Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

24 September 2008

Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri!

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!! "

Humor : Pengorbanan

Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita.

Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanita mengatakan sesuatu yang menyentuh.

Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuk suami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan.

Tetap Ada Waktu Buat Yesus

"Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka : "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan  manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." - Markus 9:30-31

Di tengah kesibukan-Nya melayani banyak orang, Yesus ada saat-Nya tidak mau ada orang banyak mendekat kepada-Nya. Itulah saat dimana Dia memberi waktu-Nya untuk mengajar para murid-Nya. Lihat betapa pentingnya saat sendiri untuk mengajar, mengalirkan hati-Nya kepada para murid. Kita semua adalah murid-Nya. Seringkali kita sudah begitu sibuk dengan tugas, pekerjaan dan pelayanan kita. Betapa sibuknya, sehingga bahkan kita yang tidak ada waktu lagi buat Yesus.

Saudara yang kekasih, kapan terakhir saudara merasakan Yesus mengajar secara pribadi? Mungkin sudah cukup lama kita tidak duduk berdiam diri sendiri dengan Yesus. Bagaimana, sediakanlah waktu buat Dia mengajar kita secara pribadi. Tetap ada waktu buat Yesus. Itu yang terbaik.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

23 September 2008

Jendral yang Mengorbankan Dirinya

Sama seperti Anak Manusia datang, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” - Mat. 20:28

Keputusan telah diambil. Prajurit telah dikerahkan dan kapal-kapal perang telah di tengah perjalanan. Hampir tiga juta tentara sudah siap untuk menghantam dinding Atlantik dari Adolf Hitler di negara Prancis. D-Day telah mulai digerakan. Tanggung jawab untuk invasi ini terletak di pundak Jendral berbintang empat Dwight D. Eisenhower.

Semalam sebelum invasi dimulai, jendral ini menghabiskan waktunya dengan pasukan dari 101st Airborne. Mereka menamakan diri “Pekikan Burung Rajawali”. Ketika pasukan sedang mempersiapkan pesawat-pesawat terbang mereka dan mengecek perlengkapan mereka, Ike mendekati prajurit demi prajurit untuk menyampaikan kata-kata yang membesarkan hati mereka. Banyak di antara mereka yang cukup muda untuk menjadi anaknya. Ia memperlakukan mereka seperti itu. Seorang koresponden menulis, tatkala Eisenhower mengamati pesawat-pesawat terbang tinggal landas dan menghilang dalam kegelapan di malam buta, kedua tangannya dimasukan dalam saku sedalam-dalamnya sedangkan kedua matanya penuh dengan air-mata.

Kemudian, jendral itu pergi ke baraknya dan duduk di belakang meja tulisnya. Ia mengambil sehelai kertas dan setangkai pena lalu menulis sebuah pesan yang akan di kirim ke White House bila invasi besar-besaran itu akan menemui kegagalan. Pesan itu merupakan sesuatu yang singkat dan amat berani. “Pendaratan kita telah menemui kegagalan, tentara kita, angkatan udara dan laut telah melakukan tugasnya dengan penuh keberanian dan ketaatan yang luar biasa dan melakukan kewajibannya sedapat-dapatnya. Maka segala tanggung jawab akan kegagalan ini, terletak padaku seorang diri.”

Aku kira, bahwa tindakan yang paling berani pada hari itu bukanlah yang berada di kokpit sebuah pesawat terbang atau lubang perlindungan prajurit, melainkan di sebuah meja tulis, ketika sesosok yang berada di puncak pimpinan mengambil alih semua tanggung jawab dari bawahannya. Bila yang berada di puncak komando bersedia untuk memikul kesalahannya bahkan sebelum kesalahan itu benar-benar terjadi.

Sungguh seorang pemimpin yang amat langka, jenderal ini. Sesuatu yang tidak lazim, bukti keberanian ini. Ia merupakan contoh dari suatu sifat yang jarang ditemui di masyarakat yang dipenuhi dengan perkara-perkara hukum, pemecatan dan perceraian. Kebanyakan dari kita ingin mendapatkan keuntungan dari kebenaran yang kita lakukan. Sementara, beberapa di antara kita bersedia menerima hukuman dari kesalahan kita. Namun sedikit sekali yang bersedia memikul tanggung jawab akan kesalahan orang lain. Lebih langka lagi yang bersedia memikul kesalahan dari sesuatu perbuatan yang belum dilakukan.

Eisenhower telah melakukannya, dan oleh karena itu, ia menjadi seorang pahlawan.

Demikian pula, Yesus Kristus. Akibatnya adalah ia menjadi Juru Selamat kita. Sebelum pertempuran dimulai, Ia telah mengampuni. Sebelum suatu kesalahan dapat diperbuat, Ia telah menawarkan pengampunan dan kemurahan. Ia yang berada di puncak mengambil alih tanggung jawab dari mereka yang berada di bawah. Bacalah bagaimana Yesus menjelaskan untuk apa Ia datang.

“Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”

Kalimat “Anak Manusia” membangkitan suatu gambaran yang sama bagi orang Yahudi di jamannya Yesus, seperti pengertian pangkat “jenderal” bagi kita. Hal itu merupakan suatu pernyataan akan otoritas dan kekuasaan.

Perhatikanlah semua gelar yang Yesus dapat gunakan untuk memberi definisi akan diri-Nya di dunia : Raja di atas segala raja, AKU ADA yang maha kuasa, Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, Tuhan atas segala tuhan, Yehova, Yang maha Tinggi dan Maha Kudus. Semua gelar itu pantas dan layak untuk dikenakan kepada-Nya. Namun, Yesus tidak menggunakannya. Sebaliknya Ia menamakan diri-Nya Anak Manusia. Gelar ini muncul delapan puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Delapan puluh satu kali dalam ke Empat Injil. Delapan puluh kali keluar dari mulut-Nya Yesus sendiri.

Untuk dapat mengerti Yesus, kita perlu untuk mengerti apa arti gelar ini. Bila Yesus berpendapat hal itu cukup penting sehingga sampai mengulang sebanyak delapan puluh kali, hal ini pasti cukup penting untuk kita selidiki bersama.

Sedikit sekali orang yang menyangsikan bahwa hal itu berakar di kitab Daniel 7, sebuah teks yang seakan-akan merupakan suatu pembuatan film yang menakjubkan. Peramal di persilahkan duduk dalam suatu gedung bioskop yang sedang memainkan sebuah adegan akan kekuatan-kekuatan dunia di masa depan. Kerajaan-kerajaan itu digambarkan sebagai binatang-binatang : fanatik, selalu lapar dan rakus serta jahat. Singa dengan sayap burung rajawali mengambarkan Babilon, kemudian beruang dengan tiga iga dalam mulutnya mewakili Medo Persia. Iskandar Agung digambarkan sebagai seekor leopard dengan empat sayap dan empat kepala dan binatang yang keempat dengan gigi besi mewakili kerajaan Rumawi. Namun ketika adegan-adegan berlanjut, kerajaan-kerajaan itu memudar. Satu demi satu kekuatan dunia itu runtuh. Dan pada akhirnya, Allah yang menang dan menguasai segala sesuatu, Yang Lanjut Usianya itu, berkenan untuk menerima dalam hadirat-Nya Anak Manusia. Kepada-Nya diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan kuasa seorang raja. Dia digambarkan sebagai sesuatu yang berkobar-kobar putih. Duduk di atas seekor kuda yang perkasa dan sebuah pedang di tangannya.

Bagi orang Yahudi, Anak Manusia merupakan simbol dari kemenangan. Si penakluk. Saudara Besar, Tangan Kanan dari yang Maha Tinggi dan yang Maha Kudus. Raja, yang datang dari atas awan-awan di langit di atas kereta tempur yang berapi-api, penuh dengan rasa dendam dan murka terhadap mereka yang telah menindas orang-orang suci dari Allah.

Anak Manusia adalah seorang jendral berbintang empat yang memanggil tentaranya untuk menyerbu dan memimpin mereka menyongsong kemenangan.

Oleh karena itu, apabila Yesus berbicara tentang Anak manusia dalam pengertian kekuasaan, orang-orang bersorak. Apabila tentang suatu dunia yang baru di dalam mana Anak manusia di atas singgasana yang mulia, orang-orang mengerti. Bilamana Ia berbicara tentang Anak Manusia akan datang dari awan-awan di langit disertai oleh kuasa besar dan kewibawaan, orang-orang dapat membayangkan pemandangan itu. Apabila Ia berbicara tentang Anak Manusia duduk di sebelah kanan Bapa di surga, setiap orang dapat membayangkan gambarnya.

Namun, bila ia mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, orang-orang berhening. Ini tidak cocok dengan gambaran mereka, itulah bukan yang mereka nantikan.

Seandainya Anda di tempat mereka. Anda telah ditindas oleh pemerintah Romawi selama bertahun-tahun. Selama itu Anda diajar bahwa Anak Manusia akan membebaskan Anda. Kini, Ia di sini. Yesus menamakan diri-Nya Anak Manusia. Ia membuktikan bahwa Ia adalah Anak Manusia. Ia mampu untuk membangkitan kembali orang yang telah mati dan dapat meredahkan angin ribut. Pengikut-Nya makin lama makin banyak. Anda bersemangat. Akhirnya, keturunan Abraham akan dibebaskan.

Namun, apa yang dikatakanNya? “Anak Manusia tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani orang lain.” Sebelumnya, Ia mengatakan, ”Anak Manusia akan diserahkan kepada rakyat, dan mereka akan membunuh-Nya. Setelah tiga hari, Ia akan bangkit kembali dari kematian.”

Tunggu sebentar! Hal itu tidak mungkin, tidak masuk akal, sesuatu kontradiksi yang tak dapat dipertahankan. Tidak mengherankan bahwa “pengikut-pengikut-Nya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus, sementara mereka tidak berani menanyakan kepada-Nya.” Seorang raja yang akan melayani mereka? Anak Manusia dikhianati? Penakluk dibunuh? Wakil dari Yang Lanjut Usia diperolok-olokkan? Diludahi? Namun itulah ironi dari Yesus yang menyandang gelar “Anak Manusia” Inilah juga ironi dari salib.

Yesus mengenakan mahkota kerajaan, namun menyimpan sebuah hati seorang Bapa. Ia adalah seorang jendral yang bertanggung jawab akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Namun Yesus tidak menulis, melainkan Ia telah membayar biayanya. Ia menjadi uang tebusan. Ia adalah jendral yang mati sebagai ganti prajurit-Nya, Raja yang menderita untuk petani, seorang Majikan yang mengorbankan diri-Nya bagi pelayan-Nya.

Ketika aku masih seorang bocah, aku pernah membaca sebuah cerita Rusia tentang seorang majikan dan pelayannya yang sedang mengadakan perjalanan ke sebuah kota. Sebelum mereka tiba di kota itu, mereka tertangkap oleh sebuah badai salju yang dahsyat. Mereka kehilangan arah mereka dan tak dapat tiba di kota itu sebelum malam.

Esok harinya, beberapa kawan yang amat perihatin akan keselamatan mereka, mencari kedua orang yang tersesat itu. Akhirnya, kawan-kawannya berhasil menemukan majikannya yang telah mati beku kedinginan dengan wajah terkubur dalam es. Tatkala mereka mengangkat mayatnya, mereka menemukan pelayannya- amat kedinginan, namun masih hidup. Ia berhasil diselamatkan jiwanya dan kemudian bercerita bagaimana majikannya secara suka-rela meletakkan dirinya di atas tubuh pelayannya, sehingga yang belakangan ini selamat.

Aku bertahun-tahun tidak ingat lagi kisah itu. Namun, ketika aku membaca apa yang Yesus akan lakukan untuk kita, cerita itu timbul kembali karena Yesus adalah majikan itu yang telah mati untuk menyelamakan pelayan-pelayannya.

Ia adalah jenderal yang menanggung akan kesalahan-kesalahan prajurit-Nya. Ialah Anak Manusia yang datang untuk melayani dan yang memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk Anda.

“And The Angels were silent” - by Max Lucado

Humor : Jawaban Sebuah Doa

Seorang nenek mengajak cucu laki-lakinya ke sebuah pantai. Mereka bersenang-senang di tempat itu sampai sebuah gelombang raksasa datang dengan mendadak dan menyapu bersih segala sesuatu termasuk cucunya ke dalam samudera. Nenek itu menjatuhkan dirinya di atas lututnya dan berdoa kepada Tuhan, “Tolong Tuhan, kembalikanlah cucuku- itulah satu-satunya yang kuminta! TOLONG!!!”

Sesaat kemudian, sebuah gelombang raksasa lainnya datang dan melemparkan anak kecil itu kembali ke pantai tepat di bawah kaki nenek itu. Anaknya, walaupun basah dan takut, tidak mengalami cedera sedikitpun.

Neneknya memeriksa tubuh cucunya dengan seksama dan mendapatkan bahwa cucunya OK. Namun toh, dengan marah ia menengadah ke langit dan berkata, “Ketika kami datang di sini, ia mengenakan topi!”

Bertanya Kepada Tuhan

"Mereka tidak mengerti kerkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya." - Markus 9:32

Banyak hal dalam hidup kita ini yang tidak kita mengerti. Sebagian berupa kenyataan-kenyataan yang begitu membingungkan sebagian lagi berupa pernyataan-pernyataan orang tertentu yang sulit kita pahami. Di saat seperti itulah sebenarnya kita harus bertanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya kita segan bertanya. Mengapa orang percaya segan bertanya kepada Tuhan? Ada beberapa kemungkinana yang saya lihat :

  1. Gengsi atau merasa malu
    Malu kalau dikira tidak tahu apa-apa. Padahal bukankah kita memang tidak terlalu banyak tahu?
  2. Tidak yakin bisa mendengar jawaban Tuhan
    Bukankah banyak yang berkata, "Saya tidak bisa mendengar suara Tuhan" Kita adalah domba-Nya, pasti kita mendengar suara-Nya
  3. Tidak peduli
    Tentu ini yang paling parah. Tidak tahu dan tidak peduli

Saudara yang terkasih, daripada mendengar dari orang lain yang separuh benar, jangan segan bertanya kepada Tuhan.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

22 September 2008

Mama Mengasihimu, Jennifer

Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik!

Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya. Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.

Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter sebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk, bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya.

Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain. Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa."

Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya. Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak, terutama untuk menyenangkan orang tua saya, sehingga akhirnya saya mengalah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit. Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari, tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik, saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya. Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong. Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang.

Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging. Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang. Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan.

Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut. Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi, bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki. Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah mempengaruhi kehidupan saya. Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya.

Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan. Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut. Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian.

Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan.

Lima tahun kemudian, sesuai janji Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi. Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya, hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu, harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya. Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan.

Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya. Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terrenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati.

Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut. Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu.

Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan
membiarkan diri Mama merataap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah. Bagian dalam diri Mama mati bersamamu.

Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri. Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

Oleh: Jackie Bakker

Kisah di atas (Jackie Bakker) diambil dan diterjemahkan dari majalah American Against Abortion. Oleh Pelayanan Traktat Nafiri Allah Terakhir. PO BOX 1380 Surabaya 60013.

A Different Kind of Prayer

Heavenly Father, Help us remember that the jerk who cut us off in traffic last night is a single mother who worked nine hours that day and was rushing home to cook dinner, help with homework, do the laundry and spend a few precious moments with her children.

Help us to remember that the pierced, tattooed, disinterested young man who can't make change correctly is a worried 19-year-old college student, balancing his apprehension over final exams with his fear of not getting his student loans for next semester.

Remind us, Lord, that the scary looking bum, begging for money in the same spot every day (who really ought to get a job)! is a slave to addictions that we can only imagine in our worst nightmares.

Help us to remember that the old couple walking annoyingly slow through the store aisles and blocking our shopping progress are savoring this moment, knowing that, based on the biopsy report she got back last week, this will be the last year that they go shopping together.

Heavenly Father, remind us each day that, of all the gifts you give us, the greatest gift is love. It is not enough to share that love with those we hold dear. Open our hearts not just to those who are close to us but to all humanity. Let us be slow to judgment and quick to forgiveness and patience and empathy and love.

AMEN

Author Unknown

Ketenangan Sejati

Nats : Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur 62:2-3)

Bacaan : Mazmur 62:1-13

Pada tahun 80-an ada sebuah film berjudul Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston. Film ini bercerita tentang Houston sebagai artis yang hidupnya dikelilingi oleh para penggemar fanatik yang ingin mencelakai dirinya. Untuk melindungi diri, ia lalu menggunakan jasa pengawal pribadi, seorang veteran angkatan perang. Dalam film itu ditunjukkan bagaimana peralatan canggih digunakan di seluruh rumah Houston untuk membuatnya bisa tidur tenang.

Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Sebab apalah artinya kita memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, galau, dan selalu dikejar ketakutan? Sayang orang kerap salah mencari sumber ketenangan. Misalnya, dengan menggantungkan hidup pada bodyguard, senjata, uang, atau jabatan.

Ketenangan yang sejati tidak terletak pada semua itu, tetapi pada kedekatan dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Pemilik sesungguhnya dari kehidupan ini. Tuhan adalah adalah sumber pengharapan dan perlindungan. Seperti yang disaksikan oleh Daud dalam Mazmur bacaan kita. Daud pernah hidup terlunta-lunta sebagai pelarian ketika dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, dan ia merasakan betul bagaimana kasih dan kuasa Tuhan melindunginya.

Anda mendambakan ketenangan? Kuncinya: jangan jauh-jauh dari Tuhan. Tidak berarti hidup kita kemudian menjadi lurus dan mulus, juga tidak lantas kita bebas lepas dari segala masalah. Tidak. Masalah dan rintangan bisa tetap ada, tetapi seberapa pun besarnya masalah yang mendera dan rintangan yang menghadang, itu tidak akan merenggut ketenangan kita -AYA

DEKAT DENGAN TUHAN
ITU KUNCI KETENANGAN HIDUP

Yayasan Gloria

Humor : Jutawan

Di dalam suatu pertemuan di gereja, seorang kaya berdiri dan memberi kesaksian kepada hadirin tentang imannya.

“Aku adalah seorang jutawan”, katanya, “Aku yakin bahwa hal itu karena berkat Tuhan yang berlimpah yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Aku masih ingat titik balik itu dalam imanku. Aku baru saja menerima $ 1.00 sebagai hasil pekerjaanku dan kemudian aku pergi ke sebuah kebaktian gereja pada malam itu.

Pembicaranya adalah misionaris yang bercerita tentang pekerjaan pelayanannya. Aku sadar bahwa aku hanya memiliki $ 1.00 dan harus memberikan semuanya itu untuk pekerjaan Tuhan atau sama sekali tidak. Pada saat itu aku mengambil keputusan untuk mempersembahkan seluruh milikku kepada Tuan. Aku percaya bahwa Tuhan memberkati keputusanku itu, dan oleh karenanya, kini aku menjadi seorang kaya.”

Setelah ia selesai, terdapat suatu keheningan yang cukup lama di dalam gereja. Ketika ia balik ke tempat duduknya, seorang wanita kecil yang sudah tua berbisik kepadanya, “Aku menantangmu untuk mengulangi perbuatanmu lagi!”

Penny Rahm

Saved by Same Grace

Seorang pencuri tertangkap basah ketika hendak mencuri sekotak emas milik kaisar. Awalnya ketika dihadapkan kepada kaisar, ia akan dihukum beserta istri dan anak-anaknya. Tetapi pencuri itu memohon ampun kepada kaisar, karena ia satu-satunya penopang dalam keluarganya. Ia harus menghidupi ibu mertuanya, istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Akhirnya kaisar menjadi iba kepada pencuri itu. Bukan saja tidak jadi dihukum, Koji, pencuri itu malah diberi makanan untuk keluarganya. Karena begitu banyaknya makanan yang diberikan, sampai-sampai ia harus di antar oleh dua orang pengawal untuk membawa gerobak yang penuh berisi makanan.

Di tengah perjalanan, ada seorang temannya yang menjadi pengemis, meminta-minta kepada Koji. Dengan sikap acuh, ia pura-pura tidak mendengar suara pengemis itu. Tiba-tiba gerobak pengangkut makanan Koji menjadi oleh karena menginjak sebuah batu. Dua buah bakpao terjatuh dari gerobak ke jalanan yang kotor. Dengan segera, pengemis itu mengambilnya dan memakannya.

Ketika Koji melihatnya, ia segera naik pitam. Dipukulnya pengemis itu dan dipaksa untuk mengeluarkan bakpao kotor yang sedang dikuyahnya. Setelah bakpao itu dimuntahkan, Koji menginjak-injaknya. Ia lalu merebut bakpao yang masih utuh di tangan kiri pengemis itu, lalu melemparnya ke sungai, sambil berkata, "Enak aja, sudah tidak diberi, masih merebut makanan orang lain."

Kedua orang pengawal itu kembali menangkap Koji dan melaporkan kejadian itu kepada Kaisar. Kaisar bertanya, "Milik siapa makana yang ada di atas gerobak itu?"

Koji menjawab, "Milikku, eh, bukan. Maksudku milik Kaisar."

Lalu kaisar kembali berkata, "Kalau begitu kenapa kamu tidak membaginya kepada temanmu, pengemis itu? Bukankah ia juga sama seperti kamu? Seharusnya tidak layak menerima makanan itu!"

Pelajaran yang dapat diambil :

Sebenarnya kita semua sama di hadapan Tuhan. Di selamatkan oleh kasih Tuhan yang sama, tapi seringkali kita saling menghakimi saudara kita sendiri. Menganggap diri kita sendiri lebih layak dari mereka. Kita mendapat pengampunan yang besar dari Tuhan, tetapi malah tidak mengampuni kesalahan orang lain. Bertobatlah!