Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 September 2009

Belajarlah Dari Pendahulu Anda

I Raja-raja 2:46 "Raja memberi perintah kepada Benaya bin Yoyada, lalu keluarlah Benaya, dipancungnya Simei sehingga mati. Demikianlah kerajaan itu kokoh di tangan Salomo."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 63; Markus 13; Hosea 6-7

Salomo pada masa pemerintahannya harus membuat beberapa keputusan kepemimpinan yang sukar tetapi sangat penting. Pertama, ia harus menangani orang-orang yang merencanakan untuk merebut kekuasaan, bahkan seorang saudaranya sendiri, Adonia, berusaha mendirikan kerajaannya sendiri.

Satu per satu, Raja Salomo, menemukan jenis kesetiaan orang-orang yang berhubungan dengannya, kemudian menyingkirkan semua yang menolak bekerja sama dengannya.

Salomo tahu bahwa ia tidak pernah dapat bekerja dengan para pemberontak, tidak peduli betapa pun pengaruh atau strategis tampaknya mereka. Raja muda itu memastikan bahwa lingkungan dalamnya hanya akan terdiri dari orang-orang setia yang ingin bekerja sama dengannya.

Daud telah melihat masalah-masalah ini muncul di permukaan. Ia tahu bahwa ia sedang menempatkan penerusnya dalam suatu keadaan kepemimpinan yang berbahaya, tetapi dua kali dengan penuh keyakinan ia menyatakan bahwa Salomo akan tahu apa yang harus dilakukannya.

Daud mengerti bahwa orang-orang yang terdekat dengan Salomo akan sangat menghalangi atau memperbaiki tingkat keberhasilannya. Salomo mengerti hal yang sama dan dengan bijaksana bertindak berdasarkan keyakinan itu.

Orang-orang yang hidup sebelum Anda adalah alat Tuhan untuk mengajar dan membentuk Anda menjadi seperti yang Dia rancangkan dari semulanya

Jawaban.com

Ada Keindahan Di Dalam Kelemahan

Dear teman-teman,

Dibawah ini adalah pergumulan yang kuhadapi dengan suamiku setelah kami dikaruniakan dua anak lelaki dan satu anak perempuan. Mungkin pengalamanku ini berguna bagi isteri yang memiliki suami yang cepat marah, dan sangat tidak komunikatif dengan saya dan anak-anak sampai suamiku meninggal dunia. Hingga saat ini saya bersyukur karena untuk melewati kehidupan yang sulit ini, Tuhan berikan kepadaku kesabaran dan menerima suamiku dengan segala kelemahannya.

Kami hidup disebuah rumah kecil didaerah Bekasi Selatan dan kami tergolong keluarga yang tidak mampu. Suamiku bekerja sebagai tukang tambal ban. Dengan modal sebuah kompresor, dia menghidupi kami. Saya sendiri adalah sebagai ibu rumah tangga yang biasa. Saya menggunakan hasil tambal ban untuk belanja kami dan untuk menyekolahkan anak-anak saya. Seringkali saya terlambat membayar uang sekolah anak-anakku karena kadang-kadang yang menambal ban ketempat kami sepi, sehingga hanya cukup untuk belanja makan satu hari saja. Pada saat sepi, suamiku selalu marah-marah kepada saya dan anak-anak karena tidak bisa menghasilkan tambahan untuk membantunya. Sedikit saja dia tersinggung dia melampiaskan kemarahannya kepada anak-anak dengan memukul. Anak-anakku sangat menderita dengan perangai suamiku.

Kelemahan suamiku, sekalipun dia salah, tidak ada yang boleh membantahnya. Bila dibantah, maka dia akan memukul kami dengan kayu. Sikap saya sebagai isteri hanya diam, dan hanya berdoa kepada Tuhan agar suamiku dijamahNYA. Kemudian setiap minggu saya selalu pergi ke gereja mendengar Firman Tuhan. Suatu ketika anak saya yang paling tua tidak terima perlakuan suamiku yang kasar. Dia tidak betah tinggal dirumah kalau suamiku masih dirumah. Jadi dia sering pergi dengan teman-temannya hingga larut malam, dan pagi harinya baru datang dan langsung tidur.

Saya selalu ingatkan kepada anak-anak agar menghormati ayahnya, sekalipun ayah mereka berlaku kasar. Kalau anak-anak mau pergi, dari rumah, saya selalu sarankan agar pamit dari ayahnya dan jangan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hatinya.

Suatu ketika, anakku mengejutkan kami karena pengakuannya telah menikah dengan seorang wanita dan sudah berbadan dua. Suamiku makin marah, dan melarang mereka untuk tinggal dirumah. Anakku dan isterinya datang kerumah memohon ampun agar keluarga mau menerima mereka terutama menantu saya sampai menangis memohon kehadapan kami agar mau menerima mereka. Isteri anakku ini berlatar belakang lain suku dan lain agama. Lalu saya bicara kepeda mereka, “Saya mau menerima kalian, bila kalian berdua mau mengikuti permintaanku”.

Permintaanku adalah:
1. Kamu dan isterimu harus mau mengakui kesalahan dihadapan Tuhan dan bertobat untuk setia mengikuti perintah-NYA.
2. Anak yang dikandunganmu nanti harus dibabtis.

Mereka menyetujui usulan saya,lalu saya bawa mereka berdua ke gereja untuk mendapatkan katekisasi (Manopoti dosa). Setelah berlangsung dua bulan pengajaran katekisasi mereka berdua dibabtis lalu menyusul anaknya(cucuku) dibabtis. Suamiku tetap pada pendiriannya, tidak mau menerima kehadiran sang menantu. Saya terus berdoa minta pertolongan Tuhan, agar kami diberikan jalan keluar atas masalah anak kami ini. Setelah satu bulan berlangsung tidak ada komunikasi diantara kami, suamiku jatuh sakit keras, lalu meninggal dunia.

Kepedihan meliputi keluarga kami dan sebagai anak tertua, maka anak sulungku mengambil alih pekerjaan suamiku sebagai tukang tambal ban. Dia sangat tekun bekerja dan menantuku juga sangat baik perangainya membantu anakku. Hatinya cukup mulia dengan membantu membiayai adik-adiknya sekolah keperguruan tinggi. Usaha tambal ban anakku semakin maju dan saya sangat bersyukur akan kepahitan yang saya alami, karena membawa keindahan tersendiri bagi keluarga kami. Putriku paling bontot diterima di tahun ini di Universitas Indonesia jurusan biologi.

Karena rasa syukurku,lalu aku menyanyikan lagu pujian dari Pingkan Tuna yang berjudul:

"Indah Rencanamu"

Indah Rencanamu Tuhan,didalam hidupku
Walau ku tak tau dan  tak kumengerti semua jalanMu.
Dulu kutak tau Tuhan,IBerat kurasakan
Hati menderita,namun tak berdaya menghadapi semua.
Tapi kumengerti sekarang,Kau tolong padaku.
Kini ku melihat dan kumerasakan Indah rencanamu.
Inilah yang sering kunyanyikan bila saya menghadapi kesulitan hidup.
Kesaksian diatas adalah nyata dan kutuliskan dimilis ini agar kita selalu berpengharapan sekalipun kita memiliki kekurangan maupun kelemahan2 .Tuhan tidak hanya memakai kekuatan kita untuk melayani,tetapi Dia juga memakai kelemahan kita.

Walz

31 August 2009

Melayani Dengan Keterbatasan

II Korintus 12:9

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 62; Markus 12; Hosea 4-5

Ketika belum genap berusia empat tahun, Itzhak Perlman terserang polio, sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya. Tetapi, ia lalu mengimbangi kehilangan ini dengan belajar biola. Bertahun-tahun kemudian, ia menghibur banyak orang dengan musik yang ia mainkan. Ia memang kehilangan fungsi kakinya, tetapi permainan musiknya telah memberi sayap. Itu adalah sebuah contoh devosi yang sungguh menggugah.

Beberapa pelayan Allah pun telah menunjukkan devosi yang serupa kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan kemampuan tertentu, tetapi kemudian tergugah untuk mengembangkan kemampuan pelayanan yang lain. Misalnya, ketika William Booth, pendiri bala keselamatan, menyadari bahwa ia akan buta, ia tidak putus asa.

Dengan berpandangan positif, William berkata kepada teman-temannya bahwa ia telah melayani Kristus ketika ia masih bisa dapat mempergunakan daya penglihatannya, dan ia akan tetap melayani Dia sekuat tenaga meskipun mengalami kebutaan.

Hal apa yang memotivasi orang Kristiani untuk tetap melayani dan mengikuti Yesus sebaik dan sebisa mungkin meskipun mereka mengalami kehilangan atau menghadapi kesulitan? Seperti Abraham, jawabannya adalah iman.

Anda harus percaya bahwa segala keadaan yang tidak mengenakkan yang Anda terima di bumi karena Kristus itu tidak sebanding lah dengan apa yang Dia telah persiapkan untuk Anda yang setia kepada-Nya sampai akhir, yakni "kota..yang direncanakan dan dibangun oleh Allah" (Ibrani 11:10). Itu adalah "tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air surgawi" (ayat 16a).

Kiranya Roh Kudus senantiasa memberikan kepada Anda kekuatan untuk memuliakan Kristus, entah apa pun keterbatasan yang Anda miliki saat ini.

Keadaan apa pun yang memenjarakan Anda tidak dapat membatasi karya Allah melalui diri Anda

Jawaban.com

Greatest Love

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?"

Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!"

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah. Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu..

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.

"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?",tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang!

"Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu? "

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya"

Written by Elia Stories

Greater Love Has No One Than This, Than To Lay Down One's Life For His Friend

GBU aLL ^^

30 August 2009

Jangan Berpikir Seperti Dunia Ini

II Korintus 10:4-5

"Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 61; Markus 11; Hosea 1-3

Jika Anda berpikir seperti dunia berpikir, maka akhirnya Anda akan bertindak seperti dunia bertindak. Pikiran yang tidak terkekang menghasilkan tindakan yang tidak terkekang. Jadi, kendalikanlah pikiran Anda dengan patuh terhadap Alkitab.

Aturlah pikiran Anda sesuai dengan firman Tuhan. Firman itu Roh dan kehidupan. Bila pikiran Anda dipenuhi dengan firman Tuhan, maka kemauan Anda menjadi kuat untuk menggunakan wibawa dalam menaklukkan setiap pikiran fasik dan kebiasaan buruk.

Jangan biarkan iblis menipu Anda untuk mengorbankan kemuliaan Tuhan dalam hidup Anda demi kepuasan diri dan dosa sesaat saja. Kekanglah pemikiran Anda. Renungkanlah Firman dan bukannya pikiran-pikiran yang serakah dan duniawi. Arahkan pandangan Anda kepada Yesus, pencetus, dan Penyempurna iman Anda.

Arah pikiran Anda adalah penentu arah tindakan Anda

Jawaban.com

Humor : Jalan Ke Sekolah

Sebuah keluarga baru bangun kesiangan, dan anak mereka yang berumur enam tahun ketinggalan bis sekolah.

Sang ayah, meski terlambat kerja, harus mengantarnya ke sekolah.

Karena ia tidak tahu jalannya, ia menyuruh anaknya untuk mengarahkannya.

Mereka naik mobil melewati beberapa blok sampai sang anak menyuruhnya belok untuk pertama kalinya,

kemudian beberapa blok lagi sebelum belokan kedua. Perjalanan sampai 20 menit -- namun ketika tiba di sekolah,

ternyata sekolahnya dekat dengan rumahnya.

Sang ayah, dengan agak jengkel, bertanya kepadanya mengapa ia malah mengajak berputar-putar.

Sang anak menjelaskan, "Itu tadi jalan yang biasa dilewati bis sekolah, Ayah. Itu satu-satunya jalan yang aku tahu."

29 August 2009

Weekly Scripture – Wahyu 3:21

"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21

Tidak Ragu Untuk Bertanya

Ayub 3:11 : "Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 60; Markus 10; 2 Tawarikh 31-32

Allah tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan, keraguanlah yang dibenci-Nya. Selama berjam-jam, tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar menuduhkan kepada Ayub semua jenis kejahatan.

Mereka mengatakan kata-kata bodoh yang sering dinyatakan kepada orang-orang yang menderita. Tetapi Ayub ingin membawa masalahnya kepada Tuhan sendiri! Hanya pada akhir kitab itu Allah berbicara dan walaupun Ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Ayub, Ia tidak menghukum Ayub karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Allah menegur Ayub hanya karena satu hal: meragukan karakterNya yang benar.

Anda seharusnya tidak pernah takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, tetapi Anda juga tidak boleh menuntut jawabannya. Tidak peduli betapapun keadaan Anda, Anda harus menolak godaan untuk meragukan sifat kudus Allah. Jika Anda, seperti Ayub, melalui bibir yang gemetar mengakui kedahsyatan kemuliaan Allah maka nantikan berkat-berkatNya yang luar biasa itu tercurah dalam kehidupan Anda.

Seberapa berani seseorang untuk bertanya kepada orang lain menunjukkan seberapa dalam hubungan antarkeduanya. Bagaimana hubungan Anda dengan Tuhan saat ini?

Jawaban.com

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Bu, aku mengasihimu!”

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi."

Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos."

Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan."

Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu."

Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.

Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu. ....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya. ..tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

28 August 2009

Kelihatan Mustahil

Mazmur 5:4 "Tuhan pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 59; Markus 9; 2 Tawarikh 29-30

Kurang lebih dari 40 tahun yang lalu Penginjil terkenal A.W Tozer pernah berkata, "Peradaban modern sekarang begitu kompleks sehingga hampir tidak memungkinkan bagi kehidupan rohani untuk mendapatkan tempat." Ia sudah menuliskan kalimat itu jauh sebelum email, internet televisi, dan teknologi "hemat waktu" lainnya, merampas sebagian besar waktu kita. Apalagi sekarang, saat dunia sudah jauh lebih maju lagi dengan teknologi yang tumbuh dan berkembang dengan pesatnya.

Namun sebenarnya, kita jangan terjebak dengan hal-hal teknologi semacam itu saja, karena sesungguhnya teknologi pun dapat digunakan untuk kegiatan rohani. Jadi sesungguhnya bukan hanya teknologi masa kini dan kompleksnya budaya modern saja yang mengganggu kehidupan rohani. Tetapi, sering kali hambatan-hambatan yang sangat mengganggu kita dalam menyediakan waktu untuk Allah bukan berasal dari luar diri kita, tetapi justru dari dalam diri kita sendiri. Kitalah yang terkadang enggan meluangkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan, atau berdoa secara pribadi dan membaca Alkitab, oleh karena kesibukan masing-masing.

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat melakukan hal yang tampaknya mustahil itu? Pertama, kita harus mengakui kegagalan kita dalam meluangkan waktu untuk Allah. Kedua, kita harus menyadari bahwa meluangkan waktu bersama Allah adalah hal yang esensial untuk kehidupan rohani kita. Hal itu seharusnya sama penting seperti keharusan kita untuk mendapatkan makanan yang cukup setiap hari. Ketiga, kita harus menyusun rencana. Sebagai contoh, di dalam Mazmur 5:4, kita dapat melihat bahwa Daud mempunyai jadwal khusus bersama Allah tiap hari.

Dengan ketiga konsep tersebut tertanam dalam benak, teduhkan hati dan pikiran Anda dan mulailah untuk menikmati sukacita yang datang karena Anda telah menyediakan diri untuk Tuhan. Percayalah, Anda pasti sanggup untuk melakukan apa yang kelihatannya mustahil itu.

Waktu yang diluangkan bersama Tuhan adalah waktu terbaik yang perlu Anda miliki

Jawaban.com

Indah Pada Waktunya

“Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Kalimat tersebut mungkin sering kita dengarkan. Mungkin ada beberapa orang yang tidak mempercayai ucapan tersebut. Berbahagialah orang yang mempercayai ucapan tersebut karena itulah yang benar-benar terjadi. Saya akan menceritakan kepada Anda tentang kesaksian sepenggal bagian dari hidup saya menyangkut hal itu.

Saya ingin memulai cerita saya dengan kelulusan SMA. Saya sangat bersyukur sekali karena bisa lulus dari Ujian Nasional. Mungkin sebagian dari Anda hanya berpikir bahwa ini cerita biasa tentang murid yang akhirnya lulus. Sekali-kali tidak. Ini adalah cerita melebihi itu.

Minggu-minggu menjelang UAN, merupakan minggu yang menegangkan. Ketegangan itu bertambah dengan kebijakan pemerintah untuk mengujikan pelajaran IPA/IPS juga di dalam UAN. Betapa mengejutkan pada saat itu. Betapa tidak! Angkatan kamilah yang pertama setelah sekian lama ujian nasional hanya mengujikan 3 mata pelajaran dasar.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi guru-guru dan kepala sekolah menjadi sangat khawatir. Mereka memberi kami latihan soal yang banyak. Bahkan kerap kali memarahi kami yang kerap kali malas. Mereka memotivasi kami pula untuk mengerjakan sebaik-baiknya dan juga berdoa. Banyak sekali kata-kata yang mendorong kami untuk semangat untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kami. Bahkan sering diadakan acara berdoa bersama meminta kepada Tuhan agar kami semua bisa lulus ujian nasional.

Ada hal yang lucu dan sangat kontradiktif menurut saya. Saya ingat mereka juga berkata bahwa sebaiknya murid-murid yang pintar memberi jawaban kepada murid yang lain. Bahkan kepala sekolah pernah mengumpulkan kami dan memberi tahu perkiraan tentang bagaimana posisi nomor urut murid dengan letak kursi dan meja kami saat ujian berlangsung. Tak luput juga, beliau menyatakan agar kami menyusun strategi untuk saling bekerja sama dengan melihat posisi tempat duduk kami. Aku bahkan tercengang dalam hati bisa-bisanya seorang pemimpin sekolah kami memperbolehkan perbuatan tercela itu.

Beginikah moral dari sekolahku? Pikirku saat itu. Di satu sisi terlihat benar-benar percaya sepenuhnya bahwa Tuhan akan menyertai saat UAN berlangsung. Di sisi lain, tampak keraguan penyertaan Tuhan saat UAN berlangsung dengan menyarankan kami untuk bekerja sama.

Minggu silih berganti, tibalah ujian nasional itu. Hari-hari itu tak terlupakan. Ketegangan dan kekhawatiran muncul dalam benak. Namun, aku tetap memegang prinsip untuk mengerjakan soal-soal itu dengan usahaku sendiri. Begitu banyak godaan saat itu. Banyak temanku yang mendapat bocoran jawaban dari sekolah lain, ada pula yang saling mencontek, ada yang membeli jawaban ujian entah dari mana, dan sebagainya. Tapi aku tidak terpengaruh.

Setelah sekian bulan, akhirnya berita kelulusan tiba. Itu adalah hari penuh sukacita bagiku. Aku pun datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Aku melihat nilai teman-temanku yang berbuat curang saat ujian. Aku termasuk murid yang nilainya tidak setinggi mereka. Namun, aku tidak berkecil hati karena aku bangga bisa lulus dengan usahaku sendiri dalam hati.

Setelah lulus SMA, aku pun ikut suatu ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Aku mendaftar suatu PTN nomor satu di Indonesia dengan jurusan yang juga tidak mudah dimasukkan. Beratus-ratus orang berlomba-lomba mendapatkan kursi pendidikan dan hal itu pun menciptakan suatu tekanan untukku. Tapi, aku pun memegang prinsip untuk jujur saat ujian itu.

Kira-kira satu bulan kemudian, pengumuman tiba dan aku BERHASIL mendapatkan perguruan tinggi dengan jurusan yang kuinginkan. Aku sangat bersuka cita sekali bisa lolos ujian. Begitu luar biasanya juga sukacita yang dirasakan keluargaku.

Saat SMA, aku menyadari bahwa aku bukanlah murid yang pintar. Nilai-nilaiku kerap kali mengecewakan. Bahkan kerap kali dianggap remeh oleh teman-temanku. Aku ingat temanku pernah secara terang-terangan meragukan kemampuanku untuk bisa lolos dari ujian perguruan tinggi negeri. Maka aku menyadari bahwa kisahku ini merupakan karya nyata Allah dalam hidupku. Allah telah memampukan dan memberi kekuatan padaku untuk dapat melampaui suatu hal yang mustahil.

Aku ingat sekali ada temanku yang nilai Ujian Nasional-nya jauh melebihi nilaiku. Namun dia melakukan kecurangan saat ujian berlangsung. Dia juga mencoba ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang sama persis kupilih. Namun dia gagal dalam ujian tersebut. Untukku, ini merupakan keadilan yang Allah berikan kepadaku. Di satu sisi, aku dengan kemampuan akademis yang tidak begitu setinggi dirinya pada akhirnya bisa lolos ujian yang penuh persaingan. Sedangkan dia yang merupakan murid yang lebih pintar dariku malahan tidak dapat lolos ujian itu.

Aku menganggap kisah hidupku yang satu ini adalah bukti nyata dari “Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Tuhan pasti akan menyertai orang yang menurut pada apa yang Allah kehendaki. Allah pasti memampukan dan menjadikannya indah tepat pada akhirnya. Allah menyertai aku karena aku tetap memegang prinsip untuk jujur. Lalu, Allah pun menjawab permintaan doaku untuk bisa lulus SMA dan lulus ujian seleksi perguruan tinggi negeri.

Aku berharap cerita ini dapat memotivasi Anda untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang baik walaupun dunia tidak berprinsip. Mungkin pada awalnya merupakan saat-saat yang sulit. Namun percaya, Allah tidak akan diam. Sang Maha Kuasa akan melihat Anda dan merancangkan suatu akhir yang penuh sukacita dan damai sejahtera. Percayalah!

Oleh : Kathy S