8:00:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Matius 11-14
Nats : "Katakanlah bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik kerena engkau, dan aku dibiarkan hidup karena engkau" (Kejadian 12:13)
Bacaan : Kejadian 12:10-20
Hawa tidak dicipta dari tulang kaki, supaya istri tak menjadi budak suami. Hawa tidak dicipta dari batok kepala, supaya istri tunduk dan tidak menguasai suami (Efesus 5:22-23). Hawa dicipta dari tulang rusuk, agar istri menjadi penolong, bahkan pelindung hati suami. Namun secara seimbang, seorang istri sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan suami, yang menjaganya agar tidak direbut darinya. Dan, seorang suami akan melindungi dan membela istrinya mati-matian, hanya jika ia menyadari bahwa sang istri adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Ketika bahaya kelaparan mengancam hidup keluarganya, Abram memboyong keluarganya ke Mesir. Namun betapa mengejutkan sikap Abram, suami Sarai. Ketika bahaya mengancam, ia malah berlindung di balik Sarai. Ia meminta Sarai tidak mengaku sebagai istri, tetapi sebagai adik Abram walau memang benar Sarai bukan hanya istri Abram, tetapi juga saudara sepupunya. Ia meminta demikian karena takut. Sarai itu sangat cantik. Apabila Firaun tertarik melihatnya dan hendak mengambilnya sebagai selir, maka Abram bisa dibunuh.
Sehebat, sekaya, dan sepopuler apa pun suami, yang terpenting dan diharapkan istri adalah ia bisa melindungi diri dan seluruh keluarganya. Sebab itu, ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Jika demikian, maka orang sehebat Abram yang diberi gelar bapa orang beriman pun bisa melarikan diri dari tugas dan panggilannya sebagai kepala keluarga. Sebab, kekuatan sejatinya bukan pada dirinya sendiri, melainkan dalam persekutuannya yang akrab dengan Tuhan, yakni iman. Anda memilikinya? --SST
SEORANG SUAMI MESTI HEBAT TAK HANYA DI TEMPAT PUBLIK
TETAPI JUSTRU TERUTAMA MENJADI HEBAT BAGI ANAK DAN ISTRI
Sabda.org
8:00:00 AM
Peak
Di kota kecil Siroki Brijeg daerah Herzegovina, kurang lebih 20 mil dari Medjugorje, dikisahkan bahwa dalam catatan paroki sekitar 13 ribu umat tidak ada perceraian. Sepanjang ingatan orang, di sana tidak ada keluarga yang berantakan. Apakah orang-orang di sini mendapat siraman rahmat istimewa atau
previlese khusus dari surga untuk mengalami perkawinan yg kokoh kuat seperti ini? Padahal orang-orang ini selama berabad-abad menderita penindasan dan penganiayaan karena iman yang teguh ada Tuhan Yesus Kristus yang wafat dan
bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Dari pengalaman mereka sangat yakin bahwa sumber keselamatan satu-satunya datang dari Salib Kristus.
Orang-orang Kroasi mempunyai suatu tradisi perkawinan yang indah, yang menjadi inspirasi bagi peziarah dari manca negara. Bila pasangan muda-mudi akan menikah, orang-orang tidak akan menyatakan bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal yang mereka impikan, melainkan imam akan mengatakan kepada mereka, "Kamu telah menemukan salibmu! Istri adalah salib untuk suami dan suami adalah salib untuk istri. Dan sebuah salib harus dicintai dan untuk dipanggul. Sebuah salib tidak untuk dibuang melainkan untuk disandang (panggul) dan disayangi."
Selanjutnya pada waktu pemberkatan pernikahan, pengantin wanita meletakkan tangan kanannya di atas salib dan mempelai pria menumpangkan tangannya di atasnya, dengan demikian kedua tangan mereka terikat bersama-sama satu di atas yang lain di atas salib Kristus. Kemudian imam menumpangkan stola ke atas tangan-tangan mereka. Pasangan itu lalu mengucapkan janji setianya, berdasarkan rumusan Liturgis Gereja. Setelah janji setia diucapkan keduanya tidak saling berciuman melainkan mencium salib! Mereka sadar bahwa yang mereka cium itu adalah sumber kasih! Pasangan itu dan semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tahu bahwa bila sang suami melepaskan istrinya, berarti ia melepaskan salib demikian juga jika sang istri melepaskan suaminya maka ia pun melepaskan salib! Dengan begitu mereka kehilangan segala-galanya karena mereka melepaskan Kristus. Buah dari cinta kasih mereka, adalah buah dari salib mereka yaitu anak. Berbicara mengenai kesatuan keluarga berarti berbicara mengenai kesatuan suami-istri- anak. Perekatnya adalah salib.
Hampir setiap hari di seluruh dunia, media massa tidak pernah sepi menyajikan berita menyedihkan mengenai perceraian, kekerasan dalam keluarga, aborsi, penjualan anak, dan lain-lain. Dalam situasi seperti ini yang paling menderita akibatnya adalah anak-anak, makhluk yang tidak berdaya. Kisah hidup keluarga seperti itu di kota kecil Siroki Brijeg, Herzegovina di atas hendaknya membawa kesejukan dan inspirasi di tengah gemuruh badai berita mengenai perpecahan dan kehancuran ikatan keluarga / rumah tangga.
7:36:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Matius 8-10
Nats : Dari Paulus, seorang tahanan karena Kristus Yesus .... Kepada Filemon yang terkasih, teman sekerja kami (Filemon 1:1)
Bacaan : Filemon
Lie Tjiu Kie berusia 94 tahun. Meski sudah berusia lanjut dan harus duduk di kursi roda, ia terus melayani Tuhan dan menjadi berkat. Setiap hari ia berdoa bagi keluarga dan saudara-saudaranya yang belum percaya. Bahkan ketika ia sakit dan banyak dikunjungi, ia memakai kesempatan itu untuk mengajak saudara-saudaranya yang belum percaya untuk beriman kepada Kristus. Salah satunya, beberapa tahun lalu beliau meminta orangtua saya datang beribadah ke gereja. Hasilnya, orangtua saya sungguh-sungguh mau datang ke gereja untuk kali pertama, tepat ketika saya bernyanyi di paduan suara pada perayaan Natal.
Keadaan lemah dan terpenjara tak membuat Paulus berhenti mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Justru dalam keadaan demikian ia bisa banyak menulis, salah satunya menulis kitab Filemon. Dan melakukan pelayanan yang berarti, khususnya bagi Onesimus. Ya, di kitab ini kita membaca tentang Onesimus budak Filemon yang melarikan diri. Ketika Onesimus bertemu Paulus kemungkinan besar di penjara ia mendengar Injil dari Paulus dan menjadi orang percaya. Dari situ, Paulus menulis surat kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman.
Saat ini mungkin kita merasa terbelenggu dengan keadaan: kelemahan tubuh; usia senja yang membuat kita tak lagi leluasa bergerak; atau kesibukan pekerjaan. Apakah keterbatasan-keterbatasan ini menghalangi kita untuk melayani Tuhan? Atau justru memacu kita untuk bangkit dan kreatif mencari cara, sehingga di tengah kelemahan pun kita tetap dapat bersaksi tentang Tuhan? --VT
SELAGI HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN
MASIH ADA KESEMPATAN MELAYANI TUHAN
Sabda.org
7:54:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Matius 4-7
Nats : Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi sebab Lot itu diam di Sodom (Kejadian 14:12)
Bacaan : Kejadian 13:1-13; 14:11-12
Xiao Zheng ingin sekali memiliki iPad2, komputer tablet canggih, tetapi tidak punya uang. Suatu ketika, remaja China ini membaca iklan online yang menawarkan uang 29 juta rupiah bagi orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Tanpa pikir panjang, Xiao Zheng menjual ginjalnya. Setelah dioperasi di rumah sakit, uang yang diperoleh ia habiskan untuk membeli iPad2, notebook, dan iPhone. Demi memiliki gadget dengan usia pakai hanya 5 tahun, ia korbankan organ tubuh yang diperlukan untuk hidup puluhan tahun!
Inilah jebakan materialisme. Ketika materi dianggap sebagai hal yang terpenting, orang diperhamba olehnya. Apa pun dan siapa pun bisa dikorbankan demi mendapatkannya. Lot contohnya. Ia tahu Sodom bukan tempat tinggal yang ideal. Penduduknya "sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan" (Kejadian 13:12). Namun, lokasinya yang berada di lembah subur menjanjikan kemakmuran dan kesuksesan. Lot pun terpikat. Walau sudah kaya, ia ingin menjadi lebih kaya. Maka, ia memilih tinggal di Sodom. Istri dan anaknya dikorbankan untuk tinggal di lingkungan yang buruk. Hasilnya? Kehancuran. Suatu hari, musuh menyerang. Dalam sekejap harta bendanya lenyap. Keluarganya pun ditawan musuh: menghadapi penyiksaan, penjara, dan kematian! Untung Abram datang menolong. Abram walau kaya raya, hidup dalam ketaatan pada Tuhan dan kasih kepada sesama.
Tamak akan harta bisa mendorong kita melakukan apa yang salah. Atau, pergi ke tempat yang tidak seharusnya. Materialisme menawan dan memperhamba. Jangan biarkan ia bersarang dalam hati dan pikiran Anda! --JTI
MATERIALISME MEMBERI ANDA PEMAHAMAN KELIRU
BAHWA ANDA TAK BISA BAHAGIA SEBELUM PUNYA INI dan ITU
Sabda.org
12:49:00 PM
Peak
Bacaan Setahun : Maleakhi 1-4
Nats : Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tesalonika 3:10)
Bacaan : 2 Tesalonika 3:6-12
Apa yang terkenal dari Las Vegas sebuah kota di Amerika? Banyak orang akan menjawab, "Tempat perjudiannya". Itu benar. Judi model apa pun dapat ditemukan di sana. Tak heran, kota ini dikunjungi para penjudi dari seluruh dunia. Walaupun demikian, judi tidak hanya dilakukan orang di kota sekelas Las Vegas saja. Di kota kecil atau perkampungan pun, judi banyak dilakukan. Jahatnya, judi tidak hanya dilakukan oleh orang kaya, melainkan juga oleh orang-orang miskin. Bahkan, judi tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi ada juga anak-anak sekolah yang ikut berjudi.
Judi adalah kebiasaan yang sangat buruk, sebab merusak mentalitas seseorang. Etos kerja orang dihancurkan, sebab judi dianggap jalan pintas untuk menjadi kaya, hidup enak, tanpa kerja keras. Namun benarkah dengan berjudi, orang bisa bahagia? Ternyata tidak. Sebaliknya, kita akan lebih banyak menjumpai orang yang bangkrut karena judi. Dan, jika salah satu anggota keluarga punya kebiasaan berjudi, bisa dipastikan keluarga itu akan mengalami masalah serius.
Alkitab mengecam perjudian. Bahkan dengan keras Paulus berkata, jika seseorang tidak mau bekerja, mau cari enak, janganlah ia makan. Judi adalah bentuk kemalasan, dan Alkitab jelas mencela kemalasan dalam bentuk apa pun. Selain itu, efek judi sangat tidak baik. Toh, kalau seseorang menang dalam jumlah banyak, ia membuat orang lain menderita. Sebab yang kalah bukan si penjudi saja, tetapi juga seluruh keluarganya. Maka, jauhilah judi dalam bentuk sekecil apa pun, agar ia tak menyeret kita ke perangkap yang lebih dalam --PK
BANGKITKAN DIRI KITA UNTUK MENJADI ORANG YANG RAJIN
SEBAB KEMALASAN TAKKAN MEMBAWA KITA KE MANA-MANA
Sabda.org
8:04:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Zakharia 13-14
Nats : ... Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa (Yohanes 13:1)
Bacaan : Yohanes 13:1-5
John Stott, seorang hamba Tuhan danpenulis kristiani ternama, meninggal dunia pada 27 Juli 2011, dalam usia 90 tahun. Sebagai penginjil yang sangat bersemangat, John Stott telah mengajar banyak orang untuk sungguh-sungguh mengasihi sang Juru Selamat, juga mendukung Gereja Tuhan di seluruh dunia. Yang menarik, pemimpin John Stott Ministries sekarang, Benjamin Homan, mengatakan bahwa institusi mereka telah siap melanjutkan pelayanan apabila John Stott meninggal, sejak 15 tahun sebelumnya. "Saya pikir ia hendak memberi teladan bagi para pemimpin lembaga pelayanan, tentang meneruskan kepemimpinan kepada pemimpin-pemimpin baru, " demikian papar Homan.
Rupanya John Stott mengikuti jejak Yesus, junjungan hidupnya. Yesus tahu, tidak untuk seterusnya Dia akan mendampingi murid-murid. Suatu saat Dia mesti meninggalkan mereka. Itu sebabnya, Yesus banyak menyiapkan mereka untuk melanjutkan pelayanan. Tanpa kenal lelah, Yesus banyak sekali mengajar dan menjelaskan firman secara khusus kepada murid-murid-Nya. Dia juga tak henti memberi teladan lewat banyak peristiwa dan pengalaman. Bahkan pada saat-saat terakhir Dia hendak kembali kepada Bapa, Yesus terus memberi pesan: Dia membasuh kaki murid-murid-Nya, agar kelak mereka menjadi pemimpin yang rendah hati serta sedia melayani.
Ini mengingatkan kita semua: setiap pelayanan yang kita pegang dan tekuni saat ini, perlu diteruskan. Karena tak selamanya kita dapat mengampunya, mari segera cari penerus yang akan melanjutkan perjuangan. Titipkan pelayanan yang telah ditekuni dengan cinta, agar diteruskan untuk memuliakan-Nya --AW
APABILA SEBUAH PELAYANAN TELAH DIPERCAYAKAN
TUHAN RINDU PELAYANAN ITU DAPAT SELALU DITERUSKAN
Sabda.org
7:59:00 AM
Peak
Sahabat, ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik. Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.
Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh.
Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa. Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.
Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet.
Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.
Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah: Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka.. Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.. Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN.. KESENANGAN.. KELIMPAHAN.. jangan sampai kita terlena... Kita mesti tetap hati-hati...
7:50:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Zakharia 10-12
Nats : Yonatan berkata kepada Daud: "Apa pun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu" (1 Samuel 20:4)
Bacaan : 1 Samuel 20:1-9
Ketika menjalani perkuliahan di jurusan komunikasi, ada sebuah kata yang selalu diulang oleh dosen saya di kelas: objektivitas. Objektivitas adalah salah satu prinsip terpenting untuk para calon awak media. Ketika berbincang dengan rekan dari jurusan sains, ternyata prinsip yang sama juga bergema di kelasnya. Menurut sang profesor di sana, objektivitas adalah kunci sukses seorang peneliti. Tampaknya, prinsip objektivitas ini telah menjadi "kaidah kencana" di bidang apa pun.
Suatu kali, Daud mengeluhkan secara terus terang kepada Yonatan, tentang sikap ayahnya Saul. Seiring berjalannya waktu, makin jelas bahwa Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi takhtanya. Dari sini kita belajar dari sikap objektif Yonatan. Ia tidak langsung menunjukkan sikap jengkel kepada Daud karena menuduh ayahnya. Sebaliknya, ia juga tidak langsung terprovokasi oleh Daud untuk ikut menjatuhkan Saul.
Dengan prinsip objektivitas dan pengetahuan bahwa Daud berada di pihak yang benar, Yonatan mengajak sahabatnya yang kalut itu untuk mencari jalan terbaik. Akhirnya kita tahu bahwa Yonatan berhasil menyelamatkan nyawa Daud, yang kemudian menjadi raja besar di Israel meski untuk itu ia harus mengorbankan kesempatannya sendiri untuk naik takhta.
Sikap objektif dapat membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan ini. Seseorang yang bersikap objektif akan berusaha menempatkan diri dalam posisi yang netral tak berpihak. Dari situ, seseorang dapat memberikan sumbangsih dan solusi positif bagi pergumulan orang-orang di sekitarnya. Tuhan pun disenangkan melaluinya --OLV
KETIKA ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERSIKAP OBJEKTIF
ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERJALAN DALAM KEBENARAN
Sabda.org
7:48:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Zakharia 7-9
Nats : Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1)
Bacaan : Kolose 4:1-6
Beberapa waktu lalu, dibentangkan sebuah serbet raksasa di Bundaran HI, Jakarta. Serbet raksasa itu merupakan bentuk aksi keprihatinan terhadap ketidakadilan yang sering dialami oleh para pekerja rumah tangga (PRT), baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mereka banyak mengalami perlakuan sewenang-wenang, bahkan kekerasan yang berujung pada kematian. Serbet besar itu hendak mengingatkan warga Jakarta bahwa banyak aktivitas bisa berjalan baik karena jasa para pekerja rumah tangga. Oleh karena itu, pengakuan, penghormatan, dan pemenuhan hak-hak pekerja rumah tangga, harus diperhatikan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus juga mengingatkan setiap tuan yang mempunyai hamba agar selalu berlaku adil dan jujur (ayat 1). Berlaku adil dapat berarti memberikan kepada para pekerja apa yang menjadi hak mereka. Tidak memberi beban kerja lebih dari apa yang selayaknya dikerjakan. Jujur dapat diungkapkan dengan tidak mengeksploitasi atau memanfaatkan posisi para pekerja yang lebih lemah untuk kepentingan dan keuntungan pribadi atau perusahaan.
Kita harus selalu ingat bahwa hikmat dan kasih perlu dinyatakan di semua tempat, termasuk di rumah tangga dan lingkungan kerja. Jangan sampai kita dikenal sebagai dermawan di gereja, tetapi memperlakukan pekerja rumah tangga dengan kasar atau memberlakukan kebijakan perusahaan yang menyengsarakan para pekerja kita. Ingatlah, kita pun adalah hamba yang suatu saat kelak harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Di mata Tuhan, kita dan para pekerja kita setara berharganya --SL
SALING MENGHORMATI, MENGHARGAI, ANTARA TUAN DAN HAMBA
ADALAH BAGIAN DARI IBADAH
Sabda.org
11:12:00 AM
Peak
Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya Flora Call, adalah seorang wanita Jerman. Sedangkan ayahnya Elias Disney, adalah seorang keturunan Irlandia. Kehidupan keluarga Disney berpindah dari satu kota ke kota lain, karena Elias Disney, yang sebenarnya terpesona oleh dunia bisnis, tidak mempunyai kesesuaian diri dengan dunia itu dan seringkali mengalami kegagalan finansial.
Pada tahun 1906, keluarga Disney pindah ke daerah Marceline, Missouri, di tanah pertanian yang baru dibelinya. Walt Disney kecil menyukai kehidupan di daerah barunya tersebut. Selain itu, kehidupan di desa tersebut juga menghidupkan rasa sayangnya kepada binatang-binatang yang hidup di sekitarnya, seperti bebek, tikus, dan anjing. Kelak, ternyata hewan-hewan itulah yang membuat namanya menjulang. Dari sini, Walt Disney menarik pelajaran berharga yang dia terapkan sepanjang hidupnya, yaitu bahwa KEBAHAGIAAN AKAN TIMBUL DALAM DIRI KITA APABILA KITA MELAKUKAN SESUATU YANG BENAR-BENAR KITA SUKAI.
Kehidupan Walt Disney yang bahagia itu teryata hanya bisa dinikmati sesaat saja. Kegagalan panen yang berturut-turut membuat Elias Disney, ayahnya harus menjual ladang pertaniannya dan membeli sebuah perusahaan koran setempat yang kecil. Untuk menghemat biaya pegawai, Elias Disney mempekerjakan Walt Disney dan kakaknya Ray tanpa biaya. Setiap pagi pukul 3.30 dinihari Walt dan Ray sudah harus bangun untuk menunggu kedatangan truk pengangkut. Sesudah itu mereka harus menjalankan tugas harian mengantarkan koran kepada para pelanggan di kota. Kadang-kadang orang menjumpai Walt berjalan dengan kelelahan dan gemetar kedinginan dengan bawaan hampir seberat dua kali berat tubuhnya. Adakalanya cuaca begitu dingin, sehingga Walt harus berjongkok di sudut jalan sekedar untuk menghangatkan diri.
Seringkali Walt berpikir, apakah untuk hidup di dunia ini orang harus bekerja mati-matian sebagai budak dengan upah yang hanya bisa sekedar untuk bertahan hidup? Tidak adakah jalan lain untuk hidup? Bila Walt mengantarkan koran untuk para pelanggannya yang kebanyakan adalah orang kaya di kota, maka Walt juga mulai berpikir mengapa mereka bisa hidup mewah, sementara dirinya hidup serba kekurangan. Hal ini akhirnya melahirkan pelajaran kedua di dalam hidupnya, yaitu bahwa KEHIDUPAN ITU ADALAH SUATU PILIHAN. APAKAH KITA MAU HIDUP KAYA ATAU MISKIN, TERGANTUNG ATAS KEPUTUSAN DAN TINDAKAN KITA SEPENUHNYA SAAT INI.
10:41:00 AM
Peak
Bacaan Setahun : Zakharia 4-6
Nats : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya ... (Matius 6:11)
Bacaan : Filipi 2:1-11
At.mosphere Restaurant adalah restoran tertinggi di dunia karena berada di lantai 122 Burj Khalifa, Dubai (gedung tertinggi dunia dengan ketinggian 800 meter). Menu yang ditawarkan adalah makanan Eropa. Dan, para tamu disarankan memesan sebelumnya, agar pihak restoran bisa menghadirkan pengalaman khusus, yang membuat orang datang kembali. Ya, bagi orang-orang kaya baik di negara kaya, berkembang, maupun miskin makan bukan lagi masalah mengisi perut dengan makanan sehat, tetapi mencari kepuasan dengan makanan bergengsi. Harga tidak menjadi soal.
Saat ini, sebagian besar penduduk dunia masih bergumul dengan "makan apa hari ini". Sedangkan kelas menengah bergumul "makan di mana hari ini". Namun, orang kaya yang hanya 20%, tetapi menguasai 80% kekayaan dunia kerap bergumul "makan siapa hari ini". Kenyataan ini menunjukkan, betapa pentingnya setiap manusia mengalami kebesaran kasih Allah di dalam Kristus (Yohanes 3:16). Agar mereka mengalami hidup yang baru. Yakni hidup yang tidak berpusatkan kepada diri sendiri, tetapi berpusat kepada Allah dan memikirkan kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4). Seperti Kristus, yang rela mengesampingkan kepentingan-Nya sendiri, bahkan mengambil rupa manusia dan menjadi hamba. Agar oleh pengurbanan-Nya, Dia dapat memberi hidup baru bagi setiap orang yang mau menerima-Nya dan hidup bagi Allah (1:27-29; 2:5-11).
Mari kita periksa nafsu makan dan semua nafsu hidup kita hari ini; apakah itu untuk memuaskan kedagingan kita atau untuk memuliakan Bapa di surga --SST
APABILA TUHAN DAN SESAMA MENJADI YANG TERUTAMA
TUHAN AKAN MENJADIKAN HIDUP KITA BERGUNA DAN BERMAKNA
Sabda.org