Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

16 October 2009

Apartemen Lantai 60

Ada satu keluarga yang mengontrak rumah dan akhirnya membeli sebuah apartemen di lantai 60. Apartemen itu memakan waktu sangat lama dalam pembuatannya. Kemudian, tibalah hari yang dinanti. Apartemen dambaan telah jadi dan selesai dengan baik. Dengan semangat dan antusias mereka membawa banyak barang-barang untuk mengisi apartemen mereka. Mereka membawa surat kabar, pakaian, mainan, makanan, kompor, lemari pakaian, tempat tidur, peralatan makan, televisi, alat musik, sabun, teropong, dan banyak sekali barang lain.

"Nanti di atas, kita bisa nonton tv, main video game, masak terus makan masakan buatan sendiri, bisa bersantai sambil mendengarkan musik, bisa meneropong jauh, bersantai, mandi dulu, pokoknya enak deh..." demikian pikir mereka.

Sesampainya mereka di sana, mereka menemui developer. Ternyata, apartemen itu baru setengah jadi dan lift belum terpasang. Mereka sangat kecewa dibuatnya. Mereka ingin pulang ke rumah lama mereka, tapi kontrak mereka sudah habis. Dengan sangat terpaksa, mereka harus tetap naik ke atas sana dan tinggal di dalamnya menggunakan tangga darurat. Mereka naik membawa semua barang mereka menggunakan tangga darurat. tangga demi tangga dilalui, mereka terus maju dengan semangat membara.

Sesampainya mereka di lantai 25 mereka kelelahan, mereka makan dan minum dengan lahapnya. Lalu mereka melihat barang-barang mereka, semuanya utuh. Timbul sebuah pikiran untuk mengurangi barang bawaan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan meja telepon dengan teleponnya. "Toh diatas kita tidak perlu telepon atau pesan apa-apa," demikian menurut mereka.

Di lantai 30 mereka tinggalkan baju, mainan dan lemari pakaian mereka. "Toh kita masih memakai baju."

Lalu mereka terus melaju ke lantai 35, mereka masih mengeluh dan memutuskan untuk meninggalkan barang mereka lagi yaitu televisi dan radio serta compo. "Soalnya kita tidak perlu nonton tv, toh acara dan lagu-lagu yang kita punya itu-itu saja."

Teruslah mereka melaju sampai lantai 45, rasanya masih berat dan tidak menyenangkan. Maka mereka tinggalkan kompor dan bahan makanan yang mereka bawa. "Toh tadi masih kenyang makan banyak."

Lalu, di lantai 55 teropong dengan tripod yang sangat besar mereka tinggalkan begitu saja. "Toh di atas mau lihat apa, belum jadi semua tower yang lain."

Sesampainya di lantai 60, mereka masuk dan menyadari yang mereka miliki hanya sebuah kasur. Tidak ada jalan lain, mereka hanya ingin tidur karena tidak ada pilihan lain.

And so.... what's the point? Mungkin Anda bingung kenapa perumpamaan ini sangat panjang. Perjalanan itu melambangkan kehidupan. Tiap lantai yang ada, melambangkan umur. Dan Anda adalah keluarga tersebut. Barang-barang tersebut adalah mimpi Anda, barang-barang tersebut adalah perlambang tindakan Anda.

Di umur 25 Anda mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan Anda, tanpa sadar Anda telah mengeliminasi banyak sahabat potensial. Di umur 30 Anda sudah tidak memperhatikan penampilan dan melupakan hobi Anda akibat sulitnya bersaing. Di umur 35 Anda mulai melupakan kesenangan yang Anda dambakan di hari tua akibat kenyataan bahwa tabungan Anda tidak mencukupi. Di umur 45 Anda berhenti makan makanan yang Anda sukai akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan di usia 25 yang mulai berdampak buruk di usia ini. Di umur 55 Anda benar-benar melupakan keinginan menikmati hari tua dengan memandang indahnya hidup dengan menikmati apa yang Anda lewati, Anda mulai kuatir dengan masa depan anak Anda. Di umur 60, Anda menyesal tidak banyak yang Anda dapat akibat tidak ada mimpi yang direalisasikan. Anda hanya ingin cepat tidur selamanya, karena Anda sudah tidak bisa lagi makan makanan enak, Anda tidak memiliki "achievement" yang bisa dibanggakan, Anda tidak punya siapapun yang menjadi sahabat Anda, Anda tidak bisa menikmati hobi Anda di masa muda, kesehatan badan mengkuatirkan.

Hidup cuma datang sekali. Jadi pastikan, Anda akan berjuang untuk mencaoai mimpi-mimpi Anda! Jangan lepaskan, tapi usahakan. Jangan sampai kita kehabisan pilihan dalam menjalani hidup. *Dreaming is a freedom, so free your dreams*.

15 October 2009

Kualitas Hidup

Kolose 3:23 - "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 107; Yakobus 4; Yehezkiel 19-20

Martin Luther King Jr, pernah berkata, "jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi penyapu jalan, ia harus menyapu jalan seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven bermain musik, atau Shakespear menulis. Ia harus menyapu jalan dengan baik, sehingga semua pemilik rumah di surga dan bumi akan berhenti untuk berkata: disini hidup tukang sapu jalan besar yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik."

Pernyataan diatas mengajarkan kepada kita suatu kebenara, bahwa apapun yang kita kerjakan atau dimana pun kita ditempatkan haruslah kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini berarti bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, hal ini terkadang sulit untuk dilakukan khususnya bagi mereka yang sudah terbiasa memegang pekerjaan yang besar. Tetapi, mengenai hal ini Paulus memberikan nasihatnya.

image Dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose, Paulus mengingatkan agar mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka seperti yang untuk Tuhan. Apa artinya ini? Artinya setiap pekerjaan atau pelayanan yang diberikan kepada kita akan Tuhan minta pertanggungjawabannya. Bila kita memegang prinsip ini maka apa yang kita lakukan hasilnya pun tidak mengecewakan.

Orang-orang sekitar kita akan menilai setiap pekerjaan yang kita lakukan, bahkan bukan kita yang dinilainya, tetapi Dia yang hidup dalam kita. Baik buruknya hasil pekerjaan yang telah kita perbuat akan menyeret nama Tuhan ke dalamnya.

Oleh karena itu, marilah kita mulai menganggap setiap tugas, pekerjaan atau pelayanan yang diberikan kepada kita adalah anugerah dari Tuhan, sehingga ketika akan mengerjakannya, kita melakukan semuanya itu dengan sungguh-sungguh dan hati yang rela.

Keseriusan Anda melakukan pekerjaan menandakan seberapa besar arti Tuhan dalam hidup Anda.

Jawaban.com

Chicken a la Carte

14 October 2009

I Love Indonesia

Paris? No.. Ini Lapangan Banteng


Midnight at Hongkong? No it is Thamrin


Pedestrian in US? No.. Ini di Makassar


Shanghai? No.. Ini Mangdu (Mangga Dua)


Bandara di Eropa? Hmm...


New Zealand? Bukann ... pulau Komodo


Monaco? No... It's Bunaken


Serasa di Afrika... tapi Gunung Kidul


Seperti Universitas di Eropa


Mirip kota Gaza... padahal ... Medan


Hmm... Kayak Manhattan


Kayak di Singapura? Padahal Gramedia Surabaya loh..


Serasa di perkampungan Swiss


Serasa mau melintas ke negara bagian US? Padahal mau nyeberang Suramadu

Hal Sederhana

Matius 25:21 - "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 106; Yakobus 3; Yehezkiel 17-18

Suatu kali seorang anak kecil datang menghampiri ibunya, katanya seperti ini, "Ma, aku mau ngebantu papa membetulkan mobil itu, tapi aku gak tahu caranya. Aku kan tidak mengerti tentang mesin. Nanti bukannya membantu malah ngerusakin lagi." Sang ibu yang melihat keinginan besar dari anaknya menjawab, "Nih, kamu bawa gelas air kasih ke papa sana," Tanpa disuruh dua kali, ia pun berjalan perlahan-lahan sambil membawa segelas air.

Tidak berapa lama kemudian sampailah di samping ayahnya yang sedang bekerja. Namun, saking seriusnya ayahnya tidak menyadari kehadiran si anak. Tidak kehabisan akal, si anak pun menepukkan tangannya ke paha sang ayah dan benar ayahnya pun menoleh kepadanya. Dengan tersenyum, anak kecil ini menyodorkan gelas berisi air kepada sang ayah. Terkejut dengan apa yang dilakukan anaknya, sang ayah menerima gelas tersebut dan meminumnya.

Setelah meminum air tersebut, sang ayah pun mengucapkan kata-kata terima kasih kepada si anak, "terima kasih ya nak udah bawain papa air minum. Apa yang kamu lakukan telah membantu papa sehingga papa tidak kehausan lagi dan bisa menyelesaikan memperbaiki mobil yang sedang rusak ini".

Seringkali kita pun berpikir sama dengan yang anak kecil itu pikirkan. Kita berusaha keras mencari bagaimana menyenangkan hati Tuhan dengan giat dalam pelayanan mimbar atau persekutuan yang menghadirkan ribuan jiwa. Kita merasa dengan melakukannya semuanya itu kita telah membuatnya tersenyum. Namun, ternyata Dia tidak terlalu memperhatikan itu.

Yang membuat Allah tersenyum adalah ketika Anda dengan setia mencari wajah-Nya setiap hari; tidak bersungut-sungut ketika mendapat pekerjaan yang sepertinya remeh yang diberikan oleh orang di keluarga, kantor, maupun gereja Anda. Semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang-orang dunia, tetapi Dia memperhitungkannya.

Ukuran Tuhan menilai Anda adalah kesetiaan, hanya itu.

jawaban.com

13 October 2009

Yesus Palsu Di Siberia

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan - Markus 13:22

Ternyata fenomena orang yang mengaku sebagai nabi atau sejenisnya tidak hanya muncul di Indonesia saja, setelah sebelumnya ada seseorang yang mengaku sebagai Nabi Isa dari Cirebon beberapa saat lalu, baru-baru ini di Siberia juga muncul pengakuan serupa, seorang mantan polisi lalu lintas mengklaim sebagai Yesus Putra Allah yang merenkarnasi pada dirinya.



Mantan polisi lalu lintas ini mengklaim sebagai reinkarnasi dari Yesus. Dengan modal wajah yang dimiripkan dengan sosok Yesus yang banyak digambarkan di lukisan-lukisan, baik dari pakaian dan juga penampilan wajahnya, semakin membuat pria ini percaya diri dengan klaimnya tersebut. Adalah Sergei Torop mantan polisi lalu lintas di Siberia 2000 km dari Moscow saat ini sudah memiliki 5000 lebih pengikut. Pria 48 tahun ini sering mengadakan kebaktian bersama di desanya Petropavlovka, Siberia.






Ingin Sosok Torop sebetulnya muncul dan terlahir pada saat krisis kepercayaan ketikaruntuhnya rezim komunis di bekas negara pecahan Uni Sovyet tersebut, dan itulah momentum untuknya menjadi klaim orang yang dikultuskan banyak pengikutnya. Seorang nenek tua ini pun melalukan doa di hadapan foto Torop Torop memiliki 6 orang anak yang tinggal bersamanya dan seorang istri, kesehariannya selain memimpin kebaktian dan doa Torop juga menghabiskan waktunya untuk melukis. Dirinya mengkalim inilah kehadiran kedua Yesus setelah 2000 tahun penyaliban dimasa silam.

Masih bermunculan di dunia saat ini orang yang mengklaim dirinya nabi dan sejenisnya. Sebelum menjadi polisi lalu lintas Torop pernah menjadi tentara di Angkatan Darat Sovyet pada saat itu, dan setelah tidak menjadi polisi lalu lintas Torop menjadi pengangguran sampai akhirnya dia mengklaim dirinya sebagai Anak Tuhan. Sudah lebih dari 5000 orang menjadi pengikutnya bermula disaat krisis runtuhnya rejim komunis di Rusia. Para kritikus Russia menilai kehadiran Torop yang mengklaim dirinya sebagai Yesus tersebut sarat dengan kepentingan pribadi dan hal yang bersifat materialis. Beberapa waktu belakangan ini Torop melakukan kunjungan ke beberapa negara seperti Perancis dan Belanda serta Italia untuk memperluas pengikutnya dan dia di sponsori oleh gereja di daerahnya. (Sumber: Mail Online)

Download artikel ini di :
http://www.ziddu.com/download/6805267/InilahSosokYesusYangMunculDariSeberia.pdf.html

12 October 2009

Hak Yahudi Atas Tanah Israel

Banyak orang salah kaprah dgn mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi setelah Kuil Kedua mereka di Yerusalem dihancurkan tahun 70 M. Lalu menurut pengertian sejarah salah kaprah ini; 1.800 tahun kemudian, tiba-tiba orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Faktanya adalah: orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah air mereka selama 3.700 tahun. Bahasa nasional dan kebudayaan khas Yahudi tetap bertahan di wilayah itu.

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan empat hal:
1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham
2. Orang-orang Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu
3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina
4. Penguasaan daerah berdasarkan perang bela diri.

Istilah “Palestina” dipercaya diambil dari kata Filistine, yakni merujuk pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, Pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” diambil dari nama Latin ini.

Sejak th 1000 SM, ke-12 suku Israel sudah membentuk kerajaan pertama di Palestina. Raja kedua, yakni David, menentukan Yerusalem sebagai ibu kota. Meskipun akhirnya Palestina pecah jadi dua kerajaan, kemerdekaan orang Yahudi tetap berlangsung sampai 212 tahun. Jangka waktu ini hampir sama dengan lamanya kemerdekaan Amerika Serikat sekarang.

Bahkan setelah dihancurkannya Kuil Kedua di Yerusalem dan saat awal pengasingan, orang-orang Yahudi tetap hidup di Palestina dan beranak-pinak. Abad ke 9M, terdapat masyarakat Yahudi dalam jumlah besar di Yerusalem dan Tiberias. Abad ke 11M, masyarakat Yahudi berkembang di Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa dan Caesarea.

Abad ke 12, banyak orang Yahudi dibantai oleh para tentara Perang Salib, tapi mereka dapat berkembang lagi dalam dua abad selanjutnya dengan datangnya para rabi dan peziarah Yahudi dalam jumlah besar ke Yerusalem dan Galilea. Para rabi terkemuka membentuk masyarakat Yahudi di Safed, Yerusalem dan di daerah lain selama 300 tahun berikutnya. Awal abad ke 19 sebelum kelahiran gerakan Zionist modern, lebih dari 10.000 orang Yahudi telah hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

Ketika orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dalam jumlah besar di tahun 1882, kurang dari 250.000 Arab hidup di sana, dan kebanyakan dari mereka datang dalam dekade akhir. Palestina tidak pernah jadi suatu negara Arab yang berdaulat, meskipun perlahan-lahan bahasa Arab jadi bahasa yang paling banyak digunakan setelah penyerangan Muslim di abad ke tujuh. Tidak pernah ada negara Arab atau Palestina yang berdaulat di Palestina.

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo-American Committee di tahun 1946, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada “Palestina” dalam sejarah, sama sekali tidak.” Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an, yang disebut adalah “tanah suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang-orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Yerusalem di bulan Februari 1919 untuk memilih wakil-orang Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris, pernyataan berikut diumumkan: Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Commission yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina: “Tidak ada negara (Palestina)! Kata ‘Palestina’ itu diciptakan oleh Zionist! Tidak ada kata Palestina dalam Alkitab. Tanah air kami sejak berabad-abad merupakan bagian dari Syria.”

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “Palestina merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya,” secara politis, orang-orang Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.”

Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi ketua PLO, mengatakan pada Security Council: “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palestina adalah bagian selatan Syria.”

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

“Surat Tanda Lahir” Israel secara internasional disahkan oleh janji Tuhan dalam Alkitab; masyarakat Yahudi yang tinggal terus menerus di Israel sejak jaman Yoshua sampai saat ini; Deklarasi Balfour di tahun 1817; Mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang berhubungan dengan Deklarasi Balfour; partition resolution PBB tahun1947; diterimanya Israel di PBB tahun 1949; pengakuan atas negara Israel oleh sebagian besar dunia; dan yang terpenting dari semuanya, masyarakat yang diciptakan oleh orang-orang Israel selama berpuluh-puluh tahun berkembang menjadi suatu negara yang dinamis.

---------------------

The Jewish Claim To The Land Of Israel

A common misperception is that the Jews were forced into the diaspora by the Romans after the destruction of the Second Temple in Jerusalem in the year 70 A.D. and then, 1,800 years later, suddenly returned to Palestine demanding their country back. In reality, the Jewish people have maintained ties to their historic homeland for more than 3,700 years. A national language and a distinct civilization have been maintained.

The Jewish people base their claim to the land of Israel on at least four premises: 1) God promised the land to the patriarch Abraham; 2) the Jewish people settled and developed the land; 3) the international community granted political sovereignty in Palestine to the Jewish people and 4) the territory was captured in defensive wars.

The term "Palestine" is believed to be derived from the Philistines, an Aegean people who, in the 12th Century B.C., settled along the Mediterranean coastal plain of what is now Israel and the Gaza Strip. In the second century A.D., after crushing the last Jewish revolt, the Romans first applied the name Palaestina to Judea (the southern portion of what is now called the West Bank) in an attempt to minimize Jewish identification with the land of Israel. The Arabic word "Filastin" is derived from this Latin name.

The Twelve Tribes of Israel formed the first constitutional monarchy in Palestine about 1000 B.C. The second king, David, first made Jerusalem the nation's capital. Although eventually Palestine was split into two separate kingdoms, Jewish independence there lasted for 212 years. This is almost as long as Americans have enjoyed independence in what has become known as the United States.

Even after the destruction of the Second Temple in Jerusalem and the beginning of the exile, Jewish life in Palestine continued and often flourished. Large communities were reestablished in Jerusalem and Tiberias by the ninth century. In the 11th century, Jewish communities grew in Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa and Caesarea.

Many Jews were massacred by the Crusaders during the 12th century, but the community rebounded in the next two centuries as large numbers of rabbis and Jewish pilgrims immigrated to Jerusalem and the Galilee. Prominent rabbis established communities in Safed, Jerusalem and elsewhere during the next 300 years. By the early 19th century-years before the birth of the modern Zionist movement-more than 10,000 Jews lived throughout what is today Israel.

When Jews began to immigrate to Palestine in large numbers in 1882, fewer than 250,000 Arabs lived there, and the majority of them had arrived in recent decades. Palestine was never an exclusively Arab country, although Arabic gradually became the language of most the population after the Muslim invasions of the seventh century. No independent Arab or Palestinian state ever existed in Palestine. When the distinguished Arab-American historian, Princeton University Prof. Philip Hitti, testified against partition before the Anglo-American Committee in 1946, he said: "There is no such thing as 'Palestine' in history, absolutely not." In fact, Palestine is never explicitly mentioned in the Koran, rather it is called "the holy land" (al-Arad al-Muqaddash).

Prior to partition, Palestinian Arabs did not view themselves as having a separate identity. When the First Congress of Muslim-Christian Associations met in Jerusalem in February 1919 to choose Palestinian representatives for the Paris Peace Conference, the following resolution was adopted:

We consider Palestine as part of Arab Syria, as it has never been separated from it at any time. We are connected with it by national, religious, linguistic, natural, economic and geographical bonds.

In 1937, a local Arab leader, Auni Bey Abdul-Hadi, told the Peel Commission, which ultimately suggested the partition of Palestine: "There is no such country [as Palestine]! 'Palestine' is a term the Zionists invented! There is no Palestine in the Bible. Our country was for centuries part of Syria."

The representative of the Arab Higher Committee to the United Nations submitted a statement to the General Assembly in May 1947 that said "Palestine was part of the Province of Syria" and that, "politically, the Arabs of Palestine were not independent in the sense of forming a separate political entity." A few years later, Ahmed Shuqeiri, later the chairman of the PLO, told the Security Council: "It is common knowledge that Palestine is nothing but southern Syria."

Palestinian Arab nationalism is largely a post-World War I phenomenon that did not become a significant political movement until after the 1967 Six-Day War and Israel's capture of the West Bank.

Israel's international "birth certificate" was validated by the promise of the Bible; uninterrupted Jewish settlement from the time of Joshua onward; the Balfour Declaration of 1917; the League of Nations Mandate, which incorporated the Balfour Declaration; the United Nations partition resolution of 1947; Israel's admission to the UN in 1949; the recognition of Israel by most other states; and, most of all, the society created by Israel's people in decades of thriving, dynamic national existence.

Sumber : jewishvirtuallibrary.org

11 October 2009

Humor : Topik Pembicaraan Dalam Kencan

Seorang pemuda ingin mengadakan kencan pertamanya dengan seorang gadis. Pemuda ini agak gelisah dan bingung mencari topik pembicaraan waktu kencan itu. Ia meminta nasihat ayahnya.

Ayahnya menjawab, “Anakku, ada tiga topik pembicaraan yang selalu berhasil, yaitu tentang makanan, keluarga dan filosofi.”

Pemuda itu kemudian menjemput pacarnya dan mereka pergi ke sebuah kedai es krim. Mereka saling memandang untuk beberapa saat, sementara kegelisahan pemuda itu menjadi-jadi.

Tiba-tiba ia ingat akan nasihat ayahnya. Lalu memilih topik yang pertama.

Ia bertanya kepada gadis itu, “Apakah kamu suka sayur bayam?” Gadis itu menjawab, “Tidak,” kemudian keheningan berlanjut.

Setelah melewati beberapa saat yang tidak nyaman, pemuda itu ingat akan nasihat ayahnya dan mencoba topik yang kedua. Ia bertanya, “Apa kamu mempunyai saudara laki-laki?”
Lagi-lagi gadis itu menjawab, “Tidak!”. Dan keheningan berlanjut lagi.

Kemudian pemuda itu memainkan kartunya yang terakhir. Ia ingat akan nasihat ayahnya dan mengajukan pertanyaan ini, “Bila kamu mempunyai saudara laki-laki, apakah ia suka makan sayur bayam?”

* Download as PDF, please visit : http://www.ziddu.com/download/6851392/topikpembicaraandalamkencan.pdf.html

10 October 2009

Berlibur

I Yohanes 1:3 - "Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 102; Lukas 23; Yehezkiel 9-10

Adakah di dunia ini orang Kristen yang dapat berkata kepada Tuhan, "Tuhan, bolehkah saya berlibur sebentar saja untuk tidak berhubungan dengan Engkau? Saya kan sudah melayani Engkau selama ini, jadi boleh kan saya meminta satu hari saja untuk melakukan apa yang saya mau"? Saya percaya mungkin saja ada orang-orang seperti itu, tetapi saya hanya dapat berkata itu adalah sebuah pendapat yang sungguh konyol.

Mungkin mendengar hal ini, beberapa dari Anda mengapa saya mengapa saya mengatakan itu? salah satu alasan saya mengatakan itu adalah pendapat yang konyol adalah karena sesungguhnya perjalanan hidup kita bersama dengan Allah harus berlangsung terus menerus, setiap hari, bahkan lebih tepatnya lagi setiap saat. Jadi, tidak lah mungkin bila kita harus meminta izin kepada Tuhan untuk berlibur sementara.

Seorang pemain basket NBA, Grant Hill sempat mengutarakan mengenai bagaimana dia bisa menjadi seorang pemain yang profesional dan inilah salah tipsnya: "Saya tidak dapat libur berlatih selama satu minggu, sebab sehari saja saya berlibur, saya merasa keahlian saya semakin berkurang".

Begitu juga dengan kehidupan kerohanian kita. Jika kita sebagai orang-orang mengasihi Tuhan menginginkan untuk berlibur dari-Nya maka kita pun pasti akan merasakan sesuatu yang "berkurang" dari diri kita. Kita akan kehilangan tuntunan Firman-Nya dan persekutuan dengan-Nya yang kita rasakan melalui doa-doa kita. Bahkan bahayanya lagi, kita akan melangkah kepada kejatuhan.

Saya tidak tahu sudah berapa lama Anda menjadi anak Allah yang beriman dalam Kristus, tetapi yang jelas Anda haru selalu menjaga hubungan dengan Dia. Bukan hanya dengan Anda melakukan aktivitas-aktivitas rohani yang terlihat oleh orang-orang di sekitar seperti pergi ke gereja setiap minggu atau bersaat teduh setiap hari, tetapi juga dengan memelihara hubungan itu secara kontinu. Jadi, jika Anda ingin "berlibur" dalam memelihara hubungan Tuhan, ingatlah bahwa hal itu akan melemahkan langkah hidup Anda.

Agar kerohanian Anda tetap sehat, berjalanlah selalu bersama Yesus.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Kolose 4:6

"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." - Kolose 4:6

Humor : Babi Makan Apa?

Pada suatu hari datang petugas dinas kesehatan untuk memeriksa babi-babi disebuah peternakan. Maka bertanyalah petugas itu kepada pengusaha peternakan, “Tolong dijelaskan babi-babi ini dikasih makan apa saja ?”.

Pengusaha itu menjawab, “You tahulah… babi-babi ini setiap hali owe kasih sisa-sisa makanan sajalah…”.

“Wah , engga boleh donk. Mana sehat ?!?”, gertak petugas.

Pengusaha mulai kesal tahu maksud si petugas ini, “Okelah nanti owe pebaiki. sekalang ini ceban buat you beli loko.”

Petugas pergi dengan senang dapat sepuluh ribu. Sebulan kemudian datang petugas dengan pertanyaan yang sama. Pengusaha itu kali ini menjawab, “You tak pelu takut lah… babi-babi sudah owe kasih makan sedap-sedap setiap hari…”

“Wah gimana sich…rakyat masih banyak yang kelaparan koq babi dikasih makan enak !!!”, kembali petugas menjawab dengan muka garang.

Sekali lagi petugas kena disogok dengan cebanan lalu pergi. Sebulan berikutnya datang lagi si petugas ini, “Sekarang saya musti periksa dengan seteliti-telitinya, babi-babi ini dikasih makan apa saja?”

Dengan tegas dan nada keras si pengusaha menjawab, “Owe puciiing.. dikasih makan ini salah, dikasih makan itu salah…. Sekalang tiap babi owe kasi goceng-goceng sulu cali makan sendili-sendili dilual..”