baru bangun ketika pesawat sudah jauh sampai di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Tak pelak orang itu amat marah dan memanggil pramugari yang tadi diberi pesan untuk meminta suatu penjelasan. Pramugari itu dengan takut dan gagap memohon maaf sementara penumpang tadi dengan memendam kemarahan turun dari pesawat.
“Ya ampun, betapa gusarnya orang itu”, komentar seorang pramugari lain kepada koleganya yang sedang sial itu.
Kata pramugari tadi, “kamu kira dia marah, kamu’kan tidak tahu orang yang aku bangunkan dan turun di Surabaya tadi!” Ternyata…?!
7:54:00 AM
Peak
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup
Namun, sementara aku masih hidup, Tuhan, biarkanlah aku memberi penghiburan kepada seseorang yang sedang membutuhkan
Entah melalui senyuman, anggukan kepala, tindakan atau sepatah kata keramahan
Dan biarkanlah aku berbuat apa yang mampu kulakukan
Untuk meringankan beban sesamaku
Aku hanya ingin berbuat bagianku
Untuk sekedar meringankan jiwa yang lelah dan putus harapan
Untuk mengubah kerutan dahi menjadi senyuman lagi
Sehingga hidupku tidak sia-sia
Aku tak peduli berapa lama aku masih berada di dunia
Asalkan aku dapat memberi…dan memberi…dan memberi
BJ. Morbitzer
8:58:00 AM
Peak
Shalom,
Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim ke samuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.
For more information please visit here.
Thank you... And we waiting... JBU all.. :)
8:37:00 AM
Peak
Bazaar Dana Peduli Indonesia
Hari / Tanggal : Minggu 15 Nov 2009
Jam : 14.00 - 17.00
Tempat : Gedung Gratia
Jln. Dr. Sudarsono 32
Cirebon.
Jika ada yang mau mampir ke Cirebon, jangan lupa berkunjung ke Bazaar.. :)
JBU all…
7:52:00 AM
Peak
Impresario konser, Sol Hurok pernah menyatakan bahwa Marian Anderson, bukan saja sudah menjadi besar, tetapi di samping itu ia memiliki sifat rendah hati. Ia mengatakan,” Beberapa tahun lalu seorang wartawan mengadakan wawancara dengan Marian dan bertanya kepadanya untuk menyebut saat-saat yang besar dan tak terlupakan dalam seluruh hidupnya.
Pada saat itu, aku berada di kamar riasnya dan aku ingin tahu apa jawabnya. Aku tahu bahwa ia telah mengalami begitu banyak saat besar dalam hidupnya. Misalnya, saat Toscanini memujinya, bahwa ia mempunyai suara yang terindah di seluruh negeri.
Selanjutnya, konser pribadi yang ia persembahkan di White House untuk keluarga Roosevelt dan Ratu serta Raja dari Inggris. Kemudian, ketika ia menerima penghargaan Bok Award sejumlah $10.000, sebagai seorang yang berprestasi bagi kota kelahirannya, Philadelphia.
Dan di atas semua itu, ketika hari Paskah di Washington, saat ia berdiri di bawah patung Lincoln dan menyanyi untuk hadirin sebanyak 75.000 orang, termasuk anggota Kabinet, para hakim dari Mahkamah Agung dan sebagian besar dari anggota Perwakilan Rakyat.
Dari saat-saat yang besar itu, ia hendak memilih yang mana?
“Tidak ada yang ia pilih di antara saat-saat yang telah membesarkan namanya”, kata Hurok.
“Nona Anderson menjawab kepada wartawan itu bahwa saat yang paling besar dalam hidupnya adalah, pada hari dia pulang rumah dan mengatakan kepada ibunya bahwa mulai hari ini, ia tidak perlu mencuci pakaiannya sendiri.”
7:12:00 AM
Peak
Pernahkah anda menonton sirkus kutu? Kutu-kutu yang kecil itupun dapat dilatih untuk melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang dapat dilakukan oleh binatang-binatang besar dalam suatu sirkus. Mereka pun dapat melakukan hal-hal yang lucu yang membuat penonton tertawa.
Namun, ada sesuatu yang menarik tentang cara bagaimana kutu-kutu itu dilatih. Bila anda memasukkan beberapa kutu di dalam satu botol dan kemudian menutup rapat botol itu, maka kutu-kutu itu berusaha untuk lari. Mereka akan meloncat-loncat beberapa kali sehingga sering mereka membentur ke tutup botol. Di dalam waktu yang amat cepat, mereka dapat mengukur jarak ketinggian dari tutup botol itu dengan tepat. Dalam usaha selanjutnya untuk keluar dari botol itu, mereka akan meloncat mendekati tutup botolnya, namun tidak pernah membenturkan dirinya ke tutup botol itu.
Nah, setelah itu, sesuatu yang amat menarik dapat kita lakukan. Kita dapat melepaskan penutup botol itu sehingga botol tetap terbuka, namun anehnya, kutu-kutu itu tetap terus meloncat-loncat hanya tetap tidak melebihi dari ketinggian tutup botol yang sudah tidak ada lagi itu.
Mereka yakin, setelah mereka beberapa kali membentur ke penutup itu, mereka tidak berani lagi meloncat lebih tinggi lagi karena khawatir membentur tutup botol yang sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Kejadian yang luar biasa ini sesungguhnya sama dengan manusia yang pernah mengalami kegagalan beberapa kali dalam hidup mereka dan setelah itu mengira bahkan yakin bahwa mereka tidak mampu untuk mencapai ketinggian puncak sukses yang pernah mereka capai sebelumnya.
Seperti juga kutu-kutu itu, mereka pun mengurangi ketinggian cita-cita mereka sampai kepada suatu tingkat yang “aman”, namun seperti juga kutu-kutu itu, mereka tetap terperangkap di dalam botol itu tanpa dapat keluar.
Lebih baik kalau kita menjadi seperti seorang tikus. Bila seekor tikus membentur kepada suatu penghalang, ia berbelok dan dengan segera menuju ke arah yang lain, sehingga pada akhirnya berhasil mencapai cita-citanya yang tertinggi.
Kita pun dapat melakukannya bila kita tetap mengarahkan visi kita terhadap tujuan kita yang utama.
7:46:00 AM
Peak
Menteri pertahanan, Edwin Stanton, dari presiden Amerika, Abraham Lincoln pada suatu ketika menjadi marah terhadap seorang opsir yang menuduhnya bahwa ia pilih kasih. Stanton mengeluh kepada Lincoln yang menyarankan agar ia menulis sepucuk surat kepada opsir itu.
Stanton melakukannya dan setelah suratnya selesai, ia menunjukkan isi suratnya yang keras dan tajam itu kepada Lincoln. Setelah membacanya, Lincoln bertanya,” Apa yang anda ingin lakukan dengan surat ini?” Dengan rasa heran, Stanton menjawab,” Disampaikan kepadanya, tentunya” Lincoln menggelengkan kepalanya. “Janganlah mengirim surat ini, melainkan buanglah ke dalam keranjang sampah. Itulah yang kulakukan bila aku menulis sepucuk surat dengan disertai dengan perasaan marah. Isi suratmu itu baik dan aku yakin bahwa anda merasa lega dan lebih tenang setelah menulisnya. Kini, buanglah surat itu dan menulislah untuk kedua kalinya.”
Today in the Word, February 1991
7:09:00 AM
Peak
Seorang wartawan diberi tugas untuk pergi ke Yerusalem. Ia mendapatkan sebuah apartemen yang mempunyai pemandangan ke arah Tembok Ratapan. Setelah berdiam kurang lebih beberapa minggu, ia baru sadar, bahwa setiap kali ia memandang ke arah Tembok Ratapan, ia melihat seorang Yahudi tua sedang berdoa secara bersemangat.
Wartawan itu bertanya-tanya, apakah mungkin ia bisa mendapatkan suatu cerita yang layak dimuat dalam korannya. Ia turun dan menuju ke Tembok Ratapan itu, memperkenalkan diri kepada orang tua itu dan berkata, “Anda setiap pagi datang ke sini untuk berdoa. Apa yang anda doakan?”
Orang tua itu menjawab, “Apa yang kudoakan? Pada pagi hari aku berdoa untuk perdamaian dunia, kemudian aku berdoa untuk persaudaraan manusia. Lalu aku pulang untuk minum teh, dan kembali ke sini untuk berdoa bagi pemusnahan akan segala penyakit dari bumi.”
Wartawan itu amat terkesan akan kegigihan orang tua tadi. “Maksud anda, anda datang ke tempat ini setiap hari untuk mendoakan hal-hal itu?”
Orang tua itu mengangguk kepalanya.
“Sudah berapa lama anda datang ke tempat ini berdoa untuk hal-hal itu?”
Orang tua itu termenung sejenak kemudian menjawab, “Berapa lama? Mungkin dua puluh, dua puluh lima tahun.”
Wartawan dengan heran akhirnya bertanya, “Bagaimana perasaan anda untuk datang berdoa selama 20 tahun akan hal-hal itu?”
“Bagaimana rasanya?”, jawab orang tua itu. “Rasanya seperti berbicara terhadap sebuah tembok!”