Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 November 2008

Berdoa Bagi Ekonomi Dunia

"Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam : Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. KepunyaanKulah perak dan kepunyaanKulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam." (Hagai 2 : 7-9)

Kami menyerukan doa pada tanggal 29 Oktober 2008 bagi bursa efek, bank, dan lembaga keuangan di seluruh dunia. Mengapa seruan doa dilakukan pada tanggal 29 Oktober? Karena pada tanggal tersebut di tahun 1929, Bursa Efek Amerika Serikat ambruk dan kemudian terjadi depresi ekonomi yang hebat.

Pada permulaan tahun 2008, para pendoa syafaat mendengar suara Tuhan bahwa akan terjadi goncangan kuat di Bursa Efek Wall Street yang bisa memburuk jika tidak ada campur tangan Allah. Hal ini akan merambat kepada timbulnya kekurangan pangan. Bahkan, situasi di tahun 2009 akan lebih buruk daripada tahun 2008! Tentu saja, hal ini akan mempengaruhi pasar uang di seluruh dunia.

Pada waktu yang sama, Tuhan memberikan mimpi yaitu di hadapan kami ada 50 kotak dosa yang mewakili sistem ekonomi dari 50 negara bagian. Tutup kotak ini terbuka dan tercium bau busuk yang sangat menyengat. Tuhan memberi perintah dalam mimpi itu bahwa kami harus menaruh tutup itu kembali sampai struktur ekonomi yang alkitabiah diterapkan di tempat-tempat tersebut. Tentu saja, ini juga berlaku bagi ekonomi di seluruh dunia.

Dengan alasan itulah, pada tanggal 29 Oktober 2008 kami akan berdoa bersama dengan para pendoa syafaat di Bursa Efek New York, Bank Federal (seperti Bank Indonesia) dan 12 cabang utamanya di seluruh Amerika Serikat. Kami juga bersyafaat di lokasi patung banteng yang terletak di Wall Street, untuk memohon kepada Tuhan agar Ia mengubah pasar uang yang sekarang ini seperti banteng menjadi seperti beruang. Kami merasa inilah yang menjadi "Pasar Singa" atau Allahlah yang mengontrol sistem ekonomi. Walaupun kami tidak tahu apa yang akan terungkap nanti, kami tahu bahwa tanpa bersyafaat, ekonomi akan hancur.

Bergabunglah dengan kelompok dan jaringan doa anda yang bersyafaat di lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia. Di negara-negara lain, pendoa syafaat sudah mulai mengunjungi bursa-bursa efek. Jadi, pastikanlah bahwa bursa efek di negara anda sudah dilingkupi dengan doa. Juga  bersyafaatlah bagi bank dan lembaga-lembaga keuangan di wilayah anda.

Pokok doa yang diusulkan adalah sbb :
1. Bertobat dari ketamakan diri sendiri. Mintalah pada Tuhan agar Ia memperlihatkan apakah ada keterikatan pada mamon.

2. Bertobat dari dosa ekonomi di negara anda. Mintalah pada Tuhan agar Ia mengampunyi kerakusan, ketamakan, terlibat dengan mamon, dll. yang ada dalam sistem ekonomi di negara anda.

3. Bertobat dari keterlibatan dalam hutang dan kredit. Mintalah pada Tuhan agar Ia memberikan strategiNya bagi anda, secara khusus dan juga bagi negara anda agar ekonomi dipulihkan.

4. Bertobat dari ketidak pedulian akan kaum miskin. Mintalah pada Tuhan untuk mengampuni ketidak pedulian yang anda dan negara anda tujukan bagi kebutuhan kaum miskin, baik itu dalam angkatan kerja maupun melalui rasisme.

5. Berserulah kepada Tuhan untuk belas kasihNya bagi negara anda. Memohonlah pada Tuhan sesuai dengan 2 Tawarikh 7 : 14 dan katakan kepada Tuhan bahwa anda akan berbalik dari jalan yang sesat.

6. Berdoalah agar hikmat diberikan kepada pemimpin negara anda, agar mereka bisa menghadapi krisis keuangan ini.

7. Mintalah pada Tuhan agar Ia menstabilkan ekonomi negara, menutup kembali kotak yang diperlihatkan dalam mimpi.

8. Mulailah bersyafaat dan mintalah pada Tuhan untuk menegakkan keadilan di bursa efek, mengungkapkan korupsi dan membawa keadilan bagi mereka yang telah berdosa kepada Tuhan dan negara. Mintalah pada Tuhan agar Ia memulihkan ekonomi.

9. Berdoa agar Tuhan membangkitkan ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip alkitab.

10. Bersyafaatlah bahwa kebangkitan besar akan terjadi di "marketplace" sebagai akibat dari goncangan. Berdoa agar Tuhan memberikan hikmat di tengah-tengah goncangan agar kemakmuran negara berpindah ke tangan orang-orang benar.

Cindy Jacobs, Generals International - The United States Reformation Prayer Network

by TERANG INDONESIA , Antonius Natan

Kiriman : Diah Sutantio

Humor : Tabib & Sinse

Konon ada sepasang sahabat cina dan arab lagi kebingungan karena usaha mereka bangkrut. Setelah memutar keras otak mereka, mereka sepakat membuka pelayanan kesehatan. Maka si cina jadi sinse, dan si arab menjadi tabib.

Setelah satu minggu praktek, si tabib tetap sepi pasien, namun si sinse mulai kebanjiran pasien. Si tabib putar otak untuk melawan si sinse.

Maka si tabib mengeluarkan jurus dengan memasang pengumuman di depan ruang prakteknya : "Jika Tidak Sembuh Uang Kembali Tiga Kali Lipat"

Taktik itu manjur, pasien lalu berdatangan ke si tabib. Giliran si sinse sewot lalu mencari akal. "Haiyaaa, lumayan kalo owe parak-purak sakit dan tidak sembuh dapat uang lha..... (baca dengan logat cina ya). Lalu ia mendatangi si tabib.

Si Sinse : Haiyaaa, tolong owe. Owe punya sakit mati rasa. Owe tidak bisa lagi rasain rasa setiap makanan yang owe telan, haiyaa.....

Si Tabib : Ana fikir itu gamfang ana sembuhkan.

Lalu si tabib memanggil asistennya. Si Tabib : Hasaaannnn, cefat ente bawa kesini obat nomor 14. Secepat mungikin si asisten yang bernama Hasan membawa obat nomor 14 dan oleh si tabib di berikan kepada si sinse. Dan si sinse langsung menguyah sebelum menelan obat nomor 14 tersebut.

Si Sinse : Haiyaaa, ini bukan obat lhaaa, tapi ini tai ayam.

Si Tabib : Ente betul. Itu tai ayam. Berarti ente sudah sembuh dan tidak mati rasa lagi.

Si sinse pulang dengan kesal karena kalah akal. Lalu ia kembali memutar otak berpikir mencari akal untuk mengalahkan si tabib dan sekaligus dapat uang si tabib. maka kali ini si sinse kembali pura-pura sakit lupa yang sangat kronis

Si Sinse : Haiyaaaa tabib, owe sakit lupa parah sekali. Owe lupa semua peristiwa dan memori owe. Haiyaaa, tolong owe.

Si Tabib : Gamfang. Ana fasti tolong ente dan ente fasti sembuh. Obat ana mujarab sekali.

Lalu seperti biasa si Tabib memanggil si Hasan sang asisten. Si Tabib : Hasaaaaan, cefat ente bawa kemari obat nomor 14.

Si Sinse : Haiyaaaa, owe tidak mau lagi makan tai ayaaaam. Haiyaaaaa... Owe ridak mau.....

Si Tabib : Alhamdulillah, berarti ente sudah sembuh. Daya ingat ente sudah kembali.Tinggal si sinse pulang sambil menggerutu

03 November 2008

Proof At Last

Three Things

Three things in life that, once gone, never come back
1. Time
2. Words
3. Opportunity

Three things in life that can destroy a person
1. Anger
2.. Pride
3. Unforgiveness

Three things in life that you should never lose
1. Hope
2. Peace
3. Honesty

Three things in life that are most valuable
1. Love
2. Family
3. Kindness

Three things in life that are never certain  
1. Fortune
2. Success
3. Dreams

Three things that make a person  
1. Commitment
2. Sincerity
3.  Hard work

Three things that are truly constant -
Father - Son - Holy Spirit

Raja Punya 4 Istri

Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri. Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang steri.

Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya. Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah,dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ke duakarena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat. Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, 'Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri'. Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, 'Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu. Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?'

'Tidak akan!' balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya. Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, 'Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?'

'Tidak!' sahut sang isteri. 'Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!'

Perasaan sang rajapun hampa dan membeku. Beberapa saat kemudian, sang raja bertanya pada isteri keduanya, 'Selama ini, bila aku membutuhkanmu, kau selalu ada untukku. Jika nanti aku meninggal, apakah kau akan mengikuti dan terus disampingku?'

'Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu!' jawab isteri keduanya. 'Yang bisa aku lakukan, hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu.'

Lagi-lagi, jawaban si isteri bagaikan petir yang menyambar dan menghancurkan hatinya. Tiba-tiba, sebuah suara berkata: 'Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi.' Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi.

Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, 'Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku masih punya banyak kesempatan!'

Dalam realitanya, sesungguhnya kita semua mempunyai '4 isteri' dalam hidup kita. 'Isteri keempat' kita adalah tubuh kita. Tidak peduli berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk membuatnya terlihat bagus, tetap saja dia akan meninggalkan kita saat kita meninggal.

Kemudian 'Isteri ketiga' kita adalah ambisi, kedudukan dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semua itu pasti akan jatuh ke tangan orang lain. Sedangkan 'isteri kedua' kita adalah keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli berapa lama waktu yang sudah dihabiskan bersama kita, tetap saja mereka hanya bisa menemani dan mengiringi kita hingga ke pemakaman.

Dan akhirnya 'isteri pertama' kita adalah jiwa, roh, iman kita, yang sering terabaikan karena sibuk memburu kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan nafsu. Padahal, jiwa, roh, atau iman inilah yang akan mengikuti kita kemanapun kita pergi. Jadi perhatikan, tanamkan dan simpan baik-baik dalam hatimu sekarang! Hanya inilah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada dunia. Let it Shine!

02 November 2008

The Pebble

Drop a pebble in the water: just a splash, and it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on,
Spreading, spreading from the center, flowing on out to the sea.
And there is no way of telling where the end is going to be.

Drop a pebble in the water: in a minute you forget,
But there's little waves a-flowing, and there's ripples circling yet,
And those little waves a-flowing to a great big wave have grown;
You've disturbed a mighty river just by dropping in a stone.

Drop an unkind word, or careless: in a minute it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on.
They keep spreading, spreading, spreading from the center as they go,
And there is no way to stop them, once you've started them to flow.

Drop an unkind word, or careless: in a minute you forget;
But there's little waves a-flowing, and there's ripples circling yet,
And perhaps in some sad heart a mighty wave of tears you've stirred,
And disturbed a life was happy ere you dropped that unkind word.

Drop a word of cheer and kindness: just a flash and it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on,
Bearing hope and joy and comfort on each splashing, dashing wave
Till you wouldn't believe the volume of the one kind word you gave.

Drop a word of cheer and kindness: in a minute you forget;
But there's gladness still a-swelling, and there's joy circling yet,
And you've rolled a wave of comfort whose sweet music can be heard
Over miles and miles of water just by dropping one kind word.

Author Unknown

01 November 2008

Arsip Weekend Scripture - Matius 7:1-2

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." - Matius 7:1-2

Humor : Marah

Suatu ketika, SMU Exempli Gratia kedatangan tim penilik sekolah. Celakanya, hari itu banyak siswa membolos.

Kepala Sekolah merasa malu dan sangat marah. Maka, setelah selasai menjamu tamu, ia masuk ke sebuah kelas sambil mencak-mencak.

"Kalian murid yang tidak kenal disiplin! Ke mana teman-temanmu yang membolos?"

"Nonton TV, Pak. Ada siaran langsung tinju kelas berat."

"Astaga! Membolos hanya untuk menonton televisi? Ini pelecehan berat! Kalian harus dididik lebih keras lagi!

Kalian tidak boleh kurang ajar seperti ini lagi!" kata Kepala Sekolah berapi-api. Seluruh murid di kelas itu habis dimarahi oleh Pak Kepala Sekolah.

"Pak, boleh kami bertanya?" seorang murid memberanikan diri menyela.

"Mau tanya apa? Silakan."

"Mengapa kami yang tidak membolos malah dimarahi? Bukankah yang membolos yang seharusnya dimarahi?"

"Loh? Tidak mungkin! Saya tak mungkin memarahi mereka yang sekarang tidak hadir!"

Making Choices

Joseph Henry was an American scientist who served as the first Secretary of the Smithsonian Institution. He used to tell a rather strange story about his childhood. His grandmother, who raised him, once paid a cobbler to make him a pair of shoes.

The man measured his feet and told Joseph that he could choose between two styles: a rounded toe or a square toe. Little Joseph couldn't decide. It seemed to be such a huge decision; after all, they would become his only pair of shoes for a long time.

The cobbler allowed him to take a couple of days to make up his mind. Day after day, Joseph went into the shop, sometimes three or four times a day! Each time he looked over the cobbler's shoes and tried to decide. The round-toed shoes were more practical, but the square toes looked more fashionable. He continued to procrastinate. He wanted to make up his mind, but he just couldn't decide!

Finally, one day he went into the shop and the cobbler handed him a parcel wrapped in brown paper. His new shoes! He raced home. He tore off the wrapping and found a beautiful pair of leather shoes - one with a rounded toe and the other with a square toe.

I can learn a lesson here...a lesson about decisions: if I don't make decisions myself, others will probably make them for me. Better that I make them myself. And if I choose poorly from time to time, that's okay, too. At least I won't have to wear shoes that don't match. Besides, I'll probably do better the next time.

-- Steve Goodier

31 October 2008

The Onion

I was an onion before Christ set me free.
Layers upon layers of iniquity.
An ugly old onion whose fragrance was strong;
That my Jesus bought and loved all along.

Unknown to me what He was going to do.
Of what He was planning, I had not a clue.
Pulling each layer off one by one.
In order to make me more like Jesus the Son.

The first layer wasn't so bad.
I saw all the sins that I knew I had.
They were easy to fix, just change the way I talk.
And learn more of how He wanted me to walk.

Reading His Word, and learning again;
How to put aside my life of sin.
But the next layer was pulled which hurt more.
He was getting closer to the core.

Unknown what He would find there.
I simply gave it to Him in prayer.
As another layer was removed, He started to cry;
Pulling this layer brought pain to my Father on High.

And I was crying over the sadness I felt;
The brokenness and all of the guilt.
Past memories that I thought were gone;
They were buried under layers disguised in a fragrance so strong.

As onions peel more and more;
And they put tears in our eyes as we get close to the core;
So my Father wept over my pain;
Giving me a balm of comfort and strength to sustain.

"No More Layers." I would scream.
As He continued to peel them off of me.
"I'll have nothing left my Lord, what will I do?
I'll be nothing but a worthless core to you. "

But He just said "Trust me," and continued to peel
I was sure He was blinded to my pain that was so real.
Year after year I shrunk more and more;
Until all that was left of this onion was a core.

It was then that I began to understand;
As the Lord embraced me in His loving hand.
He said, now and only now can you be;
The creation that will minister before me.

Clothed with the righteousness only from above;
Gone are your layers of self so you can be filled with my love.
He took my layers of sin, hurt and pain;
And clothed me with love, truth and mercy in His name.

Yes, we are all onions, learning with each day;
How to overcome as each layer is taken away.
Some layers tear and pull at our heart;
While others grieve us to our innermost part.

But we are nothing but an ugly onion without Christ.
Layers upon layers of pride, sin and strife.
Only God can take those layers away.
And clothe us with His righteousness in that final day.

by Unknown

Sikap Dalam Berdoa

Sikap kita dalam berdoa adalah penting. Yang harus diingat, Tuhan lebih melihat sikap hati ketimbang apa yang tampak dari luar. Apalagi saat berdoa, yaitu saat kita berkomunikasi dan mengimani bahwa kita menghadap kehadirat Allah.

1. Penerimaan
Kita harus berdoa dengan menerima fakta bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita perlukan ketimbang diri kita. Bahwa Ia sudah mengetahui apa kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. (Matius 6:8)

2. Iman
Berkat dari berdoa adalah nyata, seperti firman-Nya dalam Alkitab (Yakobus 1:5-7). Maka dari itu, dalam berdoa kitapun harus percaya, mengamininya, dan berdoa tanpa keraguan akan janji-Nya itu.

3. Tidak henti-henti
Yesus sendiri memberikan tips ini dalam perumpamaan-Nya di Lukas 18:1-8. Jika saat ini doa Anda belum juga mendapat jawab, tetaplah berdoa, berseru dan mengetuk pintu berkat kerajaan Sorga.

4. Motivasi yang benar
Dalam Yakobus 4:1-3 kita dapat melihat ada juga orang yang berdoa tanpa jemu, bahkan mungkin juga dengan percaya, tapi doanya tidak pernah dikabulkan karena permohonan doanya dilandasi oleh motivasi yang salah. Meminta kepada Tuhan tidak salah, tapi motivasi kita juga harus benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Contoh motivasi yang salah seperti permintaan Yohanes dan Yakobus (Markus 10:35-37), sedangkan motivasi yang benar misalnya permintaan Raja Salomo muda (1 Raja-raja 3:3-15).

5. Seturut kehendak Allah
Yohanes menegaskan janji ini, "Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." (1 Yohanes 5:14). Doa kita pasti akan dikabulkan jika seturut dengan kehendak Tuhan yang jelas dinyatakan dalam Alkitab. Contoh : Tuhan pasti mengabulkan doa kita yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya (1 Yohanes 1:9). Namun, jika apa yang kita minta tidak langsung diungkapkan dalam Alkitab, kita harus berserah supaya hanya kehendak-Nya saja, dan bukan kehendak kita yang jadi.

6. Dengan kepatuhan
Yakobus menyatakan "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yakobus 5:16). Tuhan akan mengabulkan permohonan doa dari orang benar, yaitu yang terbukti patuh dan mau menuruti setiap kehendak-Nya. Surat Yohanes menegaskan janji ini "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (1 Yohanes 3:22).

7. Mengucap syukur
"Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Setiap dan permohonan kita kepada Tuhan hendaknya kita sampaikan dengan ucapan syukur. Ketimbang mengeluh dan marah kepada Tuhan, kita harus lebih dulu ingat segala kebaikan Tuhan atas berkat, kehidupan, janji dan pelajaran yang sangat baik yang telah kita terima sepanjang hidup ini. Tuhan menyukai dan akan mengabulkan doa dari hati yang penuh syukur dan memuliakan nama-Nya ketimbang yang bersungut-sungut.