Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 November 2008

Happiness is The Way

We convince ourselves that life will be better after we get married, have a baby, then another. Then we are frustrated that the kids aren't old enough and we'll be more content when they are. After that, we're frustrated that we have teenagers to deal with. We will certainly be happy when they are out of that stage. We tell ourselves that our life will be complete when our spouse gets his or her act together, when we get a nicer car, are able to go on a nice vacation, when we retire.

The truth is, there's no better time to be happy than right now. If not now, when? Your life will always be filled with challenges. It's best to admit this to yourself and decide to be happy anyway. One of my favorite quotes comes from Alfred D. Souza. He said, "For a long time it had seemed to me that life was about to begin - real life. But there was always some obstacle in the way, something to be gotten through first, some unfinished business, time still to be served, or a debt to be paid. Then life would begin. At last it dawned on me that these obstacles were my life."

This perspective has helped me to see that there is no way to happiness. Happiness is the way. So, treasure every moment that you have and treasure it more because you shared it with someone special, special enough to spend your time and remember that time waits for no one. So, stop waiting until you finish school, until you go back to school, until you lose ten pounds, until you gain ten pounds, until you have kids, until your kids leave the house, until you start work, until you retire, until you get married, until you get divorced, until Friday night, until Sunday morning, until you get a new car or home, until your car or home is paid off, until spring, until summer, until fall, until winter, until you are off welfare, until the first or fifteenth, until your song comes on, until you've had a drink, until you've sobered up, until you die, until you are born again to decide that there is no better time than right now to be happy.

Happiness is a journey, not a destination. Work like you don't need money, Love like you've never been hurt, And dance like no one's watching. God has given each of us a "gift" that we are to use to glorify His name! Do you know yours???

Humor : Percuma

Percuma, Pak," kata seorang murid yang putus asa kepada guru bahasa Inggrisnya.

"Aku mencoba belajar, tapi semua yang Anda bilang masuk lewat dua lubang telinga dan keluar dari lubang lainnya."

"Masuk dua lubang telinga dan keluar dari lubang lainnya?" tanya gurunya yang bingung. "Kamu kan cuma punya dua lubang telinga!"

"Nah kan, Pak? Saya juga ngga pandai dalam berhitung."

29 November 2008

Seputih Kertas

Bacaan : Mazmur 51

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.- Mazmur 51:7

Apa yang ada dalam benak Anda ketika menatap seorang anak kecil? Kepolosan, keluguan, wajah tanpa dosa, lucu, imut, dsb. Mungkin itulah jawaban Anda. Tetapi benarkah mereka manusia yang dilahirkan tanpa dosa? Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa semua manusia yang terlahir ke dunia ini sebagai keturunan Adam adalah orang yang berdosa (Roma 3:10). Hanya Yesus Kristus lah yang dilahirkan bukan dari benih keturunan Adam sehingga hanya Dia satu-satunya yang terlahir tanpa dosa.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa anak-anak adalah ibarat selembar kertas putih yang belum dicorat-coret. Ungkapan ini tidak sepenuhnya salah karena mereka memang dibesarkan dengan “coretan” alias didikan dari orang dewasa. Mereka akan terbentuk sebagaimana coretan yang kita buat. Namun soal dosa, mereka tidaklah dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa bak selembar kertas putih.

Mengapa hari ini kita perlu menyadari kebenaran ini? Sebagai orang dewasa, khususnya orang tua, sudah sewajibnya kita menyadari bahwa anak-anak juga perlu diselamatkan oleh Kristus. Mereka adalah orang-orang yang suatu saat kelak akan diadili di pengadilan Allah sama seperti kita. Apabila kita mengabaikan keselamatan mereka, ini sama halnya dengan membiarkan mereka berjalan ke arah kebinasaan.

Anggapan lainnya yang sungguh menyesatkan adalah bahwa anak-anak belum bisa menerima Kristus dalam hati mereka. Hanya orang dewasa saja yang bisa menerima Kristus dan diselamatkan. Bila memang demikian, betapa kejamnya Allah. Anak-anak bisa menerima Kristus dalam hati mereka dan memiliki kehidupan yang sungguh-sungguh diubahkan. Siapakah yang mengetahui umur anak-anak kita? Selama masih ada kesempatan yang Allah berikan kepada Anda dan saya, marilah kita memberitakan kabar keselamatan kepada mereka. Ajaklah mereka mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh.

Soal perbuatan, memang seorang anak kecil ibarat kertas polos tanpa coretan, namun soal dosa, mereka sudah membawanya sejak dalam kandungan.

(TMS)

Sumber : Renungan Harian Spirit

God is Always Near

One thing can always cheer me
When I'm feeling sad and low
When I tired of daily trials
That I have to undergo,
When those who should
Seem closest, seem like
People I don't know,
One thing can always cheer me
I know that God is near me.

One thing can always cheer me
When I do not understand
How pain and sadness
In our lives
Can get so out of hand,
When the best of human efforts
Doesn't meet the days demands,
One thing can always cheer me
I know that God is always near me.

One thing can always cheer me
More than anything I've known
And show me I will never
Have to struggle on my own
For no matter what might happen
I will never be alone
The thing that will always cheer me
Is just knowing God is near me.

Our lives are in God's loving
Hands, in everything we do
He is with us constantly,
He always sees us through.
And if our faith is strong enough
We'll never walk alone,
For with His great and perfect love
He takes care of His own.

Arsip Weekend's Scripture - Mazmur 112

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu hancur; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan." - Mazmur 112

Apa Makna Tuhan Bagi Pemabuk?

Dua minggu lalu saya baru menyadarinya. Seorang rekan bule saya bertanding tenis meja dengan saya. Dalam timnya, dia merupakan pemain urutan kedua, saya sendiri pemain nomor satu dalam tim saya. Udara dingin kota Armidale tidak menghalangi serunya pertandingan saat itu. Mike, rekan saya tersebut, dengan mudah saya kalahkan pada game pertama. Tiba-tiba dia bangkit kembali di game selanjutnya, sehingga memaksa dilakukan game ketiga. Di saat kritis, bola dari si Mike bergulir tipis sehingga sulit saya jangkau. Pada saat itulah Mike berteriak, "God loves me!"

Saya kalah. Dan Mike tersenyum sambil mengatakan, "Tuhan mencintai saya!" Setelah itu saya dekati Mike. Dia dengan enteng kemudian berkata, "Ada sebuah lagu populer. Tuhan mencintai anjing kecil, anak kecil dan para pemabuk." Mike, yang saya tahu memang gemar menenggak minuman keras, melanjutkan lagi, "Malam ini sebelum bertanding saya sudah minum dua gelas wine."

Saya terkejut. Bukan karena memang saya mencium aroma wine dari mulutnya, dan juga bukan karena sulit menerima kenyataan bahwa seorang pemabuk mampu mengalahkan saya, akan tetapi saya terkejut karena teringat kembali teriakan Mike, "God loves me!" Bagaimana mungkin seorang pemabuk dicintai oleh Tuhan?

Pertandingan berikutnya telah menjawab rasa terkejut saya. Dalam pertandingan ganda, Mike dan pasangannya menelan pil pahit dan kalah dengan mudah. Saat itulah saya mendengar Mike sekali lagi berteriak, namun kali ini isi teriakannya penuh dengan kata-kata kotor. Rupanya dia kesal dengan kekalahannya. Tuhan tidak lagi disebut dalam kalimatnya. Jangan-jangan inilah makna Tuhan bagi seorang pemabuk seperti Mike. Tuhan disebut ketika dia mendapat sesuatu yg baik, dan Tuhan dilupakan pada kejap berikutnya ketika dia mendapat kemalangan.

Lambat laun saya teringat bahwa jangan-jangan kita selama ini beragama dengan cara seperti seorang Mike memandang Tuhan. Kita puji Tuhan ketika kita mau, dan kita lupakan Dia ketika kita mau. Ah, tampaknya pertanyaan di awal tulisan ini perlu diganti dengan : "Apa makna Tuhan bagi kita?". Bersediakah kita mengingat Tuhan dalam suka dan duka? Tak disangka, saya bukan saja kalah bermain tenis meja dari si Mike yang pemabuk itu, namun saya juga belajar memandang makna Tuhan gara-gara si Mike itu!

28 November 2008

Piano Merah Mahogany

Bertahun-tahun lalu, ketika saya masih seorang pemuda berusia dua puluhan saya bekerja sebagai sales perusahaan piano St. Louis. Kami menjual piano seluruh negara bagian melalui iklan-iklan kecil di surat kabar. Jika ada tanggapan yang cukup serius, barulah kami mengangkut piano itu ke atas mobil-mobil pick up kami, pergi ke alamat yang dituju, dan menjual piano-piano kami kepada orang-orang yang sudah memesan.

Setiap kali kami mengiklankan barang dagangan kami di daerah kapas Southeast Missouri, kami selalu berulang2 menerima pesanan dari seorang nenek lewat sebuah kartu post mengatakan, "Tolong kirimkan sebuah piano baru untuk cucu kecil saya. Warnanya harus merah mahogany. Saya sanggup membayarnya sepuluh dollar sebulan dari hasil menjual telur."

Tulisan wanita tua itu memenuhi seluruh halaman belakang kartu posnya, sampai terisi semua. Lalu dia melanjutkan tulisannya ke bagian depan kartu postnya, bahkan sampai ke pinggirannya, sehingga hanya menyisakan sedikit sekali ruang untuk menulis alamat. Kami tidak mungkin menjual piano dengan cicilan sepuluh dollar sebulan. Tidak akan ada satupun lembaga keuangan yang mau menyetujui kontrak pembayaran sekecil itu. Jadi, kami abaikan saja kartu postnya.

Tetapi, pada suatu hari, kebetulan saya sedang berada di wilayah itu, melayani tanggapan-tanggapan dari pelanggan lain, dan hanya iseng-iseng saya mencari alamat wanita tua itu. Saya menemukan suatu tempat yang hampir sama dengan yang ada dalam bayangan saya. Dia tinggal di sebuah gubuk kecil satu ruang, di tengah hamparan ladang pohon kapas. Lantai kotor, dan ayam berkeliaran di dalam rumah.

Jelas, wanita ini tidak memenuhi syarat untuk membeli barang dengan kredit. Dia tidak punya mobil, tidak punya telepon, tidak punya pekerjaan. Yang dia punya hanyalah atap yang menaungi kepalanya, dan sama sekali bukan tipe yang bagus Bahkan saya bisa melihat sinar matahari lewat celah-celahnya. Cucu kecilnya berumur kira-kira sepuluh tahun, telanjang kaki, dan mengenakan baju dari karung goni.

Saya menjelaskan kepada wanita itu bahwa kami tidak bisa menjual sebuah piano baru dengan bayaran sepuluh dollar sebulan, dan bahwa dia tidak perlu lagi menulis surat kepada kami setiap kali dia melihat iklan kami disurat kabar lokalnya. Saya beranjak dari tempat itu dengan perasaan pedih, tetapi ternyata saran saya sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia tetap saja mengirimkan kartu post dgn bunyi yang sama, setiap enam minggu. Meminta piano baru dengan warna merah mahogany, dan berjanji tidak menunggak cicilan sepuluh dollar sebulan itu.

Hati saya berkecamuk. Beberapa tahun kemudian, saya memiliki perusahaan piano sendiri, dan ketika saya mengiklankan barang dagangan saya ke wilayah itu, kartu postnya mulai datang ke kantor saya. Berbulan-bulan lamanya, saya mengabaikannya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa? Lalu, suatu hari, saya kembali berada di wilayah itu, sesuatu terlintas dalam hati saya. Kebetulan saya membawa piano merah mahogany di pickup kecil saya. Meski saya tahu, bahwa saat itu saya akan membuat suatu keputusan bisnis yang edan, saya memutuskan untuk datang lagi ke gubuknya, dan memberitahunya bahwa saya bisa menerima kontrak itu secara pribadi. Saya katakan, dia boleh membayar sepuluh dollar sebulan tanpa bunga, dan berarti harus membayar sebanyak lama puluh dua kali cicilan. Saya bawakan piano baru itu ke dalam rumahnya dan menempatkannya di suatu sudut yang kira-kira tidak akan kena air hujan. Saya menasehati wanita itu dan cucu kecilnya untuk menjaga agar ayam jangan sampai menyentuh pianonya, lalu saya pergi dengan pikiran bahwa saya baru saja membuang sebuah piano baru. Tetapi cicilan ternyata benar-benar datang, lunas sampai lima puluh dua kali, seperti yang telah disepakati - kadang ada uang receh di dalam amplop yang berukuran tiga kali lima inci itu. Luar biasa!

Dua puluh tahun lamanya, saya melupakan kejadian itu begitu saja. Lalu, pada suatu hari di Memphis, ketika sedang melakukan perjalanan bisnis lain, dan setelah makan di hotel Holiday Inn, saya masuk ke lobbynya. Saya mendengar alunan musik piano yang begitu indah dari arah belakang saya. Saya menoleh dan melihat seorang wanita muda yang cantik, sedang memainkan sebuah grand-piano mewah. Karena saya sendiri juga bisa bermain piano, saya merasa kagum pada kepiawaiannya memainkan alat musik itu. Saya mengangkat gelas minuman saya dan berpindah ke meja di sebelah sang pianis, supaya saya bisa mendengarkan dan memperhatikan permainannya dengan lebih jelas. Dia tersenyum pada saya, menanyakan apa lagu yang saya minta, dan ketika beristirahat sejenak, dia duduk didepan meja saya.

"Bukankah Anda orang yang dulu menjual piano kepada nenek saya?" tanyanya. Saya sama sekali tidak ingat, maka saya minta dia menjelaskan. Mulailah dia bercerita, dan mendadak saya ingat. Ya Tuhan, ternyata dia adalah gadis kecil telanjang kaki berbaju karung goni itu! Dia memberitahu bahwa namanya Elise. Karena neneknya tidak bisa membiayainya les piano, maka dia belajar memainkan pianonya dengan mendengarkan radio. Lalu dia mulai bermain piano di gereja, yang harus ditempuh oleh dia bersama neneknya dengan jarak dua mil dari rumah mereka. Dia juga bermain piano di sekolah, dan telah meraih banyak penghargaan dan akhirnya beasiswa sekolah musik. Lalu dia menikah dengan seorang pengacara di Memphis, dan dia membelikannya sebuah grand-piano yang sekarang dimainkannya itu.

Sesuatu terlintas di kepala saya. "Elise," sapa saya, "Ruangan ini agak gelap. Apa warna piano itu?" 

"Merah mahogany," katanya. "Kenapa?"

Saya membisu. Mengertikah dia arti kata merah mahogany itu? Sadarkah dia akan kegigihan neneknya yang tidak masuk akal itu, yang memaksa harus piano merah mahogany, padahal tidak seorang waraspun saat itu yang mau menjual piano apapun padanya? Saya rasa tidak.

Kalau begitu apakah dia menyadari kesuksesan hebat yang telah berhasil diraih seorang gadis kecil hina berpakaian bahan karung goni itu? Tidak, saya yakin dia juga tidak mengerti hal itu. Tetapi saya sangat mengerti, dan kerongkongan saya terasa tersumbat. Akhirnya, saya berhasil menemukan lagi suara saya. "Saya hanya ingin tahu apa warna piano itu," kata saya. "Saya bangga pada Anda. Maaf, saya harus kembali ke kamar saya."

Saat itu saya benar-benar harus segera masuk ke kamar saya, sebab saya sadar bahwa laki-laki tidak pantas menangis di muka umum.

JOE EDWARDS
Joe Edwards menghabiskan hampir seluruh usia produktifnya sebagai seorang pianis jazz di klub-klub malam Kansas City. Sekarang dia telah pensiun, tetapi masih sering bermain piano pada acara-acara resepsi pernikahan di sekitar Springfield, Missouri

Dari buku Heartwarmers
Karisma press

Anjing Pandai

anjingBaru-baru ini,seekor anjing dari Pingtong, Taiwan yang bernama Hallo menjadi top di internet, dipuji-puji sebagai anjing paling cerdas di muka bumi. Ternyata, ia bisa ke supermarket untuk membeli hotdog, bisa membantu penjual pinang membuka lemari es mengamnbil barang dan memberikannya pada tamu, bahkan juga bisa berdiri dengan ke empat kakinya di atas gelas kaca.

Menurut laporan China Post Taiwan, pemilik anjing ini mengelola toko pinang, banyak pembeli yang menunjuk anjing ini untuk membeli pinang, melihatnya membuka pintu lemari es, menggigit bungkusan pinang dan ketangkasannya meletakkan bungkusan pinang di atas meja, sehingga para tamu dibuatnya senang oleh tingkah lakunya.

Dulu, anjing ini bisa mengantar pinang, melewati jalan sambil menggigit kantong berisi buah pinang, kemudian pembeli menaruh uang ke dalam kantong. Suatu ketika, hampir saja ia ditabrak sepeda motor, karena pemilikknya merasa terlalu bahaya, maka baru menghentikan tugas si anjing mengantar pinang.

Anjing bernama “Hallo” ini menggigit kantong plastik berisi uang, pergi ke supermarket sebelah membeli barang. Menurut pelayan supemarket, bahwa melihat uang dikantongnya, ia sudah tahu apa yang mau dibelinya, uang koin senilai 10 dollar Taiwan untuk membeli peppermint, 22 dollar uang koin untuk membeli Hotdog. Jika sang pemilik hendak membeli daging kalengan, maka pemiliknya akan melampirkan sehelai catatan di dalam kantong dengan keterangan rasa daging sapi, sebab “Hallo” tidak suka makan daging kalengan rasa ayam.

Petugas supermarket menuturkan, “Hallo” adalah anjing pelanggan yang baik, bahkan bisa ikut antri saat lagi ramai, dan ketika tiba gilirannya,ia meletakkan kaki depannya ke atas meja kasir, menunggu petugas menghitung uang pembayaran baru kemudian memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam kantong; terkadang ia akan mondar mandir di supermarket yang ber-AC karena ingin merasakan sejuknya tiupan Air Conditioner, sang pemilik juga berpesan padanya untuk “segera kembali, jangan bersejuk-sejukan dengan AC”.

Humor : Potong Rambut

Berikut adalah perbedaan wanita dan pria ketika mereka akan memotong rambut di salon.

Versi wanita:

Wanita 1 : "Oh! Kamu potong rambut ya!? Cantik sekali!"

Wanita 2 : "Apa iya? Aku ngga begitu yakin potongan rambutku ini cocok. Maksudku, apa model seperti ini ngga konyol?"

Wanita 1 : "Ngga! Potongan rambutmu sempurna. Aku juga ingin dipotong seperti itu, tapi aku rasa wajahku terlalu lebar. Aku rasa aku sudah terlalu lama menggunakan model potongan rambut seperti ini terus."

Wanita 2 : "Serius kamu?! Aku rasa wajahmu cantik. Dan kamu bisa dengan mudah potong dengan model seperti ini -- dan model potongan rambut itu kan pas sekali. Aku juga ingin potong seperti itu sebenarnya, tapi aku takut nanti leherku terkesan panjang."

Wanita1 : "Ngga juga! Aku aja ingin punya leher sepertimu loh! Punya leher sepertimu pasti akan membuat orang tidak melihat bahuku yang jelek ini."

Wanita 2 : "Kamu ngga bercanda itu! Banyak wanita yang ingin punya bahu sepertimu. Semuanya sempurna. Maksudku, lihatlah lenganku, lihatlah betapa pendeknya lenganku. Jika aku punya bahumu, aku pasti bisa cari baju yang pas buatku dengan lebih mudah."


Versi pria:

Pria 1 : "Potong rambut?

Pria 2 : "Iya!"

27 November 2008

Beware of This Book : Conversations With God

Conversations with God
If you have children or grandchildren, work with children at church, or you have neighborhood children whose parents you know, please take note of the information below and pass it along to others. Schools are distributing this book to children through the Scholastic Book Club.

The name of the book is Conversations with God.

Two particular books are, Conversations with God and Conversations with God for Teens, written by Neale D. Walsch.

Sound harmless by their titles alone. The books have been on the New York Times best-sellers list  for a number of weeks. But, beware.

The author purports to answer various questions asked by kids using the 'voice of God'.

However, the 'answers' given are not Bible-based and go against the very infallible word of God.

For instance (and I paraphrase):

  • When a girl asks the question 'Why am I a lesbian?' His answer is that she was 'born that way' because of genetics (just as you were born right-handed, with brown eyes, etc.). Then he tells her to go out and 'celebrate' her differences.
  • Another girls poses the question 'I am living with my boyfriend. My parents say that I should marry him because I am living in sin. Should I marry him?' His reply is, 'Who are you sinning against? Not me, because you have done nothing wrong.'
  • Another question asks about God's forgiveness of sin. His reply 'I do not forgive anyone because there is nothing to forgive. There is no such thing as right or wrong and that is what I have been trying to tell everyone, do not judge people. People have chosen to judge one another and this is wrong, because the rule is ''judge not lest ye be judged.' Not only are these books the false doctrine of the devil, but in some instances quote (in error) the Word of God.

And the list goes on..

These books (and others like it) are being sold to school children through (The Scholastic Book Club), and we need to be aware.

Pass this information to your dear ones, friends and relatives.

Push Up

Ada seorang Profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr.Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas professor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?"

Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam."

"200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?"

Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus."

"Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya?", tanya Dr.Christianson.

"Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya?", tanya sang profesor.

Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya."

Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini."

Dr Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu. Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?"

Cynthia menjawab, "Ya".

Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?"

"Tentu saja!"

Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau suatu donut?"

Joe berkata, "Ya."

Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott apakah kamu mau donut?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?"

Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya."

Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donutnya."

Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?"

Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "HEI! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!"

Dr Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu mengingikan donut ini?"

Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak."

Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk  memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up-nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "JANGAN! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!"

Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Professor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya."

Dr. Christianson berkata, "Ok Steve. Jason, kamu mau donut?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya  donut."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga. Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donut?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih"

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?"

Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan.

"Susan, kamu mau donut ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau  tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?"

Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia.

"Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata professor dan ia menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata."

Berpaling kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan Putra Tunggal-Nya, tetapi menyerahkan-Nya untuk kita. Entah kita memilih untuk menerima ataupun menolak karunia-Nya, satu hal yang pasti: harganya sudah lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?"