11 December 2008
10 December 2008
Upah Yang Adil
"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir" - Matius 20:16
Bacaan : Matius 20:1-16
Umumnya orang berpendapat bahwa banyak bekerja tentu akan banyak mendapat; banyak berprestasi pasti juga banyak mendapat. Firman Tuhan hari ini barangkali akan membuat kita bertanya, "Apakah Tuhan adil?" Dia memberi upah yang sama untuk jerih payah yang berbeda. Mengapa Yesus berkata demikian? Apakah pantas? Sebuah pernyataan yang sulit dipahami secara konkret, meski kalimatnya jelas dan lugas.
Setidaknya ada dua penjelasan mengenai hal ini. Pertama, itu tak adil menurut kita karena kita berfokus pada upah-bukan Sang Tuan yang kita layani. Bukankah motivasi kita dalam melayani semestinya untuk Sang Tuan? Fokusnya tak boleh pada diri sendiri, tetapi pada Sang Tuan. Sama seperti saat kita punya kesempatan melayani seorang raja, bukankah itu merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai? Berpijak pada pandangan tersebut, kita akan memahami bahwa upah bukanlah hal yang terutama; bukan pada apa yang kita dapat, tetapi pada yang bisa kita beri.
Kedua, apabila kita protes, bukankah itu tandanya kita merasa iri hati? (ayat 15). Seperti perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32)-ketika si sulung memprotes kemurahan hati sang ayah kepada adiknya. Si sulung merasa ayahnya berlaku tidak adil karena ia sudah setia dan bekerja keras. Kita adalah manusia berdosa yang telah diselamatkan Tuhan dari sengat maut. Itu sebabnya Tuhan berhak atas hidup kita sepenuhnya, berhak memberikan apa pun yang pantas dan perlu kita peroleh. Baiklah kita fokus pada apa yang harus kita kerjakan dan berikan, bukan pada apa yang bisa kita peroleh -DYA
BERIKANLAH YANG TERBAIK KEPADA TUHAN DAN SESAMA
TANPA IRI HATI, TETAPI ATAS DASAR KASIH
Yayasan Gloria
Humor : Jika Saja
Seorang pria berkendara dengan mobil menuruni bukit. Dari arah berlawanan, seorang wanita juga mengendarai mobil. Saat berpapasan, si wanita membuka jendela mobil dan berkata, "Babi!!"
Si pria segera membuka jendela mobilnya dan menyebut wanita itu dengan sebutan yang tak pantas. Mereka terus berjalan ke arah masing-masing dan saat si pria berbelok, tiba-tiba mobilnya menembus kawanan babi yang ada di jalan.
Jika saja ia tadi mau mendengarkan ...
Tuhan Tahu
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan!
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa
berlalu begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk
menelepon.
Tuhan selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu
hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
TUHAN TAHU
09 December 2008
Pendatang
"Dalam iman mereka semua ini ... mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini" - Ibrani 11:13
Bacaan : Ibrani 11:8-16
Saya pernah bertualang seorang diri keliling Eropa selama sebulan, sebagai turis backpacker. Dengan menyandang ransel besar, saya mengunjungi kota demi kota dengan kendaraan umum. Kadang saya menginap di kereta, pada kesempatan lain menginap di hostel. Seru! Bagi turis seperti saya, berlaku prinsip penting: bawalah barang seringan dan sesedikit mungkin. Mau beli cenderamata pun mesti pikir-pikir-jangan sampai membebani diri terlalu berat. Toh saya berada di satu tempat hanya satu atau dua hari. Akibatnya saya tidak membawa barang-barang, kecuali yang benar-benar penting.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita hanya orang asing dan pendatang di bumi ini (ayat 13). Kita hanya transit dan tak akan tinggal lama. Tujuan akhir kita adalah tanah air surgawi. Karena itu, janganlah hati kita melekat pada kemewahan dunia, lalu membangun kerajaan di sini. Jangan terlalu merasa betah. Belajarlah dari Abraham. Ketika ia tiba di negeri perjanjian, ia tidak membangun rumah permanen. Ia mendirikan kemah yang mudah dibongkar kapan saja (ayat 9). Bagi Abraham, dunia ini hanya "tanah asing". Bahkan ketika ia tak memperoleh apa pun yang dijanjikan di dunia ini, ia tidak kecewa. Mengapa? Karena ia sadar dirinya hanya pendatang (ayat 13). Penggenapan seluruh janji Allah baru akan dialami kelak, ketika kita tiba di "tanah air".
Di tengah kesibukan bekerja, ada bahaya jika kita menjadi "terlalu betah" tinggal di dunia. Merasa menjadi penghuni tetap bumi ini, sehingga memusatkan perhatian untuk segala hal duniawi. Ingatlah: kita hanya pendatang dan perantau. Perjalanan masih panjang. Pastikan bawaan Anda sudah seringan dan sesedikit mungkin -JTI
JIKA ANDA TERLALU BETAH TINGGAL DI BUMI
SURGA TAMPAK TIDAK MENARIK LAGI
Yayasan Gloria
Humor : Perpustakaan
Judi berjalan ke perpustakaan, melihat sekeliling, dan mengantri menemui penjaga perpustakaan.
Saat ia ketemu dengan penjaga perpustakaan, ia dengan keras berkata, "Aku mau kentang goreng dan satu minuman dalam gelas besar."
Si petugas perpustakaan menatapnya sejenak, lalu berbisik pada Judi, "Nyonya, ini perpustakaan! "
Judi mengangguk dan berkata, "Oh iya, aku lupa."
Kemudian dia berbisik sepelan mungkin, "Aku mau kentang goreng dan satu minuman dalam gelas besar."
Ibu Tua
Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya...
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan'.
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja. Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
08 December 2008
Jarak & Hati
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak". "Tapi...", sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."
Humor : Ketiduran di Dalam Gereja
Seorang wanita berkonsultasi ke temannya mengenai suaminya yang selalu ketiduran ketika di gereja, "Masak tiap kali pendeta bercerita, dia ketiduran?Kadang-kadang ngorok lagi. Kan jengkel juga lama-lama, malu.'
Temannya menjawab, "Gini aja, kamu bawa jarum pentul sebiji, tiap kali dia ketiduran, kamu tusukin ke dia. Gimana?'
Maka hari Minggu berikutnya, wanita tersebut membawa beberapa jarum pentul di tasnya saat ke gereja. Dan ketika pendeta memulai berceramah, "Saudara-saudara yang terkasih. Tahukah anda, oleh siapa dan hanya oleh siapakah kita dapat hadir, berkumpul di sini?"
Sang suami mulai ketiduran. Si istri dengan sigap mengambil dan menusukkan jarum pentul ke lengannya dan "YA TUHANKU!", sang suami mengangkat tangan kanannya dan berteriak dari tengah-tengah kerumunan penonton.
Pendetapun berkata, "Benar anakku, sungguh jarang menemukan umat yang antusias sepertimu, Tuhan memberkatimu, lalu..' dan pendetapun melanjutkan ceramahnya…
Sang istri pun berpikir, "Wah ampuh. Sip deh. Kalo ketiduran lagi aku tusuk lagi biar tahu rasa.'
10 menit kemudian. Sang suami mulai ketiduran lagi. Sang istri ragu-ragu antara untuk menusuknya lagi atau tidak.
Namun saat pendeta berkata, "Nah saudara2. Lalu tahukah anda siapa yang telah menanggung penderitaan kita, menebus dosa-dosa kita dan berkorban demi kita?"
Si Suami mulai ngorok sehingga sang istri tidak pikir-pikir lagi dan, "TUHAN YESUS!", sang suami berteriak kali ini berdiri dan memegang pantatnya'
Benar anakku, Tuhan memberkatimu, kemudian saudara-saudara dan pendeta melanjutkan ceramahnya…
Sang istri kembali berpikir 'Wah, untung saatnya tepat. Sip, ga bakal berani tidur lagi dia..'
Sekitar 30 menit kemudian. Sang suami kembali ketiduran. Sang istri kembali merogoh tasnya untuk mengambil jarumnya, namun ternyata suaminya masih setengah tidur, ia melihat apa yang akan dilakukan istrinya…
Saat pendeta bertanya, "Apa yang dikatakan oleh Hawa kepada Adam ketika Ia melahirkan anaknya yang ke-99?"
Dia berkata…' Sang suami langsung berdiri menunjuk ke istrinya, lalu berteriak, "SEKALI LAGI KAU TUSUKKAN BATANG TERKUTUK ITU, KUPATAHKAN JADI 2, LALU KUTANCAPKAN KE DALAM PANTATMU!"
Seluruh jemaat gereja berbarengan mengatakan, 'Amin…'
Terima Kasih
Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu?" - Lukas 17:17
Bacaan : Lukas 17:11-19
Terima kasih adalah kata-kata yang sederhana, tetapi betapa kerap orang sulit mengucapkannya. Mari kita hitung, selama seminggu ini berapa banyak kita menerima kebaikan orang lain? Tidak hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, istri yang menyeduhkan kopi, suami yang pulang dari kantor membawakan makanan kesukaan, anak yang telah menolong mengambilkan sesuatu. Atau juga orang-orang yang dengan pekerjaannya telah membantu kita; tukang sampah yang setiap hari mengangkut sampah dari rumah kita, sopir taksi yang mengantarkan kita ke tempat tujuan, pelayan restoran yang mengantarkan makanan ke meja kita, tukang parkir yang menjaga kendaraan kita.
Bandingkan dengan berapa kali dalam minggu yang sama kita mengucapkan "terima kasih". Jangan-jangan cuma "sembilan berbanding satu". Artinya, dari sepuluh kali kita menerima kebaikan orang lain, hanya satu kali kita menyatakan rasa terima kasih. Seperti yang ditunjukkan dalam bacaan kita; dari sepuluh orang kusta yang Tuhan Yesus sembuhkan, hanya satu yang kembali untuk berterima kasih. Secara jelas Lukas menyebut orang yang tahu berterima kasih itu adalah orang Samaria (ayat 16).
Waktu itu orang Samaria dipandang masyarakat sebagai kalangan rendah, kaum sepele, kelompok yang tidak berbudaya, bukan bangsa pilihan. Dengan sengaja menyebut orang Samaria yang kembali untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan Yesus, Lukas seolah-olah hendak mengatakan bahwa justru orang yang dianggap rendah oleh kebanyakan orang itulah yang tahu berterima kasih. Semoga kita termasuk orang yang tahu berterima kasih -AYA
TAHU BERTERIMA KASIH
ITU BAGIAN DARI KARAKTER ORANG BERIMAN
Yayasan Gloria
07 December 2008
Penggorengan
Nats : Ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu (Yohanes 14:12)
Bacaan : Yohanes 14:11-14
Seseorang memerhatikan nelayan yang menangkap ikan besar, tetapi membuangnya lagi ke air. Ia mendekati si nelayan dan bertanya, "Mengapa ikan-ikan itu engkau buang lagi?" Orang itu mengeluarkan sebuah penggorengan di perahunya dan berkata, "Lihat, penggorengan saya terlalu kecil, jadi yang saya perlukan ikan kecil saja." Tak terbayangkan oleh si nelayan bahwa ia akan mendapat "ikan-ikan" besar, sehingga tidak disiapkannya sesuatu yang istimewa. Mungkin ia berpikir, mendapat ikan kecil saja sudah cukup, mengapa harus mengharap ikan besar?"
Serupa dengan itu, kita juga kerap membatasi karya Tuhan dengan pola pikir kita yang sempit. Kadang Tuhan ingin melakukan perkara besar dan dahsyat dalam hidup kita. Namun, kita berkata, "Ah, tidak mungkin saya bisa melakukannya. Mana mungkin Allah mau memakai orang sederhana seperti saya?" Dan masih banyak kalimat pesimis lain yang kita ucapkan.
Sebagian besar murid Tuhan Yesus adalah orang sederhana. Namun, Allah bisa bekerja lewat mereka dengan dahsyat. Mungkin tak pernah terlintas di benak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, bahwa mereka dapat mengadakan banyak mukjizat, seperti Tuhan Yesus. Tuhan pernah berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya, ia juga akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar dari itu! Namun, mengapa sampai kini kita belum pernah melakukan perkara yang besar? Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, seberapa besar "penggorengan" yang kita siapkan. Kalau kita benar-benar percaya dan tidak membatasi karya Tuhan, kita akan segera melihat perkara-perkara besar dalam hidup kita. Gantilah "penggorengan" kita yang kecil. Jangan batasi kuasa Allah -PK
BESAR KECILNYA PERKARA YANG AKAN KITA ALAMI
TERGANTUNG PADA BESAR KECILNYA "PENGGORENGAN" YANG KITA SIAPKAN
Yayasan Gloria





