Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 December 2008

Humor : Membangunkan

Dua ibu membicarakan anak-anak mereka.

"Bagaimana caramu membangunkan Paul pagi-pagi benar saat akan sekolah?" tanya salah satu ibu.

"Oh, itu mudah," jawab ibunya Paul. "Aku hanya harus melempar kucing ke tempat tidurnya tiap pagi."

"Loh, kok bisa?" tanya ibu tersebut.

"Lah, Paul itu tidur dengan anjing peliharaan kami kok."

Kelirumologi Natal

Istilah kelirumologi pertama kali dicetuskan oleh Jaya Suprana,budayawan asal Semarang. Karena itu, Jaya Suprana dikenal sebagai kelirumolog. Istilah kelirumologi merujuk pada kekeliruan-kekeliruan baik makna kata ataupun fakta sebenarnya dari sebuah kejadian, yang karena sudah terlanjur biasa dipergunakan, diucapkan, dan didengar, tidak lagi dirasakan sebagai suatu kekeliruan.

Di kalangan orang kristiani pun berlaku kelirumologi. Contohnya, anggapan bahwa Yunus ditelan ikan paus. Hal ini keliru karena selain paus bukan jenis ikan, melainkan mamalia, Alkitab pun tidak pernah menyebutkan nama ikan paus, tetapi ikan besar (Yunus 1:17). Contoh lain adalah sebutan majelis jemaat. Kita kerap mengatakan, "Pak Sulaiman itu majelis jemaat". Ini keliru. Majelis itu korp-nya, sedang orangnya adalah anggota majelis jemaat; bisa panatua, diaken, atau yang lain. Kekeliruan yang sama tampak pada ungkapan, "Saya jemaat gereja anu". Yang benar adalah, "Saya anggota jemaat gereja anu". Jemaat bukan sebutan personal, melainkan komunal.

Hal seputar Natal ternyata juga memiliki kekeliruan-kekeliruan serupa itu. Berikut adalah beberapa contohnya :

1. Tiga orang Majus
Orang Majus telah sekian lama menjadi "misteri". Berbagai studi telah dilakukan untuk mengungkap "jati diri" mereka. Dalam setiap kisah Natal, para Majus selalul digambarkan berjumlah tiga orang. Konon nama mereka adalah Kaspar, Melkior, dan Baltazar. Film Nativity Story (2006) bercerita tentang orang Majus keempat yang bernama Artaban. Artaban ini "tercecer" dari ketiga temannya. Sementara dalam tradisi Timur kuno, orang Majus dipercaya berjumlah 12 orang.

Alkitab sendiri tidak menyebutkan jumlahnya, Matius hanya mencatat "orang-orang Majus" (Matius 2:1-12). Memang dalam kisah orang majus itu disebutkan adanya tigas jenis hadiah yang mereka bawa : mas, kemenyan, dan mur. Akan tetapi, tiga jenis hadiah tersebut tidak serta merta dibawa oleh tiga orang, bukan? MAtius tidak merinci siapa saja mereka; nama, jumlah dan asal. Tampaknya bagi Matius, detail seperti itu tidak penting karena itu bukanlah informasi utama yang ingin disampaikan. Jauh lebih penting bagi Matius untuk mencatat maksud dan tujuan mereka pergi ke Betlehem, yaitu untuk mencari Raja yang baru lahir.

2. Para gembala bertemu Orang Majus di Kandang
Dalam gambar-gambar kartu Natal ataupun hiasan di kandang Natal biasa dilukiskan seperti ini : Yusuf dan Maria duduk mengelilingi palungan tempat Bayi Yesus terbaring; di samping mereka tampak gembala-gembala bersama dombanya; disisi lain para Majus bertelut sambil membawa persembahan mereka.

Alkitab tidak pernah menyebutkan pertemuan para Majus dan para gembala berlangsung di kandang. Dan tampakya mereka memang tidak datang bersamaan. Para gembala datang di kandang Betlehem sesaat setelah Yesus dilahirkan (Lukas 2:16). Sementara itu, orang Majus datang beberapa lama kemudian. Beberapa petunjuk ke arah fakta demikian adalah ketika Matius menulis, "Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu" (Matius 2:11). Di situ tidak disebutkan "kandang itu". Lalu, perintah Raja Herodes adalah membunuh bayi-bayi berumur di bawah usia dua tahun (Matius 2:16), bukan bayi yang baru lahir. Lagi pula orang Majus itu datang dari negeri jauh.

3. Kamar kosong untuk Maria dan Yusuf
Dalam drama Natal biasanya digambarkan begini : Yusuf berjalan menuntun keledai, sementara Maria yang tengah hamil tua duduk di atasnya. Mereka berjalan dari satu penginapan ke penginapan lain, dan selalu dijawab, "Maaf, tidak ada kamar kosong." Jawaban tersebut keliru sebab yang dikatakan Alkitab bukan tidak ada kamar kosong, tetapi tidak ada tempat bagi mereka (Lukas 2:1-7). Jadi, kamar kosong mungking ada, hanya saja tidak ada tempat bagi Yusuf dan Maria.

Hal ini bisa dimengerti mengingat situasi dan kondisi pada waktu itu. Kota Betlehem tengah dipadati orang-orang dari luar kota yang hendak ikut sensus penduduk. Penginapan tentunya menjadi sangat mahal, sedangkan Yusuf dan Maria hanyalah orang-orang sederhana. Lagipula, Maria tengah hamil tua. Jika sampai melahirkan di penginapan, pasti akan sangat merepotkan pemilik penginapan. Belum lagi suara tangis bayi yang bisa mengganggu tamu-tamu lain. Jadi, dari perhitungan bisnis, tentu rugi menerima mereka menginap. Karena itu bagi mereka, maaf saja, tidak ada tempat.

4. 25 Desember adalah Hari Kelahiran Yesus
Keliru, sebab pada bulan Desember di Palestina sedang musim dingin. Padahal, ketika hari kelahiran Yesus, Alkitab mencatat kisah pada gembala yang tengah menggembalakan dombanya di padang (Lukas 2:8-20). Saat itu pasti bukan musim dingin.

Sebetulnya memang tidak ada tanggal yang pasti mengenai kapan Yesus lahir. Pada zaman itu, perayaan hari kelahiran dianggap sebagai tradisi kafir. Orang-orang Kristiani pun tidak terbiasa melakukannya. Satu-satunya perayaan hari kelahiran yang dicatat dalam Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (Matius 14:6). Gereja perdana pun hanya merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus.

Tanggal 25 Desember semula merupakan perayaan nonkristiani, menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Sekitar akhir abad ke-4 orang-orang Kristiani di kota Roma mengambil alih tanggal itu dan menjadikannya sebagai peringatan kelahiran Yesus, yaitu hari Natal, sampai sekarang. (Sumber : Selamat Natal, Andar Ismail).

Itulah beberapa kekeliruan yang terjadi seputar Natal. Akan tetapi, dari semua kekeliruan itu, kekeliruan yang paling fatal adalah ketika Natal sudah identik dengan kemeriahan, pesta, hura-hura, dan rupa-rupa pertunjukkan acara. Entah di rumah, di gereja, atau dimanapun. Seakan-akan Natal tanpa semua itu bukan lagi Natal, sehingga orang pun lantas lebih sibuk dengan acara, bukan makna; lebih peduli pada bentuk, bukan isi. Tidak heran jika Natal datang pergi, tetapi hanya berlalu tanpa makna, tanpa bekas. Gone with the wind.

Ayub Yahya - Renungan Harian Desember 2008

04 December 2008

Humor : Hotel

Aku dan suamiku menginap di sebuah hotel di Chicago ketika menghadiri sebuah konvensi. Karena kami tak terbiasa tinggal di kota besar, kami sangat khawatir dengan masalah keamanan. Malam pertama kami menginap, kami menaruh kursi, koper, dan tong sampah di pintu. Jika ada seseorang yang mencoba masuk dengan paksa, kami yakin kami pasti mengetahuinya. Sekitar pukul 01.00 pagi, ada yang mengetuk pintu.

"Siapa di situ?" suamiku bertanya dengan gugup.

"Hei," kata orang yang ada di luar pintu, "kunci kamarmu tertinggal di luar."

Krakatau

Bacaan : 2 Petrus 3:1-13

"Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api" - 2 Petrus 3:10

Pada tahun 1883, terjadi letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah modern. Krakatau, sebuah pulau gunung berapi di kepulauan Indonesia telah melemparkan 24,6 km3 tanah. Gelombang pasang yang diakibatkannya, tujuh kali mengelilingi dunia, dan reruntuhannya terlempar sampai ke Madagaskar lebih dari 3200 km jauhnya!

Pada saat Gunung Krakatau meletus, Kapten Sampson dari kapal Inggris Norham Castle sedang berada di dekat tempat itu. Ia lalu menulis di jurnal kapalnya demikian : "Saya menuliskan ini tanpa dapat melihat karena keadaan yang gelap gulita. Batu apung dan debu terus menghujani kami. Bunyi letusan-letusan ini begitu keras sampai-sampai gendang telinga dari lebih separuh anak buah saya pecah. Saya yakin Hari Penghakiman telah tiba."

Kapten Sampson percaya bahwa dunia ini sudah hampir berakhir. Letusan gunung itu sesuai dengan yang tertera di 2 Petrus 3:10, "Langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api." Meskipun letusan gunung Krakatau itu sangatlah dahsyat, namun letusan itu tidak menandakan akhir dunia ini.

Krisis mampu mengguncangkan kita sehingga keluar dari kenyamanan. Krisis mengingatkan kita bahwa dunia ini bukan rumah kita dan mendorong kita untuk hidup saleh (ayat 11). Bila rasanya dunia pribadi kita seolah-olah akan berakhir, kita harus memusatkan diri untuk hidup dalam kekekalan.

IMAN KEPADA ALLAH DAPAT MENGUBAHKAN KRISIS
MENJADI SUATU PENGALAMAN YANG SANGAT BERHARGA

Sumber : Renungan Harian - Yayasan Gloria

Birds and Wings

An old legend says that God first created birds without wings. Sometime later, God made wings and said to the birds, "Come, take up these burdens and bear them." The birds hesitated at first, but soon obeyed. They tried picking up the wings in their beaks, but found them too heavy. Then they tried picking them up wit their claws, but found them too large. Finally one of the birds managed to get the wings
hoisted onto its shoulders where it was possible to carry them.

To the amazement of the birds, before long the wings began to grow and they soon had attached themselves to the bodies of the birds. One of the birds began to flap his wings and others followed his example. Shortly afterwards, one of the birds took off and began to soar in the air above.

What had once been a heavy burden now became the very thing that enabled the birds to go where they could never go before...and at the same time, truly fulfill the destiny of their creation. The duties and responsibilities you count as burdens today may be part of God's destiny for your life, the means by which your soul is lifted up and prepared for eternity.

Don't be afraid of pressure. Remember that pressure is what turns a lump of coal into a diamond. You know the testing of your faith develops perseverance. Perseverance must finish its work so that you may be mature and complete, not lacking anything. James 1:3,4

03 December 2008

Humor : Penginjilan

"Pak Pendeta, apa rahasianya sehingga penginjilan Anda sangat berhasil?" tanya seorang jemaat kepada gembalanya.

"Di sawah, jadilah seorang petani, walaupun kamu sebenarnya seorang pelukis. Dengan menjadi petani, kamu dapat mengajak beberapa petani menuju kasih Allah. Di pasar, jadilah kamu pedagang, walaupun kamu seorang prajurit perang. Untuk mengajak beberapa pedagang menuju kasih Allah. Di pantai, jadilah kamu seorang nelayan untuk mengajak beberapa nelayan menuju kasih Allah."

Jemaat lain yang iseng bertanya pada pendeta itu, "Kalau kita di rumah sakit jiwa?"

Pak pendeta tampak termenung sejenak, lalu ia menjawab, "Aku akan menjadi seorang dokter untuk mengajakmu kembali ke jalan yang benar."

Kesialan Sebagai Berkat

Yeremia 29:11 : SEBAB AKU INI MENGETAHUI RANCANGAN-RANCANGAN APA YANG ADA PADAKU MENGENAI KAMU, DEMIKIANLAH FIRMAN TUHAN, YAITU RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA DAN BUKAN RANCANGAN KECELAKAAN, UNTUK MEMBERIKAN KEPADAMU HARI DEPAN YANG PENUH HARAPAN.

Beberapa tahun lalu di Skotlandia, keluarga Clark memiliki impian, Clark dan istrinya telah bekerja dan menabung, memiliki beberapa rencana untuk mereka dan kesembilan anak mereka untuk berkunjung ke Amerika. Sudah bertahun-tahun, akhirnya tabungan mereka cukup dan sudah membuat paspor dan tiket kapal untuk semua keluarga berangkat ke Amerika.

Semua keluarga sudah bersiap-siap dan semangat. Namun, tujuh hari sebelum keberangkatan mereka, anak bungsunya di gigit anjing. Dokter menjahit lukanya, tetapi ia menaruh pita kuning di pintu depan Clark. Karena ada kemungkinan rabies, mereka di karantina selama 14 hari.

Impian keluarga itu hancur. Mereka tidak bisa pergi ke Amerika seperti yang sudah direncanakan. Clark sangat kecewa dan juga marah. Ia berdiri di pinggir pelabuhan dan menyaksikan kapal itu berangkat, tanpa keluarganya. Ia mencucurkan air mata kekecewaan dan memaki anaknya, juga Tuhan karena kesialan mereka.

Lima hari kemudian, berita tragis menyebar ke seluruh Skotlandia. Kapal Titanic yang besar itu tenggelam. Kapal besar itu tenggelam dan menyebabkan ratusan korban meninggal. Keluarga Clark seharusnya ada di dalam kapal itu, tetapi karena seorang anaknya di gigit anjing, mereka terpaksan batal berangkat.

Ketika Clark mendengar berita itu, ia memeluk anaknya dan berterima kasih karena menyelamatkan seluruh keluarga. Ia juga bersyukur kepada Tuhan karena menyelamatkan nyawa mereka dan mengubah pandangannya tentang kesialan itu sebagai sebuah berkat.

Apa yang kita lihat sebagai kesialan, bisa jadi adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan kita. Ia tidak pernah merancangkan kesialan dalam hidup kita. Seringkali kita yang menganggapnya sebagai kesialan melalui kacamata kita dan menyalahkan Tuhan dan orang lain karena telah membuat rencana kita hancur. Padahal Tuhan sedang bekerja untuk memperbaiki atau mengubah rencana kita, sekaligus merancangkan berkat dan kebaikan buat kita.

Jaguar Driver

Dave, seorang eksekutif muda yang sukses sedang menyusuri jalan menuju rumahnya mengendarai jaguar barunya. Ia memperhatikan seorang anak yang terlihat diantara mobil-mobil yang parkir di tepi jalan. Sedikit mengurangi kecepatan mobilnya, kemudian Dave kembali tancap gas.

Waktu mobilnya lewat, tiba-tiba ia dikejutkan dengan bunyi keras. Brakk! Sebuah batu menghatam sisi samping mobil barunya. Dave segera menginjak rem dan mundur ke belakang, ke tempat lemparan batu tadi berasal. Dengan marah ia turun dari mobilnya, memeriksanya dan berteriak! "Siapa yang melakukannya?"

Kemudian muncul seorang anak dari antara mobil-mobil yang parkir di tepi jalan. Ia nampak pucat pasi. Segera setelah Dave menarik baju anak itu dan membawanya ke samping mobil dengan menunjukkan tangannya ke arah cat mobil yang rusak. "Siapa kamu? Tahukan apa yang baru saja kamu lakukan? Tahu ngga berapa harga mobil ini? Mengapa kamu melakukannya?"

Anak itu benar-benar ketakutkan. Dengan pucat pasi, air matanya mulai menetes di pipinya. Anak itu meminta maaf.

"Tuan, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh menyesal, tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.."

Kembali dia terisak dengan ketakutkan. "Aku melempar batu tadi karena tidak ada orang yang mau berhenti.."

Dengan tangan yang gemetar, ia menunjuk ke arah belakang mobil yang sedang parkir. "Kakakku ada disana dan dia terjatuh dari kursi rodanya, aku tidak kuat mengangkatnya, kasihan dia.."

Dengan memohon anak itu meminta Dave untuk menolong kakaknya. "Kakakku terluka dan ia terlalu berat, maukah Tuan menolongnya?"

Dave menelan ludah dan serasa tercekik tak bisa berkata apa-apa. Air matanya segera ia sembunyikan dari anak itu secepat ia menolong kakaknya. "Terima kasih, Tuhan memberkati," kata kakak bocah itu. Dave masih tidak bisa berkata apa-apa, ia begitu terharu. Dengan lambat, ia kembali lagi ke mobil barunya. Kerusakannya memang parah, tapi Dave tidak mempersoalkannya. Ia baru saja belajar sesuatu yang berharga.

"Jangan melalui hidup terlalu cepat, sampai seseorang harus melempar batu untuk mendapatkan perhatianmu."

Bagaimana dengan hidupmu? Apakah kamu lebih kuatir dengan yang kamu pakai daripada hidupmu sendiri? Apakah kamu lebih mengasihi yang kamu pakai daripada hidupmu sendiri? Apakah kamu lebih mengasihi yang kamu pakai dari pada orang lain? Kedatangan-Nya adalah bukti karena Ia lebih mengasihi kita daripada apapun juga.

02 December 2008

Doa Kereta Kuda

“Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak” - Yohanes 14:13

Randy, limat tahun, menginginkan maninan kereta kuda sebagai hadiah Natal. Saat berbelanja dengan ibunya, ia melihat mainan kereta kuda yang ia inginkan. Mainan itu sekitar 15 cm panjangnya dan memiliki roda yang bagus serta ditarik kuda-kuda plastik berwaran coklat gelap.

“Bu, aku mau yang ini. Boleh, ya?”, ia memohon. Seperti layaknya anak kecil, dia memohon. Seperti layaknya anak kecil, ia merengek dan bersikeras memperoleh kereta kuda itu sebagai hadiah Natal. Sang ibu berkata, “Lihat saja nanti”, dan mengajak Randy pulang.

Randy yakin akan memperoleh apa yang dimintanya. Pagi Natal tiba, dia ia membuka kado dengan percaya diri. Benar saja, itu adalah kereta kuda yang telah dimintanya. Ia sangat senang. Namun kemudian kakaknya berkata, “Kamu bodoh sekali telah bersikeras mendapatkan kereta itu. Ibu sudah membelikan kamu kereta yang jauh lebih besar, tetapi saat kamu merengek meminta yang kecil itu, ia menukarkannya!” Tiba-tiba kereta kuda itu tak nampak menarik lagi.

Kadang kita pun bersikap seperti itu kepada Allah. Kita mendoakan kebutuhan tertentu dan mengatakan bagaimana dia harus menjawabnya. Kita memohon dan meminta, hingga Allah akhirnya memberi persis seperti yang kita minta. Padahal, sebenarnya Dia bermaksud memberi sesuatu yang lebih baik.

Phillips Brooks pernah berkata, “Penjatkan doa-doa terbesar. Jangan menganggap doa Anda terlalu besar bagi Allah, sehingga Anda berpikir pada saat Allah menjawabnya, Dia menginginkan Anda untuk meminta sesuatu yang lebih kecil”

BESAR MEMINTA, BESAR PULA MENERIMA

Renungan Harian

Humor : Pelajaran IPA

Dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, guru bertanya kepada para muridnya,

"Waktu Pak Guru membuka kran, ternyata air tidak mengalir, ada yang tahu apa sebabnya?"

Tono menjawab dengan lantang, "Mungkin Bapak belum bayar tagihan dari PAM!"

Dan sepotong kapur pun melayang ke kepala Tono.

Semangat Yang Teguh

Seorang gadis yang lahir di sebuah keluarga yang miskin di Tennessee. Dia adalah anak yang ke 20 dari 22 anak, yang lahir prematur dan lemah. Rasanya ia tidak sanggup bertahan hidup. Ketika ia berusia 4 tahun, ia terkena radang pernapasan dan demam secara bersamaan, sebuah kombinasi yang mematikan sehingga membuatnya lumpuh dan tidak bisa menggunakan kaki kirinya. Ia harus memakai penyangga kaki dari besi.

Tetapi ibunya berkata kepada anak gadisnya yang berani itu untuk tidak terlalu memikirkan penyangga kakinya, dan dia sebenarnya mampu melakukan apapun yang mau ia lakukan dalam hidupnya. Ibunya berkata bahwa yang perlu ia lakukan hanyalah memiliki iman, ketahanan, keberanian dan semangat yang teguh.

Jadi pada usia 9 tahun, gadis itu mencopot penyangga kakinya dan dia mulai melangkah. Dokter bilang kalau ia tidak akan pernah bisa berjelan dengan normal. Dalam 4 tahun ia sudah bisa melangkah dengan ritmis, itu adalah sebuah keajaiban. Lalu gadis ini punya sebuah pemikiran dan keinginan yang luar biasa. Kalau ia akan menjadi seorang pelari wanita terbesar di dunia. Apa maksudnya? Seorang pelari dengan kaki seperti itu?

Pada usia 13 tahun, ia mulai ikut perlombaan. Dia menyelesaikan perlombaan itu di tempat terakhir. Tapi ia selalu mengikuti semua perlombaan di SMU dan di setiap perlombaan itu, ia selalu menjadi yang terakhir. Semua orang memohon agar ia berhenti. Namun, di suatu hari, ia menduduki tempat kedua dari belakang. Dan tiba saatnya ketika ia memenangkan perlombaan. Sejak saat itu, Wilma Rudolph selalu memenangkan perlombaan yang diikutinya. Wilma masuk ke Tennessee State University, dimana ia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed melihat keteguhan semangat gadis ini dan mempercayai kalau ia memiliki talenta alami yang besar. Dia melatihnya dengan baik sehingga ia masuk Olimpiade. Disana, Wilma berlomba melawan pelari wanita terbaik saat itu, seorang gadis Jerman bernama Jutta Heine. Tidak ada yang pernah mengalahkan Jutta. Tetapi dalam perlombaan 100 meter, Wilma mengalahkannya. Lalu mengalahkannya lagi di perlombaan 200 meter. Wilma meraih 2 medali emas.

Akhirnya perlombaan estafet 400 meter. Sekali lagi Wilma akan bertemu dengan Jutta. Dua orang pelari pertama tim Wilma sudah melakukan estafet dengan baik, tetapi ketika pelari ketiga menyerahkan tongkat estafet kepada Wilma, ia begitu bersemangat sehingga menjatuhkan tongkatnya. Wilma melihat Jutta melaju mendahului semuanya. Rasanya mustahil untuk siapapun bisa mengejar gadis gesit itu. Tetapi Wilma akhirnya melampauinya. Ia memenangkan 3 medali emas Olimpiade.

Bangkitkan semangatmu hari ini, kedatangan-Nya yang dianggap orang sebagai sesuatu yang hina, ternyata menghasilkan keselamatan yang mulai bagi semua orang.

Amin!