Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 September 2008

Kathy & Pattrick DeZeeuw

Oleh Kathy DeZeeuw (Ibu)

Saya dibesarkan dalam keluarga yang membaca Alkitab setiap hendak makan dan pergi ke gereja tiga kali seminggu. Kami adalah keluarga yang sangat rohani, tetapi sebenarnya kami tidak mempunyai hubungan yang sesungguhnya dengan Tuhan. Sebagai seorang gadis muda, saya cukup terlindung, dan mempunyai impian khusus untuk berjumpa dengan pemuda ideal dan memiliki perkawinan yang sempurna. Namun impian saya telah berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Saya tidak diperbolehkan berkencan atau nonton bioskop. Tetapi pada suatu malam saat saya berusia 16 tahun, saya membolos dari gereja dan pergi membeli pizza bersama dengan teman wanita. Ditempat restoran pizza, saya menerima sebuah undangan drive-in movie (Menonton bioskop dari dalam mobil) bersama seorang pria yang baru saja keluar dari dalam penjara. Saat ia semakin mabuk, kemarahan dalam dirinya menjadi jelas. Film berakhir, tetapi ia tidak membawa saya kembali ke mobil saya, sebaliknya ia membawa saya pergi kesebuah danau terpencil, lalu memperkosa saya.

Saat saya mengkuatkan diri saya untuk bangun dan berjalan pulang, saya tidak bisa berhenti meratap. Saya merasa mati di dalam. Segalanya didalam diri saya hancur - ia telah mencuri dari saya sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan kembali. Dan yang lebih buruk dari itu adalah ketidaktaatan saya mengakibatkan saya diperkosa. Karena saya tidak "Dikerjain dijalanan", saya menganggap itu mungkin bukan benar2 perkosaan-itu pasti kesalahan saya. Sebab itu saya menyembunyikan perasaan bersalah dan malu. Entah bagaimana akhirnya saya tahu bahwa saya hamil. Satu bulan berlalu berganti dengan bulan berikutnya. Pada saat menunggu datang bulan, saya menjadi suka menyendiri dan putus asa. Dalam keputus-asaan saya menjerit kepada Tuhan dan membuat segala janji, tetapi Tuhan tidak mengambil anak pria pemerkosa itu. Saat itu aborsi masih belum disahkan, maka saya berusaha membunuh sendiri anak saya, saya minum racun semut, menjatuhkan diri dari timbunan rumput kering yang tinggi, dan meninju perut saya sekeras mungkin, tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Saya membenci bayi tersebut, saya benci pria itu, dan terutama saya benci diri saya sendiri.

Saat perut saya bertambah besar, saya menjadi semakin takut. Saya mengenakan korset untuk menutupi perut saya yang menonjol. Bila saya tiba dirumah sepulang sekolah saya sudah hampir pingsan karena kesakitan. Dalam keputus-asaan saya yang dalam, saya berusaha untuk menyembunyikan apa yang terjadi, saya berusaha untuk meletakkan kesalahan tersebut pada orang lain. Saya mulai berkencan dengan seorang pemuda. Saya pikir andai saya bisa memperdayainya, saya bisa mengatakan bahwa ini adalah bayinya - mungkin ia akan mengawini saya.

Akhirnya, suatu hari disekolah, saya pingsan, suster memenggil ibu saya untuk datang dan membawa saya pulang. Sesampainya dirumah, saya lari menaiki tangga untuk ganti baju memakai baju kaos tebal berlengan panjang dan celana panjang abang saya yang besar. Ibu mengikuti dan dalam keheranannya ia menjerit, "Kamu tampak hamil". Saya tahu saya tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Maka saya menjawab, "Ya, ibu."

Ayah mengatakan bahwa kami perlu memanggil keluarga pacar saya untuk menikah secepat mungkin. Saya tahu bahwa bayi tersebut bukan dari pria kedua ini, tetapi saya diam saja. Saya tak akan pernah lupa malam disaat pria itu bersama kedua orang tuanya datang, saya dipermalukan saat in menerangkan bahwa tidaklah mungkin itu adalah bayinya. Saat cerita ini menyebar tentang betapa brengseknya saya, orang2 di gereja mengatakan bahwa saya "bukan gadis baik-baik" dan perlu diusir. Banyak rumor menyebar tetapi saya tetap tidak menceritakan pada siapapun tentang pemerkosaan tersebut. Orang tua saya mengirim saya ke rumah penampungan untuk para ibu diluar perkawinan yang jaraknya bermil-mil dari rumah saya, dan memberitahu saya untuk menyerahkan bayi saya untuk diadopsi.

Saya begitu kesepian. Satu2nya orang yang tersisa dalam hidup saya adalah bayi ini yang telah menjauhkan diri saya dari semua orang. Sementara minggu berganti minggu, ikatan batin bertumbuh semakin kuat. Simungil yang menendang-nendang dalam diri saya itu sekarang adalah anak saya. Dia bukan lagi milik pria menakutkan yang telah memperkosa saya. Akhirnya saya masuk persalinan. Tiap kali kontraksi mulai, satu-satunya hal yang bisa saya pikirkan adalah berdoa dengan satu-satunya doa yang saya ketahui, "Bapa kami yang ada
disurga, dipermuliakanlah namaMu....." Setelah 27 jam bayi saya lahir, lalu diambil cepat-cepat dari saya. Saya pikir tidak akan pernah bertemu dia lagi. Saya diminta untuk tinggal sepuluh hari lagi, dan selama itu saya selalu berdiri disamping jendela kamar anak-anak, dan memendangi putra saya. Saya hanya ingin menggendongnya, memegangnya sebelum mereka membawanya pergi.

Tetapi mereka tidak memperbolehkan, maka mereka menyeret saya dari jendela. Saat orang tua saya tiba, hal pertama yang saya katakan adalah, "Papa, apa papa ingin melihat cucu papa?" Ia berkata "Tidak, saya tidak ingin melihatnya atau berhubungan dengan hal apapun mengenai dia." Papa takut kalau sudah melihatnya, dia akan punya keinginan untuk membawanya pulang. Tetapi saya salah mengartikan reaksinya, lalu menjadi sangat marah, dan menyuruh mereka pergi. Malam itu saya bermimpi sangat jelas-mimpi tentang merawat putra saya. Saya duduk diranjang dan berkata, "Ya Tuhan, apapun yang terjadi, saya akan membawanya pulang." Saat saya berbaring kembali, hati saya terasa damai dan saya tidur nyenyak sekali untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Besoknya orang tua saya kembali dan saat ayah berjalan di dekat pintu, ia berkata, "Sayang, kita akan membawanya pulang. Saya tidak perduli apa yang akan orang katakan, kami akan mendukungmu." Saya sudah memilih sebuah nama, maka saya letakkan Pattrick kecil dibagian mobil dan kami pulang. Akan tetapi sesampainya dirumah, anggota keluarga yang lain sangat menentang saya untuk merawat Pattrick, dan mereka mengungkapkan perasaan mereka terang2an didepan saya. Saya tinggal selama sembilan bulan, dan kepahitan yang dalam melanda saya. Saya menyimpan perasaan tak dapat mengampuni yang sedemikian besar terhadap orang yang telah memperkosa saya, dan terhadap orang2 yang mengucapkan dusta mengenai diri saya. Kata-kata mereka yang merusak masuk kedalam roh saya. Saya tidak tahan hidup dengan mendengar kebohongan-kebohongan yang mereka ceritakan, maka saya pindah ke California, dan tenggelam dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol. Tiba-tiba, semua yang mereka katakan tentang diri saya menjadi kenyataan. Saat Pattrick berumur dua tahun setengah, saya bertemu Harris, dialah jawaban atas doa saya. Waktu saya meninggalkan rumah penampungan bagi para ibu diluar perkawinan, saya pernah memandang kelangit dan berdoa, "Tuhan, jika memang Engkau ada, tolong, bila saya menikah, biarlah pria itu mencintai bayi ini lebih daripada ia mencintai saya." Dan tepat seperti itulah yang terjadi. Harris jatuh cinta kepada Pattrick, dan mereka melakukan hal-hal yang biasa dilakukan semua ayah dan anak. Saat Harris akhirnya meminta saya kepada ayah saya, yang pertama dia minta adalah Pattrick, baru kemudian diri saya.

Namun perkawinan kami sangat sulit. Sejujurnya, saya benci kepada laki-laki. Saya malah semakin tenggelam dalam obat-obatan dan minum-minum, dan apa yang tersisa dari kehidupan saya hancur berantakan begitu cepatnya. Akhirnya, setelah over dosis untuk ketiga atau untuk keempat kalinya, Tuhan melawat diri saya. Saya sadar saya perlu menyerahkan hidup saya kepada Tuhan, maka sayapun menjerit kepada Tuhan. Kemurahan Tuhan dinyatakan lebih lagi kepada saya dengan cara yang paling indah. Hidup saya diubahkan sepenuhnya. Pada satu hari saya adalah seorang pecandu obat-obatan yang gila, tetapi pada hari berikutnya saya begitu mengasihi Tuhan Yesus dan begitu lapar akan FirmanNya. Kurang lebih setahun kemudian, Harris menyerahkan hidupnya juga kepada Tuhan, dan seluruh keluarga saya mengalami kesembuhan yang dasyat. Kami dikaruniai dua putra lagi, dan mereka semua tahu akan Tuhan dan mengasihiNya. Sebenarnya ada saat-saat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, tetapi melalui semua itu Tuhan telah menunjukkan kepada saya kasihNya yang lembut dan pengampunanNya.

Sekarang Pattrick berumur 22 tahun, dan saya bersyukur kepada Tuhan bahwa aborsi dilarang saat ia saya kandung. Jika saat itu aborsi diperbolehkan. Saya tidak tahu pasti apa yang akan saya pilih, tetapi saya bahagia karena saya tidak memiliki pilihan. Saya berdoa supaya suatu hari nanti aborsi dilarang lagi. Saya kira baik Pattrick maupun saya adalah contoh terbaik akan belas kasih dan anugerah Tuhan, terhadap korban pemerkosaan. Tiap kehidupan sangatlah penting dan tak terukur nilainya, tak peduli bagaimana keadaannya. Allah memberi pada setiap orang sesuatu yang unik untuk disumbangkan, dan disaat satu kehidupan hilang, kita semua kehilangan sesuatu. Bila Pattrick tidak ada, akan ada banyak orang yang kehidupannya bakal menderita, terutama saya. Pattricklah yang telah menantang saya dan menolong saya untuk sungguh2 mengampuni ayahnya. Sekarang saya bekerja sebagai konselor disebuah pusat krisis kehamilan, dan seringkali seorang gadis muda bertanya, "Tetapi kamu tidak mengerti! Bagaimana kamu bisa memahami keadaan saya?" Dan saya diberi kemampuan untuk memberi kesaksian tentang hidup saya, bagaimana Tuhan sanggup mengubah sekalipun hasil pemerkosaan untuk kemuliaan namaNya. Jika Dia dapat melakukannya untuk saya, Dia pasti juga dapat melakukannya untuk orang lain! Benar itu tidak mudah, tetapi saya sangat bersyukur atas bagaimana Tuhan sudah memulihkan kehidupan saya.
=======================

Oleh Pattrick DeZeeuw (Anak)

Saya berusia 19 tahun saat saya tahu bahwa saya dikandung akibat pemerkosaan. Saya sangat terkejut. Sebagai seorang pemuda saya merasakan kebencian yang tidak kentara terhadap ayah kandung saya, yaitu sejak meninggalkan saya dan ibu saya. Saya merasa terluka dan ditolak olehnya. Setiap kali mengingat kenyataan tersebut, saya segera mengobarkan kembali kebencian itu, dan hati saya terbakar oleh kepahitan terhadap dirinya. Hanya setelah menyerahkan hidup saya kepada Tuhan maka saya temukan kedamaian dengan diri saya, siapa saya dan bagaimana saya dilahirkan.

Kedamaian itu datang saat saya mengampuni ayah saya, sama seperti Yesus sudah mengampuni diri saya. Sebagai anak hasil pemerkosaan, saya mempunyai pandangan yang khusus mengenai aborsi. Jika saja aborsi sudah diperbolehkan pada saat saya dikandung, saya pasti tidak akan hidup. Saya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengasihi dan memberi diri saya untuk orang lain. Saya juga telah memiliki kesempatan yang indah untuk membagi kesaksian saya. Kapanpun orang berkata, "Ya, tetapi bagaimana kalau akibat pemerkosaan?" Saya memiliki jawaban yang sempurna!. Tuhan telah memberkati saya dengan istri yang luar biasa dan kami merasakan panggilan-Nya dalam ladang penginjilan. Tuhan telah menolong saya untuk bertindak jauh lebih dari hanya sekedar mengampuni ayah saya-saya sungguh-sungguh mengasihinya. Saya berharap dengan segenap hati saya untuk dapat bertemu dengannya. Mungkin kesaksian ini dapat sampai ketangannya, dan akan menemui saya. Doa saya adalah bahwa dia juga akan datang untuk mengenal kuasa kasih Tuhan Yesus yang memulihkan hati yang hancur.

Gubuk Yang Terbakar

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelematkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?"

Dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. "Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?", tanya pria itu kepada penyelamatnya.

"Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

Humor : Hidup Berkeluarga

Seorang pemuda bernama Murphy melamar untuk posisi sebagai teknisi pada sebuah perusahaan Irlandia di Dublin.

Seorang pemuda Amerika juga melamar pekerjaan yang sama. Mereka berdua dites bersama.

Setelah tes selesai, keduanya sama-sama tidak bisa menjawab satu pertanyaan.

Si manajer mendatangi Murphy dan berkata, "Terima kasih atas kedatangan Anda, tapi kami memutuskan untuk menerima pemuda Amerika."

Murphy berkata, "Kok bisa begitu? Pertanyaan kita berdua kan sama-sama betul sembilan.

Lagian aku orang Irlandia, harusnya aku yang dapat pekerjaan ini."

"Kami memutuskan bukan berdasar jawaban yang benar, tapi jawaban yang salah," kata manajer.

"Bagaimana bisa jawaban yang salah dinilai?"

Manajer berkata, "Mudah. Pemuda Amerika menjawab `Aku tidak tahu` dan kamu menjawabnya dengan `Aku juga tidak tahu`."

Harga Sebuah Baptisan

Nats : Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:16)

Bacaan : Kisah Para Rasul 8:1-17

Panggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya. Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut di depan altar untuk menerima baptisan. "Kini saya milik Yesus!" serunya.

Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan, orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas dianiaya (ayat 1-3). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak orang yang tetap mau dibaptis (ayat 12). Mereka percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.

Baptisan itu berharga. Jangan disepelekan! Jika Anda belum dibaptis, usahakan untuk menerimanya! Iman Anda harus dinyatakan dengan berani di depan Allah dan manusia. Jika Anda sudah dibaptis, hadapilah konsekuensinya. Baptisan adalah langkah awal untuk hidup berpusatkan pada Yesus -JTI

KITA DISELAMATKAN KARENA IMAN, BUKAN KARENA BAPTISAN
NAMUN ORANG BERIMAN MEMBUTUHKAN BAPTISAN

SABDA.org

02 September 2008

Harapan

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan." - I Petrus 1: 3

Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. 

Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata. "Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa". Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar.

Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi. Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya. "Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."

Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu. Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas. Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal. Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya. Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki-Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus! Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu, adalah Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada terang. Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak berdaya. Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap. Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat, gairah dan kesegaran baru. Dan .. Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu tersipu-sipu! Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan. Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai. Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang percaya. Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita karena pencobaan (ay. 6). Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?". Ambillah selangkah lagi, lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.

Buah Keberanian

"Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah terberau di tepi sungai Nil." - Keluaran 2:3

Jutta Fleck, yang dikenal pada tahun 1980-an sebagai die frau vom Check-point Charlie (satu koridor di Berlin di bawah otoritas Amerika Serikat) kini menjadi selebriti persatuan German. Semua media Jerman TV dan koran, ramai menjadikan perempuan warga Jerman Timur tersebut sebagai pusat berita dan acara talkshow. Kisahnya menyeberang dari Jerman Timur ke Jerman Barat diangkat ke layar lebar dengan judul sama. Jutta yang berhasil menjadi warga Jerman Barat saat itu masih harus menelan pil pahit yaitu terpisah dengan kedua anaknya, Beate dan Claudia. Perjuangan wanita itu berhasil. Mantan menlu Jerman Barat, Dietrich Genscher meminta pemerintah Jerman Timur melepas kedua anak Jutta agar bisa bergabung dengan ibu merdeka di Barat.

Yokebet ketika memutuskan untuk menghanyutkan Musa, yang masih kemerahan, paling tidak harus menghadapi dua resiko yang sangat berat. Pertama, kehilangan anak yang sangat disayangi karena tenggelam di sungai Nil. Kedua, ketahuan melanggar peraturan karena memiliki anak laki-laki yang tetap hidup hingga berusia 3 bulan, saat itu raja Mesir membuat keputusan bahwa hanya bayi perempuan Yahudi yang diizinkan hidup. Pendek kata, resiko yang dihadapi keluarga Amram-Yokebet sangat berat. Namun mereka berani menghadapi resiko itu dengan melakukan pemikiran alternatif seperti tersebut di atas.

Agar target berkarya kita hari ini tercapai, kita juga membutuhkan dua macam keberanian sekaligus : berani memercayai Allah dengan sepenuh hati dan bertindak berdasar tuntutan hati nurani yang diterangi-Nya. (rut)

KEBERANIAN SEJATI DILANDASI IMAN YANG MURNI

Renungan Pagi

Penjahit Jenius

Suatu ketika ada seorang pria pergi ke penjahit, dan memesan stelan jas yang murah. Ketika jas yang diinginkannya selesai, ia coba mengepas. Ternyata jas itu sama sekali tak cocok dengan tubuhnya. Bagian belakangnya terlalu besar. Bagian lengan kanannya telalu panjang. Satu bagian kaki nya terlalu pendek. Dan, tiga buah kancingnya terlepas entah kemana. Pria itu sangat kecewa, dan memprotes pada sang penjahit.

"Oh, itu tidak masalah," kata sang penjahit.

"Begini saja, coba kau bungkukkan bahumu. Tarik tangan kananmu agak ke dalam. Lalu cobalah berjalan terpincang-pincang untuk menutupi satu sisi celana yang terlalu pendek. Sedangkan, untuk menggantikan tiga kancing yang terlepas ini, masukkan saja jari-jarimu di lubang kancing itu. Maka, semuanya akan tampak beres!"

Pria itu lalu mencoba memaksakan tubuhnya agar pas dengan stelan jas yang dipesannya. Ia merasa ditipu oleh penjahit itu. Ia lalu meninggalkan penjahit itu. Dan, belum jauh ia berjalan, seorang asing menegurnya.

"Hai, siapakah yang menjahitkan jas itu? Tampaknya cocok sekali denganmu," tanya orang asing itu.

"Kebetulan sekali aku sedang bermaksud membeli stelan jas."

Pria itu terkejut, namun merasa senang juga ternyata ada yang menganggap jas itu cocok dengan dirinya. Ia lalu menunjuk toko penjahit yang tadi.

"Baiklah, terima kasih banyak," jawab orang asing itu.

Ia lalu terburu-buru bergegas menuju toko penjahit yang ditunjuk. "Penjahit itu pasti seorang penjahit yang jenius karena bisa menjahit jas yang pas sekali untuk seorang cacat macam kamu."

Smiley! Bukankah banyak orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tak disukainya, namun hanya karena pujian mereka tetap saja melakukannya. Padahal, mungkin saja orang lain bermaksud beda. Maka, jadilah diri kita sendiri, agar nyaman dengan diri kita sendiri.

01 September 2008

Humor : Balon Udara

Tiga orang petualang, masing-masing seorang Indonesia, Inggris, dan Arab, mengadakan perjalanan bersama keliling dunia dengan balon udara. Di tengah perjalanan si Inggris menjulurkan tangannya ke awan-awan di bawah. "Aaah!" katanya. "Kita sekarang berada di atas tanah airku."

"Kok bisa tahu?" tanya si Arab.

"Aku bisa merasakan sejuknya udara perbukitan," jawabnya.

Beberapa hari kemudian si Arab menjulurkan tangannya ke awan-awan di bawah. "Aaah!" katanya. "Kita sekarang berada di atas tanah airku."

"Kok bisa tahu?" tanya si Indonesia.

"Aku bisa merasakan hangatnya udara padang pasir," jawabnya.

Beberapa hari kemudian si Indonesia menjulurkan tangannya ke awan-awan di bawah. "Aaah! Kita sekarang berada tepat di atas Terminal Pulogadung, Jakarta, Indonesia."

Si Arab dan Inggris tercengang-cengang.

"Kok kamu bisa tahu dengan persis?!" teriak mereka.

Si Indonesia menarik tangannya dan menunjukkannya pada mereka berdua. "Jam tanganku hilang."

Pengampunan

Tiga tahun yang lalu, seorang kawan mengatakan sesuatu kepadaku yang amat menyakitkan hatiku. Aku tak mampu mengatakan sesuatu apa. Aku tak dapat percaya bahwa kawanku itu dapat mengatakan hal itu dan bersungguh-sungguh. Ketika aku tak dapat mengatakan apa-apa, ia berkata ”Aku sayang kepadamu dan aku tidak tega melihatmu sakit hati.” Aku berpikir, ”Bila kamu menyayangi aku, bagaimana kamu dapat mengatakan hal-hal yang demikian itu terhadap seseorang yang kamu sayangi”

Hari lepas hari dan minggu lewat minggu, dan hal itu sangat menggangguku. Aku telah berdoa tentang hal itu dan kukira aku telah mengampuninya, namun aku tak dapat melupakan peristiwa itu. Demikianlah bulan-bulan telah lewat. Aku memang tidak terlalu memikirkan akan hal itu, namun kadang-kadang setelah aku berdoa sebelum tidur, aku diingatkan akan peristiwa itu dan agaknya aku tak dapat menghapusnya dari pikiranku. Akibatnya aku sering terganggu dalam tidurku.

Dua tahun telah lewat dan aku bertanya-tanya apakah aku sungguh-sungguh telah mengampuninya. Aku bertekad untuk membicarakan hal ini dengan kawanku itu dan aku mengatakan betapa sakit hatiku akan kata-katanya yang diucapkannya terhadapku. Sebelum aku bertemu dengannya, aku memikirkan apa yang aku hendak katakan kepadanya yang tidak meyakitkan hatinya. (Aku tidak tahu dengan pasti apakah ia masih ingat apa yang diucapkannya kepadaku.)

Aku telah membawa hal ini dalam doaku agar Tuhan memberikan kepadaku kata-kata yang tepat yang aku akan gunakan. Setelah selama empat hari berdoa, aku mulai berfikr bahwa Tuhan tidak mendengarkan doaku. Namun, tiba-tiba aku mulai sadar. Tuhan ternyata telah mendengar doa-doaku. Jawab-Nya adalah : Janganlah mengatakan APA-APA. HANYA AMPUNILAH DIA!

Aku melakukannya dan suatu perasaan penuh damai meliputi aku. Sejak itu aku tak pernah mengalami malam-malam yang resah.lagi.

Kita semua pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati seseorang. Sebaliknya kitapun harus bersedia mengampuni mereka yang pernah menyakiti kita dan bermohon kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih anugerahNya untuk mengampuni mereka. Dengan mengampuni mereka, kita dibebaskan dari rasa sakit hati kita. Bila kita dapat mengampuni dengan hati yang tulus, hal ini akan membawa kesembuhan dalam kehidupan spiritual kita.

Ampunilah mereka yang bersalah terhadapmu, karena Tuhan telah mengampunimu sebelumnya!

Robbie Jo

Artikel ini telah dibuat oleh ibuku dengan pengharapan akan dapat menolong seseorang yang menemui kesukaran dalam mengampuni orang lain.

Terima kasih, mam dan kiranya Tuhan memberkati!

Ketamakan

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaan itu" - Lukas 12:15

Sepasang suami-istri yang sangat miskin tidak henti-hentinya berdoa agar diberi rezeki yang melimpah sehingga kehidupannya lebih baik. Pada suatu malam, sang suami bermimpi bertemu seseorang. Dalam mimpinya, orang tersebut berkata, "Besok pagi akan ada seekor ayam betina putih di halamanmu, janganlah kamu mengusirnya. Peliharalah ayam itu karena ia akan memelihara hidupmu."

Mimpi itu menjadi kenyataan. Ayam itu pun dipelihara dan bertelur. Ajaib! Ayam itu tidak bertelur tidak sebagaimana ayam bertelur. Telurnya berupa emas. Mereka menjadi kaya raya. Namun tiba-tiba muncul keinginan dlaam diri sang suami untuk lebih kaya lagi dengan menyembelih ayam itu. Mereka menyesal dan kecewa karena tidak menemukan emas di dalamnya. Akhir cerita, suami istri itu pun menjadi miskin kembali.

Keinginan untuk cepat menjadi kaya merupakan trend manusia masa kini. Kita ingin kaya raya hidup bahagia, tanpa kerja keras. Maunya kita duduk santai semua sudah tersedia. Bukannya kita bertambah kaya, melainkan jatuh miskin, bahkan semakin miskin. Kita harus meninggalkan dan menanggalkan hidup ketamakan sebagaimana pesan firman-Nya di atas. Ketamakan bisa menjadi jerat yang dalam sekejap membuat kita terlena.

Agar terbebas dari jerat itu, kita perlu karunia menerima pemberian Tuhan. Mencukupkan diri dengan apa yang ada dan selalu mengucap syukur untuk segala cinta kasih-Nya. Percayalah kita tidak akan kekurangan karena kita berada di Tangan yang benar yang senantiasa setia memelihara hidup dan kehidupan kita. Allah adalah Sumber kehidupan kita. Mengandalkan-Nya berarti mendapatkan kehidupan. Selamat tinggal ketamakan! (sam)

KETAMAKAN MEMBAWA KITA KE GERBANG KEMISKINAN

Renungan Pagi

Permohonan Seorang Balita

Ayah bundaku, engkau segalanya bagiku. Ketika aku tidak tahu, engkaulah sumber pengetahuanku. Engkau mengetahui segala sesuatu, aku sungguh mempercayaimu. Ketika aku tidak berdaya, tanganmulah yang menopang aku. Engkau bisa melakukan segala sesuatu, aku sangat bergantung padamu. Ketika aku tidak bisa memilih, pilihanmulah yang terbaik. Engkau bisa menilai benar dan salah, baik dan buruk, bagus dan jelek.

Kasih sayangmu adalah sumber kebahagiaanku. Perlindunganmu adalah sumber rasa amanku. Rencanamu bagiku adalah masa depanku yang cerah. Aku sungguh menghargai semua pengorbananmu bagiku. Namun, kalau boleh aku memohon…

Jangan kekang aku dengan kasih sayangmu yang penuh kekhawatiran agar aku bisa bebas bergerak. Jangan ikat aku dengan perlindunganmu yang berlebihan agar aku tidak ragu untuk melangkah. Jangan memaksa aku menjadi seperti yang kau inginkan agar aku bisa menjadi diriku sendiri. Jangan manjakan aku dengan kenyamanan agar aku tidak menjadi lemah. Jangan biarkan kenakalan dan rengekanku mengendalikanmu agar aku tidak menjadi kurang ajar.

Jangan turuti semua kemauanku agar aku belajar mengendalikan diri. Jangan terlalu mengasihani kelemahanku agar aku belajar mandiri. Jangan jauhkan aku dari kesukaran agar aku belajar tegar. Jangan biarkan aku menonton adegan kekerasan dari televisi, agar aku tidak belajar brutal. Atau adegan mesum, agar aku tidak belajar cabul. Jangan ajarkan aku kebencian agar aku mengerti betapa indahnya kasih. Jangan ajarkan aku kebohongan agar aku menghargai ketulusan.

Jangan padamkan antusiasku agar aku menikmati hari-hari yang penuh kegembiraan. Jangan padamkan rasa ingin tahuku agar aku tidak kehilangan gairah untuk belajar dan menjelajah. Jangan membuat aku bingung karena melihat apa yang kau perbuat berbeda dengan apa yang kau ajarkan. Mohon tunjukkan nasehatmu dalam sikapmu supaya aku mengerti bagaimana meneladanimu.

Pujian dan sanjunganmu yang berlebihan bisa membuatku besar kepala dan lupa diri. Kecamanmu yang terlalu sering bisa membuatku kehilangan rasa percaya diri. Harapanmu yang terlalu tinggi bisa membuatku frustrasi.

Akh, betapa berat bebanmu sebagai orang tua! Padahal setiap hari engkau menghadapi begitu banyak persoalan yang harus diselesaikan. Namun demi cintamu padaku, aku percaya engkau akan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

(Sumber : www.bayipintar.com) - dikirim oleh : Jan Limanjaya