Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 January 2009

Weekly Scripture – Mazmur 23

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. – Mazmur 23

Seekor Gajah

Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga berlibur ke Lampung, sekedar untuk melihat dan mencoba menunggang gajah-gajah di sana. Menyaksikan mahluk terbesar yang ada di muka bumi ini merupakan hal yang sangat mengagumkan. Gajah adalah hewan mamalia yang lembut juga sangat kuat tenaganya. Seekor gajah jantan memiliki kekuatan dan mampu untuk menumbangkan sebuah pohon dan mengangkat batang kayu gelondongan hanya dengan menggunakan belalainya.

Satu hal yang mengejutkan adalah tidak adanya kandang untuk gajah. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah. Mengapa bisa begini? Bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri. Yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi. Sekarang, apakah Anda pikir gajah tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon. Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar di kakinya?

Jawaban yang saya dapatkan dari para pawang gajah adalah dengan membiarkan gajah-gajah tersebut percaya bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak kecil. Ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut. Ketika ingin melarikan diri, tali itu akan menggenggam kaki gajah dan dia akan jatuh di atas tanah. Tidak jera, sang gajah akan berdiri dan mencoba kembali. Dia akan berlari menuju induknya hanya untuk mendapatkan kaki yang terikat dan badan yang terentak ke tanah. Setelah mengalami kesakitan yang berulang-ulang, suatu ketika, sang gajah tidak akan berusaha menarik rantai lagi. Pada saat itu terjadi, para pawang tahu bahwa gajah tersebut telah terkondisi untuk terperangkap sepanjang hidupnya.

Saya benar-benar tertarik sekali dengan cerita sang pawang gajah, dan ketika saya menyaksikan bagaimana mahluk kuat ini diamankan hanya dengan rantai tipis yang seharusnya dengan mudahnya dapat diputuskan oleh sang gajah. Analogi cerita di atas adalah saya menyaksikan, bagaimana orang-orang yang saya temui tiap hari mengalami keterperangkapan yang sama dengan keterbatasan keyakinan mereka dan kebiasaan yang dengan mudah dapat diubah namun tidak mereka lakukan. Sebagai manusia, kita sama seperti gajah dengan berbagai macam potensi untuk mendapatkan mimpi apapun yang kita inginkan, dari menjadi seorang jutawan sampai menjadi orang yang dapat membuat perbedaan di dunia. Namun, cukup banyak orang yang dengan kemampuannya tidak berani mengambil tindakan karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Mereka kuatir bahwa yang mereka lakukan akan gagal total.

Bisa jadi sewaktu muda, mereka gagal dan jatuh berkali-kali sama seperti bayi gajah tersebut. Mungkin sewaktu mereka muda, orang tua mereka mengatakan mereka malas dan bodoh. Mungkin teman-teman mereka menjuluki mereka si kuper. Mungkin guru mereka pernah mengatakan mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Sebagai hasil dari keadaan masa lalu, orang-orang akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun.

Sama seperti gajah tersebut, mereka berpikir bila aku tidak bisa melakukannya di masa lalu bagaimana bisa aku melakukannya sekarang? Di masa lalu aku seorang yang pemalas, jadi bagaimana bisa aku menjadi orang pekerja keras. Di masa lalu aku tidak percaya diri, bagaimana aku bisa percaya diri sekarang. Di masa lalu aku seorang yang menangkap pelajaran dengan lambat, sekarang bagaimana aku bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Di masa lalu aku tidak bisa berbicara dengan baik, bagaimana aku bisa sekarang?

Apa yang tidak dilihat oleh orang-orang ini adalah bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan. Mereka tidak menyadari sama seperti yang dialami gajah tersebut, bahwa sebenarnya mereka bukan orang yang sama lagi. Sang gajah tidak menyadari di masa lalu dia tidak memiliki kekuatan seperti yang ia miliki sekarang. Saya ingin Anda tahu bahwa tiap hari Anda akan bangun menjadi orang yang berbeda. Orang yang semakin bertambah ilmu, pengalaman dan orang yang bijaksana. Tahukah Anda bahwa jutaan sel di tubuh kita mati setiap hari dan digantikan dengan yang baru.

Bila Anda telah membiarkan keyakinan dan kebiasaan yang lama merantai diri Anda, bukankah sudah saatnya menggunakan tenaga dan kemauan Anda sekarang untuk melepaskan diri dari penjara ketidakmampuan dan melangkah menuju kebebasan, sukses dan kemapanan yang memang berhak kita dapatkan.

"CARI! dan Anda akan mendapatkannya. Hidup adalah untuk mencari. Jika Anda tidak mencari, Anda akan stagnan. Diam di tempat adalah langkah mundur, waktu ataupun dunia tidak akan menunggu Anda. Jadi cari, atau mati secara perlahan lahan” - Dato Vijay Eswaran -

“Jika Anda membatasi pilihan hanya pada apa yang tampaknya mungkin atau masuk akal, Anda telah melepaskan diri dari apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan, dan yang tertinggal hanyalah kompromi dan keterpaksaan” - Robert Fritz -

09 January 2009

Pisang Goreng

Ini kisah nyata yang benar terjadi. Meskipun sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, kisah ini menjadi kisah turun menurun di kalangan Mahasiswa Sekolah Alkitab Lawang - Jawa Timur.

Aturan yang sangat ketat di asrama membuat uang menjadi tidak bernilai di sekolah tersebut. Mereka tidak diijinkan membeli makanan di luar kampus kecuali bila dikirim atau diberi oleh jemaat. Banyak mahasiswa yang menggunakan waktu diantara jam penginjilan dan visitasi untuk mampir ke warung terdekat untuk sekedar membeli bakso, soto atau minum es.

Dari sekian banyak jemaat yang mereka layani ada seorang nenek tua bernama mbah Ginuk, meski umurnya udah lebih dari 70 tahun, ia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara dan harus bekerja sebagai tukang cuci seminggu dua kali dengan gaji Rp. 1,000,- per kunjungan. Setiap seminggu sekali ia selalu memberikan 15 potong pisang goreng untuk bekal bagi mahasiswa yang sedang praktek penginjilan di desanya sebagai bekal untuk dibawa ke asrama. Pada mulanya, para mahasiswa menganggap ini suatu pemberian yang menyenangkan dan mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi dengan si pemberi berkat itu. Hingga suatu hari mereka mendapat kabar kalau mbah Ginuk meninggal dunia karena sakit. Seminggu setelah mbah Ginuk dikubur, ketika para mahasiswa sedang melakukan praktek penginjilan di desa itu mereka berpikir bahwa tidak akan ada lagi orang yang memberi mereka makanan. Ternyata, salah satu penduduk desa tersebut datang menghampiri mereka sambil menyerahkan bungkusan berisi 15 potong pisang goreng untuk dibawa pulang. Usut punya usut, ternyata mbah Ginuk sebelum meninggal telah menitipkan sejumlah uang ke penjual pisang goreng tersebut. Sejak saat itu mereka menyadari betapa mulianya persembahan yang dilakukan oleh mbah Ginuk bahkan sebelum mati pun ia masih tetap memikirkan "memberi" untuk orang lain.

Cerita tersebut bisa menjadi cermin bagi kita :
1. Kalau kita memberi dari kelebihan kita itu suatu hal yang biasa, tapi belajarlah memberi dari kekurangan kita dan kita akan melihat betapa pemberian kita bisa menjadi berkat yang besar bagi orang lain.

2. Tuhan lebih menghargai pemberian dalam jumlah kecil yang mungkin juga tidak berarti di mata manusia ( cuma pisang goreng ) tapi diberikan dengan hati tulus ikhlas daripada persembahan mewah yang diberikan dengan pamrih.

3. Ingatlah bahwa kalau kita memberi pada sesama yang membutuhkan, berarti kita memberi pada Tuhan yang menciptakan manusia.

4. Belajarlah memberi dari kekurangan kita, dan kita akan mengetahui bahwa Tuhan yang kita sembah itu bukan Allah yang suka ingkar janji. Tuhan akan memberkati kita dengan berlipat kali ganda sesuai dengan janjiNya bahkan tingkap - tingkap langit akan dibukakan bagi kita yang percaya kepadaNya.

5. Ingatlah pada hukum Tabur-Tuai, apa yang engkau tabur di masa sekarang itulah yang kelak akan engkau tuai di masa mendatang.

08 January 2009

Mawar Kuning

Aku masuk ke sebuah supermarket tanpa ada niat untuk membeli sesuatu. Akupun tidak lapar. Rasa pedih karena ditinggalkan suami yang tercinta yang baru meninggal dalam usia 37 tahun masih amat terasa. Dan supermarket ini mengandung begitu banyak kenang-kenangan yang manis.

Pasalnya, waktu masih hidup, Rudy seringkali menemaniku ke supermarket ini. Setiap kali ia berpura-pura memisahkan diri dariku dengan alasan untuk mencari sesuatu yang khusus. Aku tahu apa maksudnya. Aku hampir selalu menemukan dia berjalan di lorong toko dengan tiga tangkai bunga mawar berwarna kuning dalam tangannya.

Rudy tahu bahwa aku amat suka dengan bunga mawar kuning.

Dengan hati dipenuhi kepedihan, aku hendak membeli beberapa barang keperluan dan selanjutnya meninggalkan toko itu. Pasalnya, berbelanja di toko menjadi berbeda sekali setelah ditinggalkan suami terkasih.

Sambil berdiri di dekat penjualan daging, aku mencari sebungkus daging steak yang sempurna dan langsung ingat, betapa Rudy suka makan steak.

Tiba-tiba seorang wanita datang di sampingku. Rambutnya pirang, langsing dan manis dengan pakaiannya yang berwarna hijau muda. Aku mengamati, ketika ia mengambil sebungkus T-bone steak yang besar dan meletakkannya ke dalam keranjangnya. Kemudian, ia menjadi ragu-ragu, dan mengeluarkan lagi T-bone steaknya dari keranjangnya. Ia memutar balik untuk meninggalkannya, namun kemudian mengambil lagi sebungkus T-bone steaknya.

Ia tahu bahwa saya sedang mengamatinya lalu berkata dengan senyum, “Suamiku amat suka T-Bone steak, namun, terus terang, mengingat harga-harganya, aku tak tahu”

Aku menelan emosiku kembali dan menatap matanya yang biru muda. “Suamiku baru meninggal delapan hari yang lalu,” aku bercerita kepadanya. Dengan menatap bungkusan steak yang berada dalam tangannya, aku bergumul untuk menguasai emosi dalam suaraku dan berkata, “Belilah steak itu untuk suamimu. Dan nikmatilah setiap saat selama Anda berdua masih dapat bersama”.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan aku melihat emosi melalui matanya, ketika ia akhirnya meletakkan bungkusan steak itu di keranjangnya lalu kemudian pergi. Aku juga berbalik dan menuju ke produk susu. Di sana aku berdiri untuk mengambil keputusan apakah akan membeli susu murni yang sebanyak seperempat liter atau lebih. Kemudian aku menuju ke bagian es krim. Setelah meletakkan es krimnya dalam keretaku, aku menuju ke depan ke bagian kasir.

Aku melihat terlebih dulu pakainnya yang berwarna hijau muda itu untuk kemudian mengenali wanita itu yang sedang menuju ke arahku. Dalam lengannya ia membawa suatu bungkusan. Di wajahnya terlihat senyuman manis yang amat menawan. Ia terus mendekatiku sambil menatap aku sampai ke dalam mataku. Ketika dia lebih mendekat, aku melihat apa yang berada di lengannya dan air mata mulai membuat pandanganku kabur.

“Ini untukmu,” katanya sambil meletakkan tiga tangkai bunga mawar kuning yang panjang di dalam pelukan lenganku.

“Bila Anda sampai di bagian kasir, mereka tahu bahwa bunga-bunga itu sudah saya bayar.”

Ia mencondongkan diri ke depan dan menciumku di pipi, kemudian tersenyum lagi. Ku ingin bertanya kepadanya apa yang ia lakukan dan apa arti bunga mawar bagiku, namun aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, dan ketika ia meninggalkan aku, air-mataku mengaburkan pandanganku.

Aku mengamati bunga-bunga mawar yang indah itu yang terletak di dalam bungkus yang hijau dan semuanya kelihatannya begitu tak realistis. Bagaimana dia bisa mengetahuinya?

Tiba-tiba jawabannya begitu jelas. Aku tidak sendirian. “O, Rudy, kamu tidak melupakan aku, bukan?”, bisikku dengan disertai tetesan air dalam mataku.

Ia masih berada di sampingku dan wanita itu adalah malaikatnya. Bersyukurlah setiap hari akan apa yang kaumiliki dan siapakah Anda.

Renungan :
Jangan pernah merasa sendirian apabila kita telah ditinggalkan orang yang sangat kita sayangi dan kasihi pulang ke rumah Bapa. Tuhan akan datang melalui orang yang tidak kita kenal untuk menghibur kita dan iman kita.

Tuhan Memberkati!

Sumber : Reflecta

07 January 2009

Sign of The Times

One day Queen Victoria visited a paper mill owned by one of her subjects, and the owner was happy to show her through the great plant, explaining in detail the different processes of manufacture. During the journey through the factory she was taken into a large room filled with rags. They were in bins, in bales, and in huge piles on the floor. Some of them had been brought in by ragpickers and were filthy and dirty.

These were being sorted and processed by the workmen.

“Do you make paper of these?” the queen inquired.

“Yes, our best paper is made from rags,” the owner explained. She seemed to be in deep thought, then revealed what had been going through her mind. “But how can these dirty rags ever be made into clean white paper?”

“We have washes,” the guide explained, “which remove all the dirt and grime. We have chemical processes too, Your Majesty, by which every bit of color is removed from even these red rags.”

A few days later the queen was surprised to find on her desk a neatly-wrapped parcel, which on opening she found contained some of the whitest, most beautiful paper she had ever seen. On each sheet were her name and a watermark of her likeness. There was also a note from the man who had shown her through the paper mill.

“Will the queen be pleased to accept a specimen of my paper, with the assurance that every sheet was manufactured from the rags which she saw in the warehouse on her recent visit to our plant, and I trust the result is such as even the queen may admire. Will the queen also allow me to say that I have had many a good sermon preached to me in my mill? I can understand how the Lord Jesus can take the poor sinner, and the vilest of the vile, and make them clean; and how though their sins be as scarlet, He can make them white as snow. And I can see how He can put His own name upon them: and just as these rags, transformed, may go into a royal palace and be admired, so poor sinners can be received into the palace of the Great King.”

By C. L. Paddock, “”, May 1, 1951

05 January 2009

Terkepung Pasukan

2 Tawarikh 20:12 : "Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 5; Matius 5; Kejadian 9-10

Bangsa Israel saat itu berada dalam bahaya besar. Bayangkan, ada tiga pasukan musuh bersiap di perbatasan. Mereka berasal dari bani Moab, bani Amon dan sepasukan orang Meunim. Jumlah tentara Israel jelas tidak sebanding untuk melawan musuh itu.

Satu-satunya cara yang dapat mereka lakukan adalah berdoa dan berpuasa. Tuhan menjawab doa mereka dengan memberi perintah yang jelas. Jika mereka mulai memuji Tuhan, Tuhan akan membalikkan perimbangan pertempuran itu untuk kemenangan mereka.

Kita telah mendengar berbagai prediksi para pakar yang menyiutkan nyali kita seakan-akan bangsa kita ini sedang dikepung oleh sepasukan besar persoalan hidup. Mampukah kita melewati masa-masa yang berat ini? Apa yang harus kita lakukan? Sama seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel, kita hanya bisa mengarahkan mata kita untuk mencari Tuhan. Setelah itu mulailah memuji dan bersyukur kepada Tuhan.

Dengan memuji, rasa kuatir akan lenyap dari benak kita. Pujian juga dapat mendatangkan kuasa dari Tuhan. Maka Tuhan pun akan berkarya. Dia akan berperang untuk Anda atau setidaknya akan memberi kekuatan pada orang percaya untuk menghadapi pertempuran yang sengit.

Ketika Anda tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, carilah wajah Tuhan dan tetaplah mengucap syukur.

Jawaban.com

Semangkuk Nasi Putih

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."

Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya. Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan, “Dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir, “Kuah sayur gratis."

Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih. "Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya."

Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya!”

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang ke kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi? Suaminya kemudian membisik kepadanya, "Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."

"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

"Terima kasih, saya sudah selesai makan."

Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!", katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.

"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

"Siapakah direktur diperusahaan kamu? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!"

Sepasang suami istri ini berkata dengan terheran. "Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang. Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka, "Bersemangat ya! Dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok!"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.

Tuhan memberkati.

03 January 2009

Humor : Orang Indonesia

Seorang warga Indonesia berjalan memasuki sebuah Bank di New York untuk mengajukan pinjaman. Dia menghampiri petugas bagian pinjaman, mengatakan bahwa dia harus pergi ke Jakarta untuk urusan bisnis selama dua minggu, dan memerlukan pinjaman dana sebesar $5.000.

Petugas bank menanggapi, bahwa pihak bank akan memerlukan jaminan untuk pinjaman yang diajukan. Sang pria menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh bank dengan memberikan kunci mobil dan dokumen untuk sebuah Ferrari Modena yang terparkir di depan bank. Dia memenuhi semua persyaratan, menunggu proses pengecekan dengan sabar, dan petugas bank menyetujui untuk memberikan pinjaman sesuai dengan jumlah yang diajukan.

Setelah sang pria Indonesia meninggalkan bank, Pihak manajemen bank dan pegawainya mentertawakan pria tersebut karena mempergunakan sebuah mobil Ferrari seharga $250,000 sebagai jaminan untuk meminjam uang sebesar $ 5,000.. Lantas pegawai bank memarkir mobil mewah itu di area parkir bawah tanah bank tersebut.

Selang 2 minggu kemudian, sang lelaki kembali dari Jakarta dan datang ke bank, mengembalikan pinjaman dana sebesar $ 5,000 beserta bunganya sebesar $15.41.

Sang pegawai bank mengatakan, "Mister Sastro, kami sangat gembira bisa melayani dan berbisnis dengan anda dengan lancar. Akan tetapi ada sesuatu yang amat membuat kami bertanya-tanya. Saat anda bepergian ke Jakarta , kami melihat kembali rekening anda di bank kami, dan menjumpai bahwa anda memiliki dana jutaan dollar di rekening anda. Akan tetapi, kenapa anda masih memerlukan pinjaman untuk dana sebesar $5,000?

Pak Sastro menjawab, "Dimana lagi di kota New York saya bisa memarkir mobil saya selama 2 minggu dengan hanya membayar $15.41 dan mengharapkan mobil saya tidak dicuri saat saya kembali??"

Petugas bank: ...??##@

02 January 2009

Empati

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.

Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan. Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati, “Siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu?”. Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan. Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.

Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun. Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.

By: Andy F Noya

01 January 2009

Humor : Berdoa

"Apakah engkau berdoa tadi malam, nak?" tanya seorang pendeta kepada seorang anak Sekolah Minggu.

"Tentu saja, Pak Pendeta," jawab anak itu dengan lantang.

"Dan apakah kamu juga selalu berdoa di pagi hari?"

"Ah, ya enggak donk Pak," katanya spontan, "Karena hanya sewaktu-waktu saja saya menjadi seorang penakut."

Yesus Adalah Yang Terbaik

“Tetapi Kristus datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang sudah ada” – Ibrani 9:11

Hidup ini dipenuhi hal-hal baik. Bagi saya, alam adalah salah satunya. Beberapa hal yang bisa menghanyutkan jiwa saya adalah kilau matahari terbenam atau tetes embun yang berkilau disinari matahari di atas daun bunga mawar. Saya baru saja merekam gambar sisi bawah sayap kupu-kupu ungu berbintik merah. Bintik kecil berwarna merah bata yang cerah dengan latar belakang warna nila membuat saya terpesona. Dan baru minggu ini saya merekam gambar sebuah keajaiban, ulat peterseli sepanjang lima sentimeter berwarna hijau cerah sedang memulai proses menjadi kupu-kupu hitam dengan ekor bercabang yang indah. Pemazmur melukiskannya dengan baik, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:1)

Salah satu dari hal-hal baik lainnya yang saya miliki adalah seni dalam beragam bentuknya, termasuk musik. Saya begitu terhanyut saat mendengarkan oratorio Back dan paduan suara Afrika yang riang yang diharmonisasikan sebagai suara latar dari lagu pujian Afrika favorit saya, “Tidak ada yang seperti Yesus.”

Musik mengundang saya untuk terbang melampaui suara dan nada untuk selaras dengan Allah ketika lagu saya berpadu dengan lagu surga, “Anak Domba yang disembelih itu layak.” Ada hal-hal yang bisa menggembirakan hati saya seperti misalnya musik.

Alam dan seni membuat saya gembira. Semuanya itu adalah hal-hal baik. Saya juga mengambil begitu banyak inspirasi dan filosofi, ilmu pengetahuan, sejarah, dan dunia pemikiran. Semua itu adalah “hal-hal yang baik yang sudah ada”. Saya mengucap syukur kepada Allah untuk semua itu. Semua itu membantu saya menyembah Yesus Kristus, Pemberi hal-hal baik itu.

Dikutip dari : Focus on Jesus, Donal R Jacobs, Gloria Graffa 2008