Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 December 2008

Ibu Tua

Ini cerita dari Jepang kuno. Mudah2an bisa diambil hikmahnya...

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya. Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata, "Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan'.

Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. Kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja. Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

08 December 2008

Jarak & Hati

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak". "Tapi...", sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang  mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Humor : Ketiduran di Dalam Gereja

Seorang wanita berkonsultasi ke temannya mengenai suaminya yang selalu ketiduran ketika di gereja, "Masak tiap kali pendeta bercerita, dia ketiduran?Kadang-kadang ngorok lagi. Kan jengkel juga lama-lama, malu.'

Temannya menjawab, "Gini aja, kamu bawa jarum pentul sebiji, tiap kali dia ketiduran, kamu tusukin ke dia. Gimana?'

Maka hari Minggu berikutnya, wanita tersebut membawa beberapa jarum pentul di tasnya saat ke gereja. Dan ketika pendeta memulai berceramah, "Saudara-saudara yang terkasih. Tahukah anda, oleh siapa dan hanya oleh siapakah kita dapat hadir, berkumpul di sini?"

Sang suami mulai ketiduran. Si istri dengan sigap mengambil dan menusukkan jarum pentul ke lengannya dan "YA TUHANKU!", sang suami mengangkat tangan kanannya dan berteriak dari tengah-tengah kerumunan penonton.

Pendetapun berkata, "Benar anakku, sungguh jarang menemukan umat yang antusias  sepertimu, Tuhan memberkatimu, lalu..' dan pendetapun melanjutkan ceramahnya…

Sang istri pun berpikir, "Wah ampuh. Sip deh. Kalo ketiduran lagi aku tusuk lagi biar tahu rasa.'

10 menit kemudian. Sang suami mulai ketiduran lagi. Sang istri ragu-ragu antara untuk menusuknya lagi atau tidak.

Namun saat pendeta berkata, "Nah saudara2. Lalu tahukah anda siapa yang telah menanggung penderitaan kita, menebus dosa-dosa kita dan berkorban demi kita?"

Si Suami mulai ngorok sehingga sang istri tidak pikir-pikir lagi dan, "TUHAN YESUS!", sang suami berteriak kali ini berdiri dan memegang pantatnya'

Benar anakku, Tuhan memberkatimu, kemudian saudara-saudara dan pendeta melanjutkan ceramahnya…

Sang istri kembali berpikir 'Wah, untung saatnya tepat. Sip, ga bakal berani tidur lagi dia..'

Sekitar 30 menit kemudian. Sang suami kembali ketiduran. Sang istri kembali merogoh tasnya untuk mengambil jarumnya, namun ternyata suaminya masih setengah tidur, ia melihat apa yang akan dilakukan istrinya…

Saat pendeta bertanya, "Apa yang dikatakan oleh Hawa kepada Adam ketika Ia melahirkan anaknya yang ke-99?"

Dia berkata…' Sang suami langsung berdiri menunjuk ke istrinya, lalu berteriak, "SEKALI LAGI KAU TUSUKKAN BATANG TERKUTUK ITU, KUPATAHKAN JADI 2, LALU KUTANCAPKAN KE DALAM PANTATMU!"

Seluruh jemaat gereja berbarengan mengatakan, 'Amin…'

Terima Kasih

Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu?" - Lukas 17:17

Bacaan : Lukas 17:11-19

Terima kasih adalah kata-kata yang sederhana, tetapi betapa kerap orang sulit mengucapkannya. Mari kita hitung, selama seminggu ini berapa banyak kita menerima kebaikan orang lain? Tidak hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, istri yang menyeduhkan kopi, suami yang pulang dari kantor membawakan makanan kesukaan, anak yang telah menolong mengambilkan sesuatu. Atau juga orang-orang yang dengan pekerjaannya telah membantu kita; tukang sampah yang setiap hari mengangkut sampah dari rumah kita, sopir taksi yang mengantarkan kita ke tempat tujuan, pelayan restoran yang mengantarkan makanan ke meja kita, tukang parkir yang menjaga kendaraan kita.

Bandingkan dengan berapa kali dalam minggu yang sama kita mengucapkan "terima kasih". Jangan-jangan cuma "sembilan berbanding satu". Artinya, dari sepuluh kali kita menerima kebaikan orang lain, hanya satu kali kita menyatakan rasa terima kasih. Seperti yang ditunjukkan dalam bacaan kita; dari sepuluh orang kusta yang Tuhan Yesus sembuhkan, hanya satu yang kembali untuk berterima kasih. Secara jelas Lukas menyebut orang yang tahu berterima kasih itu adalah orang Samaria (ayat 16).

Waktu itu orang Samaria dipandang masyarakat sebagai kalangan rendah, kaum sepele, kelompok yang tidak berbudaya, bukan bangsa pilihan. Dengan sengaja menyebut orang Samaria yang kembali untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan Yesus, Lukas seolah-olah hendak mengatakan bahwa justru orang yang dianggap rendah oleh kebanyakan orang itulah yang tahu berterima kasih. Semoga kita termasuk orang yang tahu berterima kasih -AYA

TAHU BERTERIMA KASIH
ITU BAGIAN DARI KARAKTER ORANG BERIMAN

Yayasan Gloria

07 December 2008

Penggorengan

Nats : Ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu (Yohanes 14:12)

Bacaan : Yohanes 14:11-14

Seseorang memerhatikan nelayan yang menangkap ikan besar, tetapi membuangnya lagi ke air. Ia mendekati si nelayan dan bertanya, "Mengapa ikan-ikan itu engkau buang lagi?" Orang itu mengeluarkan sebuah penggorengan di perahunya dan berkata, "Lihat, penggorengan saya terlalu kecil, jadi yang saya perlukan ikan kecil saja." Tak terbayangkan oleh si nelayan bahwa ia akan mendapat "ikan-ikan" besar, sehingga tidak disiapkannya sesuatu yang istimewa. Mungkin ia berpikir, mendapat ikan kecil saja sudah cukup, mengapa harus mengharap ikan besar?"

Serupa dengan itu, kita juga kerap membatasi karya Tuhan dengan pola pikir kita yang sempit. Kadang Tuhan ingin melakukan perkara besar dan dahsyat dalam hidup kita. Namun, kita berkata, "Ah, tidak mungkin saya bisa melakukannya. Mana mungkin Allah mau memakai orang sederhana seperti saya?" Dan masih banyak kalimat pesimis lain yang kita ucapkan.

Sebagian besar murid Tuhan Yesus adalah orang sederhana. Namun, Allah bisa bekerja lewat mereka dengan dahsyat. Mungkin tak pernah terlintas di benak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, bahwa mereka dapat mengadakan banyak mukjizat, seperti Tuhan Yesus. Tuhan pernah berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya, ia juga akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar dari itu! Namun, mengapa sampai kini kita belum pernah melakukan perkara yang besar? Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, seberapa besar "penggorengan" yang kita siapkan. Kalau kita benar-benar percaya dan tidak membatasi karya Tuhan, kita akan segera melihat perkara-perkara besar dalam hidup kita. Gantilah "penggorengan" kita yang kecil. Jangan batasi kuasa Allah -PK

BESAR KECILNYA PERKARA YANG AKAN KITA ALAMI
TERGANTUNG PADA BESAR KECILNYA "PENGGORENGAN" YANG KITA SIAPKAN

Yayasan Gloria

Humor : Untuk Sekolah Minggu

Si kecil Johnny pulang dari Sekolah Minggu dengan sebuah permen besar di tangannya.

Ibunya menanyakan dari mana dia memperolehnya.

"Oh ... aku membelinya di toko dengan uang yang tadi Mama berikan untukku," kata Johnny.

"Lho ... uang itu kan untuk Sekolah Minggu, Johnny!!" tegur ibunya.

"Iya, Ma," jawab Johnny, "Tapi tadi Ibu guru yang berdiri di depan pintu langsung menyuruh aku masuk.

Jadi tadi aku masuk dengan gratis!"

06 December 2008

Kini Kutahu

Kini kutahu, mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu, betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu, bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

Kini kutahu, yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

Kini kutahu, paling lima belas menit berlagak ramah, sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu, bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

Kini kutahu, yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu, apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup

Kini kutahu, betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu, betapa lamanya untuk menjadi seseorang yang kuidamkan.

Kini kutahu, betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu, harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu, betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu, kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan

Kini kutahu, kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita

Kini kutahu, betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik

Kini kutahu, pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu

Kini kutahu, belajar memberi sesuatu itu, menuntut latihan disiplin diri

Kini kutahu, betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya

Kini kutahu, uang itu selalu menipu dan gagal, untuk menjaga martabat sejati

Kini kutahu, dengan sahabatlah kita, sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun,
dan merupakan saat yang indah

kini kutahu, orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh, justru yang dapat membantu kita bertegak

kini kutahu, saat kita marah, kita merasa berhak marah, tetapi bukan hak untuk menjadi jahat

kini kutahu, persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati

kini kutahu, seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap, bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki

kini kutahu, kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun

kini kutahu, jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana

kini kutahu, keluarga itu tak selalu disamping kita, bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar menghadapi dunia luas, keluarga itu bukan semata biologis

kini kutahu, betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun

kini kutahu, tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita

kini kutahu, betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu

kini kutahu, latarbelakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggungjawab akan menjadi bagaimana

kini kutahu, kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya

kini kutahu, orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih

kini kutahu, terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimaki kelakuannya

kini kutahu, kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah

kini kutahu, tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya

kini kutahu, dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan

kini kutahu, betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka

kini kutahu, ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta

kini kutahu, betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini

kini kutahu, berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka

kini kutahu, hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita

kini kutahu, biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong

kini kutahu, membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati

kini kutahu, paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima

kini kutahu, bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia

kini kutahu, bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat

kini kutahu, dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan

kini kutahu, betapa sukarnya menarik pemisah, antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan

Hati Yang Terpaut

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" - Matius 19:21

Bacaan : Matius 19:16-22

Apabila kita membaca kisah orang muda dalam Matius 19:16-22, kita harus angkat topi untuknya. Mengapa? Karena saat usianya masih muda, ia sudah menjadi orang yang kaya. Tidak hanya itu, ia pun gemar membaca perintah Allah dan menurutinya dalam kehidupan sehari-hari. Andaikata orang muda ini hidup pada zaman sekarang, tentu ia akan menjadi seorang pria ideal dan menjadi idaman banyak orang.

Namun sayang, segala hal yang telah ia capai dalam hidupnya tidak membuat Yesus terkesan. Sebab Yesus hendak menguji hingga kedalaman hati, yakni apakah hatinya berpaut kepada Allah. Orang muda ini memang berperilaku baik dan selalu menuruti perintah Allah, tetapi ia tidak memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, Sang Empunya perintah. Apa buktinya? Ketika Yesus memintanya menjual seluruh harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin supaya memperoleh harta di surga, dan kemudian mengikut Tuhan, ia malah merasa sedih. Alkitab mencatat bahwa hal itu terjadi karena hartanya begitu banyak. Saking banyaknya sehingga hati orang muda ini terpaut kepadanya.

Berdasarkan kisah ini kita belajar bahwa Allah ingin kita tidak sekadar hidup baik dan melakukan semua perintah Allah. Saya dapat meminta anak orang lain untuk turun dari pagar rumah dan anak tersebut benar-benar menurut. Namun, ketaatan si anak tidak menjadi bukti bahwa ia anak kandung saya, karena hatinya dan hati saya tidak terpaut. Yang Tuhan rindukan adalah kita hidup dalam kehausan dan kerinduan untuk selalu berpaut dengan hati-Nya. Itulah yang membedakan antara anak Allah dan bukan anak Allah -RY

TAAT BELUM TENTU BERARTI ADA HATI YANG TERPAUT
TETAPI HATI YANG TERPAUT BISA MEMBUAT KITA TAAT

Yayasan Gloria

Arsip Weekend Scripture - Amsal 19:2

"Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah." - Amsal 19:2

Humor : Lingkungan Baru

Sebuah keluarga, baru sehari tinggal di kota. Sebelumnya, mereka tinggal di desa.

Pagi-pagi benar, anak mereka yang berusia tiga tahun lari ke kamar orang tuanya dan membangunkan mereka.

Si ibu memakaikannya baju dan menyuruhnya main di halaman.

Dua puluh menit kemudian, ia pulang ke rumah.

"Bu, Bu," teriaknya, "semua rumah di sini punya bel pintu -- dan semua bel itu bunyi!"

Why?

US: "God, why did you do that to me? Why did you take the one I most love? Why did you permit such illness to conquer my life? Why am I sterile while others have children? Why? Why?"

STEVEN: Before blaming God, let me tell you my story. Many years ago, I thought richness to meant the ownership of the most precious diamond. So, I kept petitioning God to make me rich by granting me this diamond. One day, God let me stumble upon a very precious diamond on my way to work. Delighted, I scooped it up and swiftly tried to hide it in my suit. At that moment, an angel blocked my way, fiercely took the diamond and threw it far away. Shocked, I kept yelling and screaming at God, "Why did you do that to me? Why? Why?" A few minutes later, I found the King's soldiers approaching me. They started searching me thoroughly. When they finished, I angrily asked reason for their act. To my astonishment, they told me that the King has lost his dearest diamond and ordered them to search for it and instantly kill whomever they found with it. Alleluia. God did that to save my life and help me enlarge my vision scope to other means of richness like good health and happy family.

GOD: my dearest son and daughter, I'd love you all to be always satisfied. But, I select the kind of satisfaction I see suiting my purpose in each one of you. I grant some good health, others wealth, others children. I sometimes permit the loss of beloved ones or certain illnesses to enrich your souls and draw you closer to my heart. My dear children, your "whys" are bitter to my soul. They reflect your lack of love, trust and submission to me. Why do not you just lean your heads on my shoulder and trust my love and care for you? Remember, it was written, "For he maketh sore, and bindeth up: he woundeth, and his hands make whole." (Job 5:18). "Yet I will not forget thee. Behold, I have graven thee upon the palms of my hands." (Isaiah 49:15-16).

US: Dear God, I am sorry for any complaint we have raised against you. Let it be Your Will in my life. Please help me feel your healing hands during my toughest times. Thank you. Amen.

Contributed by Maria Hanna