Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 October 2008

Arsip Weekend's Scripture - Matius 26:40-41

Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 41Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." - Matius 26:40-41

10 October 2008

Anugerah-Mu

Saat Ku tatap Awan Biru
Tergores Lukisan Alam
Awan Putih berarak-arak

Saat Anganku melayang jauh
Melintasi tingginya langit
Ku ingin berlari menggapai asa
Ku terdiam…..
Seakan tak mampu

Namun…..
Karena AnugerahMU
Yang membuatku mampu
Hidup ini hanya karena AnugerahMu

Bapa……
Tak dapat ku bayangkan
Jika ku hidup tanpa kasihmu
Hati ini gersang
Bagaikan Padang Meranggas
Ditimpa teriknya mentari
Oleh AnugerahMu

Ku ada dan Ku hidup
Hanya Kasih KaruniaMu
Ku gapai Mimpi……..
Hidup ini adalah AnugerahMu

Cirebon, 18 Oktober 2004

By : Joshua Ivan Sudrajat S

Undang Dia

"Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya" - Lukas 8:41

Bacaan : Lukas 8:40-56

Mengapa kita harus berdoa pada saat kira mengharapkan pertolongan dari Tuhan? Bukankah Tuhan tahu persis apa yang kita alami, bahkan sebelum kita mengatakan sesuatu Dia sudah tahu apa yang ada dalam hati kita? Ingatlah bahwa doa adalah membuka pintu-pintu aliran aliran kasih karunia dan kekuatan Tuhan bagi hidup kita. Tuhan bisa saja bertindak menolong meski kita tidak berdoa, tapi Dia memilih untuk bertindak saat ada undangan dari manusia.

Di sebuah pabrik pemintalan benang ada sebuah papan yang berisi tulisan : Jika benang Anda kusut, datanglah pada mandor. Suatu hari seorang pekerja baru mengalami masalah dengan benangnya hingga menjadi kusut. Semakin ia berusaha menguraikannya, keadaannya semakin bertambah buruk. Saat kekusutan tersebut sudah menjadi begitu buruk dan tidak lagi dapat diatasi, barulah ia datang kepada mandor. Si mandor bertanya, "Mengapa kamu tidak datang kepada saya lebih awal?" Si pekerja itu menjawab, "Saya berusaha melakukan yang terbaik." Si mandor menjawab dengan tegas, "Yang terbaik yang bisa kamu lakukan adalah datang kepada saya!"

Saat kita berusaha menguraikan kekusutan masalah dengan kekuatan kita sendiri, sebenarnya kita sudah keliru mengambil langkah. Saat kita menghadapi kekusutan dalam hidup, tanggap pertama kita seharusnya adalah meminta pertolongan Tuhan, bukannya mencoba mengerahkan kemampuan diri kita sendiri untuk menguraikan masalah itu. Sayangnya, kita justru lebih sering mengandalkan kekuatan kita sendiri dalam menghadapi masalah. Lalu ketika masalah menjadi tidak terkendali, kita baru datang kepada Tuhan. Apakah ini berarti kita hanya duduk berpangku tangan ketika menghadapi masalah? Tentu tidak demikian, hal ini bukan berarti kita bersikap pasif, namun dengan berdoa kepada Tuhan maka Dia akan memberikan hikmat, kekuatan, kesanggupan dan pertolongan kepada kita untuk dapat menguraikan kekusutan masalah tersebut. Ingatlah bahwa Dia rindu menjadi Penolong bagi kita semua.

TUHAN SERINGKALI MEMILIH UNTUK BERTINDAK SAAT ADA UNDANGAN DARI MANUSIA

Renungan Harian Spirit Edisi September 2008

Kaca Spion

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya. Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya.

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya. Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.

Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan. Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.

Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi? Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali.

Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan. Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa.

"Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat", ujarnya.

Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

09 October 2008

Story About Attitude

Jerry is the manager of a restaurant in America. He is always in a good mood and always has something positive to say. When someone would ask him how he was doing, he would always reply, “If I were any better, I would be twins!”

Many of the waiters at his restaurant quit their jobs when he changed jobs so they could follow him around from restaurant to restaurant. The reason the waiters followed Jerry was because of his attitude. He was a natural motivator. If an employee was having a bad day, Jerry was always there, telling the employee how to look on the positive side of the situation.

Seeing this style really made me curious, so one day I went up to Jerry and asked him, “I don’t get it! No one can be a positive person all of the time. How do you do it?”

Jerry replied, “Each morning I wake up and say to myself, I have two choices today. I can choose to be in a good mood or I can choose to be in a bad mood I always choose to be in a good mood. Each time something bad happens, I can choose to be a victim or I can choose to learn from it. I always choose to learn from it. Everytime someone comes to me complaining, I can choose to accept their complaining or I can point out the positive side of life. I always choose the positive side of life.”

“But it’s not always that easy,” I protested.

“Yes, it is,” Jerry said “Life is all about choices. When you cut away all the junk, every situation is a choice.You choose how you react to situations You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood or bad mood. It’s your choice how you live your life.”

Several years later, I heard that Jerry accidentally did something you are never supposed to do in the restaurant business: left the back door of his restaurant open one morning and was robbed by three armed men. While trying to open the safe, his hand, shaking from nervousness slipped off the combination. The robbers panicked and shot him.

Luckily, Jerry was found quickly and rushed to the hospital.

After 18 hours of surgery and weeks of intensive care, Jerry was released fromthe hospital with fragments of the bullets still in his body. I saw Jerry aboutsix months after the accident. When I asked him how he was, he replied, “If I were any better, I’d be twins. Want to see my scars?” I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind as the robbery took place.

“The first thing that went through my mind was that I should have locked the back door,” Jerry replied. “Then, after they shot me, as I lay on the floor, Iremembered that I had twochoices: I could choose to live or choose to die. I chose to live.”

“Weren’t you scared?” I asked.

Jerry continued, “The paramedics were great. They kept telling me. I was going to be fine. But when they wheeled me into the Emergency Room and I saw the expressions on the faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I read ‘He’s a dead man.’ I knew I need to take action.”

“What did you do?” I asked.

“Well, there was a big nurse shouting questions at me,” said Jerry. “She asked if I was allergic to anything.”

‘Yes,’ I replied.

The doctors and nurses stopped working as they waited for my reply. I took a deep breath and yelled, ‘Bullets!’ Over their laughter, I told them, ‘I am choosing to live. Please operate on me as if I am alive, not dead’.”

Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his amazing attitude. I learned from him that every day you have the choice to either enjoy your life or to hate it. The only thing that is truly yours that no one can control or take from you is your attitude, so if you can take care of that, everything else in life becomes much easier.

Now you have two choices to make:

1. You can just close the browser now OR
2. You can forward it to someone you care about.

Coba Periksa!

Nats : Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah mengetahuinya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan" (Markus 6:38)

Bacaan : Markus 6:30-44

Mukjizat lima roti dan dua ikan diawali dengan belas kasihan Yesus (ayat 34). Namun rupanya Yesus tidak bermaksud bekerja sendirian. Ia meminta partisipasi dari pihak orang banyak. Sabda-Nya, "Berapa banyak roti yang ada padamu?" Bahkan tidak hanya bertanya, Dia juga menekankan perlunya partisipasi itu. Mari perhatikan sabda lanjutan-Nya, "Cobalah periksa!" Dan, akhirnya dari hasil pemeriksaan itu, mereka mendapatkan lima roti dan dua ikan.

Mukjizat Tuhan tidak dilakukan di dalam kehampaan. Yesus meminta kita untuk mengambil bagian. Apabila kita mengelak dengan mengatakan bahwa kita tidak memiliki apa pun, Yesus akan "masuk" lebih dalam dan Dia akan berkata, "Coba periksa dulu ... periksa ... periksa ... apa yang ada padamu!" Dan bila kita sudah menemukannya, bawalah itu kepada-Nya. Dia akan "mengambilnya ... menengadah ke langit, mengucapkan berkat atas apa yang kita bawa, dan memberkatinya", kemudian menggunakan hal itu demi menjadi berkat yang lebih berarti bagi hidup orang-orang lain di sekitar kita.

Kita belajar satu hal penting dari kisah lima roti dua ikan yang menjadi makanan untuk lima ribu orang dan bersisa dua belas bakul. Mukjizat Tuhan dimulai dengan belas kasihan Tuhan yang berpadu dengan keterlibatan dari umat yang bersedia.

Adakah Anda bersedia dipakai menjadi saluran mukjizat Tuhan? Periksalah apa yang ada pada Anda dan bawalah itu kepada Yesus agar diberkati dan dipakai-Nya. Dia tidak pernah meminta apa yang Anda tidak punya. Dia meminta apa yang Anda punya. Anda mengatakan bahwa Anda tidak punya apa-apa? Cobalah periksa dulu! -DKL

BAWALAH TALENTA ANDA KEPADA TUHAN
DIA AKAN MELIPATGANDAKANNYA

Yayasan Gloria

08 October 2008

Pengharapan Yang Berlimpah

"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam Iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan" - Roma 15:13

"Berlimpah-limpah dalam pergharapan", itulah yang Tuhan inginkan. Tetapi betapa banyaknya orang Kristen yang penghargaannya hanya "pas-pasan". Sehingga begitu waktu penantian penggenapan janji menjadi lebih panjang dari yang di duga, pengharapan kita sudah minus atau defisit. Dan pada akhirnya, setelah pengharapan itu minus, maka iman kitapun digerogotinya.

Bagaimana supaya memiliki pengharapan yang limpah? Itu bukan hanya kita, melainkan karya Roh Kudus. Bergeraklah terus dengan Roh Kudus, maka pengharapanmu akan berlimpah dan kita akan punya pengharapan akan kelimpahan juga. Amin.

Pdt. Petrus Agung Purnomo

Unconditional Love

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco.

"Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me."

"Sure," they replied, "We'd love to meet him."

"There's something you should know the son continued, he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us."

"I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live."

"No, Mom and Dad, I want him to live with us."

"Son," said the father, "You don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own."

At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg.

The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are.

Tonight, before you tuck yourself in for the night, say a little prayer that God will give you the strength you need to accept people as they are, and to help us all be more understanding of those who are different from us!!

07 October 2008

Lessons of Life

Bukan Aib

Nats : Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauan (Matius 19:12)

Bacaan : 1Korintus 7:25-40

Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh yang lain, selain aku. Amin."

Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.

Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik -DYA

MELAJANG MAUPUN MENIKAH
KITA SAMA-SAMA MESTI MEMULIAKAN NAMA-NYA!

Yayasan Gloria

Humor : Linglung

Salah satu dari ilmuwan terbesar di dunia juga terkenal sebagai profesor yang linglung. Suatu hari, ketika profesor itu naik kereta, ia tidak dapat menemukan tiketnya. Kondektur kereta itu berkata, "Pelan-pelan saja nyarinya, anda pasti akan menemukan tiket itu."

Ketika kondektur itu tiba kembali, profesor itu masih belum juga menemukan tiketnya. Kondektur itu, yang tahu bahwa profesor itu adalah orang terkenal, berkata, "Saya yakin bahwa anda membeli tiket. Tidak jadi masalah bila anda tidak dapat menemukannya. "

"Anda baik sekali," jawab profesor itu, "tapi saya harus tetap menemukannya. Kalau tidak, saya tidak tahu dimana saya harus turun."