Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 August 2008

Aku Percaya

Tiada yang seperti Engkau
Begitu mengasihiku
Kau Tuhan sanggup menjawab
Semua seru doaku
Tiada yang seperti Engkau
Begitu mengasihiku
Kau Tuhan sanggup melawat
Seluruh kehidupanku

Reff :
Aku percaya
Tuhanku ajaib
Kau turun tangan memulihkanku

Aku percaya
Tuhanku dahsyat
Kau turun tangan memberkatiku

09 August 2008

Humor : Roti Dan Air

Seorang pembalap sepeda motor sedang melaju kencang di jalan raya. Tiba-tiba ia menabrak seekor burung pipit yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Dia segera memutar sepeda motornya dan mengambil burung malang yang tak sadarkan diri itu untuk dibawanya pulang.

Ketika sampai di rumah, dia menaruh burung itu dalam sangkar. Sebelum pembalap itu pergi, tidak lupa dia meninggalkan roti dan air dalam sangkar tersebut.

Beberapa saat ketika pembalap itu sudah pergi, burung pipit itupun akhirnya siuman dan langsung memandang ke sekelilingnya sambil berkata, "Terali besi ..., roti ..., air .... Ya Tuhan!!! Aku sudah membunuh pembalap itu!!!"

Weekend Scripture - Roma 12:2

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

I Love You More

Aku: Tuhan.. aku butuh bantuan…

Tuhan: Katakanlah anak-Ku, Aku mendengarkanmu.

Aku: Tuhan, aku tidak punya uang, aku bingung harus bagaimana.

Tuhan: Tenanglah anak-Ku, Aku….

Aku: Tuhan, ada lagi…

Tuhan: Oh, masih adakah? Baiklah, katakan anak-Ku, Aku mendengarkanmu.

Aku: Aku tidak bisa berpikir Tuhan, seolah-olah semuanya sulit dilakukan.

Tuhan: Tenanglah anak-Ku, Aku…

Aku: Tunggu Tuhan! Masih ada lagi..

Tuhan: Oh baiklah anak-Ku sayang, katakanlah.

Aku: Tuhan, aku mulai mengalami kemunduran. Segala sesuatunya semakin memburuk. Aku merasa terpuruk Tuhan.

Tuhan: Apanya yang memburuk?

Aku: studiku, kondisi ekonomiku, semuanya Tuhan… semua…

Tuhan: Anak-Ku, tenanglah..

Aku: Aku harus bagaimana Tuhan?

Tuhan: Anak-Ku, dengarkanlah Aku.

Aku: Aku sudah mencoba berbagai cara, Tuhan katakanlah, aku harus bagaimana.

Tuhan: Aku mengerti anak-Ku, dengarkanlah Aku.

Aku: Sebentar Tuhan, aku konsultasi dulu pada temanku, siapa tahu dia bisa membantu.

Tuhan: Baiklah anak-Ku, pergilah. Aku menunggumu.

******************************

Aku: Tuhan, aku kembali.

Tuhan: Bagaimana anak-Ku?

Aku: Temanku mengatakan agar aku bertanya pada-Mu.

Tuhan: Baiklah…

Aku: Bagaimana Tuhan? Aku harus bagaimana?

Tuhan: Dengarkan Aku, anak-Ku kekasih.

Aku: Oh Tuhan, sebentar, aku harus makan siang, perutku sudah lapar.

Tuhan: Baiklah anak-Ku, makanlah terlebih dulu.

*******************************

Aku: Tuhan, aku datang. Bagaimana Tuhan?

Tuhan: Apakah makanannya enak?

Aku: Tentu saja, mama yang membuatnya.

Tuhan: Apakah kamu menyukai masakannya?

Aku: Tentu saja Tuhan, aku menyukainya

Tuhan: Apakah kamu kenyang?

Aku: Yup! Aku sangat kenyang. Bagaimana Tuhan? Masalahku yang tadi itu?

Tuhan: Oh ya, masalah yang tadi ya? Baiklah anak-Ku..

Aku: Beritahukan padaku Tuhan, apa yang harus aku lakukan.

Tuhan: Baiklah nak, dengarkanlah Aku.

Aku: Tuhan, aku bingung karena aku sekarang tidak memiliki uang sama sekali.

Tuhan: Iya anak-Ku, Aku tahu. Begini….

Aku: Aku bingung Tuhan, kalau aku tidak memiliki uang seperti ini, aku bingung, mau beli makanan susah, mau beli buku susah, mau beli bensin susah. Harga bensin naik lo Tuhan. Tuhan tahu kan? Aku harus pergi ke sana ke mari. Bagaimana Tuhan?

Tuhan: Iya anak-Ku. Berikan Aku kesempatan untuk berkata-kata.

Aku: Oh maaf Tuhan, baiklah, katakan sesuatu.

Tuhan: Terima kasih. Begini nak, tentang masalah yang kamu khawatirkan itu…

Aku: Ah Tuhan! Aku tahu! Ada sebuah buku yang membahas masalah kekhawatiran. Sebentar Tuhan, aku baca buku dulu yah, nanti kita sambung lagi.

Tuhan: Ya, baiklah.

****************************************

Aku: Hai Tuhan, It’s me again. Aku sudah membacanya Tuhan. Aku tidak boleh khawatir, karena aku memiliki-Mu. Betul kan Tuhan?

Tuhan: I..

Aku: Dan Tuhan selalu tahu apa yang aku perlukan sehingga aku tidak perlu bingung akan apa yang aku makan dan apa yang aku pakai. Betul kan Tuhan?

Tuhan: Iy…

Aku: Selain itu, Tuhan juga begitu mengasihiku sehingga Tuhan pasti akan menyediakan dan mencukupi segala kebutuhanku kan Tuhan?

Tuhan: Iya anak-Ku. Itu benar.

Aku: Jadi aku harus bagaimana Tuhan? Apakah aku harus berdiam diri?

Tuhan: Dengarkanlah Aku anak-Ku.

Aku: Apakah aku harus bertanya pada Tuhan?

Tuhan: Maka dari itu, dengarkanlah Aku.

Aku: Apakah aku mengambil pelayanan di gereja saja ya Tuhan? Apa yang Tuhan inginkan? Katakan padaku, Tuhan.

Tuhan: Baiklah anak-Ku. Dengarkanlah ini.

Aku: *hoahm…* Tuhan, aku terlalu lelah hari ini. Kita sambung besok saja ya Tuhan. Good night. I love You.

Tuhan: ………………. I love you more.

" Berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk Tuhan berbicara kepada kita hari ini ? "

Menerima Nasehat

Nats : Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya (Keluaran 18:24)

Bacaan : Keluaran 18:13-27

Musa memang hebat. Bukan saja karena hal-hal besar yang ia lakukan, tetapi juga karena sebagai tokoh besar dan pemimpin, ia tetap mau terbuka menerima masukan. Memerhatikan, mengasah, dan mengolah usulan yang datang kepadanya, menjadikan Musa pemimpin yang patut ditiru.

Ketika Yitro, mertuanya, melihat bagaimana Musa menangani sendiri semua hal tentang pengelolaan masalah bangsa Israel, ia mengingatkan bahwa itu "tidak baik" (ayat 17). Yitro lalu mengusulkan agar dalam menjalankan tugasnya ini, Musa memakai strategi yang lebih tepat, termasuk bahwa ia dapat melibatkan orang-orang yang cakap sebagai mitra pelayanan. Musa mendengarkan usulan ini dan sungguh-sungguh melakukannya. Setelah beres, barulah Musa melepas mertuanya pergi (ayat 27). Artinya sang mertua masih bisa melihat bagaimana Musa memperbaiki sistem pelayanannya. Betapa indahnya bila seseorang mendengarkan dan menerima nasihat baik dari orang lain, demi pelayanan yang lebih baik dalam pekerjaan Tuhan!

Mari renungkan bagaimana hal ini dapat diterapkan juga dalam kita berkeluarga, melayani Tuhan, bekerja, dan bersaksi. Sudahkah kita menjadi orang yang terbuka memerhatikan usulan orang lain dan mau mengkajinya dengan rendah hati? Atau, kita sering merasa terganggu dengan nasihat orang, sehingga nasihat yang tepat pun kita abaikan demi gengsi? Jangan buru-buru menolak saran yang datang. Nasihat yang baik bisa muncul dari siapa saja. Bila hati kita terbuka, kita dapat melihat pertolongan bisa datang dari mana saja. -DKL

NASIHAT TAK MEMBUAT ORANG JADI KECIL
ITU SEBABNYA ORANG BESAR PUN TAK TAKUT MENERIMA NASIHAT

SABDA.org

Tetesan Setelah Tetesan Terakhir

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini.

Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping. Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton : "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk, tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku".

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)

08 August 2008

Prinsip 90/10

Bagaimana prinsip 90/10 itu ?

- 10% dari hidup anda terjadi karena apa yang langsung anda alami.
- 90% dari hidup anda ditentukan dari cara anda bereaksi.

Apa maksudnya ?

Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri anda.

Contohnya :

Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule anda. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.

Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.

Bagaimana caranya ? …. Dari cara reaksi anda !!

Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi anda dapat mengontrol reaksi anda.

Marilah kita lihat contoh dibawah ini :

Kondisi 1

Anda makan pagi dengan keluarga anda. Anak anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman anda sehingga pakaian kerja anda tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi.

Reaksi anda :

Anda bentak anak anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian anda. Anak anda akhirnya menangis. Setelah membentak, anda menoleh ke istri anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir diujung meja.

Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya.

Akhirnya anak anda ketinggalan bis.

Istri anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan

mengantar anak anda ke sekolah. Karena anda telat, anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam.

Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp 600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya anda sampai di sekolah. Anak anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit.

Setelah tiba di kantor dimana anda telat 20 menit, anda baru ingat kalau tas anda tertinggal di rumah.

Hari kerja anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran anda terganggu karena kondisi di rumah.

Pada saat tiba di rumah, anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak anda.

Mengapa ? … Karena cara anda bereaksi pada pagi hari.

Mengapa anda mengalami hari yang buruk ?*

1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi ?

2. Apakah penyebabnya karena anak anda ?

3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas ?

4. Apakah anda penyebabnya ?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah anda sendiri !!

Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi. Cara anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk anda.

Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya anda sikapi.

Kondisi 2

Cairan kopi menyiram baju anda. Begitu anak anda akan menangis, anda berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri anda dan mengatakan : "Sampai jumpa makan malam nanti."

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staff anda. Bos anda mengomentari semangat dan kecerahan hari anda di kantor.

Apakah anda melihat perbedaan kedua kondisi tersebut ?

2 (dua) skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan

kondisi berbeda.

Mengapa ?

Ternyata penyebabnya adalah dari cara anda bereaksi !

Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi anda sendiri.

Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi anda.

Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.

Bagaimana reaksi anda jika mobil anda mengalami kemacetan dan terlambat masuk kantor ? Apakah anda akan marah ? Memukul stir mobil ? Memaki-maki ? Apakah tekanan darah anda akan naik cepat ?

Siapa yang peduli jika anda datang telat 10 detik ? Kenapa anda biarkan kondisi tersebut merusak hari anda ?

Cobalah ingat prinsip 90/10 dan jangan khawatir, masalah anda akan cepat terselesaikan.

Contoh lain :

- Anda dipecat.

Mengapa anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir ?

Suatu waktu akan ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.

- Pesawat terlambat.

Kondisi ini merusak seluruh schedule anda. Kenapa anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara ? Mereka tidak dapat mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress ? Kondisi ini justru akan memperburuk kondisi anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi, membaca buku yang anda bawa, atau mengenali penumpang lain.

Sekarang anda sudah tahu prinsip 90/10. Gunakanlah dalam aktivitas harian anda dan anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan hasilnya sangat menakjubkan.

Sudah berjuta-juta orang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita mengerti cara menggunakan prinsip 90/10.Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sikapilah segala sesuatu dengan hati yang lemah lembut, selalu positive thinking, beraksilah secara positif, bukalah hati kita  untuk saling mengampuni, dan berikanlah senyummu setiap hari niscaya hidup itu akan terasa indah.

Oleh : STEPHEN COVEY

Dia Buka Jalan

"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Filipi 4:19)

Suatu hari kakak saya menginformasikan bahwa ayah menabrak orang dengan mobilnya. Pikiran saya secara spontan membayangkan. Ayah harus menanggung pembiayaan orang yang ditabraknya. Saya tahu dengan pasti bahwa pengeluarannya cukup banyak. Sejujurnya saat itu saya tidak memiliki cukup uang untuk membantu pembiayaan. Lima orang kakak saya bahu membahu untuk iuran menutupi pengeluaran akibat kecelakaan tersebut. Akhirnya saya mengirim SMS kepada kakak. Saya menanyakan besarnya iuran. Lalu ia enyebutkan jumlahnya. Dari situlah akhirnya saya berbicara kepada tuhan, "Bapa, saya membutuhkan dana untuk membantu kecelakaan papi, buat mukjizat-Mu di minggu ini."

Saya ingat sekali di atas mobil, saya berdoa dan minta kepada Tuhan secara spesifik, "Saya akan memberikan sejumlah uang kepada kakak." Saya tidak mengerti dapat uang dari mana, tetapi di akhir minggu itu tiba-tiba ada telpon dari teman lama, ia bilang, "Tuhan menyuruh saya untuk memberkatimu." Saya benar-benar melonjak karena Dia benar-benar buka jalan. Akhirnya tuhan menyediakan dana untuk membantu kecelakaan papi kami.

Alkitab menceritakan bahwa suatu ketika Yesus dan Petrus diminta untuk membayar bea Bait Allah. Hal yang menarik adalah Dia menyuruh Petrus untuk memancing di danau, dan Dia berkata, "Ikan pertama yang terpancing bukalah mulutnya untuk menemukan uang di dalamnya." Dan mukjizat pun terjadi, ada uang di dalam mulut ikan!

HAl yang sama akan Dia kerjakan dalam hidup kita. Kerinduan-Nya sangatlah jelas, memberkati kita dan membuat mukjizat bagi kita! (bud)

SEBAB BAGI ALLAH TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Renungan Pagi

Pengucapan Syukur Yang Sejati

Ditrich Bonhoeffer, seorang pendeta Jerman telah dipenjarakan dalam tahun 1943 untuk oposisi politiknya dan sebagai seorang Kristen di jaman rezim Nazi. Hukumannya telah dilaksanakan dua tahun kemudian. Pada hari pelaksanaan hukumannya, ia memimpin sebuah kebaktian untuk orang-orang tawanan lainnya. Salah seorang dari tawanan itu, seorang opsir tentara kerajaan Inggris, menceritakan kisah ini :

“Bonhoeffer agaknya selalu menyebarkan suatu suasana kebahagiaan dan kesukacitaan akan peristiwa bahkan yang paling kecil sekalipun dan suatu rasa syukur yang dalam akan faktanya bahwa mereka masih hidup. Ia merupakan salah seorang sedikit yang pernah saya jumpai dan yang menganggap Allah itu begitu nyata dan senantiasa begitu dekat dengan dirinya.

Nah, pada hari Minggu, tanggal 8 April 1945, pendeta Bonhoeffer memimpin sebuah ibadah kecil dan ia telah berbicara kepada kami semua dengan cara yang menyentuh hati kami dengan amat mendalam. Ia dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan jiwa dari keadaan kami sebagai tawanan.

Baru saja ia menyelesaikan doanya, ketika pintu terbuka dan dua orang dalam pakaian preman masuk. Mereka mengatakan, “Tawanan Bonhoeffer, ikutilah kami!” Bagi para tawanan tidak lain, ini berarti : Tiang Penggantungan! Kami semua menyatakan selamat berpisah kepadanya. Ia memanggil aku sendiri dan berkata, “Inilah akhir dari segala-galanya, namun bagiku, inilah permulaan dari kehidupan!” Esok harinya, ia digantung sampai mati di Flossenburg.

Keluar dari penderitaan lahirlah ekspresi terbesar dari pengucapan syukur dan kiranya dalam pasca ancaman serta serangan-serangan teroris, avian-flu dan antrax, keadaan ekonomi yang masih semrawut, kecelakaan pesawat terbang, kita bahkan mempunyai lebih banyak alasan lagi untuk bersyukur dan merayakan hari ucapan syukur.

The Benefits of Being in God’s Family

Since you are his child, everything he has belongs to you - Galatians 4:7 (NLT)

The moment you were spiritually born into God’s family, you were given some astounding birthday gifts : the family name, the family likeness, family privileges, family intimate access, and the family inheritance!

The New Testament gives great emphasis to our rich “inheritance.” It tells us, “My God will meet all your needs according to his glorious riches in Christ Jesus” (Philippians 4:19 NIV). As children of God we get to share in the family fortune. Here on earth we are given the riches of his grace, kindness, patience, glory, wisdom, power, and mercy.

But in eternity we will inherit even more.

Paul said, “I want you to realize what a rich and glorious inheritance he has given to his people” (Ephesians 1:18 NLT). What exactly does that inheritance include?

· First, we will get to be with God forever.

· Second, we will completely change to be like Christ.

· Third, we will be freed from all pain, death, and suffering.

· Fourth, we will be rewarded and reassigned positions of service.

· Fifth, we will get to share in Christ’s glory.

What an inheritance! You are far richer than you realize.

The Bible says, “God has reserved a priceless inheritance for his children. It is kept in heaven for you, pure and undefiled, beyond the reach of change and decay” (1 Peter 1:4 NLT).

This means that your eternal inheritance is priceless, pure, permanent, and protected. No one can take it from you; it can’t be destroyed by war, a poor economy, or a natural disaster.

This eternal inheritance, not retirement, is what you should be looking forward to and working for. Paul says, “Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for men, since you know that you will receive an inheritance from the Lord as a reward” (Colossians 3:23-24 NIV).

Rick Warren

07 August 2008

Traffic Ticket

Jack took a long look at his speedometer before slowing down : 73 in a 55 zone. Fourth time in as many months. How could a guy get caught so often? When his car had slowed to 10 miles an hour, Jack pulled over, but only partially. Let the cop worry about the potential traffic hazard. Maybe some other car will tweak his backside with a mirror. The cop was stepping out of his car, the big pad in hand.

Bob? Bob from church? Jack sunk farther into his trench coat. This was worse than the coming ticket. A Christian cop catching a guy from his own church. A guy who happened to be a little anxious to get home after a long day at the office. A guy he was about to play golf with tomorrow.

Jumping out of the car, he approached a man he saw every Sunday, a man he'd never seen in uniform. "Hi, Bob. Fancy meeting you like this."

"Hello, Jack." No smile.

"Guess you caught me red-handed in a rush to see my wife and kids."

"Yeah, I guess." Bob seemed uncertain. Good.

"I've seen some long days at the office lately. I'm afraid I bent the rules a bit-just this once." Jack toed at a pebble on the pavement. "Diane said something about roast beef and potatoes tonight. Know what I mean?"

"I know what you mean. I also know that you have a reputation in our precinct."

Ouch! This was not going in the right direction. Time to change tactics. "What'd you clock me at?"

"Seventy-one. Would you sit back in your car, please?"

"Now wait a minute here, Bob. I checked as soon as I saw you. I was barely nudging 65." The lie seemed to come easier with every ticket.

"Please, Jack, in the car."

Flustered, Jack hunched himself through the still-open door. Slamming it shut, he stared at the dashboard. He was in no rush to open the window. The minutes ticked by. Bob scribbled away on the pad. Why hadn't he asked for a driver's license? Whatever the reason, it would be a month of Sundays before Jack ever sat near this cop again.

A tap on the door jerked his head to the left. There was Bob, a folded paper in hand. Jack rolled down the window a mere two inches, just enough room for Bob to pass him the slip.

"Thanks." Jack could not quite keep the sneer out of his voice. Bob returned to his car without a word. Jack watched his retreat in the mirror. Jack unfolded the sheet of paper. How much was this one going to cost? Wait a minute. What was this? Some kind of joke? Certainly not a ticket.

Jack began to read: "Dear Jack, Once upon a time I had a daughter. She was six when killed by a car. You guessed it - a speeding driver. A fine and three months in jail, and the man was free. Free to hug his daughters. All three of them. I only had one, and I'm going to have to wait until heaven before I can ever hug her again. A thousand times I've tried to forgive that man. A thousand times I thought I had. Maybe I did, but I need to do it again. Even now. . . Pray for me. And be careful. My son is all I have left. Bob"

Jack twisted around in time to see Bob's car pull away and head down the road. Jack watched until it disappeared. A full 15 minutes later, he, too, pulled away and drove slowly home, praying for forgiveness and hugging a surprised wife and kids when he arrived. Life is precious. Handle with care.

Author Unknown