Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

02 November 2008

The Pebble

Drop a pebble in the water: just a splash, and it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on,
Spreading, spreading from the center, flowing on out to the sea.
And there is no way of telling where the end is going to be.

Drop a pebble in the water: in a minute you forget,
But there's little waves a-flowing, and there's ripples circling yet,
And those little waves a-flowing to a great big wave have grown;
You've disturbed a mighty river just by dropping in a stone.

Drop an unkind word, or careless: in a minute it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on.
They keep spreading, spreading, spreading from the center as they go,
And there is no way to stop them, once you've started them to flow.

Drop an unkind word, or careless: in a minute you forget;
But there's little waves a-flowing, and there's ripples circling yet,
And perhaps in some sad heart a mighty wave of tears you've stirred,
And disturbed a life was happy ere you dropped that unkind word.

Drop a word of cheer and kindness: just a flash and it is gone;
But there's half-a-hundred ripples circling on and on and on,
Bearing hope and joy and comfort on each splashing, dashing wave
Till you wouldn't believe the volume of the one kind word you gave.

Drop a word of cheer and kindness: in a minute you forget;
But there's gladness still a-swelling, and there's joy circling yet,
And you've rolled a wave of comfort whose sweet music can be heard
Over miles and miles of water just by dropping one kind word.

Author Unknown

01 November 2008

Arsip Weekend Scripture - Matius 7:1-2

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." - Matius 7:1-2

Humor : Marah

Suatu ketika, SMU Exempli Gratia kedatangan tim penilik sekolah. Celakanya, hari itu banyak siswa membolos.

Kepala Sekolah merasa malu dan sangat marah. Maka, setelah selasai menjamu tamu, ia masuk ke sebuah kelas sambil mencak-mencak.

"Kalian murid yang tidak kenal disiplin! Ke mana teman-temanmu yang membolos?"

"Nonton TV, Pak. Ada siaran langsung tinju kelas berat."

"Astaga! Membolos hanya untuk menonton televisi? Ini pelecehan berat! Kalian harus dididik lebih keras lagi!

Kalian tidak boleh kurang ajar seperti ini lagi!" kata Kepala Sekolah berapi-api. Seluruh murid di kelas itu habis dimarahi oleh Pak Kepala Sekolah.

"Pak, boleh kami bertanya?" seorang murid memberanikan diri menyela.

"Mau tanya apa? Silakan."

"Mengapa kami yang tidak membolos malah dimarahi? Bukankah yang membolos yang seharusnya dimarahi?"

"Loh? Tidak mungkin! Saya tak mungkin memarahi mereka yang sekarang tidak hadir!"

Making Choices

Joseph Henry was an American scientist who served as the first Secretary of the Smithsonian Institution. He used to tell a rather strange story about his childhood. His grandmother, who raised him, once paid a cobbler to make him a pair of shoes.

The man measured his feet and told Joseph that he could choose between two styles: a rounded toe or a square toe. Little Joseph couldn't decide. It seemed to be such a huge decision; after all, they would become his only pair of shoes for a long time.

The cobbler allowed him to take a couple of days to make up his mind. Day after day, Joseph went into the shop, sometimes three or four times a day! Each time he looked over the cobbler's shoes and tried to decide. The round-toed shoes were more practical, but the square toes looked more fashionable. He continued to procrastinate. He wanted to make up his mind, but he just couldn't decide!

Finally, one day he went into the shop and the cobbler handed him a parcel wrapped in brown paper. His new shoes! He raced home. He tore off the wrapping and found a beautiful pair of leather shoes - one with a rounded toe and the other with a square toe.

I can learn a lesson here...a lesson about decisions: if I don't make decisions myself, others will probably make them for me. Better that I make them myself. And if I choose poorly from time to time, that's okay, too. At least I won't have to wear shoes that don't match. Besides, I'll probably do better the next time.

-- Steve Goodier

31 October 2008

The Onion

I was an onion before Christ set me free.
Layers upon layers of iniquity.
An ugly old onion whose fragrance was strong;
That my Jesus bought and loved all along.

Unknown to me what He was going to do.
Of what He was planning, I had not a clue.
Pulling each layer off one by one.
In order to make me more like Jesus the Son.

The first layer wasn't so bad.
I saw all the sins that I knew I had.
They were easy to fix, just change the way I talk.
And learn more of how He wanted me to walk.

Reading His Word, and learning again;
How to put aside my life of sin.
But the next layer was pulled which hurt more.
He was getting closer to the core.

Unknown what He would find there.
I simply gave it to Him in prayer.
As another layer was removed, He started to cry;
Pulling this layer brought pain to my Father on High.

And I was crying over the sadness I felt;
The brokenness and all of the guilt.
Past memories that I thought were gone;
They were buried under layers disguised in a fragrance so strong.

As onions peel more and more;
And they put tears in our eyes as we get close to the core;
So my Father wept over my pain;
Giving me a balm of comfort and strength to sustain.

"No More Layers." I would scream.
As He continued to peel them off of me.
"I'll have nothing left my Lord, what will I do?
I'll be nothing but a worthless core to you. "

But He just said "Trust me," and continued to peel
I was sure He was blinded to my pain that was so real.
Year after year I shrunk more and more;
Until all that was left of this onion was a core.

It was then that I began to understand;
As the Lord embraced me in His loving hand.
He said, now and only now can you be;
The creation that will minister before me.

Clothed with the righteousness only from above;
Gone are your layers of self so you can be filled with my love.
He took my layers of sin, hurt and pain;
And clothed me with love, truth and mercy in His name.

Yes, we are all onions, learning with each day;
How to overcome as each layer is taken away.
Some layers tear and pull at our heart;
While others grieve us to our innermost part.

But we are nothing but an ugly onion without Christ.
Layers upon layers of pride, sin and strife.
Only God can take those layers away.
And clothe us with His righteousness in that final day.

by Unknown

Sikap Dalam Berdoa

Sikap kita dalam berdoa adalah penting. Yang harus diingat, Tuhan lebih melihat sikap hati ketimbang apa yang tampak dari luar. Apalagi saat berdoa, yaitu saat kita berkomunikasi dan mengimani bahwa kita menghadap kehadirat Allah.

1. Penerimaan
Kita harus berdoa dengan menerima fakta bahwa Tuhan lebih tahu apa yang kita perlukan ketimbang diri kita. Bahwa Ia sudah mengetahui apa kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. (Matius 6:8)

2. Iman
Berkat dari berdoa adalah nyata, seperti firman-Nya dalam Alkitab (Yakobus 1:5-7). Maka dari itu, dalam berdoa kitapun harus percaya, mengamininya, dan berdoa tanpa keraguan akan janji-Nya itu.

3. Tidak henti-henti
Yesus sendiri memberikan tips ini dalam perumpamaan-Nya di Lukas 18:1-8. Jika saat ini doa Anda belum juga mendapat jawab, tetaplah berdoa, berseru dan mengetuk pintu berkat kerajaan Sorga.

4. Motivasi yang benar
Dalam Yakobus 4:1-3 kita dapat melihat ada juga orang yang berdoa tanpa jemu, bahkan mungkin juga dengan percaya, tapi doanya tidak pernah dikabulkan karena permohonan doanya dilandasi oleh motivasi yang salah. Meminta kepada Tuhan tidak salah, tapi motivasi kita juga harus benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Contoh motivasi yang salah seperti permintaan Yohanes dan Yakobus (Markus 10:35-37), sedangkan motivasi yang benar misalnya permintaan Raja Salomo muda (1 Raja-raja 3:3-15).

5. Seturut kehendak Allah
Yohanes menegaskan janji ini, "Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya." (1 Yohanes 5:14). Doa kita pasti akan dikabulkan jika seturut dengan kehendak Tuhan yang jelas dinyatakan dalam Alkitab. Contoh : Tuhan pasti mengabulkan doa kita yang ingin bertobat dan kembali kepada-Nya (1 Yohanes 1:9). Namun, jika apa yang kita minta tidak langsung diungkapkan dalam Alkitab, kita harus berserah supaya hanya kehendak-Nya saja, dan bukan kehendak kita yang jadi.

6. Dengan kepatuhan
Yakobus menyatakan "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" (Yakobus 5:16). Tuhan akan mengabulkan permohonan doa dari orang benar, yaitu yang terbukti patuh dan mau menuruti setiap kehendak-Nya. Surat Yohanes menegaskan janji ini "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (1 Yohanes 3:22).

7. Mengucap syukur
"Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Setiap dan permohonan kita kepada Tuhan hendaknya kita sampaikan dengan ucapan syukur. Ketimbang mengeluh dan marah kepada Tuhan, kita harus lebih dulu ingat segala kebaikan Tuhan atas berkat, kehidupan, janji dan pelajaran yang sangat baik yang telah kita terima sepanjang hidup ini. Tuhan menyukai dan akan mengabulkan doa dari hati yang penuh syukur dan memuliakan nama-Nya ketimbang yang bersungut-sungut.

Meminta Pendapat

Nats : Semoga TUHAN, Allahmu, memberitahukan kepada kami jalan yang harus kami tempuh dan apa yang harus kami lakukan (Yeremia 42:3)

Bacaan : Yeremia 42:1-22, 43:1-7

Banyak dari kita yang sering meminta pendapat dari orang lain ketika sedang bingung. Namun, harus diakui, terkadang sebelum mendengar pendapat mereka pun, kita sudah punya rencana sendiri. Dengan demikian, yang terjadi adalah kita sekadar mencari persetujuan atas rencana kita.

Dalam beberapa kasus, sikap ini mungkin dapat dipahami mengingat semua pendapat tersebut adalah pendapat manusia yang bisa salah. Namun, kalau sikap ini kita bawa juga ketika meminta pendapat dari Tuhan, seperti yang kita temukan dalam bacaan Alkitab hari ini, tentu menjadi salah.

Saat itu Yohanan, Azarya, dan sisa rakyat Kerajaan Yehuda berencana pergi ke Mesir untuk lari dari tentara Babel (41:17). Akan tetapi, sebelum berangkat, mereka meminta petunjuk Tuhan tentang rencana ini. Ternyata Tuhan berpendapat lain dan menyuruh mereka untuk tidak pergi. Sulit bagi mereka untuk menerima petunjuk Tuhan, yakni agar mereka tetap di Yehuda, sehingga mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan tetap pergi ke Mesir.

Kita boleh datang kepada Tuhan dengan rencana kita dan meminta pendapat-Nya. Namun, kita harus siap kalau Tuhan menyatakan bahwa rencana tersebut harus diubah sesuai kehendak-Nya. Hal ini kerap kali memang tidak mudah, sebab rencana-Nya kadang tampak berat. Kadang kita bisa lihat bahwa akan ada pengorbanan yang akan kita tanggung. Mungkin itu berbentuk tak tergapainya ambisi pribadi, cibiran dari orang lain, dan sebagainya. Akan tetapi, kalau kita mau yang terbaik, tidak bisa tidak, rencana-Nya itulah yang harus kita ikuti -ALS

BILA KITA MEMINTA PETUNJUK DARI TUHAN
BERSIAPLAH UNTUK MENAATINYA

Yayasan Gloria

30 October 2008

Menanti Tuhan

"Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku" - Mazmur 62:2

Dalam terjemahan lain dipakai kalimat : Sungguh, jiwaku menantikan Tuhan dengandiam dan tenang. Rupanya banyak yang menantikan Tuhan dengan gaduh, resah, gelisah, ribut, panik, dan bahkan histeris. Ketenangan di hadapan Tuhan adalah ekspresi iman, keyakinan dan keteguhan hati kita terhadap Dia dan pertolongan-Nya. Sebaliknya jika jiwa kita begitu gundah, kacau, onar, dan meledak-ledak, itu tanda kita belum bisa menyerah. Karena itu bertanyalah dalam hati kita masing-masing : tenangkanlah aku dalam menantikan Tuhan dan pertolongan-Nya? Jika engkau dapati ketenangan dan sejahtera, itulah sikap yang memberi jaminan kemenangan dan keabadian yang ajaib.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

Sebuah Kisah di Balik Tragedi 911

Seorang laki-laki dari Norfolk, Virginia menelpon sebuah radio lokal untuk menceritakan pengalamannya berkaitan dengan peristiwa 11 Septermber (Menara WTC ditabrak oleh pesawat yang dibajak teroris). Namanya Robert Matthew, dan ini ceritanya :

Beberapa minggu sebelum peristiwa 11 September, saat sebelum kelahiran anak pertama kami, istri saya berencana untuk pergi ke California mengunjungi saudaranya. Dalam perjalanan saat mengantarkan istri ke bandara, kami berdoa supaya perjalanan istri diberi keselamatan dan perjalanannya diberkati Tuhan.

Tak lama setelah saya berkata, 'Amin', kami mendengar suara letusan dan mobil berguncang keras. Ternyata roda ban mobil kami pecah. Saya berusaha mengganti ban yang pecah secepat mungkin, tetapi ternyata kami tetap ketinggalan pesawat. Kami sangat kesal, dan memutuskan untuk pulang.

Di rumah saya menerima telpon dari ayah saya, seorang pensiunan NYFD (Dinas Pemadam Kebaran New York). Dia bertanya berapa nomer pesawat istri saya, tapi saya saya katakan kami ketinggalan pesawat. Sambil dalam keadaan terguncang, ayah berkata bahwa pesawat yang sedianya dinaiki istri saya adalah pesawat yang dibajak oleh teroris untuk menabrak menara sebelah selatan dari WTC. Ayah juga memberitahukan informasi yang lain. Dia akan mejadi relawan membantu NYFD untuk menolong korban yang ada. Dia berkata, 'Saya tidak bisa diam saja melihat musibah ini. Saya harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka.'

Saya mengkuatirkan keadaan ayah, tetapi sebetulnya saya lebih prihatin karena ayah belum menyerahkan hidupnya pada Kristus. Setelah melewati perdebatan singkat, saya mengetahui bahwa tekad ayah sudah bulat. Sebelum menutup telpon ayah berkata, 'Jaga baik-baik cucu ayah.' Itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengar, karena ayah juga termasuk korban yang jatuh pada saat NYFD melakukan penyelamatan di menara WTC.

Sukacita saya karena Tuhan sudah menjawab doa saya dengan menyelamatkan istri saya, berubah menjadi kamarahan. Saya marah kepada Tuhan, marah kepada ayah saya dan marah kepada diri saya sendiri. Hampir dua tahun saya menyalahkan Tuhan karena sudah merenggut ayah dari keluarga kami. Anak saya tidak akan pernah bertemu kakeknya, ayah saya tidak menerima Kristus, dan saya tidak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan.

Kemudian sesuatu terjadi. Sekitar dua bulan lalu, saat saya sedang duduk di ruang keluarga bersama istri dan anak saya, ada suara ketukan di pintu. Saya bertanya kepada istri, tetapi dia menjawab tidak ada temannya yang berencana datang. Akhirnya saya membuka pintu, dan di depan saya berdiri sepasang suami istri dengan anak kecil yang digendong. Suaminya bertanya apakah nama ayah saya Jake Matthew. Saya menjawab ya. Segera dia menjabat erat-erat tangan saya dan berkata, 'Saya tidak pernah punya kesempatan bertemu dengan ayah anda, tetapi ini suatu kehormatan bertemu dengan anaknya?

Dia kemudian menjelaskan bahwa istrinya bekerja di World Trade Center (WTC) dan terjebak di dalamnya saat terjadi musibah. Dia dalam keadaan hamil dan tertimpa reruntuhan bangunan. Kemudian dia menjelaskan bahwa ayah saya berhasil menemukan istrinya dan menolongnya. Mata saya sembab dan penuh air mata saat saya membayangkan bahwa ayah telah mengorbankan nyawanya untuk menolong orang-orang seperti yang datang saat ini. Kemudian dia melanjutkan, 'Ada hal lain yang anda harus ketahui.'

Istrinya kemudian menyambung penjelasan, bahwa saat menyelematkan dirinya, dia sempat bercakap-cakap dengan ayah saya - dan menuntunnya untuk menerima Kristus. Saya mulai sesenggukan saat mendengar cerita itu. Sekarang saya tahu bahwa ayah sudah berada di surga. Dia akan berdiri disamping Yesus untu k menyambut saya di surga - dan keluarga ini nantinya dapat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya.

Ketika anaknya lahir, mereka menamainya Jacob Mattew sebagai penghormatan kepada orang yang sudah mengorbankan nyawanya sehingga anak itu beserta ibunya bisa hidup.

Kisah nyata ini membantu kita untuk memahami dua hal.

Pertama : Tuhanlah yang memegang peranan untuk mengatur hidup kita dengan ajaib. Kita mungkin tidak bisa memahami apa yang ada dibalik semua peristiwa yang terjadi, dan kita tidak tahu setiap kejadian menurut sudut pandang surgawi. Tetapi Tuhan sendirilah yang campur tangan dan merencanakan setiap peristiwa yang terjadi. Dan yang kedua :setelah lewat dua tahun peristiwa penyerangan tragis terhadap WTC, kami tidak boleh membiarkan hal itu tetap menjadi sebuah ingatan yang pahit.

Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang yang sempurna, tetapi DIA akan menyempurnakan panggilanNya.

GOD Himself

Mark was a multi-millionaire. He was a CEO of 20+ companies (He never told me the exact number). I met him when I was a 14-year old kid who loved sharing God to others.

So Mark invited me to preach in his huge mansion. So there I was, standing in front of Mark and six of his friends---businessm en of equal wealth and stature. Can you imagine how I looked like at 14? I was a small, thin, ugly, peepsqueaky kid---dressed in a faded shirt and a pair of old brown sandals---nervously holding my Bible--- speaking in front of these millionaires. It was almost hilarious! Why would these bigwigs listen to a nobody?

But when I started telling them about God's love for them---simple stories that any grade schooler could understand-- -the fascinating thing happened: I saw these grown-up men listening intently. I realized they were desperately hungry for God. After my short talk, I led them in a prayer and a song, and I recall how Mark shed tears in front of his friends---and soon after, the others followed.

I can never forget that experience. It made me realize that no matter how old you are, or what state of life you're in---you've got a soul that needs to be fed daily. At the end of the day, your deepest and greatest need is God Himself.

By Bo Sanchez

29 October 2008

Serba Salah

Nats : Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu" (Keluaran 14:13)

Bacaan : Keluaran 14:9-14

Ada saat kita mengalami situasi "maju kena mundur kena". Jalan yang ada di depan seolah buntu, tetapi untuk mundur juga tidak bisa. Jadinya serbasalah. Misalnya, bertetangga dengan orang sulit dan terus mencari-cari masalah. Capek hati rasanya. Namun, mau pindah rumah juga tidak gampang. Atau, teman-teman di kantor yang menjengkelkan. Kita merasa sangat tertekan. Sudah mencoba mencari tempat kerja baru, tetapi tidak kunjung dapat.

Umat Israel dalam bacaan kita juga mengalami hal yang serupa. Mereka baru keluar dari perbudakan di negeri Mesir. Akan tetapi, rupanya Firaun tidak rela melepas mereka (Keluaran 14:5). Lalu mengejar dengan bala tentaranya. Keadaan umat Israel terjepit. Di depan Laut Teberau, sedangkan di belakang tentara Mesir. Mereka ketakutan (ayat 11). Musa mengingatkan mereka agar jangan takut, berdiri tetap, dan berfokus pada penyertaan Tuhan (ayat 13). Akhirnya mereka selamat sampai di seberang (Keluaran 14:30).

Langkah pertama menghadapi keadaan sulit adalah: jangan takut. Sebab bukan saja tidak akan menolong, rasa takut juga malah bisa melumpuhkan; membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, berdiri tetap dalam iman. Biasanya dalam keadaan tertekan orang mudah sekali tergoda mengambil jalan pintas; asal segera keluar dari masalah, lalu menghalalkan segala cara. Padahal sikap demikian biasanya malah semakin menjerumuskan. Ketiga, berfokus pada kasih dan penyertaan Tuhan. Jalani hidup ini seberat apa pun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Tuhan akan bertindak -AYA

TUHAN AKAN BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN
KUNCINYA TETAP BERFOKUS KEPADA-NYA DAN TEGUH DALAM IMAN

Yayasan Gloria