Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 August 2008

Mengubah Pikiran Anda

Anda tidak dapat mencegah burung-burung untuk terbang di atas kepala Anda, tetapi dapat mencegahnya agar tidak bersarang di rambut Anda. Kita tidak mempunyai kontrol absolut akan pemikiran kita. Namun, Allah menghendaki kita bertanggungjawab atas apa yang kita renungkan. Berikut ini beberapa kiat untuk mengubah pikiran agar tidak letih dan stress.

Mengisi pikiran kosong.
Kita harus selalu aktif mengisi pikiran dengan hal-hal yang positif dan fokus pada tugas yang sedang dihadapi. Jadikanlah Allah sebagai fokus pemikiran kita.

Mengadakan pemindahan.
Selama pikiran kita diisi dengan pemikiran yang positif, pemikiran yang negatif dan destruktif (merusak) akan dipindahkan dan tidak akan memengaruhi kehidupan kita.

Menghentikan pemikiran.
Pendekatan efektif yang harus kita lakukan. Maksudnya menggunakan segala kemampuan kita untuk menghentikan pimikiran yang tidak produktif. Saat kita sadar bahwa kita melihat, mendengar, atau memikirkan sesuatu yang tidak baik, kita harus segera menghentikannya dan memfokuskan diri pada sesuatu yang berharga. Kalau hari ini sudah terbentuk dengan baik, kita akan semakin peka dan menjadi lebih mudah memiliki kecenderungan untuk memikirkan hal-hal yang baik.

Hilangkan kebohongan.
Kita perlu mengevaluasi pemikiran yang terlintas, apakah semua itu merupakan kebenaran yang berasal dari Allah atau kebohongan dari Iblis. Kita jangan sampai terjatuh dalam berbagai kebohongan. Kita harus memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kolose 3:2)

Penilaian ulang yang konstruktif.
Kita perlu mendefinisikan kembali masalah-masalah hidup di masa lalu agar tidak terlihat mengerikan. Dengan demikian kita dapat bertahan dari tragedi-tragedi yang menakutkan.

Ketika kita mampu mengubah cara berpikir, kita akan merasakan sesuatu yang enjoy.

Sumber : Mengatasi Keletihan dan Stres, Dr. Dwight L. Carlson, ANDI

Ibu..

Ini adalah tulisan yang sangat indah. Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmatilah. Jangan tergesa. Ini adalah harta karun bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi bagi para ibu, kamu akan mencintainya...

Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.

"Apakah jalannya jauh?", tanyanya.

Pemandunya menjawab, "Ya, dan jalannya berat. Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini. Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya."

Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik dari pada tahun-tahun ini. Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih. Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru, "Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini."

Lalu malam tiba bersama badai. Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan. Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantolnya. Anak-anak itu berkata, "Ibu, kami tidak takut, karena ada dekat ibu. Tak ada yang dapat menyakiti kami."

Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya, "Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai." Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.

Saat sampai di puncak, mereka berkata, "Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa Ibu."

Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata, "Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya memberi mereka kekuatan."

Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi. Awan perang, kebencian dan kejahatan. Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap. Ibunya berkata, "Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar." Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi yang menuntun mereka melalui kegelapan dan malam harinya ibu itu berkata, "Ini hari yang terbaik. Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.

Hari berganti minggu, bulan, dan tahun. Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.

Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani. Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu. Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar. Ibu berkata, "Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya. Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.'

Dan anak-anaknya menjawab, "Ibu selalu akan berjalan bersama kami. Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu."

Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat. Dan mereka berkata, "Kita tak dapat melihat ibu lagi. Tetapi dia masih bersama kita. Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.

Ibumu selalu bersamamu. Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan. Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci. Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.. Ibumu hidup dalam tawa candamu. Ia terkristal dalam tiap tetes air mata. Dialah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu. Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu. Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu. Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian. Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

Berjalan Bersama Tuhan

Dalam perjalanan hidup yang sama alami, hanya satu prinsip utama yang perlu saya pahami, manusia melakukan bagiannya dan Tuhan melakukan yang selebihnya!

Pada tahun 2004, saya bersama keluarga meninggalkan kota Solo menuju kota Yogyakrata untuk mengembangkan usaha ekspedisi Muatan Kapal Laut (MKL) bersama seorang rekan. Semula semuanya berjalan baik, bulan kedua juga demikian. Namun menginjak bulan keenam, mulai terlihat sesuatu yang kurang beres pada rekan saya. Rupanya, ia tidak jujur. Saya terus bergumul tentang hal ini, dirinya dan usaha kami berdua.

Dalam kondisi tersebut, sata mencoba bertanya, "Apakah yang harus saya lakukan?". Saya berdoa agar Tuhan memberi tuntunan. Puji Tuhan, Dia membuka jalan. Sejak April 2006 saya jualan soal-soal try out, semacam Lembar Kerja Siswa, untuk Sekolah Dasar. Dari hasil berjualan saya dapat mengumpulkan uang untuk tabungan kami sekeluarga. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Dia tahu, sebagai manusia biasa saya bisa sakit hati terhadap rekan yang tega berbuat curang. Namun, dengan larisnya soal-soal try out tersebut sungguh menghibur saya. Rupanya Tuhan memberkati saya dengan cara istimewa.

Situasi yang menghibur itu ternyata tidak berlangsung lama. Sesungguhnya saya mulai merajut berbagai rencana untuk mengembangkan usaha maupun kehidupan kami sekeluarga. Namun itu tak terlaksana. Gempa yang terjadi di DIY dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 telah menghancurkan usaha yang saya rintis dengan susah payah. Baik usaha ekspedisi MKL maupun usaha soal-soal try out yang sedang laris-larisnya. Usaha saya hancur bukan lantaran kehilangan aset semata, melainkan karena sebagian besar pelanggan kami berdomisili di Bantul.

Dengan mata kepala sendiri saya melihat rumah-rumah mereka yang hancur dan harta benda mereka juga ikut luluh lantak. Saya tidak sampai hati menagih. Kenyataan ini membuat saya sedikit goncang. Maklum, menyangkut masa depan keluarga dan relasi bisnis yang selama ini bekerja sama.

Untunglah, Tuhan dengan cara unik-Nya telah mempersiapkan saya. Selama di Yogyakarta, saya berjemaat dan melayani di Gereja Betel Indonesia (GBI) "Aletheia" Jl. Magelang. Saya mendapat siraman rohani yang selalu menguatkan saya. Saya melayani sebagai singer, choir, diaken serta school of worker. Rumah kami digunakan untuk persekutuan doa pagi setiap jam lima sampai jam enam. Saya sadar, semuanya itu Tuhan atur agar saya dan keluarga sudah siap saat krisis melanda.

Ketika terjadi bencana gempa bumi, sebagai humas di lingkungan tempat kami bermukim, saya juga berkeliling untuk mengantarkan nasi bungkus bagi para korban gempa. Di sini pun saya menyaksikan tangan Tuhan yang memberkati. Saya memberi, tapi saya juga diberi. Bahkan hingga September 2006, saya masih membawa beras ke Solo, pemberian orang waktu gempa, melanda DIY dan sekitarnya.

Tayangan tentang gempa susulan yang berulang-ulang disiarkan televisi, menyebabkan orang tua dan mertua meminta kami segera kembali ke Solo. Walau saya sebetulnya betah di Yogyakarta, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan kembali ke Solo. Tak lama kemudian, seorang rekan menawarkan kerjasama. Ia berjanji akan memberi fasilitas dan gaji untuk saya. Saya memutuskan menerima tawaran tersebut. Namun hingga bulan ketiga gaji yang dijanjikan tidak kunjung dibayarkan.

Saya merasa khawatir, apalagi istri saya sedang hamil. Walau saya tetap "setor gaji" setiap bulannya, tetapi sebetulnya uang itu saya usahakan sendiri, bukan dari gaji yang dijanjikannya.

Di saat yang lain, tawaran datang dari seorang teman. Kerjanya mencari truk untuk muatan dari Solo menuju Surabaya. Tiap satu truk sewanya tiga juta rupiah. Dari sana saya mendapatkan berkat untuk kelanjutan kehidupan kami. Saya diberi uang oleh yang menyewa maupun teman yang meminta saya bekerja dengannya. Puji Tuhan! Uang dari hasil tersebut dapat mencukupi biaya kelahiran anak kami yang ketiga. Sungguh Dia memenuhi kebutuhan kami dengan cara-Nya yang kadang tidak pernah terpikir.

Bila saya renungkan cara Tuhan menolong, sungguh luar biasa. Rekan kerja yang awalnya berjanji menggaji saya, datang kembali. Kali ini ia datang dengan 30 tabung gas. Ia berkata, "Pak Sri, saya tidak minta apa-apa. Sekarang Bapak jualan gas". Wah luar biasa, Tuhan menolong memberi pekerjaan sehingga istri dan ketiga anak saya tidak kelaparan.

Selain berjualan tabung gas LPG dan air mineral, dari hari ke hari Tuhan memberkati kami. Pekerjaan diberkati, tetapi "burung gagak" juga Tuhan kirim untuk mencukupi kebutuhan kami setiap hari. Ada saja orang yang dipakai Tuhan untuk memberkati kami.

Saya bertekad melayani Tuhan melalui pekerjaan yang dipercayakan-Nya. Sekarang Tuhan terus menambahkan pelanggan gas dan air mineral. Rata-rata 8 sampai 10 tabung gas dan air mineral terjual setiap hari. Ya, hitung-hitung dapat membantu kami untuk bertahan hidup.

Dalam menjalankan pekerjaan ini, saya memiliki prinsip tidak perlu khawatir, sesuai firman Tuhan (Matius 6:25).

Oleh : Sri Haryono

Humor : Mengapa Ayam Menyebrang Jalan?

Guru TK:
Supaya sampai ke ujung jalan.

FBI:
Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.

Aristoteles:
Karena merupakan sifat alami dari ayam.

Martin Luther King, Jr.:
Saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.

Freud:
Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.

George W Bush:
Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami.
Tidak ada pihak tengah di sini!

Darwin:
Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

Einstein:
Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.

Nelson Mandela:
Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!

Thabo Mbeki:
Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.

Isaac Newton:
Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

Miyabi:
Ooohh... Aahhh... Yeeahh... Mmmhhh...

Programmer Oracle:
Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan, maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable, ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk mengimplementasikannya jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan sudah loosely coupled.

Sutiyoso:
Itu ayam pasti ingin naik busway.

Soeharto:
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua! Kalo perlu ya dikebumiken saja.

Habibie:
Ayam menyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi, dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.

Nia Dinata:
Pasti mau casting '30 Hari Mencari Ayam' ya?

Desi Ratnasari:
No comment!

Dhani Ahmad:
Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang kemana juga...

Cinta Laura:
Ayam nyebrang jhalaan..? Karena gak ada owject...biecheeck. ...

Julia Perez:
Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan? Karena sang jantan ada di sana! Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana laahh... Cape khan pake alat bantu terus?

Roy Marten:
Ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf.. (sambil sesenggukan).

Butet Kartaredjasa:
Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?

Megawati:
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?

Harmoko:
Berdasarkan petunjuk presiden

And the best answer is:

Gus Dur :
'Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot!' .

Api Motivasi

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" - Matius 11:28

Gara-gara tertekan diburu utang, Susmino (30) asal Tegal, Jawa Tengah, Minggu siang, 16 September 2007, mencoba bunuh diri dengan melompat dari tiang listrik setinggi 100 meter di belakang Gedung Indonesia, Jakarta Barat. Sambil meraung-raung Susmino meratapi nasibnya. Ia ke Jakarta mencari Agus, temannya yang tinggal di Cilenduk dan bekerja di Tanah Abang, yang menjanjikan pekerjaan kepadanya. Selamanya dua pekan di Jakarta, ia tidur di sembarang tempat dan tidak bertemu Agus.

Tekanan hidup yang berat bisa membuat seseorang berpikir untuk mencari jalan pintas dengan mengakhiri hidup. Orang sering berpikir dengan melakukan hal itu, semuanya akan beres. Padahal sama sekali tidak! Ada dua hal yang lebih rumit lagi ketika seseorang melakukan pemecahan masalah seperti itu. Pertama, ia mewariskan masalah yang ditinggalkan kepada keluarga. Kedua, pertanggungjawabannya kepada Tuhan saat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Alkitab dengan jelas dan sangat tegas melarang tindakan penghilangan nyawa. Jalan keluar saat kita mengalami tekanan hidup yang sangat berat adalah datang kepada Tuhan. Dia akan menyalakan lagi api motivasi yang hampir mati.

Marilah kita bawa kelegaan yang kita terima dari-Nya dalam aktivitas kita sepanjang hari ini. Kiranya, tempat berkarya kita menjadi tempat menyenangkan manakala kita mengekspresikan kelgaan dari-Nya. Dengan demikian api itu tetap berkobar dakan hati dan pikiran, kita harus datang dan mohon kepada Sang Pemilik, Tuhan Yesus Kristus. (div)

KELEGAAN DARI TUHAN MEMBAWA KETENANGAN DAN KEGEMBIRAAN

Renungan Pagi


19 August 2008

Permintaan Anak Kepada Orang Tua

Seandainya anak-anak kecil bisa berbicara dan memiliki keberanian untuk mengajukan permohonan mereka kepada orang tuanya, apa yang akan mereka katakan? Bukankah seringkali ada orang tua yang merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak-anak tanpa memahami perasaan mereka? Didalam hati kecilnya, anak-anak itu mungkin ingin mengatakan :

"Tanganku begitu kecil. Janganlah mengharapkan hasil yang sempurna ketika aku merapihkan tempat tidur, menggambar sesuatu atau melemparkan bola. Kakiku masih pendek, perlambatlah jalanmu agar aku bisa berjalan bersamamu. Mataku belum bisa memandang dunia ini sebagaimana engkau memandangnya, biarkanlah aku mengamati dan mempelajari banyak hal secara perlahan-lahan. Kesibukan di rumah akan selalu ada, beri aku sedikit saja waktu untuk menjelaskan tentang banyak hal yang belum kupahami dan bermainlah bersamaku. Perasaanku lembut, pekalah terhadap apa yang aku butuhkan dan jangan memarahiku sepanjang hari. Perlakukanlah aku sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Aku adalah pemberian khusus dari Yang Maha Penyayang. Sayangilah aku, sebagaimana Yang Maha Penyayang perintahkan untuk engkau lakukan. Beritahu aku aturan-aturan di dalam menjalani kehidupan dan disiplinkan aku dengan kasih Aku butuh dorongan dan bukan sekedar pujian untuk bertumbuh. Ketika engkau mengkritikku, kritiklah perbuatanku dan jangan benci padaku. Dengan begitu, aku bisa mengubah kebiasaan buruk di dalam diriku. Beriku kebebasan untuk membuat keputusan tentang diriku sendiri. Jangan marah ketika aku berbuat salah, sehingga aku dapat belajar dari kesalahanku. Dengan demikian suatu hari nanti aku dapat membuat keputusan yang benar. Tolong jangan buat aku merasa bersalah dan tidak yakin terhadap diriku dengan cara membandingkanku dengan kakak atau adikku. Masing-masing kami memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda. Jangan terlalu kuatir meninggalkan aku, sekali-sekali ambillah waktu untuk bersantai dan menenangkan diri. Kadang anak-anak perlu waktu tanpa orang tua sebagaimana orang tua juga perlu waktu untuk menenangkan diri berdua tanpa anak-anak. Di samping itu, itu merupakan cara yang bagus untuk memperlihatkan kepada kami anak-anak bahwa pernikahan kalian begitu spesial dan harmonis. Ajak dan doronglah kami untuk beribadah. Berilah teladan yang baik, karena aku ingin belajar banyak tentang Tuhan."

(dari sebuah artikel)

Anak-anak tanpa pahlawan, sedikit sekali yang akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi dewasa yang bangga dan membanggakan. Mereka membutuhkan seorang dewasa yang bisa mereka kagumi. Mereka membutuhkan seorang kuat, yang saat bersamanya, mereka merasa terlindungi. Mereka, anak-anak kita itu lebih membutuhkan seorang pahlawan untuk mereka teladani, dan bukan seorang kritikus yang semena-mena merendahkan diri-diri kecil yang tidak terlindungi itu hanya karena yang lebih tua itu mampu mendatangkan penyiksaan yang tak terlawankan. Jadikanlah diri Anda orangtua yang mencontohkan kegembiraan dalam memenangkan kualitas kehidupan yang baik, agar anak-anak kita juga bersemangat untuk menjadikan diri mereka tumbuh dengan tubuh yang sehat, cara pandang yang jernih, dan pemikiran yang cemerlang.

Humor : Lulusan Sarjana

Saking susahnya nyari kerjaan saat ini, akhirnya seorang lulusan ITB terpaksa menerima tawaran untuk bekerja di Kebon Binatang Ragunan.

"Apa boleh buat, daripada nganggur, kerja beginian juga bolehlah, yang penting kan halal!", begitu tekadnya.

Maka sejak hari itu, sang insinyur muda mulai bekerja sebagai "monyet-monyetan". Sepanjang hari, ia harus betah mengenakan baju monyet, pakai topeng monyet sambil mengunyah pisang atau kacang rebus terus menerus. Serta harus jumpalitan selincah mungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Pokoknya tidak beda dengan monyet asli yang sudah mulai punah. Tak ayal lagi, pengunjung Kebon Binatang Ragunan membludak lantaran mau 'ngeliat si monyet super yang konon tidak hanya lincah dan gesit, tapi juga cerdas! (ya iyyalah.....wong lulusan ITB kok!!)

Sayang sekali, yang namanya sial itu sulit untuk di-elak-kan, sedang enak-enaknya jumpalitan, tiba-tiba..

"Gedebuk......Byurrrrrrrrrrrrr.......!!!"

Sang monyet terjatuh ke dalam kolam buaya!!

"Waduh, mati aku!" pikirnya sebelon dicaplok ama si buaya-buaya ganas itu. Yang pada saat itu mulut buaya-2 itu sudah terbuka lebar siap menggigit..., tapi dari dalam kolam terdengar suara berbisik :

"Sssttttt......mas.... jangan takut.... kami dari Trisakti!"

18 August 2008

Arsip

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa.

"Aku membuat mereka terperangah," kata Brian kepada ayahnya, Bruce.

"Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis." Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir. Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga. Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. "Anda merasa seperti ada di sana," kata pak Bruce Moore.

Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum. Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. "Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya," kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. "Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya."

Inilah esai Brian yang berjudul "RUANGAN". Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad. Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda. Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali
menarik perhatianku berjudul "Cewek-cewek yang Aku Suka". Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul "Teman-Teman" ada di sebelah arsip yang bertanda "Teman-teman yang Aku Khianati". Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. "Buku-buku Yang Aku Telah Baca". "Dusta-dusta yang Aku Katakan". "Penghiburan yang Aku Berikan". "Lelucon yang Aku Tertawakan". Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: "Makian Buat Saudara-saudaraku". Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: "Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.", "Gerutuanku terhadap Orangtuaku". Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan.

Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini. Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.
Ketika aku menarik kartu arsip bertanda "Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton", aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini. Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda "Pikiran-Pikiran yang Ngeres", aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah. Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip ini! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini!

Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu
itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul "Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil". Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia. "Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus!". Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk. Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku. Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. "Jangan!" seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah "Jangan, jangan!" ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, "Sudah selesai!"

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." - Yohanes 3:16

Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang sehingga kasih Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini!

Arsip "Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil" milikku akan makin bertambah besar, bagaimana dengan milik anda?

JIKA ADA EMAIL YANG PERNAH AKU BACA YANG PERLU BERKELILING DUNIA, INILAH SALAH SATUNYA! TERUSKANLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG ANDA KENAL! MARILAH KITA PENUHI ARSIP KITA DENGAN HAL-HAL KEKAL DAN TUHAN MEMBERKATI ANDA!

Mencoba Lagi

"Mungkin tahun depan ia berubah; jika tidak, tebanglah dia" - Lukas 13:9

Saya dan teman-teman sekelas merasa senang mendengar pengumuman wali kelas tentang tes perbaikan. Nilai ulangan matematika kami memang jelek, bahkan hanya 2 dari 30 siswa yang nilainya dianggap baik. Tes perbaikan adalah kesempatan untuk memperbaiki nilai, karena soal-soal pada tes perbaikan nyaris sama dengan soal tes pertama. Jadi, betapa bodohnya kami jika kembali mendapat nilai jelek. Syukurlah, akhirnya kami lulus semua.

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan dalam hidupnya, entah di sengaja atau tidak. Bisa jadi itu dalam hal pekerjaan, rumah tangga, atau hal lainnya. Rasanya amat mengganggu, apalagi jika kesalahan itu cukup fata dan memengaruhi orang lain. Dalam perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah, Tuhan Yesus menggambarkan keadaan yang sama. Tidak disebutkan, mengapa pohon tersebut tidak berbuah. Yang jelas, ada sesuatu yang salah dengan pohon tersebut. Untungnya, sang pengurus kebun masih memberinya kesempatan berbuah di tahun berikutnya. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Setiap orang percaya dituntut untuk memberika buah, suatu karya nyata, dalam kehidupannya. Walau pernah berbuat suatu kesalahan yang menghambat kita untuk berbuah, hal itu hendaknya jangan menghentikan kita untuk terus berbuah. Sampai kapan pun dunia sekitar tetap menunggu buah yang akan muncul dari kehidupan kita. Teruslah berbuah dan jadilah berkat bagi semua orang agar memuaskan hati Tuhan. Sebab itu, mari ambil komitmen agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. (ROB)

TUGAS TUHAN ADALAH MENANAM DAN MEMELIHARA, TUGAS KITA ADALAH MEMBERI BUAH YANG BAIK

Renungan Pagi

17 August 2008

Humor : Kalong Bisa Membaca

Feri dan Roni tampak serius membicarakan sesuatu.

Feri : Ron, aku punya teka-teki. Kalau kamu bisa menjawab, nanti kutraktir.

Roni : Beres, Fer.

Feri : Kalong apa yang bisa membaca?

Roni : Jelas nggak ada. Yang namanya binatang tidak ada yang bisa membaca.

Feri : Ada! Kalo nggak aku, kamu, ibu, atau ayahmu!

Cintai Negeri Kita

Nats : Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem (Daniel 9:16)

Bacaan : Daniel 9:12-19

Dalam amanat kemerdekaan 17 Agustus 1963, Bung Karno mengungkap sedikit rahasia tentang bagaimana ia menulis amanatnya, "Saya menulis pidato ini sebagaimana biasa dengan perasaan cinta yang meluap-luap terhadap Tanah Air dan Bangsa ...." Dan, orang yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air, pasti merindukan yang terbaik terjadi atas bangsanya.

Bacaan Alkitab hari ini berbicara tentang bangsa Israel yang telah banyak melakukan pelanggaran. Mereka meninggalkan Tuhan dan tidak mau berbalik dari dosa-dosanya. Karenanya bangsa ini tidak akan luput dari keadilan Tuhan-malapetaka bagi yang melanggar ketentuan-Nya. Daniel begitu mencintai bangsanya, itu sebabnya ia sangat sedih ketika menyadari bahwa bangsanya berada di ambang penghukuman Tuhan. Kondisi "carut-marut" bangsanya karena dosa, tidak mengurangi cinta Daniel. Karena itu, ia membawa bangsa Israel dalam doanya kepada Tuhan. Dalam kondisi yang seolah-olah tidak mungkin, Daniel memohon agar Tuhan mengampuni dan melepaskan bangsa Israel dari malapetaka (ayat 18).

Mari kita melihat ke dalam hati kita dan bertanya, sedalam apa kita mencintai negeri ini? Betul, negeri kita ini bukan negeri yang ideal, bahkan di sana-sini kita melihat kondisi yang memprihatikan, tetapi kiranya itu tidak mengurangi cinta kita. Sebab jika bukan kita yang mencintai negeri ini, lalu siapa lagi? Seperti Daniel, mari kita doakan negeri kita dengan penuh cinta. Kita mohonkan ampun atas pelanggaran yang telah dilakukan setiap elemen bangsa ini. Kita mohonkan belas kasihan Tuhan -CHA

INDONESIA ADALAH TITIPAN TUHAN
MARI KITA CINTAI DENGAN SEGENAP JIWA DAN RAGA

SABDA.org