Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 September 2008

Bertanya Kepada Tuhan

"Mereka tidak mengerti kerkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya." - Markus 9:32

Banyak hal dalam hidup kita ini yang tidak kita mengerti. Sebagian berupa kenyataan-kenyataan yang begitu membingungkan sebagian lagi berupa pernyataan-pernyataan orang tertentu yang sulit kita pahami. Di saat seperti itulah sebenarnya kita harus bertanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya kita segan bertanya. Mengapa orang percaya segan bertanya kepada Tuhan? Ada beberapa kemungkinana yang saya lihat :

  1. Gengsi atau merasa malu
    Malu kalau dikira tidak tahu apa-apa. Padahal bukankah kita memang tidak terlalu banyak tahu?
  2. Tidak yakin bisa mendengar jawaban Tuhan
    Bukankah banyak yang berkata, "Saya tidak bisa mendengar suara Tuhan" Kita adalah domba-Nya, pasti kita mendengar suara-Nya
  3. Tidak peduli
    Tentu ini yang paling parah. Tidak tahu dan tidak peduli

Saudara yang terkasih, daripada mendengar dari orang lain yang separuh benar, jangan segan bertanya kepada Tuhan.

Oleh : Pdt. Petrus Agung Purnomo

22 September 2008

Mama Mengasihimu, Jennifer

Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik!

Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya. Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya.

Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter sebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk, bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya.

Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain. Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa."

Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu, dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya. Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak, terutama untuk menyenangkan orang tua saya, sehingga akhirnya saya mengalah.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit. Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari, tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik, saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya. Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorangpun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong. Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang.

Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging. Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apapun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang. Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan.

Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut. Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi, bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki. Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu sah mempengaruhi kehidupan saya. Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya.

Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan. Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut. Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian.

Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari
barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri. Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy'. Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan.

Lima tahun kemudian, sesuai janji Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi. Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya, hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu, harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya. Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan.

Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya. Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terrenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati.

Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut. Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,
Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu.

Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang
tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan
membiarkan diri Mama merataap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah. Bagian dalam diri Mama mati bersamamu.

Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri. Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

Oleh: Jackie Bakker

Kisah di atas (Jackie Bakker) diambil dan diterjemahkan dari majalah American Against Abortion. Oleh Pelayanan Traktat Nafiri Allah Terakhir. PO BOX 1380 Surabaya 60013.

A Different Kind of Prayer

Heavenly Father, Help us remember that the jerk who cut us off in traffic last night is a single mother who worked nine hours that day and was rushing home to cook dinner, help with homework, do the laundry and spend a few precious moments with her children.

Help us to remember that the pierced, tattooed, disinterested young man who can't make change correctly is a worried 19-year-old college student, balancing his apprehension over final exams with his fear of not getting his student loans for next semester.

Remind us, Lord, that the scary looking bum, begging for money in the same spot every day (who really ought to get a job)! is a slave to addictions that we can only imagine in our worst nightmares.

Help us to remember that the old couple walking annoyingly slow through the store aisles and blocking our shopping progress are savoring this moment, knowing that, based on the biopsy report she got back last week, this will be the last year that they go shopping together.

Heavenly Father, remind us each day that, of all the gifts you give us, the greatest gift is love. It is not enough to share that love with those we hold dear. Open our hearts not just to those who are close to us but to all humanity. Let us be slow to judgment and quick to forgiveness and patience and empathy and love.

AMEN

Author Unknown

Ketenangan Sejati

Nats : Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (Mazmur 62:2-3)

Bacaan : Mazmur 62:1-13

Pada tahun 80-an ada sebuah film berjudul Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston. Film ini bercerita tentang Houston sebagai artis yang hidupnya dikelilingi oleh para penggemar fanatik yang ingin mencelakai dirinya. Untuk melindungi diri, ia lalu menggunakan jasa pengawal pribadi, seorang veteran angkatan perang. Dalam film itu ditunjukkan bagaimana peralatan canggih digunakan di seluruh rumah Houston untuk membuatnya bisa tidur tenang.

Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Sebab apalah artinya kita memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, galau, dan selalu dikejar ketakutan? Sayang orang kerap salah mencari sumber ketenangan. Misalnya, dengan menggantungkan hidup pada bodyguard, senjata, uang, atau jabatan.

Ketenangan yang sejati tidak terletak pada semua itu, tetapi pada kedekatan dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Pemilik sesungguhnya dari kehidupan ini. Tuhan adalah adalah sumber pengharapan dan perlindungan. Seperti yang disaksikan oleh Daud dalam Mazmur bacaan kita. Daud pernah hidup terlunta-lunta sebagai pelarian ketika dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, dan ia merasakan betul bagaimana kasih dan kuasa Tuhan melindunginya.

Anda mendambakan ketenangan? Kuncinya: jangan jauh-jauh dari Tuhan. Tidak berarti hidup kita kemudian menjadi lurus dan mulus, juga tidak lantas kita bebas lepas dari segala masalah. Tidak. Masalah dan rintangan bisa tetap ada, tetapi seberapa pun besarnya masalah yang mendera dan rintangan yang menghadang, itu tidak akan merenggut ketenangan kita -AYA

DEKAT DENGAN TUHAN
ITU KUNCI KETENANGAN HIDUP

Yayasan Gloria

Humor : Jutawan

Di dalam suatu pertemuan di gereja, seorang kaya berdiri dan memberi kesaksian kepada hadirin tentang imannya.

“Aku adalah seorang jutawan”, katanya, “Aku yakin bahwa hal itu karena berkat Tuhan yang berlimpah yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Aku masih ingat titik balik itu dalam imanku. Aku baru saja menerima $ 1.00 sebagai hasil pekerjaanku dan kemudian aku pergi ke sebuah kebaktian gereja pada malam itu.

Pembicaranya adalah misionaris yang bercerita tentang pekerjaan pelayanannya. Aku sadar bahwa aku hanya memiliki $ 1.00 dan harus memberikan semuanya itu untuk pekerjaan Tuhan atau sama sekali tidak. Pada saat itu aku mengambil keputusan untuk mempersembahkan seluruh milikku kepada Tuan. Aku percaya bahwa Tuhan memberkati keputusanku itu, dan oleh karenanya, kini aku menjadi seorang kaya.”

Setelah ia selesai, terdapat suatu keheningan yang cukup lama di dalam gereja. Ketika ia balik ke tempat duduknya, seorang wanita kecil yang sudah tua berbisik kepadanya, “Aku menantangmu untuk mengulangi perbuatanmu lagi!”

Penny Rahm

Saved by Same Grace

Seorang pencuri tertangkap basah ketika hendak mencuri sekotak emas milik kaisar. Awalnya ketika dihadapkan kepada kaisar, ia akan dihukum beserta istri dan anak-anaknya. Tetapi pencuri itu memohon ampun kepada kaisar, karena ia satu-satunya penopang dalam keluarganya. Ia harus menghidupi ibu mertuanya, istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.

Akhirnya kaisar menjadi iba kepada pencuri itu. Bukan saja tidak jadi dihukum, Koji, pencuri itu malah diberi makanan untuk keluarganya. Karena begitu banyaknya makanan yang diberikan, sampai-sampai ia harus di antar oleh dua orang pengawal untuk membawa gerobak yang penuh berisi makanan.

Di tengah perjalanan, ada seorang temannya yang menjadi pengemis, meminta-minta kepada Koji. Dengan sikap acuh, ia pura-pura tidak mendengar suara pengemis itu. Tiba-tiba gerobak pengangkut makanan Koji menjadi oleh karena menginjak sebuah batu. Dua buah bakpao terjatuh dari gerobak ke jalanan yang kotor. Dengan segera, pengemis itu mengambilnya dan memakannya.

Ketika Koji melihatnya, ia segera naik pitam. Dipukulnya pengemis itu dan dipaksa untuk mengeluarkan bakpao kotor yang sedang dikuyahnya. Setelah bakpao itu dimuntahkan, Koji menginjak-injaknya. Ia lalu merebut bakpao yang masih utuh di tangan kiri pengemis itu, lalu melemparnya ke sungai, sambil berkata, "Enak aja, sudah tidak diberi, masih merebut makanan orang lain."

Kedua orang pengawal itu kembali menangkap Koji dan melaporkan kejadian itu kepada Kaisar. Kaisar bertanya, "Milik siapa makana yang ada di atas gerobak itu?"

Koji menjawab, "Milikku, eh, bukan. Maksudku milik Kaisar."

Lalu kaisar kembali berkata, "Kalau begitu kenapa kamu tidak membaginya kepada temanmu, pengemis itu? Bukankah ia juga sama seperti kamu? Seharusnya tidak layak menerima makanan itu!"

Pelajaran yang dapat diambil :

Sebenarnya kita semua sama di hadapan Tuhan. Di selamatkan oleh kasih Tuhan yang sama, tapi seringkali kita saling menghakimi saudara kita sendiri. Menganggap diri kita sendiri lebih layak dari mereka. Kita mendapat pengampunan yang besar dari Tuhan, tetapi malah tidak mengampuni kesalahan orang lain. Bertobatlah!

21 September 2008

Injil di Balik Kue Bulan

Nats : Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (1Korintus 9:19)

Bacaan : 1Korintus 9:19-23

Kue bulan atau tong jiu pia adalah makanan khas orang Cina, yang biasanya ada untuk merayakan festival bulan purnama. Saya memiliki suatu kenangan mengesankan dengan kue ini ketika sedang belajar di Cina. Menjelang festival bulan purnama, sepasang suami istri dari gereja lokal tempat saya beribadah mengundang kami, para mahasiswa asing, untuk datang ke rumah mereka dan makan kue bulan bersama. Beberapa rekan yang memiliki keyakinan berbeda pun ikut datang. Ternyata suami istri tersebut memakai kesempatan festival bulan purnama untuk menceritakan betapa besar kasih Tuhan dalam hidup mereka. Mereka menjadikan kue bulan sebagai sarana untuk menceritakan Injil.

Tak semua tradisi warisan budaya nenek moyang itu buruk. Memang ada tradisi yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan bisa menghambat pertumbuhan rohani kita, karenanya harus kita tolak. Akan tetapi ada juga tradisi yang bersifat "netral", yang bahkan bisa kita gunakan untuk menjadi sarana pemberitaan Injil yang efektif. Paulus, dalam pelayanannya, tidak mengabaikan tradisi yang dimiliki seseorang. Dikatakan dalam surat Korintus, ia "menjadi seperti orang yang dilayaninya" supaya bisa memenangkan sebanyak mungkin orang (ayat 19).

Saya belajar dari suami istri yang mengundang kami untuk makan kue bulan itu. Mereka begitu rindu mewartakan kabar baik tentang kasih Kristus, dan mereka menggunakan tradisi warisan budaya yang mereka miliki untuk dipakai menjadi sarana penginjilan. Dan itu sangat efektif. Walau tentu kue bulan itu hanya menjadi sarana, bukan yang utama. Akhirnya yang menyentuh hati kami bukanlah kue bulan, melainkan kasih Kristus dalam hati mereka -GS

PERNAK-PERNIK TRADISI BISA MENGUNDANG ORANG MASUK TETAPI HANYA KASIH KRISTUS YANG MEMBUAT MEREKA BERTOBAT

Yayasan Gloria

Selamat Karena Hal KECIL

Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat, sedangkan sebagian besar meninggal saat terjadinya serangan atas WTC - untuk menceritakan pengalamannya.

Pada pertemuan pagi itu, pimpinan keamanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai : HAL-HAL YANG KECIL :

Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK.

Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya.

Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu.

Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas.

Seorang karyawan ketinggalan bus.

Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian.

Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan.

Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering.

Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama.

Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.

Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah: sebuah sepatu baru.

Saya memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini.

Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon dan semua HAL KECIL yang mengganggu - sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini

Jika suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda!

Kiranya Tuhan selalu memberkati saudara dengan semua hal-hal kecil yang tampaknya mengganggu dan semoga saudara mengingat akan maksud dari semua peristiwa kecil itu terjadi.

Humor : Tongkatnya Terbalik

Seorang pendeta mengambil cuti dan memutuskan untuk pergi ke salah satu lapangan golf yang besar tempat Arnold Palmer (pe-golf terkenal) sering bermain. Ketika pendeta itu sampai pada lubang yang paling sulit di lapangan itu, kadi yang membantunya berkata, "Ketika Arnold Palmer sampai di lubang ini, ia memakai tongkat nomor tiga dan berdoa."

"Wah, saya juga mau mencoba", jawab pendeta itu. Tetapi ketika bolanya masuk ke air, ia berkata, "Mungkin Tuhan tidak mendengar doa saya."

"Mungkin Ia mendengar Anda, Pak", kata kadi itu, "Tetapi Arnold Palmer tidak pernah menggunakan tongkatnya terbalik."

20 September 2008

Bapa Kami yang di Sorga

*Bapa kami yang di surga aku mencintai MU.*

Semua kutukan nenek moyangku, papa mamaku, keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU. Sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan.

Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman2ku. Jadikanlah kami kepanjangan hati dan tanganMU. Dalam nama TUHAN YESUS kami berdoa.

AMIN...

Humor : Salah Diet

Seorang wanita menderita obesitas yang parah, sehingga si dokter menyuruh dia untuk melakukan diet. Dokter itu berkata, "Makanlah secara teratur dengan porsi kecil selama 2 hari, tanpa daging dan gorengan, lalu hentikanlah itu selama 1 hari. Kemudian makanlah lagi secara teratur, dengan porsi kecil selama 2 hari, kemudian berhentilah lagi selama 1 hari, begitu seterusnya. Ulangi terus prosedur ini selama 2 minggu. Jika Anda datang lagi kemari, berat badan Anda harus sudah turun sebanyak 2 kg!"

Dua minggu kemudian si wanita tersebut datang kembali, dan dia membuat sang dokter terkejut karena dia ternyata selama 2 minggu berat badannya turun sebanyak 10 kg.

"Wow, sungguh luar biasa!" kata si Dokter, "Anda mengikuti instruksi saya bukan?"

Wanita tersebut mengangguk dan berkata, "Aku mau jujur, Dok! Selama aku menjalankan diet menurut cara Anda, setiap hari ketiga aku pasti merasa akan mati karena tidak makan sama sekali!"

Setengah berteriak dokter itu berkata, "Apa?? Maksud Anda setiap hari ketiga Anda berhenti makan sama sekali? Oh tidak! Maksud saya, setiap hari yang ketiga, Anda bebas makan apa saja!"