Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 September 2008

Siapa Yang Tahu?

".. betapa karyanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.." - Efesus 1:18-19

Waktu kita berpacaran, kita belum mengenal pasangan kita sepenuhnya. Baik itu karakternya, kesukaannya, kelemahan dan kelebihannya. Bahkan juga isi dompetnya. Kadang kita bisa tertipu oleh penampilan seseorang. Ada yang penampilannya keren, baju dan sepatunya bagus, rumah dan mobilnya juga bagus. Tapi siapa yang tahu sebenarnya kalau orang tersebut lagi 'garing' alias banyak hutangnya. Namun juga jangan salah menilai orang. Ada yang kelihatannya sederhana, penampilan apa adanya, tapi dompetnya 'tebal'. Siapa yang tahu?

Jika kita sudah menikah, baru kita tahu keadaan yang sebenarnya. Rumah tangga yang benar ada keterbukaan tentang keuangan antara suami dan isteri. Sehingga tidak akan ada penyelewengan atau masalah dalam rumah tangga tersebut. Betapa senangnya kalau kita punya pasangan hidup yang kaya-raya dan punya kedudukan semuanya beres.

Dalam Efesus 1:15-23, kita bisa melihat bagaimana rasul Paulus mengenal mempelainya dengan pasti, yaitu Kristus. Mata hatinya sudah dibukakan dengan begitu jelas tentang pengharapan yang benar kepada Kristus. Ia memiliki pengertian hikmat dan wahyu tentang mempelainya. Bahkan dikatakan Paulus, betapa hebat kuasa-Nya, yang jauh lebih tinggi dari segala pemerintah atau penguasa dan kerajaan yang ada di dunia ini. Tidak ada yang kaya dan hebat seperti Dia. Itulah mempelai Paulus dan juga kita Gereja-Nya.

Rasul Paulus berdoa untuk jemaat Efesus supaya bisa mengenal dan tahu dengan pasti siapa Kristus. Demikian juga kita, mari kita terus berdoa dan merenungkan perkataan-Nya supata kita bisa semakin mengenal Dia, mempelai kita. Dengen mengenal Dia pastikan hidup kita tidak akan mengalami kekuatiran, karena kita tahu siapa Dia yang sebenarnya. (AT)

SERAHKANLAH KUATIRMU KEPADA TUHAN, MAKA IA AKAN MEMELIHARA ENGKAU! - MAZMUR 55:23

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2008

25 September 2008

Tombol Merah

Cina adalah salah satu negara dimana di sana Tuhan sering memberi hak penganiayaan, namun tentunya juga keajaiban luar biasa sebagai pernyataan dari kuasa-Nya. Walaupun kekristenan di Barat telah menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan salah satu dari hal itu tanpa harus mengalami pengalaman lainnya, namun hal tersebut sebenarnya merupakan kombinasi antara salib dengan kebangkita, penderitaan dengan kemuliaan Tuhan yang akan memiliki dampak paling lama di negara itu.

Paul dan Joy Hattaway dari Asia Harvest menceritakan pengalaman ini :

Ketika gelombang penganiayaan melanda seluruh Cina pada tahun 1950-an, pastor Li juga ditangkap di daerah selatan propinsi Guangdong. Dia dituduh melakukan "kegiatan-kegiatan kontra revolusioner" dan dihukum dengan menjalani kerja paksa di sebuah pertambangan biji besi yang terletak di daerah ujung timur laut Cina. Istri Li dan 5 anaknya, termasuk si bungsu yang masih bayi, tidak punya lagi penopang keluarga. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan pastor Li dengan menempuh perjalanan sejauh 2000 mil ke Heilongjiang demi memungkinkan mereka dapat lebih dekat seandainya suatu saat terjadi keajaiban, yaitu pastor Li dibebaskan.

Keluarga itupun menjual semua yang mereka miliki dan membeli tiket untuk perjalanan naik kereta api selama seminggu. Ketika telah sampai, mereka menggunakan papan kayu tua dan selembar kain terpal untuk membuat sebuah gubuk reot di jalan dekat kamp pekerja itu.

Pastor Li menjalani kerja paksa itu selama 14 jam setiap harinya, dengan makanan yang tak layak, dalam temperatur udara yang mendekati titik beku. Beliau pun meninggal 3 bulan kemudian. Ketika keluarganya mendengar berita duka itu, mereka pun merasa sangat terpukul dan putus asa. Istri Li tak mampu lagi melihat adanya masa depan bagi mereka, dan ingin mengakhiri hidupnya. Anak-anaknya menjadi terabaikan.

Akhirnya, ia berkata pada anak-anak itu bahwa ia akan pergi untuk mencari kerja. Si sulung berkata, "Jangan, bu, ibu tidak boleh pergi bekerja. Adik yang masih bayi membutuhkan ibu. Dia selalu menangis mencari ibu sepanjang hari. Saya saja yang bekerja." Gadis berusia 12 tahun itu pun pergi menghadap kepala kamp pekerja itu dan berkata kepadanya, "Ayah saya telah dikirim ke tempat yang tidak mengenal Tuhan ini karena dia mengasihi Yesus Kristus. Itulah satu-satunya pelanggaran yang dia lakukan. Ayah adalah orang baik, yang mengasihi orang lain dan membantu mereka. Sekarang ayah telah tiada, dan kami disini tidak mempunyai makanan, uang dan tempat tinggal. Kami bahkan tak bisa kembali lagi ke selatan. Saya ingin tahu kalau saja ada pekerjaan yang dapat saya lakukan di kamp ini."

Kepala kamp itu masih ingat dengan pastor Li, dan tahu bahwa gadis kecil itu adalah putrinya Li. Di dalam hatinya terbersit rasa kasihan, dan ia pun berkata, "Aku punya pekerjaan untukmu, tapi membosankan, dan bayarannya rendah."

Gadis itu tanpa ragu-ragu segera mengambil pekerjaan itu. KEpala kamp membawanya ke lokasi dimana 3000 pekerja paksa itu menambang biji besi. Ia berkata padanya, "Kamu lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekat tombol itu sepanjang hari, dan jika ada yang menyuruhmu memencetnya, kamu harus segera melakukannya. Itu adalah tombol alarm untuk membunyikan tanda peringatan berbunyi, para pekerja harus segera keluar secepatnya. Kamu tidak boleh memencet tombol itu sembarangan, harus hanya ketika ada yang menyuruhmu."

Dan si sulung kecil dari keluarga Li itu pun berdiri di sebelah pohon tombol itu sepanjang hari demi hari, minggu demi minggu. Ketika menerima upah pertamanya, kegembiraan luar biasa segera meliputi dirinya dan seluruh keluarganya meski besarnya hanya beberapa dolar saja.

Di suatu siang, mendadak dia mendengar suara, "Pencet tombolnya!". Dia melihat dan berputar ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu suara siapakah itu, namun tak seorangpun kelihatan. Tak lama kemudian, terdengar sekali lagi suara, "Cepat! Pencet tombolnya sekarang!". Masih tak ada seorang pun yang kelihatan, dan dia mulai tombol peringatan ketika ada sesuatu yang gawat, dan saat ini, semuanya kelihatan baik-baik saja.

Beberapa detik kemudian, kembali sebuah suara terdengar, kali ini dengan nada yang sangat mendesak, "Li kecil, pencet tombolnya sekarang!" Kali ini dia segera menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan-nya yang berkata padanya. Dia tidak mengerti alasan kenapa dia harus memencet tombol itu, tapi dia tahu bahwa dia harus menuruti-Nya.

Alarm pun dibunyikan, dan 3000 orang segera naik ke permukaan secepatnya, dengan bingung dan penasaran apa yang telah terjadi. Kepada kamp juga berlari keluar dari kantornya, ingin tahu kenapa gadis kecil itu memencet tombol merah. Hanya berselang beberapa saat setelah pekerja terakhir meninggalkan lokasi pertambangan, sebuah gempa bumi hebat mengguncang tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak ada seorang pun yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini.

Suatu keheningan yang mencekam segera meliputi tempat itu saat guncangan gempa bumi itu berakhir, semua orang memandangi sosok kecil dan ringkih yang telah menekan tombol merah itu. Akhirnya, suara kepala kamp segera memecah keheningan, "Kawan Li, bagaimana Anda tahu kalau harus menekan tombol merah itu?"

Li kecil menjawab sekeras-kerasnya, "Tuhan Yesus Kristus-lah yang menyuruh saya untuk memencet tombol merah itu. Ia menyuruh saya tiga kali sebelum saya melakukannya. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mengenal Allah yang hidup dan yang sejati. Dia mencintai kalian semua dan Dia baru saja menunjukkan kasih-Nya dengan menyelamatkan kalian semua. Kalian harus berbalik dari dosa-dosa kalian dan memberikan hidup kalian pada-Nya!"

Sekitar 3000 pekerja dan kepala kamp segera berlutut dan berdoa supaya Yesus mengampuni mereka dan mau hidup dalam hati mereka semua.

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya  epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas. Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi
dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing. Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran :

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Iman Abraham

"Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya.." - Roma 4:11-12

Mengacu pada pembacaan ayat hari ini, rasul Paulus memasukkan nama Abraham sebagai contoh nyata kepada jemaat di kota Roma. Bukan suatu kebetulan nama ini disampaikan oleh rasul Paulus. Memang Abraham bukanlah seorang yang berasal dari keturunan Roma, namun bukan berarti ia tidak dapat dijadikan contoh dan teladan bagi mereka yang ada di kota Roma. Apa yang menjadi daya tarik dari seorang yang bernama Abraham ini? Bukankah ia manusia biasa yang bisa juga mengalami kegagalan? Bukankah ia juga ada kelemahan?

Abraham, nama ini diberikan sendiri oleh Tuhan kepadanya. Nama ini diberikan Tuhan sebagai sebuah 'penghargaan' terhadap seorang manusia yang mau menderngar suara Tuhan dengan tanpa kompromi sedikit pun (Kejadian 17:5). Melalui nama ini, Tuhan telah menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Penetapan ini diterima Abraham karena dia telah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap panggilan Tuhan. Bahkan komitmen yang tinggi ini juga dia berikan waktu Tuhan memintanya untuk disunat saat usianya sudah 99 tahun.

Paulus mengisahkan peristiwa itu sebagai langkah yang 'berani' untuk seorang pria seperti Abraham. Itulah sebabnya, rasul Paulus mengambil contoh tentang diri Abraham untuk menunjukkan bahwa Abraham adalah seorang yang perlu dijadikan teladan bagi semua orang percaya baik mereka yang telah menynatkan diri maupun yang belum menyunatkan dirinya.

Buat kita yang sekarang ini sedang mengalami pergumulan apa pun juga, renungan hari ini mengajak kita untuk mengambil tindakan iman seperti yang pernah dikerjakan oleh Abraham. Suatu tindakan iman yang 'berani' atas dasar pengenalan yang benar tentang Tuhan. Oleh sebab itu, mari kenali Tuhan dengan benar dan lebih baik lagi agar kita dapat mengikuti jejak iman Abraham. Tuhan memberkati. (FW)

Sumber : Roti Surgawi edisi September 2009

24 September 2008

Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri!

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!! "

Humor : Pengorbanan

Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita.

Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanita mengatakan sesuatu yang menyentuh.

Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuk suami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan.

Tetap Ada Waktu Buat Yesus

"Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka : "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan  manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." - Markus 9:30-31

Di tengah kesibukan-Nya melayani banyak orang, Yesus ada saat-Nya tidak mau ada orang banyak mendekat kepada-Nya. Itulah saat dimana Dia memberi waktu-Nya untuk mengajar para murid-Nya. Lihat betapa pentingnya saat sendiri untuk mengajar, mengalirkan hati-Nya kepada para murid. Kita semua adalah murid-Nya. Seringkali kita sudah begitu sibuk dengan tugas, pekerjaan dan pelayanan kita. Betapa sibuknya, sehingga bahkan kita yang tidak ada waktu lagi buat Yesus.

Saudara yang kekasih, kapan terakhir saudara merasakan Yesus mengajar secara pribadi? Mungkin sudah cukup lama kita tidak duduk berdiam diri sendiri dengan Yesus. Bagaimana, sediakanlah waktu buat Dia mengajar kita secara pribadi. Tetap ada waktu buat Yesus. Itu yang terbaik.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

23 September 2008

Jendral yang Mengorbankan Dirinya

Sama seperti Anak Manusia datang, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” - Mat. 20:28

Keputusan telah diambil. Prajurit telah dikerahkan dan kapal-kapal perang telah di tengah perjalanan. Hampir tiga juta tentara sudah siap untuk menghantam dinding Atlantik dari Adolf Hitler di negara Prancis. D-Day telah mulai digerakan. Tanggung jawab untuk invasi ini terletak di pundak Jendral berbintang empat Dwight D. Eisenhower.

Semalam sebelum invasi dimulai, jendral ini menghabiskan waktunya dengan pasukan dari 101st Airborne. Mereka menamakan diri “Pekikan Burung Rajawali”. Ketika pasukan sedang mempersiapkan pesawat-pesawat terbang mereka dan mengecek perlengkapan mereka, Ike mendekati prajurit demi prajurit untuk menyampaikan kata-kata yang membesarkan hati mereka. Banyak di antara mereka yang cukup muda untuk menjadi anaknya. Ia memperlakukan mereka seperti itu. Seorang koresponden menulis, tatkala Eisenhower mengamati pesawat-pesawat terbang tinggal landas dan menghilang dalam kegelapan di malam buta, kedua tangannya dimasukan dalam saku sedalam-dalamnya sedangkan kedua matanya penuh dengan air-mata.

Kemudian, jendral itu pergi ke baraknya dan duduk di belakang meja tulisnya. Ia mengambil sehelai kertas dan setangkai pena lalu menulis sebuah pesan yang akan di kirim ke White House bila invasi besar-besaran itu akan menemui kegagalan. Pesan itu merupakan sesuatu yang singkat dan amat berani. “Pendaratan kita telah menemui kegagalan, tentara kita, angkatan udara dan laut telah melakukan tugasnya dengan penuh keberanian dan ketaatan yang luar biasa dan melakukan kewajibannya sedapat-dapatnya. Maka segala tanggung jawab akan kegagalan ini, terletak padaku seorang diri.”

Aku kira, bahwa tindakan yang paling berani pada hari itu bukanlah yang berada di kokpit sebuah pesawat terbang atau lubang perlindungan prajurit, melainkan di sebuah meja tulis, ketika sesosok yang berada di puncak pimpinan mengambil alih semua tanggung jawab dari bawahannya. Bila yang berada di puncak komando bersedia untuk memikul kesalahannya bahkan sebelum kesalahan itu benar-benar terjadi.

Sungguh seorang pemimpin yang amat langka, jenderal ini. Sesuatu yang tidak lazim, bukti keberanian ini. Ia merupakan contoh dari suatu sifat yang jarang ditemui di masyarakat yang dipenuhi dengan perkara-perkara hukum, pemecatan dan perceraian. Kebanyakan dari kita ingin mendapatkan keuntungan dari kebenaran yang kita lakukan. Sementara, beberapa di antara kita bersedia menerima hukuman dari kesalahan kita. Namun sedikit sekali yang bersedia memikul tanggung jawab akan kesalahan orang lain. Lebih langka lagi yang bersedia memikul kesalahan dari sesuatu perbuatan yang belum dilakukan.

Eisenhower telah melakukannya, dan oleh karena itu, ia menjadi seorang pahlawan.

Demikian pula, Yesus Kristus. Akibatnya adalah ia menjadi Juru Selamat kita. Sebelum pertempuran dimulai, Ia telah mengampuni. Sebelum suatu kesalahan dapat diperbuat, Ia telah menawarkan pengampunan dan kemurahan. Ia yang berada di puncak mengambil alih tanggung jawab dari mereka yang berada di bawah. Bacalah bagaimana Yesus menjelaskan untuk apa Ia datang.

“Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”

Kalimat “Anak Manusia” membangkitan suatu gambaran yang sama bagi orang Yahudi di jamannya Yesus, seperti pengertian pangkat “jenderal” bagi kita. Hal itu merupakan suatu pernyataan akan otoritas dan kekuasaan.

Perhatikanlah semua gelar yang Yesus dapat gunakan untuk memberi definisi akan diri-Nya di dunia : Raja di atas segala raja, AKU ADA yang maha kuasa, Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Tuhan atas segala tuhan, Yehova, Yang maha Tinggi dan Maha Kudus. Semua gelar itu pantas dan layak untuk dikenakan kepada-Nya. Namun, Yesus tidak menggunakannya. Sebaliknya Ia menamakan diri-Nya Anak Manusia. Gelar ini muncul delapan puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Delapan puluh satu kali dalam ke Empat Injil. Delapan puluh kali keluar dari mulut-Nya Yesus sendiri.

Untuk dapat mengerti Yesus, kita perlu untuk mengerti apa arti gelar ini. Bila Yesus berpendapat hal itu cukup penting sehingga sampai mengulang sebanyak delapan puluh kali, hal ini pasti cukup penting untuk kita selidiki bersama.

Sedikit sekali orang yang menyangsikan bahwa hal itu berakar di kitab Daniel 7, sebuah teks yang seakan-akan merupakan suatu pembuatan film yang menakjubkan. Peramal di persilahkan duduk dalam suatu gedung bioskop yang sedang memainkan sebuah adegan akan kekuatan-kekuatan dunia di masa depan. Kerajaan-kerajaan itu digambarkan sebagai binatang-binatang : fanatik, selalu lapar dan rakus serta jahat. Singa dengan sayap burung rajawali mengambarkan Babilon, kemudian beruang dengan tiga iga dalam mulutnya mewakili Medo Persia. Iskandar Agung digambarkan sebagai seekor leopard dengan empat sayap dan empat kepala dan binatang yang keempat dengan gigi besi mewakili kerajaan Rumawi. Namun ketika adegan-adegan berlanjut, kerajaan-kerajaan itu memudar. Satu demi satu kekuatan dunia itu runtuh. Dan pada akhirnya, Allah yang menang dan menguasai segala sesuatu, Yang Lanjut Usianya itu, berkenan untuk menerima dalam hadirat-Nya Anak Manusia. Kepada-Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kuasa seorang raja. Dia digambarkan sebagai sesuatu yang berkobar-kobar putih. Duduk di atas seekor kuda yang perkasa dan sebuah pedang di tangannya.

Bagi orang Yahudi, Anak Manusia merupakan simbol dari kemenangan. Si penakluk. Saudara Besar, Tangan Kanan dari yang Maha Tinggi dan yang Maha Kudus. Raja, yang datang dari atas awan-awan di langit di atas kereta tempur yang berapi-api, penuh dengan rasa dendam dan murka terhadap mereka yang telah menindas orang-orang suci dari Allah.

Anak Manusia adalah seorang jendral berbintang empat yang memanggil tentaranya untuk menyerbu dan memimpin mereka menyongsong kemenangan.

Oleh karena itu, apabila Yesus berbicara tentang Anak manusia dalam pengertian kekuasaan, orang-orang bersorak. Apabila tentang suatu dunia yang baru di dalam mana Anak manusia di atas singgasana yang mulia, orang-orang mengerti. Bilamana Ia berbicara tentang Anak Manusia akan datang dari awan-awan di langit disertai oleh kuasa besar dan kewibawaan, orang-orang dapat membayangkan pemandangan itu. Apabila Ia berbicara tentang Anak Manusia duduk di sebelah kanan Bapa di surga, setiap orang dapat membayangkan gambarnya.

Namun, bila ia mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, orang-orang berhening. Ini tidak cocok dengan gambaran mereka, itulah bukan yang mereka nantikan.

Seandainya Anda di tempat mereka. Anda telah ditindas oleh pemerintah Romawi selama bertahun-tahun. Selama itu Anda diajar bahwa Anak Manusia akan membebaskan Anda. Kini, Ia di sini. Yesus menamakan diri-Nya Anak Manusia. Ia membuktikan bahwa Ia adalah Anak Manusia. Ia mampu untuk membangkitan kembali orang yang telah mati dan dapat meredahkan angin ribut. Pengikut-Nya makin lama makin banyak. Anda bersemangat. Akhirnya, keturunan Abraham akan dibebaskan.

Namun, apa yang dikatakanNya? “Anak Manusia tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani orang lain.” Sebelumnya, Ia mengatakan, ”Anak Manusia akan diserahkan kepada rakyat, dan mereka akan membunuh-Nya. Setelah tiga hari, Ia akan bangkit kembali dari kematian.”

Tunggu sebentar! Hal itu tidak mungkin, tidak masuk akal, sesuatu kontradiksi yang tak dapat dipertahankan. Tidak mengherankan bahwa “pengikut-pengikut-Nya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sementara mereka tidak berani menanyakan kepada-Nya.” Seorang raja yang akan melayani mereka? Anak Manusia dikhianati? Penakluk dibunuh? Wakil dari Yang Lanjut Usia diperolok-olokkan? Diludahi? Namun itulah ironi dari Yesus yang menyandang gelar “Anak Manusia” Inilah juga ironi dari salib.

Yesus mengenakan mahkota kerajaan, namun menyimpan sebuah hati seorang Bapa. Ia adalah seorang jendral yang bertanggung jawab akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Namun Yesus tidak menulis, melainkan Ia telah membayar biayanya. Ia menjadi uang tebusan. Ia adalah jendral yang mati sebagai ganti prajurit-Nya, Raja yang menderita untuk petani, seorang Majikan yang mengorbankan diri-Nya bagi pelayan-Nya.

Ketika aku masih seorang bocah, aku pernah membaca sebuah cerita Rusia tentang seorang majikan dan pelayannya yang sedang mengadakan perjalanan ke sebuah kota. Sebelum mereka tiba di kota itu, mereka tertangkap oleh sebuah badai salju yang dahsyat. Mereka kehilangan arah mereka dan tak dapat tiba di kota itu sebelum malam.

Esok harinya, beberapa kawan yang amat perihatin akan keselamatan mereka, mencari kedua orang yang tersesat itu. Akhirnya, kawan-kawannya berhasil menemukan majikannya yang telah mati beku kedinginan dengan wajah terkubur dalam es. Tatkala mereka mengangkat mayatnya, mereka menemukan pelayannya- amat kedinginan, namun masih hidup. Ia berhasil diselamatkan jiwanya dan kemudian bercerita bagaimana majikannya secara suka-rela meletakkan dirinya di atas tubuh pelayannya, sehingga yang belakangan ini selamat.

Aku bertahun-tahun tidak ingat lagi kisah itu. Namun, ketika aku membaca apa yang Yesus akan lakukan untuk kita, cerita itu timbul kembali karena Yesus adalah majikan itu yang telah mati untuk menyelamakan pelayan-pelayannya.

Ia adalah jenderal yang menanggung akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Ialah Anak Manusia yang datang untuk melayani dan yang memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk Anda.

“And The Angels were silent” - by Max Lucado

Humor : Jawaban Sebuah Doa

Seorang nenek mengajak cucu laki-lakinya ke sebuah pantai. Mereka bersenang-senang di tempat itu sampai sebuah gelombang raksasa datang dengan mendadak dan menyapu bersih segala sesuatu termasuk cucunya ke dalam samudera. Nenek itu menjatuhkan dirinya di atas lututnya dan berdoa kepada Tuhan, “Tolong Tuhan, kembalikanlah cucuku- itulah satu-satunya yang kuminta! TOLONG!!!”

Sesaat kemudian, sebuah gelombang raksasa lainnya datang dan melemparkan anak kecil itu kembali ke pantai tepat di bawah kaki nenek itu. Anaknya, walaupun basah dan takut, tidak mengalami cedera sedikitpun.

Neneknya memeriksa tubuh cucunya dengan seksama dan mendapatkan bahwa cucunya OK. Namun toh, dengan marah ia menengadah ke langit dan berkata, “Ketika kami datang di sini, ia mengenakan topi!”

Bertanya Kepada Tuhan

"Mereka tidak mengerti kerkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya." - Markus 9:32

Banyak hal dalam hidup kita ini yang tidak kita mengerti. Sebagian berupa kenyataan-kenyataan yang begitu membingungkan sebagian lagi berupa pernyataan-pernyataan orang tertentu yang sulit kita pahami. Di saat seperti itulah sebenarnya kita harus bertanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya kita segan bertanya. Mengapa orang percaya segan bertanya kepada Tuhan? Ada beberapa kemungkinana yang saya lihat :

  1. Gengsi atau merasa malu
    Malu kalau dikira tidak tahu apa-apa. Padahal bukankah kita memang tidak terlalu banyak tahu?
  2. Tidak yakin bisa mendengar jawaban Tuhan
    Bukankah banyak yang berkata, "Saya tidak bisa mendengar suara Tuhan" Kita adalah domba-Nya, pasti kita mendengar suara-Nya
  3. Tidak peduli
    Tentu ini yang paling parah. Tidak tahu dan tidak peduli

Saudara yang terkasih, daripada mendengar dari orang lain yang separuh benar, jangan segan bertanya kepada Tuhan.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

22 September 2008

Mama Mengasihimu, Jennifer

Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik!

Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya. Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.

Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter sebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk, bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya.

Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain. Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa."

Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya. Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak, terutama untuk menyenangkan orang tua saya, sehingga akhirnya saya mengalah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit. Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari, tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik, saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya. Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong. Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang.

Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging. Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang. Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan.

Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut. Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi, bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki. Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah mempengaruhi kehidupan saya. Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya.

Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan. Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut. Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian.

Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan.

Lima tahun kemudian, sesuai janji Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi. Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya, hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu, harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya. Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan.

Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya. Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terrenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati.

Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut. Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu.

Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan
membiarkan diri Mama merataap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah. Bagian dalam diri Mama mati bersamamu.

Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri. Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

Oleh: Jackie Bakker

Kisah di atas (Jackie Bakker) diambil dan diterjemahkan dari majalah American Against Abortion. Oleh Pelayanan Traktat Nafiri Allah Terakhir. PO BOX 1380 Surabaya 60013.