Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 January 2008

My Best Friend

Bila Dia memanggilmu lebih dahulu,
Mohonlah pada-Nya apakah dapat membawa seorang sahabat.

Bila usiamu sampai seratus tahun,
Aku ingin hidup seratus tahun kurang 1 hari,
Jadi aku tak akan merasa hidup tanpamu disisiku.

Persahabatan sejati layaknya arti kesehatan,
Nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Sahabat sejati akan tetap bersama kita,
ketika kita merasa seisi dunia meninggalkan kita.

Ayahku selalu berkata,
Bila kamu memiliki banyak sahabat sejati,
maka kamu akan memiliki kehidupan yang indah.

Jika seluruh sahabatku melompat ke suatu jurang,
Aku tak akan mengikuti mereka,
Aku akan berada di dasar jurang untuk menangkap mereka.

Aku akan membimbingmu
Dan kau akan membimbingku
Begitu sebaliknya

Persahabatan adalah satu jiwa
Dalam dua raga.

Jangan kamu berjalan di depanku,
Aku tak dapat mengikutimu.
Jangan kamu berada di belakangku,
aku tak bisa memimpinmu.
Berjalanlah disampingku,
jadilah temanku.

Teman mendengarkan apa yang aku katakan,
Sahabat sejati akan mendengar apa yang tidak kamu katakan.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu dalam hatimu,
dan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.

Kita semua memiliki peran yang berbeda dalam hidup ini,
Tapi tak menjadi soal dimana posisi kita akan memiliki arti,
sekecil apapun peran itu.

Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.

Orang asing adalah teman yang menunggu apa yang akan terjadi,
Sahabat sejati seperti penganan dalam mangkuk kehidupan.

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian II

Setelah gempa bumi terjadi di Jogja dan sekitarnya, seluruh jaringan komunikasi mati total. Handphone tidak berfungsi sama sekali. Aku yang baru saja sembuh tidak dapat menghubungi Event Organizer (EO)ku. Kami tidak tahu apakah besok pesta pernikahan yang “once in a life time” dapat tetap berlangsung atau tidak, atau menjadi seperti apa.

Sabtu siang, beberapa saudara ada yang berhasil menelpon, itupun hanya menanyakan : apakah pemberkatan dan resepsi pernikahan kami akan tetap berjalan. Kami hanya bisa berucap, “Ya, ya!” dengan iman.

Sabtu malam itu tanggal 27 Mei 2006, sesuai jadwal Pak Jeffry S. Tjandra datang dari Jakarta untuk mengisi acara dan sekaligus menjadi MC di acara pernikahan kami. Ternyata bandara Adi Sucipto, Jogja, ditutup. Semua penerbangan ke Jogja dibatalkan, karena bandaranya terkena gempa, tidak dapat dipakai untuk mendarat ataupun lepas landas. Sebagai gantinya, semua penerbangan ke Jogja dialihkan ke Solo dan Semarang. Sebagian tamu-tamu luar kota yang akan datang dan sudah membeli tiket terpaksa dibatalkan.

Namun Pak Jeffry S. Tjandra tetap konsisten. Beliau tetap datang walaupun harus lewat Semarang dan kemudian naik bis ke Jogja. Pada Sabtu malam itu kota Jogja gelap gulita karena semua jaringan listrik dipadamkan PLN.

Ya, Tuhan! Malam itu aku dan (calon) suamiku hanya berlutut, menangis dan berdoa. Kami hanya pasrah. Tuhan, kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya mau ikut jalan Tuhan. Bila Tuhan tidak mengizinkan kami menikah besok, Minggu 28 Mei 2006, kami hanya bisa pasrah dan ikut semua rencana-Nya. Tetapi kami percaya Tuhan pasti memberi yang terindah untuk anak-anak yang mengasihi-Nya.

Sabtu malam jam 11 akhirnya kami mengadakan meeting dengan EO untuk membahas dan merevisi ulang semua rencana pernikahan kami untuk keesokannya. Ketika meeting itu saya hanya bisa menangis dan menangis. Entahlah apa yang akan terjadi esok hari.

Meeting selesai pada pukul 3 dini hari, karena begitu banyak hal yang harus kami bicarakan. Jam 4 subuh aku sudah harus pergi ke Salon. Bisa dikatakan beberapa minggu ini kami kurang tidur terus karena harus mengurus pernikahan. Padahal kalau mengingat kondisiku yang baru sembuh dari sakit, seharusnya aku harus banyak istirahat. Tapi kenyataannya kondisinya tidak memungkinkan, mau bagaimana lagi?

Jam 4.30 subuh aku datang ke Salon dengan mata sembab. Pada saat di-make-up pun aku tak kuasa menahan air mataku yang jatuh terus menerus mengalir membasahi pipiku. Dalam hati aku hanya berharap satu hal: jika pemberkatan di gereja dan Catatan Sipil bisa berjalan lancar saja, aku sudah sangat senang karena aku pikir, itulah moment sakralku saat aku diberkati oleh Tuhan dalam pernikahan kudus ini.

Puji Tuhan, semua pendukung acara pernikahanku bisa melaksanakan kewajibannya dan akhirnya kami bisa melewati pemberkatan di Gereja dan acara di Catatan Sipil. Oh, saat itu aku sudah sangat lega dan bersyukur kepada Tuhan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat resepsi sore harinya karena Jogjakarta masih dalam kondisi pasca gempa yang mencekam, dimana aliran listrik dan air masih belum berfungsi.

Pada saat acara “Pai Ciu”(salah satu rangkaian acara dalam adat Tionghoa), kami sangat bergembira karena pada saat dikumpulkan ternyata cukup banyak saudara-saudara kami yang datang meskipun di tengah-tengan suasana gempa. Kami sangat bersyukur karena mereka masih tetap mau datang. Setelah Pai Ciu selesai, mereka diarahkan masuk ke dalam Ballroom sambil menunggu acara dimulai. Saat itu kami bertanya kepada EO, kira-kira berapa meja yang telah terisi? Oh, Tuhan! Ternyata baru 10 % dari total meja undangan.

Oh, Tuhan! Di dalam pikiran kami sudah terbayang meja-meja bakal kosong. Tetapi kami sangat memahami mereka yang tak dapat datang, karena mereka mungkin masih trauma akibat gempa kemarin. Mungkin diantara mereka ada yang sudah pergi mengungsi keluar dari Jogja.

Kami kembali pasrah. Namun di dalam hati ini kami sudah sangat sangat bersyukur: di tengah bencana melanda Jogja sekalipun acara pemberkatan pernikahan kami di Gereja dan di Catatan Sipil boleh berjalan dengan lancar.

Satu jam kemudian kami ditelpon oleh pihak Event Organizer (EO) agar mempelai siap-siap untuk turun dari kamar hotel dan memasuki Ballroom. Dengan perasaan berdebar-debar kami bertanya kepada EO berapa jumlah meja undangan yang sudah terisi? Oh, puji Tuhan, 90% terisi, suatu jumlah yang sangat tidak kami bayangkan sebelumnya.

Bahkan Tuhan masih menyatakan mukjizat-Nya. Sepuluh menit setelah mempelai memasuki Ballroom, pihak Hotel harus menyediakan dua meja tambahan. Jumlah undangan yang fantastis dan benar-benar di luar perkiraan kami! Jika kita mau berserah, berharap dan percaya kepada-Nya, mukjizat itu nyata!

Keesokan hari setelah acara pernikahan, kami dikabari bahwa visa tour ke Eropa sudah keluar, padahal sebelumnya tour ini sempat di-cancel karena jumlah peserta kurang. Kami harus berangkat besok lusa. Di saat itu kami berdoa, ”Tuhan kalau memang kami boleh berangkat bulan madu, biarlah aku diberi kesehatan selama tour ini.”

Kami menikmati perjalanan bulan madu ke Eropa dan kami pulang dari Eropa dengan selamat. Bahkan Tuhan menyatakan mukjizat-Nya sekali lagi. Setelah pulang dari Eropa aku baru menyadari bahwa aku telat mens. Ya, ternyata aku positif hamil. Oh, betapa bahagianya!

Terima kasih, Tuhan! Terima kasih untuk semua hal yang boleh kami jalani bersama Engkau! Kami percaya kesaksian ini dapat menguatkan semua orang yang membacanya, untuk kemuliaan Tuhan. (Selesai)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian I

“Kami menikah sehari sebelum gempa menimpa Jogja tetapi Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Tuhan Menunjukkan Kemurahan Hati-Nya lewat peristiwa yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang sejarah kehidupan kami”

Namaku Silvia dan suamiku Andri. Kami baru saja menikah, 28 Mei 2006 yang lalu. Tapi sebelum menikah, kami melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini, bisa menguatkan banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi Pembaca.

Ujian aku alami, datang pertama kali pada saat 2 minggu sebelum pernikahan. Adik kandungku masuk Rumah Sakit, ya adikku menderita demam berdarah (DB) pada saat 2 minggu menjelang pernikahanku. O, Tuhan betapa shocknya aku saat itu, karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orangtuaku tentunya. Karena menjelang pernikahan putrinya, tentu orangtuaku termasuk orang yang sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku, ternyata kesibukan orang tua masih harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit, yang tentunya membuat beban pikiran mereka semakin bertambah. Aku sangat mengkuatirkan kondisi orang tuaku, terutama papaku, karena beliau pernah operasi jantung koroner. Tentunya bagi penderita penyakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlalu berat, juga kondisi fisiknya harus tetap dijaga.

O, Tuhan saat itu aku hanya bisa terus berharap agar adik bisa secepatnya sembuh. Tapi ternyata yang terjadi kondisi adikku semakin parah, trombositnya drop terus sampai tinggal 7 ribu, padahal untuk jumlah trombosit orang normal berkisar antara 150-200 ribu. Walaupun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal sekalipun tidak bisa menahan dropnya trombosit adikku. Sampai-sampai dokter yang menangani adikku berkata, kalau kondisinya nge-drop terus, dan kondisi fisik pasien tidak kuat, maka darah akan keluar dari hidung, telinga, dan mulut karena semua pembuluh darahnya bisa pecah dan kalau hal itu sampai terjadi dokter akan angkat tangan karena tidak mampu membantu lagi. O, Tuhan sekali lagi hati kecilku menjerit, tapi satu hal yang pasti, aku percaya kalau mukjizat Tuhan masih terjadi hingga saat ini. Dan aku percaya pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.

Akhirnya benar, waktu yang ditunggu-tunggu tiba, beberapa hari kemudian kondisi semakin membaik, adikku berangsur-angsur sembuh, dan lima hari menjelang pernikahanku, adikku bahkan sudah boleh pulang dari Rumah Sakit. Ya, aku sangat bersyukur sekali, walaupun adikku pulang lima hari sebelum aku menikah. Waktu yang sangat mepet tentunya bagi aku sekeluarga untuk kembali mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.

Pagi harinya, saat adikku pulang dari rumah sakit, kami sangat senang, oh betapa leganya kita saat itu… Tetapi ternyata itu masih belum cukup Tuhan masih ingin menguji imanku, malam harinya, gantian aku yang menderita sakit, bayangkan, aku yang akan menikah lima hari lagi menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, yaitu demam berdarah. O, Tuhan begitu beratnya ujianku saat itu, rasanya aku udah dipangkas habis, aku ingin menjerit, aku sampai tidak punya daya upaya untuk melakukan apapun lagi.

Semua saudara-saudaraku yang mengetahui keadaanku saat itu juga mengatakan hal yang sama, bahwa aku bisa terkena DB atau typus. Pada saat aku cek ke dokter, dokter juga belum bisa memastikan penyebab demam yang mencapai 40° Celcius. Dokter hanya menyarankan aku untuk cek darah lagi 7-10 hari setelah demamku. O, Tuhan, padahal lima hari lagi besok Minggu adalah peristiwa penting dalam kehidupanku, hari yang kutunggu-tunggu dalam sejarah kehidupan, AKU AKAN MENIKAH!!!!

Aku dan calon suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa, kita hanya yakin satu hal, bahwa mukjizat pasti akan terjadi hingga hari ini!! Kami sangat yakin dan mengimani hal itu!!

Ternyata demamku masih belum juga turun, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter ataupun obat chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya, aku hanya mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti ini aku teringat perkataan Jeffry S. Tjandra waktu aku dan calon suamiku menghadiri KKR-nya, dia berkata : “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah kepada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya, karena sehelai rambutpun jatuh atas seijin rencana-Nya.” Kita juga percaya bahwa ujian yang boleh terjadi atas kehidupan kita tidak akan melebihi kekuatan kita.

Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh, begitu pula dengan keesokan harinya lagi, tapi satu hal dalam hatiku muncul keyakinan bahwa apapun penyakitku ini Tuhan pasti berikan mukjizat untukku, aku dan (calon) suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku PASTI SUDAH SEMBUH, dan hari Minggunya pernikahanku pasti akan tetap berlangsung dan berjalan dengan lancar.

Benar, Tuhan menunjukkan MUKJIZATNYA kembali, pada hari Sabtu dini hari tgl. 27 Mei itu aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku sudah berangsur-angsur hilang. Oh, Praise The Lord, Thanks God ucapku, namun … ternyata Tuhan punya rencana lain yang tidak pernah kami pikirkan akan terjadi. Sabtu pagi itu, pada tanggal 27 Mei 2006, di Jogjakarta terjadi gempa dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan skala 6,2 Richter, yang menewaskan sekian puluh ribu jiwa, meluluh-lantakkan banyak bangunan, gedung dan sebagainya. Membuat hatiku benar-benar shock, Tuhan, apa salahku, dari kecil aku dan calon suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami juga dari keluarga baik-baik, tapi kenapa kami harus melalui semuanya ini disaat menanti detik-detik menjelang pernikahan… Oh, Tuhan, hatiku hancur saat itu, dan berteriak,”Kenapa Tuhan …. Kenapa …!!??” Kamarku rusak cukup parah, tapi aku masih bisa bersyukur karena aku tidak terluka sedikitpun, padahal aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku saat gempa terjadi, karena aku sudah sangat-sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak akan pernah menyalahkan Tuhan.

Pada saat itu keadaan di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah dengan isu tsunami, semua orang tumplek-blek di jalan, yang Utara mau ke Selatan, yang Selatan mau ke Utara, jalan raya macet, di mana-mana terjadi kecelakaan, orang-orang berhamburan di jalan tanpa tahu harus ke mana, semua rumah sakit penuh, begitu penuhnya sampai begitu banyak pasien hanya tergeletak di aspal, karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan begitu banyaknya korban saat itu

Tuhan kenapa semua ini harus terjadi pada saat satu hari menjelang pernikahanku, bayangkan hanya tinggal satu hari, tinggal besoknya kami menikah.

(bersambung)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

Kristen Garam & Kristen Semut

Bagi orang Kristen, lambang identitas imannya yang paling utama, tak pelak lagi, adalah salib. Memang ada juga sih lambang-lambang kekristenan yang lain, tapi dibandingkan dengan salib, oh jauh! Sebut saja misalnya ikan dan roti. Atau dua huruf Yunani: Alpha dan Omega, serta Chi dan Rho.

Toh menurut Yesus, lambang orang Kristen yang paling sentral mestinya adalah garam. “Kamu adalah garam dunia,” begitu Ia bersabda.

Inilah raison d’etre atau alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini. Seperti alasan pokok adanya sebuah rumah sakit adalah untuk melayani pasien, dan alasan pokok adanya sebuah sekolah adalah untuk belajar-mengajar, alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini adalah untuk menjadi “garam dunia”.

Anda gagal menjadi “garam dunia”, otomatis gagal pula Anda sebagai pengikut Kristus. Lebih mengerikan lagi, kata Yesus, akhir nasib Anda tidak akan lebih baik dari pada seonggok sampah!. “Jika garam itu menjadi tawar,” kata-Nya, “dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya, selain dibuang dan diinjak orang!”

“Kamu adalah garam dunia.” Mendengar ini, saya maklum, bila Anda merasa sedikit kecewa. Paling sedikit, tidak berbunga-bunga. Sebuah lambang seharusnya diharapkan mampu membangkitkan rasa bangga pada yang memakainya, dan sekaligus perasaan respek pada yang melihatnya.

Oleh alasan ini, selalu dipilih kiasan-kiasan yang memberi kesan megah, gagah, agung, dan wah. Misalnya: garuda, rajawali, singa, bunga, beruang, naga. Tidak heran, di Bekasi baru-baru ini terjadi kontroversi hebat, ketika ada gagasan menjadikan ikan lele sebagai lambang kota. Lebih tak terbayangkan lagi, bila yang diusulkan adalah lipan, cacing atau kecoa. Atau, garam!

Garam tidak memenuhi kriteria yang lazim itu, apalagi bagi benak orang-orang moderen.
Apanya dari garam yang megah, yang gagah, yang indah, dan mulia? Di pedalaman Papua, konon, garam memang aduhai berharganya. Tapi di Jakarta?

Jadi, mengapa Yesus memilihnya? Mengapa Yesus memilih sebuah kiasan yang tidak membanggakan (garam), untuk melukiskan sesuatu yang amat membanggakan (menjadi pengikut Kristus)?

Jawabnya adalah karena Ia hendak dengan menekankan betapa kebanggaan seorang pengikut Kristus itu tidak terletak pada hal-hal yang eksternal. Tidak terutama ditentukan oleh hal-hal yang kasat mata. Kebanggaan duniawi memang bertumpu pada faktor-faktor eksternal. Memiliki menara yang “tertinggi”, atau umat yang “terbanyak”, serta “ter-ter” lain, sejenis yang tercatat di museum rekornya Jaya Suprana. Kemegahan eksternal memang mempesona, namun juga sering memperdaya.

Kiasan “garam” diharapkan mampu memelihara “kesadaran fungsional”, sekali pun mungkin tidak bisa memberikan “kebanggaan eksternal”. Di mana bedanya?

Kebanggaan karena berhasil membuat lumpia Semarang yang terpanjang, atau mpek-mpek Palembang yang terbesar di dunia, adalah kebanggaan eksternal. Sementara itu, kebanggaan karena berhasil membuat kue singkong yang termurah, tersehat, dan terlezat sedunia , adalah kebanggaan fungsional.

Kebanggaan karena berhasil meng”kristen”kan sebanyak mungkin orang adalah kebanggaan eksternal. Akan tetapi, kebanggaan karena berhasil membuat orang banyak se”kristen” mungkin adalah kebanggaan fungsional.

“Kebanggaan garam” adalah kebanggaan fungsional. Parameternya adalah apakah produk akhirnya berfungsi maksimal bagi sebanyak mungkin orang? Atau cuma hebat dan cocok untuk pamer serta “jago-jagoan” doang? Jelas sekali yang Yesus kehendaki ialah, agar kita menjadi “Kristen kualitas” – bukan “kuantitas”.

Untuk menjadi “Kristen kuantitas”, jalannya relatif lebih mudah. Anda cukup membangun gedung atau mengumpulkan massa. Anda tetapkan sendiri. Namun, untuk menjadi “Kristen kualitas”, sungguh berbeda.

Di sini, seperti kata Petrus, kemurnian Anda hanya bisa diperoleh dan mesti “diuji melalui api”. Lagi pula yang menentukan kualitas Anda adalah orang lain, dunia ini. Dan berdasarkan kriteria mereka. Artinya, menurut mereka, cukup “asin”kah Anda?

Sebab itu, bila orang kristen mencari kebanggaan pada yang kuantitatif dan fisikal semata, ia sungguh salah alamat! Anda bisa menjadi “garam dunia”, tanpa semua yang gemerlapan. Ibu Teresa, misalnya. Sebaliknya, Anda bisa mempunyai semua yang gemerlapan, tanpa pernah menjadi “garam dunia.” Paus-Paus abad pertengahan, misalnya.

Bahkan menjadi “garam” pun belum jaminan. Sebab bukan “garam “-nya yang penting, tapi “asin”nya! Buat apa jadi garam kalau tidak asin? Apa gunanya jadi “patung garam” seperti istri Lot? Atau jadi “garam salon” yang tersimpan rapi di almari? Kata Yesus, “Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.”

Siapakah yang dimaksud oleh Yesus “garam yang tidak asin” itu? Tidak lain adalah orang Kristen yang cuma ada –mungkin besar, mungkin berkembang pesat- tapi tidak fungsional. Maksud saya, dunia tidak merasakan dampak dan makna positif apa-apa dari kehadirannya. Karena itu juga tidak akan berduka, sekiranya gereja tiba-tiba tiada. Ada atau tidak ada gereja, tidak berarti apa-apa.

Ingatlah bahwa Yesus tidak cuma mengatakan, “Kamu adalah garam”, tapi “Kamu adalah garam dunia.” Garam bagi dunia! Gereja yang hidup cuma buat dirinya sendiri, barangkali memang “garam”. Tapi garam yang tawar. Tidak berguna.

“Kamu adalah garam dunia.” Kiasan ini tidak terlalu ber “gengsi.” Tidak salah, namun tidak pula benar seluruhnya. Sebab pada waktu Yesus mengatakannya, Ia justru bermaksud mengangkat hati murid-murid-Nya. Yesus bermaksud meyakinkan mereka, betapa di balik kesederhanaan mereka, mereka tidak perlu merasa rendah diri. Pakaian mereka sederhana. Status sosial mereka sederhana. Latar belakang pendidikan mereka sederhana. Tapi mereka adalah “garam dunia”!

Artinya, betapa dunia membutuhkan mereka! Betapa hidup tidak lengkap, bahkan tak terbayangkan, tanpa kehadiran mereka! Bagaikan soto membutuhkan garam! Tambahan pula, pada zaman Yesus, “garam” punya nilai simbolis yang tinggi sekali di pandangan masyarakat!. Sampai-sampai orang Yunani menyebutnya “theion,” atau “yang ilahi”. Karena berasal dari air laut dan sinar matahari –dua benda yang dipercaya sebagai benda-benda yang paling murni di alam ini- garam juga dihubungkan dengan kemurnian. Garam melambangkan sesuatu yang tidak tercampur maupun tercemar.

Orang Kristen hidup di tengah-tengah dunia yang standar kualitasnya terus menurun dengan ajeg. Fasilitas membaik, tapi kualitas menurun. Ini berlaku untuk semua bidang kehidupan. Tapi Yesus mengamanatkan, orang Kristen mesti mempertahankan standar kemurniannya! Jangan ikut-ikutan merosot atau melorot! Jadilah bak oasis di padang gurun! Jadilah “komunitas percontohan,” di tengah-tengah dunia yang dahaga akan keteladanan! Jangan tercampur dan tercemar!

Lebih dari sekadar mempertahankan kemurnian, orang Kristen juga harus berfungsi sebagai pencegah kebusukan. Proses pembusukan dunia ini memang tak terhindarkan. Jalannya sudah harus begitu. Bahwa segala sesuatu akan berujung pada katastrofi total. Namun, prosesnya dapat diperlambat agar pintu tobat lebih lama terbuka.

Salah satu fungsi “garam” yang terpenting, di samping menjadi penyedap, adalah menjadi pengawet. Sebab itu, tidak ada ironi yang lebih besar daripada ketika orang-orang Kristen juga ikut-ikutan membusuk, bahkan ikut-ikutan membusukkan!

Apakah Anda mencium bau busuk itu? Saya tidak cuma menciumnya, tapi juga melihatnya dengan jelas. Di dalam maupun di luar gereja! Ini harus diamputasi cepat-cepat, agar pembusukan tidak menjalar ke seluruh tubuh.

“Kamu adalah garam dunia.” Bagi Yesus, status yang tinggi tidak ditentukan oleh penampakannya, melainkan oleh kemanfaatannya. Ini dilukiskan dengan indah sekali oleh “garam”, Untuk mengasinkan sesuatu, tidak diperlukan garam yang besar dan banyak. Sebab itu, kecil atau sedikitnya kita tidak dapat dijadikan dalih untuk ketidakmampuan kita berfungsi. Lihatlah garam!

Namun, ada persoalan serius, yaitu bahwa untuk mengasihi, garam yang sedikit itu harus melarut. Padahal, kecenderungan insaniah kita sebaliknya. Kita berambisi semakin lama semakin besar. Apakah ada jalan tengah? Sayang sekali, tidak.

Anda tahu apa bedanya “Kristen semut” dan “Kristen garam”? Semut senang berkerumun di tempat yang nyaman. Di mana ada gula, di situ ada semut. Garam? O, garam mesti siap diterjunkan di mana saja ia diperlukan. Biasanya di tempat-tempat yang tidak manis. Di situ, ia diminta rela memberikan semuanya, termasuk memberikan dirinya – melarut.

Menjadi “Kristen semut” tentu jauh lebih nikmat. Tentu! Tapi sayang sekali, Yesus tidak mengatakan bahwa kita adalah “semut”. Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia.”


Dikutip dari : MlMm-13

Chosen to Be Holy

Today's Scripture

“For He chose us in Him before the creation of the world to be holy and blameless in His sight” (Ephesians 1:4).

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know that God had a plan for you before the foundation of the earth? He created you to be holy and blameless in His sight. Why did He do that? He chose you to be His ambassador, or representative, on the earth. God created you to reflect His glory. He created you to reflect His character, His righteousness, His holiness. Think about that for a moment. Part of your purpose on this earth is to be a representative for the King of kings and the Lord of lords. Let that sink in deeply on the inside of you. Knowing that should make you want to walk a little differently. It should make you want to talk differently. That should make you think a little more carefully about where you go and what you choose to do with your time. Are you representing God’s holiness today? Remember, what God’s called you to do, He’s equipped you to do. If there are things in your life that aren’t holy, God wants to empower you to overcome those things. Receive His strength and might today so that you can walk in holiness and live the abundant life He has for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me today. I ask You to search my heart and remove anything that is displeasing in Your sight. I accept Your holiness today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

30 January 2008

Humor: Sepuluh Ribu atau Dua Puluh Ribu

Rumah Tomi dipenuhi oleh kerabatnya yang datang untuk makan malam merayakan Natal. Kakek memanggil Tomi yang berusia enam tahun dan mulai bertanya tentang sekolah, cewek, dan apa pun yang terpikir olehnya. Setelah beberapa saat, si kakek melihat bahwa Tomi sudah mulai bosan. Jadi, ia mengeluarkan dua lembar uang kertas untuk membuat Tomi tertarik -- lembaran sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Ia menunjukkan dua lembar uang itu dan menyuruh Tomi memilih salah satunya. Tomi pun memilih yang sepuluh ribu.

Si kakek agak terkejut dan kecewa dengan keputusan Tomi tersebut. Ia kemudian mengeluarkan uang sepuluh ribuan lagi dan menyuruh Tomi untuk memilih lagi. Dan Tomi pun kembali memilih yang sepuluh ribu. Si kakek sekali lagi terkejut dan kecewa.

Ia membawa Tomi kepada salah satu pamannya dan menunjukkan betapa bodohnya Tomi -- memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu. Demikian terus dilakukan si kakek. Ia menunjukkan kebodohan Tomi itu kepada sejumlah kerabat. Jika ditotal, si kakek telah menyuruh Tomi untuk memilih sepuluh ribu atau dua puluh ribu itu sebanyak lima belas kali.

Beberapa jam kemudian, setelah seluruh kerabat pulang, sang ayah yang mengetahui kebodohan Tomi itu menghampiri Tomi dan menanyakan mengapa ia memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu.

Dengan tersenyum lebar, Tomi menjawab, "Jika aku memilih dua puluh ribu dari sejak awal, aku tidak akan mendapatkan 150 ribu!"

Waktuku Adalah Hari Ini

Waktuku adalah hari ini. Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan kritik. Akan kuhargai setiap detik, menit, dan jam, karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang terbuang percuma.

Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok. Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi.

Hari ini aku belajar lagi untuk mengubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan karya. Kutinggalkan angan-angan yang selalu menyatakan: “Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah.” Jikalau keadaan tetap sama, dengan kemurahan-Nya aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata: “Aku tidak punya waktu”. Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku akan tiba. Akan kulakukan yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai besok karena esok belum tentu ada.

Tuhan memberkati kita hari ini. Pergunakan waktu yang ada untuk memuliakan Dia.


Dikutip dari :
50 Cerita Bijak Tentang Makna Kehidupan
oleh Yustinus Sumantri Hp., SJ.

Obrolan Iblis

DI SEBUAH PUB

Di pojok sebuah pub, remang-remang, musik dengan ritme yang monoton membuat jantung ikut berdegup kencang, terlihat lima sekawan iblis sedang duduk ngobrol. Rupanya mereka baru saja membujuk seorang anak muda yang masih ingusan untuk pertama kalinya masuk sebuah pub.

"Hehe, hik!" si Iblis Teler yang sedang mabuk mulai membuka perbincangan seru, "..aku, hik!, ..pengen tahu .. hik.. apa saja yang kalian lakukan untuk menjerat manu..hik..sia agar jauh dari TUHAN, hik!"

"Idih, gampang aja deng.." jawab si Iblis Bencong, sambil mengelus-elus tanduknya yang baru saja dikeriting di salon, "..langsung aja gua suruh doi buat bikin dosa!"

"Caranya?" si Iblis Bloon penasaran.

"Ya, langsung aja aku bujuk biar ngebo'ong, nyuri,
bahkan ngebunuh, wei ce!"

"Hehe.. zaman sekarang manusia emang gampang dibo'ongin", sahut Iblis Gembrot dengan suaranya yang berat, sekitar 130 kilo beratnya, "Kalo cara saya ialah gua bikin hati manusia penuh kekecewaan, kepahitan, benci sama temannya, ortunya atau saudaranya, itu dosanya sama dengan membunuh! Coba aja baca di 1 Yohanes 3:15".

"Ah elo, kayak yang suka baca alkitab aja!
Glek-glek- glek" timpal si Iblis Teler sembari terus nenggak alkohol 100%.

"Euh.. ketinggalan lu! Kita harus hapal itu isi
alkitab, nyong! Kita kan bisa puter balikin ayat-ayat alkitab itu buat nipu manusia, biar mereka ragu kalo alkitab itu firman TUHAN atau bahwa YESUS itu TUHAN"

"HEI! JANGAN SEBUT-SEBUT NAMA ITU!, saya jadi gemeter,
nih!

"Ups… sori!"


Sementara itu si anak ingusan tadi kelihatan sedang didekati oleh seorang wanita yang menawarinya sebuah pil. Apa daya, anak itu pun memakannya. Gedek deh!

"Hehehe.. betul juga cara elo, kalo manusia udah kena kekecewaan, udah gampang deh kita tunggangin, dia bisa marah, dia bisa males doa, males baca alkitab, dia bisa gampang kita arahin. kayak anak ingusan yang tadi kita bawa ke sini" Ujar si Iblis Bawel yang dari tadi belum kelihatan bawelnya, "Tapi kalo gua lebih suka cara mutakhir.."

"Gimana tuh?" si Iblis Bloon penasaran lagi.


"Ya gua buat manusia nggak percaya adanya iblis,
mereka bilang iblis itu cuman dongeng buat nakut-nakutin anak kecil, dan pada akhirnya mereka juga bakalan bilang kalo TUHAN itu nggak ada. HAHAHA!"

Si Iblis Bencong mengernyitkan dahinya yang penuh bisul, lalu katanya sambil menepuk kening si Iblis Bawel "Hei, tapi caraku lebih jitu… aku buat manusia percaya kalo iblis itu ada yang baik, kayak aku deng!, hehe.. caraku berhasil kan, makanya keluar tuh Si Manis Jembatan Ancol, Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny Oh Jinny, Casper, Aladin dan Jin Lampu, penyihir-penyihir bahenol di pilem Charmed, Spawn, The Crow, dll-dsb hehehe, padahal mana ada iblis itu baik, kita-kita kan jahat-jahat, bo!"

Si Iblis Bawel berusaha kembali berdiri gara-gara tadi jatuh ditepuk oleh si Iblis Bencong, katanya: "Oke deh.. gak ada cara yang paling jitu… semua bisa kita pake buat jerat manusia. Apa sih manusia.. TUHAN ciptain mereka itu kemampuannya lebih rendah dari kita-kita ini, mereka punya banyak kelemahan, kita bisa lihat mereka tapi mereka gak bisa lihat kita, dan kita bisa 24 jam mengintai mereka. Kalau mereka lagi lengah atawa buka celah, abis dah mereka. Tapi kadang gua suka pengen ketawa, banyak manusia merasa bisa mengalahkan kita, HUA HA HA HA ..MANA MUNGKIN!!!"

"KECUALI…" teriak si Iblis Bloon berbisik.

"KECUALI APA?" bentak si Iblis Bawel sambil melotot, towew.. matanya keluar, plung. Si Iblis Teler yang sedang ketiduran gara-gara mabuk sampai kaget dan terlempar ke langit-langit.

"Kecuali mereka mengandalkan TUHAN buat melawan kita. Kalian tau kalo mereka sudah tunduk kepada TUHAN dan lalu mereka melawan kita, kita bisa K.O.! itu ada ayatnya di Yakobus 4:7"

"Betul.. aku paling benci-benci- benci deh kalo itu terjadi, roh mereka yang kecil itu tiba-tiba jadi gede kalo udah sama TUHAN, aku jadi gak ku-ku deket-deket sama mereka!", timpal si Iblis Bencong memoleskan lipstik di hidungnya.

Si Iblis Gembrot rada-rada ngerenung, "itulah masalah saya, saya lagi ngintai satu anak, tapi ia selalu ada dalam hadirat TUHAN, saya gak bisa masuk. Bahkan deket aja susah. Ada si malaikat-malaikat ngelilingin dia, terus dia selalu jaga hidupnya dan pergaulannya, yang parah ialah dia ada kontak terus ama TUHAN, 24 jam.. nek! Saya jadi stress berat!"

"Wah-wah-wah… kalo gitu kamu harus kerja ekstra keras tuh, intai terus sampe dia lengah, kalo buka celah, kita bawa temen-temen kita buat nyerbu!" seru si Iblis Bencong.

"Susah! Dia udah jadi menara doa, kemanapun dia pergi
hadirat Tuhan menyertainya. Udah gitu punya buanyak backing, dia bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling mendukung dan mendoakan, saling menasehati dan menolong. Kelabakan deh kita!"

"Hei.. kita udah cerita cara-cara kita ngejerat manusia, bahkan kalo aku mau cerita cara-cara lainnya bisa-bisa blog ini gak muat bo! Nah sekarang kamu gimana.. dari tadi belum cerita caranya kamu!" Tanya si Iblis Teler yang masih nempel di langit-langit kepada si Iblis Bloon.

"Aku mah sederhana saja, aku biarin manusia tiap
minggu ke gereja bahkan aku biarin mereka ikutan melayani pekerjaan Tuhan"

"LHO KOK?" si Iblis Bencong, Iblis Bawel dan Iblis
Gembrot kaget sampai-ampai ikutan menempel di langit-langit bertemu si Iblis Teler, "Halo.. apa kabar?" kata si Iblis Teler basa-basi.

Si Iblis Bloon dengan tenang mengambil minumannya dan meminumnya sampai habis, tapi lewat telinga, maklum bloon. "Ya, aku buat mereka cukup puas dengan cuman datang ke gereja tanpa rindu melayani TUHAN, mereka akan mudah berkompromi sama dosa, tidak mengikuti pesan-pesan TUHAN yang disampaikan hamba-hambaNYA bahkan mencemoohkannya. Boleh dia masuk hadirat Tuhan sewaktu-waktu, tapi jangan sampe terus dia ada di "tempat tinggi".

"BRAK!" langit-langit pub itu rupanya gak kuat menahan para iblis, terutama si Iblis Gembrot. "Lalu bagaimana dengan orang yang kau biarkan melayani TUHAN? … ngek!", tanya si Iblis Teler yang kegencet sama si Iblis Gembrot.

"Aku biarkan dia melayani karena rutinitas, biar dia
cukup puas sudah melayani, bahkan aku buat sibuk tanpa tuntunan dari TUHAN, aku buat saat teduhnya ancur, roh doanya melempem, aku buat dia selalu berbuat dosa dengan mengatakan gak bakalan apa-apa karena dia bisa terus minta ampun sama TUHAN, dan aku buat dia cuman sibuk dengan program organisasi tanpa ada belas kasihan sama jiwa-jiwa yang sudah kita "menangkan" hehehehe…!

"OKE BANGET!" teriak semua iblis disitu, "ternyata lo emang pinter, On!"

So, hati2 sama semua tipu muslihat iblis...

= God Bless you =


by: Ferry GFresh

You And Me

Ada seorang teman mengatakan, kalau kedua orang tuanya memiliki hubungan yang bagus, dimana mereka sama sekali tak pernah bertengkar sepanjang pernikahan. Mungkin, ini merupakan definisi sebuah hubungan yang baik, yang telah diyakini banyak orang selam bertahun-tahun, namun kini banyak orang yang menginginkan lebih. Seperti apa sih sebenarnya sebuah hubungan yang baik dan sehat itu? Menurut Margaret Paul, Ph.D, penulis Do I Have To Give Up Me To Be Loved By You? dan Healing Your Aloneness, ada beberapa hal sebagai tanda sebuah hubungan yang sehat seperti kami sampaikan berikut ini.

Kebaikan

Apakah kebaikan bersama lebih penting bagi Anda masing-masing dari pada menempuh jalan masing-masing, terkontrol, atau jadi pihak yang benar? Apa Anda berdua mendapatkan kesenangan saat memberikan kesenangan antara satu dengan lainnya? Berbagi kesenangan merupakan esensi dari hubungan yang sehat dari pada bersikap saling mengontrol.

Bersikap Spontan

Apa Anda dan pasangan saling memberi kehangatan dan memenuhi hati masing-masing serta bebas mengekspresikan kasih sayang? Apa Anda menangkap dari luar hingga menemukan sisi unik dari dalam diri masing-masing? Apakah Anda berdua menikmati berbagi kasih sayang? Kehangatan dan kasih sayang merupakan hal vital dalam sebuah hubungan yang sehat.

Tertawa Dan Bersenang-Senang

Dapatkah kalian berbagi tawa dan bermain bersama? Apakah Anda menghargai dan menikmati selera humor masing-masing? Di tengah masa sulit, dapatkan Anda saling membantu untuk mencerahkan hari dengan humor? Apakah Anda dapat berbagi kesenangan dengan permainan berdua, bersenang-senang seperti layaknya anak kecil? Kegembiraaan dan bermain bersama memiliki peran besar dalam sebuah hubungan yang sehat.

Menikmati Kebersamaan Dan Saat Berjauhan

Apakah Anda masing-masing adalah teman favorit untuk melewatkan waktu? Apakah Anda termotivasi untuk meluangkan waktu hanya agar bisa berduaan? Apakah Anda berdua punya teman dan menikmati bersama mereka? Dan apakah Anda berdua baik-baik saja saat terpisah?

Beberapa pasangan melewatkan banyak waktu berduaan karena mereka benar-benar menikmatinya, sementara yang lain melewatkan banyak waktu berdua hanya karena takut sendirian. Sangat penting dalam sebuah hubungan yang sehat bagi masing-masing memiliki teman dan kesenangan, sehingga mereka tak saling tergantung satu dengan lainnya. Ketergantungan bukanlah indikasi hubungan yang sehat, terutama ketergantungan emosional.

Metode Untuk Mengatasi Konflik

Semua hubungan pasti mengalami masalah. Bukan konflik itu sendiri masalahnya, tapi bagaimana mengatasinya. Apakah Anda memiliki sebuah metode untuk memecahkan masalah, atau apakah masalah itu dikesampingkan begitu saja? Jika bertengkar merupakan salah satu cara yang Anda pakai untuk mengatasi konflik, apakah Anda bertengkar dengan fair? Atau apakah pertengkaran itu melukai perasaan Anda?

Lepasakan Kemarahan

Jika salah satu atau kalian berdua marah, apakah Anda menggantungkan itu, menghukum pasangan Anda, atau dapatkah Anda melepaskannya dengan mudah? Dalam sebuah hubungan yang sehat, kedua belah pihak akan segera melupakan kemarahan, dan kembali pada kebaikan dan kasih sayang.

Saling Percaya

Apakah Anda berdua saling percaya kalau cinta kalian solid, bahkan saat sedang melalui masa-masa sulit? Apakah Anda berdua mengetahui Anda dapat jadi kacaua, gagal, mengecewakan masing-masing, saling menyakiti secara emosional - tetapi cinta kalian tak tergoyahkan? Apakah Anda berdua menyadari bahwa cinta itu tentang siapa diri Anda, bukan apa yang Anda lakukan? Level kepercayaan semacam ini merupakan esensi dari sebuah hubungan yang sehat.

Mendengarkan, Memahami, Menerima Dan Belajar

Apakah Anda berdua merasa didengarkan, dipahami dan diterima? Apakah Anda dapat berbagi rahasia dengan pasangan tanpa merasa takut diadili? Apakah Anda lebih tertarik untuk belajar tentang diri sendiri dan pasangan dari pada saling mengontrol? Apakah mendengarkan masing-masing dengan hati terbuka dan keinginan untuk memahami lebih penting daripada saling menghakimi atau membela diri sendiri?

Seksualitas

Apakah hubungan seksual Anda hangat dan didasarkan kepedulian? Apa Anda dapat bersikap seksual secara spontan? Apakah Anda dapat memperbincangkan apa yang membawa kesenangan pada diri masing-masing?

Bebas Menjadi Diri Sendiri

Apakah Anda berdua merasa bebas untuk jadi diri sendiri? Apa Anda masing-masing merasa mendapat dukungan untuk mengejar apa yang membuat Anda bahagia? Apa pasangan Anda merasa gembira dengan apapun yang membuat Anda gembira?

Sementara beberapa orang mungkin bersikap terbuka, baik, menyayangi, menerima dan bertanggungjawab secara emosional terhadap diri masing-masing, kebanyakan orang butuh menyembuhkan rasa takut dan keyakinan yang salah yang mereka pelajari dalam keluarga. Sebuah hubungan yang sehat melibatkan masing-masing pribadi dan kemampuan untuk saling mencintai.

He Directs Your Steps

Today's Scripture

“The mind of man plans his way, but the LORD directs his steps” (Proverbs 16:9).

Today's Word from Joel and Victoria

What are you doing to bring your dreams to pass? Are you getting prepared? Do you have clear direction? Are you taking steps of faith? Success is intentional. You may not know what steps to take right now, but God has a good plan for your life. If you’ll do your part to seek Him and begin to make plans to succeed, God will guide you. He will direct your steps. You don’t have to vaguely go through life. God wants to show you His plan. He wants to pour out His blessing on you and see you living a life of victory. Decide today to make plans to succeed. Write down your goals. Make time to evaluate where you are in life. Evaluate your finances, your career, your relationships. Don’t go another week without having a plan for your future. Evaluate how you're spending your time and money. If you’ll go beyond dreaming and start making plans to succeed, God promises He’s going to direct your steps. He will lead you down the path of His favor. He’ll lead you into increase. He’ll lead you into promotion, and you’re going to see your dreams come to pass and walk in success in every area of your life!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for guiding and directing my steps. Help me to see clearly the plan You have for me today and every day. I submit every area of my life to You and trust that You are working behind the scenes for my good. I bless Your name today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

29 January 2008

Kebahagiaan

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya. Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.

Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.
Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.

Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expectless)