Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 August 2009

Semangat Peter

Peter adalah seorang anak yang baru saja bertobat. Walaupun baru berusia 12 tahun, ia ingin sekali bisa melakukan sesuatu untuk menyaksikan kabar baik, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ayahnya menyuruh Peter untuk berdoa dan meminta pertolongan Tuhan untuk mewujudkan kerinduan Peter.

Seminggu telah lewat. Namun rasanya belum ada cara yang tepat untuk bersaksi. Siang itu di gereja, Peter sedang menunggu ayahnya. KEtika ia melihat ke arah halaman, ia melihat rumput yang sudah meninggi tidak teratur. Tiba-tiba saja ia berkeinginan untuk menjadi sukarelawan memotong rumput di gereja. Ketika ia mengutarakan keinginannya, niat itu langsung disetujui oleh bapak pendeta.

Hari Sabtu pagi, Peter berangkat ke gereja untuk memotong rumput. Berbekal mesin pemotong yang dipinjamnya dari Pak Smith, tetangganya. Peter mulai bekerja seorang diri. Tidak ada yang menegurnya. Tidak ada yang memperhatikannya. Peter terus bekerja dengan tekun.

Sore harinya, pak pendeta tampak terkejut melihat halaman gereja. Memang tidak serapi jika dikerjakan oleh tukang, tetapi apa yang Peter lakukan sebagai seorang bocah berusia 12 tahun sudah membuatnya tercengang. Halaman itu sekarang terlihat bersih. Keesokan harinya, pak pendeta sudah mengadakan rapat dengan seluruh kepemimpinan gereja dan mengusulkan agar apa yang sudah dilakukan Peter, bisa menjadi sebuah program di komunitas itu. Hal itu disetujui.

Minggu berikutnya, gereja mengadakan kerja bakti untuk memotong rumput di komunitas sekitar. Hal itu tentu saja disambut dengan baik oleh warga disana. Lingkungan menjadi baik dan juga menghemat ratusan dollar biaya kebersihan. Hal ini kemudian terdengar oleh Walikota. Ia sangat senang kemudian menyampaikan kisah Peter ini ke Gubernur negara bagian. Minggu berikutnya, gereja di negara bagian itu mengadakan kerja bakti memotong rumput di daerah mereka masing-masing.

Dimulai dari kerinduan Peter untuk menjadi berkat, ia mau melakukan hal yang sepele, tetapi Tuhan bekerja di dalamnya, sehingga kisah tentang Peter ini terus bergulir meluas dan terus diingat disana. Kamu tidak perlu melakukan hal besar untuk bisa membawa kabar baik kepada banyak orang, tetapi kamu bisa memulainya dari hal kecil yang sederhana, dan biarlah Tuhan melakukan bagian yang lebih besar.

Harapan Memberikan Kekekalan

Amsal 23:18 : "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 36; 2 Tesalonika 3; Yesaya 25-26

Salah satu pemberian terbesar yang dapat diberikan para pemimpin kepada orang-orang di sekitar mereka adalah harapan. Jangan pernah meremehkan kekuatannya. Winston Churchill pernah ditanya seorang reporter tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler. Tanpa berhenti sejenak pun ia menjawab: "Senjata Inggris terbesar dari dahulu adalah harapan."

Orang akan terus bekerja, berjuang, dan berusaha jika mereka mempunyai harapan. Harapan mengangkat moral orang. Harapan memperbaiki citra diri mereka. Harapan memberikan kekuatan lagi pada mereka. Harapan membangkitkan keinginan mereka.

Tugas seorang pemimpin adalah menjaga harapan tetap tinggi, menanamkannya dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Para pengikut Anda akan mempunyai harapan hanya Anda memberikannya kepada mereka. Dan Anda akan mempunyai harapan untuk diberikan jika Anda menjaga sikap yang benar.

Menjaga harapan berasal dari melihat potensi dalam setiap keadaan dan tetap berpikir positif walaupun keadaan tidak demikian. Sebagai anak-anak Tuhan, bersyukurlah Anda karena Tuhan memberikan pengharapan dalam hidup Anda dan pengharapan itu membawa Anda kepada kekekalan.

Hidup di dalam Tuhan pasti penuh pengharapan dan hukum itu berlaku selama-lamanya.

Jawaban.com

04 August 2009

Kesaksian Nur Emmah

Sebuah kisah sejati yang sangat dahsyat dan menyentuh hati.

Bagaimana Nuremmah harus melindungi dan menjaga keluarganya dari teror dan ancaman pembunuhan, setelah ia memutuskan mengikut jalan Kristus. Apalagi ia bersuamikan Tionghoa dan keluarganya pemeluk agama yang kuat. Tetapi wanita Madura kelahiran Madura 1 Desember 1965 ini tak pernah menyerah, baginya satu-satunya Juruselamat cuma Yesus. Seperti dituturkan jemaat GBIS Bunga Bakung Pamekasan ini kepada GLORIA.

Saya lahir dari sebuah keluarga Madura yang taat menjalankan perintah agama. Doktrin yang saya terima dari bapak begitu jelas. Saya boleh menikah dengan siapa saja, apapun rasnya, asal yang bersangkutan seiman dengan saya. Maka ketika hati saya tertambat pada seorang pria Tionghoa yang berbeda agama dengan saya, tiba-tiba saja sebuah masalah besar menghadang di depan mata. Apalagi sebagai wanita yang masih sangat muda waktu itu, saya lebih menuruti kata hati dan perasaan. Ya, perasaan yang tengah tumbuh subur oleh cinta. Sebenarnya sebagai anak yang berbakti, saya tak hendak menentang kehendak orangtua. Tapi yang satu ini, dorongan hatiku agaknya lebih kuat dari berbagai larangan maupun resiko paling buruk yang mesti kuhadapi. Maka mesti ditentang disana-sini, kadang juga diancam, aku pantang mundur untuk memadu cinta dengannya.

Tetapi kekangan dan tekanan keluarga rupanya jauh lebih kuat. Keinginan orang tua kami cuma satu: kalau aku hendak menikah dengan pacarku, maka dia yang tidak seiman dengan kami mesti memeluk kepercayaan yang kami anut. Mungkin demi kasihnya yang begitu besar kepadaku, dia pacarku, akhirnya menuruti kemauan orang tuaku. Begitulah, setelah semua persyaratan yang diajukan bapak dipenuhi, kamipun menikah pada 27 Juli 1985, tepat pada hari ulang tahun pacar saya. Tak lama kemudian buah hati pertama kami lahir, kami beri nama Nova. Ia cantik dan pintar.

Lalu menyusul adiknya, Agnes. Nah saat Agnes berusia 2 tahun, tepatnya pada 1989, saya mengalami mimpi aneh. Dalam mimpi itu seakan-akan saya berada di padang pasir yang tandus dan panas. Rasa haus menyiksa kerongkongan. Sepi, tak seorangpun ada di sana. Jeritan minta tolong seperti lenyap disapu angin padang pasir. Tiba-tiba dalam mimpi itu, saya seperti melihat kilat. Bersamaan dengan itu muncul sesosok laki-laki berambut panjang dan berjubah. Di bagian belakang jubahnya terlihat warna biru langit yang segar. Sayapun melambaikan tangan kearahnya, berharap pertolongan. Mendadak orang itu berkata, "Saat ini kamu sedang diambang kematian. Jika ingin selamat, kamu harus percaya kepada-Ku. Karena jalan keselamatan, hanya ada didalam-Ku. Akulah Tuhanmu. Apakah kamu masih belum percaya? Akulah jalan kebenaran hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, maka ia akan selamat. Ikutlah padaKu!"

Saya kontan terbangun. Anehnya keadaan kamar saya waktu itu ikut terang benderang. Padahal lampu penerangan di kamar saya hanya 15 watt. Saya jadi tercenung, mengenangkan semua mimpi yang baru terjadi. Saya ingat dengan jelas wajah laki-laki berjubah yang menemui saya di dalam mimpi itu.

Ah, benar! Wajahnya itu kerap dibawa suami saya dari Surabaya, enam tahun silam. Ketika itu suami saya membawa gambar Yesus dan sebuah Alkitab. Melihat semua itu emosi saya jadi terbakar, gambar Yesus saya injak-injak dan saya sobek. Dengan penuh kemarahan saya berkata kepada suami saya, "Saat ini juga kita cerai....!" Mungkin takut atau tak ingin ribut-ribut, sejak itu suami saya tak pernah lagi membawa gambar Yesus ke rumah.

Demikian pula dengan Alkitab, saya tak pernah melihatnya untuk yang kedua kali. Kendati begitu mimpi di padang pasir terus mengusik pikiran saya. Sampai kira-kira sebulan kemudian, saya bertengkar hebat dengan suami. Jujur mesti saya akui kalau suami saya sangat baik dan sabar. Jika terjadi pertengkaran di antara kami, ia memilih mengalah atau menghindar. Saya sendiri aduh ..... acapkali kesetanan.

Dengan kedua tangan saya mencekiknya. Sesudah itu saya berendam di kamar mandi hingga berjam-jam. Begitu juga yang terjadi malam itu, usai bertengkar dengan suami, saya langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Takut terjadi sesuatu dengan saya, suami mencoba menggedor-gedor pintu. "Kalau kamu marah, jangan begitu. Itu namanya menyiksa diri. Lebih baik kau pukul saja aku .... biar lega", bujuk suami saya. Mendengar kata-katanya yang begitu sejuk, kemarahan saya akhirnya mencair. Tiba-tiba muncul perasaan iba kepadanya. Keluar dari kamar mandi, saya langsung membaringkan tubuh ke atas tempat tidur. Malam itu suhu tubuh saya meninggi dan mendekati tengah malam saya mengalami kejang-kejang. Suami saya kebingungan melihat kondisi saya. Dipanggilnya seluruh keluarga, termasuk tante-tante saya. Lalu dibacakan doa-doa untuk saya. Tapi keadaan saya makin memburuk. Perut saya mengeras, dan bibir saya terlihat biru. Samar-samar terdengar suami saya berkata, "Ma, kami semua mencintai mama. Aku dan juga anak-anak, sangat sayang pada mama. Apakah mama tidak ingin sembuh, tidak ingin hidup dan mendampingi kami lagi? Tolong ma, bertahanlah. Cobalah mama mengumpulkan semangat. Sebutlah nama Yesus!"

Saat itu saya merasakan segalanya hampir berakhir. Tapi hati kecil saya belum rela meninggalkan anak-anak dan suami. Dan dalam himpitan demikian, sayapun menyebut nama yang disarankan suami saya. Yesus! Bahkan dengan cara berdoa semampu saya, saya minta tolong Yesus untuk disembuhkan. Lalu perlahan-lahan saya merasakan seluruh syaraf saya mengendur. Saya tidak tegang lagi. Saya bisa melihat dengan sempurna. Saya melihat suami saya tersenyum dan memanggil saya.

Sebuah panggilan yang lembut dan mesra. Kendati begitu saya belum juga mau bertobat. Dan malamnya, saya bermimpi lagi. Dalam mimpi itu seolah-olah saya hendak tenggelam di laut. Lalu tiba-tiba muncul sesosok wajah seperti dalam mimpi yang dulu. Wajah Yesus. "Kamu masih belum percaya kepada-Ku? Akulah Tuhanmu, Akulah jalan, kebenaran dan hidup", katanya. Sayapun mengangguk.

Lalu saya diangkat-Nya. Keesokan harinya saya mulai membuka Alkitab yang disembunyikan suami saya. Ketika pertama membuka, saya temukan bunyi kalimat : "Akulah Tuhanmu. Akulah jalan, kebenaran dan hidup". Pembaca yang seiman, meski dengan sembunyi-sembunyi saya tahu kalau selama ini suami saya ternyata masih rajin ke gereja. Agar kepergiannya tidak saya ketahui, biasanya ia ke gereja dengan menyamar, hanya mengenakan sandal jepit, kaus oblong dan Alkitab kecil diselipkan di dalam saku.

Agaknya ia takut ketahuan keluarga saya. Mula-mula saya kerap berkata Alkitab itu najis. Tapi waktu itu saya buka, saya mendapat firman itu lagi. Saya bilang, "Ya Tuhan, kok saya memperoleh ayat itu lagi?". Saya tutup Alkitab itu dan besoknya saya buka kembali. Namun lagi-lagi ayat itu yang saya temukan. Saya sampai berpikir waktu itu, "Kok ayatnya ini semua? Apa tidak ada bacaan lain?" Padahal Alkitab Perjanjian Baru itu tebal. Saya jadi penasaran, dan akhirnya mulai membukanya dari yang pertama.

Sejak saat itu saya jadi tekun mendalami Alkitab. Tapi gengsi saya masih menggunung. Malu diketahui suami, semua itu saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Saya mulai membanding-bandingkan mana ajaran yang paling benar. Saya bahkan pernah baca dua kitab suci sekaligus dan mencoba membandingkannya. Roh Tuhan rupanya bekerja dalam jiwa saya. Setelah sadar bahwa Alkitab merupakan kebenaran Firman Allah, maka saya mencoba berkata kepada-Nya: "Tuhan, saatnya saya bertobat dan berlutut di hadapan Engkau". Ya, sejak itu Tuhan mulai berkarya dalam hidup saya. Saya berani bilang pada suami, "Kamu boleh ke gereja, tapi pakai sandal jepit dan jangan sampai kelihatan tetangga".

Tetapi seperti pepatah, "Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga", begitulah yang terjadi pada kami. Aktifitas kami berdua ke gereja akhirnya ketahuan juga. Sejak itulah keluarga kami mulai mengalami masa penganiayaan. Tiga tahun kami mengalami pergulatan yang menyesakkan. Bahkan dua anak saya, pernah diancam akan dimasukkan ke sumur. Setiap pagi saat saya membuka toko, di depan toko saya temukan banyak kotoran manusia terserak dimana-mana. Bahkan di atas kotoran itu pernah ditancapkan sebuah salib dan diberi komentar "Lihatlah Tuhanmu lagi tidur". Atau "Seperti inilah Tuhanmu".

Polisi agaknya melihat kami sedang diteror dan diancam, karena itu mereka mulai menjaga toko kami. Kami sendiri sudah pasrah, dan hanya menggantungkan semua perkara kepada Tuhan. Puncaknya rumah kami pernah dikepung dan hendak dibakar massa. Akan halnya bapak, beliau yang begitu benci kepada saya pernah mengizinkan orang-orang untuk menghabisi kami semua. Begitu juga dengan tante-tante, mereka bahkan pernah bilang pada bapak, "Lebih baik nggak punya anak dari pada kamu punya anak menjadi kafir". Yang lebih tragis, sejak itu toko saya menjadi sepi. Paling banyak saya hanya mendapat pemasukan Rp. 2 ribu sehari.

Ketika anak ketiga kami lahir, ia tak pernah merasakan bermain dengan anak-anak sebayanya di kampung. Mereka ditolak masuk kampung. Bukan itu saja, anak-anak juga dicemooh, dikatakan , "Kristen ...Kristen". Sudah tak terhitung paha anak saya disulut rokok. Atau rambutnya dipangkas tak beraturan. Sejak itu saya melarang anak-anak keluar rumah. Ajaibnya, meski keluarga kami mengalami tekanan yang begitu dahsyat, ternyata diam-diam adik saya mengikuti jejak kami. Prosesnya nyaris sama, yakni setelah ia diselamatkan Tuhan dari sakitnya. Tetapi sejak mengikuti jalan Kristus ia harus membayar dengan mahal, penganiayaan yang dialaminya lebih berat. Suatu hari adik saya bahkan hendak dibunuh. Pedang dan clurit sudah melingkar di tubuhnya. Saya yang mendengar laporan itu lalu berkata pada suami, "Pa, jika aku mati, aku rela karena kematianku demi Yesus. Aku titip anak-anak padamu. Sekarang, aku harus berangkat menolong dan menyelamatkan adikku".

Ketika saya berangkat air mata bercucuran membasahi pipi. Di tengah perjalanan mulut saya tak pernah lepas sedetikpun dari doa. Begitu saya sampai di lokasi tempat adik saya hendak dihabisi, orang-orang tercengang melihat saya. Sebab dari mulut saya terus meluncur doa yang saya kutip dari dua kitab suci sekaligus. Dan meski hati ini tergetar melihat tubuh adik saya basah kuyup oleh minyak tanah, mulut saya tetap melantunkan doa-doa pada Yesus.

Tuhan yang penuh kasih itu menjamah kami dengan hangat. Adik saya dilepas massa. Dan kamipun berangkulan. Lalu kepada adik, saya minta dia untuk tinggal di rumah kami. Saya telah membuktikan kekuatan Yesus. Oleh karena itu saya tidak takut mati karena Yesus. Saya tidak takut mati demi Yesus.

"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia"  (Yakobus 1 : 12)

Sumber : Elia Stories

Negara Tuhan

Lukas 18:27 : "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 35; 2 Tesalonika 2; Yesaya 23-24

Pernahkah dari Anda menyesal dan berkata "Mengapa saya di lahirkan di negara ini?" Jujur, saya pernah melakukannya. Saya mengatakan hal tersebut waktu saya belum mengenal Tuhan dan rencana-Nya dalam hidup saya secara pribadi.

Ketika itu, saya berpikir bahwa tidak ada yang dibanggakan dari negara ini. Korupsi merajelela, birokrat yang bobrok, pemerintah terlalu banyak bicara, dan hal-hal negatif lainnya. Saya merasa bahwa Tuhan salah menjadikan negara Indonesia. Saya sudah mengambil sikap bahwa Indonesia tidak dapat diubah.

Berjalannya waktu dan mulai mengenal Tuhan, pikiran saya pun diubahkan. Tuhan mengajarkan saya bahwa tidak ada negara yang terbentuk tanpa seizin dan campur tangan-Nya. Selalu ada maksud yang indah ketika suatu bangsa atau negara diciptakan. Begitu pun dengan negara Indonesia.

Adalah sebuah mukjizat ketika negara Indonesia ada di bumi ini. Siapa yang menyangka negara yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan ras ini dapat terbentuk? Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, mustahil hal ini dapat terjadi.

Tuhanlah yang bekerja atas negara ini. Dia yang bekerja dari awal mulanya, Dia juga yang menyertai Indonesia hingga sampai kesudahannya. Jadi, tidak ada satu pun kondisi yang tidak dapat diubah di negara ini karena Tuhan sanggup melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak dan rancangan-Nya.

Sebuah bangsa ada bukan karena keinginan manusia semata, tetapi Tuhanlah yang merancangkan semuanya itu

Jawaban.com

03 August 2009

Pemimpin Yang Dapat Dipercaya

I Samuel 3:19-20 : "Dan Samuel makin besar dan Tuhan menyertai Dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan."

Bacan Kitab Setahun : Mazmur 34; 2 Tesalonika 1; Yesaya 21-22

Pernahkah Anda berpikir apa yang memberikan kepercayaan begitu besar dari orang lain? Jika ia berbicara, orang mendengarkan.

Keberhasilan Samuel dimulai saat ia masih seorang anak kecil di bawah bimbingan Eli. Allah berbicara kepada Samuel pada malam hari, kemudian ia berbicara bagi Allah kepada Eli. Walaupun pesan Allah kepada Eli keras, Samuel mengatakan kebenaran dalam kasih. Perjumpaan ini memulai suatu pola yang panjang bagi Samuel.

Segera, bangsa Israel mencari Samuel untuk mengucapkan kata-kata pengarahan masa depan mereka. Mereka memerlukan pertolongan untuk mengambil kembali Tabut Perjanjian. Mereka memerlukan strategi melawan orang Filistin. Mereka akhirnya mencari izin darinya untuk memahkotai seorang raja.

Pengaruh seorang nabi terus bertumbuh. Pengaruh itu begitu besar sehingga saat Saul gagal dalam kepemimpinannya, Samuel menyingkirkan dia. Bayangkanlah, mempunyai satu-satunya otoritas untuk memecat raja! Samuel memperingatkan, meneguhkan, memperbaiki, bernubuat, mengingatkan, dan mengajar bangsa itu. Ia mengatakan kebenaran, dan ia mengatakannya dalam kasih.

Anda pun dapat menjadi pemimpin seperti Samuel atau pemimpin yang takut akan Tuhan yang ada yang ada saat ini. Hanya saja apakah Anda sudah melakukan apa yang para tokoh tersebut lakukan? Mereka mendapatkannya dari sebuah hubungan dengan Tuhan yang dibangun hari demi hari. Jadi, ketika mereka berbicara, otoritas dari Tuhan lah yang mereka pegang sehingga segala sesuatu yang mereka katakan atau nyatakan pasti terjadi.

Untuk memperoleh kepercayaan dari manusia, dapatkan kepercayaan Tuhan terlebih dahulu karena Dia-lah Penguji yang akan menilai apakah Anda bisa dipercaya atau tidak

Jawaban.com

Jungkat Jungkit

Waktu kecil aku suka sekali bermain di taman. Biasanya permainan yang disediakan di taman umumnya selalu ada permainan seperti ayunan, putar-putar, perosotan dan jungkat jungkit. Nah, di antara semuanya itu aku paling suka main jungkat jungkit, mainan yang biasanya terbuat dari sebalok besi atau kayu, yang di kedua sisinya bisa di duduki.

Sebaliknya jungkat-jungkit dimainkan oleh orang yang berat badannya seimbang, kalau tidak maka permainannya kurang seru. Naik turun karena seorang yang lain kadang berada di atas, kadang di bawah, karena ada penumpang di tengahnya. Yang serunya adalah ketika kita berada di atas. Banyak hal yang kita lihat ketika berada di atas. Pandangan yang lebih luas. Tetapi untuk berada di atas lagi, kita harus kembali berada di bawah dulu. Kita tidak bisa ingin di atas terus dan kita tidak bisa bermain sendirian. Harus ada orang lain sebagai penyeimbang untuk bisa menopang berat badan kita sehingga kita bisa terus bermain.

Begitulah persahabatan, keduanya saling menyeimbangi. Tidak ada yang lebih dari keduanya. Ketika yang satu ada diatas, dia akan mengangkat yang di bawah. Ketika yang satu ada di bawah, dia akan diangkat ke atas. Untuk itulah seorang sahabat ada, agar kita terus bisa berjalan bersama.

Semakin lama jalinan persahabatan, semakin dapat kita ketahui apakah dia ataupun diri kita adalah seorang sahabat sejati. Sahabat adalah seseorang yang bukan hanya menegur tapi juga mau ditegur, seseorang yang bukan hanya mengajar tapi juga mau diajar, seseorang yang bukan hanya ingin dimengerti tapi juga mengerti, seseorang yang mau menerima masukkan, saran, kritik, walaupun mungkin itu hal yang menyakitkan.

Seorang sahabat tidak berpura-pura baik, berpura-pura senang, atau berpura-pura mendukung jika tahu sahabatnya salah. Tetapi sahabat tidak akan meninggalkan ketika ia tahu temannya salah. Ia akan terus mendukung dan menopang dalam keadaan yang sulit. Karena itulah saat ketika yang diatas menjadi penyeimbang yang di bawah.

01 August 2009

Weekly Scripture – 1 Timotius 6:17-19

"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." - 1 Timotius 6:17-19

31 July 2009

Rantai Kebaikan

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya.

Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong Anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.” Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya

Kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan. Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu :

“Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan : “Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.””

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $100 lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan k ita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!

Kirimkan kepada teman-teman anda!

* Teman baik itu seperti bintang-bintang dilangit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. *

Selanjutnya Apa?

Kisah 16:10 : "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana."

Bacaan Kitab Setahun : Mazmur 31; 1 Tesalonika 3; Yesaya 15-16

Bagi Paulus kesuksesan merupakan sebuah ‘sasaran bergerak'. Setelah selesai membobol suatu kota dan membentuk komunitas Kristen di sana, Paulus bergerak ke kota lainnya untuk memberitakan Injil dan membangun komunitas Kristen berikutnya.

Sebagian besar staganasi (kemandekan) para pemimpin, terjadi karena mereka tidak menyadari bahwa visi Tuhan bersifat progresif (berkembang). Pada waktu kita mencapai suatu cita-cita yang Tuhan taruh di hati kita, tentu kita sangat bersukacita. Success means right man in the right place at the right time (Keberhasilan ialah orang yang tepat, berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat). Namun yang sering terjadi ialah: kita berada di tempat itu terlalu lama, sehingga tempat itu tidak lagi menjadi ‘the right place' bagi kita.

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengajarkan dengan jelas bahwa ‘God is Moving and Christianity is a movement' (Tuhan itu bergerak dan Kekristenan merupakan sebuah pergerakan). Waktu kita gagal menangkap pergerakannya Tuhan yang sulit diprediksi, maka kita akan menjadi orang-orang Kristen yang "basi". Menjadi orang Kristen yang basi artinya orang tersebut hanya bingung dengan apa yang terjadi atau menjadi penonton kegerakan. Perlu diingat, yang mendapat hadiah dalam sebuah pertandingan bukanlah penonton, melainkan pemain.

Nicholas Murry Butler (Dekan Colombia University) pernah mengatakan bahwa ada 3 macam orang/pemimpin: pertama, Orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi ; kedua, Orang yang takjub dan terpukau dengan apa yang sedang terjadi; ketiga/terakhir, Orang yang membuat sesuatu terjadi.

Setelah selesai dalam misi yang Tuhan berikan, jangan merasa puas diri. Ajukan pertanyaan kepada-Nya: "Selanjutnya apa Tuhan?" Tangkap isi hati-Nya, lalu jadilah orang terdepan dalam kegerakan Tuhan atas generasi ini.

Tuhan tidak pernah berhenti berkarya lewat hidup Anda. Teruslah menjadi alat kemuliaan nama-Nya di bumi ini !

Jawaban.com

30 July 2009

Humor : Seputar Update Status FB

Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang Mie Ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya. Karena penasaran, diriku pun bertanya, “Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son.. mie ayamnya siji maning sooon.."), sedang apa kok asik bener di pojokan?”, tanyaku.

“Eh mas ganteng... (satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!...”

“Weehhh... njenengan fesbukan juga to??”, tanyaku heran.

“Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?!... Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass.. “

GLEK!! Kalah gw

Gw yang sering naik Kereta ke jawa aja gak tau kalo ada yang namanya Hermawan Kereta Jaya

“Emang mas statusnya apa?”, tanyaku penasaran

“Nih mas aku bacain : Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan... takutnya anda obesitas... segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason : Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya..”

GUBRAK!!

Dua kosong untuk mas jason...

Gw yang uda lama fesbukan aja ga bisa bikin status se-atraktif dia. Tapi ada yang aneh pas kulirik ke henpon yang dia pake aku kira henponnya blekberi atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan Selidik punya selidik, ternyata henponnya lawas bin jadul.

HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM, “Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas) Gimana caranya??”

“Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri? jawab dia datar”

“Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?”

“Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati... Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya, Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali, murah to...”

Mendadak kepalaku pusing. Bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga, aku limbung mendengar jawaban spektakuler dari mas jason...

BRUK!!

“Lho mas.. mas... jadi beli mie ayam ndak...kepriben iki?”

MAU UPDATE STATUS GRATIS PAKE TRI (Tri Ambarwati ) fufuufufuff....

MAU...??? MAU..??? MAU..???

Nikmatilah Hidangan Firman

Amsal 4 : 20-21 : Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 30; 1 Tesalonika 2; Yesaya 13-14

Begitu Anda menjadikan firman Tuhan sebagai kata akhir dalam hidup Anda, maka langkah pertama menuju kemenangan atas serangan musuh ialah pergi pada firman dan berpegang pada janji-janji Tuhan mengenai situasi Anda.

Perhatikanlah kata "Pergilah pada Firman." Memang baik untuk memasukkan Firman ke dalam ingatan. Tetapi janganlah itu menggantikan pembacaan Firman setiap hari.

Pikirkanlah tentang itu begini. Tidak ada manfaatnya bagi seorang yang lapar untuk membayangkan rasanya kentang. Bahkan tiada gunanya sekalipun dia dapat mengingat rasa kentang itu dengan sempurna. Hal itu juga berlaku untuk firman Tuhan. Memang penting untuk menyimpannya dalam ingatan, tetapi juga perlu untuk membiarkan roh Anda menikmatinya sebagai makanan rohani. Ada kuasa dalam membaca Firman dan membiarkannya masuk ke dalam telinga Anda. Itulah cara Firman masuk ke dalam hati Anda, sehingga Anda dapat hidup olehnya.

Jadi, janganlah hanya memikirkan tentang Firman, tetapi bacalah itu. Pergilah menemui janji-janji yang dapat menangani situasi Anda. Nikmatilah hidangan janji-janji itu dan jadilah kuat.

Firman Tuhan itu berisi janji-janji. Oleh karenanya, raih dan terimalah hal tersebut dalam kehidupan Anda !!!

Jawaban.com